Senin, 23 November 2020

HIKAYAT

 

                                            Hikayat Indera Bangsawan

    Tersebutlah perkataan seorang raja yang bernama Indera Bungsu dari Negeri Kobat Syahrial. Setelah berapa lama di atas kerajaan, tiada juga beroleh putra. Maka pada suatu hari, ia pun menyuruh orang membaca doa qunut dan sedekah kepada fakir dan miskin. Hatta beberapa lamanya, Tuan Puteri Siti Kendi pun hamillah dan bersalin dua orang putra laki-laki. Adapun yang tua  keluarnya dengan panah dan yang muda dengan pedang. Maka baginda pun terlalu amat sukacita dan menamai anaknya yang tua Syah Peri dan anaknya yang muda Indera Bangsawan.
    Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji, mereka dititah pula mengaji kitab usul, fikih, hingga saraf, tafsir sekaliannya diketahuinya. Setelah beberapa lamanya, mereka belajar pula ilmu senjata, ilmu hikmat, dan isyarat tipu peperangan. Maka baginda pun bimbanglah, tidak tahu siapa yang patut dirayakan dalam negeri karena anaknya kedua orang itu sama-sama gagah. Jikalau baginda pun mencari muslihat; ia menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia bermimpi bertemu dengan seorang pemuda yang berkata kepadanya: barang siapa yang dapat mencari buluh perindu yang dipegangnya, ialah yang patut  menjadi raja di dalam negeri.
    Setelah mendengar kata-kata baginda, Syah Peri dan Indera Bangsawan pun bermohon pergi mencari buluh perindu itu. Mereka masuk hutan keluar hutan, naik gunung turun gunung, masuk rimba keluar rimba, menuju ke arah matahari hidup.  
    Maka datang pada suatu hari, hujan pun turunlah dengan angin ribut, taufan, kelam kabut, gelap gulita dan tiada kelihatan barang suatu pun. Maka Syah Peri dan Indera Bangsawan pun bercerailah. Setelah teduh hujan ribut, mereka pun pergi saling cari mencari.
    Tersebut pula perkataan Syah Peri yang sudah bercerai dengan saudaranya Indera Bangsawan. Maka ia pun menyerahkan dirinya kepada Allah Subhanahuwata’ala dan berjalan dengan sekuat-kuatnya. 
    Beberapa lama di jalan, sampailah ia kepada suatu taman, dan bertemu sebuah mahligai. Ia naik ke atas mahligai itu dan melihat sebuah gendang tergantung. Gendang itu dibukanya dan dipukulnya. Tiba-tiba ia terdengar orang yang melarangnya memukul gendang itu. Lalu diambilnya pisau dan ditorehnya gendang itu, maka Puteri Ratna Sari pun keluarlah dari gendang itu. Puteri Ratna Sari menerangkan bahwa negerinya telah dikalahkan oleh Garuda. Itulah sebabnya ia ditaruh orangtuanya dalam gendang itu dengan suatu cembul. Di dalam cembul yang lain ialah perkakas dan dayang dayangnya. Dengan segera Syah Peri mengeluarkan dayang-dayang itu. Tatkala Garuda itu datang, Garuda itu dibunuhnya. Maka Syah Peri pun duduklah berkasih-kasihan dengan Puteri Ratna Sari sebagai suami istri dihadap oleh segala dayang-dayang dan inang pengasuhnya. 
    Tersebut pula perkataan Indera Bangsawan pergi mencari saudaranya. Ia sampai di suatu padang yang terlalu luas. Ia masuk di sebuah gua yang ada di padang itu dan bertemu dengan seorang raksasa. Raksasa itu menjadi neneknya dan menceritakan bahwa Indera Bangsawan sedang berada di negeri Antah Berantah yang diperintah oleh Raja Kabir. 
    Adapun Raja Kabir itu takluk kepada Buraksa dan akan menyerahkan putrinya, Puteri Kemala Sari sebagai upeti. Kalau tiada demikian, negeri itu akan dibinasakan oleh Buraksa. Ditambahkannya bahwa Raja Kabir sudah mencanangkan bahwa barang siapa yang dapat membunuh Buraksa itu akan dinikahkan dengan anak perempuannya yang terlalu elok parasnya itu. Hatta berapa lamanya Puteri Kemala Sari pun sakit mata, terlalu sangat. Para ahli nujum mengatakan hanya air susu harimau yang beranak mudalah yang dapat menyembuhkan penyakit itu. Baginda bertitah lagi. “Barang siapa yang dapat susu harimau beranak muda, ialah yang akan menjadi suami tuan puteri.” 
    Setelah mendengar kata-kata baginda, si Hutan pun pergi mengambil seruas buluh yang berisi susu kambing serta menyangkutkannya pada pohon kayu. Maka ia pun duduk menunggui pohon itu. Sarung kesaktiannya dikeluarkannya, dan rupanya pun kembali seperti dahulu kala. 
    Hatta datanglah kesembilan orang anak raja meminta susu kambing yang disangkanya susu harimau beranak muda itu. Indera Bangsawan berkata susu itu tidak akan dijual dan hanya akan diberikan kepada orang yang menyediakan pahanya diselit besi hangat. Maka anak raja yang sembilan orang itu pun menyingsingkan kainnya untuk diselit Indera Bangsawan dengan besi panas. Dengan hati yang gembira, mereka mempersembahkan susu kepada raja, tetapi tabib berkata bahwa susu itu bukan susu harimau melainkan susu kambing. Sementara itu, Indera Bangsawan sudah mendapat susu harimau dari raksasa (neneknya) dan menunjukkannya kepada raja.
    Tabib berkata itulah susu harimau yang sebenarnya. Diperaskannya susu harimau ke mata Tuan Puteri. Setelah genap tiga kali diperaskan oleh tabib, maka Tuan Puteripun sembuhlah. Adapun setelah Tuan Puteri sembuh, baginda tetap bersedih. Baginda harus menyerahkan tuan puteri kepada Buraksa, raksasa laki-laki apabila ingin seluruh rakyat selamat dari amarahnya. Baginda sudah kehilangan daya upaya.
    Hatta sampailah masa menyerahkan Tuan Puteri kepada Buraksa. Baginda berkata kepada sembilan anak raja bahwa yang mendapat jubah Buraksa akan menjadi suami Puteri. Untuk itu, nenek Raksasa mengajari Indera Bangsawan. Indera Bangsawan diberi kuda hijau dan diajari cara mengambil jubah Buraksa yaitu dengan memasukkan ramuan daun-daunan ke dalam gentong minum Buraksa. Saat Buraksa datang hendak mengambil Puteri, Puteri menyuguhkan makanan, buah-buahan, dan minuman
pada Buraksa. Tergoda sajian yang lezat itu tanpa pikir panjang Buraksa menghabiskan semuanya lalu meneguk habis air minum dalam gentong.
    Tak lama kemudian Buraksa tertidur. Indera Bangsawan segera membawa lari Puteri dan mengambil jubah Buraksa. Hatta Buraksa terbangun, Buraksa menjadi lumpuh akibat ramuan daun-daunan dalam
air minumnya.
    Kemudian sembilan anak raja datang. Melihat Buraksa tak berdaya, mereka mengambil selimut Buraksa dan segera menghadap Raja. Mereka hendak mengatakan kepada Raja bahwa selimut Buraksa sebagai jubah Buraksa.
    Sesampainya di istana, Indera Bangsawan segera menyerahkan Puteri dan jubah Buraksa. Hata Raja mengumumkan hari pernikahan Indera Bangsawan dan Puteri. Saat itu sembilan anak raja datang. Mendengar pengumuman itu akhirnya mereka memilih untuk pergi. Mereka malu kalau sampai niat buruknya berbohong diketahui raja dan rakyatnya.
                                                                                                                                        Sumber: Buku Kesusastraan Melayu Klasik
  
  
  
  
 

Sabtu, 14 November 2020

CERPEN

 A. Definisi Cerpen dan Antologi Cerpen

1. Definisi Cerpen dan Antologi Cerpen

    Cerpen meupakan akronim dari cerita pendek. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, cerpen berarti kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal kata dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi (pada suatu ketika). Sementara itu, menurut Edgar Allan Poe, cerpenis dari amerika dan perintis fiksi detektif dan kriminal, cerpen adalah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam. Dari kedua pengertian itu dapat disimpulkan bahwa cerpen adalah cerita pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal pada satu tokoh dan satu situasi yang habis dibaca dalam sekali duduk.

2. Ciri-Ciri Cerpen

    Berikut ini ciri-ciri cerpen.

a. Jalan ceritanya pendek.

b. Jumlah kata tidak lebih dari 10.000 kata.

c. Tidak menggambarkan semua kisah tokoh.

d. Tokoh dalam cerpen mengalami masalah atau konflik hingga pada tahap penyelesaian.

e. Kesan cerpen sangat mendalam sehingga pembaca ikut merasakan kisah tersebut.

f. Biasanya hanya menceritakan satu kejadian.

g. Latar yang dilukiskan hanya sesaat dan dalam lingkungan yang relatif terbatas.

3. Jenis Cerpen

    Berdasarkan jumlah kata yang digunakan, cerpen dibagi menjadi tiga, yaitu:

a. Cerpen Mini

b. Cerpen Ideal

c.Cerpen Panjang

B. Nilai-Nilai dalam Cerpen

    Dalam cerpen terdapat beberapa nilai yang terkandung di dalamnya.

a. Nilai Moral

b. Nilai Religius

c. Nilai Budaya

d. Nilai Kepahlawanan

e. Nilai Sosial

f. Nlai Politik


SENJA NAN KELABU

Adinda Cantika Paliwa atau yang akrab disapa Wawa adalah anak semata wayang dari kedua orang tuanya, Pak Palta dan Bu Kirawa. Wawa adalah seorang murid kelas 9 di salah satu SMP terkenal di Jakarta. Setiap hari, pekerjaannya hanyalah mengeluh karena banyaknya tugas yang diberikan oleh gurunya. Maklum saja, hal ini karena 1 bulan lagi ia akan menghadapi ujian nasional. Meski ujiannya sudah dekat, Wawa tetap saja berpacaran. Pacarnya adalah teman seangkatannya yang bernama Toni.  

 Setiap sore, Wawa selalu datang ke sekolah untuk mengikuti les mata pelajaran. Sepulang les, ia biasanya jalan-jalan sebentar bersama Toni, entah ke tempat perbelanjaan ataupun ke taman. Meski Toni adalah seorang badboy di sekolahnya, ia sangatlah romantis. Oleh karena itulah Wawa sangat nyaman bersamanya.

Suatu hari, ketika mereka sedang duduk berdua di taman, Wawa menceritakan masalahnya kepada Toni.

“Ton, aku capek. Kenapa coba kita harus belajar? Aku pengen nikmatin hidup aku tanpa harus belajar. Aku pengen seneng-seneng terus. Kamu punya solusinya gak?” keluh Wawa

Awalnya Toni terdiam, namun setelah beberapa saat, ia tahu solusinya.

“Wa, gimana kalo kita nikah aja?” ajak Toni

“Hah?!” Wawa terkejut mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut Toni

“Wa, Kamu udah bosen belajar kan? Kamu pengen kita seneng seneng kan? Ayo kita nikah! Kalo kita udah nikah nanti, kamu gak bakal pusing kayak gini lagi. Kamu gak harus belajar pelajaran sekolah lagi. Aku janji bakal bikin kamu seneng terus. Aku janji aku bakal bahagiain kamu. Aku janji aku bakal jagain kamu seumur hidup. Aku janji bakal terus ada buat kamu. Aku cinta kamu sepenuhnya. Kamu mau nikah sama aku kan, Wa?” bujuk Toni

“Aku juga cinta sama kamu Ton, tapi aku belum siap buat nikah. Kita masih kecil, masih kelas 9, belum pantes buat nikah.” bantah Wawa

“Ini demi kebaikan kita Wa, kita bakal hidup bahagia berdua. Kita gak perlu pusing pusing mikirin tugas sekolah lagi.” kata Toni

“Kasih aku waktu buat mikir Ton” pinta Wawa

Setelah berpikir keras selama satu minggu, Wawa akhirnya menemukan jawabannya. Ia mau menikah dengan Toni. Ia ingin hidup bersama dengan cintanya, karena segalanya mungkin akan menjadi lebih mudah. Ia memutuskan untuk berbicara dengan kedua orang tuanya terlebih dahulu.

“Ma, Pa, Wawa mau ngomong sesuatu yang penting. Wawa mau nikah sama Toni.” Ucap Wawa

“Apa?!” Pak Palta dan Bu Kirawa sangat terkejut mendengar pernyataan anak semata wayangnya itu.

“Kamu gak boleh nikah kalo belum tamat kuliah!” suara Pak Palta terdengar emosi.

“Aku udah bosen sekolah Pa, aku bosen ngerjain tugas yang gak ada habisnya. Aku sama Toni juga udah saling cinta. Meskipun kami baru pacaran selama 2 bulan, aku udah kenal banget sama Toni. Dia itu merjuangin aku banget, buktinya sebelum kami pacaran Toni rela ninggalin cewek lain demi aku.” ucap Wawa.

“Itu bukan cinta Wa, itu cuma hawa nafsu kalian. Kalian masih kecil, masih terlalu labil buat nikah. Jangan sampe kamu nikah di umur segini. Membangun rumah tangga itu nggak sesederhana yang kamu kira. Dan, kalo sekarang dia ninggalin orang lain demi kamu, maka suatu saat nanti kamu juga bakal ditinggalin sama dia.” Ucap Bu Kirawa.

“Pokoknya papa gak setuju!” ucap Pak Palta.

“Mama juga gak setuju.” sahut Bu Kirawa.

“Pokoknya Wawa bakal tetep nikah sama Toni!” bantah Wawa.

            Wawa langsung berlari ke kamarnya dan menangis sendiri disana. Ia menangis karena orang tuanya tak mau memberinya izin untuk menikah. Ia pun langsung menghubungi Toni untuk memberitahukan hal tersebut. Tak disangka, Toni malah mengajaknya untuk melakukan kawin lari. Kali ini, tanpa pikir panjang Wawa langsung menerima ajakan Toni tersebut.

1 jam kemudian, Todi sudah ada di depan rumah Wawa. Wawa langsung keluar tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada orang tuanya, ia keluar melalui jendela. Sebelum pergi, ia sempat menuliskan surat untuk orang tuanya. Isi suratnya yaitu “PA, MA, MAAF AKU PERGI TANPA IZIN. AKU MAU NIKAH SAMA TONI. PAPA SAMA MAMA GAK USAH KHAWATIRIN AKU. AKU PAMIT.”

            Mendengar suara motor dari luar, Pak Palta seketika bangun dari tidurnya. Ia kemudian mengecek kamar Wawa untuk memastikan apakah anaknya sudah tidur atau belum. Setibanya di kamar Wawa, ia menemukan sebuah surat di atas meja belajar anaknya itu. Ia langsung mengalami serangan  jantung setelah membaca surat pamit dari Wawa. Anaknya itu pergi meninggalkan orang tuanya sendiri hanya demi bersama dengan kekasihnya. Keesokan harinya, Pak Palta dilarikan ke rumah sakit. Namun sayang, ajal sudah menjemputnya. Bu Kirawa pun stress dengan kejadian ini. Anak semata wayang dan suaminya telah pergi meninggalkannya sendiri. Ia kemudian memutuskan untuk bunuh diri dengan meloncat dari lantai 2 rumah sakit.

            Tiga bulan berlalu, kini Wawa berstatus sebagai seorang ibu hamil. Kandungannya baru berusia 1 bulan. Pada suatu hari, tiba-tiba Toni membawa pulang seorang gadis cantik, ia berkata bahwa gadis itu adalah pacar barunya.

“Berani beraninya kamu ngelakuin ini ke aku. Aku rela ninggalin orang tua aku demi kamu. Dan sekarang, kamu tega ninggalin aku demi cewek lain! Apa ini balesan kamu?” protes Wawa kepada suaminya.

“Kamu udah gak penting lagi buat aku. Aku udah gak butuh kamu lagi. Mulai sekarang, kita udah gak ada hubungan apa apa lagi. Aku gak peduli sama kandungan kamu. Cepet kamu pergi dari sini!” jawab Toni dengan nada tinggi.

Perasaan Wawa kini jadi tak karuan, hubungan yang diharapkannya harmonis, kini kandas di tengah jalan. Ia kemudian pulang ke rumah orang tuanya. Di perjalanan, ia hanya menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya. Sesampainya di rumah orang tuanya, ia tak melihat seorangpun disana. Kemudian ada seorang tetangganya yang lewat dan memberitahu bahwa kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Akibatya, tangisan Wawa semakin menjadi-jadi. Ia menyesal telah meninggalakan orang tuanya hanya demi seorang Toni. Tak sampai disitu, ia juga melihat mantan teman sekelasnya yang sedang belajar bersama teman barunya. Ia menyesal telah menikah di bawah umur. Pada akhirnya ia sadar bahwa pendidikan dan orang tua, jauh lebih penting dari cinta.


D. Unsur Pembangun Cerpen

1. Unsur Intrinsik

    a. Tema

    b. Alur

        1. Struktur Alur

            a. Pengenalan Situasi (Exposition)

            b. Pengungkapan Peristiwa (complication)

            c. Menuju Adanya Konflik (rising action)

            d. Puncak Konflik (turning point)

            e. Penyelesaian (ending atau coda)

    c. Latar

        1. Latar Tempat

        2. Latar Waktu

        3. Latar Suasana

    d. Penokohan

        Teknik penggambaran tokoh

        1. Teknik Analitik

        2. Teknik Dramatik

    e. Sudut Pandang

    f. Amanat

2. Unsur Ekstrinsik

    a. Bahasa

    b. Latar Belakang Pengarang

    c. Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Karya Sastra

Senin, 09 November 2020

ANEKDOT

A. Definisi. Ciri, dan Jenis Anekdot 

1. Definisi Teks Anekdot

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, anekdot adalah cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan, biasanya mengenai orang penting atau orang terkenal dan berdasarkan kejadian yang sebenarnya. Orang-orang penting yang diceritakan dalam anekdot bermacam-macam, seperti tokoh politik, sosial, dan agama. Sementara itu, peristiwa yang diceritakan dalam anekdot merupakan peristiwa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Namun seiring perkembangan zaman anekdot juga digunakan untuk menceritakan tokoh dan peristiwa fiktif.

    Anekdot mengandung humor. Humor dalam anekdot dibentuk dengan kelucuan atau kekonyolan tokoh. Tindakan ataupun ucapan tokoh menimbulkan humor karena adanya peristiwa ganjil yang mendasarinya. Humor juga dapat diciptakan melalui permainan kata, makna, ataupun pelesetan terhadap suatu kata ataupun frasa.

    Humor dalam anekdot bukan hanya bersifat menghibur. Biasanya, dalam humor suatu anekdot terdapat kritik dan sindiran yang disampaikan secara halus dalam cerita. Bagian penyampaian kritik  ataupun humor dalam anekdot dapat ditemukan dalam bagian krisis dan reaksi. Pada kedua bagian itulah biasanya amanat juga disampaikan oleh penulis anekdot.

2. Ciri Teks Anekdot

    Anekdot merupakan jenis teks narasi. Namun, ada beberapa aspek yang membedakan anekdot dengan teks cerita lainnya. Berikut beberapa ciri teks anekdot yang membedakannya dengan teks lainnya.

a. Teks anekdot bersifat humor atau lelucon, artinya teks anekdot berisikan kisah-kisah lucu atau bualan.

b. Bersifat menggelitik, artinya teks anekdot akan membuat pembacanya merasa terhibur dengan kelucuan yang ada dalam teks.

c. Bersifat menyindir, artinya isi dalam teks anekdot terkadang menyindir sebagian kelompok tertentu.

d. Menceritakan orang penting, seperti pejabat ataupun tokoh terkenal, tetapi bisa juga orang biasa.

e. Memiliki tujuan tertentu.

f. Kisah cerita yang disajikan hampir menyerupai dongeng.

g. Menceritakan karakter hewan dan manusia sering terhubung secara umum dan realistis.

3. Jenis Anekdot

a. Berdasarkan sifat peristiwanya

1. Anekdot Nonfiksi        

    Anekdot nonfiksi adalah anekdot yang menceritakan peristiwa nyata dengan tokoh dan latar sebenarnya. Faktanya, sulit membuktikan bahwa sebuah anekdot berasal dari kisah nyata atau bukan. Namun, kesulitan tersebut tidak berarti anekdot nonfiksi tidak ada. Pengalaman lucu dalam kehidupan sehari-hari dapat diceritakan kembali sesuai kenyataan sebenarnya. 

2.  Anekdot Fiksi

    Anekdot fiksi adalah anekdot yang menceritakan kisah fiksi atau khayal. anekdot fiksi menggunakan tokoh rekaan atau latar rekaan. Akan tetapi, kadang-kadang terdapat  anekdot dengan bukan rekaan. Namun, latar yang digunakan anekdot tersebut bersifat fiktif. Sebaliknya, kadang-kadang digunakan latar bukan rekaan atau benar-benar ada. Namun, pada anekdot tersebut tokoh yang digunakan bersifat fiktif.

b. Berdasarkan Tokoh

1. Anekdot Tokoh Terkenal

a. Anekdot Tokoh Terkenal Nonfiksi

     Anekdot tokoh terkenal nonfiksi bersumber dari kisah-kisah nyata yang dilakoni oleh tokoh-tokoh terkenal. Anekdot ini sering diceritakan sendiri oleh tokoh bersangkutan atau oleh orang lain yang mengetahui kejadian sebenarnya.

b. Anekdot Tokoh Terkenal Fiksi

   Anekdot tokoh terkenal fiksi menceritakan kisah tokoh terkenal yang merupakan hasil rekaan pengarangnya. Tokoh tersebut dapat diambil dari tokoh film, tokoh novel, atau tokoh dongeng. Contoh anekdot tokoh terkenal berupa fiksi adalah anekdot Abu Nawas.

2. Anekdot Sufi

     Anekdot sufi adalah anekdot yang menceritakan kisah-kisah sufi atau pemuka agama. Anekdot sufi menceritakan pengalaman sehari-hari seorang sufi. Sufi yang menjadi tokoh dalam anekdot ini bersifat nonfiksi ataupun fiksi.

3. Anekdot Binatang

        Anekdot binatang adalah anekdot yang menggunakan tokoh seekor binatang. Anekdot ini mengumpamakan binatang seperti manusia. Dalam anekdot ini, binatang dapat berbicara dan berpikir seperti manusia. Anekdot ini seering digunakan untuk menentukan nilai-nilai kehidupan. Namun, anekdot ini juga dapat digunakan untuk mengkritik. 

c. Berdasarkan Tujuan

1. Anekdot Kritik

2. Anekdot Nasihat

3. Anekdot Hiburan

                                                      

                                                  Antrean Raskin

    Alkisah suatu hari ada pembagian beras untuk keluarga miskin alias raskin di balai desa. Karena antrean terlalu panjang, salah satu warga yang ikut mengantre pun marah-marah

    "Ini pasti gara-gara kepala desa yang korupsi, kita jadi susah begini." kata warga tersebut.

    Karena jengkel, dia lantas mendatangi rumah kepala desa sembari berkata, "Kalau begini caranya, saya akan melengserkan kepala desa sekarang juga."

    Sesampainya di rumah kepala desa, ternyata sudah banyak orang mengantre untuk menghakimi kepala desa. Bahkan, antrean di rumah kepala desa lebih panjang dari pada antrean di tempat pembagian raskin.

    Warga yang tadi meninggalkan antrean pembagian raskin dengan kesal ngomel sendiri, "Kalau harus ngatre juga, mendingan ngantre raskin.

B. Mengevaluasi Makna Tersirat dalam Teks Anekdot 

    1. Mendata Pokok-Pokok Isi dalam Teks Anekdot 

    Anekdot termasuk teks narasi. Sebuah teks narasi mempunyai pokok-pokok isi yang menyusun cerita. Pokok-pokok isi tersebut dapat ditemukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan isi cerita. Kita dapat menggunakan kata tanya apa, siapa, kapan, di mana, dan mengapa.

    2. Mengidentifikasi Makna Tersirat dalam Teks Anekdot

    Anekdot adalah sebuah cerita yang mengandung makna tersirat. Makna tersirat dalam anekdot dapat diketahui setelah Anda membaca keseluruhan cerita. Makna tersurat dalam suatu anekdot dapat berupa pesan, kritik, ataupun nasihat. 

C. Struktur dan Kebahasaan Teks Anekdot

    1. Struktur Teks Anekdot

        Struktur teks anekdot yaitu abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan koda

    2. Kebahasaan Teks Anekdot

        a. Menggunakan kalimat retoris

        b. Menggunakan konjungsi waktu

        c. Menggunakan kalimat tanya

        d. Menggunakan kalimat imperatif

        e. Menggunakan kalimat seru

Penelitian Kualitatif

1. Pengertian Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah pendekatan ilmiah yang digunakan untuk memahami makna, realitas sosial, a...