Kamis, 11 Agustus 2022

Pejuang Lomba Terakhir


Mentari bersinar terang di angkasa. Seorang gadis setinggi kira-kira satu setengah meter terlihat gembira berjalan ke sekolah menyambut hari barunya. Di jilbabnya tertambat sebuah name tag bertuliskan Zinnia Patma yang berkilau tertimpa cahaya matahari. Gadis kelas 12 itu menggandeng sebuah tote bag yang terisi penuh oleh buku-buku di tangan kanannya, dengan punggung yang sudah membawa tas ransel sebelumnya. Seseorang tiba-tiba menghampirinya dari sebelah kanan dan menawarkan diri untuk membantu membawa tote bag itu.

“Zin, sinikan tote bag-mu, biar aku bawakan. Kamu sudah seperti unta saja membawa bawaan yang berat sekali.”

“Tidak perlu, Vi. Aku sudah biasa membawa ransel seberat ini. Kamu tahu, kan? Lagipula, kamu juga membawa ransel.”

“Hei, kamu tak lihat seberapa ringan ransel ini? Kelihatannya akan sama dengan kenyataannya. Percayalah padaku,” ungkap gadis itu sambil menyambar tas selempang dari tangan kanan Zin.

"Di mana kamu taruh buku-bukumu?"

"Aku sudah membawanya ke sekolah saat pelajaran terakhir." Ia menyengir.

“Baiklah. Terima kasih, Viola.” Ucap Zin sambil tersenyum dan sedikit menghela napas melihat kelakuan temannya.

Zinnia dan Viola adalah dua sahabat baik. Mereka saling mengenal sejak duduk di bangku kelas 7 sekolah menengah. Mungkin dulu tak ada yang menyangka mereka akan bersahabat sedekat sekarang. Dulu, mereka adalah rival dalam meraih juara umum di sekolahnya. Sekarang pun masih sama. Namun, sampai sekarang di sekolah menengah atas yang sama, Viola belum bisa menyalip posisi Zinnia sebagai peraih juara umum satu di sekolahnya. Hal ini tak membuat Viola membenci Zinnia. Malah, mereka yang duduk di ruang kelas yang berbeda menjadi semakin dekat setelah saling mengenal rival mereka.

Di sekolah mereka yang sekarang--sebuah sekolah bertaraf nasional yang menyeimbangkan ilmu agama dan dunia—MAN Insan Kamil, mereka berjuang sungguh-sungguh untuk merealisasikan cita-cita mereka. Salah satu caranya adalah dengan mengikuti lomba di bidang akademis sesuai bidang mereka masing-masing. Viola tergabung dalam kelas tambahan Fisika, sedangkan Zinnia mengikuti kelas tambahan Biologi. Mereka adalah siswi berprestasi di sekolahnya. Namun, tanpa informasi tentang suatu lomba, mereka tak akan mampu mengikuti lomba tersebut. Sebab itulah, mereka rajin melihat mading (majalah dinding) utama di sekolah mereka setiap pagi. Kali ini pun mereka melakukannya. Setiba mereka di bangunan sekolah, mereka bergegas menuju mading utama untuk memeriksa informasi lomba yang dapat mereka ikuti. Mading utama sekolah cukup besar dan panjang. Mungkin membutuhkan beberapa menit untuk mencerna informasi yang tercantum di sana. Setelah beberapa lama menelusuri mading utama itu, tiba-tiba Zinnia berteriak pada Viola.

“Vio! Ada lomba baru!” teriak Zinnia yang kegirangan sambil mengerjapkan bola matanya yang berbinar pada Viola.

“Wah, wah! Lomba apa? Pasti bidangmu, ya?” Viola heran melihat temannya yang pertama kalinya terlihat sangat bersemangat saat melihat informasi di mading. Namun, dia masih berkutat dengan informasi pada mading di depannya.

“Bukan. Lihatlah! Aku jamin reaksimu akan sama sepertiku saat melihatnya.”

Viola yang penasaran bergegas menghampiri Zinnia. Setelah membaca judul sebuah informasi bertuliskan MEDSPIN, International Medical Science and Application Competition for High School Students, ia langsung berteriak,

“Ayo kita ikuti lomba itu, Zin!” Matanya tak kalah berbinarnya daripada mata Zinnia tadi. Di sisi lain, mata Zinnia menelusuri guideline lomba tersebut. Lomba itu adalah seleksi yang diadakan oleh Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya untuk memilih tim siswa SMA sederajat sebagai perwakilan Indonesia di tingkat internasional—se-Asia Tenggara. Satu tim terdiri dari tiga orang, masing-masing di bidang Biologi, Fisika, dan Kimia.

“Tunggu,” sanggah Zinnia. Viola yang kebingungan menaikkan alis kanannya. “Lomba ini membutuhkan tiga orang dalam satu tim. Kita butuh satu orang lagi.”

“Itu hal yang kecil. Serahkan padaku. Kamu kira aku hanya diam di kelas sepertimu saat jam istirahat? Mungkin hanya butuh sedikit bujukan untuk mengajaknya.” Viola mulai berlagak.

“Siapa? Dia “orang” Kimia?” Zinnia yang penasaran mencoba menerka.

“Ya. Nanti kamu akan tahu siapa dia.”

“Siapa, Vi?” Zinnia tak bisa membendung rasa penasarannya.

Teet teet...

Tiba-tiba bel berbunyi. Mereka harus ke lapangan untuk mengikuti doa pagi sesuai kelas mereka. Terpaksa mereka harus berpisah.

“Zin, nanti saja, ya.” Viola yang tadinya ingin menjelaskan kepada Zinnia terpaksa menunda penjelasannya. Mereka bergegas ke barisan kelas mereka masing-masing.

Setelah doa pagi, Viola tidak sempat berbicara lagi dengan Zinnia. Mereka memasuki kelas dan mengikuti pelajaran sampai waktu istirahat. Mereka baru bisa bertemu di kantin. Viola bersama seorang gadis yang tak asing di mata Zinnia, tetapi dia tak tahu namanya. Sepertinya dia adalah “orang” yang dimaksud oleh Viola tadi.

“Sst... Vi, dia siapa?” Zinnia yang penasaran bertanya kepada Viola dengan berbisik. Ia bukan penasaran namanya. Namanya sudah tertera di papan nama di jilbabnya, Felis Aulina Bestari. Ia penasaran dengan kelas yang ditempati gadis itu.

“Tak perlu berbisik begitu. Lagipula, bisikanmu bisa didengar olehnya, tahu.” Viola memutar bola mata melihat tingkah temannya yang bisa dibilang agak sok pemalu itu.

Zinnia menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil berkata, “Hehe, maaf. Jadi, bisakah kamu memperkenalkanku padanya?”

“Dengan senang hati,” ucap Viola dengan senyum merekah di wajahnya. “Zin, perkenalkan, orang yang di sebelahku bernama Felis. Dia kelas XII MIA 3. Dia adalah orang yang aku maksud tadi pagi,” Viola mengambil sedikit jeda sebelum memperkenalkan Zinnia kepada Felis. “Felis, perkenalkan, ini Zinnia, teman baikku dari kelas XII MIA 1. Jadi kita lengkap kan, XII MIA 1, XII MIA 2, dan XII MIA 3?” ujar Viola dengan senyum yang semakin mengembang.

“Assalamu’alaikum. Salam kenal, Felis. Senang berkenalan denganmu.” Ucap Zinnia sambil tersenyum dan mengulurkan tangan kanannya.

Felis menerima uluran tangan Zinnia lalu membalas, “Wa’alaikumussalam, Zinnia. Aku juga senang berkenalan denganmu.” Ia memberikan senyum yang tak kalah manis daripada senyum Zinnia.

Sebuah perkenalan yang hambar baru saja terjadi dalam kelompok tiga orang tersebut. Entah Zinnia lupa akan tujuan awalnya, namun setelah perkenalan itu, mereka terdiam selama beberapa puluh detik hingga akhirnya Viola memecah kesunyian dalam keramaian di kantin itu.

“Jadi, Felis mengatakan padaku bahwa dia setuju tentang rencana kita.” Viola memulai diikuti anggukan Felis.

Zinnia yang tadinya setengah melamun mulai mengembalikan kesadarannya. “Ah! Ya, aku sampai lupa hal itu. Viola sudah menjelaskan padamu? Ini keinginanmu sendiri, kan? Jika kamu terpaksa, aku tak akan segan memaksamu keluar dari tim ini.” Zinnia tak main-main merekrut seseorang menjadi timnya. Ia tak ingin anggota timnya bekerjasama dengannya tanpa keikhlasan.

Setengah takut dan kaget, Felis menjawab, “Benar, ini kemauanku sendiri, kok. Aku juga sudah lama memantau lomba ini, ‘tapi aku belum memiliki tim.” Zinnia dan Viola mengangguk mendengar jawaban Felis.

“Sekarang kita tinggal menyusun strategi, baik itu saat belajar atau menjawab soal. Kita tahu sendiri kalau sekolah kita jadwal terbangnya sangat padat. Aku tahu saat mendekati hari H babak penyisihan pun, akan ada evaluasi harian yang kita hadapi,” kata Viola.

“Aku rasa kamu melupakan guru pendamping dan izin sekolah,” Felis menimpali.

“Oh iya, ya. Aku lupa. Hehehe...” Viola memiringkan kepala sambil tertawa ringan.

“Bagaimana kalau Bu Kartini yang menjadi pendamping kita? Beliau sudah berpengalaman menjadi pendamping siswa yang ikut lomba. Ya, alasan utamanya tentu karena kemampuan di bidangnya,” usul Zinnia.

Bu Kartini adalah seorang guru Biologi di sekolahnya. Namun, ia juga bisa mengajar pelajaran lain yang terkait, seperti Kimia dan Prakarya. Tak butuh waktu lama bagi Viola dan Felis untuk memutuskan.

“Setuju!” Viola dan Felis berteriak serempak.

Teeet teeet….

Teriakan mereka disambut oleh bel masuk.

“Kita lanjut besok, ya!” seru Zinnia sebelum beranjak dari kursi kantin. Anak yang lain pun beranjak ke kelas mereka. Kantin itu sudah sepi oleh para siswa beberapa menit kemudian.

Di kelas, Zinnia belajar dengan semangat hingga bel kedua berbunyi. Ia melaksanakan sholat Zuhur lalu kembali ke kelas. Ia mengikuti pelajaran hingga akhirnya bel pulang berbunyi.

Esok hari, sesuai yang telah mereka rencanakan, mereka membahas lomba  itu lagi di kantin. Kali ini mereka membawa print out yang berisi informasi tentang lomba tersebut untuk diperlihatkan kepada Bu Kartini. Setelah merencanakan strategi awal, mereka memberanikan diri untuk meminta Bu Kartini menjadi pendamping mereka. Dengan harap-harap cemas, mereka memasuki ruang guru. Di sudut ruangan, mereka melihat seorang wanita paruh baya mengenakan kacamata dengan laptop yang menyala di depannya. Ia terlihat sibuk. Mereka sedikit enggan untuk mengganggu guru mereka itu. Zinnia yang melangkah paling depan sempat ragu melangkahkan kakinya, tetapi Viola yang di belakangnya menahan punggungnya untuk terus melangkah. Viola dan Felis mengangguk memberi semangat kepada Zinnia. Zinnia balas mengangguk seolah-olah mengatakan “Baiklah.” Sesampai mereka di depan meja Bu Kartini, mereka mulai mendiskusikan hal ihwal mereka.

“Assalamu’alaikum, Bu Guru.” Ucap mereka serempak.

“Wa’alaikumussalam, Nak. Ada apa, ya?” tanya Bu Kartini dengan mimik ramah di wajahnya.

Zinnia mulai berbicara. “Begini, Bu. Kami bertiga; saya, Viola, dan Felis berniat mengikuti sebuah lomba yang diinformasikan di mading sekolah. Lomba ini bernama MEDSPIN yang diselenggarakan oleh UNAIR Surabaya.” Zinnia menjeda penjelasannya untuk memperlihatkan print out yang sudah mereka siapkan. “Lomba ini diikuti oleh tim yang berisi tiga orang dengan seorang pendamping. Tujuan kami ke sini adalah untuk meminta Ibu menjadi pendamping tim kami.” Zinnia melanjutkan.

Bu Kartini membaca print out tersebut sekilas lalu menjawab, “Kalian bertiga berarti memegang tiga bidang yang berbeda, ya? Zinnia; Biologi, Viola; Fisika, dan Kimia; murid pindahan, Felis, ya? Begitu pembagiannya?” Zinnia terlihat sedikit kaget mendengar penggalan kalimat kedua terakhir Bu Kartini. Ia baru tahu bahwa Felis adalah murid pindahan.

“Benar, Bu.” Mereka menjawab serentak.

“Insya Allah, Ibu akan mengusahakan yang terbaik sebagai pendamping kalian. Masalah biaya jangan dipikirkan. Ibu akan mengajukan kepada sekolah agar biaya lomba ditanggung sekolah. Kalian berusahalah yang terbaik juga.” Bu Kartini menuturkan kemudian tersenyum.

“Terima kasih, Bu Guru. Insya Allah, kami juga akan mengusahakan yang terbaik,” ucap Felis. Mereka bertiga membalas senyum Bu Kartini.

“Sama-sama, Nak,” balas Bu Kartini.

“Kalau begitu, kami pamit kembali ke kelas, Bu Guru. Jam pelajaran selanjutnya akan segera dimulai.” Kali ini Viola yang berbicara.

“Iya, Nak. Belajar yang rajin,” tutur Bu Kartini.

“Iya, Bu. Assalamu’alaikum...” Mereka mengucapkannnya serentak lalu mencium tangan Bu Kartini bergiliran.

“Wa’alaikumussalam...” Jawab Bu Kartini.

Mereka keluar dari ruang guru dengan perasaan lega. Fakta bahwa Felis adalah murid pindahan hampir tersingkir dari otak Zinnia.  Mereka berjalan bersama ke kelas mereka masing-masing-masing. Kebetulan jalan kelas mereka searah. Saat berjalan melewati lorong, ia sempat menanyakan masalah kepindahan Felis, namun Felis tidak merespon. Mungkin tak harusnya ia menanyakan hal itu sekarang. Lagipula, mereka harus belajar dengan giat dan mengabaikan hal yang tak penting.

Hari selanjutnya, mereka berkumpul lagi di gazebo sekolah untuk belajar bersama. Bu Kartini datang sesekali untuk mengontrol dan menjawab pertanyaan mereka. Gazebo itu memang setiap hari ramai oleh para siswa. Kecil kemungkinan bagi mereka untuk bisa mendapat tempat di sana. Namun, salah satu dari mereka yang paling cepat keluar dari kelas akan bergegas ke sana setiap harinya. Alhasil, mereka berhasil mendapat tempat di sana.

Gazebo itu terletak di samping kantin sekolah mereka. Mereka bisa memilih tempat antara di kantin atau di gazebo untuk menghabiskan makanan ringan yang mereka beli di kantin. Hawa sejuk di gazebo itu pun mendukung proses belajar mereka.

Mereka mendalami bidang mereka masing-masing. Artinya, ada kemungkinan untuk mereka belajar mandiri di tempat yang mereka inginkan. Namun, mereka bertiga sepakat untuk belajar bersama di gazebo agar dapat membahas soal medis bersama. Selain itu, tak ada salahnya bagi mereka untuk mengenal lebih dekat satu sama lain.

Hari demi hari berlalu, tak terasa waktu penyisihan lomba semakin dekat. Semua persyaratan telah mereka penuhi. Mereka semakin sering belajar bersama di gazebo sekolah saat jam istirahat. Bu Kartini datang menyambang di awal waktu istirahat. Mereka hanya absen beberapa kali, kadang saat mereka ada ulangan yang agak susah ditoleransi. Atau beberapa kali Felis mendapat telepon melalui ponsel guru yang mengharuskannya undur diri lebih dulu.

Di gazebo, mereka kadang bercanda sebagai selingan. Mereka juga saling bercerita tentag kehidupan masing-masing. Mereka bertiga semakin dekat. Namun, Zinnia dan Viola merasa Felis agak menutup diri dari mereka. Sebenarnya, pikiran Zinnia masih terganggu oleh beberapa hal tentang Felis yang misterius. Misalnya masalah kepindahannya, telepon masuk ke ponsel guru yang ditujukan untuknya, dan Felis yang jarang terlihat bersama anak lain selain Zinnia dan Viola.

Beberapa hari sebelum seleksi dilaksanakan, ketika Bu Kartini tidak sempat mendatangi mereka karena suatu urusan, Viola mencoba memberanikan diri membahas kehidupan Felis. Saat itu, Zinnia sedang izin ke kamar kecil. Viola memulai dengan menceritakan sepenggal kisahnya. Tentu saja dengan diselingi candaan. Ia juga mulai bertanya tentang kehidupan Felis mulai dari hal-hal umum, tentang kehidupan sekolahnya di MAN Insan Kamil, pendapatnya tentang sekolah itu, dan lain-lain yang tidak sampai ke masalah pribadinya.

“Omong-omong, apa alasan kamu pindah ke sini, Fel? Kamu terlihat misterius sekali. Seharusnya kamu lebih banyak bergaul dengan siswi di sini. Ups!” Ia segera menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia keceplosan melontarkan pertanyaan yang harusnya ia hindari. Atmosfer yang tadinya ringan menjadi lebih berat. Ia pernah mendengar Zinnia menanyakan hal yang sama kepada Felis, namun ia tak dijawab sama sekali.

Jeda yang panjang terbentang antara pertanyaan Viola dan jawaban yang akan dikatakan Felis. Akhirnya Felis membuka mulut, “Ada beberapa hal yang tak bisa dikatakan orang kepada orang lain. Dan itu adalah hal yang tak bisa aku ungkapkan pada kalian. Maaf, aku harus pergi.”

Setelah menyelesaikan penuh kalimat itu, Felis mengambil tasnya lalu pergi ke arah toilet. Di sana, ia berpapasan dengan Zinnia yang baru saja kembali dari toilet. Viola tak mengejar, justru ia hanya berteriak, “Felis, kamu mau ke mana?! Jangan keluyuran lagi kamu!” Viola yang geram membuat asumsi yang tak enak didengar.

“Ada apa, Fel? Kamu mau ke mana?” tanya Zinnia pada Felis. Namun Felis tak melihatnya sama sekali, apalagi merespon. Ia hanya berjalan terus melewati toilet, sepertinya menuju gerbang depan sekolah. Entah ia akan pergi ke mana.

Zinnia berbalik kepada Viola. “Apa yang terjadi saat aku tak ada, Vi?”

“Yah, kami membicarakan beberapa hal, lalu ia jadi seperti itu.” Ia mengatakannya dengan gugup, keringat mulai bercucuran melewati keningnya.

“Kamu tak seharusnya membuat masalah saat mendekati lomba seperti sekarang ini.” Ujar Zinnia.

“Apa katamu? Aku tak pernah membuat masalah. Dia yang terlalu sensitif. Aku tak suka orang yang sensitif.” Viola membalas.

“Seseorang akan menjadi sensitif jika masalah sensitifnya diungkit,” Zinnia menghela napas. “Sudahlah, sekarang kita biarkan dulu dia menenangkan diri. Besok kita harus minta maaf padanya,” pinta Zinnia.

Viola hanya mendengus mendengar perkataan sahabatnya. Ia memang harus melakukan apa yang dipinta Zinnia. Ia tahu bahwa sahabatnya itu tak ingin mengacaukan lomba yang akan mereka ikuti. Mereka berdua kembali ke kelas masing-masing meninggalkan gazebo teduh yang sekarang sama sekali tak menunjukkan adanya bekas pertengkaran beberapa saat lalu di sana.

Keesokan harinya, mereka pergi mencari Felis di kelasnya, XII MIA 3. Kelas itu sangat berisik dan ramai pada jam istirahat. Tak terbayangkan bagaimana Felis yang pendiam beradaptasi dengan keadaan kelas itu. Mereka mencari Felis untuk minta maaf, namun mereka tak menemukan Felis. Teman kelasnya berkata bahwa ia tidak masuk sejak jam pelajaran ke lima kemarin. Itu berarti setelah insiden di gazebo.

Mereka berdua akhirnya belajar di gazebo tanpa Felis. Ketika Bu Kartini datang mengontrol mereka, mereka menceritakan masalah yang kemarin kepada Bu Kartini. Bu Kartini pun tidak tahu di mana Felis sekarang. Felis tidak masuk tanpa keterangan. Bu Kartini menyarankan mereka untuk mencari Felis ke rumahnya. Mereka memang berencana mencari Felis ke rumahnya sepulang sekolah. Mereka meminta alamat Felis kepada Bu Kartini. Bu Kartini memberikan mereka alamat Felis yang tertera di biodata Felis.

Sepulang sekolah, mereka mencari alamat Felis. Alamatnya cukup susah ditemukan, namun mereka berhasil menemukannya. Rumahnya cukup besar. Mungkin paling besar di lingkungannya. Rumah itu jauh dari keramaian. Namun sayang sekali, mereka tak menemukan siapapun di rumah itu. Mereka berencana mencari Felis esok hari lagi.

Sepulang sekolah keesokan harinya, mereka kembali ke rumah Felis, tetapi tetap tak ada siapapun di sana. Tetangganya mengatakan bahwa ia tidak pernah melihat Felis selama beberapa hari. Tetangga yang lain mengatakan bahwa ia melihat Felis kembali hanya saat pagi hari. Setelah itu ia segera pergi lagi entah ke mana.

Besok adalah pelaksanaan lomba dan mereka belum menemukan Felis. Mereka memberitahu Bu Kartini apa yang mereka dapatkan dari tetangga Felis. Sekarang, mereka hanya dapat melaksanakan rencana terakhir mereka. Mereka berencana menjemput Felis pada pagi hari sebelum ia pergi lagi dan membawanya ke tempat lomba. Mereka bisa saja mengganti posisi Felis, namun mereka telah berjuang bersama. Mereka pun harus bertanding bersama.

Benar saja, esok harinya, menggunakan mobil sekolah dan ditemani Bu Kartini, mereka ke rumah Felis pagi-pagi sekali. Mereka menunggu di dalam mobil yang terparkir di tempat yang agak jauh dari rumah Felis. Setelah menunggu sekitar lima belas menit, mereka hampir tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Itu memang Felis! Zinnia langsung turun menghampiri Felis, disusul Viola dan Bu Kartini. Felis yang menyadari kehadiran mereka langsung berlari ke arah rumahnya. Untunglah Zinnia berhasil meraih tangan Felis.

“Felis! Ke mana saja kamu selama ini? Kami mencarimu,” ungkap Zinnia.

 Zinnia hanya mendengar isak tangis dari Felis. Felis berusaha melepas genggaman Zinnia, namun sia-sia. Zinnia telah bertekad membawa Felis mengikuti seleksi hari ini. Viola dan Bu Kartini akhirnya sampai di depan rumah Felis, tempat Zinnia dan Felis berada.

“Nak, apa yang terjadi padamu?” Bu Kartini membuka mulut. Felis hanya terdiam mendengar pertanyaan itu.

“Felis, maafkan aku. Aku tak sengaja mengatakan hal seperti itu waktu itu. Aku benar-benar menyesal, Felis.” Viola terlihat penuh penyesalan.

“Felis, maafkan kami. Jika kamu punya masalah, ceritakanlah kepada kami. Kami bersedia mendengarnya.”

“Mengapa kalian tak pergi saja? Sekarang hari seleksinya, kan?” Akhirnya Felis membuka suara dengan sedikit getaran pada suaranya.

“Kami tak akan pergi tanpamu,” ucap Viola.

“Mengapa kalian tak mencari penggantiku? Bukankah kalian sangat ingin mengikuti lomba itu?”

“Kami memang ingin mengikutinya. Mungkin sekarang adalah kesempatan terakhir kami mengikuti lomba di jenjang ini, mungkin kamu juga. ‘Tapi, kami sudah bersamamu dari awal. Kami pun harus bersamamu sampai akhir. Maka dari itu, ikutlah bersama kami.”

“Maaf. Aku tak bisa. Nyawa seseorang yang berharga bagiku akan dipertaruhkan hari ini. Aku harus berada di sampingnya,” ungkap Felis.

“Bisakah kamu menceritakannya pada kami, Fel? Kami tak akan mengerti jika kamu tak menceritakannya.” Viola memohon.

“Ibuku akan dioperasi hari ini. Beliau terkena kanker hati. Tak ada yang menemaninya di rumah sakit.”

“Begini saja. Kalian bertiga pergi lomba, biar Bu Guru yang menjaga ibumu.” Bu Kartini menawarkan.

“Tapi, apa tidak merepotkan Bu Guru?”

“Tentu tidak. Ibu melakukannya dengan senang hati.”

“Fel, terimalah tawaran Bu Guru. Setelah pengumuman hasil penyisihan, kita pasti akan mengunjungi ibumu,” bujuk Zinnia.

Felis diam beberapa saat sambil mempertimbangkan. Setelah kurang lebih 10 menit, ia akhirnya membuka suara, “Baiklah, aku akan melakukannya. Tapi aku tidak yakin aku mampu, sudah berapa hari aku tidak belajar bersama kalian.”

“Tidak apa, percaya pada kemampuanmu, Fel. Kita sudah mempersiapkannya dari jauh hari, kan? Yakinlah kita bisa.” Viola memberi semangat.

“Bailklah. Berikan Bu Guru alamat rumah sakit tempat ibumu dirawat. Ibu akan ke sana sendiri. Kalian berangkatlah ke tempat penyisihan,” pinta Bu Guru.

Mereka berpamitan dan meminta doa kepada Bu Kartini setelah Felis memberikan alamat rumah sakit tempat ibunya dirawat ke Bu Kartini. “Assalamu’alaikum, Bu Guru,” ucap mereka serentak.

“Wa’alaikumussalam. Jangan lupa berdoa, Nak.”

“Iya, Bu.” Setelah mengucapkan kalimat itu, mereka segera masuk ke mobil sekolah. Sopir sekolah membawa mereka ke tempat seleksi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Felis.

Setelah sampai di lokasi tes, tes akan segera dimulai. Mereka segera memasuki ruang tes. Mereka mengerjakan tes dengan lancar. Sebelumnya, ketika masih di perjalanan, mereka sudah menyusun strategi menjawab soal. Ada empat tipe soal yang mereka kerjakan, soal Biologi, Fisika, Kimia, dan medis. Waktu mereka mengerjakan tes adalah 120 menit. Mereka berencana mengerjakan soal Biologi, Fisika, dan Kimia sesuai bidang masing-masing selama 70 menit pertama, soal medis secara bersama-sama selama 30 menit setelahnya, dan waktu yang tersisa akan mereka gunakan untuk mengisi jawaban di lembar jawaban.

Sesudah keluar dari ruang tes, mereka menunggu kurang lebih 3 jam hingga hasil tes diumumkan. Hasilnya, mereka berhak maju ke babak selanjutnya. Mereka sangat bahagia sampai menangis terharu akan kebahagiaan mereka.

Mereka segera beranjak ke rumah sakit tempat ibu Felis dirawat setelah hasil diumumkan. Setiba di kamar tempat ibu Felis dirawat, mereka melihat ibu Felis yang masih terbaring di ranjang rumah sakit setelah operasi dilaksanakan. Bu Kartini berkata bahwa operasi berhasil dilaksanakan. Ibu Felis tidak sadarkan karena efek obat bius. Mereka akan menunggu di sana sampai ibu Felis sadar. Sekitar setengah jam menunggu, akhirnya ibu Felis siuman. Felis menangis bahagia menceritakan keberhasilan mereka ke babak selanjutnya.

Felis menceritakan semua kejadian yang menimpanya. Saat ayahnya selingkuh, saat ibunya dirawat di rumah sakit. Saat ayahnya akhirnya menceraikan ibunya. Semua itu mengalihkan pikirannya dari tanggung jawab di sekolah. Itulah yang membuat ia menutup diri terhadap orang lain. Ia pun pindah ke MAN Insan Kamil yang sedaerah dengan rumah ibu Felis. Pertemuan Felis dengan Zinnia dan Viola memberikan sedikit harapan dalam hidupnya. Namun, ia masih belum dapat terbuka kepada sekitarnya. Kejadian hari inilah yang mengubah sebagian besar hidupnya.

Sekarang, Zinnia, Viola, dan Felis harus berjuang menghadapi kelanjutan lomba yang mungkin akan menjadi lomba terakhir mereka di jenjang sekolah menengah atas sederajat ini. Mereka bertekad memenangkan lomba terakhir ini. Mereka akan berjuang dengan sungguh-sungguh demi merealisasikannya.

 

 

 

 

 

 

Matahari Takkan Bosan


     Saat ku bangkit dari Kasur ku yang empuk, lalu ku ambil posisi duduk mengarah keluar jendela menyaksikan kejadian saat embun bertetesan. Mentari pun mulai meninggi, lalu diam - diam membasahi seluruh tubuhku dengan cahaya kuningnya yang bersinar lembut. Kemudian kugerakan seluruh ototku. Kuajak tubuhku berolahraga.

     Putar kanan… putar kiri… hadap kanan… hadap kiri…melakukan pemanasan yang biasa kulakukan. Aliran darah segar kemudian membanjiri pembuluh darahku. Aku terbuai keseruan. Di tengah keseruan itu, seolah-olah kudengar orang bercakap-cakap. Kuajak kakiku untuk melangkah mencari asal suara. Di ruang tamu kudapati dua orang tengah terlibat perbincangan yang sangat serius. Kemudian aku intip dibalik pintu belakang. Ayah tiriku serta temannya. Aku tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Bahasa sunda adalah penghalangnya, karena aku kurang mengerti bahasa itu.

     Diam - diam kuberanikan untuk duduk disamping bapak tiriku. Setelah ku duduk di sebelah Ayah tiriku. Aku pun kini terpaut dalam pembicaraan yang sudah mereka mulai sejak tadi. Dengan pembahasan mengenai pekerjaan mereka masing – masing, aku bertanya, menjawab serta menanggapi apa saja yang terjadi pada saat diskusi pagi itu. Ternyata masalah pekerjaan yang menjadi perdebatan sejak tadi. Ayah tiriku seorang pedagang dan beliau menekuni pekerjaan tersebut, kemudian temannya seorang guru yang tengah menjalani profesi yang dimilikinya.

     “Saya heran kenapa kamu tidak capek bolak - balik dari rumah ke pasar tiap hari?” Pertanyaan konyol yang temannya lontarkan. Bagaimana tidak, jika aku bisa bertanya padanya mengapa juga dia tak pernah lelah bolak - balik dari rumahnya ke sekolah?.

     “Kata siapa saya tidak capek!” Ayah menanggapinya singkat.

     “Hmm… tidak, maksud saya apakah kamu tidak bosan?” pertanyaan lanjutan untuk Ayah

     Suasana ruangan membisu. Kulirik Ayah tiriku. Ayahku diam. Bukan diam biasa. Ada kebijaksanaan serta wibawa tercipta diwajahnya dan aku baru tahu itu. Perkenalanku dengan Ayah tiriku belumlah lama, baru seminggu lebih lima hari. Sejauh ini aku lihat Ayahku orangnya humoris, lucu, suka bercanda serta jarang sekali untuk serius. Tapi pagi ini ia beda sekali.

     Ayahku menghela napas, mengisi ruang kosong didadanya. Perlahan mengalir nasihatnya lewat lisannya. Diwejangkan jawaban buat pertanyaan temannya.

     “Kamu tahu matahari bukan?” Retoris Ayah bertanya.

     Temannya mengangguk. Begitu juga aku.

 

     “Matahari bersinar disiang hari. Muncul ditimur lalu tenggelam dibarat. Dia bertugas menerangi bumi, memberi kehidupan untuk makhluk yang ada di dunia ini.”

     Kembali ayah diam. Kemudian kulihat teman ayah diam menyimak perkataan ayah. Lalu aku ikut menunggu apa yang akan disampaikan ayah selanjutnya.

     “Kalau matahari berhenti sejenak saja dari tugasnya, apa yang akan terjadi?”

     “Kacau…”    Jawab teman ayah. aku mengiyakan. Ayah, aku dan temannya tertawa. Suasana kembali tak tegang.

     “Bagaimana jadinya kalau matahari ikut bosan serta meninggalkan tugasnya?”
Pertanyaan retosis ayah muncul kembali.

      “Begitulah, bagaimana juga saya akan bosan bolak - balik ke pasar. Nah.. saat saya bosan lalu berhenti bekerja, pastinya anak istri saya tidak akan makan. Bukannya begitu Mon?”

     Temannya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Lalu Ayahku memberi semangat ke temannya “Ayo… semangat bekerja Mon, mendidik serta mengajar siswa-siswamu..”

     Aku terharu mendengar untaian petuah bapak barusan. Aku sungguh tidak menyangka sedikitpun kalau dari lisan lelaki yang tidak sempat menyelesaikan sekolah menengahnya ini mampu memberikan motivasi serta pencerahan pada temannya, meskipun profesinya hanyalah sebagai seorang pedagang.

Taman Bunga


Aku berdiri di depan jendela ruang rawat Omah. Menatap kosong halaman rumah sakit yang basah. Sore ini hujan turun deras sekali. Tadi siang, Paman menjemputku menuju rumah sakit. Ayah dan Bunda sedang ada urusan penting di kantor. Paman pulang sebentar. Aku duduk di samping ranjang Omah yang sedang tertidur.

Hari ini, hari Jum’at, hari menjenguk Omah. Aku tidak tahu mengapa hari ini terasa begitu berbeda dari biasanya. Hujan yang begitu deras, Paman yang pulang karena Bibi tiba-tiba menyuruhnya pulang, serta Ayah dan Bunda yang tak kunjung datang kemari. Aku memiliki firasat buruk tentang ini. Akan tetapi, ada kabar baik untuk sore ini. Omah sudah bisa menggunakan kedua kakinya untuk berjalan, walaupun masih harus berpegangan. Sekarang Omah tertidur lelap setelah berlatih berjalan sepanjang siang.

Pukul 19.00. Malam sudah beranjak naik. Hujan turun semakin deras. Paman datang membawa roti dan buah-buahan. Omah masih lelap dalam tidurnya yang tenang. Ayah dan Bunda tak kunjung datang. Aku menelpon Ayah. Tidak ada jawaban. Aku menelpon Bunda.

Tut…tut…tut….

“Assalamu’alaikum, sayang. Ada apa? Ayah dan Bunda sedang menuju ke rumah sakit.” Bunda menjawab telpon dengan suaranya yang lembut.

“Wa’alaikumussalam. Sejak siang Dahlia menunggu Ayah dan Bunda datang. Kenapa Ayah tidak menjawab telpon Dahlia?” Aku bertanya dengan nada kesal.

“Ayah sedang menyetir, sayang. Sebentar lagi sampai.” Ayah yang menjawab.

“Ya sudah. Sebentar lagi Ayah dan Bunda sampai. Dahlia jagain Omah dulu, ya?” Bunda mencoba bernegosiasi. Baiklah, aku akan menurut.

“Baik, Bunda.” Aku berusaha tersenyum, walaupun Ayah dan Bunda tidak dapat melihatnya.

“Bunda tutup dulu tel- Ayah! Awas!” Bunda berteriak parau.

Braakk!!!

“Ayah! Bunda! Ada apa?!” Aku berteriak kalap. Telponku terputus. Aku cemas. Tubuhku yang lemas terduduk di atas lantai yang dingin. Napasku menderu kencang.

Paman yang mendengar pembicaraanku dengan Bunda langsung menarik tanganku dan membawaku menuju mobil. Kami menyusuri jalan menuju rumahku. Paman terlihat sangat tegang dan cemas. Keringatnya mengucur deras. Aku juga sangat cemas. Takut dengan segala kemungkinan.

Aku terkejut. Menjerit tanpa suara. Aku segera keluar dari mobil. Menyibak kerumunan orang yang penasaran. Aku menemukan Ayah dan Bunda. Memeluk mereka. Memanggil Paman dengan tangisan yang memilukan. Paman membawa Ayah dan Bunda masuk ke dalam mobil dengan bantuan orang sekitar. Aku masuk ke dalam mobil dan menopang tubuh kedua orang tuaku yang tak sadarkan diri. Berusaha menghentikan darah yang mengalir dari kepala kedua orang tuaku.

Ayah dan Bunda langsung dibawa ke Unit Gawat Darurat rumah sakit tempat Omah dirawat. Aku berlarian menyusul mereka dengan pakaian yang bersimbah darah. Langkahku terhenti di depan pintu UGD. Paman menahan tanganku yang hendak membuka pintu. Paman menyuruhku duduk di kursi tunggu. Keberadaan kami tidak diizinkan barada di dalam.

Hening. Hanya hening yang tersisa. Dengan semua prasangka buruk yang memenuhi kepalaku. Empat jam yang menegangkan berlalu. Malam semakin larut. Hujan turun lebih deras. Ketegangan ini seakan menusukku. Pintu UGD tak kunjung dibuka. Paman sudah beberapa kali menawarkan makanan dan baju ganti. Aku hanya bisa menggeleng lemas. Nafsu makanku hilang tak bersisa. Aku hanya menatap kosong ke lantai lorong rumah sakit. Beberapa kali air mataku mengalir tanpa bisa kucegah.

Ceklek!

Kepalaku langsung menoleh ke sumber suara. Dokter keluar dari ruangan tempat Ayah dan Bunda. Menatap prihatin ke arahku. Ia berbisik kepada Paman. Aku bisa mendengarnya sayup-sayup. Bahwa…. Bahwa Ayah dan Bunda telah tiada. Aku berdiri dan langsung merangsek masuk ke UGD. Aku melihat Ayah dan Bunda yang terbujur kaku. Aku memeluk tubuh Bunda. Dingin. Tidak ada kehidupan di dalamnya. Begitu pula Ayah. Bibirnya biru. Darah telah mengering dan luka telah dibersihkan.

Aku terduduk di atas lantai yang dingin menusuk tulang. Aku menangis. Meraung marah memanggil Ayah dan Bunda. Paman datang dan memelukku dari belakang. Berusaha menenangkanku yang mulai memberontak.

“Dahlia…. Dahlia, sayang. Kita memang sangat sayang kepada Ayah dan Bunda. Akan tetapi, Allah lebih sayang kepada mereka. Allah menginginkan Ayah dan Bunda kembali lebih cepat dari kita. Allah menginginkan Ayah dan Bunda merasa bahagia lebih cepat. Sekarang, Ayah dan Bunda pasti merasa bahagia di surga sana. Mereka akan sedih jika melihatmu seperti ini. Kita harus ikhlas, Dahlia. Harus ikhlas.” Paman memelukku lebih erat.

Aku semakin terisak. Isakan yang memilukan. Aku tak sanggup lagi menopang tubuh ini. Paman merengkuh tubuhku yang ringkih. Ia membawaku menuju ruang rawat Omah. Membaringkan tubuhku yang terisak di atas sofa. Omah yang terbangun, bertanya-tanya apa yang terjadi. Paman menjelaskannya dengan singkat. Omah menangis. Kehilangan untuk kedua dan ketiga kalinya.

Demi melihatku yang terisak, Omah berjalan mendekatiku walau harus berpegangan pada ranjang. Omah memelukku. Pelukan yang hangat dan penuh kasih sayang dari orang yang sudah sepuh. Omah menangis bersamaku.

“Dahlia, kau anak yang kuat. Kau harus menerima kepergian Ayah dan Bundamu. Aku juga harus menerima kepergian anak dan menantuku. Kita harus kuat, Dahlia. Harus.” Omah mencium keningku.

Tak ada lagi yang bisa kulakukan. Air mataku telah mengering. Tak bisa menangis lagi. Hanya menatap kosong lantai ruang rawat Omah. Paman sibuk menelpon banyak orang. Memberitahukan kematian kedua orang tuaku. Omah juga sama denganku. Menatap kosong ke arah jendela. Aku lelah dengan semua ini. Jatuh tertidur di atas sofa yang empuk.

Aku terbangun ketika Bibi datang. Kabut menggelayut di dedaunan. Masih terlalu pagi untuk bangun. Aku berusaha tidur lagi. Akan tetapi, Bibi memaksaku untuk bangun dan shalat. Aku tidak memiliki tenaga untuk melawan. Baiklah, aku akan menurut. Aku mengganti baju dan shalat di ruang rawat Omah. Ayah dan Bunda akan dimakamkan pagi ini.  Bibi menyuruhku untuk bersiap.

Setelah memakai pakaian serba hitam, aku, Paman, dan Bibi mengantar Ayah dan Bunda menuju tempat peristirahatan terakhir. Omah tidak diizinkan untuk keluar dari rumah sakit. Banyak kolega dan teman Ayah yang datang. Begitu pula dengan sahabat Bunda. Mereka mendatangiku dan mengatakan bahwa mereka turut berduka cita. Aku muak dengan semua ini. Aku berlari ke taman bunga di sebelah pemakaman. Aku meluapkan segalanya disana. Menangis tanpa suara. Memeluk lutut dan membenamkan kepalaku di atasnya.

Aku rindu Ayah dan Bunda. Ayah dan Bunda akan membawaku ke pantai akhir pekan ini. Akan tetapi, rencana itu tak akan pernah terwujud. Aku tidak peduli lagi. Aku tidak mau lagi ke pantai. Aku hanya mau Ayah dan Bundaku kembali. Aku semakin terisak. Perasaan ini seakan menusukku dengan pisau yang baru saja dipanaskan. Sakit. Sangat sakit.

Ada seorang anak perempuan yang datang kepadaku. Memelukku erat. Menyuruhku mengeluarkan segala kesedihan dan sesak di dada. Aku terisak di dalam pelukannya. Dia seakan-akan mengerti dengan apa yang terjadi padaku. Aku mencoba menenangkan diri dengan menahan air mataku untuk tumpah. Akan tetapi, semakin kutahan, semakin sesak dada ini, semakin ingin aku menangis. Dia yang memahami perasaanku, menyuruhku untuk tidak menahannya, membiarkannya keluar dengan damai. Aku merasa lega. Sudah kukeluarkan seluruh sesak di dalam pelukannya.

“Siapa kau? Mengapa kau melakukan hal ini untukku?” Aku memberanikan diri untuk bertanya. Tatapan heranku dibalas dengan senyuman hangat darinya.

“Namaku Fathia. Aku tinggal di dekat sini. Aku tidak sengaja lewat dan melihat diriku sendiri lima tahun yang lalu. Ya. Aku dulu juga sama seperti dirimu.” Ia tersenyum lembut kepadaku. Duduk memeluk lutut di sebelahku. Ia menghela napas panjang. Mulai bercerita.

“Aku lahir dengan anggota badan yang lengkap dan keluarga kecil yang bahagia. Hingga aku berusia sepuluh tahun, kejadian itu menimpa keluarga kecil kami. Ayahku dibunuh, karena ia adalah orang yang sangat jujur. Hanya karena ia melaporkan orang yang memang seharusnya mendapat hukuman.” Gadis itu tertawa getir. Memeluk lutut semakin erat. Aku mendengarkan dengan seksama.

“Ibuku yang terlalu mencintai Ayah tak bisa menerima kenyataan. Tak mau berdamai dengan takdir. Ia mengalami depresi berat. Hingga di usiaku yang kesebelas, Ibu bunuh diri di hadapanku. Aku berlari ke taman ini. Menangis sekencang-kencangnya. Sudah resmi aku menjadi seorang yatim piatu. Tanpa orang tua, tanpa keluarga. Tiba-tiba, seorang gadis yang sepuluh tahun lebih tua dariku datang dan memeluk erat diriku yang sedang menangis. Ia menenangkanku dan membawaku ke rumahnya. Sekarang tempat itu lebih tepat disebut sebagai panti asuhan. Aku tinggal disana hingga sekarang.” Fathia menutup kisahnya dengan senyuman yang hangat. Aku menatap tanah gembur yang kupijak. Sudah jelas bahwa aku lebih beruntung dari gadis berambut ikal yang bernama Fathia ini. Aku masih memiliki Paman, Bibi, dan Omah yang peduli padaku.

Fathia menggenggam tangan kecilku. Mengusap bekas air mataku. Memelukku erat. Seakan-akan ialah yang sedang kehilangan. Aku membalas pelukannya dan berterima kasih atas apa yang telah ia lakukan untukku. Ia pulang ke rumahnya dan aku segera kembali ke pemakaman. Paman dan Bibi menungguku dengan cemas. Khawatir atas keselamatanku. Aku Dahlia, yatim piatu pada usia enam belas tahun.

Sekarang aku tinggal bersama Paman dan Bibi. Menjenguk Omah di rumah sakit. Hidupku kembali normal seperti semula. Ternyata aku dan Fathia berada di kelas yang sama. Sejak hari itu, aku memutuskan untuk menjadi teman yang baik bagi Fathia. Waktu berlalu dengan cepat. Aku dan Fathia menjadi sangat akrab. Menjadi sahabat dekat.

Pagi ini, lima bulan setelah kematian Ayah dan Bunda. Aku berangkat sekolah dengan riang gembira. Menyenandungkan lagu kesukaanku. Karena aku tinggal di rumah Paman, aku bisa berjalan kaki ke sekolah. Aku masuk ke kelas. Membaca novel yang kemarin belum sempat kuselesaikan. Fathia datang terlambat. Ia datang ketika bel telah berbunyi lima menit yang lalu. Itu rekor terlambat perdananya. Aku menggodanya karena hal ini, tetapi ia tidak membalas godaanku. Ia mengacuhkanku dan duduk di paling belakang.

Aku heran. Apa yang terjadi? Bukannya Fathia suka bergurau? Bukannya ia tak suka duduk di belakang? Entah apa yang terjadi padanya. Nanti akan kutanyakan ketika istirahat. Aku memperhatikan gerak-gerik Fathia. Ia terlihat seperti sedang mengawasi sekitar. Terlihat seperti…. Pencuri. Ah, aku tak boleh berpikiran seperti itu. Mana mungkin Fathia akan melakukan hal menjijikkan itu.

Aku mengajak Fathia ke kantin. Ia menolak. Hmm…. Tak seperti biasanya. Aku mulai bertanya apa yang terjadi. Akan tetapi, ia menatapku tajam. Mengacuhkanku dan pergi ke luar. Ia terlihat sangat marah kepadaku. Aku tertegun melihatnya seperti itu. Tak mampu lagi menatap tatapan tajamnya yang mematikan. Aku tak bisa berkata apa-apa. Bertanya-tanya apa yang telah kulakukan hingga membuat Fathia semarah itu padaku. Aku ingin menangis. Aku takut bahwa aku telah berbuat jahat pada Fathia. Fathia juga tak kunjung kembali. Aku khawatir dengan semua hal ini. Aku memutuskan untuk mencari Fathia.

Aku mencari Fathia ke kantin, perpustakaan, mushalla, ruang guru, dan semua tempat yang biasa didatangi oleh Fathia. Akan tetapi, Fathia tak ada dimanapun. Aku khawatir. Mulai mencari di setiap kelas. Aku menyerah dan kembali ke kelasku. Aku mendapati Fathia telah duduk manis di belakang. Aku menyapanya, tetapi ia masih mengacuhkanku. Aku menyerah dan duduk di kursiku.Aku ingin mengajak Fathia pulang bersama seperti biasaya. Akan tetapi, aku tak dapat melihatnya dimanapun. Ia pergi. Tanpa aku. Aku akan datang ke rumahnya. Mungkin ia hanya tidak enak badan.

Aku sampai di halaman rumahnya. Banyak anak-anak yang bermain. Aku mengucap salam. Kak Dera. Kak Dera yang membuka pintu. Aku bertanya dimana Fathia. Akan tetapi, Kak Dera mengatakan bahwa Fathia tidak ada di rumah. Aku memberitahu Kak Dera bahwa Fathia sudah pulang dari sekolah. Jika ia tak ada disini, lalu dimana dia? Aku mulai panik. Apakah Fathia hilang? Apakah ia diculik? Kak Dera menenangkanku. Mengatakan bahwa Fathia pasti baik-baik saja. Aku pulang ke rumah dengan hati gelisah.

Siang berganti malam. Sinar bulan tak mampu menembus awan yang tebal. Ya. Malam ini mendung. Tetesan air telah keluar dari induknya yang perkasa. Aku menelpon Fathia. Aku masih khawatir. Apakah ia baik-baik saja? Tidak ada jawaban. Aku menelpon hingga berkali-kali. Tetap tidak ada jawaban. Apakah telepon genggamnya mati? Kehabisan baterai? Aku mencoba berpikir positif. Aku mencoba menelpon Kak Dera. Mungkin Kak Dera tahu bagaimana keadaan Fathia.

Tut....tut....tut

“Assalamu’alaikum, ini siapa?” Suara khas Kak Dera terdengar lembut.

“Ini Dahlia, Kak. Dahlia mau tanya, apakah Fathia sudah pulang?” aku mencoba bertanya setenang mungkin.

“Kak Dera tidak tahu, Dahlia. Kak Dera tidak sedang di rumah” Kak Dera menghela napas prihatin.

“Sebelum Kak Dera pergi, apa Kak Dera tahu, dimana Fathia” Aku mencoba menggali segala informasi yang memungkinkan.

“Kak Dera langsung pergi setelah Dahlia pergi. Kak Dera akan coba telpon rumah, ya” Kak Dera mulai menelpon.

“Dahlia, Fathia belum pulang. Itu yang dikatakan Sari.” Suara Kak Dera mulai terdengar cemas.

“Lalu, bagaimana Kak? Apa perlu kita lapor polisi?” Aku mulai khawatir. Mencoba memberi solusi.

“Tidak bisa, Dahlia. Belum dua puluh empat jam. Nanti Kak Dera suruh Pak Sahwan untuk mencari Fathia, ya?” Kak Dera juga berusaha memberi solusi yang logis.

“Baik, Kak. Kabari Dahlia, ya.” Aku mencoba berpikir positif.

“Oke, Dahlia. Kakak tutup telponnya, ya. Assalamu’alaikum.” Kak Dera menutup telpon.

Setelah menutup telpon, aku duduk di atas sofa yang empuk. Menunggu kabar dari Kak Dera. Malam semakin larut. Kak Dera tak juga memberi kabar. Aku tak tahan lagi. Aku sangat khawatir. Aku mencoba menelpon Kak Dera lagi.

“Assalamu’alaikum, Dahlia. Fathia masih belum ada kabar. Pak Sahwan sudah mencari kemana-mana, tetapi tidak ketemu. Bagaimana ini, Dahlia?” Suara Kak Dera terdengar sangat cemas. Berusaha menahan air matanya tumpah.

“Kak Dera tidak usah cemas. Dahlia akan pergi bersama Paman untuk mencari Fathia. Kak Dera tenang, ya. Dahlia berangkat, Kak. Assalamu’alaikum.” Aku menutup telpon. Memanggil Paman yang hampir terlelap. Mengenakan jaket dan masuk ke dalam mobil.

Aku pergi ke rumah Kak Dera. Aku dan Paman berpencar. Paman mencari ke kota dan aku mencari di lingkungan sekitar rumah Kak Dera. Aku mencari ke rumah tetangga. Tidak ada. Aku mencari ke mushalla desa. Tidak ada. Malam semakin larut. Aku tetap mencari hingga rumah kepala desa. Tidak ada. Kaki kecilku mulai kelelahan.

Aku berada di depan pemakaman. Tempat Ayah dan Bunda dimakamkan. Aku berpikir untuk masuk ke dalam. Tiba-tiba, ada suara tangis dari sebelah pemakaman. Bulu kudukku berdiri. Aku memberanikan diri. Mulai mendekati asal suara. Taman bunga. Suara itu berasal dari taman bunga tempat dulu aku melampiaskan seluruh kesedihanku. Tempat aku bertemu dengan Fathia. Tempat aku berdamai dengan takdir.

Aku sudah sangat dekat dengan asal suara itu. Jantungku berdegup kencang. Tepat di belakang kumpulan bunga matahari. Aku dapat melihat rambut hitam legamnya. Aku menyingkap kumpulan bunga matahari yang menutupi. Aku menutup mataku. Pasrah atas apa yang akan aku hadapi.

Fathia. Fathia yang sedang menangis terisak di balik kumpulan bunga matahari. Aku langsung memeluknya. Menenangkannya. Sepertinya Fathia tidak sanggup lagi menopang tubuhnya. Aku mengantar Fathia pulang ke rumah. Aku tak sanggup membebankannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepalaku. Aku menelpon Paman dan Kak Dera. Mengabarkan Fathia sudah tidur lelap di kamarnya. Aku pulang dengan pikiran yang dipenuhi dengan tanda tanya.

Esok harinya, sekolahku ribut mengenai pencurian sepeda dan barang-barang lainnya. Mereka mengatakan bahwa pencurinya telah ditangkap. Aku tidak terlalu tertarik akan hal itu. Aku hanya memikirkan dimana Fathia. Tak terlihat batang hidungnya. Hanya tas dengan isi yang berserakan berada di atas mejanya.

“Dahlia! Kurasa kau harus segera ke ruang BK! Kau harus cepat!” Salah satu teman kelasku memanggilku dengan wajah pucat.

“Ada apa? Mengapa aku harus kesana? Apa aku telah berbuat salah?” Aku bertanya dengan nada kesal.

“Kau tidak berbuat salah, Dahlia. Ini soal…. Fathia!” Aku terkejut. Berlari kencang menuju ruang BK.

Benar saja. Fathia dengan wajah dipenuhi lebam sedang diinterogasi di ruang BK. Aku merangsek masuk. Memeluk Fathia seerat mungkin. Tak membiarkannya lari lagi. Tak mempedulikan orang-orang yang menonton penasaran.

“Fathia, kau akan baik-baik saja. Aku akan menjadi pelindungmu.” Aku memeluk Fathia semakin erat. Fathia diam membisu. Ia tidak berusaha melepaskan pelukanku. Titik bening keluar dari mata hitam menawannya.

“Dahlia, lepaskan Fathia, nak. Kami harus mengetahui kebenarannya. Agar Fathia mendapat hukuman setimpal.” Salah seorang guru mencoba melepaskan pelukanku kepada Fathia. Ia mencoba memisahkan kami. Tak akan kuizinkan. Aku memeluk Fathia lebih erat lagi.

“Dahlia, lepaskan. Aku akan menjelaskan semua perkara ini.” Fathia melepaskan pelukanku dengan mudahnya. Aku tertegun. Tak sanggup berkomentar lagi.

“Baiklah, aku akan menjelaskannya. Aku memang pencurinya.” Aku yang terkejut menutup mulutku dengan kedua tangan. Fathia menghela napas panjang.

“Hari itu, salah satu adikku mengalami kecelakaan. Ia membutuhkan biaya yang besar untuk operasi. Aku dan Kak Dera tak memiliki uang sama sekali. Aku bingung harus melakukan apa. Aku melihat sepeda di parkiran. Baiklah, aku akan melakukan perbuatan yang sangat menjijikkan ini. Aku mengambi sepeda itu, lalu menjualnya. Akan tetapi, uang itu masih belum cukup. Aku mencuri lagi. Kalung emas teman, cincin, uang, apapun yang dapat kuambil. Kak Dera begitu senang mengetahui ada orang dermawan yang tak dikenal membayar biaya operasi. Akan tetapi, aku masih membutuhkan biaya untuk perawatannya. Aku berpikir untuk mencuri lagi. Bahkan, aku berpikir untuk mencuri gelang emas Dahlia yang diberikan oleh mendiang Bundanya. Ketika aku akan melakukannya, tiba-tiba aku tersadar. Bagaimana mungkin aku melakukan hal seperti ini? Bahkan kepada sahabat terbaikku? Aku berlari menuju taman bunga. Aku menyesali semuanya disana.” Fathia mulai terisak. Titik bening keluar dari mataku. Tak kusangka inilah yang sebenarnya terjadi. Inilah jawaban dari pertanyaan yang membuatku sesak.

“Aku telah membuat Kak Dera kecewa. Ia yang menolongku di waktu susah, malah kubalas dengan kelakuanku yang seperti ini. Aku mohon. Jangan beritahukan hal ini ke Kak Dera. Ini resmi keinginan dan keputusanku sendiri. Aku mohon, jangan libatkan Kak Dera. Ia akan kecewa. Ia akan se-“ perkataan Fathia terputus.

“Sudah pasti aku kecewa. Kau harusnya membicarakannya padaku. Bukan mengambil keputusan dengan keegoisanmu.” Kak Dera menangis memeluk Fathia.

“Maafkan aku Kak. Aku akan menebusnya.” Fathia menangis tersedu-sedu.

“Kita akan menebusnya bersama-sama.” Kak Dera mencoba tersenyum.

“Aku akan membantu. Kita akan selalu bersama.” Aku angkat bicara. Kami bertiga berpelukan. Pak guru tidak memberikan hukuman apapun dengan jaminan kami akan mengembalikan semuanya. Aku menghela napas lega. Memeluk Fathia untuk kesekian kalinya. Kami keluar dari ruang BK.

“Kenapa kau tak memberitahuku? Kau tahu, kan. Masalahmu juga masalahku.” Aku mulai bertanya.

“Aku tak ingin merepotkanmu, Dahlia. Akan tetapi, pada akhirnya, aku merepotkanmu lebih banyak lagi.” Fathia tertawa getir. Menghapus air mata yang tersisa.

“Kau tak pernah merepotkanku, Fathia. Kita ini sahabat. Tidak mungkin aku merasa direpotkan.” Fathia menangis lagi.

“Aku berusaha mengacuhkanmu agar kau tak menganggapku sahabatmu lagi. Agar kau tak terlibat. Kau sudah mengalami banyak hal berat. Akan tetapi, aku tak pernah berhasil membuatmu melupakanku.” Fathia terisak. Terduduk di atas lantai yang dingin.

“Kita akan menjadi sahabat selamanya. Aku akan bersamamu dalam susah maupun senang.” Mataku mulai berkaca-kaca. Tak sanggup lagi menahan diri.

“Aku minta maaf, Dahlia. Aku sudah mengacuhkanmu. Marah padamu.” Fathia berusaha menenangkan diri.

“Bodoh. Kau bodoh, Fathia. Aku tak pernah merasa diacuhkan olehmu. Aku selalu menyayangimu, Fathia. Jangan pernah berpikir kau sendirian. Ada aku yang selalu bersamamu. Kemanapun kau pergi, aku akan selalu datang menjadi pelindungmu.” Aku memeluk Fathia.

Kami menangis di dalam pelukan yang hangat. Berusaha menghapus masa lalu yang menusuk dada. Berusaha membangun masa depan yang lebih baik. Akan tetapi, hal yang pasti, kami akan selalu bersama selamanya. Apapun yang berusaha memisahkan, kami akan melawannya bersama. Pagi ini begitu hangat bagi siapapun yang mencoba berdamai dengan ketetapan-Nya.

 

 

Penelitian Kualitatif

1. Pengertian Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah pendekatan ilmiah yang digunakan untuk memahami makna, realitas sosial, a...