Sabtu, 17 September 2022

Contoh Proposal Penelitian

 

 


HUBUNGAN TEORI PENCIPTAAN ALAM SEMESTA

DALAM AL-QUR’AN DENGAN TEORI BIG BANG

 

A. LATAR BELAKANG

            Al-Qur’an diturunkan pertama kali kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui perantara malaikat jibril. Al-Qur’an merupakan salah satu mukjizat dan tanda kenabian Nabi Muhammad SAW. Di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang memerintahkan manusia untuk berfikir dan mengkaji segala sesuatu ataupun kejadian yang terjadi di alam semesta ini. Allah SWT berfirman dalam  Al-Qur’an :

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَلَكَهُ يَنَابِيعَ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهُ حُطَامًا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Artinya : “Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Az-Zumar[39]:41)

            Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan memiliki akal dan pikiran. Akal dan pikiran ini haruslah digunakan untuk mengamati dan mengkaji fenomena-fenomena yang ada di alam semesta ini. Karena itu, manusia pada zaman dahulu banyak memikirkan dan mempertanyakan segala sesuatu di dunia ini. Mereka itulah yang kemudian akan menjadi ilmuwan. Hasil pikiran mereka kemudian diolah dalam rangkaian kata-kata sehinngga menjadi teori. Dengan bantuan alat sederhana, ilmuwan zaman dahulu mampu untuk menjelaskan tentang banyak hal yang ada di alam semesta ini dengan teori-teori yang ditemukannya.

Ilmuwan muslim pada zaman dahulu dalam melakukan penelitian tentunya tidak lepas dari ayat-ayat Al-Qur’an. Berbeda dengan zaman sekarang ini, kebanyakan muslim hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai kitab yang hanya dibaca atau bahkan hanya dijadikan sebagai pajangan saja. Sangat jarang orang yang mau mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an dan menghubungkannya dengan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Karena Al-Qur’an bukan hanya kitab yang membahas ilmu tentang agama dan hubungan antar manusia saja. Namun, juga mengandung berbagai macam ilmu. Seperti ilmu fisika, astronomi, kimia, geografi, kebumian, dan lain-lain. Namun, tentu seluruh ilmu yang ada dalam  Al-Qur’an hanya dapat diperoleh oleh orang-orang yang mau berfikir dan mengkaji tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Karena dengan mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an dan tanta-tanda kebesaran Allah maka para ilmuwan muslim zaman dahulu dapat melahirkan berbagai macam teori yang masih digunakan sampai sekarang.

Teori-teori sains yang ada pada zaman dahulu tentu ada yang mengalami perubahan berkat kemajuan teknologi. Berkat kemajuan teknologi juga banyak masalah yang sulit dipecahkan menjadi lebih mudah untuk diselesaikan. Begitu juga dengan teori proses pembentukan alam semesta ini. Para ilmuwan di zaman ini telah melahirkan banyak teori baru tentang pembentukan alam semsta. Salah satu teori pembentukan alam semesta yang terkenal adalah teori Big Bang. Namun, teori yang ada belum tentu benar tidak seperti kebenaran Al-Qur’an yang bersifat mutlak. Dengan adanya penelitian ini peneliti berharap agar orang orang tidak hanya menganggap Al-Qur’an sebagai kitab yang hanya berisi aturan-aturan keagamaan saja. Namun juga, sebagai sumber ilmu-ilmu yang ada.

Karena itulah, penulis mengambil judul “Hubungan Teori Penciptaan Alam Semesta Dalam Al-Qur’an Dengan Teori Big Bang” untuk mencari hubungan antara teori Big Bang dengan teori penciptaan alam semesta dalam Al-Qur’an.

 

 

 

 

B. RUMUSAN MASALAH

Bagaimana hubungan penciptaan alam semesta dalam Al-Qur’an dengan  teori Big Bang ?

C. BATASAN MASALAH

Penelitian ini hanya difokuskan pada hubungan Teori Big Bang dengan teori penciptaan alam semesta dalam QS. Al-Anbiya’[21]:30 dengan menggunakan Tafsir Ibnu Katsir.

D. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian kali ini adalah untuk mengetahui hubungan penciptaan alam semesta dalam Al-Qur’an dengan  teori Big Bang.

E. MANFAAT PENELITIAN

1.      Manfaat Teoritis

Memberikan informasi kepada pembaca tentang hubungan penciptaan alam semesta dalam Al-Qur’an dengan  teori Big Bang.

2.      Manfaat Praktis

Sebagai referensi untuk peneliti yang ingin mengambil penelitian serupa.

F. KAJIAN PUSTAKA

a.      Definisi Istilah dan Teori

1.      Penciptaan dan Alam Semesta

Menurut KBBI (1994:191) penciptaan berasal dari kata cipta (kesanggupan) yang berarti pikiran untuk mengadakan sesuatu yang baru. Menurut A. W. Munawir (1997:966) Kata ‘alam (العالم) secara bahasa berarti seluruh alam semesta. Jika dikatakan al-kauny (الكوني): al-‘alamy (العالمي) artinya yang meliputi seluruh dunia. Alam semesta fisik didefinisikan sebagai keseluruhan ruang dan waktu (secara kolektif ruang-waktu) dan isinya (Michael Zeilik dan Stephen A. Gregory : 1998) .

Sehingga dapat disimpulkan bahwa penciptaan alam semesta adalah proses pengadaan sesuatu yang baru yaitu berupa ruang-waktu dan segala isi di dalamnya. Baik itu berupa bintang, planet, asteroid dan benda-benda lainnya. Penciptaan alam semesta ini sangatlah teratur sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Anbiya[21]:33

وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَۗ كُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ

Dan Dialah yang manciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya.”

Dari ayat diatas dapat disimpulkan bahwa Allah SWT menciptakan alam semesta ini dengan sangat teratur. Karena setiap benda yang ada di alam semesta ini selalu beredar dalam garis edarnya masing-masing. Sehingga, benda-benda tersebut tidak akan saling berbenturan.

2.      Pengertian Al-Qur’an

Ansori (2013:17) berpendapat bahwa Al-Qur’an ecara bahasa diambil dari kata:  قرا – يقرا – قراة yang berarti sesuatu yang dibaca. Menurut Quraish Shihab (2007:3) Al-Qur’an secara harfiah berarti “bacaan sempurna” merupakan suatu nama pilihan Allah yang sungguh tepat, karena tiada suatu bacaan pun sejak manusia mengenal tulis-baca lima ribu tahun yang lalu yang dapat menandingi Al-Qur’an   Al-Karim, bacaan yang sempurna lagi mulia itu.

 Ansori (2013:18) berpendapat Al-Qur’an menurut istilah adalah firman Allah SWT. Yang disampaikan oleh Malaikat Jibril dengan redaksi langsung dari Allah SWT. Kepada Nabi Muhammad SAW, dan yang diterima oleh umat Islam dari generasi ke generasi tanpa ada perubahan.

Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah SWT yang sempurna. Dan disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW yang isinya tidak akan berubah sampai kapanpun.

3.      Tafsir QS. Al-Anbiya[21]:30

Surah Al-Anbiya’ adalah surah ke-21 dalam Al-Qur’an yang diturunkan di Makkah sehingga termasuk golongan surah makkiyah. Pada surah Al-Anbiya' ayat ke 30 Allah SWT berfirman :

اَوَلَمْ يَرَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنٰهُمَاۗ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ

“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulunya menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?”(QS. Al-Anbiya’[21]:30).

 Menurut Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H. Ayat ini ditafsirkan memiliki makna Apakah mereka (yang kafir terhadap Rabb mereka dan mengingkari pengikhlasan ibadah bagiNya) tidak menyaksikan sebuah obyek kasat mata yang akan mengantarkan mereka menuju keyakinan bahawa Allah, Dia-lah Rabb segala sesuatu, Dzat Yang Maha Terpuji, Dzat Yang Mahamulia dan Dzat yang disembah semata. Dengan menyaksikan langit dan bumi, maka mereka akan menjumpainya dalam keadaan “suatu yang padu,” bagian ini (langit) tidak terlihat adanya mendung maupun hujan. Sementara itu, bagian yang lain (bumi) terlihat diam mati, tanpa tumbuh-tumbuhan padanya. “Kemudian Kami pisahkan,” langit dengan hujan dan bumi dengan tumbuhan. Bukankah Dzat yang menciptakan mendung di langit, setelah kondisi cuaca cerah tanpa ada awan-awan tipis, dan menempatkan air yang deras di dalamnya, kemudian menghalaunya menuju daerah yang mati, yang penjuru-penjuru wilayahnya sudah penuh dengan debu dan airnya sudah semakin menipis, selanjutnya Dia menurunkan hujan di tempat itu, sehingga tanah menjadi bergoyang dan begerak serta berkembang dan menumbuhkan tanaman indah dari setiap jenisnya, yang beragam bentuk dan manfaatnya, bukankah demikian itu merupakan petunjuk bahwa Dia-lah Dzat yang Mahabenar, sedangkan selain-Nya merupakan sesembahan yang batil. Dia-lah Dzat Yang Menghidupkan orang-orang yang mati dan Dia-lah Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang? Karena itu, Allah berfirman, “Maka mengapa mereka tiada juga beriman,” dengan keimanan yang benar, tanpa diselipi unsur keraguan dan kesyirikan.

Menurut Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI Orang-orang kafir tidak berpikir jernih dalam mengamati fenomena alam, padahal peristiwa yang ada di alam ini merupakan bukti adanya Allah dan kekuasaan-Nya yang mutlak. Allah bertanya,"dan apakah orang-orang kafir, kapan dan di mana saja mereka hidup, tidak memperhatikan secara mendalam bahwa langit dan bumi sebelum terjadi ledakan besar, keduanya dahulu menyatu, kemudian kami pisahkan antara kedua-Nya dengan mengangkat langit ke atas dan membiarkan bumi seperti apa adanya; dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; 'kehidupan dimulai dari air (laut), makhluk hidup berasal dari cairan sperma dan air bagian yang penting bagi makhluk hidup' maka mengapa mereka, orang-orang kafir itu tidak tergerak hatinya untuk beriman kepada Allah'"31. Pada ayat ini Allah mengarahkan pandangan manusia kepada gunung-gunung dan jalan-jalan, serta daratan yang luas di bumi. Dan kami telah menjadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh dengan maksud agar ia, bumi dengan putarannya yang cepat sekali itu, tetap mantap, tidak terjadi guncangan bersama mereka, manusia dan makhluk hidup lainnya. Dan kami jadikan pula di bumi jalan-jalan yang luas supaya semua makhluk dapat dengan tenang menjalani kehidupan, dan pada akhirnya agar mereka mendapat petunjuk Allah, baik yang diberikan melalui wahyu maupun petunjuk Allah berupa fenomena alam yang membentang luas ini.

Menurut tafsir Ibnu Katsir Allah Ta’ala berfirman mengingatkan tentang kekuasaan-Nya yang sempurna dan kerajaan-Nya yang agung. {اَوَلَمْ يَرَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا} “Dan apakah orang orang kafir itu tidak mengetahui,”  yaitu orang-orang yang mengingkari Allah dan menyembah selain Dia. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Allah adalah Rabb Yang Maha Esa dalam menciptakan segala sesuatu lagi bebas dalam penataan, maka bagaimana mungkin layak Dia diibadahi bersama selain-Nya  atau disekutukan dengan selain-Nya ?. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa langit dan bumi dahulunya bersatu, yaitu seluruhnya sambung menyambung, bersatu dan sebagainya bertumpuk diatas nbagian yang lainnya pertama kali ?. Lalu, satu bagian yang ini terpecah belah , maka langit menjadi tujuh dan bumi menjadi tujuh serta antara langit dunia  dan bumi  dipisahkan oleh udara, hingga hujan turun dari langit dan tanah pun menumbuhkan tanam-tanaman. Untuk itu, Dia berfirman , {وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ } “Dan dari air, Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak beriman ?.” Yaitu, mereka menyaksikan berbagai makhluk, satu kejadian secaara nyata . Semua itu adalah bukti tentang adanya Maha Pencipta yang berbuat secara bebas lagi Maha Kuasa atas yang dikehendaki-Nya.

Isma’il bin Abi Khalid berkata: “Aku bertanya kepada Abu Shalih al-Hanafi tentang firman-Nya {اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنٰهُمَاۗ }”Bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya.” Maka dia menjawab: “Dahulu langit itu satu, kemudian dipisahkan menjadi tujuh lapis langit. Dan dahulu bumi itu satu, kemudian dipisahkan menjadi tujuh lapis bumi.” Demikian yang dikatakan oleh Mujahid dan dia menambahkan: “Dahulu, langit dan bumi tidak saling bersentuhan.”

Sa’id bin Jubair berkata: “Bahkan, dahulu langit dan bumi saling bersatu padu. Lalu, ketika langit diangkat dan bumi dihamparkan, maka itulah pemisahan keduanya yang disebutkan oleh Allah dalam Kitab-Nya.” Al-Hasan dan Qaradah berkata: “Dahulu, keduanya menyatu, lalu keduanya dipisahkan dengan udara ini.”

Dan firman-Nya {وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ} “Dan dari air, Kami jadikan segala sesuatu yang hidup,” yaitu asal setiap yang hidup.

Dari berapa tafsir yang berbeda tentang surah Al-Anbiya’ ayat 30, tidak ada perbedaan penefsiran antara tafsir Ibnu Katsir dengan tafsir yang lain yaitu bahwa orang-orang kafir tidak memperhatikan bahwa langit dan bumi itu dalam satu kesatuan yang padu. Hingga, Allah SWT memisahkan keduanya. Kemudian, diturunkan oleh-Nya air dari langit sehingga terciptalah kehidupan di bumi.

 

4.      Teori Big Bang

Dalam bahasa Indonesia Big Bang dapat diartikan sebagai “ledakan besar”. Istilah Big bang pertama kali diciptakan oleh ahli astrofisika asal Universitas cambridge Fred Hoyle pada tahun 1949. Istilah ini ia ciptakan dengan maksud untuk mengejek, karena ia sendiri tidak mempercayai teori Big Bang. Fred Hoyle sendiri merupakan salah satu tokoh yang menyatakan bahwa alam semesta selalu berada dalam keadaan tetap bahkan hingga waktu yang akan datang.

Teori Big Bang yang dikembangkan oleh George Lemaitre mengatakan bahwa, pada mulanya alam semesta ini berupa sebuah “primeval atom” yang berisi semua materi dalam keadaan yang sangat padat. Selain daripada itu, yang ada hanyalah kekosongan. Suatu ketika atom ini meledak dan seluruh materinya terlempar ke ruang alam semesta. Sejak itu dimulailah ekspansi (mengembang) yang berlangsung ribuan juta tahun, dan akan terus berlangsung jutaan tahun lagi. Timbul dua gaya yang saling bertentangan, yang sehingga alam semesta masih terus akan mengembang (ekspansi). Pada suatu saat nanti ekspansi tersebut pasti berakhir.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa menurut Teori Big Bang, seluruh materi dan energi dalam alam semesta ini pernah menyatu dalam bentuk bola raksasa. Bola raksasa ini kemudian meledak dan seluruh materi mengembang karena energi ledakan yang sangat besar. Ledakan inilah yang kemudian disebut sebagai Big Bang.

Menurut George Gamow, setelah Big Bang terjadi, seharusnya masih dapat ditemukan sisa radiasi ledakan itu dan radiasi ini harus tersebar merata di alam semesta. Kemudian pada tahun 1965, radiasi itu tanpa sengaja ditemukan oleh Robert Prenzias dan Robert Nilson. Radiasi itu tidak berasal disatu titik tetapi tersebar merata seperti yang telah disebutkan oleh George Gamow. Radiasi ini kemudian dipercaya sebagai sisa-sisa dari peristiwa Big Bang.

 

 

5.      Bukti-bukti yang mendukung Teori Big Bang

·   Pengembangan alam semesta

Seorang ilmuwan bernama Edwin Hubble berhasil menemukan bahwa semua galaksi yang ada di alam semesta ini selalu bergerak menjauh satu sama lain dengan kecepatan tertentu. Hal ini kemudian yang membuat alam semesta selalu mengembang setiap waktu ke segala arah.

Saat Big Bang terjadi sejumlah energi yang sangat besar dikeluarkan yang menyebabkan partikel-partikel tersebar ke segala arah dengan kecepatan tertentu. Partikel-partikel inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal terbentuknya benda-benda langit. Energi kinetik pada benda benda tadi masih bertahan hingga sekarang. Karena energi itulah yang menyebabkan galaksi-galaksi di alam semesta ini masih terus bergerak menjauh. Sebagaimana roti yang semula hanya gumpalan kecil kemudian dioven hingga mengembang. Seperti itulah kiranya proses pembentukan alam semesta menurut teori Big Bang.

·   Radiasi latar belakang gelombang mikro kosmis

Ketika Big Bang terjadi seluruh partikel berhamburan ke segala arah. Partikel-partikel ini bergerak dengan kecepatan tinggi yang diakibatkan tingginya temperatur saat ledakan terjadi. Partikel-partikel tersebut terdiri atas, proton, elekton, neutron, foton, dll. Semua pertikel yang terpencar ke segala arah memiliki kemungkinan saling bertumbukan. Ketika foton bertumbukan dengan suatu partikel, foton tersebut dapat dipantulkan ataupun dihamburkan. Hamburan foton ini kemudian menghasilkan radiasi gelombang yang lama kelamaan panjang gelombangnya akan mendekati gelombang mikro. Hal ini terjadi karena ketika suhu turun, elektron mulai bergabung dengan inti atom. Sehingga, ketika terjadi tumbukan antara foton dan atom netral yang sudah terbentuk, foton lebih sering dipantulkan daripada dihamburkan. Radiasi gelombang mikro inilah yang diamati oleh Arno Penzias dan Robert Wilson.

 

b.      Hasil Kajian yang Relevan Sebelumnya

1.      Penelitian Nidaa UIKhusna

Menurut hasil penelitian Nidaa UIKhusna yang berjudul “Studi Komperatif Antara Teori-M Stephen Hawking dengan Tafsir Ilmi Penciptaan Jagat Raya, Kementrian Agama RI” dapat disimpulkan bahwa konsep penciptaan alam semesta yang dihasilkan sains tidak bertentangan dengan apa yang disebutkan dalam al-Qur’an. Namun, perbedaannya adalah menurut Teori-M Stephen Hawking alam semesta menciptakan dirinya sendiri dari ketiadaan karena adanya hukum Fisika yang bekerja. Sedangkan dalam al-Qur’an, Allah SWT menciptakan alam semesta dari ketiadaan.

2.      Penelitian Mersi Hendra

Menurut hasil penelitian Mersi Hendra yang berjudul “Konsep Penciptaan Bumi dalam Al-Qur’an (Studi terhadap QS. Al-Anbiya’[21]:30) Menurut Hamka dalam Tafsir Al-Azhar” dapat disimpulkan bahwa pada zaman awal penciptaan alam semesta (penciptaan langit dan bumi) keduanya merupakan satu kesatuan yang berpadu satu, tidak tercerai, tidak tanggal. Maka lama kelamaan terpisah-pisahlah diantara satu dengan yang lain. Jadi firman Allah yang berbunyi “...fafataqnahuma…” merupakan isyarat tentang apa yang terjadi pada langit dan bumi (diumpamakan cairan atom/segumpal) pertamanya berupa Big Bang yang mengakibatkan tersebarnya benda-benda alam raya ke segala penjuru, yang berakhir dengan terciptanya berbagai benda langit yang terpisah, termasuk tata surya dan bumi.

G. METODOLOGI  PENELITIAN

1.      Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 20-27 Oktober 2021.

2.      Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Madarasah Aliyah Negeri Insan Cendekia Lombok Timur.

 

3.      Objek Penelitian

Objek pada penelitian kali ini adalah teori penciptaan alam semesta baik itu menurut Teori Big Bang ataupun Menurut QS. Al-Anbiya[21]: 30.

4.      Metode Pengumpulan data Penelitian

Pada penelitian kali ini peneliti menggunkan metode dokumentasi untuk mengumpulkan data. Dimana peneliti akan mengumpulkan data dari dokumen, buku dan jurnal untuk mencari adakah hubungan antara teori pembentukan alam semsta dalam Al-Qur’an dengan Teori Big Bang.

5.      Metode Analisis Data

Pada penelitian kali ini peneliti menggunakan metodologi korelasional. Dimana peneliti akan mencari hubungan antara dua variabel yang ada, yaitu teori pembentukan alam semesta dalam Al-Qur’an dengan Teroi Big Bang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

A.W. Munawir. 1997. Kamus al-Munawir Arab-Indonesia Terlengkap. Surabaya : Pustaka Progresif.

Anshori. 2013. Ulumul Quran. Jakarta : Rajawali Press.

Deena, Maysa. 2019. Siap Jadi Juara Olimpiade Sains Nasional Astronomi SMA Sederajat. Yogyakarta : PUSTAKABARUPRESS .

Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdurahman bin Ishaq Al-Sheikh. 2005. Tafsir Ibnu Katsir jilid 5. Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

Hendra, Mersi. 2020. Konsep Penciptaan Bumi dalam Al-Qur’an (Studi terhadap    QS. Al-Anbiya’[21]:30) Menurut Hamka dalam Tafsir Al-Azhar. Bukittinggi : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, IAIN Bukittinggi.

Quran Surah Al-Anbiya’ Ayat 30, https://tafsirweb.com/5542-quran-surat-al-anbiya-ayat-30.html. 15 Februari 2021 pukul 13.24.

Shihab, Quraish. 2007. Wawasan Al-Qur’an : tafsir tematik atas pelbagai persoalan umat. Bandung : Mizan.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

UIKhunsa, Nidaa. 2013. KONSEP PENCIPTAAN ALAM SEMESTA (Studi Komperatif Antara Teori-M Stephen Hawking dengan Tafsir Ilmi Penciptaan Jagat Raya, Kementrian Agama RI). Jakarta : Fakultas Ushuluddin universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah.

Yahya, Harun. 2003. Keajaiban Pada Atom. Bandung : Dzikra.

Yasin, Maskuri. 1995. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Zeilk, Michael dan Stephen A. Gregory. 1998. Introductory Astronomy & Astrophysics. United States : Saunders College Publishing.

Senin, 12 September 2022

SENJA DI KAKI BUKIT


Dia tersenyum kearahku bersamaan dengan sinar jingga menerpa wajahnya. Aku menghela napas, bukan ini yang kuinginkan. Suasana canggung menyelimuti hingga sang surya benar-benar muncul ke permukaan. Sunrise yang indah, tetapi senyumnya mengacaukan. Dia mendekat, duduk di sampingku dengan senyum yang masih terukir di bibirnya. Aku benci dia yang mengajakku ke tempat ini. Aku merapatkan jaket yang kukenakan, hawa di puncak bukit begitu dingin. Demi mengajakku ke tempat ini, dia rela menjemputku pukul tiga dini hari.

            “Senyum dong, kan kamu sudah melihat fajar yang begitu indah di tempat ini.”

            “Kenapa harus di sini?”

            “Aku tahu, kamu membenci tempat ini. Tapi, tidak salah kan mencoba untuk menghilangkan rasa benci itu?”

            “Ini ulang tahunku, Rel. Seharusnya aku bisa bahagia hari ini. Tapi, kenapa kamu mengacaukannya dengan mengajakku ke tempat ini?”

            Tak membutuhkan jawaban, aku langsung bangkit dan meninggalkan tempat itu. Aku tak tahu arah, Tetapi aku harus terus melangkah. Menjauh dari Farel dan bukit ini. Aku tak bisa berlama-lama di sini. Kenangan buruk itu selalu terngiang di kepalaku. Aku menoleh ke belakang, Farel tak mencoba mengejarku. Aku tak peduli dengan hal itu. Yang terpenting, aku harus pergi dari tempat ini.

            Napasku tak teratur, aku sudah berjalan sejauh yang aku bisa. Aku tak tahu aku berada dimana sekarang. Aku duduk di atas batu, menangis. Menangisi kejadian dua tahun lalu. Dulu, aku sangat ingin mengunjungi tempat ini. Berkemah, menikmati fajar dan senja di sini. Tapi, kejadian dua tahun lalu membuatku tak ingin sama sekali mengunjungi tempat ini.

            “Rinda…”

            Suara itu membuatku menoleh.

            “Aku tahu kamu tak akan bisa pergi jauh.”

Aku memalingkan wajah, aku tak ingin melihatnya.

            “Kalau kamu terus ngambek seperti ini, nanti aku tak mau mengantarmu pulang. Aku akan membiarkanmu di tempat ini.”

            “Aku bisa naik ojek.”

Dia mendekatkan mulutnya ke telingaku. “Ojek di sini menyeramkan loh,” bisiknya. 

            “Terserah.”

            “Rinda.” Dia memanggilku, lembut

            Aku hanya bergumam menjawab panggilannya.

            “Aku tidak bermaksud membuatmu sedih di hari ulangtahunmu.”

            Aku hanya diam, menyimak.  Dia melanjutkan perkataannya. “Kamu harus belajar mengikhlaskan, Rinda. Itu semua takdir Tuhan yang sudah direncanakan.”

            “Seharusnya kamu mengerti aku, Farel. Kamu sahabatku. Lalu kenapa kamu membuatku kembali mengingat lagi bagaimana kakakku pergi meninggalkanku untuk selamanya. Kamu tak mengerti. Kamu tak mengerti rasanya ditinggal oleh kakak yang sangat menyayangimu.”

            Air mata terus mengalir dari mataku. Aku sudah tak bisa menahan gemuruh amarah di dadaku.

            “Aku memang tak mengerti rasanya. Tapi tak bisakah kamu berhenti membenci apa yang sebenarnya kamu tak benci. Aku tahu, kamu sangat mencintai pemandangan di bukit ini. Kamu harus tahu, Rinda. Kecelakaan yang menimpa kakakmu bukan salah bukit ini, bukan kehendak bukit ini juga. Lalu apa alasanmu membenci bukit ini?”

            Aku terdiam, tak bisa menjawab. Aku juga tak tahu apa alasanku membenci bukit ini. Kakakku pergi saat menuju bukit ini. Kendaraannya jatuh ke jurang dekat bukit ini dua tahun lalu.

            “Itu semua takdir Tuhan, Rinda. Sudah ketetapan dari-Nya. Kamu harus ikhlas. Kita tak pernah tahu kapan dan dalam keadaan apa ajal akan menjemput kita. Jangan pernah membenci tempat ini. Itu sama saja dengan kamu membenci takdir Tuhan.”

            Apa yang dikatakan Farel benar, aku tak seharusnya bersikap seperti itu. Itu semua adalah takdir Yang Maha Kuasa. Dia adalah pemilik segalanya, bahkan nyawa pun berhak untuk diambil kembali oleh-Nya.

···

            Langit sudah mulai menjingga saat aku dan Farel tiba di kaki bukit. Pemandangan yang sangat indah. Akhirnya, aku menyadari bahwa rasa benciku tak sebanding dengan keindahan yang diberikan bukit ini. Aku juga mulai sadar bahwa kesedihanku tak sebanding dengan takdir indah yang diberikan Tuhan selama aku hidup.  Sekarang, aku mengerti kenapa sahabatku mengajakku kesini. Agar aku sadar bahwa selama ini aku melakukan hal yang salah dengan membenci tempat yang indah ini. Sekarang mataku telah terbuka, menyadari betapa bodohnya aku membenci apa yang harusnya aku cintai. Ternyata benar, benci dan cinta jaraknya hanya setips benang. Pemandangan yang disuguhkan bukit ini benar-benar membuatku jatuh cinta. Akhirnya, aku bisa menikmati senja di tempat ini. Tempat yang dulunya aku benci.  Ini adalah kado yang sangat spesial dari sahabatku.

Rabu, 07 September 2022

YANG TAK TERPANTUL DALAM CERMIN

 

         Ketika senja datang menggeser sinar mentari perlahan ke ufuk barat, meninggalkan sinar kemerah-merahan, seolah langit sedang merona dibuatnya. Aku termenung. Memandang kosong kapas-kapas halus yang terbendung di langit. Suasana mulai meredup. Menyambut sang kegelapan menguasai semesta dan mulai menyelimuti bumi dengan begitu tenang dan dingin. Hari ini aku teringat lagi akan semua memori lama yang kucoba pendam jauh di dasar ingatan. Semua itu berkelebatan dengan cepat di dalam pikiranku seolah menyaksikan cerita yang tak ada habisnya. Pikiran ini benar-benar membunuhku. Mengingat yang seharusnya tak pernah kuingat lagi untuk selamanya, membuatku mati berkali-kali. Tatapan kosongku masih terarah ke langit senja yang berganti malam. Masih setia dengan pikiran akan luka yang bersarang di relung hati. Ada banyak luka terpendam yang tak bisa untuk disembuhkan, terus menempel di angan hingga kini. Kenangan akan masa kecil yang seharusnya tak pernah kualami.

Sejak kecil aku harus menghadapi betapa kejamnya kehidupan. Hidup ditengah keluarga yang tak pernah memberikan kasih sayang membuatku tak henti-hentinya menangis di tiap malam. Ayahku selalu menyiksaku saat aku tak sesuai kehendaknya. Bukan cuma aku, ibuku juga. Dia selalu menatap tajam, memukul atau menyiksa dengan cara yang tak biasa. Ia bahkan tak peduli pada darah segar yang telah membanjiri tubuh. Diam, meratap, memohon ampun dan menangis adalah hal yang bisa kulakukan. Tentu saja aku tak bisa melawan seorang pria dewasa dengan tubuh kecilku yang lemah. Bagian yang paling tak bisa kumaafkan adalah kematian ibuku yang disebabkan olehnya. Sejak saat itu aku harus menghadapinya sendiri. Tak ada lagi yang membelaku ataupun memelukku disaat ketakutan melanda. Terkadang aku berpikir bahwa Tuhan itu tak pernah ada. Kenapa ia tak pernah menolongku saat aku disiksa seperti ini. Seandainya Tuhan tak mempertemukan ayah dan ibu, maka aku takkan pernah ada. Begitu pula dengan ibu, ia tak perlu merasakan penderitaan yang teramat dalam. Sayang, takdir telah tertulis dan realita telah berbicara. Aku tak mampu melawan kuasa Sang Pencipta.

 Penyiksaan itu terus berlangsung hingga aku berumur 12 tahun. Saat itulah ayah meninggal secara misterius. Dia tewas dibunuh oleh perampok yang masuk rumah katanya. Menurut laporan, saat itu rumah benar-benar berantakan seperti sudah diobrak-abrik oleh perampok. Namun anehnya, tak ada satupun barang yang hilang. Hingga kini tak diketahui siapa pelakunya. Aku pun tak ingat apa-apa. Saat itu yang bisa kulakukan hanyalah menangis, meringkuk gemetaran melihat sesuatu yang seharusnya tak pernah kulihat seumur hidupku. Kini aku benar-benar sendiri. 

Langit gelap telah menguasai sepenuhnya. Angin malam ini sedikit lebih kencang dibanding biasanya. Mungkin dunia ikut merasakan badai yang memporak-porandakan pikiranku sejak tadi. Namun apalah daya, semua itu hanya dapat kupendam hingga kini. Aku tak dapat menceritakan masa lalu yang menyakitkan itu pada siapapun. Yang bisa kulakukan hanyalah diam tak berdaya atas apa yang telah terjadi. Biarkan semuanya menjadi memori kelam yang terus menerus menghantui di setiap tidurku. Meskipun aku sungguh ingin melupakannya.

***

Sejak kematian ayah, aku telah resmi menjadi anak yatim piatu. Kemudian aku tinggal di sebuah panti asuhan yang berada di pinggiran kota. Meski tinggal di panti asuhan, aku harus tetap berusaha agar aku menjadi anak yang mandiri. Mengamen dari bis satu ke bis yang lain sudah menjadi rutinitas keseharianku. Kehidupan terasa begitu sulit hingga kemudian aku bertemu seorang malaikat yang bersedia membantu seluruh anak di panti asuhan dengan memberikan janji masa depan yang lebih baik. Ia datang mengunjungi kami hampir tiap hari, menyalurkan bantuan-bantuan, mengajar kami hingga menyekolahkan kami semua. Segara namanya. Kami biasa memanggilnya kak Gara. Seiring berjalannya waktu, aku mulai merasakan perasaan yang berbeda setiap kali melihat malaikat kehidupanku. Ya, dia adalah malaikat kehidupanku. Aku tak pernah merasakan kasih sayang yang teramat tulus selain darinya. Namun, aku terus berusaha memendam perasaanku karena aku sadar bahwa ia hanya menganggapku sebagai anak kecil malang yang harus ia bantu. Ia tidak mungkin menyukaiku, usia kami berbeda terlalu jauh, 10 tahun lebih tua dariku. Kurasa, ia hanya menganggapku sebagai seorang adik tak lebih.

Usiaku kini sudah menginjak 18 tahun. Semakin bertambah usiaku, semakin bertumbuh besar pula harapanku. Aku tahu ini seharusnya tak pernah terjadi. Aku pun tahu bahwa aku adalah gadis yang akalnya cukup dangkal untuk berjuang seorang diri mencintaimu. Aku menghela nafas panjang. 30 menit telah kulewatkan hanya dengan berdiam diri disini. Berdiri menghadap kaca di lantai 2 perpustakaan kota. Di luar sana hujan semakin menggila saja. Bulir-bulirnya menghujam bumi tanpa ampun, membasahi setiap sudut kota kecil ini. Sebenarnya aku sedang menunggunya. Kami telah berjanji untuk bertemu di salah satu restoran yang letaknya dekat dari sini. Masih satu jam lagi sebelum waktu perjanjian itu, tapi aku terlalu bersemangat untuk bisa bertemu dengannya setelah sekian lama. Dia selalu sibuk dengan pekerjaannya di luar negeri. Jadi aku jarang sekali bisa melihatnya, tak sama seperti dulu. Aku senang mendapat kesempatan untuk bertemu dengannya. Dia datang untuk merayakan keberhasilanku karena telah mendapatkan beasiswa LPDP. Beasiswa yang memberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan di luar negeri. Ya, Arunika seorang gadis kecil yang lemah kini telah berubah menjadi gadis dewasa dan cerdas. Ibu pasti bangga padaku, pikirku.  Itu semua berkat bantuannya. Dia yang menyarankanku untuk mengikuti program beasiswa tersebut. Aku hanya menurut saja. Aneh, entah kenapa setiap kata-katanya seolah-olah menghipnotis setiap pemikiranku dan membuatku selalu optimis dan percaya diri. Oh, Tuhan, apa yang terjadi padaku?

Tak seperti dugaan, dia datang 30 menit lebih awal. Dia terlihat menawan seperti biasanya. Namun, hei, siapa gadis yang berdiri di belakangnya itu. Gadis cantik  dengan tubuh proporsional dan rambut hitam legam nan panjang. Benar-benar cantik, apakah dia seorang artis? Dia tersenyum manis kearahku sambil menggamit erat lengan kak Gara. Mereka terlihat begitu mesra. Apa mereka.. tidak! Aku tidak ingin memikirkannya. Aku meremas bajuku. Air mataku mengalir perlahan membasahi pipi. Aku berlari sekuat tenaga menjauh dari tempat itu. Samar-samar kudengar suaranya memanggil namaku, namun tak ku hiraukan. Sakit sekali rasanya. Cintaku yang telah kupendam selama bertahun-tahun tak terbalas. Langit malam kini telah gelap sempurna. Aku tak bisa melihat apa-apa lagi. Kehilangan semua kesadaran yang kumiliki. Gelap.

***

Gara berlari kesana kemari untuk mencari Arunika. Ia bahkan meninggalkan Dhena dan menyuruhnya untuk pulang demi mencari Arunika. Lelah, ia sudah tak kuat lagi. Gadis itu telah pergi entah kemana. Gara sungguh tak mengerti dengan apa yang terjadi. Kenapa ia menangis? Kenapa ia berlari menjauh? Apa salahnya hingga gadis itu pergi meninggalkannya? 

Ia berjalan kembali ke perpustakaan kota. Ke tempat tadi ia berjanji untuk bertemu, berharap Arunika mau kembali dan menjelaskan alasannya. Tentu saja, apa yang diharapkannya terkabul. Arunika kembali kesini. Namun, ia terkejut bukan main melihat apa yang terjadi pada gadis itu. Gadis yang dia kenal dengan penampilan yang sangat berbeda. Rambutnya yang biasa dikuncir kini dibiarkan tergerai di kedua sisi, poni depannya menutupi kening serta pakaiannya yang tak lagi feminim. Ia benar-benar terlihat seperti orang asing dimata Gara, namun dengan wajah yang sama persis seperti Arunika.

“Kamu..” Gara tak melanjutkan kalimatnya. Ia masih sangat terkejut dengan apa yang dilhatnya.

“Perkenalkan, namaku Anne. Kamu baru melihatku, kan?” ucap gadis itu disertai dengan senyuman yang lebih terlihat seperti seringaian.

“Apa yang terjadi padamu, Arunika?” tanyanya masih tak percaya.

“Tidak ada Arunika disini! Gadis bodoh itu sedang tertidur pulas. Yang ada hanyalah Anne!” 

Gadis itu tersenyum dingin. Begitu pula dengan tatapan matanya yang tajam dan dingin.

“Siapapun yang menyakiti Arunika akan berakhir seperti pria tua bedebah tak tahu diri itu!” matanya menatap nyalang. Penuh dengan nafsu untuk membunuh.

Keringat dingin mengucur deras membanjiri tubuh Gara. Ia tak tahu harus berbuat apa. Lidahnya kelu, tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.

“Bersiaplah, kau akan menyusul ayahku ke neraka!” gadis itu lagi-lagi tersenyum. Senyuman yang mengerikan.

***

Di dalam ruangan putih yang berukuran tidak terlalu besar ini, aku terbangun. Kepalaku pusing sekali. Rasanya aku sudah tidur begitu lama. Aku juga terus-terusan dihantui oleh mimpi buruk. Tentang ayahku. Tentang kak Gara. Aku melihat mereka mati mengenaskan. Itu sungguh mimpi yang mengerikan. Aku tak sanggup harus melihatnya. Tunggu dulu, dimana aku sekarang. Ruangan ini terlihat asing bagiku. Ruangan ini terlihat seperti rumah sakit yang didominasi oleh warna putih.  Aku turun dari ranjang tempatku terbangun. Menapakkan kakiku di lantai keramik yang terasa begitu dingin.  Aku menatap sekitar, berusaha mengenali tempat ini, tapi nihil, aku bahkan tak tahu dimana aku berada sekarang. Tatapanku tertuju pada meja yang terletak di samping ranjang tadi. Disana ada beberapa tumpukan koran yang tertera. Aku meraihnya, kemudian membacanya. Di bagian paling atas tertera judul dengan huruf yang besar serta dicetak tebal, ‘seorang laki-laki terbunuh oleh gadis pengidap gangguan jiwa.’ Ada pula judul yang lain, ‘pengidap D.I.D mengamuk, seorang pria tewas terbunuh.’  Oh tidak! Bukankah ini kak Gara?  Dia tewas dibunuh oleh gadis bipolar? Tidak mungkin! Badanku gemetar tak percaya. Ini persis seperti di mimpiku. Aku melangkahkan kakiku lagi ke ranjang tempatku tidur tadi. Disana tertulis nama ‘Anne’ kemudian tulisan ‘Dissociative identity disorder (DID).’ Apa lagi ini? aku tambah tak mengerti. Namaku Arunika, bukan Anne. Kalian salah menulis nama! Kalian pasti salah orang! Aku menghembuskan nafasku kesal. Kemudian kulangkahkan kakiku kearah lain lagi. Di sudut ruangan ini terdapat sebuah cermin besar. Aku berdiri tepat di depan cermin itu. Disana aku bisa melihat gadis dengan rambut hitam yang tergerai lurus. Itu aku. Cermin itu memantulkan wajahku. 

Tentu saja ini aku, Arunika, bukan Anne. 

Lalu kenapa nama yang tertera disana adalah Anne? 

Apa cermin ini telah membohongiku?

Siapa Anne itu?

Siapa aku sebenarnya?

 


Selasa, 06 September 2022

Dialog Negeriku


Sesak...

Negeriku terdesak

Pilu...Negeriku berteriak

Lelah dengan hidup katanya

 

Ini negeriku berlari

Rindu ciuman damai

Sabar dan tabah

Harga dirinya diinjak pasrah

 

Jangan berdiri angkuh

Kami tak berkenan

Janjimu seribu langkah

Buktimu kemana kawan

 

Terbang kemana bualmu

Rentetan kata manismu

Ini katanya rakyatmu

Tapi berpenggal sendu

 

Dia mati...

Tak bergairah lagi

Negeriku terlalu sedih

Rakyatnya meringkih

 

Ketauhilah...

Segelintir mereka makan

Namun, hanya sampah

Hah, hidup dalam dusta

 

Mereka berpeluk kelaparan

Hai! Kemana kau penguasa

Berikan negerimu suapan

Ah, enyahkan saja semesta

 

Bung, negeriku malu

Terus meragu

Katanya merdeka dulu

Tapi semuanya palsu

 

DUA BIRU

  

lihatlah dua biru

oh duhai sungguh indah dipandang

sewarna namun tak sama

terlukis akur bersisian

 

biru yang satu dengan riaknya

biru yang tersembunyi dalam

biru yang satu dengan kapasnya

biru yang tak berujung tak berbatas

 

biru yang bergantung padanya kehidupan

biru yang tersimpan kekayaan di dalamnya

biru yang bergantung padanya bintang-bintang

biru yang tersimpan doa-doa hamba-Nya

 

masing-masing patuh pada kodratnya

tanpa pernah mencoba melampaui batasan

keduanya saling meninggi dan merendah

percaya akan keajaiban yang Tuhan berikan

 

 

Rindu

 

Aku rindu wajahmu

Aku rindu suaramu

Aku rindu senyummu

Aku rindu pelukan hangatmu

Aku rindu sentuhan tanganmu saat menghapus air mataku

Aku rindu semuanya yang ada pada dirimu

Kau berjanji kau akan kembali

Tapi kenapa kau tidak pernah kembali

Kau meninggalkanku

Hanya karena keobsesianmu terhadapnya

Apakah perlu kubilang padamu aku merindukanmu

Disetiap waktu hanya kaulah yang ada di pikiranku

Menemaniku dalam kerinduan yang tak terhingga

Wahai rindu...

Dimanakah ku harus mencarimu

Mencari jejakmu yang menghilang dari pandanganku

Membuatku mencari cara untuk menemukanmu

Wahai rindu...

  Kau membuatku tau caranya hidup

Kau membuatku tau caranya menunjukan ekspresiku

Tapi yang paling luar biasanya

Kau membuatku merasakan sakit yang tak pernah kurasakan

Aku sakit tapi kau tak pernah peduli

Kau hanya memikirkan dirimu

Dirimu yang selalu kurindukan

Sinar rembulan memancarkan kehangatannya

Menenangkan hati yang terluka

Menghilangkan sedikit beban yang tersimpan

Dengan kehangatan sinar rembulannya

Mengingatkan ku kepada kehangatan yang kau berikan

Aku rindu...

Tapi aku tak bisa mengungkapkannya

Yang bisa kulakukan hanya mengingatmu dalam kerinduanku

 

Penelitian Kualitatif

1. Pengertian Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah pendekatan ilmiah yang digunakan untuk memahami makna, realitas sosial, a...