Rabu, 31 Agustus 2022

Hasa


Pada saat jam pelajaran ketujuh setelah isoma akan segera dimulai, tepatnya pukul 12.45 aku segera bergegas ke sekolah. Terlihat pemandangan yang berbeda di jalanan menuju sekolah. Banyak pak tukang yang sedang bekerja tanpa kenal lelah dibawah teriknya mentari “Assalamualaikum Pak, permisi,” ucapku ketika melewati salah satu pak tukang yang terlihat sudah cukup berumur dan beliau menjawab salamku dan tersenyum, aku pun tersenyum dan berkata “Semangat, pak !” Aku sangat bahagia ketika melihat orang tersenyum. Setelah itu aku melanjutkan perjalananku menuju sekolah. Aku mulai menaiki anak tangga satu demi satu untuk menuju kelasku XI MIA 2.

Terlihat sepasang sepatu berwarna hitam di rak sepatu di depan kelas dan seperti yang kuduga pasti Haidar, dia adalah sahabatku, aku menganggapnya seperti abangku sendiri. Saat aku memasuki kelas lantunan ayat-ayat al qur’an yang dia baca langsung bergema indah ditelingaku. Dia tidak menyadari kedatanganku. Mataku tertuju pada Haidar yang sedang duduk di kursinya. Di tangannya terdapat al qur’an kecil berwarna hitam. Ia kini sedang membaca surat al isro’, aku memperhatikannya dalam diam, tidak ingin mengganggunya.

Tubuhku seketika membeku, hatiku berdesir sakit saat tiba-tiba bacaan al qur’an Haidar terdengar gamang. Suara yang sebelumnya terdengar tegas berubah menjadi lirih. Haidar menangis, dia menutup wajahnya dengan al qur’an. Bacaannya belum selesai. Haidar berusaha menghentikan tangisnya. Dia kembali berusaha menyelesaikan bacaan surah al isro’nya, namun gagal. Dia semakin menangis (dia masih belum sadar kalau aku berada tepat di bangku kedua di belakangnya). Tidak sanggup melihat Haidar yang terus menangis, aku pergi keluar dengan perlahan. Untuk pertama kalinya aku melihat Haidar seperti itu, biasanya dia selalu tersenyum, dan pandai menyembunyikan perasaan sedihnya. Apa yang membuat Haidar menangis ? sebenarnya apa yang terjadi ?

Saat bel pulang telah berbunyi. Afzam (sahabat Haidar) memanggilku “Syaikhah, tunggu !” “Kenapa Zam ?” jawabku, dan setelah itu Afzam menceritakanku tentang masalah yang sedang dialami Haidar dan dia memintaku untuk membantunya mengembalikan semangat Haidar lagi. Malam harinya aku menulis sebuah surat diatas kasur lembut kesayanganku.

Assalamualaikum Akhi !

Jangan nangis lagi kayak kemaren. Akhi kenapa ? ada masalah ? cerita akhi ! ana sama Afzam sedih ngeliat akhi kayak gini, bingung mau ngelakuin apa, karena nggak semua rasa dan ekspresi harus selalu di sembunyikan akhi. Nggak bisa jadi orang munafik terus-menerus, nggak mesti selalu jadi orang yang bermuka dua terus-menerus. Akhi disini nggak sendiri , akhi punya Afzam, Nafisa, ana, dan yang lain. Jangan nyakitin diri dengan diem dan mendem. Karena sama aja itu nyakitin orang yang peduli sama akhi.

 

Pagi ini aku berangkat lebih pagi dari biasanya, dan saat aku sampai di kelas tas Haidar sudah ada di tempat duduknya, aku memasukkan surat yang telah aku tulis semalam ke dalam tasnya. Setelah beberapa hari Haidar membalas suratku.

Assalamualaikum Adek !

Makasih suratnya, makasih banyak udah peduliin ana. Tapi emang ana kepengennya kayak gini, nggak cerita ke siapa-siapa. Ana nggakpapa kok Dek, anti sama Afzam nggak perlu khawatirin ana. Ana nggak mau nanti kalo ana cerita, malah jadi beban buat anti dan Afzam, ana nggak mau anti dan Afzam sedih dan sakit gara-gara ana. Sekali lagi makasih banyak. Selow ana nggakpapa kok Dek. Ana kuat karena anti dan Afzam. Tetep jadi adek ana ya Kah!  

 

Saat aku menerima balasan surat ini dari Haidar, jantungku terasa seperti dihujani oleh milyaran kupu-kupu. Aku terkejut karena sedetik pun aku tidak pernah berharap dia membalasnya. Aku sangat bahagia dan membacanya berulang kali, aku pun selalu membawanya kamana pun aku pergi dan masih menyimpannya sampai detik ini.

***

Udara pagi ini terasa lebih dingin dari biasanya karena semalam rintik hujan baru saja mengunjungi bumi. Aku melangkahkan kakiku menuju sekolah dengan iringan senyuman mentari dan nyanyian burung-burung kecil yang merdu. Tepat pada pukul 07.00 bel sekolah pun berbunyi dan itu berarti jam pertama untuk hari ini akan segera dimulai, aku segera bergegas munuju kelas. Detik demi detik telah ku hitung dan akhirnya saat yang dinanti oleh para siswa telah tiba, bel istirahat berbunyi. Aku langsung menarik tangan  Aisyah dan pergi menuju kantin.

Ketika kami hampir tiba di depan pintu kantin aku secara tiba-tiba melepaskan genggamanku dari Aisyah. Aisyah menatapku heran, dan dia mengikuti arah pandanganku. Pandanganku terpaku pada dua orang yang sedang berdiri di dekat meja kantin. Disana ada sepasang remaja sedang bercanda dan tertawa bersama. Remaja laki-laki itu memberikan sari roti dorayaki coklat kepada remaja perempuan yang bersamanya, aku menggigit bibir bawahku dan sejak saat itu aku tidak suka sari roti dorayaki. Aisyah dapat melihat raut sedih di wajahku. Namun dalam sesaat, raut sedih itu cepat-cepat ku ganti dengan raut gembira. Aku menarik tangan Aisyah untuk segera masuk ke kantin, Aisyah tersenyum miris menatapku, saat aku tersenyum kepada dua orang remaja itu Haidar dan Nafisa. “Kenapa sih berlagak sok kuat gitu Ikah ?” tanya Aisyah lirih. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.

Siang ini Haidar datang ke mejaku dan bertanya “Ikah, Nafisa baik ya ? ” rasa sakit kembali muncul setiap kali mendengar nama itu keluar dari mulut Haidar. Namun aku justru memaksakan seulas senyum riang demi menutupi kenyataan bahwa hatiku baru saja kembali terluka. “Iya, akhi” jawabku, “Ana suka Nafisa, gimana ?” masih dengan senyum “Kok nanya ana ?” “Ya, ana cuma pengen tau pendapat anti aja, kan anti deket sama Nafisa terus kita kan juga sahabat, Ikah udah ana anggap kayak adek ana sendiri.” Jujur hati ana sakit Dar. Aku mengangguk dengan senyum semakin lebar. “Nafisa itu orangnya baik, sabar, udah gitu insyaallah salehah, jadi nggak papa kalo akhi suka sama dia, itu wajar.” “Tapi ana takut ini dosa.” “Akhi perasaan itu datangnya dari Allah, itu rahmat, sekarang tinggal akhi nya gimana menyikapinya.” “Oke, kalo itu pendapat Ikah, makasi banyak.” “Iya, ana balik duluan ya akhi, Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam Kah, sekali lagi makasih.”

Aku langsung pergi dan mempercepat langkahku menuju asrama, Jantungku berdesir begitu kuat, rasa sakit yang menghantamku membuat dadaku sesak, aku langsung pergi ke kamar Aisyah dan memeluknya dengan erat, Butiran-butiran air mataku tidak bisa kutahan lagi. “Ikah ? kenapa ?” tanya Aisyah, namun bibirku tidak sanggup lagi untuk mengucapkan sepatah kata pun. Aku mempererat pelukanku kepada Aisyah. “Udah jangan nangis lagi, Kah. Berhenti menggali luka sendiri. Sekarang kita fokus sama tujuan awal kita disini, inget orang tua kita. Jangan sampai kita ngebiarin diri kita diatur sama hati kita, tapi kita yang harusnya ngendaliin hati kita. Kan anti pernah bilang Muslimah tangguh nggak boleh baper!” Aisyah adalah sahabat terbaikku, tolong jaga persahabatan kami agar terus bertahan sampai jannahMu Ya Allah.

***

Tepat pukul 02.00 alarm ku berbunyi dan aku langsung pergi ke kamar mandi untuk berwudhu’ dan melaksakan sholat tahajjud, aku bercerita kepada Allah. Ya Allah, ana pengen cinta ana seindah kisah Fatimah. Yang tidak mengumbar cintanya. Fatimah menyimpan cinta itu dalam diam. Hanya Engkau yang Fatimah jadikan tempat untuk berkeluh kesah tentang cintanya. Hingga akhirnya Engkau mempersatukannya dengan Ali. Ana pengen mendapatkan cinta suci seperti itu. Ana memang tidak sesalehah Fatimah yang dengan beraninya membela sang ayahanda dalam menyebarkan agamaMu. Namun, ana berharap Engkau mengirimkan ana, seseorang yang memiliki sifat seperti Sayyidina Ali, pada waktunya nanti.

Hari ini adalah langkah awal untuk ku memulai kembali semuanya, meluruskan niat, dan menata serta menjaga hatiku. “Syaikhah ! tunggu ana.” Aisyah berlari mengejarku “Kenapa sih Ai?” “Kebiasaannya ninggalin ana mulu,” ucapnya dengan nafas yang terengah-engah “Ya maaf Ai, anti sih lama banget.” “Kan..” “Udah-udah berhenti masih pagi ana males debat. Iya ana yang salah.” “Nah, itu bener. O ya kuat kan Kah entar di kelas ketemu Haidar sama Nafisa ?” “Selow Ai, ana kan strong!” sebenarnya ana ragu Ai tapi insyaallah ana kuat, tenang ada Allah.

“Ikah, ana pergi dulu ya, ana lupa kalo hari ini giliran ana piket ! semangat !” ucap Aisyah sambil berlari menuju kelas. Aku pun segera menuju kelas menyusul Aisyah yang sudah lari duluan, namun langkah ku terhenti saat suara Haidar memanggil namaku. “Syaikhah !” “Iya, kenapa akhi ?” “Jadi gini Kah kata Afzam, Nafisa nggak masuk sekolah, katanya dia sakit, anti tau nggak dia sakit apa ? ” Lagi-lagi jantungku terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Luka yang sudah berusaha keras ku jahit dirobek dengan mudahnya oleh perkataan Haidar. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi namun harus ku paksakan untuk tetap tegar. “Maaf akhi ana kurang tau.” Dar ana udah nggak kuat lagi nahan rasa sakit yang berkali-kali dihujankan ke ana. Setelah itu aku langsung berlari sambil menangis meninggalkan Haidar dan dia pun kebingungan melihatku.

Saat jam istirahat Haidar datang ke bangku ku, “Ikah, maafin ana, kenapa anti tadi ninggalin ana sambil nangis ?” Ucap Haidar. Namun, aku hanya diam, dan tidak memperdulikannya. “Ikah kenapa nggak ngasi tau ana, kalo anti kayak gini, gimana ana bisa ngerti.” “Akhi, hati perempuan itu kayak air. Terlalu sulit buat digenggam. Untuk tau akhi harus berani menyelam, cari apa yang paling dia inginkan dan apa yang nggak dia sukai. Disana semua disimpan. Karena nggak semua perempuan mau numpahkan masalah mereka, sesekali mereka bakalan simpan sendiri di dasar terdalam. Dan saat itu terjadi, akhi harus menyelam kedalamnya buat nyari dan ngebuang beban itu. Assalamualaikum.” Ucapku dengan nada tegas, lalu langsung pergi dari kelas. Sejak kejadian itu aku jarang berinteraksi lagi dengan Haidar. Kami hanya berbicara jika ada hal-hal penting saja, tentang tugas sekolah, kelas, organisasi, dan hal lainnya yang memang penting dan mengharuskan kami untuk berbicara. Hal ini memang susah, tapi ini harus aku lakukan agar aku bisa cepat melupakannya.

***

Malam ini aku dan Aisyah duduk di depan asrama, aku melihat Haidar yang tengah dijenguk orang tuanya, dan aku merasa sedih karna itu membuatku semakin rindu dengan kedua orang tuaku. Aisyah disampingku, sedang sibuk dengan buku diary silver kesayangannya.   Aku pun mengalihkan pandanganku pada langit,  menatap langit malam dengan taburan bintang-bintang.  “Waktu itu cepet banget ya Ai. 10 tahun lalu ana kayak gini dengan umi dan abi, natap langit dengan taburan bintang. Kemarin juga kita disini berempat. Kalau aja dulu ana itu lebih kuat pasti ana bisa nyelamatin umi sama abi. Kalau aja kemaren ana bisa nahan rasa sakit karena Haidar, mungkin sampai sekarang ana masih bisa ngehitung bintang dengan umi, abi, dia, anti, afzam, berenam.” Aku tidak melanjutkan kalimatku, tenggorokanku tersekat. Sekuat mungkin ku tahan air mata yang akan turun. Di luar dugaan, Aisyah bangkit dari posisinya, lalu telapak tangannya menutupi mataku. Lembut, suara Aisyah terdengar diantara hening malam. “Kalau ngeliat langit malam buat Ikah ngerasa sakit, jangan diliat.” Aisyah menghela nafas sejenak, sebelum kembali berujar. “Ana tau Ikah suka liat langit malam. Tapi, kadang apa yang paling kita cintailah yang melukai paling dalam. Ikah udah cukup kesakitan selama ini, Ikah butuh istirahat.” Kalimat Aisyah membuat tenggorokanku tersekat. Ada gumpalan yang terjebak di kerongkonganku. Aku benci mengakuinya, tetapi Aisyah benar. Sakit selalu menghantam tiap kali mataku jatuh pada langit malam. “Menyimpan rasa sakit sendirian itu bikin capek, tapi lebih capek lagi kalau pura-pura baik-baik saja.” Tepat setelah Aisyah mengucapkan kalimat yang terakhir, setetes air mata luruh dari sudut mataku. Air mata keduaku yang disaksikan orang lain, setelah lebih dari 10 tahun aku menangis sendirian, sejak kepergian ayah dan ibuku ke syurga. Ya Aisyah adalah satu-satu orang yang mengetahui bahwa orang tuaku telah pergi, sejak kepergian mereka bibi dan paman lah yang menemaniku. Malam ini, untuk kali pertama, ada orang yang  mendengarkan kisahku. Mengerti kelelahanku, tetapi tidak lantas memintaku menjadi pribadi yang kokoh. Malam ini, untuk kali pertama, aku membagi lukaku secara utuh. Aku membiarkan seseorang melihat kekalahanku atas masa lalu. Merekam segala bentuk kerapuhanku. Aisyah melakukannya, tanpa kata-kata, hanya diwakilkan oleh air mata.

***

Sore ini aku sudah berjanji dengan Afzam, Haidar, dan Nafisa untuk mengerjakan laporan biologi di sekolah. Saat tiba di sekolah hanya ada Afzam yang tengah duduk di bangku taman. “ Assalamualaikum, Zam Nafisa sama Haidar mana ?” Tanyaku pada Afzam. “Waalaikumsalam, mereka lagi belanja buat keperluan acara OSIS minggu depan, mungkin baliknya masih lama.” “Oh ya udah kalo gitu, kita kerjain aja dulu berdua.” Jawabku “Afwan ya Kah, mungkin kalo ponsel ana nggak lowbatt mungkin anti nggak perlu denger ini.” Mendengar kalimat Afzam aku bingung “Maksudnya ?” Afzam tertawa renyah. “Ikah, ana bisa ngeliat, cara anti natap Haidar itu bukan sebagai sahabat.” Aku tersenyum miris, “Tapi Haidar nggak liat.” “Karena memang kadang semenyedihkan itu saat kita jatuh cinta sama seseorang. Semua orang mungkin bisa sadar, kecuali orang yang kita jatuhi cinta.” “Kadang antum puitis juga ya Zam ?” gumamanku dibalas Afzam dengan senyum manis.

Saat kami mengerjakan laporan, Afzam sempat ragu, tetapi akhirnya memberanikan diri bertanya. “Ikah, anti nggak mau coba nyatain perasaan anti ke Haidar ?” mendengar itu aku terdiam sesaat, menghela napas lelah. “Nggak Zam, ana kan perempuan.” “Kenapa ? Sayyidatina Khodijah perempuan tapi beliau yang lebih dulu menyatakan cintanya kepada Rasululloh.” “Ana nggak bisa seperti Sayyidatina Khodijah yang dengan berani menyatakan cintanya kepada Rasulullah.” “Kenapa ? anti kan perempuan yang tangguh, menurut ana.” tanya Afzam lagi. Aku menoleh, mengembangkan sedikit senyumnya, lantas berujar dengan gamang. “Ana nggak setangguh Sayyidatina Khodijah Zam, kalau ana nyatain perasaan ana, keadaan diantara kami mungkin berubah. Haidar mungkin bakalan jaga jarak, dan ana belum siap untuk kehilangan.” Aku berhenti berujar sebentar, menggantungkan kalimat demi menemukan oksigen bersih untuk melepas sesak. “Saat ini, dia sedang jatuh cinta. Walaupun ana nggak berharap dia bakal ngerasain sakit, tapi sejauh yang ana tau, jatuh cinta selalu berpasangan dengan patah hati. ana nggak mau ketika dia patah hati nanti dia nggak punya siapa pun untuk lari. Ana nggak mau dia sedih sendirian. Maka dari itu, ana ada. Kalaupun ana nggak bisa ngebahagiain dia, ana berharap ana bisa jadi tempat dia lari setiap kali dia jatuh.” Afzam menggigit bibir bawahnya, sedikit perih tiba-tiba menyebar di dadanya. Dia pikir, perasaan sukanya hanya sebatas kagum. Namun, ketika mata cokelat ku meredup, ada gumpalan yang terjebak dalam kerongkongannya. Afzam menyadari kekalahannya atas sebuah bayangan, dan aku bisa melihatnya, tapi aku berpura-pusa biasa saja. “Sekalipun anti cuma jadi sahabat Haidar selamanya ?” ujarnya lagi. Aku terdiam sebelum mengangguk yakin. “Meskipun ana hanya sebatas sahabat buat Haidar, selamanya. Karena cinta itu bukan gini (aku menggenggam tanganku) tapi gini (membuka genggamanku), kalo terlalu kita genggam itu bukan cinta tapi nafsu, cinta itu ikhlas, biarin dia bebas untuk bahagia walaupun bukan kita yang jadi alasan buat dia bahagia. Ikhlasin aja. ” ucapku diiringi senyum. Maafin ana Zam, ana tau perasaan antum ke ana.

***

Tak terasa akhirnya 356 hari telah berlalu, dan tibalah hari dimana kami semua harus berpisah dan pergi untuk mengejar mimpi masing-masing. Aku terdiam di sudut panggung depan pintu kelas menatap teman-temanku, aku bertanya-tanya di dalam hatiku, bisakah kita bertemu lagi ? bagaimana wajah kita nanti ? dan banyak lagi pertanyaan yang berputar di hatiku, sampai tiba-tiba suara seseorang mengejutkanku. “Adek !” Aku selalu menjadi orang pertama yang Haidar cari, kala dia senang ataupun sedih. Matanya berkilat-kilat, ada kebahagiaan yang terpancar jelas di sana.

“Ikah ana udah ngungkapin perasaan ana ke Nafisa !”

Deg

Dalam sedetik aku merasa jantungku berhenti berdetak. Langit seolah runtuh diatas kepalaku. Hancur. Haidar tidak menyadari sepucat apa wajahku, aku berpegangan pada bingkai pintu, berusaha menopang tubuhku sendiri. Ada sesuatu yang diambil paksa dari diriku. Menghantam-hantam dadaku. Merampas seluruh oksigenku. Dan, “sesuatu” tersebut, orang panggil sebagai harapan.   

“Terus..terus kata Nafisa apa bang ?” tanyaku antusias dengan senyuman yang kuukir sebahagia mungkin. “Ternyata perasaan dia ke ana juga sama seperti ana ke dia Kah.” Jawab Haidar dengan wajah yang berseri. “Selamat ya Abang ! semoga bisa sampai Jannah.” “Iya dek, amiin.”

Setelah acara perpisahan selesai, ada suara memanggilku, “Syaikhah, adek.” Ucap orang itu, “Iya Abang.” Jawabku “Ana mau ngomong sesuatu sama Ikah.” “Ya, ngomong aja.” “Ana minta maaf  Dek, kalau ana selama ini ana belum bisa jadi abang ya baik.” “Iya abang, ana juga minta maaf ya !” “Semoga semua mimpi Ikah tercapai ya! pokoknya besok kalo kita ketemu lagi di depan nama anti harus udah ada huruf ‘d’ sama ‘r’ ya Kah. Jaga hafalan anti baik-baik dan jangan pernah berhenti ngafal sampek anti selesain tiga puluh juz.Tetep jaga hati. Kalo ada apa-apa jangan sungkan, Ana uhibbuki fillah. Anti bakanal selamanya jadi adek ana, kita sodara. Dan Ikah selalu ada dalam hati dan doa ana.” Tubuhku membeku, jantungku berdesir kencang, waktu ini terasa terhenti seketika. Butiran-butiran hujan turun membasahi pipiku, aku tidak tau mau berkata apa lagi. “Syaikhah ? kenapa nangis ?” aku hanya menggelengkan kepalaku sambil tersenyum, “Ana nggakpapa akhi, ana bersyukur banget sama Allah karena mengirimkan abang kayak akhi.” Jawabku, butiran-butiran hujan kembali membasahi pipiku dengan deras.

Dalam perjalanan ke kampung halamanku di pulau dewata aku ditemani oleh rasa rindu dan sakit atas apa yang telah terjadi beberapa ribu detik yang lalu. Aku mengambil buku coklat yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi dan mulai menggoresnya dengan tinta warna-warni untuk mewakilkan perasaanku saat ini.

Satu hari di 2021 (perpisahan)

Bolehkah ana bertanya pada waktu, kapan akhi akan menyadari perasaan ana?Bolehkah ana bertanya pada rindu, apa akhi juga merasakannya? ana berjuang sendiri di tengah sepi. Tanpa ada seorang pun yang menyadari, mungkin hanya denyut nadi dan degupan jantung yang mengerti. Ditambah keheningan malam yang selalu menemani. Menunggu di tengah sunyi. Sulit ana mengerti. Kenapa perasaan semacam ini datang menghampiri? Ana cari alasan, tapi tak kunjung mendapatkan jawaban. Ana terus menunggu tanpa kepastian. Menunggu dengan beralaskan luka, bermandikan air mata. Pertanyaan ana hanya satu, kapan akhi peka ?

Alam menjadikan kita sebagai abang dan adek, sebagai sodara, sebagai sahabat. Mungkin menurut akhi ini biasa, tapi menurut ana ini adalah sebuah anugrah yang luar biasa. Akhi tau, nggak ada persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Hanya kata-kata  saja ‘bersahabat’ tapi perasaan nggak. Ana, akhi, Azfam realitanya sebagai bukti dari itu semua. Ana tau tentang akhi dan perasaan akhi. Ana benar-benar sayang akhi. Tapi semakin ana sayang ana semakin sakit dan bimbang dengan perasaan ana, dan benar Allah nggak nempatin ana buat akhi sebagai yang lain, kecuali adik bagi akhi. Karna Allah udah ngirim Nafisa buat akhi. Ana minta maaf karna udah berharap lebih atas perhatian yang akhi kasi. Hati ana udah dibolak-balik dan ana nggak punya kuasa buat ngubah itu dengan sesuka ana, karna ana bukanlah pemilik sebenarnya.

***

             Di sebuah taman di pulau dewata, aku duduk disalah satu kursi taman dengan sebuah buku coklat di tanganku, dan segerombolan pulpen warna-warni, seperti yang selalu dibawa Haidar dulu. Jari jemariku mulai mengukir huruf demi huruf yang ada di hatiku sore ini.

            12 februari 2023 (kedua puluh kalinya tanggal ini terulang)

Setiap tanggal ini muncul ana semakin sakit karena ana semakin mengingat dan merindukan antum Dar. Ana ngebiarin sesuatu yang seharusnya nggak usah ada. Ana ngebiarin itu semua tumbuh. Ana ngebiarin itu semua ngalir. Dan ana selalu berusaha mempertahanin itu semua, tapi waktu yang ana punya menghartarkan ana kepada sesuatu yang berbeda. Ana milih buat mempertahanin sesuatu yang lain, walaupun ana sendiri yang kesakitan. Ana seperti ombak yang terlihat kuat, namun rapuh saat bertemu tepian. Ana jaga perasaan orang lain sampai ana lupa perasaan ana sendiri. Tapi ana tau dibalik semua itu ada sesuatu istimewa yang nggak pernah kita bayangkan sedang menunggu.

Ana nggak bisa nyalahin apapun. Karena hidup adalah perjalanan, dan dalam perjalanan kita pasti akan sering meninggalkan atau ditinggal dan ana nggak mau keduanya, tapi ia hanya bisa terus berputar, perjalan, mempertemukan, dan memisahkan. Dan ana hanya bisa berharap untuk dipertemukan kembali, walau persentasenya hanya sedikit. Menunggu tapi tak ditunggu. Bertahan tapi tak ditahan, itulah yang ana rasakan sampai detik ini.

 

 

 

 

Kamis, 11 Agustus 2022

Andai


Hari ini Wisnu pulang. Ia kembali ke desanya. Ia sudah tak tahu lagi kemana Ia akan pergi. Ia hanya mengikuti kata hatinya untuk belajar agama kepada Om Amin di desa. Wisnu duduk di mobil dengan pikiran yang kabur, Ia teringat bahwa dulu Ia pernah bersikap tak baik pada Mama. Otaknya mengulang kembali momen itu, saat usianya baru genap 16 tahun. Tangannya yang keras menghantam meja.

Pakk..

“Ma, aku pengen beli IPhone terbaru!” bentak Wisnu

“Harganya mahal Wisnu. Mama lagi gak punya uang! Nanti aja ya, kalau hasil jualan Mama banyak untungnya. Wisnu banyakin doa. Mama ke pasar dulu” kata Mama lembut.

Wisnu sebenarnya sadar, Ia sudah terlalu banyak meminta dan Mama selalu memenuhinya. Tapi rasa keinginannya begitu besar dan kokoh. Tak ada satupun anggota keluarga yang berani menentangnya.

Sepulang dari pasar, Mama langsung menemui Wisnu di kamar.

“Wisnu!” panggil Mama sembari mengetuk pintu

“Apa Ma?” suara Wisnu menggelegar. Ia berjalan dengan malas kearah pintu. Setelah pintu terbuka, betapa terkejutnya Wisnu melihat kotak berisi IPhone yang ia inginkan.

“Alhamdulillah tadi ada rezeki lebih!” kata Mama menyodorkan kotak itu. Wisnu mengambilnya dengan antusias.

“Yeeaaayy!IPhone baruuuu. Hahahayy!” ungkapnya sambil menutup pintu. Mama mematung. Tak ada rasa terima kasih yang keluar dari bibir Wisnu. Padahal hari ini Mama tak begitu beruntung. Ia terpaksa menjual kalung emas pemberian Papa untuk membeli IPhone.

Entahlah apa yang membuat  Mama selalu sabar menghadapi anaknya yang satu itu. Segala keinginan Wisnu ia sanggupi, kecuali saat itu.

“Ma, aku capek tiap hari jalan kaki mulu! Aku pengen motor!”kata Wisnu

“Iya Wisnu, tapi nanti kalau uangnya sudah cukup ya! Kamu tahu sendiri kita bukan orang kaya. Buat makan sehari-hari aja setengah mati. Mama harap kamu sabar. Untuk sementara ini kamu naik ojek aja kalau capek.” Ucap Mama.

“Aku gak mau Ma! Aku maunya sekarang! Temen-temen aku udah punya motor semua. Masa aku enggak sih?” suara Wisnu mulai meninggi.

“Iya kalau kalau kamu capek kan kamu bisa nebeng sama temen kamu! Ya?” kata Mama

“Gak! Pokoknya aku mau motor! Kalau gak, aku pergi dari rumah ini!” Wisnu bersikeras kemudian pergi.

Mama selalu berharap Wisnu sadar suatu saat. Ia ingin Wisnu menjadi anak yang sholeh. Ia ingin Wisnu menjadi seorang hafidz Qur’an. Mama tak ingin terburu-buru mengambil keputusan untuk menuruti keinginan Wisnu kali ini.

 

Siang itu Wisnu kembali dengan pipi lebam dan wajah yang masam. Ia langsung menemui Mama.

“Mana motorku ma?”tanyanya

“Kamu baru pulang setelah hilang dua hari dan sekarang masih mikirin motor? Lihat mukamu nak! Apa yang udah kamu lakuin?”tanya Mama

“Itu gak penting, Ma! Mana motorku?” tanyanya lagi

“Sana! Cuci muka dan Wudu! Habis itu buka Al-Quran!” kata Mama. Suara terdengar tegas

“Ogah lah! Ngapain aku baca yang begituan? Emang isinnya apa sih! Males banget!” kata Wisnu

“Yaudah sih buka aja!” Mama setengah memaksa

“Males! Udahlah ngapain aku di rumah. Mendingan seneng-seneng bareng temen!”kata Wisnu kemudian pergi.

Mama tak menyusulnya. Wisnu kembali menghilang bersama Rizal, adiknya. Tapi kali ini tak hanya sehari dua hari. Teman Wisnu yang bernama Kaka mengabari Mama bahwa Wisnu pergi ke kota. Ia bilang Wisnu baik-baik saja. Wisnu juga sering mengirimkan uang dengan jumlah cukup besar. Mama menggunakan uang itu untuk membangun rumah.

Sementara itu keadaan sebenarnya.

“Ayo, Kak. Kita pergi dari sini! Aku pengen berhenti!” Rizal memohon

 “Loe gimana sih? Mama aja gak pernah komplen. Justru Mama seneng setiap bulan kita kirimin uang yang banyak.”

“Tapi kan Mama gak tau kalau itu uang hasil jual beli narkoba!”

“Ya gue mah bodo amat ya. Tapi gue sering kok ngirim kabar ke Mama. Gue udah berubah. Gue nyaman disini!”

“Tapi kakak bohong ke Mama. Kakak gak berubah!” bentak Rizal

“Udah deh, loe kalau mau pergi ya pergi aja sana! Hus! Sana!” usir Wisnu. Ia mengeluarkan botol kecil berisi cairan dari saku dan meminumnya.

Perdebatan mereka membuat Wisnu terpisah cukup jauh dari adiknya. Tapi ia tahu dimana Rizal berada. Kabar burung mengatakan kalau sekarang adiknya telah hijrah. Rizal tak sama seperti yang dulu dan karena itulah ia enggan menemui adiknya.

Sebulan berlalu. Wisnu kembali ke rumahnya di desa. Tapi, yang ia temui kemudian hanyalah kepulan debu dan bongkahan kayu hangus.

“Wisnu!” panggil seseorang. Wisnu menoleh. “Akhirnya kamu pulang juga, Nak!”

“Ini beneran rumah gue kan? Nyokap gue mana?”tanya Wisnu panik

“Aku harap kamu tabah, Wisnu. Tepat sepekan yang lalu rumah ini terbakar. Itu terjadi di malam hari. Kami tak dapat berbuat apapun. Ibu dan kedua saudaramu tidak dapat diselamatkan!”

Bak belati menghujam, tubuh Wisnu seketika melemas. Ia menangis. Ini pasti karena segala barang haram itu. Pikirnya. Andai ia mengikuti perkataan adiknya. Andai ia pulang lebih cepat. Andai.. .Ia hanya bisa mengandai. Yang dikatakan adiknya itu benar. Sekarang ia harus kembali ke kota ia harus menemui Rizal. Hanya dia keluarganya yang tersisa.

Wisnu tiba menjelang malam, ia langsung pergi ke tempat dimana adiknya berada. Sekujur tubuh Wisnu dipenuhi keringat dingin begitu melihat bendera kuning tertancap.

“Tadi siang, beberapa orang berbadan kekar datang kemari. Hanya sebentar. Aku tak dapat menanyakan apapun karena yang kudapati berikutnya Rizal sudah tak bernyawa!” pemilik kos tempat Rizal tinggal berbaik hati menjelaskan.

“Aaaaaaaggghhh! Kenapa semua jadi gini!? Sekarang gue udah gak punya siapa-siapa lagi! Maafin gue, Zal! Maafin aku Ma, Pa!” tangis Wisnu menyesakkan dada semua orang disekelilingnya.

“Sabar nak Wisnu. Ini ujian. Inget Allah, nak!” pemilik kos menasehati. Jantung Wisnu berdetak lebih kencang. Ia ingat kata itu. Allah. Wisnu mengejanya dalam hati. Ya, dulu Papa pernah mengajarkan Wisnu tentang-Nya sebelum Papa benar-benar pergi.

Tiiiitt… tiiiit…

Suara klakson membuyarkan lamunan Wisnu. Ia melihat sekeliling. Tujuannya sudah tampak dekat.

Wisnu tiba di rumah Om Amin pukul 6 tepat. Paman langsung mengajaknya bicara empat mata.

“Ini Al-Qur’an peninggalan Mamamu. Dia pengen banget kamu jadi penghafal Al-Qur’an. Dulu dia cerita kalau kamu sama sekali gak pernah mau disuruh buka Al-Qur’an! Bener?” tanya Om Amin

“I..iya Om! Tapi aku janji gak bakal gitu lagi, Om! Aku pengen berubah Om! Aku sadar aku salah! Aku pengen jadi hafidz Qur’an, Om!” Wisnu memelas

“Yaudah kalau gitu sana wudhu! Habis itu baru kamu boleh pegang AlQur’an ini!” perintah Om Amin.

Wisnu menuruti perkataan Om Amin. Ia kembali beberapa menit kemudian. Ia duduk kemudian mulai membuka Al-Quran itu. Wisnu sangat terkejut ketika menemukan sebuah kunci motor terselip didalam Al-Qur’an itu. Inikah alasan Mama menyuruhnya membuka Al-Qur’an. Ia termenung. Setetes air jatuh di pipinya. Ia menyesal.

“Maafkan aku, Ma!” bisiknya dalam hati

Andai ia dulu mau sebentar saja membuka Al-Qur’an itu., keinginannya pasti terpenuhi. Andai ia dulu mau sebentar saja membuka Al-Qur’an, tak mungkin ia terjerumus dalam pergaulan yang salah. Andai ia dulu mau sebentar saja membuka Al-Qur’an, mungkin keluarganya masih hidup saat ini. Andai ia dulu mau sebentar saja membuka Al-Qur’an, mungkin semua akan lebih indah.

 

 

 

 

Roda Kehidupan


Jihan itulah namanya, dia adalah anak ke dua dari tiga bersaudara. Dia anak dari keluarga sederhana yang diciptakan oleh Allah swt dengan banyak kelebihan. Jihan sekarang duduk di kelas XI. Jihan adalah salah satu siswa istimewa disekolahnya karena telah menyumbangkan banyak piala dan mewujudkan visi misi sekolahnya. Jihan selalu mengikuti lomba-lomba bergengsi sampai tingkat nasional dan selalu membuahkan hasil yang memuaskan. Selain itu Jihan juga selalu mendapatkan rangking di kelas dan juara umum setiap tahunnya.

Jihan bercita-cita ingin mendapatkan beasiswa sekolah di luar negeri agar dapat mengurangi beban orang tuanya. Dia berpikir dengan mendapatkan beasiswa, orang tuanya tidak lagi berhutang kesana kemari ditetangga untuk biaya sekolahnya. Dia sangat menghormati dan mentaati perintah orang tuanya. Selama hidupnya dia tidak pernah melawan dan menyakiti hati orang tuanya. Karena itulah, orang tuanya sangat sayang kepadanya dan tidak masalah dengan apa-apa yang ia inginkan.

Setiap hari dia selalu dimanjakan, dari bangun tidur sampai tidur lagi. Sebelum berangkat sekolah Jihan sudah di suguhkan dengan berbagai makanan di meja makan, disiapkan segala perlengkapan sekolah tanpa terlupa satu pun. Dia merasa seperti putri dirumah itu.

“ Nakkk… bangun sholat tahajud dulu “ Suara itu membuat Jihan kaget lalu membuka mata, ternyata ada ibunya duduk disampingnya sambil mengelus-ngelus kepala membangunkannya untuk sholat sepertiga malam.

“ Hmmm… nanti dulu Bu, Jihan masih ngantuk “ gumam Jihan

“ Ayo anak ibu tidak boleh malas nanti keburu subuh lo “ balas Ibunya sambil menggoyang-goyangkan tangan Jihan.

“ Tunggu lima menit lagi, Bu” ucap Jihan sambil membuka matanya lebar-lebar.

“ Udah lupa ya… kata ustadz di pengajian saat itu, kalau ada orang bangun untuk beribadah di sepertiga malam maka akan dibangunkan rumah di surga. Apa anak Ibu tidak mau di bangunkan rumah di surga?“ ucap ibunya mengingatkan Jihan.

“ Iya, Bu” Jawab Jihan sambil pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu lalu mendirikan sholat sepertiga malam.

Itulah yang dilakukan ibunya setiap hari, membangunkan Jihan sampai benar-benar bangun dan mau menunaikan sholat yang di sunahkan oleh Allah. Meskipun begitu dia tidak pernah mengeluh didepan anak-anaknya, ia melakukan itu tulus agar anak-anaknya menjadi anak yang sholehah. Orang tuanya tidak pernah toleransi kalau dalam masalah ibadah, mereka sangat tegas kalau anak-anaknya belum menunaikan kewajibannya kepada Allah, apapun itu alasannya mereka tidak akan pernah setuju dan tidak mau mendengarkannya. Karena mereka selalu bilang bahwa “ kalian boleh tidak mentaati perintah kami, tapi kalian harus mentaati perintah Allah. Karena Dia-lah satu-satu-Nya tempat kalian meminta pertolongan dan ampunan kelak di akhirat “Itulah prinsip yang dipegang oleh orang tuanya.

Setelah selesai sholat tahajjud, sambil menunggu sholat shubuh Jihan membaca Al-Quran sambil melanjutkan hafalannya yang sudah berjalan 15 juz sejak dia duduk di kelas 6 SD. Kemudian, setelah sholat shubuh Jihan mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Setelah beberapa lama di depan cermin sambil menghayal, terdengar suara yang membuka pintu kamarnya.

“ Ceklekkk…” Jihan langsung menghadap ke arah pintu kamarnya,ternyata itu adiknya.

“ Kakak sudah cantik kok, lamanya berhias di depan cermin“ ejek sang adik

“Apa-apaan sih, kakak hanya kacaan doang juga” balas Jihan sambil membereskan barang-barangnya

“Ayo, cepat keluar Ayah sama Ibu sudah menunggu di meja makan” ucap sang Adik

“Oke oke… kamu duluan saja, kakak mau beresin barang-barang ini dulu baru nyusul kesana” balas Jihan

“Jangan lama-lama ya” jawab sang adik sambil pergi meninggalkan kamar Jihan.

Tak  berapa lama Jihan datang ke ruang makan sambil membawa tasnya.

“Ayo cepat sarapan nanti kamu telat lagi ke sekolahnya” ucap ayahnya.

            Kemudian Jihan duduk disamping adiknya, ia hanya mengambil roti yang berselai coklat sebagai pengisi perutnya karena ia tidak bisa sarapan dengan makan yang berat. Lalu ia meminum segelas susu dan langsung pamit di kedua orang tuanya.

Sudah berapa lama Jihan dijalan raya yang ramai penuh dengan bau asap kendaraan bermotor untuk menunggu angkutan umum yang tidak ada lewat satupun. Namun ia tetap sabar berdiri menunggu ditengah terik matahari yang sudah menyengat kulit itu. Akhirnya setelah beberapa lama angkutan umum yang menuju sekolah Jihan berhenti tepat didepannya. Tanpa menunggu lama-lama ia langsung naik kedalam angkot yang sudah dipenuhi oleh beberapa penumpang.

Setelah sampai disekolah ternyata gerbang sudah ditutup, lalu ia memohon-mohon ke security supaya di izinkan masuk. Dengan berbagai alasan akhirnya ia di izinkan masuk namun dengan syarat harus berjemur dibawah tiang bendera sampai keluar bermain.

Saat menuju ke lapangan untuk menjalankan hukuman, Jihan melihat anak–anak cewek bergerombolan di tengah lapangan. Didalam hatinya ia berpikir “mungkin sedang ada tawuran”, namun ternyata ketika Jihan mendekati gerombolan itu dia melihat ada seorang laki-laki yang sedang menjalani hukuman juga dan tak di sangka-sangka ternyata itu adalah Fadlan kakak kelasnya yang tampan, cool dan pintar.Ia salah satu cowok idaman yang banyak di sukai oleh cewek-cewek cantik famous di sekolahnya.

Ketika Jihan ingin mendekati Fadlan, tiba-tiba suara teriakan yang tegas terdengar dari belakangnya.

“Hei apa yang kalian lakukan, ini sudah jam pelajaran, kenapa kalian masih bergerombolan disana kaya mau demo saja? “ternyata itu pak Hartono, guru terseram di sekolahnya.

“Kami lagi ngelihatin cowok ganteng, pak” cetus salah satu dari mereka.

“Ooo… kalian tidak mau pergi ya atau kalian mau di hukum juga sama seperti Fadlan dan Jihan “ ucap pak Hartono lembut.

“Tidak mau Pakkk…” jawab mereka serentak sambil lari meninggalkan lapangan.

Akhirnya, semua gubar dari lapangan dan menyisakan Jihan dan Fadlan yang akan menjalani hukumannya. Tidak ada sedikit pun percakapan yang terjadi diantara mereka berdua. Mereka sama-sama diam menikmati hukuman.

“Kenapa kakak bisa telat, tidak seperti biasanya?“ tanya Jihan tiba-tiba.  Namun tidak ada respon sedikit pun dari Fadlan, dia hanya diam dengan tatapan kosong.

“ kenapa diam saja?” tanya Jihan sekali lagi.

“Itu bukan urusanmu” ucap Fadlan tegas sambil pergi meninggalkan Jihan sendirian di lapangan.

Saat pulang sekolah Jihan lagi-lagi harus menunggu angkutan umum. Namun tidak ingin pulang terlambat hanya untuk menunggu angkutan umum, akhirnya dia terpaksa jalan kaki. Dia berpikir “mungkin saja nanti di tengah perjalanan ada angkot yang lewat”.

Ketika di tengah perjalanan dia dikejutkan oleh suara orang yang tak dia kenal. Sepertinya orang itu adalah preman jalanan. Orang itu semakin mendekati Jihan sambil menggoda, Jihan merasa takut, badannya kaku dan pucat. Jihan melarikan diri dari orang itu namun tasnya sudah duluan di tarik yang membuat jihan tidak bisa berkutik apa-apa.

Namun, tiba-tiba orang itu merasa kesakitan di bagian lehernya. Ia melepaskan tas Jihan dan langsung terjatuh di atas aspal. Ternyata dilehernya sudah di penuhi darah.

Kamu tidak apa-apa?” tanya seseorang dari belakang preman itu.

Kak Fadlan, jangan bilang kakak yang melakukan ini semua?” ucap Jihan sambil terkejut dengan keberadaan laki-laki itu.

Dia itu preman jalanan yang tidak tau diri, jadi dia pantas mendapatkan ini semua” jawab Fadlan santai.

Tapi tidak gini juga caranya kak” ucap Jihan merasa kasihan.

“Ya sudah, kamu mau ikut saya pulang atau mau ngebantu preman yang sudah menggoda kamu” Tanya Fadlan lirih, sambil naik ke atas motornya.

“Iya sudah, saya mau ikut “ ucap Jihan sambil ikut menaiki motor Fadlan.

Di atas motor tidak ada percakapan diantara mereka, sama seperti saat di tengah lapangan. Mereka hanya diam, Fadlan fokus mengendarai motor dan Jihan sedang memikirkan sesuatu yang kelihatannya penting.

Tidak ada rasa terima kasih sedikit pun nih, sudah dibantu” sindir Fadlan tiba-tiba

Ooo…ya, terima kasih kak sudah menolong Jihan, dan mengantar Jihan  pulang” ucap Jihan gugup. Tak terasa ternyata tiba-tiba saja sudah sampai di depan rumah Jihan.

“ Tidak mau turun nih” ucap Fadlan.

Jihan kaget dan terbengong!!!

“ Tapi dari mana kakak tau rumah saya, Jihan kan belum kasih tau dimana alamatnya “ ucap Jihan penasaran sambil turun dari motor. Namun tidak ada jawaban dari Fadlan, dia malah pergi tanpa pamit.

Didalam kamar Jihan gelisah tak karuan. Dia memikirkan kakak kelasnya yang begitu aneh. 

“ Apa yang terjadi dengan diriku, kenapa aku memikirkan orang yang seperti itu?” Tanya Jihan pada dirinya sendiri. Namun tiba-tiba dia disadarkan dari lamunannya oleh teriakan ibunya dari dapur.

“ Jihan udah sholat Dzuhur” Tanya ibunya.

“ Iya sudah,Bu” jawab Jihan.

“ Kalau begitu minta tolong belikan ibu penyedap rasa di warung depan” ucap ibunya.

“ Iya Bu, tunggu bentar Jihan mau ganti baju dulu “ jawab Jihan.

Di warung banyak ibu-ibu yang sedang berbincang-bincang, menceritakan apa mau mereka masak hari ini, bagaimana kesaharian mereka yang mengurus keluarga sambil bekerja.

Ketika Jihan datang mendekati warung itu, ibu-ibu itu saling bertanya satu sama lain. “Siapa itu, tumben kelihatan”. Pertanyaan itu memang wajar ditanyakan karena Jihan jarang keluar rumah, waktunya hanya dihabiskan dirumah, sekolah dan les.

Dan salah satu dari mereka menjawab

 “ Itu loh anak angkatnya pak Rizal dan Bu Endang  tetangga yang di sebelah rumah saya itu”. Ternyata ibu yang menjawab itu adalah tentangganya Jihan.

Jihan merasa tercengang dan kaget mendengar perkataan ibu itu. Saat perjalanan pulang Jihan terus terbayang oleh kata-kata itu, air mata mengalir membasahi pipinya. Jihan tidak bisa menerima semua ini, tiba-tiba badannya lemas tak berdaya. Jihan jatuh pingsan di gang perumahan menuju rumahnya.

Saat membuka mata Jihan kaget karena dia tidak mengenal tempat itu. Jihan melupakan apa telah terjadi padanya, hanya bayangan kata-kata itu saja yang melintas di kepalanya. Dia lagi-lagi menangis tak menerima semua itu. Tiba-tiba saja ada seorang perempuan yang membuka pintu kamar tempat Jihan istirahat, dia merasa kaget.

“ Alhamdulillah kamu sudah sadar “ ucap orang itu

“ Siapa kamu “ Tanya jihan ketakutan.

“ Kenalin aku Arni, aku yang menolong kamu saat pingsan di jalan tadi“ ucap orang itu.

“ Terima kasih sudah menolong saya “ ucap Jihan.

Kemudian, Jihan izin pulang kepada Arni karena dia sudah merasa lebih baikan, Jihan takut ibunya khawatir karena dia tidak pulang-pulang.

Setelah sampai rumah, Jihan mencari ibunya untuk menanyakan peristiwa yang terjadi di warung tadi, tapi tidak ia temukan diruang manapun. Namun Jihan ingat kalau ibunya bilang hari ini mereka akan menjemput kak Zila di bandara, kakak satu-satunya Jihan. Sudah dua tahun kak Zila tidak pernah menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya. Karena dia menyelesaiakan S-2 di Negeri kanguru, Australia dan sekarang dia sudah memegang predikat magisternya. Karena itulah dia balik ke Indonesia.

Jihan merasakan kepalanya kembali pusing, lalu ia buru-buru pergi ke kamar untuk mengistirahatkan badannya, supaya bisa terlihat lebih sehat besok di depan kakaknya.

Seperti biasanya, Jihan selalu di bangunkan untuk sholat sepertiga malam. Itu sudah menjadi kebiasaan di keluarga Jihan. Namun berbeda dengan biasanya kali ini bukan suara ibunya yang dia dengar membangunkannya, melainkan suara yang sudah ia kangen sejak dua tahun terakhir ini. Jihan langsung membuka mata dan memeluk sang kakak.

“ Jihan kangen sama kakak” ucap jihan sambil memeluk kak Zila keras-keras.

“ Kakak juga kangen sama Jihan, tapi lepas dulu dong pelukannya, kakak jadinya capek napas” ucap kak Zila.

Di ruang keluarga terdengar suara perbincangan yang seru, Jihan keluar kamar untuk ikut bergabung dengan anggota keluarganya yang lain. Tiba-tiba saja Jihan teringat kata-kata ibu diwarung depan kemarin itu. Dia ingin menanyakan itu kepada keluarganya, apakah itu benar atau hanya gosip dari ibu-ibu itu. Namun, keinginannya itu dia urungkan karena ini bukan waktu yang tepat  untuk membicarakan semua itu, lebih baik dia mencari tahu sendiri kebenarannya dulu.

            Setelah bertahun-tahun sekolah akhirnya Jihan lulus dengan nilai terbaik di SMAnya dan kabar bahagia yang lainnya adalah ia mendapatkan beasiswa kuliah di Jerman. Jihan akan berangkat ke Jerman dua minggu lagi. Oleh karena itu, dia harus ikhlas melepaskan keluarganya di Indonesia demi masa depannya. Tibalah waktunya dimana Jihan pertama kalinya harus pergi tanpa orang tuanya. Di perjalanan menuju bandara Jihan terus menumpahkan air matanya, ia berterima kasih kepada orang tuanya yang telah membimbingnya hingga bisa seperti ini. 

            Setelah sampai di Jerman Jihan memilih untuk jalan-jalan melihat pemandangan yang ada dikota itu. Jihan merasa terpesona dengan suasana yang damai, sepi, dan sejuk. Beda halnya dengan di Indonesia, khususnya Jakarta tempat Jihan tinggal, yang  setiap hari selalu ada kemacetan yang sangat panjang dan polusi yang sudah menyebar dimana-mana. Setelah puas mengelilingi kota yang ada di jerman, Jihan memutuskan pulang ke apartemen yang sudah di sewa selama tinggal di Jerman.

            Di Jerman Jihan menjalankan hari-harinya sama seperti saat di Indonesia. Jihan tidak pernah melupakan pesan yang disampaikan oleh orang tuanya. Dia tidak pernah lupa dan telat melaksanakan sholat lima waktu dan sholat sepertiga malam.

Setelah beberapa tahun menjalankan kuliah yang penuh dengan suka duka. Akhirnya Jihan sekarang berada di ujung kesuksesan. Dia sekarang sedang menyusun skripsi, yaitu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana. Hari-harinya ia sibukkan untuk menyelesaikan skripsi, sampai-sampai dia lupa dengan jadwal menghubungi keluarganya yang ada di Indonesia. Karena setiap hari dia harus bolak-balik kampus untuk menemui dosen pembimbingnya supaya skripsinya cepat terselesaikan.

Suatu hari ketika Jihan menunggu dosennya, tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang menghampirinya. Laki-laki itu gagah dan tegap tanpa rasa kaku dia mengajak Jihan ngomong.

“ Kamu Jihan” Tanya laki-laki itu sambil menatap wajah jihan.

Jihan merasa bingung, kenapa orang itu bisa tahu namanya.

“ Ya saya Jihan, Anda dari Indonesia? Tanya Jihan

“ Apakah kamu masih ingat dengan orang yang membantumu saat di goda oleh preman jalanan itu” Tanya orang itu.

            “Ooo, Kak Fadlan, apa saya salah lihat” ucap Jihan

            “ Kamu tidak salah lihat, memang benar saya Fadlan  ” ucap Fadlan.

            “ Kenapa kakak bisa ada di sini” Tanya Jihan

            “ Saya ambil S-2 nya di sini” ucap Jihan

            Itu adalah pertemuan kedua mereka setelah kejadian di jalan raya. Dari pertemuan kedua inilah mereka menjalin persahabatan, mereka saling tukar kabar dan sebagainya. Mereka tidak lagi canggung satu sama lain, malah sebaliknya sekarang mereka merasa seperti adik kakak.

            Tibalah waktu yang sangat Jihan tunggu-tunggu yaitu hari wisuda. Karena kedua orang tuanya datang di acara bahagia itu. Saat pembacaan nilai terbaik semua mahasiswa merasa tegang. Suasana begitu sunyi hanya suara mc yang terdengar.

“ Deg deg deggg….”

            Jihan berharap bisa mendapatkan nilai terbaik (coumloud), meskipun itu hanya urutan ke 10 karena tidak mungkin dia akan mendapatkan nilai yang sempurna. Jihan sudah pasrah karena dari urutan sepuluh sampai sembilan tidak ada satupun namanya disebut. Tiba-tiba saja saat mc membacakan nilai yang sempurna atau IP-4 Jihan terkejut karena namanyalah yang disebut “ Sekali lagi yang mendapatkan IP-4 atas nama Jihan Juliani Putri dari Indonesia ” ucap mc mengulangi.

Jihan langsung menangis memeluk orang tuanya karena dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.

            Setelah acara selesai, Jihan mengajak orang tuanya jalan-jalan melihat pemandangan yang tidak pernah mereka lihat di Indonesia. Setelah puas di Jerman akhirnya Jihan dan kedua orang tuanya memutuskan untuk balik ke Indonesia. Jihan ingin mencari pekerjaan di Indonesia supaya selalu dekat dengan keluarganya.

            Setibanya di Indonesia Jihan langsung menghubungi Fadlan, sahabatnya kalau dia sudah sampai di Indonesia dengan selamat. Orang tuanya curiga ada hubungan apa dia dengan Fadlan. Namun Jihan selalu bilang kalau Fadlan itu adalah kakak kelasnya saat SMA dan sekarang menjadi sahabatnya, dia yang pernah menolongnya saat di goda oleh preman.

            Satu bulan setelah pulang dari Jerman, Jihan mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan terkenal di Jakarta, dia ditempatkan sebagai sekretaris. Jihan begitu beruntung hidup di dunia ini karena diberikan perjalanan yang lurus tanpa lika-liku.

            Suatu hari ketika Jihan mengambil jilbab di kamar orang tuanya dia melihat suatu barang yang membuatnya penasaran. Kemudian tanpa seizin orang tuanya Jihan mengambil barang itu, ternyata itu adalah surat adopsi anak dan yang mengejutkannya diatas kertas itu tertera namanya Jihan. Dia langsung lemas dan tak berdaya. Dia menangis tersedu-sedu, lalu ibunya menghampirinya karena mendengar suara tangisan Jihan.

“Jihan apa yang terjadi denganmu, kenapa kamu menangis, siapa yang sudah menyakitimu?” Tanya ibunya.

Namun Jihan tidak merespon sedikit pun ia buru-buru menyembunyikan surat itu dan menghapus air matanya. Lalu pergi meninggalkan ibunya sendirian di kamar itu.

Tidak lama Jihan kemudian ke luar rumah tanpa izin, dia tidak tahu mau kemana. Namun saat ini dia ingin sendirian untuk menenangkan dirinya. Setelah beberapa menit berjalan akhirnya Jihan sampai di tujuannya yaitu pantai asuhan yang tertera di surat itu. Dia ingin memastikan apakah surat itu benar atau palsu. Setelah mendengar cerita dari pengurus pantai asuhan itu, Jihan langsung menangis histeris. Dia mengingat kejadian saat berada di warung depan rumahnya itu. Ternyata semua yang di katakan ibu benar dan yang membuatnya semakin merasa hancur ternyata yang membunuh orang tua kandungnya adalah orang tua angkatnya sendiri yang selama ini membesarkannya dari kecil sampai sebesar ini.

Setelah dua hari pergi dari rumah, akhirnya Jihan pulang juga. Namun tujuan Jihan pulang bukan untuk tinggal dirumah itu tetapi untuk mengambil barang-barangnya dan pergi dari kehidupan orang yang telah membunuh orang tuanya.

“ Akhirnya kamu pulang juga Nak ibu sudah mencari kamu kemana-mana “ ucap ibunya sambil menghelus kepala Jihan.

Semua yang di lakukan ibunya itu sia-sia, Jihan malah pergi ke kamar untuk membereskan barang-barangnya.

            Setelah beberapa menit membereskan barangnya, Jihan langsung keluar dengan membawa sebuah koper yang berisi pakaiannya.

“ Kakak mau kemana “ Tanya adiknya.

Namun tidak dijawab, Jihan terus berjalan keluar rumah

“ Jihan kamu mau kemana Nak, jangan tinggalkan ibu “ teriak ibunya dari arah dapur.

“ Jangan panggil aku anakmu lagi karena kamu bukan ibuku “ teriak Jihan sambil menangis histeris.

Semua keluar dari kamar dan kaget mendengar kata-kata yang di ucapkan Jihan. Karena selama ini Jihan tidak pernah berkata kasar apa lagi sampai menyakiti hati orang tuanya seperti itu.

“ Apa maksudmu Jihan “ ucap kakaknya.

“ Jangan pura-pura tidak tahu, kalian menyembunyikan semua ini dariku. Kamu dan kamu yang sudah membunuh orang tuaku “ kata Jihan sambil menunjuk Ayah dan Ibunya

“ Ibu bisa jelaskan Nak apa yang sebenarnya terjadi waktu itu “ kata ibunya sudah menangis tersendu-sendu.

“ Tidak ada lagi yang perlu di jelaskan “ ucap Jihan dan pergi meninggalkan rumahnya.

“ Jihan… Jihan jangan pergi nak ” ucap ibunya.

“ Kejar Jihan Ayah! “ perintah ibunya.

Namun semuanya diam, karena sudah tidak bisa berkutik apa-apa lagi. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan karena Jihan sudah benar-benar marah.

“ Biarkan Jihan sendiri Bu, mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya untuk menerima semua yang telah terjadi “ ucap ayahnya sambil mengelus kepala ibunya

“ Ini semua salahku coba saat itu aku mendengar kata Ayah pasti semua ini tidak akan terjadi “ ucap ibunya menyalahkan diri.

“ Semua ini bukan salah Ibu tapi salah kita semua, dan sudah sepantasnya Jihan harus tahu semua ini, apa pun resikonya.” Ucap kakak menenangkan Ibu

“ Tapi Ibu takut terjadi apa-apa dengan Jihan di luar sana “ ucap ibu sudah lebih tenang.

“ Kak Jihan pasti bisa menjaga diri, dia kan anak yang pintar yang tahu batasan-batasan dalam Islam” kata adiknya sok tahu.

            Rumah itu menjadi begitu sepi sejak kepergian Jihan, tidak ada lagi candaan yang membuat semua ketawa terbahak-bahak. Jihan sekarang tinggal di sebuah kos-kosan yang tidak jauh dari tempatnya bekerja. Dari kejadian itu Jihan tidak mau lagi bertemu dengan keluarga angkatnya yang telah membunuh orang tua kandungnya.

            Jihan sudah menceritakan semua ini kepada Fadlan dan meminta solusi. Kemudian Fadlan memberikannya solusi kalau dia harus bisa memaafkan keluarga angkatnya itu karena pasti ada alasan kenapa semua itu bisa terjadi. Namun Jihan tidak bisa melakukannya karena dia masih menggunakan egonya untuk berpikir dan masih butuh waktu untuk memaafkan orang tua angkatnya.

            Suatu hari Jihan izin untuk tidak masuk kerja, karena dia mau pergi ke rumah sakit untuk chek up. Di rumah sakit dia  menunggu antrian sampai berjam-jam. Saat menunggu namanya di panggil ada seorang anak seperti masih SMP memanggil namanya. Lalu Jihan menoleh ternyata itu adiknya. Dia ingin menghindar namun niatnya itu diurung. Karena dia merasa adiknya tidak bersalah, dia tidak tahu apa-apa dengan masalah yang terjadi.

“ Kak lagi ngapain disini?” Tanya adiknya.

“ Tidak ada, saya hanya cek kesehatan saja” jawab Jihan datar.

“Ayah sama Ibu minta maaf kak dengan apa yang telah terjadi” kata adiknya.

Namun Jihan hanya diam saja tak menjawab

“ Sekarang  ibu lagi dirawat di ruang ICU kak, dia lagi kritis sejak dua hari lalu” ucap adiknya sambil meneteskan air mata.

Jihan pun menangis dan memeluk adiknya.

“ Tujukkan kakak dimana ruangannya sekarang” kata Jihan.

            Lalu mereka pergi dengan wajah memerah. Jihan merasa sangat bersalah karena dialah penyebab ibunya jatuh sakit. Setahunya ibunya tidak pernah jatuh sakit sampai dibawa ke rumah sakit. Setibanya di ruang ICU Jihan langsung masuk tanpa seizing dari perawat.

“Dek, apa yang kamu lakukan. Selain keluarga pasien tidak boleh masuk” ucap perawat itu.

“ Dia anak dari pasien itu, Sus” ucap kakaknya dari belakang Jihan.

Jihan langsung memeluk ibunya yang telah dipenuhi oleh peralatan medis.

“Maafin Jihan bu, semua ini gara-gara Jihan. Andaikan Jihan mau mendengar penjelas ibu, pasti ini tidak akan terjadi“ kata Jihan sambil menangis tersendu sendu.

Tiba-tiba saja jari-jari ibunya bergerak, memengang kepala Jihan.

“ Ibu Ibu …ibu mendengar suara Jihan “ ucap Jihan bahagia

Dia langsung memanggil dokter. Kata dokter ibunya sudah melewati masa kritis, dan bisa dipindahkan ke ruangan biasa.

“ Alhamdulillah Ya Allah Engkau telah mengabulkan semua doa-doaku” ucap Jihan sambil menengadahkan tangan.

Ibunya sekarang sudah bisa ngomong seperti biasanya. Dia tidak lagi menggunakan alat medis yang sangat mengerikan itu tetapi hanya selang infus yang masih bertahan ditangannya untuk menambah tenaga.

Ditengah-tengah perbincangan ibunya mengatakan hal yang penting kepada Jihan.

“ Nak, kamu sudah memaafkan Ibu” Tanya ibunya sambil memegang tangan Jihan.

“ Anak mana sih yang tidak mau memaafkan ibunya, Allah saja bisa memaafkan hambanya masa Jihan tidak bisa” Ucap Jihan.

“ Maafkan Jihan juga ya Bu. Terima kasih sudah mau menjaga Jihan sampai sebesar ini, mau membiaya kehidupan Jihan, padahal Jihan itu bukan siapa-siapanya Ibu” ucap Jihan sambil menangis memeluk Ibunya yang masih berbaring diatas kasur.

“ Kamu  juga anak Ibu yang sangat ibu sayangi” kata ibunya.

            Setelah beberapa hari dirumah sakit, ibunya diperbolehkan pulang kerumah. Jihan dan keluarga angkatnya kembali menjalankan hidup seperti sedia kala yang penuh kebahagian.

            Tanggal 15 Juli 2019, Jihan genap berumur 24 tahun. Untuk merayakan hari bahagia itu, dia dan keluarganya mengadakan acara tasyakuran yang di hadiri oleh anak-anak yatim, keluarga terdekatnya dan terutama Fadlan,sahabatnya.

Ditengah-tengah acara terjadi kejadian yang tidak terduga, Fadlan tiba-tiba saja meminta izin ke Ayahnya Jihan untuk mengkhitbah Jihan.

“Ayah, saya Fadlan Ahdiatma minta izin untuk mengkhitbah Jihan Juliani Putri” ujar Fadlan sambil menghadap ayahnya Jihan.

Semua yang hadir di acara itu tercengang kaget, khususnya Jihan. Dia tidak percaya kalau Fadlan akan mengatakan hal yang tidak pernah terbayang dibenaknya itu. Karena dia sudah menganggap Fadlan sebagai kakak.

“ Nanda Fadlan, apa yang membuat kamu mau mengkhitbah Jihan anak saya?” tanya ayah Jihan.

“ Karena Jihan berbeda dengan perempuan lain yang pernah saya jumpai, dia itu perempuan sholehah yang mengerti banyak tentang Islam” ucap Fadlan sambil menghadap ke arah Jihan.

“ Saya tidak bisa memutuskan ini, karena yang akan menjalankan semuanya bukan saya tapi Jihan. Jadi saya serahkan ini semua kepada Jihan dan saya akan menerima apapun keputusannya” jelas Ayah Jihan panjang lebar.

“ Jihan bagaimana, apakah kamu menerima khitbahku” tanya Fadlan singkat.

“ Insya Allah” Jawab Jihan sambil menganggu malu.

“Alhamdulillah” ucap Fadlan dan semua tamu yang hadir.

Jihan meneteskan air mata, karena tidak bisa mengungkapkan semua itu dengan kata-kata. Sempurnalah kebahagian yang di dapat oleh Jihan, tidak ada lagi rasa sedih yang terbesit di hatinya. Semua orang yang berada didekat Jihan juga ikut merasakan kebahagian itu, terutama orang tuanya karena mereka bisa melihat kembali Jihan yang sebenarnya, dengan senyum yang tulus, wajah yang bercahaya dan tawa yang tidak lagi seperti paksaan. Itulah perjalanan hidup yang dijalani Jihan sampai dia benar-benar menemukan jati dirinya yang sebenarnya.

 

 

           

 

           

 

           

 

 

 

 

 

 

Penelitian Kualitatif

1. Pengertian Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah pendekatan ilmiah yang digunakan untuk memahami makna, realitas sosial, a...