Kamis, 11 Agustus 2022

Matahari Takkan Bosan


     Saat ku bangkit dari Kasur ku yang empuk, lalu ku ambil posisi duduk mengarah keluar jendela menyaksikan kejadian saat embun bertetesan. Mentari pun mulai meninggi, lalu diam - diam membasahi seluruh tubuhku dengan cahaya kuningnya yang bersinar lembut. Kemudian kugerakan seluruh ototku. Kuajak tubuhku berolahraga.

     Putar kanan… putar kiri… hadap kanan… hadap kiri…melakukan pemanasan yang biasa kulakukan. Aliran darah segar kemudian membanjiri pembuluh darahku. Aku terbuai keseruan. Di tengah keseruan itu, seolah-olah kudengar orang bercakap-cakap. Kuajak kakiku untuk melangkah mencari asal suara. Di ruang tamu kudapati dua orang tengah terlibat perbincangan yang sangat serius. Kemudian aku intip dibalik pintu belakang. Ayah tiriku serta temannya. Aku tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Bahasa sunda adalah penghalangnya, karena aku kurang mengerti bahasa itu.

     Diam - diam kuberanikan untuk duduk disamping bapak tiriku. Setelah ku duduk di sebelah Ayah tiriku. Aku pun kini terpaut dalam pembicaraan yang sudah mereka mulai sejak tadi. Dengan pembahasan mengenai pekerjaan mereka masing – masing, aku bertanya, menjawab serta menanggapi apa saja yang terjadi pada saat diskusi pagi itu. Ternyata masalah pekerjaan yang menjadi perdebatan sejak tadi. Ayah tiriku seorang pedagang dan beliau menekuni pekerjaan tersebut, kemudian temannya seorang guru yang tengah menjalani profesi yang dimilikinya.

     “Saya heran kenapa kamu tidak capek bolak - balik dari rumah ke pasar tiap hari?” Pertanyaan konyol yang temannya lontarkan. Bagaimana tidak, jika aku bisa bertanya padanya mengapa juga dia tak pernah lelah bolak - balik dari rumahnya ke sekolah?.

     “Kata siapa saya tidak capek!” Ayah menanggapinya singkat.

     “Hmm… tidak, maksud saya apakah kamu tidak bosan?” pertanyaan lanjutan untuk Ayah

     Suasana ruangan membisu. Kulirik Ayah tiriku. Ayahku diam. Bukan diam biasa. Ada kebijaksanaan serta wibawa tercipta diwajahnya dan aku baru tahu itu. Perkenalanku dengan Ayah tiriku belumlah lama, baru seminggu lebih lima hari. Sejauh ini aku lihat Ayahku orangnya humoris, lucu, suka bercanda serta jarang sekali untuk serius. Tapi pagi ini ia beda sekali.

     Ayahku menghela napas, mengisi ruang kosong didadanya. Perlahan mengalir nasihatnya lewat lisannya. Diwejangkan jawaban buat pertanyaan temannya.

     “Kamu tahu matahari bukan?” Retoris Ayah bertanya.

     Temannya mengangguk. Begitu juga aku.

 

     “Matahari bersinar disiang hari. Muncul ditimur lalu tenggelam dibarat. Dia bertugas menerangi bumi, memberi kehidupan untuk makhluk yang ada di dunia ini.”

     Kembali ayah diam. Kemudian kulihat teman ayah diam menyimak perkataan ayah. Lalu aku ikut menunggu apa yang akan disampaikan ayah selanjutnya.

     “Kalau matahari berhenti sejenak saja dari tugasnya, apa yang akan terjadi?”

     “Kacau…”    Jawab teman ayah. aku mengiyakan. Ayah, aku dan temannya tertawa. Suasana kembali tak tegang.

     “Bagaimana jadinya kalau matahari ikut bosan serta meninggalkan tugasnya?”
Pertanyaan retosis ayah muncul kembali.

      “Begitulah, bagaimana juga saya akan bosan bolak - balik ke pasar. Nah.. saat saya bosan lalu berhenti bekerja, pastinya anak istri saya tidak akan makan. Bukannya begitu Mon?”

     Temannya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Lalu Ayahku memberi semangat ke temannya “Ayo… semangat bekerja Mon, mendidik serta mengajar siswa-siswamu..”

     Aku terharu mendengar untaian petuah bapak barusan. Aku sungguh tidak menyangka sedikitpun kalau dari lisan lelaki yang tidak sempat menyelesaikan sekolah menengahnya ini mampu memberikan motivasi serta pencerahan pada temannya, meskipun profesinya hanyalah sebagai seorang pedagang.

Penelitian Kualitatif

1. Pengertian Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah pendekatan ilmiah yang digunakan untuk memahami makna, realitas sosial, a...