Hikayat Indera Bangsawan
Blog ini menyajikan materi bahasa Indonesia, contoh cerpen, puisi, dan karya ilmiah
Senin, 23 November 2020
HIKAYAT
Sabtu, 14 November 2020
CERPEN
A. Definisi Cerpen dan Antologi Cerpen
1. Definisi Cerpen dan Antologi Cerpen
Cerpen meupakan akronim dari cerita pendek. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, cerpen berarti kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal kata dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi (pada suatu ketika). Sementara itu, menurut Edgar Allan Poe, cerpenis dari amerika dan perintis fiksi detektif dan kriminal, cerpen adalah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam. Dari kedua pengertian itu dapat disimpulkan bahwa cerpen adalah cerita pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal pada satu tokoh dan satu situasi yang habis dibaca dalam sekali duduk.
2. Ciri-Ciri Cerpen
Berikut ini ciri-ciri cerpen.
a. Jalan ceritanya pendek.
b. Jumlah kata tidak lebih dari 10.000 kata.
c. Tidak menggambarkan semua kisah tokoh.
d. Tokoh dalam cerpen mengalami masalah atau konflik hingga pada tahap penyelesaian.
e. Kesan cerpen sangat mendalam sehingga pembaca ikut merasakan kisah tersebut.
f. Biasanya hanya menceritakan satu kejadian.
g. Latar yang dilukiskan hanya sesaat dan dalam lingkungan yang relatif terbatas.
3. Jenis Cerpen
Berdasarkan jumlah kata yang digunakan, cerpen dibagi menjadi tiga, yaitu:
a. Cerpen Mini
b. Cerpen Ideal
c.Cerpen Panjang
B. Nilai-Nilai dalam Cerpen
Dalam cerpen terdapat beberapa nilai yang terkandung di dalamnya.
a. Nilai Moral
b. Nilai Religius
c. Nilai Budaya
d. Nilai Kepahlawanan
e. Nilai Sosial
f. Nlai Politik
SENJA NAN KELABU
Adinda Cantika
Paliwa atau yang akrab disapa Wawa adalah anak semata wayang dari kedua orang
tuanya, Pak Palta dan Bu Kirawa. Wawa adalah seorang murid kelas 9 di salah
satu SMP terkenal di Jakarta. Setiap hari, pekerjaannya hanyalah mengeluh
karena banyaknya tugas yang diberikan oleh gurunya. Maklum saja, hal ini karena
1 bulan lagi ia akan menghadapi ujian nasional. Meski ujiannya sudah dekat,
Wawa tetap saja berpacaran. Pacarnya adalah teman seangkatannya yang bernama
Toni.
Setiap sore, Wawa selalu datang ke sekolah
untuk mengikuti les mata pelajaran. Sepulang les, ia biasanya jalan-jalan
sebentar bersama Toni, entah ke tempat perbelanjaan ataupun ke taman. Meski
Toni adalah seorang badboy di sekolahnya, ia sangatlah romantis. Oleh karena
itulah Wawa sangat nyaman bersamanya.
Suatu hari,
ketika mereka sedang duduk berdua di taman, Wawa menceritakan masalahnya kepada
Toni.
“Ton, aku capek. Kenapa coba kita
harus belajar? Aku pengen nikmatin hidup aku tanpa harus belajar. Aku pengen
seneng-seneng terus. Kamu punya solusinya gak?” keluh Wawa
Awalnya Toni terdiam, namun setelah beberapa
saat, ia tahu solusinya.
“Wa, gimana kalo kita nikah aja?” ajak
Toni
“Hah?!” Wawa terkejut mendengar apa
yang baru saja keluar dari mulut Toni
“Wa, Kamu udah bosen belajar kan?
Kamu pengen kita seneng seneng kan? Ayo kita nikah! Kalo kita udah nikah nanti,
kamu gak bakal pusing kayak gini lagi. Kamu gak harus belajar pelajaran sekolah
lagi. Aku janji bakal bikin kamu seneng terus. Aku janji aku bakal bahagiain
kamu. Aku janji aku bakal jagain kamu seumur hidup. Aku janji bakal terus ada
buat kamu. Aku cinta kamu sepenuhnya. Kamu mau nikah sama aku kan, Wa?” bujuk
Toni
“Aku juga cinta sama kamu Ton, tapi
aku belum siap buat nikah. Kita masih kecil, masih kelas 9, belum pantes buat
nikah.” bantah Wawa
“Ini demi kebaikan kita Wa, kita
bakal hidup bahagia berdua. Kita gak perlu pusing pusing mikirin tugas sekolah
lagi.” kata Toni
“Kasih aku waktu buat mikir Ton”
pinta Wawa
Setelah
berpikir keras selama satu minggu, Wawa akhirnya menemukan jawabannya. Ia mau
menikah dengan Toni. Ia ingin hidup bersama dengan cintanya, karena segalanya
mungkin akan menjadi lebih mudah. Ia memutuskan untuk berbicara dengan kedua
orang tuanya terlebih dahulu.
“Ma, Pa, Wawa
mau ngomong sesuatu yang penting. Wawa mau nikah sama Toni.” Ucap Wawa
“Apa?!” Pak
Palta dan Bu Kirawa sangat terkejut mendengar pernyataan anak semata wayangnya
itu.
“Kamu gak boleh
nikah kalo belum tamat kuliah!” suara Pak Palta terdengar emosi.
“Aku udah bosen
sekolah Pa, aku bosen ngerjain tugas yang gak ada habisnya. Aku sama Toni juga udah
saling cinta. Meskipun kami baru pacaran selama 2 bulan, aku udah kenal banget
sama Toni. Dia itu merjuangin aku banget, buktinya sebelum kami pacaran Toni
rela ninggalin cewek lain demi aku.” ucap Wawa.
“Itu bukan
cinta Wa, itu cuma hawa nafsu kalian. Kalian masih kecil, masih terlalu labil
buat nikah. Jangan sampe kamu nikah di umur segini. Membangun rumah tangga itu nggak
sesederhana yang kamu kira. Dan, kalo sekarang dia ninggalin orang lain demi
kamu, maka suatu saat nanti kamu juga bakal ditinggalin sama dia.” Ucap Bu
Kirawa.
“Pokoknya papa
gak setuju!” ucap Pak Palta.
“Mama juga gak
setuju.” sahut Bu Kirawa.
“Pokoknya Wawa
bakal tetep nikah sama Toni!” bantah Wawa.
Wawa
langsung berlari ke kamarnya dan menangis sendiri disana. Ia menangis karena
orang tuanya tak mau memberinya izin untuk menikah. Ia pun langsung menghubungi
Toni untuk memberitahukan hal tersebut. Tak disangka, Toni malah mengajaknya untuk
melakukan kawin lari. Kali ini, tanpa pikir panjang Wawa langsung menerima
ajakan Toni tersebut.
1 jam kemudian,
Todi sudah ada di depan rumah Wawa. Wawa langsung keluar tanpa meminta izin
terlebih dahulu kepada orang tuanya, ia keluar melalui jendela. Sebelum pergi,
ia sempat menuliskan surat untuk orang tuanya. Isi suratnya yaitu “PA, MA, MAAF
AKU PERGI TANPA IZIN. AKU MAU NIKAH SAMA TONI. PAPA SAMA MAMA GAK USAH
KHAWATIRIN AKU. AKU PAMIT.”
Mendengar
suara motor dari luar, Pak Palta seketika bangun dari tidurnya. Ia kemudian
mengecek kamar Wawa untuk memastikan apakah anaknya sudah tidur atau belum.
Setibanya di kamar Wawa, ia menemukan sebuah surat di atas meja belajar anaknya
itu. Ia langsung mengalami serangan
jantung setelah membaca surat pamit dari Wawa. Anaknya itu pergi
meninggalkan orang tuanya sendiri hanya demi bersama dengan kekasihnya.
Keesokan harinya, Pak Palta dilarikan ke rumah sakit. Namun sayang, ajal sudah
menjemputnya. Bu Kirawa pun stress dengan kejadian ini. Anak semata wayang dan
suaminya telah pergi meninggalkannya sendiri. Ia kemudian memutuskan untuk
bunuh diri dengan meloncat dari lantai 2 rumah sakit.
Tiga
bulan berlalu, kini Wawa berstatus sebagai seorang ibu hamil. Kandungannya baru
berusia 1 bulan. Pada suatu hari, tiba-tiba Toni membawa pulang seorang gadis cantik,
ia berkata bahwa gadis itu adalah pacar barunya.
“Berani beraninya kamu ngelakuin ini
ke aku. Aku rela ninggalin orang tua aku demi kamu. Dan sekarang, kamu tega
ninggalin aku demi cewek lain! Apa ini balesan kamu?” protes Wawa kepada
suaminya.
“Kamu udah gak penting lagi buat
aku. Aku udah gak butuh kamu lagi. Mulai sekarang, kita udah gak ada hubungan
apa apa lagi. Aku gak peduli sama kandungan kamu. Cepet kamu pergi dari sini!”
jawab Toni dengan nada tinggi.
Perasaan Wawa
kini jadi tak karuan, hubungan yang diharapkannya harmonis, kini kandas di
tengah jalan. Ia kemudian pulang ke rumah orang tuanya. Di perjalanan, ia hanya
menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya. Sesampainya di rumah orang tuanya, ia
tak melihat seorangpun disana. Kemudian ada seorang tetangganya yang lewat dan
memberitahu bahwa kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Akibatya, tangisan
Wawa semakin menjadi-jadi. Ia menyesal telah meninggalakan orang tuanya hanya
demi seorang Toni. Tak sampai disitu, ia juga melihat mantan teman sekelasnya
yang sedang belajar bersama teman barunya. Ia menyesal telah menikah di bawah
umur. Pada akhirnya ia sadar bahwa pendidikan dan orang tua, jauh lebih penting
dari cinta.
D. Unsur Pembangun Cerpen
1. Unsur Intrinsik
a. Tema
b. Alur
1. Struktur Alur
a. Pengenalan Situasi (Exposition)
b. Pengungkapan Peristiwa (complication)
c. Menuju Adanya Konflik (rising action)
d. Puncak Konflik (turning point)
e. Penyelesaian (ending atau coda)
c. Latar
1. Latar Tempat
2. Latar Waktu
3. Latar Suasana
d. Penokohan
Teknik penggambaran tokoh
1. Teknik Analitik
2. Teknik Dramatik
e. Sudut Pandang
f. Amanat
2. Unsur Ekstrinsik
a. Bahasa
b. Latar Belakang Pengarang
c. Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Karya Sastra
Senin, 09 November 2020
ANEKDOT
A. Definisi. Ciri, dan Jenis Anekdot
1. Definisi Teks Anekdot
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, anekdot adalah cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan, biasanya mengenai orang penting atau orang terkenal dan berdasarkan kejadian yang sebenarnya. Orang-orang penting yang diceritakan dalam anekdot bermacam-macam, seperti tokoh politik, sosial, dan agama. Sementara itu, peristiwa yang diceritakan dalam anekdot merupakan peristiwa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Namun seiring perkembangan zaman anekdot juga digunakan untuk menceritakan tokoh dan peristiwa fiktif.
Anekdot mengandung humor. Humor dalam anekdot dibentuk dengan kelucuan atau kekonyolan tokoh. Tindakan ataupun ucapan tokoh menimbulkan humor karena adanya peristiwa ganjil yang mendasarinya. Humor juga dapat diciptakan melalui permainan kata, makna, ataupun pelesetan terhadap suatu kata ataupun frasa.
Humor dalam anekdot bukan hanya bersifat menghibur. Biasanya, dalam humor suatu anekdot terdapat kritik dan sindiran yang disampaikan secara halus dalam cerita. Bagian penyampaian kritik ataupun humor dalam anekdot dapat ditemukan dalam bagian krisis dan reaksi. Pada kedua bagian itulah biasanya amanat juga disampaikan oleh penulis anekdot.
2. Ciri Teks Anekdot
Anekdot merupakan jenis teks narasi. Namun, ada beberapa aspek yang membedakan anekdot dengan teks cerita lainnya. Berikut beberapa ciri teks anekdot yang membedakannya dengan teks lainnya.
a. Teks anekdot bersifat humor atau lelucon, artinya teks anekdot berisikan kisah-kisah lucu atau bualan.
b. Bersifat menggelitik, artinya teks anekdot akan membuat pembacanya merasa terhibur dengan kelucuan yang ada dalam teks.
c. Bersifat menyindir, artinya isi dalam teks anekdot terkadang menyindir sebagian kelompok tertentu.
d. Menceritakan orang penting, seperti pejabat ataupun tokoh terkenal, tetapi bisa juga orang biasa.
e. Memiliki tujuan tertentu.
f. Kisah cerita yang disajikan hampir menyerupai dongeng.
g. Menceritakan karakter hewan dan manusia sering terhubung secara umum dan realistis.
3. Jenis Anekdot
a. Berdasarkan sifat peristiwanya
1. Anekdot Nonfiksi
Anekdot nonfiksi adalah anekdot yang menceritakan peristiwa nyata dengan tokoh dan latar sebenarnya. Faktanya, sulit membuktikan bahwa sebuah anekdot berasal dari kisah nyata atau bukan. Namun, kesulitan tersebut tidak berarti anekdot nonfiksi tidak ada. Pengalaman lucu dalam kehidupan sehari-hari dapat diceritakan kembali sesuai kenyataan sebenarnya.
2. Anekdot Fiksi
Anekdot fiksi adalah anekdot yang menceritakan kisah fiksi atau khayal. anekdot fiksi menggunakan tokoh rekaan atau latar rekaan. Akan tetapi, kadang-kadang terdapat anekdot dengan bukan rekaan. Namun, latar yang digunakan anekdot tersebut bersifat fiktif. Sebaliknya, kadang-kadang digunakan latar bukan rekaan atau benar-benar ada. Namun, pada anekdot tersebut tokoh yang digunakan bersifat fiktif.
b. Berdasarkan Tokoh
1. Anekdot Tokoh Terkenal
a. Anekdot Tokoh Terkenal Nonfiksi
Anekdot tokoh terkenal nonfiksi bersumber dari kisah-kisah nyata yang dilakoni oleh tokoh-tokoh terkenal. Anekdot ini sering diceritakan sendiri oleh tokoh bersangkutan atau oleh orang lain yang mengetahui kejadian sebenarnya.
b. Anekdot Tokoh Terkenal Fiksi
Anekdot tokoh terkenal fiksi menceritakan kisah tokoh terkenal yang merupakan hasil rekaan pengarangnya. Tokoh tersebut dapat diambil dari tokoh film, tokoh novel, atau tokoh dongeng. Contoh anekdot tokoh terkenal berupa fiksi adalah anekdot Abu Nawas.
2. Anekdot Sufi
Anekdot sufi adalah anekdot yang menceritakan kisah-kisah sufi atau pemuka agama. Anekdot sufi menceritakan pengalaman sehari-hari seorang sufi. Sufi yang menjadi tokoh dalam anekdot ini bersifat nonfiksi ataupun fiksi.
3. Anekdot Binatang
Anekdot binatang adalah anekdot yang menggunakan tokoh seekor binatang. Anekdot ini mengumpamakan binatang seperti manusia. Dalam anekdot ini, binatang dapat berbicara dan berpikir seperti manusia. Anekdot ini seering digunakan untuk menentukan nilai-nilai kehidupan. Namun, anekdot ini juga dapat digunakan untuk mengkritik.
c. Berdasarkan Tujuan
1. Anekdot Kritik
2. Anekdot Nasihat
3. Anekdot Hiburan
Antrean Raskin
Alkisah suatu hari ada pembagian beras untuk keluarga miskin alias raskin di balai desa. Karena antrean terlalu panjang, salah satu warga yang ikut mengantre pun marah-marah
"Ini pasti gara-gara kepala desa yang korupsi, kita jadi susah begini." kata warga tersebut.
Karena jengkel, dia lantas mendatangi rumah kepala desa sembari berkata, "Kalau begini caranya, saya akan melengserkan kepala desa sekarang juga."
Sesampainya di rumah kepala desa, ternyata sudah banyak orang mengantre untuk menghakimi kepala desa. Bahkan, antrean di rumah kepala desa lebih panjang dari pada antrean di tempat pembagian raskin.
Warga yang tadi meninggalkan antrean pembagian raskin dengan kesal ngomel sendiri, "Kalau harus ngatre juga, mendingan ngantre raskin.
B. Mengevaluasi Makna Tersirat dalam Teks Anekdot
1. Mendata Pokok-Pokok Isi dalam Teks Anekdot
Anekdot termasuk teks narasi. Sebuah teks narasi mempunyai pokok-pokok isi yang menyusun cerita. Pokok-pokok isi tersebut dapat ditemukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan isi cerita. Kita dapat menggunakan kata tanya apa, siapa, kapan, di mana, dan mengapa.
2. Mengidentifikasi Makna Tersirat dalam Teks Anekdot
Anekdot adalah sebuah cerita yang mengandung makna tersirat. Makna tersirat dalam anekdot dapat diketahui setelah Anda membaca keseluruhan cerita. Makna tersurat dalam suatu anekdot dapat berupa pesan, kritik, ataupun nasihat.
C. Struktur dan Kebahasaan Teks Anekdot
1. Struktur Teks Anekdot
Struktur teks anekdot yaitu abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan koda
2. Kebahasaan Teks Anekdot
a. Menggunakan kalimat retoris
b. Menggunakan konjungsi waktu
c. Menggunakan kalimat tanya
d. Menggunakan kalimat imperatif
e. Menggunakan kalimat seru
Senin, 21 September 2020
TEKS EKSPOSISI
A. Definisi, Ciri, dan Jenis Teks Eksposisi
1. Definisi Teks Eksposisi
Kata eksposisi memiliki beberapa pengertian. Kata eksposisi berasal dari bahasa Latin ekspotition yang berarti memberitahukan, memaparkan, menjelaskan, atau menguraikan. Eksposisi merupakan paparan yang bertujuan memberi tahu atau menerangkan sesuatu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, eksposisi berarti uraian atau paparan yang bertujuan menjelaskan maksud dan tujuan dalam karangan.
2. Ciri Teks Eksposisi
Teks eksposisi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Berisi informasi dan pengetahuan
Teks eksposisi berisi informasi yang mengandung pengetahuan. Pengetahuan yang disampaikan tentu sesuai dengan topik yang dibicarakan. Pengetahuan tersebut memiliki manfaat dalam kehidupan sehingga didukung oleh data, fakta, dan argumen yang baik.
b. Objektif dan tidak memihak.
Teks eksposisi berisi pengetahuan sehingga apa yang disampaikan bersifat objektif, tidak memihak kepada salah satu golongan atau kelompok. Oleh karena itu, pendapat pribadi tidak boleh dimasukkan ke teks eksposisi. Jadi, teks eksposisi hanya memuat informasi tanpa opini atau pendapat pribadi.
3. Jenis Teks Eksposisi
Jenis teks eksposisi menurut Gorys Keraf, antara lain eksposisi definisi, identifikasi, perbandingan atau pertentangan, ilustrasi, klasifikasi, dan analisis.
a. Eksposisi Definisi
Definisi dapat ditinjau dari berbagai macam sudut. Definisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kata, frasa, atau kalimat yang mengungkapkan makna, keterangan, atau ciri Utama dari orang, benda, proses, atau aktivitas. Definisi juga dapat diartikan rumusan tentang ruang lingkup dan ciri-ciri suatu konsep yang menjadi pokok pembicaraan atau studi. Definisi berisi penjelasan tentang makna suatu kata atau frasa. Definisi memeberikan Batasan makna dan penggunaan sebuah kata atau prasa.
Definisi dibagi menjadi dua. Definisi pertama disebut definisi secara sempit. Definisi sempit bukan definisi mengenai suatu hal atau benda, melainkan mengenai suatu kata. Definisi sempit mencakup definisi sinonim kata dan definisi dari kamus. Definisi kedua adalah definisi secara luas. Definisi luas mencakup pembatasan pengertian suatu barang atau hal yang didefinisiskan. Definisi luas merupakan pengembangan dari definisi sempit. Agar lebih jelas perhatikan contoh berikut.
Global warming adalah peningkatan suhu rata-rata di atmosfer dan permukaan bumi dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Artinya, bumi mengalami perubahan drastis yang belum pernah terjadi pada zaman dahulu.
Contoh tersebut merupakan teks eksposisi yang didefinisikan secara sempit. Teks tersebut membahas definisi global warming atau pemanasan global. Bandingkan dengan contoh berikut.
Global warming adalah suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain, seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrem. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan. Penyebab global warming pemanasan global yang pertama adalah polusi karbon dioksida. Karbon dioksida dihasilkan oleh berbagai macam mesin dan industri di dunia, di anataranya mesin mobil dan mesin pembangkit listrik.
Contoh paragraf tersebut menjelaskan global warming lebih luas. Paragraf tersebut memaparkan dampak yang ditimbulkan global warming. Selain itu, paragraf tersebut memaparkan penyebab global warming.
b. Eksposisi Identifikasi
Eksposisi identifikasi adalah sebuah metode yang berusaha menyebutkan ciri-ciri atau unsur-unsur pengenal suatu objek. Dengan menyebutkan ciri suatu objek diharapkan pembaca atau pendengar lebih mengenal objek tersebut. Metode identifikasi digunakan dalam teks eksposisi mampu menjawab pertanyaan "Apa itu?" dan "Siapa itu?" Metode identifikasi dalam teks eksposisi akan memperkenalkan barang atau objek dengan memerinci ciri dan tanda pengenal dari objek tersebut.
Perhatikan contoh berikut ini!
Mungkin istilah teknologi tepat guna masih asing bagi sebagian masyarakat. Umumnya teknologi tepat guna merupakan pilihan teknologi dan aplikasinya yang memiliki karakteristik terdesentralisasi, berskala kecil, hemat energi, padat karya, dan berkaitan erat dengan kondisi lokal. Teknologi ini dirancang untuk masyarakat tertentu sesuai dengan aspek lingkungan, keetnisan, budaya, sosial, politik, dan ekonomi masyarakat yang bersangkutan.
c. Eksposisi Perbandingan atau Pertentangan.
Metode perbandingan adalah suatu cara untuk menunjukkan kesamaan dan perbedaan antara dua objek atau lebih mempergunakan dasar-dasar tertentu. Dasar-dasar perbandingan adalah menempatkan sesuatu yang belum diketahui dalam kerangka suatu hal yang sudah dikenal pembaca. Jadi, pembaca lebih mudah memahami isi teks eksposisi yang ditulis.
Contoh:
Pembangunan dan Bencana Lingkungan
Bumi saat ini sedang menghadapi berbagai masalah lingkungan yang serius. Enam masalah lingkungan yang Utama tersebut adalah ledakan jumlah penduduk, penipisan sumber daya alam, perubahan iklim global, kepunahan tumbuhan dan hewan, kerusakan habitat alam, serta peningkatan polusi dan kemiskinan. Dari hal itu dapat dibayangkan betapa besar kerusakan alam yang terjadi karena jumlah populasi yang besar, konsumsi sumber daya alam dan polusi yang meningkat, sedangkan teknologi saat ini belum dapat menyelesaikan permasalahan tersebut.
Para ahli menyimpulkan bahwa masalah tersebut disebabkan oleh praktik pembangunan yang tidak memerhatikan kelestarian alam, atau disebut pembangunan yang tidak berkelanjutan. Seharusnya, konsep pembangunan adalah memenuhi kebutuhan manusia saat ini dengan mempertimbangkan kebutuhan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya.
Penerapan konsep pembangunan berkelanjutan pada saat ini ternyata jauh dari harapan. Kesulitan penerapannya terutama terjadi di negara berkembang, salah satunya Indonesia. Sebagai contoh, setiap tahun di negara kita diperkirakan terjadi penebangan hutan seluas 3.180.243 ha (atau seluas 50 kali luas kota Jakarta). Hal ini juga diikuti oleh punahnya flora dan fauna langka. Kenyataan ini sangat jelas menggambarkan kehancuran alam yang terjadi saat ini yang diikuti bencana bagi manusia.
Pada tahun 2005 - 2006 tercatat, telah terjadi 330 bencana banjir, 69 bencana tanah longsor, 7 bencana letusan gunung berapi, 241 gempa bumi, dan 13 bencana tsunami. Bencana longsor dan banjir itu disebabkan oleh perusakan hutan dan pembangunan yang mengabaikan kondisi alam.
Bencana alam lain yang menimbulkan jumlah korban banyak terjadi karena praktik pembangunan yang dilakukan tanpa memerhatikan potensi bencana. Misalnya, banjir yang terjadi di Jakarta pada Februari 2007, dapat dipahami sebagai dampak pembangunan kota yang mengabaikan pelestarian lingkungan.
d. Eksposisi Ilustrasi
Eksposisi ilustrasi adalah suatu metode untuk mengadakan gambaran atau penjelasan yang khusus dan konkret terhadap suatu prinsip yang bersifat umum. Penulis akan menjelaskan suatu objek secara luas. Dengan demikian, pembaca tidak kebingungan dalam memahami objek yang disampaikan penulis.
Gagasan umum memerlukan ilustrasi atau contoh konkret. Dalam eksposisi, contoh-contoh tersebut tidak berfungsi untuk membuktikan suatu pendapat , tetapi dipakai untuk menjelaskan dan menegaskan ide, gagasan, dan maksud penulis. Pengalaman pribadi merupakan bahan ilustrasi atau contoh yang paling efektif dalam menjelaskan gagasan umum tersebut.
Eksposisi ilustrasi merupakan metode yang sering digunakan karena tidak menampilkan hal-hal umum secara abstrak atau kabur. Akan tetapi, eksposisi ilustrasi menunjukkan contoh-contoh yang nyata dan konkret. Menurut Gorys Keraf, jenis eksposisi ilustrasi dapat disajikan secara deskripsi dan narasi.
Contoh:
Sabtu, 19 September 2020
Teks Ceramah
A. Definisi dan Ciri-Ciri Ceramah
1. Definisi Ceramah
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ceramah adalah pidato oleh seseorang di hadapan banyak pendengar mengenai suatu hal atau pengetahuan. Ceramah juga berarti penuturan bahan pembelajaran secara lisan. Ceramah merupakan pidato yang bertujuan untuk memberikan nasihat dan petunjuk mengenai suatu permasalahan kepada audiensi yang bertindak sebagai pendengar. Secara umum, ceramah mempunyai pengertian tentang suatu kegiatan berbicara di depan umum dalam situasi tertentu untuk tujuan tertentu dan kepada pendengar tertentu.
Pada dasarnya, pidato, ceramah, dan khotbah memiliki persamaan, yakni pengungkapan pikiran di hadapan banyak orang. Namun, dalam pelaksanaannya, antara pidato, ceramah, dan khotbah memiliki perbedaan. Pidato sering kita ikuti dalam acara-acara resmi, misalnya seminar, rafat pleno,. Ceramah diadakan untuk acara-acara tertentu, misalnya ceramah tentang kedisiplinan berlalu lintas, ceramah tentang maulid Nabi SAW. Khotbah penyampaian pada waktu dan tempat tertentu, seperti khotbah Jum'at.
2. Ciri-Ciri Ceramah
Ceramah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Disampaikan oleh seseorang yang memiliki keahlian dalam bidang ilmu tertentu.
b. Menginformasikan topik yang dapat memperluas pengetahuan.
c. Ada komunikasi dua arah antara pembicara dan pendengar, berupa dialog, tanya jawab, dan diskusi.
d. Dapat disajikan menggunakan alat bantu.
e. Memiliki objektivitas dan unsur-unsur yang mengandung kebenaran.
f. Ceramah dapat menghidupkan suasana dengan menggunakan gambar, cerita pendek, atau kejadian-kejadian yang relevan agar dapat memancing perhatian pendengar.
g. harus memiliki tujuan yang jelas.
h. Apa yang disampaikan harus dapat mencapai klimaks.
i. Berisi sesuatu yang mengejutkan atau belum pernah disampaikan sebelumnya.
j. Dibatasi pada satu atau dua persoalan.
k. Mengandung humor agar dapat menghidupkan suasana dan memberi kesan yang tidak dapat terlupakan bagi pendengar.
3. Identifikasi informasi dalam ceramah
Bacalah contoh ceramah berikut ini!
Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang berbahagia,
Pemilihan kata-kata oleh masyarakat akhir-akhir ini cenderung semakin menurun kesantunannya dibandingkan dengan zaman saya dahulu ketika kanak-kanak. Hal tersebut tampak pada ungkapan-ungkapan pada banyak kalangan dalam menyatakan pendapat dan perasaannya, seperti ketika berdemonstrasi ataupun rapat-rapat umum. Kata-kata mereka kasar atau bertendensi menyerang. Tentu saja, hal itu sangat menggores hati yang menerimanya.
Gejala yang sama terlihat pula pada penggunaan bahasa oleh para politisi kita, misalnya ketika melontarkan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Tanggapan-tanggapan mereka terdengar pedas, vulgar, dan beberapa di antaranya cenderung provokatif. Padahal sebelumnya, pada zaman pemerintahan Orde Baru, pemakaian bahasa dibingkai secara santun lewat pemilihan kata yang dihaluskan maknanya (epimistis).
Kita pun tentu gelisah sebagai orang tua. Kita sering menyaksikan kebiasaan berbahasa anak-anak dan para remaja yang kasar dengan dibumbui sebutan-sebutan antarsesama yang sangat miris untuk didengar.
Fenomena tersebut menunjukkan adanya penurunan standar moral, agama, dan tata nilai yang berlaku dalam masyarakat itu. Ketidaksantunan berkaitan pula dengan rendahnya penghayatan masyarakat terhadap budayanya sebab kesantunan berbahasa itu tidak hanya berkaitan dengan ketepatan dalam pemilikan kata ataupun kalimat. Kesantunan itu berkaitan
pula dengan adat pergaulan yang berlaku dalam masyarakat itu.
Penyebab utamanya adalah perkembangan masyarakat yang sudah tidak menghiraukan perubahan nilai-nilai kesantunan dan tata krama dalam suatu masyarakat. Misalnya, kesantunan (tata krama) yang berlaku pada zaman kerajaan yang berbeda dengan yang berlangsung pada masa kemerdekaan dan pada masa kini. Kesantunan juga berkaitan dengan tempat: nilai-nilai kesantunan di kantor berbeda dengan di pasar, di terminal, dan di rumah.
Pergaulan global dan pertukaran informasi juga membawa pengaruh pada pergeseran budaya, khususnya berkaitan dengan nilai-nila kesantunan itu. Fenomena demikian menyebabkan para remaja dan anggota masyarakat lainnya gamang dalam berbahasa. Pada akhirnya mereka memiliki kaidah berbahasa yang mereka anggap bergengsi, tanpa mengindahkan kaidah bahasa yang sesungguhnya.
Sejalan dengan perubahan waktu dan tantangan global, banyak hambatan dalam upaya pembelajaran tata krama berbahasa. Misalnya, tayangan televisi yang bertolak belakang dengan prinsip tata kehidupan dan tata krama orang Timur. Sementara itu, sekolah juga kurang memperhatikan kesantunan berbahasa dan lebih mengutamakan kualitas otak siswa dalam penguasaan iptek.
Selain itu, kesantunan berbahasa sering pula diabaikan dalam lingkungan keluarga. Padahal, belajar bahasa sebaiknya dilaksanakan setiap hari agar anak dapat menghayati betul bahasa yang digunakannya. Anak belajar tata santun berbahasa mulai di lingkungan keluarga.
Nilai-nilai kesantunan berbahasa dalam beragama juga merupakan salah satu kewajiban manusia yang bentuknya berupa perkataan yang lembut dan tidak menyakiti orang lain. Kesantunan dipadankan dengan konsep qaulan karima yang berarti ucapan yang lemah lembut, penuh dengan pemuliaan, penghargaan, pengagungan, dan penghormatan kepada orang lain. Berbahasa santun juga sama maknanya dengan qaulan ma’rufa yang berarti berkata-kata yang sesuai dengan nilai-nilai yang diterima dalam masyarakat penutur.
Oleh karena itu, pendidikan etika berbahasa memiliki peranan yang sangat penting. Pemerolehan pendidikan kesantunan berbahasa sangat diperlukan sebagai salah satu syariat dalam beragama. Dengan kesantunan, dapat tercipta harmonisasi pergaulan dengan lingkungan sekitar. Penanaman kesantunan berbahasa juga sangat berpengaruh positif terhadap kematangan emosi seseorang. Semakin intens kesantunan berbahasa itu dapat ditanamkan, kematangan emosi itu akan semakin baik. Aktivitas berbahasa dengan emosi berkaitan erat. Kemarahan, kesenangan, kesedihan, dan sebagainya tercermin dalam kesantunan dan ketidaksantunan itu.
Berbahasa santun seharusnya sudah menjadi suatu tradisi yang dimiliki oleh setiap orang sejak kecil. Anak perlu dibina dan dididik berbahasa santun. Apabila dibiarkan, tidak mustahil rasa kesantunan itu akan hilang sehingga anak itu kemudian menjadi orang yang arogan, kasar, dan kering dari nilai-nilai etika dan agama. Tentu saja, kondisi itu tidak diharapkan oleh orangtua dan masyarakat manapun.
Selasa, 11 Agustus 2020
Teks Laporah Hasil Observasi
Sebuah laporan hasil observasi dapat disajikan dalam bentuk teks tertulis maupun teks lisan. Kamu sering melakukan observasi atau pengamatan, tetapi belum memahami cara menyusun teks laporannya dengan baik. Untuk itu, kamu perlu memerhatikan penyusunan laporan hasil observasi yang kamu dengar atau kamu baca dari media televisi, koran, majalah, atau internet.
A. Pengertian, Ciri-Ciri, Sifat, dan Contoh Teks Laporan Hasil Observasi
1. Pengertian Teks Laporan Hasil Observasi
Teks laporan hasil observasi adalah teks yang berisi penjabaran umum mengenai sesuatu yang didasarkan pada hasil kegiatan observasi/pengamatan. Kegiatan observasi merupakan kegiatan pengumpulan data atau informasi melalui pengamatan langsung atau peninjauan secara cermat di lapangan atau lokasi.
2. Ciri-Ciri Teks Laporan Hasil Observasi
Teks laporan hasil observasi memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan teks lain.
1. Bersifat objektif, global, dan universal
2. Objek yang dibicarakan atau dibahas adalah tunggal
3. Ditulis secara lengkap dan sempurna
4. Ditulis berdasarkan fakta sesuai dengan pengamatan yang dilakukan
5. Informasi teks merupakan hasil penelitian terkini yang terbukti kebenarannya
6. Tidak mengandung prasangka, dugaan, atau pemihakan yang menyimpang atau tidak tepat
7. Saling berkaitan dengan hubungan berjenjang antara kelas dan subkelas yang terdapat di dalamnya
3. Sifat Teks Laporan Hasil Observasi
Sifat teks laporan hasil obseervasi sebagai berikut:
1. Informatif
2. Komunikatif
3. Objektif
4. Contoh Teks Laporan Hail Observasi
Wayang
Wayang adalah seni pertunjukan yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya asli Indonesia. UNESCO, lembaga yang mengurusi kebudayaan dari PBB, pada 7 November 2003 menetapkan wayang sebagai pertunjukan bayangan boneka tersohor berasal dari Indonesia. Wayang merupakan warisan mahakarya dunia yang tidak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).
Para wali songo, penyebar agama Islam di Jawa sudah membagi wayang menjadi tiga. Wayang kulit di Timur, wayang wong atau wayang orang di Jawa Tengah, dan wayang golek atau wayang boneka di Jawa Barat. Penjenisan tersebut disesuaikan dengan penggunaan bahan wayang. Wayang kulit dibuat dari kulit hewan ternak, misalnya kulit kerbau, sapi, atau kambing. Wayang wong berarti wayang yang ditampilkan atau diperankan oleh orang. Wayang golek adalah wayang yang menggunakan boneka kayu sebagai pemeran tokoh. Selanjutnya, untuk mempertahankan budaya wayang agar tetap dicintai, seniman mengembangkan wayang dengan bahan-bahan lain, antara lain wayang suket dan wayang motekar.
Wayang kulit dilihat dari umur, dan gaya pertunjukannya pun dibagi lagi menjadi bermacam jenis. Jenis yang paling terkenal, karena diperkirakan memiliki umur paling tua adalah wayang purwa. Purwa berasal dari bahasa Jawa, yang berarti awal. Wayang ini terbuat dari kulit kerbau yang ditatah, dan diberi warna sesuai kaidah pulasan wayang pendalangan, serta diberi tangkai dari bahan tanduk kerbau bule yang diolah sedemikian rupa dengan nama cempurit yang terdiri atas tuding dan gapit.
Wayang wong (bahasa Jawa yang berarti ‘orang’) adalah salah satu pertunjukan wayang yang diperankan langsung oleh orang. Wayang orang yang dikenal di suku Banjar adalah wayang gung, sedangkan yang dikenal di suku Jawa adalah wayang topeng. Wayang topeng dimainkan oleh orang yang menggunakan topeng. Wayang tersebut dimainkan dengan iringan gamelan dan tari-tarian. Perkembangan wayang orang pun saat ini beragam, tidak hanya digunakan dalam acara ritual, tetapi juga digunakan dalam acara yang bersifat menghibur.
Selanjutnya, jenis wayang yang lain adalah wayang golek yang mempertunjukkan boneka kayu. Wayang golek berasal dari Sunda. Selain wayang golek Sunda, wayang yang terbuat dari kayu adalah wayang menak atau sering juga disebut wayang golek menak karena cirinya mirip dengan wayang golek. Wayang tersebut kali pertama dikenalkan di Kudus. Selain golek, wayang yang berbahan dasar kayu adalah wayang klithik. Wayang klithik berbeda dengan golek. Wayang tersebut berbentuk pipih seperti wayang kulit. Akan tetapi, cerita yang diangkat adalah cerita Panji dan Damarwulan. Wayang lain yang terbuat dari kayu adalah wayang papak atau cepak, wayang timplong, wayang potehi, wayang golek techno, dan wayang ajen.
Perkembangan terbaru dunia pewayangan menghasilkan kreasi berupa wayang suket. Jenis wayang ini disebut suket karena wayang yang digunakan terbuat dari rumput yang dibentuk menyerupai wayang kulit. Wayang suket merupakan tiruan dari berbagai fgur wayang kulit yang terbuat dari rumput (bahasa Jawa: suket). Wayang suket biasanya dibuat sebagai alat permainan atau penyampaian cerita pewayangan kepada anak-anak di desa-desa Jawa.
Dalam versi lebih modern, terdapat wayang motekar atau wayang plastik berwarna. Wayang motekar adalah sejenis pertunjukan teater bayang-bayang atau serupa wayang kulit. Namun, jika wayang kulit memiliki bayangan yang berwarna hitam saja, wayang motekar menggunakan teknik terbaru hingga bayang-bayangnya bisa tampil dengan warna-warni penuh. Wayang tersebut menggunakan bahan plastik berwarna, sistem pencahayaan teater modern, dan layar khusus.
Semua jenis wayang di atas merupakan wujud ekspresi kebudayaan yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai kehidupan antara lain sebagai media pendidikan, media informasi, dan media hiburan. Wayang bermanfaat sebagai media pendidikan karena isinya banyak memberikan ajaran kehidupan kepada manusia. Pada era modern ini, wayang juga banyak digunakan sebagai media informasi. Ini antara lain dapat kita lihat pada pagelaran wayang yang disisipi informasi tentang program pembangunan seperti keluarga berencana (KB), pemilihan umum, dan sebagainya.Yang terakhir, meski semakin jarang, wayang masih tetap menjadi media hiburan.
Pertanyaan
1. Informasi apa saja yang disampaikan dalam teks tersebut?
2. Mengapa wayang ditetapkan sebagai mahakarya dunia?
3. Ada berapa jenis wayang berdasarkan bahan pembuatannya?
4. Apa manfaat wayang bagi pengembangan warisan budaya?
B. Interpretasi Teks Laporan Hasil Observasi
Arti kata interpretasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pemberian kesan, pendapat atau pandangan, teoretis terhadap sesuatu. Pencapaian interpretasi yang optimal bergantung pada kecermatan dan ketajaman penafsir. Karena bahasa merupakan media tanpa batas.. Setiap pembaca akan memiliki interpretasi berbeda terhadap teks laporan hasil observasi. Kegiatan interpreatsi lebih memfokuskan dan memprioritaskan pada pengkajian bagian-bagian yag ada dalam teks laporan hasil observasi. Oleh karena itu, menginterpretasi dan menafsirkan teks laporan hasil observasi ini sangat diperlukan untuk mengungkapkan isi dalam sebuah teks laporan hasil observasi. Kegiatan menginterpretasi teks laporan hasil observasi dapat dilakukan dengan meringkas dan menyimpulkan teks laporan hasil observasi.
1. Ringkasan Teks Laporan Hasil Observasi
Ringkasan adalah pokok-pokok pikiran yang dirangkai menjadi satu dengan tetap memperhatikan urutan isi bagian demi bagian, dan sudut pandang pengarang tetap diperhatikan dan dipertahankan. dalam menyusun ringkasan, pertama kali yang harus dilakukan adalah memahami isi teks, lalu menemukan pokok-pokok informasi dalam teks tersebut. Pokok-pokok isi teks dapat ditemukan pada kalimat utama. Kalimat utama adalah kalimat yang mengandung pokok pikiran atau gagasan utama yang menjadi dasar pengembangan sebuah paragraf. Kalimat utama terletak di awal atau di akhir sebuah paragraf, tergantung pola pengembangan paragraf. Jika pengembangan paragraf berpola deduktif, maka kalimat utama berada pada urutan pertama. Sedangkan paragraf yang dikembangkan dengan pola induktif, kalimat utama berada di urutan akhir.
2. Simpulan Teks Laporan Hasil Observasi
Simpulan adalah rumusan akhir tentang sesuatu, dalam hal ini adalah teks. Simpulan disusun berdasarkan pemahaman dan penalaran pembaca terhadap keseluruhan isi teks tersebut.
Berikut ini 2 contoh teks laporan hasil observasi
Teks 1
Vegetasi Pantai
Vegetasi pantai atau hutan pantai merupakan tutupan vegetasi yang tumbuh dan berkembang di pantai berpasir di atas garis pasang tertinggi wilayah tropis. Kondisi hutan pantai umumnya terbuka, berpasir, dengan ketinggian vegetasi rendah, dan bersemak. Hutan pantai tumbuh pada kondisi pasir yang kering, umumnya terhindar dari pasang air laut. Hutan pantai disebut juga vegetasi litoral yang berkembang di wilayah pasang-surut pesisir berperairan masin dangkal dengan substrat air atau karang.
Ekosistem hutan pantai didominasi oleh lamun dan ganggang laut. Berbeda dengan kondisi pantai kering, terdapat terna (herbal) yang didominasi oleh Ipomea pes-caprae yang bercampur dengan tumbuhan merayap lainnya seperti Canavallia maritima dan Vigna Marina. Di hutan pantai terdapat pula rumput Ischaemum multicum dan Spinifex littoreus serta teki-tekian Cyperus pedunculatus.
Hutan pantai digunakan sebagai tempat saltick oleh berbagai spesies binatang, khususnya mamalia besar. Saltick merupakan aktivitas binatang memperoleh garam mineral untuk memelihara keseimbangan fisiologis cairan tubuhnya. Beberapa fauna yang sering tercatat berada di hutan pantai adalah rusa, kelelawar, biawak, dan lutung.
Hutan pantai secara khusus menjadi habitat dan lokasi penularan penyu. Di Jawa dan Bali misalnya, tercatat ada tiga jenis spesies penyu yang secara teratur berkunjung ke hutan pantai untuk bertelur. Spesies penyu trsebut di antaranya penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu belimbing (Dermochelys ciracea). Satwa lainnya yang mudah dijumpai adalah berbagai spesies burung, seperti elang laut perut putih dan elang bondol. Tutupan hutan yang relatif terbuka juga memudahkan kita mengamati burung air yang berkunjung, seperti bangau, cangak, kuntul, dan bebek. Beberapa spesies burung laut, juga dapat ditemukan dalam kelompok besar.
Teks 2
Ubur-Ubur Laut
Ubur-ubur adalah hewan karnivor yang hidup di laut dan jenisnya amat beragam, dari yang berukuran kecil hingga berukuran raksasa. Ubur-ubur yang sangat umum dijumpai di laut adalah dari kelas Skypozoa (Schypomedusae). Jenis ubur-ubur ini diperkirakan ada 200 jenis.
Ubur-ubur Schypozoa (Schypomedusae) mempunyai ciri antara lain tubuhnya berbentuk payung atau genta yang disertai dengan umbai-umbai berupa tentakel. Bagian payung sebelah atas berbentuk cembung dan disebut eksumbrela (exumbrella). Di antara keduanya terdapat mesoglea yang mempunyai lendir yang sangat kental. Di tengah subumbrela terdapat bukaan mulut.
Ubur-ubur ini dicirikan dengan adanya sel-sel penyengat yang disebut nematosis (Nematocsyst) yang mengandung racun. Nematosis terdapat hampir di sekujur tubuhnya. Namun, nematosis yang terbanyak terdapat di bagian lengan atau tentakelnya yang berguna untuk menangkap mangsanya. Bentuk nematosis ini sangat beragam menurut jenisnya. Akan tetapi, pada umumnya nematosis ini berupa kantong kecil atau kapsul yang berisikan sel yang mirip panah harpun.
Pada saat-saat tertentu populasi ubur-ubur dapat meledak hingga memenuhi permukaan air laut. Populasi yang meledak tersebut terlihat seolah-olah laut penuh dengan ubur-ubur dan tampak seperti cendol ubur-ubur. Bila hal ini terjadi, dapat menimbulkan kerugian bagi kegiatan pariwisata pantai, perikanan, dan industri yang menggunakan air laut sebagai pendingin.
C. Struktur dan Kaidah Kebahasaan Teks Laporan Hasil Observasi
1. Struktur Isi teks Laporan Hasil Observasi
Teks laporan hasil observasi minimal harus terdiri atas pernyataan umum (tentang hal atau objek yang dilaporkan), deskripsi bagian dari objek yang dilaporkan, dan deskripsi manfaat dari objek tersebut. Teks laporan hasil observasi juga dapat terdiri atas definisi umum, deskripsi bagian, deskripsi manfaat, dan penutup atau simpulan. Perhatikan penjelasan berikut ini!
a. Pernyataan Umum/Definisi Umum
Pernyataan umum merupakan pembukaan yang berisi pengertian mengenai sesuatu yang dilaporkan
b. Anggota atau Aspek yang Dilaporkan/Deskrifsi Bagian
Anggota atau aspek yang dilaporkan merupakan bahasan atau perincian tentang objek yang diamati. Merupakan bagian yang berisi ide pokok dari setiap paragraf yang dijelaskan secara terperinci.
c. Deskripsi Manfaat
Deskripsi manffat merupakan bagian yang menjelaskan manfaat dari sesuatu yang dilaporkan.
d. Penutup atau Simpulan
Merupakan bagian perincian akhir teks laporan hasil observasi. Penutup dapat berisi simpulan berupa tanggapan atau interpretasi penulis tentang objek yang dibahas. Penutup atau simpulan bersifat opsional. Artinya boleh ada, boleh tidak.
Perhatikan contoh teks "Wayang"!
Wayang
adalah seni pertunjukan yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya
asli Indonesia. UNESCO, lembaga yang mengurusi kebudayaan dari PBB, pada
7 November 2003 menetapkan wayang sebagai pertunjukan bayangan boneka
tersohor berasal dari Indonesia. Wayang merupakan warisan mahakarya
dunia yang tidak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).
Perhatikan paragraf di atas! Ide pokok paragraf di atas adalah tentang wayang warisan budaya asli Indonesia. Jika dilihat dari isinya, maka paragraf di atas menjelaskan tentang wayang secara umum. Oleh karena itu, paragraf di atas merupakan pernyataan umum atau definisi umum dari teks yang berjudul"Wayang".
Para wali songo, penyebar agama Islam di Jawa sudah membagi wayang menjadi tiga. Wayang kulit di Timur, wayang wong atau wayang orang di Jawa Tengah, dan wayang golek atau wayang boneka di Jawa Barat. Penjenisan tersebut disesuaikan dengan penggunaan bahan wayang. Wayang kulit dibuat dari kulit hewan ternak, misalnya kulit kerbau, sapi, atau kambing. Wayang wong berarti wayang yang ditampilkan atau diperankan oleh orang. Wayang golek adalah wayang yang menggunakan boneka kayu sebagai pemeran tokoh. Selanjutnya, untuk mempertahankan budaya wayang agar tetap dicintai, seniman mengembangkan wayang dengan bahan-bahan lain, antara lain wayang suket dan wayang motekar.
Wayang kulit dilihat dari umur, dan gaya pertunjukannya pun dibagi lagi menjadi bermacam jenis. Jenis yang paling terkenal, karena diperkirakan memiliki umur paling tua adalah wayang purwa. Purwa berasal dari bahasa Jawa, yang berarti awal. Wayang ini terbuat dari kulit kerbau yang ditatah, dan diberi warna sesuai kaidah pulasan wayang pendalangan, serta diberi tangkai dari bahan tanduk kerbau bule yang diolah sedemikian rupa dengan nama cempurit yang terdiri atas tuding dan gapit.
Wayang wong (bahasa Jawa yang berarti ‘orang’) adalah salah satu pertunjukan wayang yang diperankan langsung oleh orang. Wayang orang yang dikenal di suku Banjar adalah wayang gung, sedangkan yang dikenal di suku Jawa adalah wayang topeng. Wayang topeng dimainkan oleh orang yang menggunakan topeng. Wayang tersebut dimainkan dengan iringan gamelan dan tari-tarian. Perkembangan wayang orang pun saat ini beragam, tidak hanya digunakan dalam acara ritual, tetapi juga digunakan dalam acara yang bersifat menghibur.
Selanjutnya, jenis wayang yang lain adalah wayang golek yang mempertunjukkan boneka kayu. Wayang golek berasal dari Sunda. Selain wayang golek Sunda, wayang yang terbuat dari kayu adalah wayang menak atau sering juga disebut wayang golek menak karena cirinya mirip dengan wayang golek. Wayang tersebut kali pertama dikenalkan di Kudus. Selain golek, wayang yang berbahan dasar kayu adalah wayang klithik. Wayang klithik berbeda dengan golek. Wayang tersebut berbentuk pipih seperti wayang kulit. Akan tetapi, cerita yang diangkat adalah cerita Panji dan Damarwulan. Wayang lain yang terbuat dari kayu adalah wayang papak atau cepak, wayang timplong, wayang potehi, wayang golek techno, dan wayang ajen.
Perkembangan terbaru dunia pewayangan menghasilkan kreasi berupa wayang suket. Jenis wayang ini disebut suket karena wayang yang digunakan terbuat dari rumput yang dibentuk menyerupai wayang kulit. Wayang suket merupakan tiruan dari berbagai fgur wayang kulit yang terbuat dari rumput (bahasa Jawa: suket). Wayang suket biasanya dibuat sebagai alat permainan atau penyampaian cerita pewayangan kepada anak-anak di desa-desa Jawa.
Dalam versi lebih modern, terdapat wayang motekar atau wayang plastik berwarna. Wayang motekar adalah sejenis pertunjukan teater bayang-bayang atau serupa wayang kulit. Namun, jika wayang kulit memiliki bayangan yang berwarna hitam saja, wayang motekar menggunakan teknik terbaru hingga bayang-bayangnya bisa tampil dengan warna-warni penuh. Wayang tersebut menggunakan bahan plastik berwarna, sistem pencahayaan teater modern, dan layar khusus.
Kemudian perhatikan paragraf-paragraf di atas! Isi paragraf tersebut menjelaskan pembagian wayang secara terperinci. Oleh karena itu, paragraf-paragraf tersebut dinamakan deskripsi bagian atau aspek yang dilaporkan.
Semua jenis wayang di atas merupakan wujud ekspresi kebudayaan yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai kehidupan antara lain sebagai media pendidikan, media informasi, dan media hiburan. Wayang bermanfaat sebagai media pendidikan karena isinya banyak memberikan ajaran kehidupan kepada manusia. Pada era modern ini, wayang juga banyak digunakan sebagai media informasi. Ini antara lain dapat kita lihat pada pagelaran wayang yang disisipi informasi tentang program pembangunan seperti keluarga berencana (KB), pemilihan umum, dan sebagainya.Yang terakhir, meski semakin jarang, wayang masih tetap menjadi media hiburan.
Paragraf di atas menjelaskan manfaat dari wayang dalam kehidupan. Oleh karena itu, paragraf di atas merupakan deskripsi manfaat dari teks berjudul "Wayang".
2. Kaidah Kebahasaan Teks Laporan Hasil Observasi
Dalam teks laporan hasil observasi, terdapat ciri-ciri kebahasaan yang menjadi ciri khas teks tersebut, seperti:
a. Nomina/Kata Benda
Nomina atau kata benda digunakan untuk menyebut objek utama dalam teks laporan hasil observasi, misal: 𝙗𝙪𝙠𝙪, 𝙜𝙪𝙣𝙪𝙣𝙜, 𝙗𝙪𝙣𝙜𝙖, 𝙠𝙚𝙧𝙗𝙖𝙪, 𝙠𝙪𝙘𝙞𝙣𝙜.
b. Verba/Kata Kerja
1. Verba material digunakan untuk menunjukkan tindakan suatu objek yang terlihat nyata, misal: 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙘𝙖, 𝙢𝙚𝙢𝙪𝙠𝙪𝙡, 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣𝙙𝙖𝙧𝙖𝙞, 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙞𝙧𝙖𝙢𝙞.
2. Kopula merupakan verba yang menyatakan hubungan definisi, seperti: 𝙢𝙚𝙧𝙪𝙥𝙖𝙠𝙖𝙣, 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝, 𝙮𝙖𝙞𝙩𝙪, dan 𝙮𝙖𝙠𝙣𝙞.
3. Verba pengelompokan digunakan untuk mengelompokkan objek dalam satuan-satuan tertentu, misalnya: 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙖𝙜𝙞, 𝙩𝙚𝙧𝙙𝙞𝙧 𝙖𝙩𝙖𝙨, atau 𝙩𝙚𝙧𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠.
4. Verba keadaan merupakan keadaan yang digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan, seperti 𝙢𝙚𝙢𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖𝙞, 𝙗𝙚𝙧𝙝𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣, dan 𝙗𝙚𝙧𝙜𝙚𝙧𝙖𝙠.
c. Afiksasi/Pengimbuhan
d. Kalimat Definisi dan Kalimat Deskripsi
e. Kalimat Simplek (Sederhana) dan Kalimat Kompleks (Majemuk)
Perhatikan contoh teks berikut ini!
Vegetasi Pantai
Vegetasi pantai atau hutan pantai merupakan tutupan vegetasi yang tumbuh dan berkembang di pantai berpasir di atas garis pasang tertinggi wilayah tropis. Kondisi hutan pantai umumnya terbuka, berpasir, dengan ketinggian vegetasi rendah, dan bersemak. Hutan pantai tumbuh pada kondisi pasir yang kering, umumnya terhindar dari pasang air laut. Hutan pantai disebut juga vegetasi litoral yang berkembang di wilayah pasang-surut pesisir berperairan masin dangkal dengan substrat air atau karang.
Ekosistem hutan pantai didominasi oleh lamun dan ganggang laut. Berbeda dengan kondisi pantai kering, terdapat terna (herbal) yang didominasi oleh Ipomea pes-caprae yang bercampur dengan tumbuhan merayap lainnya seperti Canavallia maritima dan Vigna Marina. Di hutan pantai terdapat pula rumput Ischaemum multicum dan Spinifex littoreus serta teki-tekian Cyperus pedunculatus.
Hutan pantai digunakan sebagai tempat saltick oleh berbagai spesies binatang, khususnya mamalia besar. Saltick merupakan aktivitas binatang memperoleh garam mineral untuk memelihara keseimbangan fisiologis cairan tubuhnya. Beberapa fauna yang sering tercatat berada di hutan pantai adalah rusa, kelelawar, biawak, dan lutung.
Hutan pantai secara khusus menjadi habitat dan lokasi penularan penyu. Di Jawa dan Bali misalnya, tercatat ada tiga jenis spesies penyu yang secara teratur berkunjung ke hutan pantai untuk bertelur. Spesies penyu trsebut di antaranya penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu belimbing (Dermochelys ciracea). Satwa lainnya yang mudah dijumpai adalah berbagai spesies burung, seperti elang laut perut putih dan elang bondol. Tutupan hutan yang relatif terbuka juga memudahkan kita mengamati burung air yang berkunjung, seperti bangau, cangak, kuntul, dan bebek. Beberapa spesies burung laut, juga dapat ditemukan dalam kelompok besar.
Pada paragraf pertama terdapat nomina, yaitu pasir, air dan karang. Sedangkan verba, seperti tumbuh, berkembang, terbuka, berpasir, terhindar, dan berperairan. Kata-kata ini telah mengalami afiksasi. Kata berkembang mendapat imbuhan ber-. Sedangkan kalimat definisi dapat kita temukan pada kalimat pertama paragraf pertama, yaitu "Vegetasi pantai atau hutan pantai merupakan tutupan vegetasi yang tumbuh dan berkembang di pantai berpasir di atas garis pasang tertinggi wilayah tropis."
Penelitian Kualitatif
1. Pengertian Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah pendekatan ilmiah yang digunakan untuk memahami makna, realitas sosial, a...
-
1. Pengertian Karya Tulis Ilmiah Karya tulis ilmiah adalah tulisan yang disusun secara sistematis berdasarkan hasil pemikiran, kajian pus...
-
1. Pengertian Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah pendekatan ilmiah yang digunakan untuk memahami makna, realitas sosial, a...
-
A. Definisi Cerpen dan Antologi Cerpen 1. Definisi Cerpen dan Antologi Cerpen Cerpen meupakan akronim dari cerita pendek. Dalam Kamus...