Kamis, 11 Agustus 2022

Surga yang Lenyap dari Genggamanku


Malam itu rintik hujan turun membasahi kota metropolitan. Membawa siapapun yang berada disana dapat merasakan ketenangan yang amat mendalam. Tidak terkecuali Hafdy Dwi Sanjaya , seorang remaja yang sedang menikmati kopi hangat di tengah dinginnya malam. Suasana itu membawanya teringat pada kenangan masa lalu bersama sahabatnya, Aldo Nugroho.

Teringat masa masa dimana mereka selalu bertengkar karena memperebutkan tamia milik mereka. Senyum tipis terukir di bibir Hafdy ketika mengingat masa-masa itu. Tak terasa, waktu cepat berlalu. Kini ,mereka sudah remaja,sudah tidak lagi memperebutkan hal hal sepele. Semakin dewasa maka semakin besar pula masalah yang mereka hadapi. Hafdy sangat rindu bermain dan bercanda bersama Aldi lagi. Namun kini,keadaannya berbeda. Jangankan ada kesempatan untuk bermain bersama lagi,untuk saling menegur dan menukar kabarpun sangat sungkan.

Aldi yang dulunya merupakan orang yang sangat hangat terhadap Hafdy,kini telah berubah drastis. Perubahan ini semakin terasa ketika mereka menyukai wanita yang sama. Seolah kini mereka tengah bersaing memperebutkan apa yang mereka inginkan. Jika dulu tamialah yang mereka perebutkan namun kini Yuni Apriliana,sosok wanita yang mampu memikat hati Aldi dan Hafdy. Terkadang kisah percintaan anak remaja itu sulit di tebak. Begitu rumit dan banyak rintangannya. Kini, yang Hafdy rasakan hanya rindu akan sahabat kecilnya itu. Tak terasa,butiran air mata jatuh membasahi pipi Hafdy.

“Ish!buat apa aku menangisi hal seperti ini!”ujar Hafdy sambal menghapus kasar air mata yang mengaiir di pipinya.

Namun Hafdy mengakui ia sangat merindukan sahabatnya itu. Rindu inilah yang membuatnya menjadi orang yang lemah, merasa tak berdaya. Kenangan masa lalu bersama Aldo selalu menghampiri pikirannya. Aldo lah orang yang selalu ada untuknya. Dia yang selalu menghibur Hafdy disaat Hafdy sedang ada masalah. Aldo segalaya bagi Hafdy. Ketika sedang asik menyelami kenangan masa lalunya bersama aldi,Bik Inah datang menghampiri Hafdy.

“Permisi mas,itu ada temennya mas yang sudah menunggu di teras.”ujar Bik Inah.

“Iyahak?perasaan aku ga punya janji sama temen aku deh.”sahur Hafdy.

“Coba di temui dulu sebentar,soalnya bibi liat wanita itu sangat sedih dan sedang dalam masalah.”saran bik Inah.

“Hah?wanita?”ucap Hafdy dengan wajah yang terkejut.

Hafdy pun bergegas menemui wanita yang bayangan sudah terlihat dari tempat dia berdiri. Betapa kagetnya Hafdy ketika mengetahui wanita itu adalah Yuni.

“Yuni?”sapa Hafdy kepada wanita yang sedang mengusap wajahnya dengan tissue tersebut.

“Hafdy…”sontakYuni memeluk sosok lelaki yang ada di depannya.

Seketika suasana menjadi hening menyisakan suara rintik hujan yng perlahan mulai reda.

“Ada apa malam-malam mampir kemari Yun?” kata Hafdy memecahkan keheningan.

“Aldo,Aldo,Aldo” Ujar Yuni sambal menguatkan pelukannya pada Hafdy.

“Aldo kenapa?”jawab Hafdy.

Hafdy pun melepaskan pelukan dari Yuni dan mempersilahkan Yuni untuk duduk di kursi teras rumahnya.

“Sekarang kamu tenang dulu,ceritakan apa yang terjadi dengan Aldi.”Pinta Hafdy.

“Aldi”hanya itu kata yang terucap dari bibir Yuni.

“Iya Yuni. Sekarang kamu Tarik nafas terus keluarin sambal senyum.”saran Hafdy

Yuni pu mencoba mengikuti saran Hafdy. Ia pun menarik nafasnya dalam dalam dan mengeluarkannya sambal tersenyum. Hafdy memang selalu bias membuat Yuni selalu merasa nyaman.

“Bagaimana?sudah mulai tenang kan?”Tanya Hafdy.

“Iya Di”jawab Yuni sambal mengatur nafasnya yang tidak beraturan.

“Kalau mau cerita silahkan,bakal aku simak.”tawar Hady.

“Aku ga ngerti harus cerita dari mana lagi di.”ujar Yuni dengan suara yang bergemetar.

“Yaudah,kita keluar yuk cari angin.”tawar Hafdy.

Yuni pun menyetujui ajakan Hafdy. Mereka berencana untuk mengunjungi Kota Tua. IYA! Kota Tua yang sangat bersejarah dalam hubungan mereka dulu. Kota yang menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka. Sepanjang jalan menuju kota tua Yuni merasa sangat nyaman memeluk Hafdy yang sedang memboncengnya. Rasa sesal yang amat mendalam kini menghantui pikiran Yuni. Mengapa iya sebegitu bodohnya meninggalkan Hafdy dan memilih Aldi si cowo brengsek itu. Akhirnya, mereka sampai di Kota Tua. Mereka bergegas mengunjungi Pak Noto,dagang sate favorite mereka waktu mereka masih berpacaran.

“Aku tau kamu pasti kangen kan makan sate Pak Noto.”ujar Hafdy menggoda Yuni

“Ih, kok kamu bisa tau.”jawab Yuni

“Apasih yang Hafdy gak tau tentang Yuni.”

“Bahasamu masi saja seperti dulu. Kamu itu manusia langka.”seru Yuni sambal menggelengkan kepalanya.

“jelas dong, cuman satu orang seperti aku di planet ini.”jawab Hafdy dengan muka datarnya.

Akhirnya mereka memutuskan untuk duduk di dekat air mancur Kota Tua sambal memesan sate Pak Noto.

“Gimana Yun?udah mulai tenang kan?”Tanya Hafdy.

“Hmm lumayan di.”jawab Yuni sambal mengatur nafasnya.

“Nih aku ingettin sama kamu,kalo punya masalah itu jangan di pendem.Yah setidaknya kalua kamu merasa tidak ada yang dipercaya untuk mendengar semua cerita kamu,kamu bisa cerita di buku diary kamu. Disitu kamu ceritakan seluruh keluh kesah mu.”tutur Hafdy.

“Iya Di. Tapi untuk masalah kali ini,kamu adalah orang yang tepat.”jawab Yuni sambal tersenyum.

“Alhamdulillah kalua seperti itu. InsyaAllah aku akan menjadi pendengar yang amanah,Yun.”kata Hafdy.

“Jadi gini Di, kemarin aku ke kos kosan Aldi yang baru. Rencananya aku mau kembalikan buku Anatomi yang aku sudah pinjam. Awalnya, kos kosan terlihat sepi. Aku coba utuk membuka gerbangnya. Tapi,di kos kosan itu seperti tidak ada orang. Alhasil,aku bisa membuka gerbang yang tidak digembok. Aku bergegas menuju kamar Aldi. Aku berfikir ada taupun tidak Aldi disana,aku akan tetap mengembalikan buku tersebut. Aku mencoba mengetuk pintu tersebut. Tanpa sengaja aku mendengar suara seseorang dari dalam. Suaranya samar-samar,tapi aku masih bisa mendengarnya.”jelas Yuni.

Suasana hening sejenak.

“Terus kamu ga coba untuk membuka pintunya?”Tanya Hafdy.

“Itulah yang aku sesali Hafdy. Mengapa aku membuka pintu tersebut.”jawab Yuni sambal meneteskan air matanya.

“Emangnya apa yang kamu lihat?”Tanya Hafdy.

“Aku melihat Aldi sedang tidur dengan seorang wanita. Aku tidak tau siapa wanita itu.”kata Yuni dengan suara yang gemetar.

“Jadi, maksud kamu Hafdy sedang melakukan hal yang tidak tidak dengan wanita itu?”kata Hafdy dengan wajah penasarannya.

“Aku tidak tau kepastiannya. Intinya saat ini aku kecewa dengan Aldi.”kata Yuni.

“Aku ngerti perasaan mu sat ini Yun. Jangankan melihat hal yang seperti itu,melihat kekasih kita berjalan mesra dengan orang lain saja kita sudah merasa sangat tersakiti. Yah,seperti contohnya ketika kamu memilih untuk menjadi kekasihnya Aldi dan meninggalkan aku.” Senyum tipis sinis tergambar di bibir Hafdy.

“Bukan gitu Hafdy. Kamu tidak tau apa yang terjadi sebenarnya.”jawab Yuni memegang tangan Hafdy.

“Iya Yun aku memang tidak tau. Yang ku tau hanya kamu meninggalkan aku demi Aldi. Dan saat itu pula hubungan persahabatanku dengan Aldi kacau,tidak karuan. Ego kita untuk mendapatkan kamu membuat kita lupa akan persahabatan yang kita sudah bangun sejak belum mengenal kamu bahkan sejak kami masih kecil.” Jelas Hafdy.

“Bukan gitu Hafdy.”ujar Yuni sambil bercucuran air mata.

“Sudah Yuni,aku tidak berniat membuatmu bersedih. Aku hanya tidak suka melihat seorang laki laki menyakiti hati perempuan. Aku tau wanita itu seperti Barbie,bisa dimainkan sesuka hati. Tapi dalam prinsip hidupku tidak ada lelaki sejati yang  bermain Barbie.Aku kecewa dengan kamu,mengapa kamu memilih Aldi daripada aku. Kecewa sama diri ku sendiri. Mengapa tidak mampu mempertahankan mu.”jelas Hafdy.

“Maafkan aku di. Bukan hanya kamu yang tersakiti waktu itu di. Aku juga. Sakit,kecewa dengan keputusan yang sudah aku ambil. Tapi itu semua di luar dugaan ku.” Kata Yuni.

“Jadi maksud kamu,kamu juga tidak ingin bersama Aldi?”Tanya Hafdy.

“Iya, aku melakukan itu karena aku berhutang budi dengan Aldi.”Jawab Yuni.

“Berhutang budi? Maksud kamu apa?” Tanya Hafdy.

“Jadi waktu itu abah sedang sakit. Batu ginjal Abah kambul lagi. Sedangkan ibu tidak memiliki uang untuk membiayai perobatan Abah. Akhirnya,ketika Aldi datang ke rumah untuk memberitahuku bahwa kamu tanding futsal hari itu. Namun sepertinya Aldi mendengar perkataan Yuni dengan ibunya. Akhirnya dia menawarkan uang pinjaman tuk perobtan Abah. Aku sempat menolak. Aku berfikir masih dapat mengumpulkan uang untuk perobatan Abah. Namun saat itu aku melihat wajah ibu yang begitu khawatir dengan keadaan Abah. Kami harus secepatnya mengobati penyakit Abah. Saat itu, Aldi siap membantu pengobatan Abah berapapun itu.”kata Yuni.

“Mengapa kamu tidak menceritakan semua kepadaku?. Setidaknya aku bisa membantu kamu.”Tanya Hafdy.

“Maafkan aku,Hafdy. Aku binggung saat ini. Di pikiranku hanya bagaimana agar mendapatkan biaya untuk pengobatan Abah secepat mungkin. Aku takut kehilangan Abah,Hafdy.”jawab Yuni. Tangis wanita itu pun pecah.

Akhirnya Hafdy memeluk Yuni dengan erat. Wanita yang selalu membayangi pikirannya. Wanita yang walaupun saat itu meninggalkannya namun tidak ada rasa dendam dalam hati Hafdy terhadap wanita itu. Yang ada malah rasa penyesalan yang ada dalam hati Hafdy. Mengapa tidak bisa mempertahankan Yuni.

Saat Yuni sedang menangis di pelukan Hafdy. Tidak di duga Aldi datang menghampiri mereka. Aldi kanget melihat Yuni sedang memeluk Hafdy.

“Oh jadi lo gini sekarang Di?” Tanya Aldo kepada Hafdy.

“IYA!mau lo apa?!knp lu cuman bisa sakitin hati cewe aja?!ga gentle banget lu.” Kata Hafdy

Aldo pun merasa kesal dengan perkataan Hafdy. Akirnya, Aldo menghantam wajah halus HAdy dengan tangannya. Yuni merasa kaget. Dia hanya bisa menangis melihat pertikaian yang terjadi di depannya.

“Pukul gue terus Do pukul. Gue ga nyangka ternyata lo se pengecut ini. Lo cuman bisa nyakitin hati perempuan.” Ujar Hafdy sambil membersihkan darah yang berada di ujung bibir tipisnya.

“Gue bener bener kecewa sama sikap lo ke cewe,Do. Padahal waktu kita kecil lo yang selalu marah kalo gue gangguin anak anak cewe yang lagi main masak masakan di komplek. Tapi sekarang, melukai hati wanita sudah menjadi hal yang biasa di pandangan lo.” Kata Hafdy kepada Aldo.

Aldo sangat merasa kesal mendengar perkataan Hafdy. Untuk yang kedua kalalinya Aldo menghatam wajah Hafdy. Untuk kali ini Hafdy membalas hantaman Aldo dengan lebih keras.Yuni pun berusaha untuk melerai keduanya namun tanpa di sengaja wajah polos Yuni dihantam oleh Aldo. Sebenarnya Aldo tidak bermaksud mengahantam wajah Yuni. Namun pada saat itu Yuni menghalanginya untuk menghantam wajah Hafdy.

Sponta Hafdy memeluk Yuni yang berusaha menahan sakit karena telah terhantam oleh Aldo. Aldo hanya bisa diam mematung. Kemudian, Aldo mendekati Yuni yang tengah berada di dekapan Hafdy. Hafdy pun merasa kesal melihat sikap Aldo kepada Yuni.

“Lo emang cowo kurang ajar. Lo berubah Do. Aldo yang dulu paling anti namanya main tangan. Aldo yang dulu paling gak suka liat cewe nangis. Sekarang apa?!dasar pengecut,” ujar Hafdy sambil memeluk erat Yuni yang sedang menangis.

“Terserah lo mau bilang apaa gue ga peduli Di. Lo ga tau apa yang buat gue bisa berubah kaya gini. Yuni, gue ga bermaksud buat nyakitin lo, lagian lo juga ngapain sok jadi pahlawan buat menghalangi gue kelahi sama Hafdy.”ujar Aldo.

“Dasar lu cowo gak tau diri. Kerjaan lo itu cuman nyakitin hati cewe aja. Mau lo apa?!” kata Yuni dengan nada tinggi.

“Iya emang itu tujuan gue,gue pingin nyakitin cewe cewe yang berada di sekitar gue. Termasuk lo.” Ujar Aldo.

“Apa maksud lo?” ucap Hafdy sambil menaikan alisnya.

“Lo masih inget kejadian 7 tahun silam. Kejadian dimana gue ngerasa seluruh kebahagian gue udah ga mungkin terjadi lagi. Kejadian yang buat hidup gue bener bener berantakan,hidup gue hancur saat itu.” Kata Aldo.

“Kejadian 7 tahun silam?maksud lo?” Tanya Hafdy.

“iya 7 tahun silam. Ayah dan bunda gue resmi bercerai. Semua itu karena Bunda gue udah ngerasa ga nyaman dengan ayah gue. Yah kalo bisa dibilang Bunda gue udah punya cowo lain. Kecewa banget gue saat itu. Gue ngerti apa yang Ayah rasain. Dan kejadian inilah yang membuat gue benci sama Bunda gue. Gue udah mutusin untuk mengakhiri segala hubungan gue sama Bunda. Dan kejadian ini yang membuat pandagan gue sama wanita itu beda lagi Di. Sejak saat itu gue berfikir bahwa wanita itu adalah malapetaka bagi laki laki.” Jelas Aldo.

“Jadi maksud lo,lo negalmpasin rasa benci lo ke cewe cewe yang ada di sekitar lo?” Tanya Yuni.

Aldo hanya bisa terdiam. Memang betul kejadian perceraian ini benar benar membuat Aldo tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Bunda  Aldo benar benar di butakan akan cinta. Tidak ada pilihan bagi Aldo saat Bundanya memutuskan untuk meninggalkan dia bersama ayahnya. Yang Aldo rasakan saat itu adalah kebencian terhadap ibunya.

Sejak kejadian itu, Aldo mencoba untuk mengilangkan rasa sakit nya. Dia memilih untuk melampiaskan kepada wanita wanita yang ada di sekitarnya. Aldo berfikir bahwa dengan menyakiti wanita yang ada di sekitarnya maka secara tidak langsung dia menyakiti ibunya. Pikiran  yang sangat konyol dan tidak masuk akal.

“Sempit banget pikiran lo Do. Pikiran lo masih kaya bocah. Lo itu harus bersyukur,ya walupun lo kecewa banget sama bunda lo tapi lo gak boleh sampe benci sama bunda lo.Gimana pun beliau yang sudah melahirkan dan membesarkan lo. Sebagaimanapun bunda lo bikin lo kecewa,lo gak punya hak untuk benci sama bunda lo.”jelas Hafdy.

“Momen ini yang gue tunggu Di. Gue kangen lo nasehatin gue. Waktu gue lagi ada masalah lo kemana aja Di. Padahal gue butuh lo saat itu.” Ucap Aldo sambil menangis.

“Iya Aldo. Gue minta maaf karena gue ga pernah cerita ke lo. Gue terlahir dari keluarga broken home. Sama kaya lo. Gue dibesarin sama nenek gue. Tepat ketika kejadian perceraian kedua orang tua lo, ibu gue meninggal. Beliau meninggal karena disiksa sama majikannya. Ibu gue seorang TKW.”ujar Hafdy sambil meneteskan air matanya.

Keadaan hening sebentar.

“Lo harusnya bersyukur. Lo masih punya kesempatan berbakti sama bunda lo.” Ucap Hafdy

“Tapi gue kecewa dengan bund ague. Beliau tega tinggalin gue sama ayah.” Balas Aldo.

“Semua itu kehendak Allah, Aldo. Setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Mungkin ini memang jalan yang terbaik buat keluarga lo. Allah tidak pernah tidur. Lo seharusnya berdoa, mohon sama Allah supaya bunda lo bisa kembali seperti dulu. Semoga Allah membuka hati bunda lo. Dan semoga lo dan ayah lo dapat kebahagiaan lagi.”ujar Hafdy kepada Aldo.

“Ga semua cewe kaya gitu Di. Lo jangan berpikiran bahwa semua cewe bakal belaku sama sperti apa yang bunda lo lakuin ke lo dan ayah lo.” Ujar Yuni.

“Ya Allah maafin gue. Hafdy, Yuni, momen yang seperti ini yang gue tunggu. Ada orang yang perhatian sama keadaan gue. Ada orang yang beri gue nasehat atas segala masalah masalah yang gue hadapi.” Ucap Aldo.

“Gue juga minta maaf, Aldi. Gue gak peka sama keadaan lo. Gue egois. Tapi saat itu memang kondisinya tidak memungkinkan. Gue sedang dalam masalah yang berat juga. Gue kehilangan orang yang benar benar gue cinta. Surga yang gue punya sudah lenyap. Sedih rasanya, setelah sekian lama gue gak pernah bertemu dengan ibu gue. Tetapi, ketika bertemu dengan ibu gue, beliau sudah di panggil oleh Allah swt. Tapi ya bagaimana lagi. Allah swt lebih sayang sama ibu di.” Kata Hafdy.

“Seberapa apapun rasa kecewa yang bunda lo kasih ke lo itu gak sebanding dengan jasa beliau ke pada lo. Yang telah melahirkan, membesarkan, dan menjaga lo setulus hati. Tidak baik jika kamu mebenci bunda mu.:kata Yuni.

“Gue minta maaf sama lo, Yun. Gue tega berlaku jahat sama cewe sebaik lo. Gue tega mengambil kebahagian lo sama Hafdy. Itu semua gue lakuin karena gue kecewa dengan bunda gue. Maafin gue karena sudah maksa lo buat jadi kekasih gue. Gue bener bener khilaf. Gue janji gue ga akan sakitin wanita lagi. Gue akan menjadi laki laki sejati yang bisa menjaga kedua orang tua gue. Gue akan mecoba untuk berhenti membenci orang tua gue.” Jelas Aldo.

“ Bagaimana pun ibu tetaplah ibu. Tidak ada mantan ibu tidak ada mantan anak. Karena hubungan ibu dan anak itu sejatinya tidak pernah dipisahkan oleh apapun.” Tegas Yuni.

“ Sekarang lo coba jalin silahturahi lagi dengan Bunda lo. Coba untung hubungi beliau. Dan lo jangan malu untuk meminta maaf ke orang tua lo terutama bunda.” Jelas Hafdy.

“Semoga ini bisa menjadi pelajaran hidup yang berharga buat kita semua. Jangan pernah bermain dengan yang namanya perasaan. Karena perasaan bukan hal dapat dipermain mainkan.” Tegas Yuni.

Setelah kejadian malam itu, Hafdy pun dapat memeluk erat Yuni seperti dulu lagi. Tidak hanya itu sahabat yang amat ia rindukan pun dapat kembali bermain bersamanya. Kejadian masa lalu yang menjadi jejak di masa depan. Perlajar hidup yang sangat berharga bagi Aldo, Hafdy maupun Yuni.

 

 

 

Rabu, 10 Agustus 2022

Aku Masa(k) Tua

 

Kenalkan namaku kevin aldino,ibuku melahirkanku 1 april 2014 Di ragoon.Ayahku adalah seorang manajer di perusahaan besar di ragoon,sedangkan ibuku adalah seorang pengacara terkenal.aku tinggal bertiga beersama kedua orang tuaku,sampai suatu hari,di ulang tahunku yang ke 9 seoarang sosok monster datang mengusik keluargaku, rambutnya bagai penyihir jahat di film yang sering ku tonton ,kulitnya seperti lilin yang mencair,di wajahnya banyak terdapat choco chip yang tersebar, ada yang besar dan kecil,matanya itu selalu mengeluarkan lendir racun yang menjijikkan ,sosoknya yang bungkuk menambah kesan seram padanya,bau badanya ,uhhhh seperti bau bawang yang busuk, namun yang paling menakutiku adalah kenyataan bahwa dia adalah nenekku dan dia akan tinggal denganku sampai waktu yang tidak bisa ditentukan,alangkah lebih baik bagiku jika aku mati lebih dulu daripada aku harus serumah dengannya .aku sangat tidak menyukainya ,berbagai cara telah  aku lakukan untuk mengusirnya tapi anehnya dia selalu saja bisa menghindar entah itu keberuntungan atau tidak ,sebut saja aku cucu yang durhaka,tapi hei siapa sih yang tahan serumah dengan si tua bungkuk berbau tak sedap dirumahnya ,orang tuaku itu selalu sibuk jadi terkadang di rumah aku harus rela berbagi atap dengan sang monster.

Aku pernah menyembunyikan tongkatnya tapi ternyata ia memililiki banyak cadangan tongkat,aku pernah menyembunyikan kacamata tapi ia berhasil menemukannya,aku tak tau bagaimana caranya .dan kebiasaan buruk ini terus aku lakukan.di hari saat aku bertambah umur 1 tahun ,ia tiba-tiba menghilang tak tahu entah kemana .itu merupakam kado terindah bagiku ,akhirnya setelah 12 bulan lamanya aku dapat tidur nyenyak juga.pikirku akan begitu namun disaat aku tertidur datang seorang yang berwajah jauh lebih menyeramkan dari nenekku mukanya saaaaaaaaaangat menyeramkan,hidungnya sangat panjang dan ada tahi lalat besar menempel disana, ia mengenakan baju serba hitam,di kepalanya terdapat topi besar dan ditangannya ada tongkat yang kuyakini adalah tongkat sihir.

“apa kamu penyihir…?Mau apa ka..ka.. mu di kamarku”ucapku sedikit terbata

“Fufufufufu,Tenang saja anak manis aku disisni hanya datang untuk mendidikmu, bukan berniat jahat kepadamu jadi jangan takut “ucapnya.

“Apa kamu akan mengubahku menjadi kodok…?”

“Oh tentu saja tidak bocah,kutukan kodok itu hanyalah untuk pria hidung bukan untuk bocah hidung belang.ffufufu”jawabnya

“Lalu apa yang akan  kau lakukan…?”tanyaku lagi

“lihat dan tunggu saja”Ia mulai mengayun tongkatnya kearahuku,disekelilingku sudah ada banyak asap dan poooof

aku berubah………………….

“Hei,tidak terjadi apa-apa disini”ucapku

“Fufufufu sudah kubilang kan aku hanya datang untuk mendidikmu,bukan untuk mencelakaimu . tugasku disini sudah selesai jadi selamat tidur untukmu anak manis ,mimpi yang indah ya”ucapnya berbalik melengos pergi kearah pintu kamarku.

Aku sempat mengira dia akan menggunakan sapunya untuk pergi namun aku ingat kalua  dia hanya datang dengan membawa tongkat di tangan kanannya.aku berusaha mengejarnya namun di saat kubuka pintu kamarku tak ada apapun disana.kucoba melihatnya di sekelililng rumah tanpa meninggalkan kamarku ini,karna diluar sana lampunya di matikan dan aku takut nanti penyihirnya berubah pikiran ,jadi disnilah aku di atas ranjang  dengan seluruh badanku terbenam di selimut bergambar lightning mc queen.

Keeseokan harinya saat aku terbangun kepalaku tiba-tiba terasa  pusing,rasanya aku tidak bisa bergerak,ranjang nya hari ini terasa keras di tubuhku dan baunya seperti bau antiseptic, kurasakan ditanganku tergantung selang yang menggantung keatas,kutengelengokkan pandanganku keseluruh ruangan butuh beberapa saat bagiku untuk sadar bahwa ruangan ini bukan kamarku,ruangan ini jauh lebih sempit dan ada seorang pria disana, dekat sofa depan ranjangku .dia tertunduk aku tak mengenali siapa dia aku terus memperhatikannya mencoba menerka siapa si sosok pria rapi berpakaian kantoran itu,sampai akhirnya dia mengangkat kepalanya dan pandangan kami bertemu dia lalu berdiri menghampiriku raut wajahnya sendu sarat akan kecemasan namun disana juga ada kelegaaan yang terpancar.ia bertanya padaku

“Permisi nek apa nenek baik-baik saja…?aku tadi sudah  memanggilkan dokter untuk nenek jadi tolong tunggu sebentar,mungkin sebentar lagi dokter akan datang”ucapnya halus

aku hanya bisa terdiam,enggan membalas perkataan si penanya,ibu pernah berakata kepadaku untuk menghindari komunikasi dengan orang asing,terlebih lagi itu seorang pria

Tak lama kemudian kudengar derap  langkah kaki orang kearah ruanganku berada .kuyakin dialah dokternya.tapi tunggu ,sepertinya disini ada hal yang aneh ,aku ,rumah sakit, dan heiiiii nenek..? apa aku tak salah dengar,apa pria itu memanggilku nenek .

Sontak saja kubuka lebar mataku kusingkap selimut yang ada di badanku,aku bangun dalam kondisi sempurna berdiri.mereka nampak terkejut melihatku .apa yang aneh dengan itu.aku berteriak mengamuk aku tidak sudi dipanggil nenek, bagaimana mungkin pria yang nampak berpendidikan itu menyebut bocah kecil ini dengan sebutan nenek.aku berteriak tak terima sebutan yang diberikan,terlebih lagi si dokter dan suster nya juga memanggilku nenek.

“Tenang nek,nenek akan baik-baik saja ,saya jamin itu saya sudah menelpon keluarga nenek”

“Aku bukan nenek ,aku kevin aldino putra semata wayang keluarga aldino.umurku baru 11 tahun dan aku bukan tua bangka yang bau bawang busuk.”ucapku berteriak lantang namun yang terdengar malah suara wanita  seperti yang ada di rumahku.mereka tidak percaya,aku yakin itu. .kuhunuskan tatapan tajam kepada mereka,tapi mereka tidak menghiraukanku.

Kuperhatikan mereka yang nampak berbincang dengan berbisisik bisik,namun aku masih bisa mendengarnya kira- kira seperti inilah yang mereka katakan

“Dok saya mohon tolong sembuhkan beliau berapapun biayanya,tapi tolong jangan ajukan saya ke pihak polisi.sungguh saya tak sengaja menabraknya,karna dia tiba tiba melintas saat lampu merah baru saja dinyalakan”ucap si pria

“Tenang saja pak kami sudah memeriksanya, dia baik-baik saja mungkin hanya penyakit alzhemeir yang membuatnya seperti ini”kata si dokter

“Aku tidak pikun”,ucapku lantang “namaku kevin dan aku laki laki umurku 11 tahun sudah berapa kali kubilang kepada kalian.rumahku ada di jalan eddington,wallet 26 .antar  aku kesana dan akan kubuktikan kepada kalian”yakin ku

Mereka berdiskusi,nampak menimbang kataku-kataku.barulah setelah beberapa saat jawaban yang kutunggu-tunggu tiba”Baik nek kalau begitu…”

“Kevin,panggil aku kevin,aku bukan nenek-nenek”ucapku memotong

“Oke ,jadi kevin besok aku  akan mengantar anda  kerumah tapi dengan syarat untuk sementara waktu ini anda  menginap dulu dirumah sakit ini untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.besok pagi aku akan kembali pada pukul 10 jadi bersiap-siaplah”

“Awas saja kalau paman tidak datang” ucapku mengancam.

“Aku janji “balasnya kemudian

Setelah selesai mengecekku merekapun pergi meninggalkan ku diruang ini sendirian.Aku tak berani mendekat ke jendela takut akan menemukan monster di dalamnya meski kutahu ada yang aneh dari diriku tapi aku tak mau mengakui hal itu aku tak mau melihat ke tanganku,ku yakin badanku ini masih tegap,wajahku pasti bersih dan rambutkuuu? mungkin saja saat ini gondrong seperti bintang rock n roll, ah sudahlah aku masih tampan ucapku berbisik pada diri sendiri meski tak yakin semua itu benar.

Dalam hati aku merasa senang karna akhirnya aku dapat pulang kerumah ku .aku rindu rumah ku .rindu ayah dan ibu.apakah nanti mereka akan mengenaliku mengapa hal ini bisa terjadi padaku setelah lama merenung aku pun teringat penyihir yang mendatangiku semalam aku yakin hal ini pasti karna dia.Awas saja kalua penyihir itu ketemu akan ku laporkan ia ke polisi,dan ingatkan aku juga untuk menuntutnya ke pengadilan.

Prioritasku saat ini adalah tidur, tak kusangka menjadi nenek tua ternyata susah sekali,setiap bergerak rasanya tulang berderit derit seperti reok kursi kayu yang digoyangkan .tak butuh waktu yang lama bagiku untuk jatuh tertidur diatas ranjang sempit rumah sakit meski sayup sayup masih ku dengar kendaraan diluar sana yang saling berebut memencet bel terbanyak dan tercepat  hal ini tak mengusikku jatuh ke pelukan ranjang keras si rumah sakit.

Keesokan harinya paman itu kembali lagi,ia menepati janjinya.kusebutkan alamat rumahku .

“Rumahku ada di jalan simpang siur gang cempaka no 23 ucapku mantap dengan senyum yang merekah”

Ku tatap raut mukanya dahinya terlihat mengkerut sedikit dan alisnya tampak naik sebelah meski dia tampak ragu,dia mengiyakan ku dan mulai menggas mobilnya .

Beberapa menit kemudian

“Aku mengingat jalan ini ,ini sudah di area rumah ku ,paman tinggal belok kanan saja dan rumah ku pasti langsung terlihat kataku dengan semangat

Ia nampak diam ,sebelum kemudian iya membalas perkataan ku dengan senyum dan berakata

”maafkan aku nek dan terima kasih”

Oh ayolah kenapa dia masih saja memanggilku nenek,tapi yah sudahlah berhubung saat ini hatiku sedang dalam mood yang baik ku maka biarkan saja dia.

Akhirnya setelah mobil belok kanan dan berhenti di depan rumah tanpa menunggu ba bi bu lagi aku langsung keluar ke mobil dan menyuruh si paman masuk dulu untuk beristirahat sejenak, namun ia menolak .

Ayo paman sebaiknya paman masuk dulu kerumahku

Tidak terima kasih nek,saat ini saya harus pergi ke kantor lagi katanya

Baikalah kalau begitu,terima kasih ya paman

Ku tunggu ia sampai mobilnya pergi  meninggalkan plataran rumah dan berbelok keluar gang.

Akhirnya aku bisa kembali kerumahku,namun saat berbalik betapa terkejutnya diriku mendapati bangunan asing yang justru ada di depanku setelah mengecek alamatnya, aku yakin sekali bahwa rumah ini merupakan rumahku.sebenarnya berapa lama aku pergi sampai ayah dan ibu merenovasi rumah ini,padahal bangunanya penuh akan kenangan kami.

Setelah mengumpulkan keberanianan kumantapkan langkahku untuk masuk kedalamnya,didalamnya tampak seperti lobi pendaftaran dan ada banyak monster disana,oh tidak aku tau tempat ini,ini sarang monster tempat yang sangat berbahaya bagiku dan aku tak boleh berlama-lama di panti jompo ini ,saat ingin berbalik seseorang memanggilku.

“Nek sekar” ucap seorang wanita memanggil nama seseorang entah siapa yang dipanggil tapi yang kutahu dan tak bisa kujelaskan saat ini tubuhku ikut berbalik mendengar kata wanita itu

Ya ampun nek sekar nenek kemana saja,selama ini,kami mencari nenek kemana-mana kenapa nenek menghilang begitu saja ...?

Aku tidak tahu harus menjawab apa untuk seorang anak kecil aku bisa dibilang cukup jenius ,hal ini tak terlepas dari turunan kedua orang tuaku kata mereka(teman orang tuaku).namun dalam urusan orang tua khususnya nenek kakek ketahuilah  aku lebih bodoh dari anak biasa.aku hanya bisa terdiam mengikuti apa yang mereka perintahkan karena aku memang tidak tahu harus berbuat apa. Hari- hari yg kulalu disini ternyata tak terlalu begitu mengerikan rata-rata lansia disini masih punya anak yang dapat merawat mereka bahkan tak sedikit dari mereka anaknya pejabat dan anggota pemerintahan yang berhasil.berada disini memberiku banyak pengalaman tentang kehidupan .untuk saat ini mungkin aku bukan bocah lagi aku bisa mengerti apa yang mereka ucapkan.

Tak terasa hari hari berganti dan hari ini merupakan hari ke 21 aku di sarang ini aku rindu orang tuaku aku rindu nenek ,seandainya saja aku bertemu dengannya aku janji akan mencium kaki nya,aku Ingin minta maaf padanya.dan di hari ini doaku terkabul keajaiban datang ,penyihir tanpa sapu itu datang mengunjungiku awalnya butuh waktu lama bagiku untuk mengingatnya ,maklum otak orang tua .beruntung tak lama kemudian dia mengeluarkan sepotong kayu kecil yang lansung ku kenali sebagai tongkat saktinya .

dia tersenyum ,namun kali ini senyumnya jauh lebih hangat dari sebelumnya, membuatku terpancing untuk membalas senyumnya

“rupanya kamu sudah mengetahui letak kesalahanmu ,oleh sebab itu  hukumannu kini sudah habis .”katanya

aku sangat bahagia mendengarnya,akhirnya setelah penantian panjang aku bisa kembali ke kehidupanku

dia mulai mengayunkan tongkatnya,mulutnya komat kamit membaca mantra setelah selesai membaca mantra diarahkannya tongkat itu kepadaku dan poooof kali ini aku benar-benar berubah.

Author POV

Sinar mentari pagi menelusup masuk ke dalam jendela kamar mencoba menggapai seonggok nyawa yang ada di atas  ranjang ,diluar sana terdengar suara burung yang sedang bergosip ria.suara derap langkah kaki terdengar dari luar kamar disusul ketukan pintu

“Tok tok tok ,kevin sampai kapan kamu mau tidur ini sudah waktunya cepat bangun siapkan dirimu, bergabung ke meja makan dalam 15 menit lagi ada hal penting yang perlu kita bahas.”ucap ibunya

Wanita itu langsung pergi tanpa menunggu balasan si penghuni kamar

Kevin POV

aku terbangun tatkala mendengar suara ibu yang mengetuk pintu kamar ku,ia menyuruhku untuk meyiapkan diri ,hei tidakkah dia senang kevin sudah kembali.hari ini sudah terhitung 7 hari aku menjadi kevin yang sesungguhnya .di hari itu aku bangun dalam mimipiku dan mendapati diriku sudah menjadi kevin yang sesungguhnya aku langsung pergi ke kamar ke dua orangtuaku dan minta diantarkan ke tempat nenek. Jadi hari ini sekarang mereka akan mengantarku ke tempat nenek.oh aku sungguh senang akan bertemu dengan nenek,sekaligus merasa bersalah mengingat kesalahanku kepadanya.

Beberapa menit kemudian.

Mobil ayahku berdecit dan terhenti di pelataran rumah sakit yang megah .firasatku sudah buruk,apakah nenek sakit,….?oh tidak bagaimana keadaan nenek saat ini bagaimana jika nenek sudah.. segera kuhapus pikiran negative yang sempat terlintas di pikiran ku .ayah dan ibu mengajak ku masuk kedalam,kami menyusuri lorong-lorong rumah sakit dan sampai di sebuah pertigaan .

Sebelah kanan ada ruangan khusus ,dan sebelah kiring ruang jenazah. Ya tuhan rasanya mataku mulai terasa buram, saat mulutku sudah akan terbuka ayah dan ibu malah berbelok ke ruang sebelah kanan .

Saat pintu ruangan itu di buka kulihat seorang wanita tua berkacamata yang tengah membaca sebuah kertas.dari jarak 2 meter( ini karna ruanagn nya luas )aku dapat melihatnya,itu nenek ,namun dengan kharisma yang berbeda ia nampak lebih muda dari usianya.ia tersenyum kepadaku dan aku membalasnya.

“Kemarilah kevin” katanya sambal membuka lebar kedua tangannya

Tanpa menunggu apa pun aku langsung menghambur lari kepelukannya aku mencoba mencium kakiknya namun dicegahnya.

“Maafkan kevin nek ,kevin salah, kevin minta maaf” suara tangisku menggema di ruangan sang manajer rumah sakit nyonya indysri jaya ,yang tak lain dan tak bukan nenek ku.

“Sudahlah kevin nenek sudah memaafkanmu sejak lama kamu tak perlu minta maaf pada nenek “kata nenekku

…..

……

…….

Eheeem singkat cerita nenek kembali tinggal denganku dan kami hidup bahagia selamanya .

 

 

 

 

 

ANOMALI


            Udara terasa menyejukkan kala itu, dimana langit masih terlihat biru dan dibubuhi oleh cerahnya mentari. Aku tersenyum ketika merasakan lembutnya hempasan angin yang menerbangkan dedaunan dan menciptakan euforia yang merdu bagaikan kicauan burung dipagi hari.

            Oktober,2070. Aku terbangun dalam ruangan yang menyesakkan yang memberikan kehidupan dan oksigen untukku bernapas. Menatap kearah jendela membuatku mendengus lucu, disana terdapat berbagai wallpaper flora dan fauna dan beberapa keindahan alam lainnya yang dapat kuubah sesuai keinginanku. Tapi sayang, itu semua palsu, semu. Entah dimana hilangnya semua keindahan dulu yang selalu disia-siakan oleh manusia.

            Aku melangkahkan kakiku diatas lantai yang terasa dingin, entah kenapa aku merindukan sarapan dengan telur dan sayur kesukaanku sewaktu kecil, tak lupa meminum susu yang terasa manis hingga tandas tak tersisa sebelum berangkat menuju sekolah lalu melambaikan tangan kepada ibuku dan menyambut hari dengan senyuman yang cerah.

            Aku menggelengkan kepala ketika mengingat kenangan sewaktu aku kecil dulu, saat semuanya masih terasa alami tanpa semua unsur kepalsuan ini. Kembali ku langkahkan kakiku menuju dapur dan melahap sarapanku. Bahkan aku sendiri tak ingat definisi apa itu makanan, bubur lengket putih yang jika kau makan dapat berubah rasanya sesuai keinginanmu. Bukankah terlihat canggih? Mungkin kalian iri padaku. Tapi tidak, ini tidak se-nikmat yang kalian lihat. Ini menjijikkan. Perlahan-lahan kupaksa makanan itu masuk kedalam mulutku hingga habis.

            Aku tak perlu repot-repot mencuci piring, baju, menyapu rumah ataupun melakukan pekerjaan melelahkan lainnya. Aku tinggal me-reset ulang barang-barang itu, maka semuanya akan terlihat baru lagi. Entah itu pecah ataupun terbakar, semuanya akan kembali pada bentuk awal saat pertama kali aku membelinya.

            Kemudian, ku isi gelasku dengan gas berwarna biru cerah dari dalam tabung berwarna-warni disamping rak piring yang jumlahnya hanyalah tiga ataupun empat. Kalian tau sendiri aku hanya membutuhkan satu, lantas untuk apa aku membelinya lagi? Itu semua karna aku bosan dan muak memakai piring yang sama berkali-kali tanpa dicuci, aku hanya merasa menjilat sisa makananku sebelumnya. Sebut saja aku boros, aku tak peduli. Lagipula uang tak ada artinya dihidupku.

            Aku sedikit menyunggingkan senyuman ketika rasa minumanku seperti jus mangga buatan ibuku dulu, lembut sekali teksturnya, ah aku dapat merasakannya sekarang. Sungguh luar biasa teknologi jaman sekarang, tapi aku sama sekali tak berminat hidup di jaman ini, aku ingin kembali ke masa kanak-kanakku dulu.

***

            Ini semua terjadi pada pertengahan tahun 2060, saat aku masih berumur dua belas tahun. Seluruh siaran televisi sedang berlomba-lomba menyiarkan berita tentang perang ketiga yang akan terjadi pada bulan Juli esok hari. Aku dengan asyik menontonnya ditemani pisang goreng buatan ibuku yang paling enak, lalu kakakku dengan santai ikut-ikutan menonton sambil melahap pisang goreng satu-persatu bersamaku. Tiba-tiba ayahku datang dan mengganti siaran televisi dan menonton tayangan bola favoritnya.

            “Ayahhh, kok ganti tiba-tiba? Lagi seru tau yah.” Aku memprotes ayahku dengan mulut yang dipenuhi            dengan pisang goreng.
            “Iya yah !  Itu kan lagi ngebahas Tesla Death Ray yang berhasil ditemuin designnya. Ihh alat itu kan, kayak mustahil aja gitu adanya.” Kakakku dengan semangat menjelaskan alat yg membuatnya tertarik itu.

            “Lagian kalian mentang-mentang lagi liburan sekolah. Santai banget ya gak belajar, leha-leha kek sapi. Itu juga berita bohong gak usah dinonton apalagi dipercaya.” Ayahku malah mengomeli kami berdua.

            “Ssstt, udah udah ayo ini makan saladnya, sudah ibu buat dengan sepenuh cinta dan kasih saying.” Ibuku mencoba mengalihkan pembicaraan.

            Kami melewati malam itu dengan penuh tawa ditemani oleh semangkok besar salad yang berisi buah-buahan segar hasil panen perkebunan di belakang rumahku. Sesekali abangku akan mengejek kakakku yang menyukai seniornya di SMP. Aku hanya terdiam sesekali ikut tertawa. Pikiranku melayang memikirkan Tesla Death Ray, bagaimana bila semua itu sungguhan terjadi?.

            Pagi itu aku bergegas menghabisi sarapan dan susu kesukaanku, tak lupa mengecek kembali penampilanku di depan cermin, aku terlihat cantik dengan balutan rok biru baruku. Ya ini hari pertamaku di Sekolah Menengah Pertama, aku tak sabar bertemu teman-teman baru, suasana baru, hingga ehem jatuh cinta untuk pertama kalinya.

            Harusnya hari itu adalah hari bahagiaku, tapi entah kenapa saat menginjakan kaki pertama kalinya di sekolah baruku, langit berwarna sedikit gelap. Aku berbalik badan hendak melambaikan tangan kepada ayahku sebelum menyambut hari baru tapi dengan secepat kilat sekelebat gelombang elektromagnetik berfrekuensi tinggi menerjang seluruh permukaan Bumi disertai dengan guncangan yg mematikan menghempaskan seluruh manusia yang tidak sempat berlindung.

            Aku menangis sambil berlari hendak menggapai mobil ayahku yang terbalik ditepi jalan. Namun, dengan sigap guruku menahan tubuhku agar tidak keluar dari gerbang sekolah. Air mataku mengalir dengan sangat deras saat itu, aku hendak melihat keadaan ayahku, aku ingin menyelamatkannya, tapi semuanya menahanku. Aku mohon untuk terakhir kalinya izinkan aku keluar dari sini.

            Tepat tanggal 14 Juli perang dunia ke-tiga pecah, ada sebongkah meteor jatuh dan seluruh Negara berlomba-lomba hendak memiliki meteor itu yang kudengar memiliki kekuatan tak masuk akal, sama tak masuk akalnya ketika ayahku tewas begitu saja di tepi jalan. Kalian pasti bertanya-tanya mengapa aku selamat? Aku tentu saja selamat karena semua gedung pembelajaran telah dilengkapi oleh pengaman paling canggih pada zaman itu, bahkan nyamuk pun tak bisa melewati sensor pengaman, hal itu terjadi karena banyaknya anak-anak yang menjadi korban gempa bumi dan tewas di gedung sekolah. Sedangkan jalanan ataupun pemukiman hanya memiliki sensor pengaman anti kebakaran. Itulah mengapa seluruh orang dewasa meninggal dan menyisakan anak-anak lugu yang sudah sampai di sekolah. Aku yatim piatu sejak saat itu.

            Entah apa yang terjadi, kita semua digiring menuju aula sekolah, hendak berlindung. Semua anak menangis dan memanggil-manggil orang tuanya, dan salah satunya adalah aku. Umurku masih teramat muda untuk menerima fakta bahwa semua anggota keluargaku tewas begitu saja, aku sendirian di dunia ini. Bukankah terdengar amat menyedihkan?

            Kami bertahan berhari-hari, memakan makanan seadanya yang tersedia di kantin dan beberapa sayuran di halaman belakang sekolah. Aku mulai melupakan kesedihanku, dengan amat bahagia ku memakan sarapanku yang telah ku masak sendiri hingga akhirnya orang-orang berseragam lengkap dengan membawa senjata meneriaki kami.

“Semuanya harap tenang, kami tidak akan menyakiti kalian bila kalian menurut.” Ucap seseorang berwajah tampan yang menurutku adalah pemimpin mereka.

“Kyue, aku takut sekali. Gimana kalo mereka nembakin kita sampe mati?.” Ujar Salsa, temanku.

“Udah santai aja, yang penting gak usah ngelawan, nurut aja. Kan selesai urusannya.” Ucapku menenangkan.

“Kami disini akan memilih beberapa anak yang berpotensi memiliki kekuatan yang dapat diandalkan, jadi mohon untuk semuanya berdiri dan diam.” Perintah pemimpin mereka dengan suara tegas.

            Mereka menempelkan alat aneh pada leher kami satu-persatu, dan alat itu akan mengeluarkan warna sesuai kekuatan kami. Hijau untuk kehidupan, merah untuk penyerang, hitam untuk kematian, kuning untuk membuat pelindung dan coklat untuk orang yang normal. Beberapa anak terpilih untuk dijadikan pasukan oleh mereka. Hingga akhirnya giliranku, alat itu menempel erat pada kulit leherku, seketika alat itu berwarna putih cerah. Orang-orang kaget melihat warnaku, terutama pemimpin mereka. Orang yang memasangiku alat aneh itu dengan segera melepasnya dan memeriksa anak lainnya dengan terburu-buru. Aku bernafas lega, akhirnya aku tak dipilih.

            Anak-anak yang terpilih digiring dengan kasar keluar aula. Aku menundukan kepalaku dan melihat sarapanku telah hancur terinjak-injak. Saat aku hendak membereskannya, dengan kasar tanganku ditarik oleh pemimpin mereka dan digiring bersama anak yang lainnya.

“ Salllll, tolonggg, aku gak mau ikut mereka, aku gak mau.”Aku menangis sambil melepaskan tangannya dariku.

“Diam! Atau kau akan pingsan.” Ujarnya memelototiku.

“Tolong lepasin aku, aku gak mau ikut, aku gak punya kekuatan apapun, aku mohon.” Ucapku memohon belas kasihan.

            Dengan secepat angin tubuhku terasa panas dan aku pingsan saat itu juga. Dan aku tak tau nasib apalagi yang akan menantiku, seorang yatim piatu.

            Aku membuka mataku dan ku lihat ruangan kumuh di sekitarku. Ku pandangi sekelilingku dan ku dapati beberapa anak lainnya. Beberapa ada yang memar dibagian wajah, kakinya berdarah bahkan kepalanya bocor. Aku meringis ngilu melihatnya. Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki kearah ruanganku.

            Tong tong tong “ Bangun semuanya bangun. Nih !!! makan sampai habis awas ada yang tersisa se-butir nasi pun!.”  Dia melemparkan piring-piring makanan kami dengan kasar sambil berteriak-teriak.

            Setelah menghabisi makanan dengan penuh ketidakseleraan, kami pun dengan segera diarahkan menuju suatu ruangan yang biasa aku sebut ‘aula’ tapi ini berbeda, ada lorong-lorong berwarna-warni disini dan ku akui cukup menakjubkan. Satu-persatu teman-temanku memasuki lorong itu sesuai warna kekuatannya. Saat aku berjalan didepan lorong-lorong itu, tiba-tiba semua lorong berpendar membentuk warna putih dan aku kebingungan untuk memasuki lorong sebelah sana. Aku ditarik paksa menuju ruangan yang dinding-dindingnya terbuat dari cermin. Aku tak tau harus berbuat apa dan aku memutuskan untuk istirahat sejenak walaupun seluruh tubuhku kotor dan berbau keringat.

            Kurasakan pipiku yang sedang dielus, aku pun dengan perlahan membuka mataku dan kudapati seorang laki-laki yang bila tak salah kuingat merupakan pemimpin para pemberontak         tadi.

  Hey bocah, cepatlah bangun. Aku tak punya waktu untuk hal-hal seperti ini.”

“ Ya?.”Aku yang masih belum sadar sepenuhnya hanya bisa menjawab seadanya.”

“ Cepat ceritakan kepadaku kenapa kau bisa memiliki semua kekuatan!.” Pipiku ditekan olehnya dan dipaksa untuk menjelaskan semua keanehan yang ada pada diriku.

“aku tak tau apapun, tolong lepaskan aku”. Aku hendak menangis menjawab gertakannya.

            Aku dipukuli habis-habisan olehnya dan aku hanya bisa pasrah bila aku akan mati saat ini juga. Aku tak peduli lagi, aku sendirian di dunia yang mengerikan ini. Kepalaku terasa pusing dan akhirnya aku jatuh pingsan untuk kesekian kalinya.

            Bertahun-tahun kekuatanku dilatih olehnya –Forhes, aku diajarkan bagaimana cara menggunakan kekuatanku dengan maksimal tanpa kelelahan. Aku baru tau satu fakta ditahun pertama mengenal Forhes, umurnya hanya terpaut lima tahun denganku dan itu membuat kami nyambung untuk mengobrol. Kami mulai terbuka hari demi hari dan itu membuat perasaan aneh ini muncul untuk pertama kalinya.

“Kak Forhes mau dibuatin sarapan apa?.” Aku berteriak sekencang mungkin dari arah dapur.

“Apapun itu yang menurutmu enak Kyue.”  Kak Forhes balas meneriaki dari kebun belakang.

“Huh selalu saja seperti ini, sebenarnya dia itu suka makanan apa sih! Semuanya dimakan!.”

“Tidak usah menggerutu seperti itu, cepatlah buatkan aku makanan. Kau tak lihat keringatku ini? Sudahlah aku mau mandi dulu.” Kak Forhes mengagetkanku.

            Ya begitulah kehidupan kami selama tiga tahun lamanya dalam proses pelatihan pengendalian kekuatan di sebuah gunung yang jauh dari kehidupan manusia. Maklum saja, setelah keberadaanku diketahui, para elite global berusaha mengincarku untuk mempermudahnya mengambil alih dunia.

            Saat umurku 17 tahun, aku diberitahu satu hal penting dalam hidupku, yaitu tentang kejadian 5 tahun lalu, peristiwa yang merenggut nyawa kedua orangtuaku. Ternyata meteor jatuh itu bohong, itu hanya akal-akalan elite global saja. Mereka menggunakan Haarp dan Tesla Death Ray untuk melakukan pengurangan populasi agar mereka dengan mudah mengambil alih dunia. Aku membenci mereka dan tidak akan pernah mau bekerja sama dengannya.

“Kyue, kalau suatu saat nanti elite global mampu melacak kita, aku mohon pergilah menuju Pent Penzhulu. Disana adalah tempat ter-aman selama aku melakukan ekspedisi.” Forhes memberitahuku sambil mengelus lembut rambut panjangku.

“Siap komandan! Nanti Kyue yang bangun rumah super besar disana pakai kekuatan yang sudah dilatih Kak Forhes 5 tahun.” Dengan semangat aku menyahutinya.
             “Jadilah anak baik disana ya, Yuyu”. Kak Forhes tersenyum dengan sangat tulus untuk pertama kalinya dan sungguh perasaan aneh ini semakin terasa mengganjal.

            Aku bisa memasak tanpa menggunakan kompor ataupun pisau, tinggal menggerakan jari semuanya bergerak sesuai keinginanku. Memotong, mengiris, menggoreng, menumbuhkan tumbuhan, menyalakan api, dan semuanya terlihat lebih mudah.

            Setahun kemudian, tanpa ada persiapan apapun, para elite global berhasil mengepung kami. Aku dan kak Forhes kewalahan menahan semua serangan. Aku kehabisan tenaga dan begitu pula dengannya. Hidungku mengeluarkan darah dan dia berhasil menangkap itu semua.

“kamu pergi ke Pent Penzhulu ya? Biar saya yang mengalihkan mereka”.  Dia mencengkram erat lenganku, aku menggeleng kuat dan tentu saja aku tak mau meninggalkannya sendiri dengan beratas-ratus monster ini dan dia tanpa rasa takut memberiku anggukan yakin.

            Aku belum menguasai teknik berpindah tempat. Dia dengan secepat kilat berlari berlawanan arah dariku sesaat setelah menyentuh dahiku hingga mengeluarkan cahaya keabuan.

“ I love you. Hidup dengan baik ya disana”. Aku melihatnya meneteskan air mata untuk pertama kalinya sebelum benar-benar meninggalkanku. Dapat ku lihat timah panas bertubi-tubi menghantamnya sebelum aku benar-benar menghilang dan mendarat dengan sempurna didepan sebuah rumah sederhana.

            Aku terduduk menangis tersedu-sedu mengingat semua itu. Dadaku sesak tak tertahankan. Kemudian untuk kesekian kalinya, aku berjalan menuju lingkaran hitam tepat di depanku. Mencoba berulang kali kekuatan hitamku, kematian. Aku lelah terus bertahan hidup bertahun-tahun dalam kesendirian. Ku injakan kakiku sekuat mungkin kearah tanah yang sudah mengering akibat ulahku sendiri lalu cahaya hitam menyelimutiku perlahan, rasanya sungguh menyakitkan tapi aku tak akan berteriak ataupun menangis. Aku lelah akan semua ini.

“ oh tuhan, kumohon untuk kali ini saja. Biarkan aku mati”. Tubuhku serasa dihisap kedalam lubang berwarna hitam. Aku berharap di kehidupanku berikutnya, aku menjadi orang yang biasa saja yang dapat hidup bahagia bersama Forhes. Tittttttt_____________

            Tidak, aku tidak akan mati secepat itu walaupun aku berusaha sekuat mungkin, aku akan mati untuk 10 detik, kemudian akan dihidupkan kembali oleh kukuatan hijauku,kehidupan. Aku harus menghabiskan sisa hidupku didalam rumah yang sudah ku beri tameng berlapis-lapis yang pastinya tidak ada kekuatan apapun yang dapat mengusikku. Sungguh menyedihkan. Andai saja Kak Forhes masih hidup dan aku dapat kembali ke masa lalu, 10 tahun yang lalu. Aku ingin menghentikan elite global sebelum semuanya berakhir seperti ini.

“ Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku mencintai Kak Forhes sejak pertama kali aku melihatnya dan terima kasih untuk mencintaiku”.

***

“Yu aku disini, kumohon keluarlah dari tamengmu”.

Kyue tak akan pernah tau, fakta bahwa Forhes masih hidup dan Forhes tak akan pernah tau bahwa Kyue menganggapnya telah tewas.

 

 

 

 

 

 

Definisi atau arti kata anomali berdasarkan KBBI Online:

anomali /ano·ma·lin 1 ketidaknormalan; penyimpangan dr normal; kelainan; 2 Ling penyimpangan atau kelainan, dipandang dr sudut konvensi gramatikal atau semantis suatu bahasa; 3 Tek penyimpangan dr keseragaman sifat fisik, sering menjadi perhatian ekplorasi (msl anomali waktu-lintas, anomali magnetik)

Penelitian Kualitatif

1. Pengertian Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah pendekatan ilmiah yang digunakan untuk memahami makna, realitas sosial, a...