Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Juni 2024

TERAPI SUNYI

 Suara tak bernada membisik

Dalam sunyi tanpa ada mengusik

Qolbu melirik nafsu nan picik

Bak bunga malam tak berputik


Suara tak bernada menyapa

Dengan untaian kata duka nestapa

Menerawang ruang dosa

Warna warni kehidupan dunia


Malam... 

Aku bermalam

Aku tenggelam dalam kelam malam

Diiringi suara jangkrik malam

Kamis, 09 November 2023

Penjajah Pena

 

Penjajah Pena

Karya : Triya Rezeki Umais

Aku bukanlah seorang kesatria

Meluncur pecutan tuk kemenangan

Diri ini hanya kertas putih buta

Si penjajah guratan pena

Dibalik tebing ini,

Berjuta belukar menyapaku

Dialog langit menjamahku

Aku rela mengkhotam ayat

Berlari menghempas sayat

Hingga, Shanghai terikat

Cita dunia dalam genggamku

Akulah si penjajah pena

Dengan nyawa kian menajam

Ku menyusri sirottolmustaqim

Menadah doa-doa sang bidadari

Menguak bisu terpatri pada diri

Membisik redup jiwa pelita

Teguh ku jejaki setiap muara

Merpati putih akhir harapku

Gerimismu menyasikkan togaku

Mengais akar barzah jiwaku

Sampai gugur tersisa namaku

Selasa, 20 September 2022

Hanyalah Pendosa

 

Keluarga


Aku bukan siapa-siapa

Aku bukan pujangga,yang bisa merangkai kata

Aku bukan dokter penyembuh luka

Aku bukan penulis,yang mampu mengarang cerita

Aku bukan dukun,yang pandai melafal mantra

Aku hanyalah insan bertabur dosa

Yang tak punya arti dari sempurna

Aku hanyalah hamba penggoda

Yang mungkin tuhan bosan mendengarku meminta

Aku hanyalah manusia biasa dengan akal di kepala

Hanyalah pendosa yang akrab dengan dusta

Tak punya etika,tapi punya cinta

Aku terbuang dari keramaian

Berkumpul dalam berandalan

Mengusik para pecundang metropolitan

Menodongkan tangan,meminta kembalian

Pada para pemangku jabatan

Penghina mimpi seorang bajingan

Aku hanyalah pendosa

Yang ingin keadilan bukan kenangan

Selasa, 06 September 2022

Dialog Negeriku


Sesak...

Negeriku terdesak

Pilu...Negeriku berteriak

Lelah dengan hidup katanya

 

Ini negeriku berlari

Rindu ciuman damai

Sabar dan tabah

Harga dirinya diinjak pasrah

 

Jangan berdiri angkuh

Kami tak berkenan

Janjimu seribu langkah

Buktimu kemana kawan

 

Terbang kemana bualmu

Rentetan kata manismu

Ini katanya rakyatmu

Tapi berpenggal sendu

 

Dia mati...

Tak bergairah lagi

Negeriku terlalu sedih

Rakyatnya meringkih

 

Ketauhilah...

Segelintir mereka makan

Namun, hanya sampah

Hah, hidup dalam dusta

 

Mereka berpeluk kelaparan

Hai! Kemana kau penguasa

Berikan negerimu suapan

Ah, enyahkan saja semesta

 

Bung, negeriku malu

Terus meragu

Katanya merdeka dulu

Tapi semuanya palsu

 

DUA BIRU

  

lihatlah dua biru

oh duhai sungguh indah dipandang

sewarna namun tak sama

terlukis akur bersisian

 

biru yang satu dengan riaknya

biru yang tersembunyi dalam

biru yang satu dengan kapasnya

biru yang tak berujung tak berbatas

 

biru yang bergantung padanya kehidupan

biru yang tersimpan kekayaan di dalamnya

biru yang bergantung padanya bintang-bintang

biru yang tersimpan doa-doa hamba-Nya

 

masing-masing patuh pada kodratnya

tanpa pernah mencoba melampaui batasan

keduanya saling meninggi dan merendah

percaya akan keajaiban yang Tuhan berikan

 

 

Rindu

 

Aku rindu wajahmu

Aku rindu suaramu

Aku rindu senyummu

Aku rindu pelukan hangatmu

Aku rindu sentuhan tanganmu saat menghapus air mataku

Aku rindu semuanya yang ada pada dirimu

Kau berjanji kau akan kembali

Tapi kenapa kau tidak pernah kembali

Kau meninggalkanku

Hanya karena keobsesianmu terhadapnya

Apakah perlu kubilang padamu aku merindukanmu

Disetiap waktu hanya kaulah yang ada di pikiranku

Menemaniku dalam kerinduan yang tak terhingga

Wahai rindu...

Dimanakah ku harus mencarimu

Mencari jejakmu yang menghilang dari pandanganku

Membuatku mencari cara untuk menemukanmu

Wahai rindu...

  Kau membuatku tau caranya hidup

Kau membuatku tau caranya menunjukan ekspresiku

Tapi yang paling luar biasanya

Kau membuatku merasakan sakit yang tak pernah kurasakan

Aku sakit tapi kau tak pernah peduli

Kau hanya memikirkan dirimu

Dirimu yang selalu kurindukan

Sinar rembulan memancarkan kehangatannya

Menenangkan hati yang terluka

Menghilangkan sedikit beban yang tersimpan

Dengan kehangatan sinar rembulannya

Mengingatkan ku kepada kehangatan yang kau berikan

Aku rindu...

Tapi aku tak bisa mengungkapkannya

Yang bisa kulakukan hanya mengingatmu dalam kerinduanku

 

Rabu, 04 Maret 2020

Desember Kelabu

Ibu Tersenyum
Gegar gemetar
Kaki tak bergerak
Mata tak terpejam
Gerak
Terasa mengalir
Pijakku tak tetap
Khawatirku mendekap
Membelai setiap desah nafas
Mendongak
Awan hitam bertandang
Menyapa setiap ruang fikiran
Apa?
Siapa?
Dimana?
Tanyakan dirimu
Kesana jua akhirnya

Jalan Setapak
Bunga itu mekar
Gelap, merah menjulang
Namun sepi menggoda
Merayu tanpa kata
Menenteramkan jiwa

Bertamu tak tersurat
Secepat itu kau merapat
Memoles jagat
Wafat
Ya, wafat
Tak memanggil
Tak bersahut
Rumput hijau merenung
Kucing meraung
Tikus menggigil
Memandang sangkar burung
Betapa goyah tatapan
Ingin ke sangkar
Menenteramkan batin



Penelitian Kualitatif

1. Pengertian Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah pendekatan ilmiah yang digunakan untuk memahami makna, realitas sosial, a...