Senin, 21 September 2020

TEKS EKSPOSISI

 A. Definisi, Ciri, dan Jenis Teks Eksposisi

1. Definisi Teks Eksposisi

    Kata eksposisi memiliki beberapa pengertian. Kata eksposisi berasal dari bahasa Latin ekspotition yang berarti memberitahukan, memaparkan, menjelaskan, atau menguraikan. Eksposisi merupakan paparan yang bertujuan memberi tahu atau menerangkan sesuatu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, eksposisi berarti uraian atau paparan yang bertujuan menjelaskan maksud dan tujuan dalam karangan.

2. Ciri Teks Eksposisi

    Teks eksposisi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

    a. Berisi informasi dan pengetahuan

Teks eksposisi berisi informasi yang mengandung pengetahuan. Pengetahuan yang disampaikan tentu sesuai dengan topik yang dibicarakan. Pengetahuan tersebut memiliki manfaat dalam kehidupan sehingga didukung oleh data, fakta, dan argumen yang baik. 

    b. Objektif dan tidak memihak. 

Teks eksposisi berisi pengetahuan sehingga apa yang disampaikan bersifat objektif, tidak memihak kepada salah satu golongan atau kelompok. Oleh karena itu, pendapat pribadi tidak boleh dimasukkan ke teks eksposisi. Jadi, teks eksposisi hanya memuat informasi tanpa opini atau pendapat pribadi. 

3. Jenis Teks Eksposisi

    Jenis teks eksposisi menurut Gorys Keraf, antara lain eksposisi definisi, identifikasi, perbandingan atau pertentangan, ilustrasi, klasifikasi, dan analisis.

a. Eksposisi Definisi

    Definisi dapat ditinjau dari berbagai macam sudut. Definisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kata, frasa, atau kalimat yang mengungkapkan makna, keterangan, atau ciri Utama dari orang, benda, proses, atau aktivitas. Definisi juga dapat diartikan rumusan tentang ruang lingkup dan ciri-ciri suatu konsep yang menjadi pokok pembicaraan atau studi. Definisi berisi penjelasan tentang makna suatu kata atau frasa. Definisi memeberikan Batasan makna dan penggunaan sebuah kata atau prasa.

    Definisi dibagi menjadi dua. Definisi pertama disebut definisi secara sempit. Definisi sempit bukan definisi mengenai suatu hal atau benda, melainkan mengenai suatu kata. Definisi sempit mencakup definisi sinonim kata dan definisi dari kamus. Definisi kedua adalah definisi secara luas. Definisi luas mencakup pembatasan pengertian suatu barang atau hal yang didefinisiskan. Definisi luas merupakan pengembangan dari definisi sempit. Agar lebih jelas perhatikan contoh berikut.

    Global warming adalah peningkatan suhu rata-rata di atmosfer dan permukaan bumi dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Artinya, bumi mengalami perubahan drastis yang belum pernah terjadi pada zaman dahulu.

    Contoh tersebut merupakan teks eksposisi yang didefinisikan secara sempit. Teks tersebut membahas definisi global warming atau pemanasan global. Bandingkan dengan contoh berikut.

    Global warming adalah suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain, seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrem. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan. Penyebab global warming pemanasan global yang pertama adalah polusi karbon dioksida. Karbon dioksida dihasilkan oleh berbagai macam mesin dan industri di dunia, di anataranya mesin mobil dan mesin pembangkit listrik.

    Contoh paragraf tersebut menjelaskan global warming lebih luas. Paragraf tersebut memaparkan dampak yang ditimbulkan global warming. Selain itu, paragraf tersebut memaparkan penyebab global warming.

b. Eksposisi Identifikasi

    Eksposisi identifikasi adalah sebuah metode yang berusaha menyebutkan ciri-ciri atau unsur-unsur pengenal suatu objek. Dengan menyebutkan ciri suatu objek diharapkan pembaca atau pendengar lebih mengenal objek tersebut. Metode identifikasi digunakan dalam teks eksposisi mampu menjawab pertanyaan "Apa itu?" dan "Siapa itu?" Metode identifikasi dalam teks eksposisi akan memperkenalkan barang atau objek dengan memerinci ciri dan tanda pengenal dari objek tersebut.

    Perhatikan contoh berikut ini!

    Mungkin istilah teknologi tepat guna masih asing bagi sebagian masyarakat. Umumnya teknologi tepat guna merupakan pilihan teknologi dan aplikasinya yang memiliki karakteristik terdesentralisasi, berskala kecil, hemat energi, padat karya, dan berkaitan erat dengan kondisi lokal. Teknologi ini dirancang untuk masyarakat tertentu sesuai dengan aspek lingkungan, keetnisan, budaya, sosial, politik, dan ekonomi masyarakat yang bersangkutan.

c. Eksposisi Perbandingan atau Pertentangan. 

Metode perbandingan adalah suatu cara untuk menunjukkan kesamaan dan perbedaan antara dua objek atau lebih mempergunakan dasar-dasar tertentu. Dasar-dasar perbandingan adalah menempatkan sesuatu yang belum diketahui dalam kerangka suatu hal yang sudah dikenal pembaca. Jadi, pembaca lebih mudah memahami isi teks eksposisi yang ditulis. 

Contoh:

                                           Pembangunan dan Bencana Lingkungan

    Bumi saat ini sedang menghadapi berbagai masalah lingkungan yang serius. Enam masalah lingkungan yang Utama tersebut adalah ledakan jumlah penduduk, penipisan sumber daya alam, perubahan iklim global, kepunahan tumbuhan dan hewan, kerusakan habitat alam, serta peningkatan polusi dan kemiskinan. Dari hal itu dapat dibayangkan betapa besar kerusakan alam yang terjadi karena jumlah populasi yang besar, konsumsi sumber daya alam dan polusi yang meningkat, sedangkan teknologi saat ini belum dapat menyelesaikan permasalahan tersebut.

    Para ahli menyimpulkan bahwa masalah tersebut disebabkan oleh praktik pembangunan yang tidak memerhatikan kelestarian alam, atau disebut pembangunan yang tidak berkelanjutan. Seharusnya, konsep pembangunan adalah memenuhi kebutuhan manusia saat ini dengan mempertimbangkan kebutuhan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya.

    Penerapan konsep pembangunan berkelanjutan pada saat ini ternyata jauh dari harapan. Kesulitan penerapannya terutama terjadi di negara berkembang, salah satunya Indonesia. Sebagai contoh, setiap tahun di negara kita diperkirakan terjadi penebangan hutan seluas 3.180.243 ha (atau seluas 50 kali luas kota Jakarta). Hal ini juga diikuti oleh punahnya flora dan fauna langka. Kenyataan ini sangat jelas menggambarkan kehancuran alam yang terjadi saat ini yang diikuti bencana bagi manusia.

    Pada tahun 2005 - 2006 tercatat, telah terjadi 330 bencana banjir, 69 bencana tanah longsor, 7 bencana letusan gunung berapi, 241 gempa bumi, dan 13 bencana tsunami. Bencana longsor dan banjir itu disebabkan oleh perusakan hutan dan pembangunan yang mengabaikan kondisi alam.

    Bencana alam lain yang menimbulkan jumlah korban banyak terjadi karena praktik pembangunan yang dilakukan tanpa memerhatikan potensi bencana. Misalnya, banjir yang terjadi di Jakarta pada Februari 2007, dapat dipahami sebagai dampak pembangunan kota yang mengabaikan pelestarian lingkungan.

    Menurut tim ahli Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air, penyebab utama banjir di Jakarta ialah pembangunan kota yang mengabaikan fungsi daerah resapan air dan tampungan air. Hal ini diperparah dengan saluran drainase kota yang tidak terencana dan tidak terawat serta tumpukan sampah dan limbah di sungai. Akhirnya, debit air hujan yang tinggi menyebabkan bencana banjir yang tidak terelakkan.
    Masalah lingkungan di atas merupakan masalah serius yang harus segera diatasi. Meskipun tidak mungkin mengatasi keenam masalah Utama lingkungan tersebut, setidaknya harus dicari solusi untuk mencegah bertambah buruknya kondisi bumi.
                                                    Diambil dari : Buku Bahasa Indonesia SMA/MA Kelas X Revisi 2017 
 

 

d. Eksposisi Ilustrasi

Eksposisi ilustrasi adalah suatu metode untuk mengadakan gambaran atau penjelasan yang khusus dan konkret terhadap suatu prinsip yang bersifat umum. Penulis akan menjelaskan suatu objek secara luas. Dengan demikian, pembaca tidak kebingungan dalam memahami objek yang disampaikan penulis.

Gagasan umum memerlukan ilustrasi atau contoh konkret. Dalam eksposisi, contoh-contoh tersebut tidak berfungsi untuk membuktikan suatu pendapat , tetapi dipakai untuk menjelaskan dan menegaskan ide, gagasan, dan maksud penulis. Pengalaman pribadi merupakan bahan ilustrasi atau contoh yang paling efektif dalam menjelaskan gagasan umum tersebut.

Eksposisi ilustrasi merupakan metode yang sering digunakan karena tidak menampilkan hal-hal umum secara abstrak atau kabur. Akan tetapi, eksposisi ilustrasi menunjukkan contoh-contoh yang nyata dan konkret. Menurut Gorys Keraf, jenis eksposisi ilustrasi dapat disajikan secara deskripsi dan narasi.

 Contoh:

E. Eksposisi Klasifikasi
     Metode klasifikasi merupakan sebuah metode yang bersifat alamiah untuk menampilkan pengelompokan-pengelompokan sesuai dengan pengalaman manusia. Barang, hal, atau gagasan yang dikenal melalui pengalaman dapat tersusun secara sistematis. Klasifikasi merupakan suatu metode untuk menempatkan hal atau benda dalam satu kelompok sehingga dapat diketahui hubungan antarhal atau antarbenda dalam kelompok tersebut. 

Contoh:

F. Eksposisi analisis
 

Sabtu, 19 September 2020

Teks Ceramah

 A. Definisi dan Ciri-Ciri Ceramah

    1. Definisi Ceramah

        Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ceramah adalah pidato oleh seseorang di hadapan banyak pendengar mengenai suatu hal atau pengetahuan. Ceramah juga berarti penuturan bahan pembelajaran secara lisan. Ceramah merupakan pidato yang bertujuan untuk memberikan nasihat dan petunjuk mengenai suatu permasalahan kepada audiensi yang bertindak sebagai pendengar. Secara umum, ceramah mempunyai pengertian tentang suatu kegiatan berbicara di depan umum dalam situasi tertentu untuk tujuan tertentu dan kepada pendengar tertentu.

       Pada dasarnya, pidato, ceramah, dan khotbah memiliki persamaan, yakni pengungkapan pikiran di hadapan banyak orang. Namun, dalam pelaksanaannya, antara pidato, ceramah, dan khotbah memiliki perbedaan. Pidato sering kita ikuti dalam acara-acara resmi, misalnya seminar, rafat pleno,. Ceramah diadakan untuk acara-acara tertentu, misalnya ceramah tentang kedisiplinan berlalu lintas, ceramah tentang maulid Nabi SAW. Khotbah penyampaian pada waktu dan tempat tertentu, seperti khotbah Jum'at.

    2. Ciri-Ciri Ceramah

          Ceramah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a. Disampaikan oleh seseorang yang memiliki keahlian dalam bidang ilmu tertentu.

b. Menginformasikan topik yang dapat memperluas pengetahuan.

c. Ada komunikasi dua arah antara pembicara dan pendengar, berupa dialog, tanya jawab, dan diskusi.

d. Dapat disajikan menggunakan alat bantu.

e. Memiliki objektivitas dan unsur-unsur yang mengandung kebenaran.

f. Ceramah dapat menghidupkan suasana dengan menggunakan gambar, cerita pendek, atau kejadian-kejadian yang relevan agar dapat memancing perhatian pendengar.

g. harus memiliki tujuan yang jelas.

h. Apa yang disampaikan harus dapat mencapai klimaks.

i. Berisi sesuatu yang mengejutkan atau belum pernah disampaikan sebelumnya.

j. Dibatasi pada satu atau dua persoalan.

k. Mengandung humor agar dapat menghidupkan suasana dan memberi kesan yang tidak dapat terlupakan bagi pendengar.

3. Identifikasi informasi dalam ceramah

Bacalah contoh ceramah berikut ini!

Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang berbahagia,
    Pemilihan kata-kata oleh masyarakat akhir-akhir ini cenderung semakin menurun kesantunannya dibandingkan dengan zaman saya dahulu ketika kanak-kanak. Hal tersebut tampak pada ungkapan-ungkapan pada banyak kalangan dalam menyatakan pendapat dan perasaannya, seperti ketika berdemonstrasi ataupun rapat-rapat umum. Kata-kata mereka kasar atau bertendensi menyerang. Tentu saja, hal itu sangat menggores hati yang menerimanya.

    Gejala yang sama terlihat pula pada penggunaan bahasa oleh para politisi kita, misalnya ketika melontarkan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Tanggapan-tanggapan mereka terdengar pedas, vulgar, dan beberapa di antaranya cenderung provokatif. Padahal sebelumnya, pada zaman pemerintahan Orde Baru, pemakaian bahasa dibingkai secara santun lewat pemilihan kata yang dihaluskan maknanya (epimistis).

    Kita pun tentu gelisah sebagai orang tua. Kita sering menyaksikan kebiasaan berbahasa anak-anak dan para remaja yang kasar dengan dibumbui sebutan-sebutan antarsesama yang sangat miris untuk didengar.

    Fenomena tersebut menunjukkan adanya penurunan standar moral, agama, dan tata nilai yang berlaku dalam masyarakat itu. Ketidaksantunan berkaitan pula dengan rendahnya penghayatan masyarakat terhadap budayanya sebab kesantunan berbahasa itu tidak hanya berkaitan dengan ketepatan dalam pemilikan kata ataupun kalimat. Kesantunan itu berkaitan
pula dengan adat pergaulan yang berlaku dalam masyarakat itu.

    Penyebab utamanya adalah perkembangan masyarakat yang sudah tidak menghiraukan perubahan nilai-nilai kesantunan dan tata krama dalam suatu masyarakat. Misalnya, kesantunan (tata krama) yang berlaku pada zaman kerajaan yang berbeda dengan yang berlangsung pada masa kemerdekaan dan pada masa kini. Kesantunan juga berkaitan dengan tempat: nilai-nilai kesantunan di kantor berbeda dengan di pasar, di terminal, dan di rumah.

     Pergaulan global dan pertukaran informasi juga membawa pengaruh pada pergeseran budaya, khususnya berkaitan dengan nilai-nila kesantunan itu. Fenomena demikian menyebabkan para remaja dan anggota masyarakat lainnya gamang dalam berbahasa. Pada akhirnya mereka memiliki kaidah berbahasa yang mereka anggap bergengsi, tanpa mengindahkan kaidah bahasa yang sesungguhnya.

    Sejalan dengan perubahan waktu dan tantangan global, banyak hambatan dalam upaya pembelajaran tata krama berbahasa. Misalnya, tayangan televisi yang bertolak belakang dengan prinsip tata kehidupan dan tata krama orang Timur. Sementara itu, sekolah juga kurang memperhatikan kesantunan berbahasa dan lebih mengutamakan kualitas otak siswa dalam penguasaan iptek.

    Selain itu, kesantunan berbahasa sering pula diabaikan dalam lingkungan keluarga. Padahal, belajar bahasa sebaiknya dilaksanakan setiap hari agar anak dapat menghayati betul bahasa yang digunakannya. Anak belajar tata santun berbahasa mulai di lingkungan keluarga.

    Nilai-nilai kesantunan berbahasa dalam beragama juga merupakan salah satu kewajiban manusia yang bentuknya berupa perkataan yang lembut dan tidak menyakiti orang lain. Kesantunan dipadankan dengan konsep qaulan karima yang berarti ucapan yang lemah lembut, penuh dengan pemuliaan, penghargaan, pengagungan, dan penghormatan kepada orang lain. Berbahasa santun juga sama maknanya dengan qaulan ma’rufa yang berarti berkata-kata yang sesuai dengan nilai-nilai yang diterima dalam masyarakat penutur.

    Oleh karena itu, pendidikan etika berbahasa memiliki peranan yang sangat penting. Pemerolehan pendidikan kesantunan berbahasa sangat diperlukan sebagai salah satu syariat dalam beragama. Dengan kesantunan, dapat tercipta harmonisasi pergaulan dengan lingkungan sekitar. Penanaman kesantunan berbahasa juga sangat berpengaruh positif terhadap kematangan emosi seseorang. Semakin intens kesantunan berbahasa itu dapat ditanamkan, kematangan emosi itu akan semakin baik. Aktivitas berbahasa dengan emosi berkaitan erat. Kemarahan, kesenangan, kesedihan, dan sebagainya tercermin dalam kesantunan dan ketidaksantunan itu.

    Berbahasa santun seharusnya sudah menjadi suatu tradisi yang dimiliki oleh setiap orang sejak kecil. Anak perlu dibina dan dididik berbahasa santun. Apabila dibiarkan, tidak mustahil rasa kesantunan itu akan hilang sehingga anak itu kemudian menjadi orang yang arogan, kasar, dan kering dari nilai-nilai etika dan agama. Tentu saja, kondisi itu tidak diharapkan oleh orangtua dan masyarakat manapun.

 

 B. Unsur, Struktur dan Kebahasaan Teks Ceramah
  1. Unsur-Unsur Ceramah
        Unsur-unsur ceramah disebut juga komponen ceramah. Komponen ceramah dapat dipaparkan sebagai berikut.
a. Penceramah
b. Pendengar atau audiensi
c. Materi
d. Metode ceramah
e. Media ceramah

2. Struktur Teks Ceramah
        Struktur teks ceramah tidak jauh berbeda dengan pidato. Paparan mengenai struktur ceramah sebagai berikut.
a. Pembukaan
b. Isi (pengantar dan inti)
c. Penutup
 
3. Kebahasaan Teks Ceramah
    a. Kalimat imperatif
     Uraian isi ceramah biasanya mengandung kalimat-kalimat yang berisi perintah, larangan, permintaan, ajakan, dan harapan. Kalimat-kalimat tersebut dapat digolongkan dalam kalimat imperatif. Kalimat imperatif adalah kalimat yang bertujuan memberikan perintah kepada seseorang atau sekelompok orang untuk melakukan sesuatu. Kalimat imperatif disebut juga kalimat perintah. Kalimat imperatif diakhiri dengan tanda seru. Kalimat imperatif biasanya diucapkan dengan nada tinggi.
    Jenis-jenis kalimat imperatif dapat diuraikan sebagai berikut.
1. Perintah biasa
    Kalimat imperatif biasa adalah kalimat perintah yang menggunakan intonasi yang bervariasi, mulai dari perintah yang lunak sampai dengan yang sangat keras.
Contoh: Kerjakanlah pekerjaan yang mudah terlebih dahulu!
2. Permintaan
    Kalimat imperatif permintaan merupakan kalimat perintah halus karena orang yang menyuruh bersikap merendah. Kalimat permintaan biasanya menggunakan kata tolong.
Contoh: Tolong sampaikan keluhan kami kepada pimpinan Anda!
3. Mengizinkan
    Kalimat imperatif mengizinkan adalah kalimat perintah biasa yang ditambahkan dengan pernyataan yang mengungkapkan pemberian izin.
Contoh: Silakan mengambil  barang-barang yang Anda butuhkan!
4. Ajakan
    Kalimat imperatif ajakan merupakan kalimat perintah yang didahului oleh kata-kata ajakan, seperti marilah, baiklah, dan ayo.
Contoh: Ayo, kita tanamkan sikap disiplin dalam kehidupan!
5. Bersyarat
    Kalimat imperatif bersyarat adalah kalimat perintah yang mengandung syarat untuk terpenuhinya sesuatu.
Contoh: Bantulah mereka, pasti beban Anda akan berkurang!
6. Sindiran
    Kalimat imperatif sindiran adalah kalimat perintah yang mengandung ejekan karena yakin bahwa yang diperintah tidak akan mampu melaksanakan yang diperintahkan.
Contoh: Masukkan tangan Anda ke dalam tumpukan es itu jika ingin merasakan beku!
7. Larangan
    Kalimat imperatif larangan merupakan kalimat perintah yang melarang seseorang melakukan sesuatu. Pada umumnya kalimat ini menggunakan kata dilarang atau jangan.
Contoh: Jangan membuat keributan di tempat ibadah!
8. Saran
    Kalimat perintah yang bermakna menyuruh atau meminta seseorang melakukan sesuatu dengan cara memberikan saran. Kalimat ini ditandai dengan kata seharusnya dan sebaiknya.
Contoh: Sebaiknya Anda belajar menghormati orang yang lebih tua!
    b. Kata ganti
    c. Kata teknis/ istilah
    d. Kata kerja mental
    e. Kalimat majemuk bertingkat
    
 
 

 
 

 
 
 
 

 

Penelitian Kualitatif

1. Pengertian Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah pendekatan ilmiah yang digunakan untuk memahami makna, realitas sosial, a...