Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Maret 2020

Christopher Latham Sholes


Christopher Latham Sholes atau Christoper Sholes adalah seorang penemu yang sangat terkenal akan temuannya yaitu mesin ketik praktis dan keyboard QWERTY pertama kali yang masih digunakan sampai saat ini. Selain itu, ia juga terkenal akan profesinya sebagai seorang penerbit surat kabar dan politisi Wisconsin yang lahir pada tanggal 14 Februari 1819 di Mooresburg, Mentour County, Pennsylvania, United States.


Christopher dibesarkan di Mooresburg, Mentour County, Pennsylvania, United States oleh kedua orang tuanya dengan didikan yang sangat baik sehingga membuatnya tumbuh menjadi pria yang mandiri. Saat ia menginjak remaja, Christopher memutuskan untuk pindah ke Danville, Pennsylvania. Disinilah, ia belajar tentang proses perdagangan printer dengan bekerja sebagai penjual printer. Namun, pada usianya yang ke-18 tahun, Christoper pindah ke Green Bay, Wisconsin dan bergabung bersama beberapa saudaranya.
            Saat di Green Bay, Wisconsin, ia menjadi seorang editor dan setelah beberapa lama kemudian ia pindah ke Kenosha, WI pada tahun 1845 untuk menjadi seorang editor dari penerbit Telegraph Southport selama belasan tahun lamanya. Selain itu, ia juga terjun ke dunia politik pada tahun 1848-1849, tahun 1856-1857, serta pada tahun 1852-1853 dengan menjabat sebagai postmaster dan kemudian menjabat sebagai komisaris kolektor pelabuhan serta sebagai pekerja umum. 
               Sebelum menemukan mesin ketik, ia terlebih dahulu menemukan mesin penomoran halaman koran yang dibuatnya pada tahun 1864. Melalui mesin inilah, ia kemudian mengembangkan dan memperbaiki mesin ini sehingga menjadi mesin ketik pertama pada tahun 1867. Dalam mengerjakan mesin ketik, ia dibantu oleh dua partnernya bernama Samuel W. Soules dan Carlos Glidden dan membuat hak paten atas temuannya ini pada tanggal 23 Juni 1868.

Download PDF

BIOGRAFI SYEKH AL-ZARNUJI PENGARANG KITAB TA'LIM MUTA'ALIM

Nama lengkap Al-Zarnuji adalah Burhan Al-Din Ibrahim Al-Zarnuji Al-Hanafi. Nama lain yang disematkan kepadanya adalah Burhan Al-Islam dan Burhan Al-Din. Namun, hingga kini belum diketahui secara pasti waktu dan tempat lahirnya. Nama “Al-Zarnuji” sendiri dinisbatkan pada suatu tempat bernama Zurnuj, sebuah tempat yang berada di wilayah Turki. Sementara kata “Al-Hanafi” diyakini dinisbatkan kepada nama mazhab yang dianutnya, yakni mazhab Hanafi. Perjalanan kehidupan Al-Zarnuji tidak dapat diketahui secara pasti. Meski diyakini ia hidup pada masa kerajaan Abbasiyah di Baghdad, kapan pastinya masih menjadi perdebatan hingga sekarang. Al-Quraisyi menyebut Al-Zarnuji hidup pada abad ke-13 M. Sementara para orientalis seperti G.E. Von Grunebaun, Theodora M. Abel, Plessner dan J.P. Berkey meyakini bahwa Al-Zarnuji hidup dipenghujung abad 13 dan awal abad 14 M. Al-Zarnuji menuntut ilmu di Bukhara dan Samarkand, dua tempat yang disebut-sebut sebagai pusat keilmuan, pengajaran dan sebagainya. Semasa belajar, Al-Zarnuji banyak menimba ilmu dari; Syeikh Burhan Al-Din, pengarang buku Al-Hidayah; Khawahir Zadah, seorang mufti di Bukhara; Hamad bin Ibrahim, seorang yang dikenal sebagai fakih, mutakallim, sekaligus adib; Fakhr Al-Islam Al-Hasan bin Mansur Al-Auzajandi Al-Farghani; Al-Adib Al-Mukhtar Rukn Al-Din Al-Farghani yang dikenal sebagai tokoh fikih dan sastra; juga pada Syeikh Zahir Al-Din bin ‘Ali Marghinani, yang dikenal sebagai seorang mufti. Karya termasyhur Al-Zarnuji adalah Ta’lim al-Muta’allim, sebuah kitab yang bisa dinikmati dan dijadikan rujukan hingga sekarang. Menurut Haji Khalifah, kitab ini merupakan satu-satunya kitab yang dihasilkan oleh Al-Zarnuji. Meski menurut peneliti yang lain, Ta’lim al-Muta’allim, hanyalah salah satu dari sekian banyak kitab yang ditulis oleh Al-Zarnuji. Misalnya, seorang orientalis, M. Plessner, mengatakan bahwa kitab Ta’lim al-Muta’allim adalah salah satu karya Al-Zarnuji yang masih tersisa. Plessner menduga kuat bahwa Al-Zarnuji memiliki karya lain, tetapi banyak hilang, karena serangan tentara Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan terhadap kota Baghdad pada tahun 1258 M. Pendapat Plessner ini dikuatkan oleh Muhammad ‘Abd Qadir Ahmad. Menurutnya, minimal ada dua alasan bahwa Al-Zarnuji menulis banyak karya, yaitu: pertama, kapasitas Al-Zarnuji sebagai pengajar yang menggeluti bidang kajiannya. Ia menyusun metode pembelajaran yang dikhususkan agar para siswa sukses dalam belajarnya. Tidak masuk akal bagi al-Zarnuji, yang pandai dan bekerja lama di bidangnya itu, hanya menulis satu buku. Kedua, ulama-ulama yang hidup semasa Al-Zarnuji telah menghasilkan banyak karya. Karena itu, mustahil bila Al-Zarnuji hanya menulis satu buku. Tentang ada tidaknya karya lain yang dihasilkan Al-Zarnuji sebenarnya dilukiskan Al-Zarnuji sendiri dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim, yang dalam salah satu bagiannya ia mengatakan: “…kala itu guru kami syeikh Imam ‘Ali bin Abi Bakar semoga Allah menyucikan jiwanya yang mulia itumenyuruhku untuk menulis kitab Abu Hanifah sewaktu aku akan pulang ke daerahku, dan aku pun menulisnya…” Hal ini bisa memberikan gambaran bahwa Al-Zarnuji sebenarnya mempunyai karya lain selain kitabnya yang berjudul Ta’lim al-Muta’allim. Telepas dari perdebatan itu, Al-Zarnuji merupakan tokoh yang telah memberikan sumbangan berharga bagi perkembangan pendidikan Islam. Karyanya, patut dikaji dan dipelajari. Donload PDF

Abu Musa Jabir bin Hayyan

Abu Musa Jabir bin Hayyan atau dikenal dengan nama Geber di dunia barat adalah seorang polymath terkemuka; kimiawan, alkimiawan, ahli astronomi dan astrologi, insinyur, ahli bumi, ahli filsafat, ahli fisika, apoteker dan dokter. Beliau diperkirakan lahir di Kuffah, Irak pada tahun 750. Ayahnya, seorang penjual obat. Jabir kecil menerima pendidikannya dari raja bani Umayyah, Khalid Ibnu Yazid Ibnu Muawiyah, dan imam terkenal, Jakfar Sadiq. Ia juga pernah berguru pada Barmaki Vizier pada masa kekhalifahan Abbasiyah pimpinan Harun Al Rasyid. Dalam karirnya, ia pernah bekerja di laboratorium dekat Bawwabah di Damaskus. Pada masamasa inilah, ia banyak mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru di sekitar kimia. Berbekal pengalaman dan pengetahuannya itu, sempat beberapa kali ia mengadakan penelitian soal kimia. Namun, penyelidikan secara serius baru ia lakukan setelah umurnya menginjak dewasa. Dalam penelitiannya itu, Jabir mendasari eksperimennya secara kuantitatif dan instrumen yang dibuatnya sendiri, menggunakan bahan berasal dari logam, tumbuhan, dan hewani. Jabir mempunyai kebiasaan yang cukup konstruktif mengakhiri uraiannya pada setiap eksperimen. Antara lain dengan penjelasan : “Saya pertamakali mengetahuinya dengan melalui tangan dan otak saya dan saya menelitinya hingga sebenar mungkin dan saya mencari kesalahan yang mungkin masih terpendam “. Jabir berhasil membuat timbangan yang sangat teliti, yang mampu menimbang benda-benda yang beratnya 6.480 kali lebih kecil dari satu kilogram. Selain itu, Jabir juga memberikan sumbangan teoritik, terutama tentang penguapan, persenyawaan, pembutiran, pelelehan, dan penghabluran. Karya tulis Jabir lebih dari 200 jilid buku, delapan puluh diantaranya menyangkut ilmu kimia. Dari buku-buku tersebut, hanya sedikit yang masih tersimpan di berbagai perpustakaan. Buku karangan Jabir yang masih ada seperti: 1. Al-Khawas Al-Kabir, buku besar tentang sifat-sifat kimia 2. Al-Ahyar, batu batuan mineral 3. As-Sir Al-Maknun, rahasia elemen-elemen 4. Al-Mawazin, timbangan 5. Al-Mihaj, senyawa kimia 6. Al-Khama’ir, peragian 7. Al-Asbag, zat pewarna Beliau wafat pada tahun 803 di Kuffah. Namun namanya tetap harum sebagai ilmuwan Muslim yang berprestasi tinggi hingga kini. Download PDF

Selasa, 10 Maret 2020

Warsito Purwo Taruno

Dr. Warsito Purwo Taruno (lahir di Karanganyar, 15 Mei 1967) adalah ilmuwan Indonesia. Sama seperti anak desa pada umumnya, Warsito menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan bermain di sawah dan memelihara ternak. Meski demikian, anak keenam dari delapan bersaudara ini termasuk siswa yang cemerlang. Dia gemar membaca buku apa saja tanpa mengenal waktu dan tempat. Setelah lulus dari SMA Negeri 1 Karanganyar, Solo pada tahun 1986, Warsito muda melanjutkan sekolah ke Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun pada semester pertama karena mendapatkan beasiswa, Ia melanjutkan studi Teknik Kimia di Jepang. Studi S-1, ia tempuh di Tokyo International Japanese School, Tokyo, tamat tahun 1988. Kemudian ia melanjutkan studi ke jenjang S-2 di Shizouka University jurusan Chemical Engineering, lulus tahun 1992. Masih di universitas yang sama, Warsito kemudian meraih gelar M. Eng tahun 1994 dan gelar Ph.D Electronic Science and Technology tahun 1997. Setelah menyelesaikan pendidikan S-3, Dr. Warsito menghadiri sebuah konferensi di Belanda dan bertemu dengan seorang profesor dari Amerika Serikat yang kemudian mengajaknya melakukan riset di Amerika Serikat. Pada tahun 1999, dia hijrah ke Amerika Serikat dan bertemu dengan Professor Liang-Shih Fan dari Ohio State University (OSU). Keduanya bekerja sama di laboratorium Industrial Research Consortium milik OSU dan mengembangkan riset tomografi volumetrik. Kerja keras Dr. Warsito akhirnya menuai hasil. Pada tahun 2004, risetnya selesai tapi masih dalam bentuk prototipe. Meski begitu, temuannya segera menjadi incaran sejumlah perusahaan minyak terkemuka di Amerika Serikat dan lembaga antariksa NASA. Sebab teknologi temuan Dr. Warsito mengungguli kemampuan CT Scan dan MRI. Teknologi pemindai 4D pertama di dunia itu kemudian dipatenkan Dr. Warsito di Amerika Serikat pada lembaga paten internasional PTO/WO bernomor 60/664,026 tahun 2005 dan 60/760,529 tahun 2006. Alat terbaru yang sedang dikembangkan Dr. Warsito dan timnya adalah alat pembasmi kanker otak dan kanker payudara. Alat yang berbasis teknologi ECVT itu terdiri dari empat perangkat yakni brain activity scanner, breast activity scanner, brain cancer electro capacitive therapy, dan breast cancer electro capacitive therapy. Download PDF

Jumat, 06 Maret 2020

AR RAZI SANG PENEMU ILMU KEDOKTERAN

Lelaki Persia bernama lengkap Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi rahimahullah lahir di Kota Rayy yang terletak di kawasan lembah di sebelah selatan Dataran Tinggi Alborz, pada 251 H/865 M. Rayy yang terkenal sebagai kota ilmu pengetahuan mendukung perkembangan intelektualnya. Sejak belia ia telah memelajari filsafat, kimia, matematika, dan sastra. Seni musik juga mendapat perhatian besar darinya. Sejak kecil ia gemar bermain musik dan pernah bercita-cita menjadi musisi. Sebelum melabuhkan diri di dunia kedokteran, ia mendalami ilmu kimia dan rajin melakukan percobaan. Hingga pada suatu ketika matanya terkorban oleh percobaan yang ia lakukan. Setelah matanya cacat, ia mencari dokter untuk mengobatinya. Sejak bertemu dokter itulah ia mulai tekun memelajari ilmu kedokteran. Ilmu kedokteran rupanya mampu memikat hati ar-Razi. Ia pun lantas menekuni dunia tersebut hingga berhasil menelorkan sejumlah hal yang selanjutnya dipakai di dunia kedokteran di masa-masa setelahnya, bahkan hingga saat ini. Beberapa temuan di bidang kimia, kedokteran, dan farmasi, berhasil ia sumbangkan untuk peradaban umat manusia. Karya-karya tulisnya juga menjadi rujukan para ilmuwan setelahnya, baik di dunia Islam maupun Barat. Dengan kapasitas demikian, ia sempat mengemban amanah sebagai kepala rumah sakit di Baghdad dan Rayy. Saat itu sepeninggal Khalifah al-Muktafi, ar-Razi memutuskan untuk meninggalkan Baghdad dan kembali ke Rayy. Di kampung halamannya, selain menjadi dokter ia juga menjadi pengajar dan memiliki banyak murid. Ar-Razi banyak mendapat pujian dari kalangan ilmuwan Muslim, namun sebaliknya ia juga dinilai memiliki pemikiran yang menyimpang. Dalam ilmu filsafat, pemikirannya tentang jiwa ditengarai banyak dipengaruhi oleh ide Plato. Hal itu dapat dibaca lewat karyanya, ath-Thibb ar-Ruhani. Betapapun itu, Ar-Razi tetaplah seorang ilmuwan Muslim yang sangat banyak berjasa bagi kemajuan dunia. Sejumlah temuan telah disumbangkannya. Di dunia kimia ia menemukan alkohol dan menciptakan asam sulfur. Di kedokteran ia menjadi orang pertama yang mengupas secara luas tentang penyakit cacar. Ia juga memelopori bedah saraf dan bedah mata. Karyanya, Al-Judari wa al-Hasbah (Cacar dan Campak) adalah kitab pertama yang membahas tentang cacar dan campak sebagai dua wabah yang berbeda. Kitab ini kemudian diterjemahkan ke Bahasa Latin dan bahasa-bahasa lainnya. Analisis tentang cacar oleh ilmuwan yang di Barat dikenal dengan nama Razhes ini sempat mendapat pujian dari Encyclopedia Britanica. Jasa ar-Razi lainnya di dunia kedokteran adalah menemukan penyakit alergi asma sekaligus sebagai ilmuwan pertama yang menulis tentang alergi dan imunologi. Ia juga ilmuwan pertama yang menjelaskan tentang demam sebagai mekanisme tubuh untuk melindungi diri. Perhatiannya terhadap musik sejak kecil ternyata juga berguna bagi dunia kedokteran. Ia menemukan bahwa musik berpengaruh pada penyembuhan. Dalam dunia farmasi, ar-Razi juga punya karya. Ia mencipta beberapa macam peralatan medis dan mengembangkan obat-obatan dari merkuri. Sebagai dokter beriman, ar-Razi tak meluputkan persoalan adab kedokteran. Ia sangat peduli pada kaum miskin dan orang sakit. Sampai-sampai ia tak memungut biaya pengobatan. Dalam melayani pasien, ia sangat memerhatikan aspek psikis. Ia senantiasa berusaha membangkitkan harapan mereka untuk sembuh. Menurutnya, seorang dokter harus menjadi dokter tubuh dan dokter jiwa sekaligus. Ar-Razi menegaskan bahwa tujuan menjadi dokter adalah untuk berbuat baik kepada sesama, bahkan kepada musuh sekalipun. Ia sangat menyayangkan adanya praktik dokter jalanan palsu dan tukang obat keliling yang bekerja demi uang. Kepada para dokter, ia menyarankan untuk terus menimba ilmu. Dan kepada pasien, hendaknya mengindahkan nasihat dokter. Ia pun mengungkap bahwa keluarga kerajaan suka tidak mengindahkan nasihat dokter. Hal ini membuatnya merasa kasihan kepada para dokter kerajaan. Manusia adalah makhluk yang penuh keterbatasan, tak mungkin luput dari kesalahan. Begitupun Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi rahimahullah. Banyak ilmu bermanfaat dan temuan yang berguna telah ia sumbangkan, walau di sisi lain dirinya dinilai punya pemikiran yang menyimpang. Ar-Razi wafat dalam usia 62 tahun, yakni pada 313 H/925 M. Ia telah tiada, namun karya-karyanya masih digunakan oleh umat manusia. Ilmu pengetahuan pun terus berkembang dari masa ke masa, karena berbagai temuan dan teori tak terungkap bersamaan. Temuan dan teori baru lahir silih berganti dari hari ke hari. Maka tugas generasi Muslim kini adalah terus menimba ilmu dan melakukan perbaikan dan penyempurnaan. Itu adalah tanggung jawab kaum Muslim sepanjang zaman dalam majukan peradaban. Wallahu a’lam. DOWNLOAD FILE WORD PDF

BIOGRAFI THOMAS ALFA EDISON

Thomas Alfa Edison merupakan ilmuan yang sangat berpengaruh pada kehidupan manusia. Temuannya sangat banyak sekali, mungkin ada ribuan temuan yang telah ia buat. Dan yang paling fenomenal tentu adalah bohlam lampu yang membuat dunia di malam hari bisa terang benderang. Di masa kecilnya, ia dianggap dungu oleh guru di sekolah dasar tempat dia sekolah. Akhirnya ia pun keluar dari sekolah itu. Namun Saat itu ibunya tetap yakin bahwa dia akan menjadi orang yang besar. Walaupun tidak sekolah, namun Thomas Alfa Edison memiliki rasa ingin tau yang sangat tinggi. Pada usia sebelas tahun Edison sudah bisa membangun laboratorium kimia sederhana di ruang bawah tanah rumah ayahnya. Setahun kemudian dia berhasil membuat sebuah telegraf yang meskipun bentuknya primitif tetapi bias berfungsi. Percobaan–percobaan yang dilakukannya tentu membutuhkan biaya. Untuk mendapatkan uang ia rela menjadi penjual koran dan permen di kereta. Agar waktu senggangnya di kereta api tidak terbuang percuma Edison meminta ijin kepada pihak perusahaan kereta api, “Grand Trunk Railway”, untuk membuat laboratorium kecil di salah satu gerbong kereta api. Di sanalah ia melakukan percobaan dan membaca literatur ketika sedang tidak bertugas. Di Tahun 1861 terjadi perang saudara antara negara-negara bagian utara dan selatan. Topik ini menjadi perhatian orang-orang. Thomas Alva Edison melihat peluang ini dan membeli sebuah alat cetak tua seharga 12 dolar, kemudian mencetak sendiri korannya yang diberi nama “Weekly Herald”. Koran ini adalah koran pertama yang dicetak di atas kereta api dan lumayan laku terjual. Oplahnya mencapai 400 sehari. Tahun 1868 Edison sempat bekerja sebagai operator telegraf di Boston. Waktu luangnya dihabiskan untuk melakukan percobaan-percobaan tehnik. Tahun ini pula ia menemukan sistem intercomelektrik. Thomas Alfa Edison mendapatkan hak paten pertamanya atas penemuan vote recorder. Namun penemuan ini tidak laku di pasaran. Lalu ia mengembangkan stock ticker dan menjual penemuannya ke sebuah perusahaan. Ia pun mendapatkan uang sebesar 40 ribu dollar. Uang tersebut dipakainya untuk membuat laboratorium di Menlo Park, New Jersey. Dan disanalah ia membuat penemuan demi penemuan yang berguna bagi dunia. Tahun 1877 ia menemukan phonograph. Pada tahun ini pula ia menyibukkan diri dengan masalah yang pada waktu itu menjadi perhatian banyak peneliti: lampu pijar. Edison menyadari betapa pentingnya sumber cahaya semacam itu bagi kehidupan umat manusia. Oleh karena itu Thomas Alfa Edison mencurahkan seluruh tenaga dan waktunya, serta menghabiskan uang sebanyak 40.000 dollar dalam kurun waktu dua tahun untuk percobaan membuat lampu pijar. Persoalannya ialah bagaimana menemukan bahan yg bisa berpijar ketika dialiri arus listrik tetapi tidak terbakar. Total ada sekitar 6000 bahan yang dicobanya. Melalui usaha keras Edison, akhirnya pada tanggal 21 Oktober 1879 lahirlah lampu pijar listrik pertama yang mampu menyala selama 40 jam. Ia adalah sosok yang tak kenal kata gagal. Bahkan pernah suatu ketika laboratoriumnya terbakar dan seluruh aset yang ada di laboratorium tersebut hangus. Banyak orang yang menyarankannya berhenti saja dari impiannya itu. Namun saat kebakaran itu terjadi ia berkata, “suatu saat kan kubuat dunia seterang kebakaran ini.” Masih banyak lagi hasil penemuan Edison yang bermanfaat. Secara keseluruhan Thomas Alfa Edison telah menghasilkan 1.039 hak paten. Penemuannya yang jarang disebutkan antara lain : telegraf cetak, pulpen elektrik, proses penambangan magnetik, torpedo listrik, karet sintetis, baterai alkaline, pengaduk semen, mikrofon, transmiter telepon karbon dan proyektor gambar bergerak. Thomas Alfa Edison pun meninggal dunia pada tanggal 18 Oktober 1931 pada usia 84 tahun. Namanya tetap dikenang sebagai ilmuan hebat. Dan temuan yang paling populer tentu adalah bohlam lampu. Ia pun membuktikan bahwa walau tak lulus SD tapi bisa jadi ilmuan hebat. DOWNLOAD DISINI

Penelitian Kualitatif

1. Pengertian Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah pendekatan ilmiah yang digunakan untuk memahami makna, realitas sosial, a...