Sabtu, 05 November 2022

Dari Siksa Jadi Bisa


Nekat, adalah kata yang selalu aku genggam erat dengan tanganku yang selalu ku bawa setiap saat. Anggap saja, saat ini aku telah nekat memilih jurusan IPA dengan modal IQ 85. Namun, hatiku selalu berkata bahwa usahalah yang dapat membawaku ke titik bahagia. Hari ini adalah jadwal bagi SMA Garuda kelas XI IPA 2 dibagikan hasil ulangan Fisika yang sudah kami jalani kemarin. Di saat pak Samsul memanggil nama Keisa Aqila, kakiku gemetar seakan vektor yang menjadi materi ulangan kemarin membius tubuhku.Terlihat sebuah kursi kuning yang diatasnya duduk seseorang yang sedang tersenyum kepadaku. Kulihat dengan pelan selembar kertas putih yang terdapat lingkaran merah yang tengahnya terisi angka.

“Tidak apa-apa, semoga ulangan selanjutnya lebih baik” kata pak Samsul.

“Iya pak maafkan aku” kataku sambil menundukkan kepala.

Sinar terang yang masuk melewati retina mataku membuatku terbangun, pagi ini. Reaksi biasa saja timbul, padahal jam dinding kamarku menunjukkan pukul 07.00. Sebuah kata malas terbayang dipikiranku ketika mengingat resiko yang terjadi apabila hari ini aku pergi sekolah. Namun, dari balik pintu terdengar suara ibu yang memanggil dan menyuruhku untuk siap-siap ke sekolah. Kemudian pikiranku yang labil menunjukkanku pada sebuah motivasi yang terang. Teringat sebuah deret geometri yang mampu melompat jauh dengan rasionya. Apabila deret geometri itu makin panjang, maka lompatannya pun akan semakin jauh, apalagi didukung oleh rasio yang makin tinggi. Rasio itulah sebuah usaha, mimpi yang tinggi akan tercapai dengan usaha yang keras. 

Seragam pramuka yang menempel di badanku menandakan bahwa aku telah siap berangkat ke sekolah. Hanya dengan balutan selembar roti yang diisi sayur mayur, mengawali sarapanku pagi ini. 

“Semangat” kata ibuku sambil memajukkan  genggaman tangannya. 

“Iya bu” jawabku.

Jam pertama dan kedua telah aku lewati bersama sejumlah orang di kelasku.

“Kei, apakah kamu sudah belajar?” Tanya seorang temanku.

“Belajar apa?” Sahutku.

“Hari ini kita ulangan kimia” Sambutnya lagi.

“Ah, masa sih? Jangan bercandalah” Jawabku dengan nada tidak percaya.

“Aku tidak bercanda, minggu kemarin bu Yuli beritahu bahwa kita ulangan”

Tubuhku lemas ketika informasi ulangan itu masuk melewati gendang telingaku. Termokimia yang menempel pada lembaran kertas telah datang kepadaku dengan membawa perubahan enthalpi suhu tubuhku. Entah tawakkal seperti apa yang harus ku lakukan hari ini. Apakah aku harus pura-pura sakit untuk menunda ulangan agar lebih siap lagi? “Percuma” Kataku. Hentakan kaki yang seolah olah seperti terompet sangkakala pun terdengar. 

“Baik anak-anak, sesuai kesepakatan kita kemarin hari ini kita ulangan” Kata bu Yuli ketika sampai di dalam kelas.

“Iya bu” Serentak siswa menjawab.

Kini selembar kertas yang tidak diharapkan kehadirannya berada tepat didepanku. Satu persatu kubaca soal yang tertera pada kertas tersebut. Kutulis apa yang masih tersisa di ingatanku meski aku tak yakin akan hal itu. Semua siswa bergantian ke depan meja guru membawa secarik kertas yang menandakan mereka sudah selesai. Bel sekolah berbunyi seolah-olah memaksa jemariku untuk berhenti menulis lagi. Ku coba untuk berdiri, ditemani kertas yang masih aku tatap dengan wajah cemas. Namun, aku yakin bahwa selalu ada benang fibrin yang akan menjahit luka dihatiku suatu saat nanti.  

“Kantin yuk!” Ajak seseorang, sebut saja namanya Caca.

“Ayok, aku juga berniat ke sana” Jawabku pelan.

Aku berjalan di belakang Caca melewati koridor sekolah menuju kantin.

“Kak” Tiba-tiba terdengar suara di belakangku. 

“Iya” Jawabku sambil memalingkan wajah.

Terlihat gadis menuju ke arahku dengan membawa buku.

“Maaf kak ganggu, bisakah kakak menjelaskan rumus ini?” tanya gadis tersebut.

Aku kaget mendengar pertanyaan itu, apalagi sampul buku tersebut terbaca Matematika. Remedi yang menghantuiku selama ini menjadi alasan pertamaku tidak yakin untuk bisa menjelaskan rumus tersebut. Aku bingung, alasan apa yang akan kulontarkan pada gadis tersebut untuk menolak permintaannya.

“Aku lupa, dek” kataku sambil tersenyum.

“Tidak apa-apa, kak” Jawab gadis tersebut dengan wajah agak kecewa.

Saat pulang sekolah, aku mampir di ruang BK karena salah seorang teman memberitahuku bahwa aku di panggil oleh pak Mahli.

“Nak, bapak harap ini adalah ujian terakhir kamu mendapatkan nilai merah” Kata pak Mahli sambil menunjukkan hasil ulangan kimia tadi pagi.

“Iya pak” Jawabku.

“Bapak akan maafkan, tapi dengan satu syarat kamu harus ujian ulang minggu depan, mata pelajarannya adalah matematika, fisika, dan kimia”

“Tapi pak...!” Jawabku kaget.

“Tidak ada tapi-tapi. Sesuai peraturan, bapak harus mengeluarkan kamu apabila nilaimu tetap seperti ini.” Lanjut pak Mahli dengan nada yang lebih tinggi.

“Baik pak” Jawabku lesu.

Ketika hening malam menemani kebingunganku, teringat tadi pagi yaitu rasa malu dan takut bersatu mengisi sudut-sudut volume otakku. Tiba-tiba, teringat pesan guru ngajiku bahwa air wudhu dapat menenangkan hati. Ku coba melemparkan butiran bening ke arah mukaku, lalu kubasuh tangan, rambut hingga kaki dengan bersih. Ku gelar sajadahku, kemudian ku kepal tanganku. Sungguh khsuknya aku malam ini.

Ku buat daftar kegiatan yang hampir 80% adalah waktu belajar dirumah. Di sekolah, setiap jam istirahat kuhabiskan ke perpustakaan untuk membaca buku. Hingga dua hari menjelang ujian, aku sakit. Hanya muka pucat dan tubuh lemas yang tersisa. Terlihat jarum jam itu seolah olah semakin cepat menyusul hari ujianku. “Apa yang harus aku lakukan?” Pertanyaan itu muncul berapa kali. 

Akhirnya, hari antara hidup dan mati datang menghampiri. Aku terbangun dari tidurku dalam keaadaan tubuh masih lemas. Aku paksakan pergi sekolah meski ibu tidak mengizinkan. Ibuku tidak tahu bahwa hari ini aku ada ujian penting, kerena aku takut jika dia tahu maka akan menjadi kekhawatiran yang lebih dengan keadaanku. Usaha dan doa yang maksimal kurasa cukup untuk modal ujianku kali ini. Meski, jantungku berdetak tak karuan diguncang oleh rasa takut dan penasaran. Kini, awal dan akhir dari sebuah perjuangan akan terelaksasikan lewat tulisan. Ujian pun sudah tiba, ku coba goyangkan jariku dengan indah supaya terjawab soal-soal didepan mata. 

Hari pengunguman hasil ujianku telah tiba, dengan rasa penasaran ku langkahkan kakiku menuju ruang BK. Ternyata hasilnya memuaskan, waktu dan tenaga yang ku korbankan  menjadi pahlawan. Aku belajar keluar dari dekapan dengan sifat logaritma, aku juga belajar dari gravitasi tentang kesederhanaan, serta aku selalu mencoba berusaha memberikan suatu yang kecil namun manfaatnya besar melalui gaya hidrolik. Kini hari-hariku berjalan dengan rasa optimis. Bisa disimpulkan, IQ tidak menjamin semuanya. Usaha dan keinginanlah yang paling penting. Aku selalu yakin akan mimpi-mimpiku, lewat  SMA Garuda menuju luar angkasa.



Jumat, 21 Oktober 2022

Contoh Anekdot

 Seperti Wasit Saja

Suatu siang, Hana dan Hani sedang berbincang di teras kelas, mereka sedang membicarakan gosip tentang teman mereka, Ratu.

Hana : “Han, dengar nih, katanya, Ratu baru dilabrak kakak kelas,lho.”

Hani yang mendengar hal itu, menjadi tertarik.

Hani : “Oh ya? Sungguh?

Hana : “Iya, sungguh.”

Hani : “Memangnya Ratu kenapa? Dia kan berteman dengan semua orang, kok bisa?”

Hana : “Huh!memang sih, tapi sadar tidak? Dia berteman dengan semua orang untuk mencari dan membicarakan kesalahan orang lain.”

Hani : “Oooh, iya ya. Kalau begitu, dia kerja di lapangan saja.”

Hana :”Di lapangan?”

Hana mengerutkan keningnya, tidak paham dengan maksud Hani.

Hani : “Iya, kan, jadinya, dia seperti wasit”

Hana : “Seperti wasit? Kenapa?”

Hani : “Iya, kesana kemari untuk mencari dan membicarakan kesalahan orang”

Hana tertawa mendengarnya. Namun, ternyata Ratu yang berada di dalam kelas mendengar percakapan mereka. Dia akhirnya keluar dan berkata,

Ratu : “Kalau begitu, kita jadi wasit sama sama ya..”

Rabu, 21 September 2022

Catatan: Nandra yang Culun

     Hari ini adalah hari Sabtu, bertepatan dengan ulang tahunku yang ke -17. Orang-orang bilang kalau ulang tahun ke-17 itu harus menyenangkan, kalau perlu harus ada perayaannya. Tapi menurutku tidak begitu, sekalipun aku berfikir begitu aku tidak akan merayakannya karena aku tidak memiliki seorang teman pun untuk diundang. Aku terkadang merasa aneh dengan orang-orang, kenapa umur yang semakin berkurang harus dirayakan? Apakah sebegitu bahagianya mereka karena waktu hidup mereka berkurang? Terkadang aku terlalu memikirkan hal remeh seperti itu makanya kepalaku merasa letih.

     Pertama-tama aku akan menceritakan tentang latar belakangku. Nama panggilanku adalah Nandra dan ku rasa kalian tak perlu tahu nama panjangku karena itu tak penting bagi kalian. Kalau kalian mau tahu, aku ini anak tunggal yang artinya aku tak punya saudara. Alhamdulillah kedua orang tuaku masih hidup. Tentang sekolahku mungkin kalian tak perlu tahu, yang pasti aku sekolah di sekolah yang biasa saja. Wajahku? Tentu saja aku tampan karena aku ini lelaki bukan perempuan. Kehidupanku di sekolah tergolong biasa saja walaupun aku termasuk anggota OSIS. Sekarang aku adalah siswa di kelas 11 MIA dan ciri khas yang ku miliki adalah kacamata. Tapi jika boleh sombong, sebenarnya aku ini termasuk orang yang lumayan terkenal di sekolah. Mungkin kalian heran kenapa bisa, akupun juga begitu heran mengapa bisa orang yang tak pernah bergaul sepertiku bisa terkenal. Seperti yang ku katakan sebelumnya aku ini tak punya teman, tapi ayah selalu menekankan agar aku mencari teman. Aku sangat kesal jika ayah mulai membahas hal itu, ayah tak tahu bahwa anaknya ini sangat terkenal di sekolah. Itu memang fakta tapi ia benar-benar tidak tertarik untuk memilki seseorang yang benar-benar ia anggap sebagai teman, karena ia sudah sangat trauma untuk mempunyai temaan lagi. Itu adalah kejadian di masa lalu yang terjadi tanpa ia tahu penyebabnya. Mungkin hanya itu latar belakang yang bisa ku jelaskan. Aku akan menceritakan pada kalian tentang bagaimana seorang Nandra yang sok cool bisa jatuh cinta pada lawan jenisnya.

      Seperti hari-hari yang sebelumnya, hari ini terasa sangat membosankan. Kegiatanku hanya berputar di rumah dan di sekolah, jarang sekali aku bisa pergi ke tempat selain tempat itu. Sebenarnya aku bisa berkeliaran kemana pun aku mau karena aku ini lelaki tapi aku lebih memilih untuk membaca buku yang  ada di perpustakaan ayahku yang ada di rumah. Perpustakaan milik ayah sangatlah besar tidak pernah sekalipun aku merasa bosan dengan keberadaan buku-buku besar yang ada di sana. Aku kira ayah hanya memiliki buku yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, tapi aku menemukan  buku yang berbeda. Buku itu berjudul “Dunia Sophie”, buku itu adalah sebuah novel namun tidak sama dengan novel lainnya. Novel itu bertemakan tentang filsafat, hal yang sangat menarik bagiku. Tapi di dalam cerita ini aku tidak ingin membahas tentang itu karena aku takut itu akan membebani otak kalian yang tak terlatih untuk berfikir keras. Maaf jika tiba-tiba membahas tentang perpustakaan dan maaf kalau sekiranya kalian tersinggung.

     Sebenarnya hari ini adalah hari yang spesial bagi para siswa, namun tidak bagi kami yang merupakan anggota OSIS. Menyedihkan bagi kami karena harus bertanggung jawab sebagai panitia acara, dan sekarang aku harus berada di aula untuk mengawasi orang-orang yang mengikuti olimpiade kebumian. FYI lomba ini diadakan untuk memeriahkan acara ulang tahun SMA Venit dan siswa siswi SMA Venit tidak boleh berpartisipasi. Untuk menghilangkan kebosanan sesekali aku berjalan-jalan untuk mengawasi para peserta olimpiade dan sekilas aku melihat soal olimpiade itu. Hanya satu komentar yang kuberikan untuk soal itu, “WOW.” Tanpa sadar aku mengganggu peserta yang ada di depanku, aku berfikir begitu karena ia langsung menoleh ke arah ku dengan tatapan yang sangat dingin. Sepontan yang terucap dari bibirku adalah kata “maaf.”

     Kalian tahu? Dari awal sampai akhir kegiatan itu aku tidak bisa fokus. Aku tidak bisa tenang karena kesalahan yang kulakukan pada perempuan itu. Sekarang aku tidak tahu apa yang harus kulakukan agar hatiku bisa tenang. Ide terakhir yang muncul agar hatiku bisa tenang adalah meminta maaf langsung kepada perempuan itu, tapi ia tidak  tahu nama perempuan itu. Bahkan wajah perempuan itu tidak tergambar jelas di dalam memorinya. Untuk memenuhi janji aku berkeliling untuk menemukan perempuan tadi. Untung saja aku tidak memiliki tugas lagi, jadi aku bisa dengan bebas berkeliaran. Aku sudah berkeliaran selama 15 menit tapi belum ada tanda-tanda kehadiran perempuan itu. Sampai akhirnya aku kelelahan dan sekarang aku harus beristirahat sejenak. Dan tempat yang tepat untuk beristirahat adalah taman. Di sana aku berniat untuk tidur hanya lima menit tapi kenyataannya aku tidak bisa tidur karena terganggu dengan suara kucing yang tidak jauh dari tempat ku berada. Dan kau tahu begitu aku membuka mata, seperti keajaiban aku menemukan perempuan itu. Tapi awalnya aku tidak sadar karena penglihatanku yang kabur tanpa kacamata, aku terus memperhatikan perempuan itu untuk menyakinkan diri. Tanpa aku sadar ia melihatku dan lagi-lagi ia merasa terganggu. Aku dari dulu memang bodoh, tapi saat itu baru aku sadar aku sangat bodoh. Bagaimana aku tidak berfikir begitu, aku membawa kacamata namun aku tidak memakainya dan terus aku membuat orang lain tidak nyaman dengan tatapanku. Sebelum perempuan itu menghilang aku berdiri untuk memanggilnya, dengan gaya yang malu aku menjelaskan kejadian sebelumnya tanpa mengenalkan diri. Ketika ku sadar belum memperkenalkan diri, aku memberi tahu namaku. Aku juga sedikit modus dengan menanyakan namanya. Dan namanya adalah Andri. Ku rasa kalian tak perlu tahu apa yang kami bicarakan karena itu adalah rahasiaku.

     Kejadian yang tadi ku ceritakan itu bukanlah alasan pertama aku menyukai. Melainkan ada hal lain yang membuatku semakin dekat dengannya. Tapi aku tidak ingin memberi tahu kalian karena lagi-lagi ini adalah rahasiaku.

     Sekian cerita khayalan dari seorang Nandra yang culun. Dan aku ingin memberi tahu kalian, jangan percaya dengan  kalimat sebelumnya ya.


Buku Tua Bersampul Coklat

 Anin terbangun dari tidurnya. Ia melihat ke arah jam dinding. Jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Seketika tubuhnya gemetaran. Lagi-lagi ia  mendengar suara pintunya diketuk beberapa kali. Apa-apaan ini, ucap Anin dalam hati. Ini sudah malam ketiga ia mendengar ketukan pintu itu pada jam yang sama. Kemarin, ia pikir mungkin ia hanya salah dengar dan kembali melanjutkan tidurnya. Namun, kejadian itu terus berulang hingga malam ini. Ia sudah tak tahan lagi. Ia turun dari kasurnya dan berjalan menuju pintu. Sebenarnya ia bukan anak yang pemberani, namun rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Ia sempat ragu saat ingin membuka pintu. Tapi ia buang jauh-jauh rasa ragunya itu dan menarik gagang pintu.

Saat ia membuka pintu, alangkah terkejutnya ia karena tidak ada siapa-siapa di depan kamarnya. Bulu kuduknya naik, dengan segera ia tutup kembali pintu kamarnya. Ahh… rumah nenek sangat seram, desahnya. Tapi sebelum pintu kamar benar-benar tertutup, Anin melihat sebuah kotak tergeletak di depan pintu kamarnya. Kemudian ia mengambil kotak tersebut dan membukanya di dalam kamarnya.

Di dalam kotak itu terdapat sebuah buku tua bersampul coklat. Anin mengambil buku itu lalu membukanya. Buku itu ternyata hanya buku catatan biasa. Tidak ada coretan sama sekali di lembar-lembar buku itu. Anin mencoba mencari nama pemilik buku itu tapi ia tak menemukan apapun. Buku itu benar-benar kosong.

Anin sangat heran mengapa buku ini bisa tiba-tiba ada di depan kamarnya. Ia menengok keluar kamarnya. Tidak ada siapa-siapa disana. Ia memutuskan untuk menyimpan buku itu dan kembali ke kasurnya untuk tidur. Besok pagi ia akan menanyakan tentang buku ini pada neneknya.

Keesokan harinya, Anin bangun kesiangan. Ia bergegas mandi dan menyiapkan tas sekolahnya. Dengan tergesa-gesa ia berlari menuju ruang makan. Di sana ternyata ada bibinya yang sedang sarapan terkejut melihat Anin yang tergesa-gesa menyiapkan roti .

“Loh, Anin. Kamu belum berangkat sekolah? Bibi kira kamu sudah berangkat dari tadi.” Ucap bibinya sambil membantu Anin mencari kotak makan.

“Anin telat bangun, Bi” jawab Anin singkat.

“Ini kotak makannya.” Bibi menyerahkan kotak makan pada Anin. “Bibi antarkan pakai motor biar cepat sampai, ya”

“Iya, Bi. Makasih. Oh iya mana nenek? Anin mau pamit sama nenek dulu.”

“Baru saja pakdemu menjemput nenek untuk check up bulanan ke rumah sakit. Mungkin nenekmu juga akan menginap disana 2 hari.” Jawab Bibi sambil membantu Anin memasukkan roti ke dalam kotak makannya. “Ayo berangkat sekarang, kamu masih bisa datang tepat waktu.” Anin dan bibinya pun berangkat menggunakan motor dengan kecepatan sedang.

Anin sangat bersyukur karena sampai di sekolah tepat waktu. Ia berpamitan dengan bibinya dan langsung pergi menuju kelasnya. Tapi keberuntungan Anin tidak bertahan lama. Saat bu guru menyuruh untuk mengumpulkan buku pr, Anin sadar ia lupa mengerjakan pr. Akan tetapi, Anin tetap mengumpulkan buku prnya. Bu guru menyuruh agar semua siswa tetap mengumpulkan buku pr walaupun belum mengerjakan pr. Semoga saja ada kejaiban sehingga pr itu sudah terselesaikan di buku itu, harap Anin.

Sepulang sekolah, Anin langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Kepalanya terasa seperti terbelah karena tadi mengerjakan 20 soal ulangan matematika mendadak. Saat memejamkan mata, ia teringat dengan buku yang kemarin ia temukan di depan kamarnya. Ia ambil buku itu dan mencatat sesuatu disana.

Rabu, 6 November 2019

Hari ini adalah hari yang melelahkan. Bangun kesiangan, lupa mengerjakan pr, dan ulangan matematika mendadak yang susahnya minta ampun. Huh.. andai saja ada kejaiban, tiba-tiba prku sudah terselesaikan dan jawaban ulanganku benar semua. Semoga saja ada hal semacam itu terjadi.

Anin tertidur setelah menulis di buku bersampul coklat itu. Anin terbangun setelah bibinya memanggilnya untuk makan malam. Ia mengganti baju seragamnya lalu pergi ke ruang makan.

Esok hari, saat dibagikan buku pr dan ulangan matematika, Anin sangat terkejut. Ia tidak percaya saat melihat buku prnya yang tercantum nilai A begitu juga dengan ulangan matematikanya mendapatkan nilai A. Seingatnya ia sama sekali tidak mengerjakan pr dan juga ulangan matematikanya itu, ia hanya menjawab setengah dengan benar yang lainnya ia hanya menjawab asal-asalan. Ia merasa senang tapi juga sangat heran mengapa hal itu bisa terjadi. Sampai di rumah, ia masih tetap memikirkan kejadian itu.

Minggu siang, ayah dan ibu Anin datang menjemput Anin untuk pulang bersama mereka. Minggu lalu mereka pergi ke luar kota karena ada pekerjaan dan Anin dititip di rumah neneknya agar tidak mengganggu kegiatan sekolahnya. Sebenarnya Anin tidak mau pulang bersama orang tuanya, tapi ia juga tidak mau merepotkan nenek dan bibinya. Akhirnya ia ikut pulang bersama orang tuanya dan kembali ke rumahnya.

Anin merasa lebih nyaman tinggal bersama nenek dan bibinya. Itu karena bibi dan neneknya selalu memberikan kasih sayang kepadanya berbeda dengan orang tuanya yang selalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Orang tuanya jarang sekali ada di rumah. Sekalipun ada di rumah mereka tetap sibuk dengan komputernya.

Sesampainya di rumah, Anin langsung masuk ke kamarnya. Ia membuka tas ranselnya dan mengeluarkan buku tua bersampul coklat yang ia temukan di rumah neneknya. Ia mulai menulis beberapa kata pada lembar buku itu.

Minggu 10 November 19

Sedih rasanya meninggalkan rumah nenek. Di rumah nenek ada bibi yang selalu mengajakku makan bersama juga ada nenek yang selalu memasak soto untukku. Di sini rasanya cuma aku sendiri yang ada di rumah ini. Ibu dan ayah selalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Aku merasa seperti tidak punya orang tua. Huh.. Sekalian saja mereka menghilang dari dunia ini. Toh, mereka juga tidak peduli denganku.

Anin menutup buku itu. Air matanya mengalir di pipinya. Ia merasa kesepian di rumahnya sendiri padahal orang tuanya ada di sana. Ia iri dengan teman-temannya yang selalu bercerita tentang orang tua mereka yang sangat peduli dengan mereka. Anin lalu terlelap sambil memeluk buku bersampul coklat tersebut. Buku bersampul coklat itu tiba-tiba mengeluarkan sinar kecil lalu tertutup dan terkunci.

Anin terbangun saat ia tak sengaja terjatuh dari tempat tidur. Ia mengusap kepalanya yang sakit karena terbentur dengan lantai. Langit terlihat kemerah-merahan di luar kamarnya. Ia ternyata tertidur cukup lama, dari siang hingga senja. Perutnya terasa lapar karena belum makan siang tadi. Kemudian ia pergi ke dapur untuk mencari makanan. Saat hendak ke dapur ia heran karena lampu-lampu di rumahnya tidak menyala. Biasanya orang tuanya sudah menyalakan lampu-lampu yang ada di rumah. Akhirnya ia sendiri yang menyalakan semua lampu. Mungkin orang tuanya lupa untuk menyalakan lampu, pikirnya.

Saat hendak menyalakan lampu di dapur ia melihat ruangan kerja ayahnya kosong. Di ruang tengah juga tidak ia dapati ibunya yang biasanya masih sibuk dengan laptopnya. Ia coba mencari ke kamar orang tuanya tapi di sana juga sama tidak ada kedua orang tuanya. Ini aneh. Biasanya orang tuanya meninggalkan pesan jika ingin pergi tapi tidak ada satupun pesan yang ia temukan.

Anin mengambil handphone lalu menghubungi ayah dan ibunya. Ini lebih aneh lagi. Kedua orang tuanya tidak membawa handphone mereka. Setahu Anin kedua orang tuanya tidak pernah melupakan handphone mereka. Anin mencoba menelpon teman kantor ayahnya. Tapi teman ayahnya bilang ia tahu dimana ayahnya. Sama halnya dengan ibunya, ia juga sudah menelpon teman kerja ibunya. Tapi hasilnya juga sama mereka tidak tahu keberadaan orang tua Anin.

Anin berpikir sejenak. Ia sudah menelpon semua orang yang berhubungan dengan orang tuanya. Nenek dan bibinya juga sudah ia hubungi dan mereka juga tidak tahu dimana orangtuanya saat ini. Anin ingin menangis teringat dengan isi curhatannya tadi. Ia mengatakan jika ia ingin kedua orang tuanya menghilang dari dunia ini dan hal itu langsung menjadi kenyataan.

Setelah dipikir-pikir semua hal yang ia tulis di buku tua bersampul coklat itu terkabul semua. Seperti pr dan ulangan matematikanya. Apa mungkin karena buku itu? Tanya Anin dalam hati. Ia bergegas kembali ke kamarnya dan mencari buku itu. Ia ingat tadi ia sempat menulis di buku itu sebelum akhirnya tertidur. Akan tetapi buku itu tidak ada di atas kasurnya. Ia semakin ketakutan karena tidak menemukan buku itu. Itu adalah salah satu cara untuk mengembalikan orang tuanya.

Anin bingung karena buku itu tidak ada dimana-mana. Ia mencoba duduk sebentar sambil berusaha mengingat-ingat dimana ia taruh buku itu. Ia sempat terjatuh dari kasur tadi mungkin buku itu ada di bawah tempat tidurnya. Benar saja buku itu ternyata ada di bawah tempat tidurnya, ia dengan cepat mengambil buku itu dan mencoba membukanya. Tapi anehnya buku itu malah terkunci. Anin bingung karena buku itu tidak terkunci saat ia menemukannya di rumah nenek.

Anin bingung apa yang harus ia lakukan saat ini. Buku itu sempurna terkunci dan tidak bisa terbuka. Ia sudah melakukan banyak cara seperti merusak segelnya tapi buku itu tidak tergores sedikitpun. Ia merasa putus asa. Genaplah ia menjadi yatim piatu tanpa sebab yang masuk akal. Orang tuanya menghilang entah kemana tanpa jejak.

Anin menangis terisak sambil memeluk lututnya. Ia menyesal telah berharap seperti itu. Ia sangat menyayangi kedua orang tuanya. Ia menginginkan orang tuanya kembali. Ia juga sangat menyesal karena sering mengabaikan perkataan orang tuanya. Ia ingat tadi siang saat baru saja sampai di rumah, ibunya menyuruhnya untuk makan. Tapi ia menolak dan mengatakan sesuatu yang menyakitkan.

“Anin, ayo makan dulu jangan langsung tidur.” Ucap ibunya.

“Males, nanti aja kalau sudah lapar.”jawab Anin dengan muka datar.

“Nanti kamu sakit kalau gak makan.” Bujuk ibunya lagi.

“Kalau Anin sakit, emangnya ibu peduli sama Anin. Kan anak ibu laptop sama komputer.” Ujar Anin sambil berlalu menuju kamarnya.

“Anindya! Tidak sopan bicara seperti itu pada orang tua. Minta maaf pada ibumu sekarang!” Kata ayah Anin marah melihat sikap Anin yang tidak sopan.

Anin menutup pintu kamarnya. Ia mendengar ayahnya meneriaki namanya beberapa kali. Terdengar bahwa ibunya mencoba menenangkan ayahnya. Saat itulah Anin mengambil buku bersampul coklat itu dan menulis sesuatu yang ia sesali sekarang.

Air mata Anin mengalir dengan deras mengingat kejadian itu. Andai saja waktu bisa diulang ia akan memilih mengabaikan ketukan pintu di kamar rumah neneknya. Tapi itu semua tidak akan pernah terjadi. Di sela-sela tangisannya, ia mendengar suara yang berasal entah dari mana. Suara itu benar-benar menyadarkannya akan sikapnya yang selama ini selalu menyakiti hati kedua orang tuanya.

Anindya… apa kamu merasa menyesal? Kamu tahu harapan yang kuat bisa menjadi kenyataan. Buku itu adalah buku pengabul harapan. Buku itu terkunci karena hati kamu yang juga terkunci oleh rasa kebencian. Hatimu terlalu banyak menyimpan dendam sehingga tidak bisa melihat kebaikan yang ada di sekitarmu. Kamu sebenarnya tahu orang tuamu menyayangimu tapi kamu buang jauh-jauh kenyataan itu dan berprasangka sesukamu. Jika kamu masih menyayangi orang tuamu maka lakukan apa yang aku perintahkan.

Anin menghapus air matanya lalu menganguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh suara asing tersebut.

Kunci buku itu ada bersama kotak yang kamu temukan malam itu. Setelah kamu membuka buku itu sobek lembaran kertas yang sudah kamu tulis lalu bakar kertas itu. Sesudah kamu lakukan itu taruh buku itu di lemari kayu yang ada di loteng rumah nenekmu. Semuanya akan kembali lagi seperti semula. Orang tuamu akan kembali kepadamu lagi.  Semoga kamu mengambil pelajaran dari kejadian ini.

Suara itu menghilang. Anin bergegas mengambil tas dan menaruh buku itu. Ia mencari angkutan umum dan pergi menuju rumah neneknya. Jarak rumah neneknya tidak terlalu jauh dari rumahnya hanya perlu 30 menit baru sampai. Setelah sampai di rumah neneknya Anin berlari menuju kamar tempat ia menginap kemarin, lalu mencari kotak tempat ia menemukan buku itu.

Bibinya heran melihat Anin yang tiba-tiba datang berkunjung ke rumah neneknya sendirian. Bibinya bertanya bagaimana dengan orang tua Anin, apakah mereka sudah kembali. Anin menjawabnya dengan jujur yang membuat bibina tambah kebingungan melihat Anin. Tapi Anin tidak memperdulikan bibinya. Ia sudah menemukan kotak itu dan disana juga ada kunci untuk membuka buku bersampul coklat tersebut. ia dengan cepat membuka buku itu dan merobek lembaran-lembaran yang berisi tentang curhatannya. Tak lupa ia juga langsung membakar kertas itu.

Anin berlari menuju loteng rumah neneknya. Ia lalu menaruh buku itu persis di tempat yang diperintahkan oleh suara asing tadi. Setelah menutup pintu lemari kayu itu, muncul sinar yang sangat terang. Anin sampai menutup matanya karena terlalu silau. Saat sinar itu sedikit meredup ia mendengar suara seseorang seperti sedang membangunkannya.

“Anin! Ayo bangun! Kamu ini mau tidur sampai kapan ini sudah jam 12. Heh, ayo bangun orang tua kamu udah datang.” Ucap bibinya sambil mengguncang-guncang tubuh Anin.

Anin bangun dan langsung terduduk. Ia lalu berlari menuju jendela. Apa yang dikatakan bibinya benar. Di sana terlihat mobil berwarna putih memasuki gerbang rumah neneknya. Ia bergegas menuju halaman. Ia peluk ibunya lalu ayahnya dengan erat yang membuat semua yang ada di sana heran dengan sikap Anin.

“Kamu kenapa Anin? Aduh… Ibu gak bisa napas. Tolong lepas dulu pelukannya baru kasih tahu apa yang kamu mau.” Jawab ibu Anin sambil mengaduh kesakitan.

“Maafkan Anin, ibu, ayah. Anin selalu nyakitin kalian dengan ucapan Anin yang tidak sopan. Anin sayang sama ibu dan ayah. Anin gak mau kehilangan kalian.” Ucap Anin sambil menangis.

Nenek tersenyum melihat Anin. Ayah dan ibunya juga saling melihat namun  kemudian mengelus kepala Anin.

“Iya, Anin. Ayah sama ibu sudah maafin Anin. Sekarang Anin pulang ya” ujar ibunya.

“Iya bu.”

Ayah dan ibu Anin tersenyum melihat sikap Anin yang berubah menjadi lebih baik. Semuanya kembali seperti semula seolah buku itu tak pernah ada. Anin pulang bersama orang tuanya ke rumahnya.

Sesampainya di rumah, Anin teringat sesuatu. Ia bongkar tasnya lalu mengambil buku pr dan lembar ulangan matematikanya. Ia menjadi bingung saat melihat buku dan ulangannya tetap sama. Masih tertera nilai A di sana. Tapi ia tak mau ambil pusing, yang terpenting orang tuanya sekarang sudah kembali. 


Selasa, 20 September 2022

Hanyalah Pendosa

 

Keluarga


Aku bukan siapa-siapa

Aku bukan pujangga,yang bisa merangkai kata

Aku bukan dokter penyembuh luka

Aku bukan penulis,yang mampu mengarang cerita

Aku bukan dukun,yang pandai melafal mantra

Aku hanyalah insan bertabur dosa

Yang tak punya arti dari sempurna

Aku hanyalah hamba penggoda

Yang mungkin tuhan bosan mendengarku meminta

Aku hanyalah manusia biasa dengan akal di kepala

Hanyalah pendosa yang akrab dengan dusta

Tak punya etika,tapi punya cinta

Aku terbuang dari keramaian

Berkumpul dalam berandalan

Mengusik para pecundang metropolitan

Menodongkan tangan,meminta kembalian

Pada para pemangku jabatan

Penghina mimpi seorang bajingan

Aku hanyalah pendosa

Yang ingin keadilan bukan kenangan

Sabtu, 17 September 2022

Di balik senyum Birru

Kursi


Jingga melamun, padahal ia tahu akan telat kuliah. Namun karena hari itu hari dimana Birru pergi meninggalkannya, ia kembali mengingat kenangan lamanya.

 

Flashback…

Mentari yang redup, bersembunyi di balik awan. Burung menghiasi sangkakala dengan indahnya. Angin berembus dengan tenangnya membawa aroma tanah bekas hujan semalam. Namun dibalik indah dan tenang suasana kala itu, tersimpan suasana pilu. Di kala IC yang sepi kala itu, Birru terduduk lesu merenung di kelasnya. Keringat bercucuran dengan deras di dahinya terlihat seperti takut akan suatu hal. Kepalanya ia tumpukan diatas tangannya, sesekali tangan yang rapuh itu mengepal seakan banyak masalah berat menimpanya. Terlihat jelas kerutan di dahinya.

 

“Apa sebenarnya salahku selama ini?” ungkapnya bertanya-tanya.

 

Birru seorang burung rapuh yang terlihat tegar dan baru kali ini mengepakkan sayapnya mengelilingi dunia tertegun. Ia mengingat kembali kejadian semalam yang menimbulkan kenangan pahit dalam ingatannya. Kejadian yang membuatnya kembali menyerah akan hidup yang susah payah ia pertahankan ditengah penyakit yang dideritanya.

 

Kamu ya anak emas yang selalu dipuji-puji guru?! Apasih kelebihanmu kalau dibandingin sama kita?! Udah nolep, nggak pernah keliatan eh taunya pinter ngejilat guru ya! Baru gini aja udah belagu! Terdengar bentakan dari beberapa orang.

 

Birru hanya terdiam berusaha menahan tangis. Badannya yang rapuh terduduk lemas di lantai koridor asrama. Dirinya berusaha tidak melawan seraya memikirkan apa kesalahan yang telah dia berbuat kepada orang-orang itu.

 

“Kamu bisu ya?! Punya mulut gak sih?! Kalau ditanya tu jawab bukannya diem aja! Bentak orang-orang itu lagi.

 

Namun kali ini tidak hanya terdengar bentakan, namun juga suara pukulan bertubi-tubi.

 

“Lain kali awas aja ya kamu, sekarang ini masih peringatan. Kalau kamu masih ngelunjak siap-siap aja lain kali!” ungkap salah seorang diantara mereka sembari melayangkan tendangan terakhir kepada Birru.

 

Setelah orang-orang itu pergi tangis Birru pecah. Air mata yang sedari tadi ditahannya meluncur begitu saja dengan derasnya. Terlihat banyak lebam di tubuhnya, namun rasa sakit itu tak ia hiraukan. Bukan masalah dirinya yang kembali mendapat perilaku buruk, namun orang-orang itu yang kembali mengungkit perihal ibunya. Satu-satunya orang yang menguatkannya, sekaligus merapuhkannya dikala ia sudah pergi kembali ke pangkuan tuhan.

 

*****

 

Suara hujan yang mulai turun membuyarkan lamunannya, menyadarkan dirinya dari renungan tadi. Namun Birru seolah tak peduli, rasanya suasana kala itu menambah khusyuk dirinya untuk kembali merenung.

 

Dirinya kembali berpikir, “Atas dasar apa orang-orang itu melabeli aku anak emas? Padahal aku tidak sepintar ataupun sebaik itu sampai-sampai guru memperlakukanku berbeda. Aku hanya siswa biasa, bahkan orang-orang jarang yang tau aku. Apa ada suatu kejadian yang membuat mereka salah paham?”.

 

Birru akhirnya menyerah memikirkan penyebab dirinya selalu diperlakukan buruk. Dirinya takut jika semakin dalam berpikir, dia akan kembali overthingking serta mengingat kejadian buruk lainnya. Kejadian yang membuat dia memutuskan untuk menutupi apapun masalah yang dihadapinya dari keluarganya serta temannya agar mereka tak khawatir. Hal yang membuatnya lebih baik meninggalkan rumah dan bersekolah di IC.

 

“Sudahlah, suatu saat nanti ini tidak akan terjadi lagi” ucapnya menyemangati diri sendiri. Setitik senyum pun terbit di wajahnya. “Tapi kapan hari itu datang? Tanyanya yang membuat semangatnya langsung terpatahkan, senyumnya pun redup kembali. Lenyap dari wajahnya.

 

*****

 

            Disaat yang sama hujan telah reda, menimbulkan aroma yang menenangkan. Birru pun kembali karena jam sudah menunjukkan pukul 3 siang, pertanda adzan ashar akan segera berkumandang.

 

“Heh kamu cupu, diem dulu bentar. Enak aja langsung pulang!” terdengar teriakan tiba-tiba dari seseorang yang membuat langkah birru terhenti. Badannya gemetaran, takut akan kejadian semalam yang akan terulang lagi.

 

“Enak banget kamu ya duduk-duduk disini, mending belajar aja biar posisimu sebagai anak emas gak tergeser. Atau mending cari muka aja deh. Enak banget jadi anak kesayangan, nilai pasti selalu ditambah-tambah” ucap orang itu.

 

Birru lagi-lagi hanya bisa terdiam menerima kalimat-kalimat yang menusuk hati satu persatu. Setelah lelah melontarkan kata-kata menyakitkan, orang itu langsung pergi. Di dalam hatinya Birru amat bersyukur sebab ia tidak menerima kekerasan fisik kali ini, namun tetap saja kekerasan verba yang mereka lakukan lagi-lagi menorehkan luka di hati kecilnya, hati yang penuh sayatan luka.

 

Terbersit di pikirannya tentang omongan orang itu, “Apa maksudnya nilai yang selalu ditambah tambah? Aku tidak pernah bertemu guru dan merasa guru menambah nilaiku hanya karena orang-orang bilang diriku anak emas. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa omongan mereka sangat berbeda dengan kenyataan?” Birru kembali bertanya-tanya. Namun dirinya tak pikir panjang dan langsung meneruskan langkahnya ke asrama.

 

*****

 

Hari-hari Birru lewati dengan berat, mentalnya sudah rusak. Setiap harinya ia hanya murung. Bisa dikatakan ia seperti mayat hidup. Matanya terlihat redup, tak ada lagi senyum terpatri dibibirnya. Entah senyum kepalsuan atau terpaksa.

 

Gairah hidupnya telah lenyap tak bersisa. Dikala keluarga serta teman-temannya bertanya akan kondisinya, ia selalu menutupinya dengan senyum terpaksa. Mengatakan bahwa dirinya baik baik saja. Padahal itu hanya bohong belaka.

 

Ayahnya pun hanya bisa percaya, karena dia tahu birru anak yang selalu jujur kepada dirinya. Namun ada satu orang yang tidak percaya begitu saja perihal kondisinya, dia adalah Jingga anak kelas XI IPA 1. Walaupun tingkat kepekaannya rendah, namun ia tahu Birru sedang menghadapi suatu masalah.

 

*****

 

Pada hari Minggu akhirnya Jingga menghampiri Birru. Dirinya sudah lelah hanya melihat dari belakang seperti bayangan.

 

“Aku tahu kamu sudah berusaha kuat, tapi jangan sampai diri kamu yang terluka. Lama kelamaan kamu akan hancur perlahan menahan semua beban itu. Kalau kamu mau aku bisa jadi orang yang bakal hilangin semua beban itu” ungkap Jingga tiba-tiba.

 

 Tentu saja ucapan Jingga membuat Birru kaget. Ia heran, mengapa Jingga tidak menjauhinya seperti orang lain. Baru kali ini juga ia melihat orang yang menurutnya asing namun langsung mau turun tangan membantunya menyelesaikan masalah.

 

“Tapi kamu nggak bakal bisa bantu, lagian kamu orang asing yang nggak tau masalahnya apa” jawab Birru.

 

“Heh enak aja ya, gini-gini aku gak kudet. Terus kamu bilang orang asing? Kita ini temen yaampun, padahal sama-sama pembinaan olimpiade Biologi juga” ungkap Jingga dengan kesal.

 

Birru pun lantas menjawab “Emang salah kalo nggak kenal semua orang? Lagian kamu yang anggep aku temen, tapi aku anggepnya nggak tuh. Btw biasa aja kali jawabnya kagak usah pake urat”.

 

Jingga lantas malu mendengar jawaban Birru, ia menggerutu. “Bukannya terima kasih kek udah mau dibantuin”.

 

Jingga yang kesalpun akhirnya meninggalkan Birru, sebelum menghilang dari pandangan Birru ia membalikkan badan seraya berkata “Aku serius. Aku ini orang dalam, punya banyak koneksi. Kalau mau tau yang sebenarnya datang ke kelas XI IPA 1 besok jam 2 siang, aku bakal bantu. Percaya deh”.

 

Birru terdiam mendengar perkataan Jingga, ia meninmbang-nimbang apakah kali ini ia bisa mempercayai seseorang? Rasanya ia kehilangan rasa percaya kepada orang lain. Namun karena dirinya sudah lelah, ia pun ingin mencoba percaya dan mencari tau kebenarannya. Bukan hanya diam saat disiksa tanpa tahu kesalahannya.

 

“Baiklah mari coba percaya padanya, aku rasa ia jujur dan kalau dilihat anak yang baik juga. Entah kenapa rasanya anak itu tidak asing” gumam Birru.

 

*****

 

Hari yang telah dijanjikan pun tiba. Birru melangkahkan kakinya ke kelas XI IPA 1 sesuai ucapan Jingga  kemarin. Namun ia heran melihat Jingga yang sedang sibuk berkutik dengan laptopnya, entah apa yang dilakukan.

 

“Cepetan masuk! Nanti ada yang lihat lagi, gak usah heran napa. Kan aku udah bilang bakal bantu kamu” teriak jingga dari dalam kelas.

 

Jingga pun menyodorkan laptopnya ke birru “lihat nih, aku udah minta Choir buat nge-hack CCTV asrama putra, terus kemarin aku juga udah hack CCTV sekolah ini”.

 

“Rekaman yang mana sih?” Tanya Birru bingung, karena yang dirinya lihat hanyalah layar putih.

 

“Diem dulu napa bego ! Ini WiFi-nya lelet, mana laptop-nya nge-lag. Gak guna emang! Lagian Choir sok iye banget ngirimnya lewat Telegram” ungkap Jingga kesal.

 

Rekaman pun terlihat, Birru melihat kedua rekaman CCTV itu dengan saksama, namun tiba-tiba dia mengerutkan alisnya. “Loh jadi yang mereka bilang kalau aku ngejilat guru buat dapet nilai bagus itu ini ya?” tunjuk Birru ke layar laptop.

 

 

Jingga langsung saja ikut melihatnya dan terkejut, karena ternyata itu rekaman  Jae yang sedang berbincang dengan pak Adi. “Loh ini kan Jae waktu ngumpulin remed, makanya dapat tambahan nilai. Ternyata mereka cuma salah paham, tapi kok bisa ngiranya kamu Birru?” tanya Jingga menginterogasi Birru.

 

“Jae itu temen sekamarku, waktu itu dia minjem hoodieku. Mungkin gara-gara itu mereka salah paham” ungkap Birru.

 

“Ya ampun cuma salah paham sampe kayak gini. Bisa nggak sih mereka tanya kebenarannya dulu?! ungkap Jingga frustasi.

 

Birru mencoba menenangkan jingga “Udahlah ayo kita kasih liat mereka bukti ini, tapi besok aja. Lagian mereka gak ada”.

 

“Oke deh serah kamu aja. Aku juga mau ambil dulu bukti rekaman waktu kamu dibully” jawab Jingga.

 

Setelah mereka mendapatkan bukti mereka langsung kembali ke asrama masing-masing dengan perasaan lega dan bahagia. “Akhirnya penderitaanku berakhir” batin Birru senang.

 

Tanpa mereka sadari tadi, ada Bagas yang mengintip dari balik jendela. Amarahnya naik sampai ubun-ubun melihat Birru dan Jingga berdua. Ia salah paham kembali. Belum tuntas satu kesalahpahaman timbul lagi kesalahpahaman lainnya.

 

“Awas aja kamu Birru, aku udah peringatin tapi kamu gak hirauin, bahkan kali ini kamu berdua sama Jingga. Orang yang aku suka sedari awal masuk IC. Siap-siap aja nanti malam “ucap Bagas seraya tersenyum licik.

 

Bagas pun lantas pergi meninggalkan dua orang yang sedang fokus melihat rekaman  CCTV itu. Di otaknya sudah tersimpan banyak rencana jahat. Ia pun sudah berpikir untuk langsung berkumpul dengan teman se-gengnya untuk kembali membully Birru nanti malam.

 

Orang-orang memandang Birru aneh, sudah sedari tadi ia senyum-senyum sendiri, bahkan ada beberapa orang mengatainya gila. Mereka tidak tahu saja betapa bahagianya Birru karena merasa sudah akan lepas dari penderitaan.

 

“Biarin aja deh orang mau ngomong apa, yang penting sekarang udah gak ada yang bully, gak ada salah paham  lagi” pikir Birru.

 

Kebahagiaan Birru tiba-tiba lenyap. Dirinya yang sedang santai membaca buku di koridor asrama tiba-tiba dihampiri oleh geng itu. Kalian benar, itu adalah geng yang membully birru beberapa waktu yang lalu. Perlu kalian ketahui geng itu berisi Yaki, Ari dan ketuanya Bagas. Bibir Birru memucat, ia lantas gemetaran.

“Heh udah kubilang ya, jangan ngelunjak lagi! Mana sekarang kamu deketin Jingga, Jingga itu cewek yang aku suka!” teriak Bagas dengan marah.

 

Birru ingin membalas namun tak sempat, pukulan dan tendangan lebih dulu melayang kepadanya. Rasa sakit memenuhi tubuhnya, tak lagi ia pikirkan cacian, teriakan dan bentakan dari mereka yang ditujukan padanya. Pertanyaan mereka pun tak satupun ia jawab karena saking tak berdayanya. Satu yang dirinya pikirkan “Aku lelah. Aku mau bertemu ibu”. 

 

“Heh lo denger gak sih?!” teriak Bagas di telinga Birru, namun Birru yang sudah tak kuasa menahan tubuhnya pun pingsan tak berdaya diiringi teriakan dari geng itu yang kesal dengan betapa beban dan lemahnya Birru.

 

“Siapa yang mau angkat ni  kunyuk? Mana berat banget bego!” gerutu Yaki salah satu anggota geng itu.

 

 “Udahlah tinggalin aja, beban emang!” timpal Ari.

 

*****

 

Dinginnya malam menusuk kulit Birru, membuat ia terbangun dan mendapati dirinya tergeletak di koridor asrama.

 

“Ternyata mereka sudah pergi, syukurlah” ucapnya seraya meringis mendapati tubuhnya penuh dengan luka dan memar.

 

Sial memang nasib Birru, baru saja ia merasa akan merasa bebas dari penderitaan. Namun yang didapatinya perlakuan yang semakin parah. Tak cukup sampai disitu, tidak ada satu orang pun yang menolongnya. Bahkan saksi mata pun tak ada.

 

Entah sial atau bagaimana saat itu tak ada satupun ustadz pembina asrama. Jika ada saksi pun Birru yakin tak akan ada yang berani mengadu, karena yang membuat keadaannya seperti ini merupakan kumpulan orang berpengaruh.

 

Menyadari pagi akan tiba, Birru pun bangkit lalu berjalan dengan tertatih-tatih menuju kamarnya.

 

*****

 

Keesokan paginya Birru terbangun, rasanya badannya remuk. Secara tiba-tiba pula penyakitnya kambuh. Penyakit Birru merupakan skizofrenia dimana ia akan mengalami delusi, halusinasi, kekacauan dalam berpikir, mengasingkan diri dari orang lain, hingga mengalami perubahan perilaku. Skizofrenia inilah yang lantas memunculkan keinginan Birru untuk bunuh diri. Birru tiba tiba keluar asrama dan lantas pergi ke gudang.

 

Ditempat itu Birru berteriak frustasi “Aku capek! Aku udah lelah sama semua ini, maaf bu gabisa bertahan lagi. Udah gak ada lagi alasan Birru hidup. Birru mau nyusul ibu aja, dengan itu Birru gabakal dibully lagi. Semua beban bakal hilang dan hati Birru bakalan tenang” kemudian ia mulai menangis.

 

Di tempat lain, Jingga yang tau kejadian semalam dan tahu Birru tiba-tiba menghilang langsung berlari mencari Birru. Pantas saja feeling-nya sudah tidak enak sedari semalam.

 

Ia mencari di semua tempat, tetapi keberadaan Birru tidak kunjung terlihat. Namun ada satu tempat yang tiba-tiba terlintas di otaknya. “Shit! Jangan-jangan dia di gudang sekolah, awas aja tu anak-anak yng udah buat Birru kayak gini” batinnya sembari menahan emosi yang meluap.

 

Dengan sekuat tenaga Jingga berlari ke gudang. Disana ia terpaku melihat Birru dengan tangan yang bercucuran darah dan sebilah cutter di tangan satunya. Entah darimana Ia mendapatkan cutter itu.

 

“Birru!” teriak Jingga.

 

Birru sempat mendengar Jingga memanggil namanya, namun ia memilih mengikuti bayangan hitam yang seolah menjemputnya.

 

“Makasih” bisiknya lirih di akhir kesadarannya.

 

Jingga yang melihat semua kejadian itu tertegun, kemudian lantas mengamuk. Secepat kilat ia berlari meminta bantuan. Birru pun akhirnya dilarikan ke rumah sakit.

 

*****

 

Sementara Birru dirawat di rumah sakit Bunda, Jingga dengan mati-matian menyelesaikan masalah Birru. Ia mengeluarkan seluruh kemampuan serta  koneksi yang ada. Siang dan malam ia tidak kenal lelah. ia hanya memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah ini secepatnya. Jingga bekerjasama dengan Khai dan Choir untuk mengamankan bukti dan mengungkapnya ke semua orang.

 

“Aku gak bakal maafin kalian, tunggu aja tanggal mainnya” ungkap Jingga dengan senyum smirk mengerikannya.

 

*****

 

Usaha Jingga tidak sia-sia, hari yang dinantikannya tiba. Ia mengungkapkan rekaman CCTV itu ke semua orang beserta bukti-bukti lainnya. Kemudian geng itu di D.O dari IC karena kesalahan fatal yang mereka lakukan. Tidak hanya itu hukuman yang mereka daapatkan, mereka juga mendapat cacian dan hujatan dari seluruh siswa di IC.

 

Awalnya Jingga berniat melaporkannya ke polisi, namun Birru dan keluarganya sepakat untuk mengambil jalan damai. Birru tidak ingin ada dendam, ia ikhlas memaafkan orang-orang itu. Lagipula setelah kejadian pengungkapan bukti, mereka sudah meminta maaf kepada Birru hingga berlutut. Terutama Bagas, ketua geng tersebut. Ia sangat menyesal telah berburuk sangka dan menuduh Birru, apalagi ia gelap mata karena cemburu buta melihat Jingga dan Birru.

 

*****

 

Masalah telah selesai, Jingga lantas menjenguk Birru ke RS Bunda tempat Birru dirawat. Hari-hari sebelumnya ia tidak sempat menjenguk Birru karena sibuk menyelesaikan masalah Birru.

 

Sesampai disana ternyata kondisi Birru sudah sangat membaik. Keesokan harinya ia sudah diperbolehkan pulang. Jingga yang mendengarnya sangat senang karena ia mengira birru sudah baik-baik saja. Nyatanya Birru kembali berbohong. Menutupi hal yang ia dan keluarganya sepakati untuk dirahasiakan dari Jingga.

 

Karena Jingga tidak ingin mengganggu istirahat Birru, ia lantas langsung pamit pulang tanpa berbincang sedikitpun dengan Birru. Namun ia menitipkan pesan kepada ayah Birru, bahwa ia menunggunya di bukit belakang IC 5 hari lagi. Kebetulan liburan telah tiba. Perlu kalian ketahui saat Birru masuk rumah sakit, bertepatan dengan berlangsungnya classmeeting.

 

*****

 

Esok harinya Birru sudah diperbolehkan pulang. Ia merasa sangat bahagia. Semua masalahnya telah terselesaikan dengan damai, tidak ada lagi dendam ataupun balas dendam.

 

Awalnya memang Birru tidak mau memaafkan mereka, namun ia ingat pesan ibunya “Allah yang merupakan tuhan kita saja Maha pengampun nak, apalagi kita yang sebatas hamba-Nya tidak pantas rasanya jika tidak bisa memafkan kesalahan orang lain”. Oleh karena itu jangan tanyakan kepada Birru mengapa ia memafkan orang-orang itu. Oh jangan lupa ingatkan dia untuk berterimakasih kepada Jingga.

 

Birru merasa sangat beruntung saat Jingga datang menolongnya hari itu. Hampir saja ia menolak tawaran Jingga. Ngomong-ngomong tentang Jingga, Birru terkejut mengetahui Jingga menjenguknya kemarin disaat ia sedang tertidur. Setelah mendengar pesan Jingga dari ayahnya ia bingung maksud Jingga mengajaknya ke bukit itu. Tapi ia tidak terlalu memikirkannya, ia rasa itu kesempatan yang bagus untuk lebih mengenal Jingga dan tidak lupa untuk berterimakasih kepadanya.

*****

 

5 hari kemudian…

 

Hari itu sangat cerah, matahari bersinar dengan terangnya. Tidak malu untuk menampakkan dirinya yang bersembunyi seperti kemarin.

 

Hari ini adalah hari yang telah dijanjikan Jingga kepada Birru. Saat ini mereka berdua sedang duduk-duduk sambil melihat pemandangan. Mereka berbincang-bincang santai sembari bersenda gurau.

 

Tiba-tiba Birru nyeletuk, “Kamu tau gak Jingga? Kamu tu mirip sahabat masa kecil aku. The way you smile and laugh it’s so similiar. Apalagi kamu punya lesung pipi di tempat yang sama kayak dia. Sayang aku lupa namanya terus kita juga lost contact”.

 

Birru lanjut bercerita “Terus yang bikin aku ngerasa kamu makin mirip sama dia soalnya kita dulu pernah janjian bakal ketemu di bukit ini kalau udah besar. Dulu disini kita pernah nanem kotak yang isinya kenangan kita dulu sama pesan buat diri kita di masa depan. Makanya aku pernah ngira kalau kamu itu dia, tapi gak mungkin” ungkap Birru lantas tertawa .

 

Jingga yang mendengar cerita Birru merasa tidak asing dengan cerita yang disebutkan Birru. Jingga yang mendengarnya membatin “kok kayak gak asing, ini kayak cerita masa kecil aku juga, jangan-jangan…”.

 

“Memberi warna bagi satu sama lain?!” teriak Jingga tiba-tiba.

 

Birru yang tadinya tertawa langsung menghentikan tawanya, “Astaga ternyata itu kamu. Akhirnya ketemu juga. Komplek Mentari bener kan?”.

 

“Iya bener Birru” teriak Jingga kegirangan.

 

Birru sangat terharu, ternyata orang yang menyelesaikan masalahnya saat ini merupakan sahabat kecil kesayangannya.

 

“Ternyata dimanapun kita selalu memberikan warna bagi sama lain ya, kayak janji kita dulu” celetuk Jingga. “Ayo kita gali tanahnya terus temuin kotak yang kita taruh dulu! Ajak Birru.

 

Mereka pun menghabiskan waktu sore itu dengan bercerita dan membaca surat yang ada di kotak yang telah mereka ambil sambil menikmati senja. Bukit itulah yang menjadi saksi sepasang sahabat yang kembali bertemu untuk saling memberikan warna bagi satu sama lain. Sungguh indah suasa sore kala itu.

 

Flashback end…

*****

 

Itulah momen indahnya bersama Birru. Momen tentang awal ia dan Birru bertemu kembali. Namun kini Birru telah meninggalkannya.

 

Setelah mereka pulang dari bukit ia tiba-tiba rubuh tanpa sebab. Jingga kaget lantas meminta bantuan orang sekitar. Sayangnya, nyawa Birru tidak dapat tertolong lagi setelah dirawat selama 6 jam. Jingga baru tahu ia mengidap penyakit tumor otak ganas.

 

Ia menyesal telat tau segalanya. Menyesal juga karena tidak menemani Birru di rumah sakit sejak awal. Ternyata Birru entah untuk kesekian kalinya berbohong kepadanya. Menutupi penyakitnya dari Jingga. 

 

Setelah kematian Birru, Jingga terpuruk. Ia sepert mayat hidup, hari-harinya dipenuhi tangisan. Kemudian ia kembali mengingat momen terakhir sebelum Birru meninggalkannya untuk terakhir kalinya.

 

Flashback…

 

“Ga, makasih buat selama ini, makasih udah jadi Jingga nya Birru. Makasih udah ngasih warna di hidup aku sesuai janji kita. Kalau gak ada kamu mungkin aku gak bisa bertahan sampai sekarang. Mungkin aku gak bisa jadi Birru yang kamu kenal. Please lihat laci di meja belajar aku, disana ada titipan buat kamu sama keluargaku. Kalau gitu aku pergi dulu ya? Rasanya semua beban udah hilang. Aku titip ayah sama kakak ya? Itulah kalimat terakhir yang keluar dari bibir pucatnya.

 

Setelah itu Birru menghembuskan napas terakhirnya. Wajahnya terlihat damai, senyum menenangkan terlihat di wajahnya. Senyum pertama Birru sejak kejadian itu, dan senyum terakhir yang dapat Jingga lihat. Sekaligus senyum terindah yang pernah dilihatnya. Senyum yang menunjukkan bahwa Birru pergi dengan tenang tanpa meninggalkan penyesalan.

 

Kini Birru telah meninggalkan Jingga seorang diri di kamar pasien yang mendadak terasa sunyi. Ya kini Jingga kembali sendiri, tak ada lagi Birru di sampingnya.

 

Flashback end…

 

*****

 

“Ga lo nangis ya? Buruan napa, kita udah telat!” teriak Ila teman kos Jingga.

 

Jingga tersadar kembali dari lamunannya, tanpa ia sadari air matanya bercucuran keluar membasahi wajahnya. Dirinya lagi-lagi melamunkan tentang Birru sahabatnya yang telah pergi setahun yang lalu. Jingga sudah ikhlas akan kepergian Birru, namun kenangan itu terus menghampiri dirinya.

 

“Ru, aku gak sempet bilang. Makasih juga udah jadi Birrunya Jingga, makasih udah kuat hadepin semua ini, see you di tempat terbaik di sisi tuhan” ucap jingga kemudian membaca al-Fatihah untuk sahabatnya itu.

 

“Buruan jingga! Nanti aja nangisnya, kamu mau kita diomelin dosen killer!? teriak Ila lagi yang kini sudah berada di parkiran kosan.

 

“Iya bawel, ini tinggal ambil tas aja kok!” Jingga balas berteriak seraya meraih tasnya cepat, namun dirinya terpaku sebentar seraya tersenyum melihat bingkai foto di atas meja belajarnya.

 

Dengan cepat melangkahkan kakinya ke bawah. Menghampiri Ila yang telah lama menunggunya sebelum ia mendapatkan omelan lagi.

 

Mungkin jika Birru melihat Jingga dari atas sana, ia akan bangga. Jingga dapat melanjutkan hari-harinya. Bahkan selangkah lagi untuk menggapai impiannya.

 

*****

 

END

 

Penelitian Kualitatif

1. Pengertian Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah pendekatan ilmiah yang digunakan untuk memahami makna, realitas sosial, a...