Kamis, 11 Agustus 2022

Roda Kehidupan


Jihan itulah namanya, dia adalah anak ke dua dari tiga bersaudara. Dia anak dari keluarga sederhana yang diciptakan oleh Allah swt dengan banyak kelebihan. Jihan sekarang duduk di kelas XI. Jihan adalah salah satu siswa istimewa disekolahnya karena telah menyumbangkan banyak piala dan mewujudkan visi misi sekolahnya. Jihan selalu mengikuti lomba-lomba bergengsi sampai tingkat nasional dan selalu membuahkan hasil yang memuaskan. Selain itu Jihan juga selalu mendapatkan rangking di kelas dan juara umum setiap tahunnya.

Jihan bercita-cita ingin mendapatkan beasiswa sekolah di luar negeri agar dapat mengurangi beban orang tuanya. Dia berpikir dengan mendapatkan beasiswa, orang tuanya tidak lagi berhutang kesana kemari ditetangga untuk biaya sekolahnya. Dia sangat menghormati dan mentaati perintah orang tuanya. Selama hidupnya dia tidak pernah melawan dan menyakiti hati orang tuanya. Karena itulah, orang tuanya sangat sayang kepadanya dan tidak masalah dengan apa-apa yang ia inginkan.

Setiap hari dia selalu dimanjakan, dari bangun tidur sampai tidur lagi. Sebelum berangkat sekolah Jihan sudah di suguhkan dengan berbagai makanan di meja makan, disiapkan segala perlengkapan sekolah tanpa terlupa satu pun. Dia merasa seperti putri dirumah itu.

“ Nakkk… bangun sholat tahajud dulu “ Suara itu membuat Jihan kaget lalu membuka mata, ternyata ada ibunya duduk disampingnya sambil mengelus-ngelus kepala membangunkannya untuk sholat sepertiga malam.

“ Hmmm… nanti dulu Bu, Jihan masih ngantuk “ gumam Jihan

“ Ayo anak ibu tidak boleh malas nanti keburu subuh lo “ balas Ibunya sambil menggoyang-goyangkan tangan Jihan.

“ Tunggu lima menit lagi, Bu” ucap Jihan sambil membuka matanya lebar-lebar.

“ Udah lupa ya… kata ustadz di pengajian saat itu, kalau ada orang bangun untuk beribadah di sepertiga malam maka akan dibangunkan rumah di surga. Apa anak Ibu tidak mau di bangunkan rumah di surga?“ ucap ibunya mengingatkan Jihan.

“ Iya, Bu” Jawab Jihan sambil pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu lalu mendirikan sholat sepertiga malam.

Itulah yang dilakukan ibunya setiap hari, membangunkan Jihan sampai benar-benar bangun dan mau menunaikan sholat yang di sunahkan oleh Allah. Meskipun begitu dia tidak pernah mengeluh didepan anak-anaknya, ia melakukan itu tulus agar anak-anaknya menjadi anak yang sholehah. Orang tuanya tidak pernah toleransi kalau dalam masalah ibadah, mereka sangat tegas kalau anak-anaknya belum menunaikan kewajibannya kepada Allah, apapun itu alasannya mereka tidak akan pernah setuju dan tidak mau mendengarkannya. Karena mereka selalu bilang bahwa “ kalian boleh tidak mentaati perintah kami, tapi kalian harus mentaati perintah Allah. Karena Dia-lah satu-satu-Nya tempat kalian meminta pertolongan dan ampunan kelak di akhirat “Itulah prinsip yang dipegang oleh orang tuanya.

Setelah selesai sholat tahajjud, sambil menunggu sholat shubuh Jihan membaca Al-Quran sambil melanjutkan hafalannya yang sudah berjalan 15 juz sejak dia duduk di kelas 6 SD. Kemudian, setelah sholat shubuh Jihan mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Setelah beberapa lama di depan cermin sambil menghayal, terdengar suara yang membuka pintu kamarnya.

“ Ceklekkk…” Jihan langsung menghadap ke arah pintu kamarnya,ternyata itu adiknya.

“ Kakak sudah cantik kok, lamanya berhias di depan cermin“ ejek sang adik

“Apa-apaan sih, kakak hanya kacaan doang juga” balas Jihan sambil membereskan barang-barangnya

“Ayo, cepat keluar Ayah sama Ibu sudah menunggu di meja makan” ucap sang Adik

“Oke oke… kamu duluan saja, kakak mau beresin barang-barang ini dulu baru nyusul kesana” balas Jihan

“Jangan lama-lama ya” jawab sang adik sambil pergi meninggalkan kamar Jihan.

Tak  berapa lama Jihan datang ke ruang makan sambil membawa tasnya.

“Ayo cepat sarapan nanti kamu telat lagi ke sekolahnya” ucap ayahnya.

            Kemudian Jihan duduk disamping adiknya, ia hanya mengambil roti yang berselai coklat sebagai pengisi perutnya karena ia tidak bisa sarapan dengan makan yang berat. Lalu ia meminum segelas susu dan langsung pamit di kedua orang tuanya.

Sudah berapa lama Jihan dijalan raya yang ramai penuh dengan bau asap kendaraan bermotor untuk menunggu angkutan umum yang tidak ada lewat satupun. Namun ia tetap sabar berdiri menunggu ditengah terik matahari yang sudah menyengat kulit itu. Akhirnya setelah beberapa lama angkutan umum yang menuju sekolah Jihan berhenti tepat didepannya. Tanpa menunggu lama-lama ia langsung naik kedalam angkot yang sudah dipenuhi oleh beberapa penumpang.

Setelah sampai disekolah ternyata gerbang sudah ditutup, lalu ia memohon-mohon ke security supaya di izinkan masuk. Dengan berbagai alasan akhirnya ia di izinkan masuk namun dengan syarat harus berjemur dibawah tiang bendera sampai keluar bermain.

Saat menuju ke lapangan untuk menjalankan hukuman, Jihan melihat anak–anak cewek bergerombolan di tengah lapangan. Didalam hatinya ia berpikir “mungkin sedang ada tawuran”, namun ternyata ketika Jihan mendekati gerombolan itu dia melihat ada seorang laki-laki yang sedang menjalani hukuman juga dan tak di sangka-sangka ternyata itu adalah Fadlan kakak kelasnya yang tampan, cool dan pintar.Ia salah satu cowok idaman yang banyak di sukai oleh cewek-cewek cantik famous di sekolahnya.

Ketika Jihan ingin mendekati Fadlan, tiba-tiba suara teriakan yang tegas terdengar dari belakangnya.

“Hei apa yang kalian lakukan, ini sudah jam pelajaran, kenapa kalian masih bergerombolan disana kaya mau demo saja? “ternyata itu pak Hartono, guru terseram di sekolahnya.

“Kami lagi ngelihatin cowok ganteng, pak” cetus salah satu dari mereka.

“Ooo… kalian tidak mau pergi ya atau kalian mau di hukum juga sama seperti Fadlan dan Jihan “ ucap pak Hartono lembut.

“Tidak mau Pakkk…” jawab mereka serentak sambil lari meninggalkan lapangan.

Akhirnya, semua gubar dari lapangan dan menyisakan Jihan dan Fadlan yang akan menjalani hukumannya. Tidak ada sedikit pun percakapan yang terjadi diantara mereka berdua. Mereka sama-sama diam menikmati hukuman.

“Kenapa kakak bisa telat, tidak seperti biasanya?“ tanya Jihan tiba-tiba.  Namun tidak ada respon sedikit pun dari Fadlan, dia hanya diam dengan tatapan kosong.

“ kenapa diam saja?” tanya Jihan sekali lagi.

“Itu bukan urusanmu” ucap Fadlan tegas sambil pergi meninggalkan Jihan sendirian di lapangan.

Saat pulang sekolah Jihan lagi-lagi harus menunggu angkutan umum. Namun tidak ingin pulang terlambat hanya untuk menunggu angkutan umum, akhirnya dia terpaksa jalan kaki. Dia berpikir “mungkin saja nanti di tengah perjalanan ada angkot yang lewat”.

Ketika di tengah perjalanan dia dikejutkan oleh suara orang yang tak dia kenal. Sepertinya orang itu adalah preman jalanan. Orang itu semakin mendekati Jihan sambil menggoda, Jihan merasa takut, badannya kaku dan pucat. Jihan melarikan diri dari orang itu namun tasnya sudah duluan di tarik yang membuat jihan tidak bisa berkutik apa-apa.

Namun, tiba-tiba orang itu merasa kesakitan di bagian lehernya. Ia melepaskan tas Jihan dan langsung terjatuh di atas aspal. Ternyata dilehernya sudah di penuhi darah.

Kamu tidak apa-apa?” tanya seseorang dari belakang preman itu.

Kak Fadlan, jangan bilang kakak yang melakukan ini semua?” ucap Jihan sambil terkejut dengan keberadaan laki-laki itu.

Dia itu preman jalanan yang tidak tau diri, jadi dia pantas mendapatkan ini semua” jawab Fadlan santai.

Tapi tidak gini juga caranya kak” ucap Jihan merasa kasihan.

“Ya sudah, kamu mau ikut saya pulang atau mau ngebantu preman yang sudah menggoda kamu” Tanya Fadlan lirih, sambil naik ke atas motornya.

“Iya sudah, saya mau ikut “ ucap Jihan sambil ikut menaiki motor Fadlan.

Di atas motor tidak ada percakapan diantara mereka, sama seperti saat di tengah lapangan. Mereka hanya diam, Fadlan fokus mengendarai motor dan Jihan sedang memikirkan sesuatu yang kelihatannya penting.

Tidak ada rasa terima kasih sedikit pun nih, sudah dibantu” sindir Fadlan tiba-tiba

Ooo…ya, terima kasih kak sudah menolong Jihan, dan mengantar Jihan  pulang” ucap Jihan gugup. Tak terasa ternyata tiba-tiba saja sudah sampai di depan rumah Jihan.

“ Tidak mau turun nih” ucap Fadlan.

Jihan kaget dan terbengong!!!

“ Tapi dari mana kakak tau rumah saya, Jihan kan belum kasih tau dimana alamatnya “ ucap Jihan penasaran sambil turun dari motor. Namun tidak ada jawaban dari Fadlan, dia malah pergi tanpa pamit.

Didalam kamar Jihan gelisah tak karuan. Dia memikirkan kakak kelasnya yang begitu aneh. 

“ Apa yang terjadi dengan diriku, kenapa aku memikirkan orang yang seperti itu?” Tanya Jihan pada dirinya sendiri. Namun tiba-tiba dia disadarkan dari lamunannya oleh teriakan ibunya dari dapur.

“ Jihan udah sholat Dzuhur” Tanya ibunya.

“ Iya sudah,Bu” jawab Jihan.

“ Kalau begitu minta tolong belikan ibu penyedap rasa di warung depan” ucap ibunya.

“ Iya Bu, tunggu bentar Jihan mau ganti baju dulu “ jawab Jihan.

Di warung banyak ibu-ibu yang sedang berbincang-bincang, menceritakan apa mau mereka masak hari ini, bagaimana kesaharian mereka yang mengurus keluarga sambil bekerja.

Ketika Jihan datang mendekati warung itu, ibu-ibu itu saling bertanya satu sama lain. “Siapa itu, tumben kelihatan”. Pertanyaan itu memang wajar ditanyakan karena Jihan jarang keluar rumah, waktunya hanya dihabiskan dirumah, sekolah dan les.

Dan salah satu dari mereka menjawab

 “ Itu loh anak angkatnya pak Rizal dan Bu Endang  tetangga yang di sebelah rumah saya itu”. Ternyata ibu yang menjawab itu adalah tentangganya Jihan.

Jihan merasa tercengang dan kaget mendengar perkataan ibu itu. Saat perjalanan pulang Jihan terus terbayang oleh kata-kata itu, air mata mengalir membasahi pipinya. Jihan tidak bisa menerima semua ini, tiba-tiba badannya lemas tak berdaya. Jihan jatuh pingsan di gang perumahan menuju rumahnya.

Saat membuka mata Jihan kaget karena dia tidak mengenal tempat itu. Jihan melupakan apa telah terjadi padanya, hanya bayangan kata-kata itu saja yang melintas di kepalanya. Dia lagi-lagi menangis tak menerima semua itu. Tiba-tiba saja ada seorang perempuan yang membuka pintu kamar tempat Jihan istirahat, dia merasa kaget.

“ Alhamdulillah kamu sudah sadar “ ucap orang itu

“ Siapa kamu “ Tanya jihan ketakutan.

“ Kenalin aku Arni, aku yang menolong kamu saat pingsan di jalan tadi“ ucap orang itu.

“ Terima kasih sudah menolong saya “ ucap Jihan.

Kemudian, Jihan izin pulang kepada Arni karena dia sudah merasa lebih baikan, Jihan takut ibunya khawatir karena dia tidak pulang-pulang.

Setelah sampai rumah, Jihan mencari ibunya untuk menanyakan peristiwa yang terjadi di warung tadi, tapi tidak ia temukan diruang manapun. Namun Jihan ingat kalau ibunya bilang hari ini mereka akan menjemput kak Zila di bandara, kakak satu-satunya Jihan. Sudah dua tahun kak Zila tidak pernah menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya. Karena dia menyelesaiakan S-2 di Negeri kanguru, Australia dan sekarang dia sudah memegang predikat magisternya. Karena itulah dia balik ke Indonesia.

Jihan merasakan kepalanya kembali pusing, lalu ia buru-buru pergi ke kamar untuk mengistirahatkan badannya, supaya bisa terlihat lebih sehat besok di depan kakaknya.

Seperti biasanya, Jihan selalu di bangunkan untuk sholat sepertiga malam. Itu sudah menjadi kebiasaan di keluarga Jihan. Namun berbeda dengan biasanya kali ini bukan suara ibunya yang dia dengar membangunkannya, melainkan suara yang sudah ia kangen sejak dua tahun terakhir ini. Jihan langsung membuka mata dan memeluk sang kakak.

“ Jihan kangen sama kakak” ucap jihan sambil memeluk kak Zila keras-keras.

“ Kakak juga kangen sama Jihan, tapi lepas dulu dong pelukannya, kakak jadinya capek napas” ucap kak Zila.

Di ruang keluarga terdengar suara perbincangan yang seru, Jihan keluar kamar untuk ikut bergabung dengan anggota keluarganya yang lain. Tiba-tiba saja Jihan teringat kata-kata ibu diwarung depan kemarin itu. Dia ingin menanyakan itu kepada keluarganya, apakah itu benar atau hanya gosip dari ibu-ibu itu. Namun, keinginannya itu dia urungkan karena ini bukan waktu yang tepat  untuk membicarakan semua itu, lebih baik dia mencari tahu sendiri kebenarannya dulu.

            Setelah bertahun-tahun sekolah akhirnya Jihan lulus dengan nilai terbaik di SMAnya dan kabar bahagia yang lainnya adalah ia mendapatkan beasiswa kuliah di Jerman. Jihan akan berangkat ke Jerman dua minggu lagi. Oleh karena itu, dia harus ikhlas melepaskan keluarganya di Indonesia demi masa depannya. Tibalah waktunya dimana Jihan pertama kalinya harus pergi tanpa orang tuanya. Di perjalanan menuju bandara Jihan terus menumpahkan air matanya, ia berterima kasih kepada orang tuanya yang telah membimbingnya hingga bisa seperti ini. 

            Setelah sampai di Jerman Jihan memilih untuk jalan-jalan melihat pemandangan yang ada dikota itu. Jihan merasa terpesona dengan suasana yang damai, sepi, dan sejuk. Beda halnya dengan di Indonesia, khususnya Jakarta tempat Jihan tinggal, yang  setiap hari selalu ada kemacetan yang sangat panjang dan polusi yang sudah menyebar dimana-mana. Setelah puas mengelilingi kota yang ada di jerman, Jihan memutuskan pulang ke apartemen yang sudah di sewa selama tinggal di Jerman.

            Di Jerman Jihan menjalankan hari-harinya sama seperti saat di Indonesia. Jihan tidak pernah melupakan pesan yang disampaikan oleh orang tuanya. Dia tidak pernah lupa dan telat melaksanakan sholat lima waktu dan sholat sepertiga malam.

Setelah beberapa tahun menjalankan kuliah yang penuh dengan suka duka. Akhirnya Jihan sekarang berada di ujung kesuksesan. Dia sekarang sedang menyusun skripsi, yaitu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana. Hari-harinya ia sibukkan untuk menyelesaikan skripsi, sampai-sampai dia lupa dengan jadwal menghubungi keluarganya yang ada di Indonesia. Karena setiap hari dia harus bolak-balik kampus untuk menemui dosen pembimbingnya supaya skripsinya cepat terselesaikan.

Suatu hari ketika Jihan menunggu dosennya, tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang menghampirinya. Laki-laki itu gagah dan tegap tanpa rasa kaku dia mengajak Jihan ngomong.

“ Kamu Jihan” Tanya laki-laki itu sambil menatap wajah jihan.

Jihan merasa bingung, kenapa orang itu bisa tahu namanya.

“ Ya saya Jihan, Anda dari Indonesia? Tanya Jihan

“ Apakah kamu masih ingat dengan orang yang membantumu saat di goda oleh preman jalanan itu” Tanya orang itu.

            “Ooo, Kak Fadlan, apa saya salah lihat” ucap Jihan

            “ Kamu tidak salah lihat, memang benar saya Fadlan  ” ucap Fadlan.

            “ Kenapa kakak bisa ada di sini” Tanya Jihan

            “ Saya ambil S-2 nya di sini” ucap Jihan

            Itu adalah pertemuan kedua mereka setelah kejadian di jalan raya. Dari pertemuan kedua inilah mereka menjalin persahabatan, mereka saling tukar kabar dan sebagainya. Mereka tidak lagi canggung satu sama lain, malah sebaliknya sekarang mereka merasa seperti adik kakak.

            Tibalah waktu yang sangat Jihan tunggu-tunggu yaitu hari wisuda. Karena kedua orang tuanya datang di acara bahagia itu. Saat pembacaan nilai terbaik semua mahasiswa merasa tegang. Suasana begitu sunyi hanya suara mc yang terdengar.

“ Deg deg deggg….”

            Jihan berharap bisa mendapatkan nilai terbaik (coumloud), meskipun itu hanya urutan ke 10 karena tidak mungkin dia akan mendapatkan nilai yang sempurna. Jihan sudah pasrah karena dari urutan sepuluh sampai sembilan tidak ada satupun namanya disebut. Tiba-tiba saja saat mc membacakan nilai yang sempurna atau IP-4 Jihan terkejut karena namanyalah yang disebut “ Sekali lagi yang mendapatkan IP-4 atas nama Jihan Juliani Putri dari Indonesia ” ucap mc mengulangi.

Jihan langsung menangis memeluk orang tuanya karena dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.

            Setelah acara selesai, Jihan mengajak orang tuanya jalan-jalan melihat pemandangan yang tidak pernah mereka lihat di Indonesia. Setelah puas di Jerman akhirnya Jihan dan kedua orang tuanya memutuskan untuk balik ke Indonesia. Jihan ingin mencari pekerjaan di Indonesia supaya selalu dekat dengan keluarganya.

            Setibanya di Indonesia Jihan langsung menghubungi Fadlan, sahabatnya kalau dia sudah sampai di Indonesia dengan selamat. Orang tuanya curiga ada hubungan apa dia dengan Fadlan. Namun Jihan selalu bilang kalau Fadlan itu adalah kakak kelasnya saat SMA dan sekarang menjadi sahabatnya, dia yang pernah menolongnya saat di goda oleh preman.

            Satu bulan setelah pulang dari Jerman, Jihan mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan terkenal di Jakarta, dia ditempatkan sebagai sekretaris. Jihan begitu beruntung hidup di dunia ini karena diberikan perjalanan yang lurus tanpa lika-liku.

            Suatu hari ketika Jihan mengambil jilbab di kamar orang tuanya dia melihat suatu barang yang membuatnya penasaran. Kemudian tanpa seizin orang tuanya Jihan mengambil barang itu, ternyata itu adalah surat adopsi anak dan yang mengejutkannya diatas kertas itu tertera namanya Jihan. Dia langsung lemas dan tak berdaya. Dia menangis tersedu-sedu, lalu ibunya menghampirinya karena mendengar suara tangisan Jihan.

“Jihan apa yang terjadi denganmu, kenapa kamu menangis, siapa yang sudah menyakitimu?” Tanya ibunya.

Namun Jihan tidak merespon sedikit pun ia buru-buru menyembunyikan surat itu dan menghapus air matanya. Lalu pergi meninggalkan ibunya sendirian di kamar itu.

Tidak lama Jihan kemudian ke luar rumah tanpa izin, dia tidak tahu mau kemana. Namun saat ini dia ingin sendirian untuk menenangkan dirinya. Setelah beberapa menit berjalan akhirnya Jihan sampai di tujuannya yaitu pantai asuhan yang tertera di surat itu. Dia ingin memastikan apakah surat itu benar atau palsu. Setelah mendengar cerita dari pengurus pantai asuhan itu, Jihan langsung menangis histeris. Dia mengingat kejadian saat berada di warung depan rumahnya itu. Ternyata semua yang di katakan ibu benar dan yang membuatnya semakin merasa hancur ternyata yang membunuh orang tua kandungnya adalah orang tua angkatnya sendiri yang selama ini membesarkannya dari kecil sampai sebesar ini.

Setelah dua hari pergi dari rumah, akhirnya Jihan pulang juga. Namun tujuan Jihan pulang bukan untuk tinggal dirumah itu tetapi untuk mengambil barang-barangnya dan pergi dari kehidupan orang yang telah membunuh orang tuanya.

“ Akhirnya kamu pulang juga Nak ibu sudah mencari kamu kemana-mana “ ucap ibunya sambil menghelus kepala Jihan.

Semua yang di lakukan ibunya itu sia-sia, Jihan malah pergi ke kamar untuk membereskan barang-barangnya.

            Setelah beberapa menit membereskan barangnya, Jihan langsung keluar dengan membawa sebuah koper yang berisi pakaiannya.

“ Kakak mau kemana “ Tanya adiknya.

Namun tidak dijawab, Jihan terus berjalan keluar rumah

“ Jihan kamu mau kemana Nak, jangan tinggalkan ibu “ teriak ibunya dari arah dapur.

“ Jangan panggil aku anakmu lagi karena kamu bukan ibuku “ teriak Jihan sambil menangis histeris.

Semua keluar dari kamar dan kaget mendengar kata-kata yang di ucapkan Jihan. Karena selama ini Jihan tidak pernah berkata kasar apa lagi sampai menyakiti hati orang tuanya seperti itu.

“ Apa maksudmu Jihan “ ucap kakaknya.

“ Jangan pura-pura tidak tahu, kalian menyembunyikan semua ini dariku. Kamu dan kamu yang sudah membunuh orang tuaku “ kata Jihan sambil menunjuk Ayah dan Ibunya

“ Ibu bisa jelaskan Nak apa yang sebenarnya terjadi waktu itu “ kata ibunya sudah menangis tersendu-sendu.

“ Tidak ada lagi yang perlu di jelaskan “ ucap Jihan dan pergi meninggalkan rumahnya.

“ Jihan… Jihan jangan pergi nak ” ucap ibunya.

“ Kejar Jihan Ayah! “ perintah ibunya.

Namun semuanya diam, karena sudah tidak bisa berkutik apa-apa lagi. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan karena Jihan sudah benar-benar marah.

“ Biarkan Jihan sendiri Bu, mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya untuk menerima semua yang telah terjadi “ ucap ayahnya sambil mengelus kepala ibunya

“ Ini semua salahku coba saat itu aku mendengar kata Ayah pasti semua ini tidak akan terjadi “ ucap ibunya menyalahkan diri.

“ Semua ini bukan salah Ibu tapi salah kita semua, dan sudah sepantasnya Jihan harus tahu semua ini, apa pun resikonya.” Ucap kakak menenangkan Ibu

“ Tapi Ibu takut terjadi apa-apa dengan Jihan di luar sana “ ucap ibu sudah lebih tenang.

“ Kak Jihan pasti bisa menjaga diri, dia kan anak yang pintar yang tahu batasan-batasan dalam Islam” kata adiknya sok tahu.

            Rumah itu menjadi begitu sepi sejak kepergian Jihan, tidak ada lagi candaan yang membuat semua ketawa terbahak-bahak. Jihan sekarang tinggal di sebuah kos-kosan yang tidak jauh dari tempatnya bekerja. Dari kejadian itu Jihan tidak mau lagi bertemu dengan keluarga angkatnya yang telah membunuh orang tua kandungnya.

            Jihan sudah menceritakan semua ini kepada Fadlan dan meminta solusi. Kemudian Fadlan memberikannya solusi kalau dia harus bisa memaafkan keluarga angkatnya itu karena pasti ada alasan kenapa semua itu bisa terjadi. Namun Jihan tidak bisa melakukannya karena dia masih menggunakan egonya untuk berpikir dan masih butuh waktu untuk memaafkan orang tua angkatnya.

            Suatu hari Jihan izin untuk tidak masuk kerja, karena dia mau pergi ke rumah sakit untuk chek up. Di rumah sakit dia  menunggu antrian sampai berjam-jam. Saat menunggu namanya di panggil ada seorang anak seperti masih SMP memanggil namanya. Lalu Jihan menoleh ternyata itu adiknya. Dia ingin menghindar namun niatnya itu diurung. Karena dia merasa adiknya tidak bersalah, dia tidak tahu apa-apa dengan masalah yang terjadi.

“ Kak lagi ngapain disini?” Tanya adiknya.

“ Tidak ada, saya hanya cek kesehatan saja” jawab Jihan datar.

“Ayah sama Ibu minta maaf kak dengan apa yang telah terjadi” kata adiknya.

Namun Jihan hanya diam saja tak menjawab

“ Sekarang  ibu lagi dirawat di ruang ICU kak, dia lagi kritis sejak dua hari lalu” ucap adiknya sambil meneteskan air mata.

Jihan pun menangis dan memeluk adiknya.

“ Tujukkan kakak dimana ruangannya sekarang” kata Jihan.

            Lalu mereka pergi dengan wajah memerah. Jihan merasa sangat bersalah karena dialah penyebab ibunya jatuh sakit. Setahunya ibunya tidak pernah jatuh sakit sampai dibawa ke rumah sakit. Setibanya di ruang ICU Jihan langsung masuk tanpa seizing dari perawat.

“Dek, apa yang kamu lakukan. Selain keluarga pasien tidak boleh masuk” ucap perawat itu.

“ Dia anak dari pasien itu, Sus” ucap kakaknya dari belakang Jihan.

Jihan langsung memeluk ibunya yang telah dipenuhi oleh peralatan medis.

“Maafin Jihan bu, semua ini gara-gara Jihan. Andaikan Jihan mau mendengar penjelas ibu, pasti ini tidak akan terjadi“ kata Jihan sambil menangis tersendu sendu.

Tiba-tiba saja jari-jari ibunya bergerak, memengang kepala Jihan.

“ Ibu Ibu …ibu mendengar suara Jihan “ ucap Jihan bahagia

Dia langsung memanggil dokter. Kata dokter ibunya sudah melewati masa kritis, dan bisa dipindahkan ke ruangan biasa.

“ Alhamdulillah Ya Allah Engkau telah mengabulkan semua doa-doaku” ucap Jihan sambil menengadahkan tangan.

Ibunya sekarang sudah bisa ngomong seperti biasanya. Dia tidak lagi menggunakan alat medis yang sangat mengerikan itu tetapi hanya selang infus yang masih bertahan ditangannya untuk menambah tenaga.

Ditengah-tengah perbincangan ibunya mengatakan hal yang penting kepada Jihan.

“ Nak, kamu sudah memaafkan Ibu” Tanya ibunya sambil memegang tangan Jihan.

“ Anak mana sih yang tidak mau memaafkan ibunya, Allah saja bisa memaafkan hambanya masa Jihan tidak bisa” Ucap Jihan.

“ Maafkan Jihan juga ya Bu. Terima kasih sudah mau menjaga Jihan sampai sebesar ini, mau membiaya kehidupan Jihan, padahal Jihan itu bukan siapa-siapanya Ibu” ucap Jihan sambil menangis memeluk Ibunya yang masih berbaring diatas kasur.

“ Kamu  juga anak Ibu yang sangat ibu sayangi” kata ibunya.

            Setelah beberapa hari dirumah sakit, ibunya diperbolehkan pulang kerumah. Jihan dan keluarga angkatnya kembali menjalankan hidup seperti sedia kala yang penuh kebahagian.

            Tanggal 15 Juli 2019, Jihan genap berumur 24 tahun. Untuk merayakan hari bahagia itu, dia dan keluarganya mengadakan acara tasyakuran yang di hadiri oleh anak-anak yatim, keluarga terdekatnya dan terutama Fadlan,sahabatnya.

Ditengah-tengah acara terjadi kejadian yang tidak terduga, Fadlan tiba-tiba saja meminta izin ke Ayahnya Jihan untuk mengkhitbah Jihan.

“Ayah, saya Fadlan Ahdiatma minta izin untuk mengkhitbah Jihan Juliani Putri” ujar Fadlan sambil menghadap ayahnya Jihan.

Semua yang hadir di acara itu tercengang kaget, khususnya Jihan. Dia tidak percaya kalau Fadlan akan mengatakan hal yang tidak pernah terbayang dibenaknya itu. Karena dia sudah menganggap Fadlan sebagai kakak.

“ Nanda Fadlan, apa yang membuat kamu mau mengkhitbah Jihan anak saya?” tanya ayah Jihan.

“ Karena Jihan berbeda dengan perempuan lain yang pernah saya jumpai, dia itu perempuan sholehah yang mengerti banyak tentang Islam” ucap Fadlan sambil menghadap ke arah Jihan.

“ Saya tidak bisa memutuskan ini, karena yang akan menjalankan semuanya bukan saya tapi Jihan. Jadi saya serahkan ini semua kepada Jihan dan saya akan menerima apapun keputusannya” jelas Ayah Jihan panjang lebar.

“ Jihan bagaimana, apakah kamu menerima khitbahku” tanya Fadlan singkat.

“ Insya Allah” Jawab Jihan sambil menganggu malu.

“Alhamdulillah” ucap Fadlan dan semua tamu yang hadir.

Jihan meneteskan air mata, karena tidak bisa mengungkapkan semua itu dengan kata-kata. Sempurnalah kebahagian yang di dapat oleh Jihan, tidak ada lagi rasa sedih yang terbesit di hatinya. Semua orang yang berada didekat Jihan juga ikut merasakan kebahagian itu, terutama orang tuanya karena mereka bisa melihat kembali Jihan yang sebenarnya, dengan senyum yang tulus, wajah yang bercahaya dan tawa yang tidak lagi seperti paksaan. Itulah perjalanan hidup yang dijalani Jihan sampai dia benar-benar menemukan jati dirinya yang sebenarnya.

 

 

           

 

           

 

           

 

 

 

 

 

 

SURAT UNTUK EMI


Sina Asalica atau yang biasa dipanggil Aca adalah remaja 17 tahun yang lahir di lingkungan keluarga yang berkecukupan. Ia merupakan anak sulung dan perempuan satu-satunya dari 3 bersaudara. Meskipun lahir dari keluarga berkecukupan, orang tuanya tidak selalu mengikuti apa yang ia inginkan. Orang tua Aca juga tidak terlalu membebaskan dia untuk keluar rumah, kecuali untuk hal-hal yang sangat penting. Aca bersekolah di Cendana Islamic Boarding School (CIBS), yang mengharuskan siswanya untuk tinggal di asrama. Salah satu alasan Aca bersekolah di CIBS karena ia ingin merasakan kebebasan tanpa kekangan dari orang tuanya.

Di CIBS Aca memiliki sahabat yang bernama Emi Salsa Annisa. Emi merupakan anak pengusaha rumput laut yang terkenal di Lombok. Ayah Emi memiliki toko yang menjual dodol rumput laut. Tokonya berpusat di Lombok Tengah. Emi adalah sahabat Aca sejak awal Matsama. Emi berada di kelas IPS 1, sedangkan aca berada  di kelas IPA 2. Suatu hari di kelas IPA ketika pelajaran matematika perminatan sedang berlangsung.

“Eh Ca, udah jadi nomor 7 ga?” Tanya Yana

“Udah nih, baru aja selesai.” Jawab Aca

 “Ajarin dong.”

“Kuy lah, tinggal nomor 7 doang kan?”

“Iya. Susah ih nomor 7 soalnya panjang banget”

“Itu mah soalya doang yang panjang, caranya mah gampang.”

  Tak lama setelah Aca selesai mengajarkan Yana nomor 7, bel tanda istrahat pun berbunyi. Emi datang ke IPA 1 untuk mengajak Aca ke kantin barsama. Setelah mengambil makanan yang diinginkan Aca dan Emi duduk di kursi yang ada di dekat kantin sambil berbincang-bincang.

“Tau ga sih tadi di kelas, Pak Dewa tiba-tiba bilang, nak, hari ini kita ulangan ya” ujar Emi mengikuti gaya bicara Pak Dewa.

“Terus gimana, bisa dijawab ga soalnya? Tanya Aca.

“Ya ga gimana-gimana lah dari lima soal aku cuma bisa jawab dua, mana ga tau lagi itu jawabannya bener apa enggak. Ya coba deh kamu bayangin ulangan sejarah cuy, tau kan kalau aku itu lemah banget kalau masalah menghafal. Jadinya ya udah deh.” Ucap Emi lemah sambaring mengedikkan bahu.

“Yaudah sih yang penting ada yang bisa dijawab kan, daripada kertasnya kosong semua.” Ucap Aca menenangkan.

“Alfi keren banget tau tadi, dia bisa jawab semua soal yang dikasi Pak Dewa, udah gitu jawabannya bener semua lagi” ujar Ema berbisik-bisik dengan pipi merah.

“Ih kok pipinya merah sih. Nah loh ada apa nih sama Alfi, ciee..” ucap Aca dengan nada menggoda.

“Ih apaan sih, ga ada apa-apa”

“Kalau ga ada apa-apa ko malu-malu sih, kamu suka sama Alfi ya..” ucap Aca dengan nada jahil.

“Hust.. jangan kenceng-kenceng ih ngomongnya, nanti didenger orang” ucap Emi dengan wajah waspada dan pipi semerah tomat.

Selama jam istirahat Aca terus saja menggodai Emi. Saat bel tanda pelajaran dimulai berbunyi mereka kembali ke kelas masing-masing. Pelajaran Aca setelah jam istirahat hingga jam pulang sekolah adalah Bahasa Indonesia. Sampai di asrama, Aca langsung menuju kamarnya untuk ganti baju, kemudian pergi sholat dan makan siang.

 Setiap malam Aca selalu belajar walaupun besok tidak ada ulangan atau pun PR. Aca sudah terbiasa untuk belajar setiap hari. Sejak Sekolah Dasar orang tua Aca membiasakan Aca untuk belajar meskipun esok harinya tidak ada PR ataupun ulangan. Tak salah bila di sekolah Aca dikenal sebagai anak yang cukup cerdas. Sebab, meskipun terkadang ada ulangan mendadak, Aca selau bisa menjawab soalnya dengan yakin, meskipun tidak mendapat nilai yang sempurna.

Suatu malam, ketika sedang belajar, Yanti, teman kamar Aca sekaligus teman kelas Emi  bercerita.

“Kamu ada hubungan apa sama Alfi Ca?”

”Hah, hubungan apaan. Ga ada apa-apa kok” kata Aca dengan terheran heran sekaligus kaget.

“Emang kenapa?” Tanya Aca lagi

“Tadi pas pelajaran prakarya, Pak Dani kan sebut-sebut nama kamu, terus gatau tau deh tiba-tiba anak-anak cowo pada cie-ciein Alfi sama kamu.”

“Ih kok gitu sih, aku ga ada hubungan apa-apa loh sama Alfi” jawab Aca dengan nada heran.

“Terus kan ya, pas jam istirahat Aku nanya ke Bima, kenapa sih tadi Alfi pada dicie-cien sama kamu. Terus Bima bilang, ternyata Alfi itu naksir kamu dari semester satu. Ciee..” tambah Yanti.

Aca tidak dapat berkata apa-apa, Aca hanya mampu membalas dengan senyum yang dipaksakan sekaligus perasaan khawatir. Aca baru tersadar, apakah karena itu beberapa hari ini Emi tidak mencari Aca dan mengajaknya ke kantin bersama. Aca berpikir mungkin beberapa hari belakangan ini Emi sedang banyak tugas. Tanpa pikir panjang Aca kemudian pergi menuju kamar Emi. Saat itu Emi sedang belajar di atas kasurnya

“Em bisa bicara sebentar ga?” Tanya Aca dengan takut takut.

“Ga bisa” jawab Emi tanpa menoleh ke pada Aca.

“Bentar aja Em” sambung Aca.

“Dibilangin ga bisa juga. Ga liat apa orang lagi belajar.” Ucap Emi dengan nada sarat akan kekesalan.

“Ya udah besok bisa ga di sekolah?” Tanya Aca dengan sabar.

“Hmm” jawab Emi tak acuh.

Aca kemudian kembali ke kamarnya dan memutuskan untuk tidur karena ia sudah pasti tidak bisa berkonsentrasi saat belajar karena masalahnya dengan Emi belum bisa dibicarakan. Namun hingga jam setengah dua belas malam Aca tak kunjung terlelap. Ia masih memikirkan bagaimana cara menjelaskan hal tersebut kepada Emi. Sebab Aca tahu bahwa Emi adalah anak yang keras kepala dan masih bersifat kekanak-kanakan.

Keesokan harinya, setelah bel istirahat berbunyi Aca langsung menuju IPS 1 untuk mencari Emi. Ternyata Emi sudah turun duluan menuju kamar mandi. Aca lalu menuju kamar mandi untuk mencari Emi.

“Em” panggil aca dari koridor sebelah utara saat melihat Emi baru saja keluar dari kamar mandi.

Namun Emi hanya  melihat sekilas lalu membuang muka, kemudian melanjutkan langkahnya ke koridor selatan untuk menuju kantin. Melihat hal itu Aca pun mempercepat langkahnya untuk mengikuti Emi ke kantin.

“Em tunggu dulu,” ucap Aca sambil mencekal tangan Emi.

“Apaan sih” ucap Emi sambil melepaskan cekalan tangannya dari Aca.

“Aku mau bicara sama kamu” ucap Aca.

“Yaudah sih nanti aja, laper tau, capek di kelas dengerin orang dicie-cien mulu tiap hari.” Kata emi dengan nada kesal.

“Yaudah selesai belanja aku tunggu di bangku bawah pohon ya” Ucap Aca.

Setelah belanja, Emi menuju ke bangku bawah pohon tempat Aca menunggu dan duduk di hadapan aca.

“Mau ngomong apa? Buruan!. Laper nih.” Ucap emi dengan wajah malas-malasan.

“Kamu marah sama aku? Tanya Aca.

“Pikir aja sendiri”

“Marah gara-gara yang sama Alfi itu?” Tanya Aca memastikan.

“Oooh udah tau ternyata. Seneng kan pasti” dengan nada sindiran

“Em”

“Ini yang disebut sahabat? Mana ada yang nusuk dari belakang” Sela Emi

“Em sahabat aku cuma kamu, kamu yang tau aku itu kayak gimana. Emang kamu pernah liat aku ngomong sama Alfi?”

“Siapa tau kan ngomongnya di belakang, nusuknya aja dari belakang.” Lanjut Emi.

“Em kamu yang tau aku kayak gimana. Sekarang terserah kamu mau percaya sama aku atau engga, tapi aku udah jelasin ke kamu dengan jujur. Aku kangen kita yang dulu, yang ketawa bareng dan kemana-mana selalu bareng. Bukan kayak sekarang yang kayak orang saling ga kenal satu sama lain.” Terang Aca dengan nada putus asa

Emi hanya mengedikkan bahu kemudian pergi meninggalkan Aca. Aca hanya mampu tertunduk dan menghela napas dengan dalam.

Beberapa hari berikutnya dilalu dua orang sahabat yang sedang berseteru itu dengan perasaan sama-sama rindu. Aca rindu dengan Emi yang selalu curhat kepadana tentang apapun, rindu Emi yang cerewet, rindu dengan Emi yang selalu menceritakannya hal-hal lucu, rindu jalan berdua, rindu bercanda bersama Emi, rindu curhat dengan Emi.

Emi pun rindu dengan Aca. Ketika melihat Aca jalan sendiri ke kantin, ingin rasanya Emi memanggil Aca dan mengajaknya jalan berdua. Emi tau bahwa Aca adalah anak introvert yang susah untuk terbuka dan dekat dengan orang lain. Emi rindu Aca sebagai teman curhatnya, Emi rindu Aca yang selalu mengajaknya belajar bersama dan mengajarnya saat kesulitan. Saat mengetahui Alfi suka dengan Aca jelas emi merasa kesal, namun juga ia sebenarnya tidak tahu kesal kepada siapa. Ia tahu bahwa Aca tidak mungkin menusuknya dari belakang, Aca adalah sahabat yang baik. Hanya Aca sahabat emi satu-satunya. Hanya Aca yang sabar menghadapi sifat kekanak-kanakan Emi. Emi pun ingin seperti dulu lagi dengan Aca. Namun Emi terlalu gengsi untuk minta maaf dan menyapa Aca terlebih dahulu.

Suatu sore ingin rasana Emi menyumpal mulut teman-teman Aca yang membicarakan Aca di belakang saat Aca lah yang dipilih untuk memimpin tarian yang ditampilkan kelas IPA 2 saat acara ulang tahun CIBS ke-13 tahun. Saat itu Emi sedang lewat di koridor asrama dan mendengar teman-teman kelas Aca yakni Dina and The Gang sedang membicarakan Aca.

“Kenapa sih yang memimpin apa-apa itu selalu Aca” Ucap Dina dengan nada kesal

“Iya. Setiap ada tugas kelompok selalu aca yang menjadi ketuanya” lanjut Yana.

“Besok untuk ketiga kalinya kelas kita ditunjuk sebagai opening acara dengan tarian, dan dari acara yang pertama sampai yang besok selalu Aca yang dijadikan center.” Tambah Yana

“Memang hanya Aca yang bisa, kan kita semua juga latihan sama-sma, pastilah kita semua bisa bukan cuma aca.” Ucap dina sambil manyun.

“Mungkin kan karena Aca koreografernya makanya Aca yang ditunjuk oleh pak Dani” ucap Ica.

“Tapi di gerakan yang terakhir gerakan Aca kaku dan ga terlalu lancar karena Ica yang menjadi koreografernya, ya kan Ca?” ucap Reva

“Iya”

“Dan Pak Dani tetap menunjuk Aca sebagai centernya” lanjut Reva

“Mungkin Aca tidak enak untuk menolak permintaan Pak Dani” ungkap Ica

“Apasih susahnya tinggal bilang” tambah dina dengan wajah cemberut dan kesal.

Saat itu ingin rasanya emi meneriaki mereka semua dan berkata bahwa memang Aca yang cocok menjadi centernya karena gerakan badan Aca yang lentur. Mereka hanya bisa bicara di belakang. Mereka tidak tahu bahwa Aca menghafal gerakan tarian yang akan ditampilkan hingga tengah malam di kamar kosong yang ada di asrama. Semua itu Aca lakukan karena ia merasa itu memang tanggung jawabnya. Pak Dani meminta Aca untuk menjadi koreografernya karena Pak Dani tidak bisa mengajari mereka semua. Pak Dani harus pergi ke luar kota. Emi tahu itu karena sudah tiga malam Emi memergoki Aca latihan sendiri di kamar kosong hingga jam setengah satu malam. Namun Emi tidak bicara apa-apa saat mendengar mereka bicara seperti itu. Emi tetap melanjutkan langkahnya. Emi tertalu malas mengurus orang-orang yang hanya berani bicara di belakang.

 

Pada hari penjengukan, Aca dijenguk oleh kedua orang tuanya. Aca dan kedua orang tuanya duduk di berugak sebelah asrama yang disediakan untuk para orang tua ketika menjenguk anaknya.

“Mah besok tanggal 23-26 Maret ada program study kolaboratif dari sekolah

 untuk semua kelas 11” ujar Aca menginformasikan kepada mamanya.

“Perginya kemana aja?” Tanya mama Aca

“Kemarin Aca denger-denger sih kita mau pergi ke Malang, Jogja, dan Surabaya”

“Emang kegiatannya apa aja?”

“Banyak sih. Jadi kita kan nanti pergi kunjungi sekolah-sekolah yang maju gitu kan. Terus kita itu kayak wawancara gitu lah ke pihak sekolahnya. Kayak gimana sih metode belajarnya di sekolah itu makanya sekolahnya maju. Ya kayak gitu lah” jelas aca.

“Emang semuanya harus ikut kegiatan itu?

“Ga tau sih, tapi tahun lalu senior Aca banyak sih yang ga ikut.”

“Yaudah sih kalau memang boleh ga ikut mending Aca ga usah ikut aja.”

“Kok gitu?” Tanya Aca.

“Ya dari pada nanti Aca kecapean terus penyakitnya kambuh, kegiatannya pasti padat banget kan?” jelas mama Aca.

“Tapi Aca pengen ke Jogja, kita  kan belum pernah ke Jogja”

“Yaudah sih besok pas liburan kita ke Jogja sama-sama” lanjut mama Aca.

“Tapi kan Aca pengen gitu sekali-sekali pergi sama teman-teman Aca, pengen gitu jalan-jalan bareng. Dari dulu mamah ga pernah kasi izin Aca pergi bareng temen-temen Aca” ungkap Aca.

“Ya kan ketemu temen-temennya udah setiap hari di sini. Di sekolah ke temu, di asrama ketemu. Masa masih kurang?” Tanya mama Aca sambil bercanda.

“Ya kan beda mamah”

“Kalau memang boleh ga ikut, mending jangan ikut dek, nanti kecapekan. Kalau memang pengen pergi ke Jogja, yaudah besok pas liburan kita pergi bareng” terang ayah Aca yang sejak tadi hanya menyimak.

“hmm..” jawab Aca dengan lesu.

Aca sebenarnya tahu bahwa orang tuanya pasti tidak akan mengizinkannya. Namun Aca hanya ingin mencoba siapa tahu orang tuanya akan mengizinkan. Sejak dulu memang orang tua Aca jarang mengizinkan Aca untuk keluar-keluar tanpa pengawasan dari mereka. Saat Aca meminta izin untuk melanjutkan sekolah di CIBS pun orang tua Aca sangat berat untuk mengizinkan Aca. Berkali-kali orang tua Aca memastikan kepada Aca apakah Aca yakin kalau ia ingin bersekolah di CIBS. Berkali-kali pula Aca menyakinkan orang tuanya dan dibantu oleh kedua kakaknya bahwa Aca benar-benar ingin bersekolah di CIBS. Aca menjelaskan kepada orang tuanynya bahwa Aca ingin bersekolah CIBS agar ia bisa menjadi anak yang lebih mandiri dan lebih dewasa. Dibalik itu, salah satu alasan Aca ingin bersekolah di CIBS yakni ia ingin merasakan kebebasan, bebas pergi kemana-mana tanpa kekangan orang tuanya. Aca merasa bahwa dirinya sudah dewasa. Ia tidak ingin dikekang-kekang lagi.

Karena hanya aca yang tidak mengikuti kegiatan study kolaboratif, Aca diizinkan pulang oleh pihak sekolah. Sebab jika ingin belajar, banyak juga guru yang mengajar di kelas sebelas mengikuti kegiatan study kolaboratif.

Ketika semua siswa kelas 11 sudah kembali, banyak siswa kelas 11 yang membicarakan Aca. Sebab mereka tahu bahwa sekolah membolehkan Aca pulang disaat mereka sedang study tour. Padahal perjanjian awalnya adalah bagi siswa yang tidak mengituti study kolaboratif diharuskan tetap tinggal di asrama dan mengikuti kegiatan belajar-mengajar seperti biasanya. 

Hampir semua anak kelas 11 membicarakan Aca, termasuk teman kelasnya. Tak jarang juga mereka sengaja menyindir Aca disaat Aca ada di sekitar mereka. Saat Aca sedang mengerajakan tugas di bangkunya, tak sengaja Aca mendengar teman-temanya sedang membicarakan dirinya. Teman-temanya memang tidak menyebut nama Aca secara langsung, namun Aca tahu orang dimaksud teman-temannya adalah dirinya.

“Enak ya bisa pulang disaat yang lain lagi sibuk dengan kegiatan study kolaboratif” ucap Dina sarat akan nada sindiran.

“Enak ya bisa leha-leha di rumah disaat yang lain pada capek” tambah Reva

“Enakya jadi murid kesayangan guru, mau ngapa-ngapain aja  mah gampang” lanjut Dina

“Kalau mau pulang tinggal minta, langsung diizinin” tambahnya.

“Biasalah anak kesayangan mami, ga pernah diizinin kemana-mana”

“Eh giliran izin pulang, langsung diizinin”

“Lucu deh sekolahmu Din” ucap Reva.

“Kok lucu?” Tanya Dina sambil tersenyum meremehkan.

“Iya lucu. Kemarin bilangnya A, eh tiba-tiba bisa jadi B cuma gara-gara yang minta ANAK KESAYANGAN GURU” jawab Reva dengan kalimat penekanan.

“Iya ih lucu, kok baru sadar ya ha ha ha” tambah Dina dengan tawa yang sangat dipaksakan.

Mendengar hal itu Aca merasa sedih. Padahal Aca pulang bukan untuk bersenag-senang. Aca pulang untuk menjalani pengobatan yang rutin dilakukan. Teman-teman Aca hanya bisa berkomentar tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada orang lain yang mengetahui perihal penyakit Aca  kecuali dia sendiri dan keluarga besarnya.

  Aca sebenarnya ingin menjelaskan kepada teman-temannya alasan mengapa Aca pulang. Namun ia tidak ingin orang lain tau masalah penyakitnya, cukup ia dan keluarganya saja yang mengetahui. Aca tidak ingin dikasihani oleh orang lain karena penyakitnya.

Aca sebenarnya sudah tidak tahan dengan semua sindiran yang dilakukan teman-temannyanya. Ingin rasanya berbagai mengenai masalahnya ke pada orang lain, tapi Aca sudah tidak punya seseorang untuk dijadikan teman curhat. Sebenarnya Aca ingin bercerita kepada orang tuanya, namun Aca takut nanti masalah ini akan membenani orang tua Aca juga. Rasanya sudah cukup orang tua Aca merasa khawatir terhadap Aca. Aca tidak ingin lagi menambah beban orang tuanya.

Semenjak kejadian tersebut Aca bertekat jika ada kegiatan lagi dari sekolah Aca akan berusaha mengikutinya. Kebetulan satu minggu setelah kegiatan study kolaboratif ke luar Lombok, CIBS akan mengadakan kegiatan study social dan sains ke Bank Indonesia, Museum Daerah Nusa Tenggara Barat, PLTU Jeranjang, dan Pantai Kuta.

Mengenai study social dan sains, Aca tidak memberi tahu orang tuanya. Aca tidak izin kepada ayah dan mamanya, karena jika izin maka ayah dan mamanya sudah pasti tidak akan mengizinkan Aca dengan alasan nanti Aca akan kelelahan. Padahal Aca yakin dirinya pasti tidak akan kelelahan, dia pasti akan baik-baik saja. Namun apa daya, semua tidak sesuai harapan. Esok hari setelah study social dan sains Aca mengalamai demam tinggi, semua tubuhnya terasa sakit dan pegal seakan-akan ditimpa dengan sesuatu yang berat. Hingga sore hari demam Aca tak kunjung turun. Bahkan, ketika azan magrib Aca tak sadarkan diri sehingga pihak sekolah menghubungi orang tua Aca perihal keadaan Aca.

Betapa kagetnya orang tua Aca ketika mendapat kabar dari sekolah mengenai kondisi Aca. Setelah sholat magrib orang tua beserta kedua kakak Aca langsung bergegas menuju sekolah. Selama di perjalanan mama Aca terus saja menangis sambil menyebut-nyebut nama Aca.

Orang tua Aca tiba di CIBS bertepan dengan mobil ambulan yang sudah dihubungi oleh pihak sekolah. Melihat Aca yang dibawa ke dalam mobil ambulan, orang tua Aca langsung pindah menuju mobil ambulan untuk menemani Aca, sedangkan kedua kakak Aca mengikuti dari belakang dengan mobil keluarga mereka.

Setibanya di rumah sakit, Aca langsung dibawa menuju ruang Unit Gawat Darurat (UGD). Selama menungu proses pemeriksaan, pihak sekolah menjelaskan kronologis Aca jatuh sakit. Setelah mendengar kronologis tersebut, mama Aca langsung berteriak histeris hingga pingsan. Ayah Aca langsung menjelaskan kepada pihak sekolah bahwa Aca mengidap kanker yang mengharuskan Aca tidak boleh kelelahan. Sontak pihak sekolah pun terkejut dengan fakta tersebut. Pasalnya selama ini Aca terlihat baik-baik saja. Aca tidak tampak lemas ataupun sakit.

Setelah tiga hari tak sadarkan diri, dokter yang menangani Aca menginformasikan kepada keluarga Aca bahwa kanker yang ada pada tubuh Aca sudah menyebar ke seluruh tubuh Aca dan sudah mencapai stadium akhir. Sudah tidak ada lagi harapan. Keluarga hanya tinggal berdoa dan menunggu sampai kapan waktu yang diberikan Allah. Setelah mendengar kabar tersebut tubuh mama Aca terasa lemas seperti tak bertulang. Mama Aca merasa seluruh dunianya seakan-akan hancur. Ia sudah tak sanggup lagi.

Tanggal 07 April 2019 pukul 07:08 dokter memanggil seluruh keluarga Aca dan dan menginformasikan bahwa kondisi Aca semakin kritis. Langsung saja ayah Aca menghubungi semua keluarganya mengenai berita tersebut. Setelah semua keluarga Aca berkumpul, mereka langsung menuju ruang rawat Aca. Selama dokter menangani Aca, tak henti-hentinya keluarga Aca melantunkan surat Ya-Siin. Setelah satu jam berusaha, dokter menginformasikan bahwa nyawa Aca sudah tidak dapat ditolong. Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin namun Allah berkehendak lain. Pukul 09:10 Aca dinyatakan tutup usia pada  umur 17 tahun. Orang tua Aca merasa sangat terpukul, bahkan mama Aca sempat beberapa kali pingsan. Seluruh keluarga Aca merasa kehilangan.

Dua hari setelah pemakaman Aca, mama Aca pergi ke asrama untuk membereskan sema barang-barang Aca untuk dibawa pulang. Saat tiba di asrama, banyak guru-guru yang menyampaikan bela sungkawa dan permintaan maaf karena tidak bisa menghadiri pemakaman Aca.

Saat membereskan semua barang-barang Aca, mama Aca dibantu oleh Emi. Emi salah satu orang yang paling merasa kehilangan setelah mengetahui kabar meninggalnya Aca. Saat sedang membereskan buku-buku Aca, Emi menemukan lembaran yang bagian depannya bertuliskan “Untuk Emi, sahabatku”. Emi langsung membaca lembaran tersebut bersama mama Aca.

Dear Emi, sahabatku

Terimakasih karena sudah mau menjadi sahabatku. Terima kasih karena sudah mau menjadi teman curhatku. Terimakasih untuk semua lawakan-lawakan yang kamu berikan untukku, untuk menghiburku, untuk menghilangkan rasa stresku. Terimakasih karena telah mewarnai duniaku yang suram. Terimakasih karena pernah menghadirkan pelangi di hidupku yang selalu mendung. Terimakasih karena telah membawa warna baru di hidupku. Maaf karena selama ini aku belum bisa menjadi sahabat yang baik untukmu. Maaf karena pernah membuatmu sedih. Maaf, mungkin aku sering menyusahkanmu. Aku minta maaf untuk semua kesalahan yang pernah aku lakukan, yang membuatmu kecewa atau marah. Maaf jika aku membuatmu salah faham. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Alfi, dan tak ada sedikitpun keinginanku untuk menghalangi hubunganmu dengannya. Aku cuma mau bilang kalau aku rindu dengan kamu. Aku rindu dengan semua cerita lucu-lucumu. Aku rindu jalan berdua denganmu. Aku rindu saat kita bercanda dan tertawa bersama. Aku rindu semua tentang kita. Aku ingin kita bisa kembali lagi seperti dulu, tidak seperti sekarang, seperti orang yang tak saling kenal. Maaf karena tidak bisa mempertahankan persahabatn kita. Maaf karena aku belum bisa menjadi sahabat yang baik untukmu. Maaf.

 

 

Rabu, 13 Februari 2019

Tertanda,

 

Aca,

 sahabat yang mengecewakanmu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rintih Hujan Menuju Jepang


                Suara informan yang memberikan pengumuman bahwa penerbangan menuju Jepang segera berangkat, ditemani oleh derasnya hujan dan gemuruh Guntur pada siang hari itu. Aku melihatnya dari lobby terminal bandara. Seorang gadis cantik yang kukenal itu tersenyum kepadaku dari dalam ruangan security check, senyum manis yang terlihat samar terhalang oleh kaca ruangan itu mewakili ucapan selamat tinggalnya. Tanpa kusadari, air mataku mengalir membasahi pipiku. Hingga gadis cantik itu sudah tidak terlihat lagi.

                1 Bulan yang lalu

                “Tit…Tit…Tit”

                Aku terbangun oleh suara alarmku yang berbunyi, jarumnya menunjuk pukul 06.00 pagi hari. Aku beranjak dari ranjangku dan bergegas ke kamar mandi untuk bersiap-siap menjalani hariku. Aku keluar dari kamar mandi, terdengar suara ceret yang berbunyi menghembuskan udara hangat tanda air sudah mendidih. Ku ambil 2 belah roti panggang dari microwave dan menaruhnya di atas piring kesukaanku. Ku seduh segelas susu dan seperti biasa, Aku sarapan dengan ditemani oleh Piko seekor burung hantu peliharaanku di atas balkon rumahku yang minimalis.

                “Selamat Pagi Piko… Udara pagi hari memang sangat segar ya” ucapku mengajak Piko berbicara.

                Walaupun ku tahu bahwa Piko tidak dapat menjawab perkataanku, namun ku yakin Piko memahami semua perkataanku. Setelah ku habiskan sarapan ku, seperti biasa aku pamit ke Piko untuk pergi bekerja.

                “Dah.. Piko, Aku berangkat kerja dulu. Nih, daging ayam kesukaanmu… Aku akan pulang nanti malam seperti biasa. Kau bertugas jaga rumah ini. Oke…”

                Piko mengangguk seperti ia mengerti perintahku. Kunyalakan motor kecilku, kendaraan yang selalu menemani ku sejak aku masih SMA. Dengan santai, aku mengendarai motorku ke rumah sahabatku. Namanya Alessa, ia adalah sahabatku sejak SMP. Seorang gadis cantik yang berpenampilan sederhana, senyumnya yang manis seperti madu sudah menungguku didepan gerbang rumahnya yang terletak beberapa kilometer dari rumahku.

                “Kamu sudah nungguin lama banget ya?”

                “Ah, engga kok. Baru juga keluar.”

                “Okedeh kalo gitu kita langsung berangkat aja. Keburu telat nih”

                Alessa adalah seorang desainer baju yang bekerja di kantor yang cukup ternama. Gerakan tangannya sangat halus dan lembut saat menggambar desain baju. Ia cukup berprestasi dalam karirnya, desain bajunya sudah meluas hingga mancanegara. Tidak heran, managernya selalu membanggakannya. Aku adalah seorang arsitek yang bekerja tidak jauh dari kantor Alessa. Kami selalu bersama kemanapun kami pergi. Yah.. walaupun hanya sahabat namun tidak ada salahnya bukan?

                Suatu hari, seorang gadis yang sangat cantik datang menemuiku untuk menjadi klienku. Ia adalah seorang sekretaris dari suatu perusahaan yang memintaku untuk mendesain arsitektur kantornya yang baru di pusat kota.

                “Selamat Pagi, dengan pak Arya ya?” Sapa gadis itu.

                “Selamat Pagi. Iya saya Arya. Tidak usah manggil pak. Tua banget deh jadinya. Panggil mas aja” jawabku kepadanya.

                “eh iya deh mas Arya. Namaku Gina. Pak Joko minta desain kantor pusat mas. Udah siap kan?”

                “Ini desain kantornya.  Sesuai dengan permintaan Pak Joko minggu lalu. Saya rancang dengan sepenuh hati” sembari menyodorkan kertas rancangan arsitektur kantor kepada Gina, aku tersenyum dan entah mengapa jantungku berdebar seperti drum yang ditabuh kencang.

                “Wah bagus ya. Okedeh makasih ya mas Arya. Ini uangnya dari Pak Joko, katanya ambil aja kembaliannya hitung-hitung jadi tip buat mas Arya” Gina memberikan uang sebesar 5 juta rupiah kepadaku sebagai bayaranku. Senyumnya meluluhkan hatiku, hingga tak sengaja aku menjatuhkan kotak pensilku yang berada di atas meja saat aku menerima uang itu.

                Prak!

                “Eh maaf kayaknya aku ngantuk deh” jelasku ke Gina. Ia membantuku membereskan peralatan tulisku yang berserakan di bawah meja. Setelah kurapikan peralatan tulisku Gina bergegas pulang.

                “Mas Arya makasih ya, lainkali kalau ada proyek kerjanya jangan sampai malem. Nanti ngantuk mulu deh”  candanya. Tawa ringannya mencopot jantungku hingga aku tak tahu mau berkata apa lagi.

                “Mbak Gina!” Teriakku memanggil.

                “Ada apa mas?” Jawab Gina menoleh ke belakang.

                “Anu, boleh minta nomer telepon ga?” Dengan suara bergetar ku bertanya.

                “Ah. Aku kira apa, Nih nomerku teleponku” Jawab Gina tetap dengan senyum manisnya itu.

                “Makasih ya Gina…”

                Ku jemput Alessa untuk makan siang seperti biasa. Kami selalu makan di café kesukaan kami. Tidak jauh dari kantor, Harga makanannya pun bersahabat dengan dompet kami. Selama pertemanan kami, Aku sudah berkali-kali jatuh cinta kepada Alessa, namun Aku tidak berani untuk mengungkapkannya karena Aku takut hubungan pertemanan kami rusak hanya karena masalah hati. Namun, hari ini Aku terpesona dengan Gina. Seorang sekretaris utusan Pak Joko untuk mengambil rancangan arsitektur kantornya. Sembari memakan semangkuk bakso dengan Alessa, Aku menceritakannya kepada Alessa.

                “Tau ga? Tadi aku dapet klien cantik banget” kataku kepada Alessa.

                “Oh ya? Emang secantik apaan?” Jawab Alessa dengan tawa ringan.

                “Kayak Bidadari dari surga yang tiba-tiba dateng yang bikin Aku terbang gitu” jelasku kepada Alessa

                “Kamu berlebihan ih, terus kamu mau apa?” Tanya Alessa dengan satu alis matanya yang terangkat penasaran.

                “Kalo aku ajakin ngedate gimana?  Siapa tahu jodohkan” Candaku kepada Alessa

                “Dasar, emang deh yang namanya laki-laki. Hmm… Moga aja orang baik” Kata Alessa.

                Setelah menghabiskan bakso yang kami pesan. Aku pun pergi ke kasir untuk membayar makanan kami.

                “Kali ini aku traktir, hitung-hitung berbagi kebahagiaan” candaku ke Alessa

                “Dih, kalo kayak gini baru mau traktiran. Makasih deh” Jawab jutek Alessa kepadaku. Kami pun kembali ke kantor kami masing-masing untuk menlanjutkan pekerjaan. Saat Aku hendak pulang ke rumah, kucoba untuk mengirim SMS ke Gina

                Hai Gina, Selamat Malam. Lagi sibuk ga? Kalo aku ajakin makan malem di café pelangi yang ada di deket kantorku kamu mau ga?  Yah hitung-hitung traktiran lah, kan tadi aku dapet tip dari Pak Joko. Hehe…

                Tanpa menunggu lama ponselku berbunyi tanda pesan masuk

                Hai mas Arya. Hmm, kayaknya aku lagi free deh. Oke tungguin aku di café pelangi yaa. 5 menit lagi nyampe

                Aku senang sekali. Rasanya ingin terbang diatas bintang-bintang karena Gina meng-iyakan ajakan makan malamku. Aku memesan 2 piring nasi goring dan 2 jus melon untukku dan Gina. Tak lama setelah pesananku dating ke meja Gina pun dating

                “Hai mas Arya” Sapa Gina

                “Eh udah dateng ya, sini” Jawabku sambil mempersilahkan Gina duduk

                Sembari menyantap nasi goreng dan jus melon yang telah ku pesan. Aku dan Gina mengobrol lama, saling berbagi cerita, bercanda dan sebagainya. Lalu entah mengapa degup jantungku semakin kencang, aku keringat dingin, urat nadiku tak terasa. Aku sangat ingin menyatakan perasaanku.

                “Hmm Gina, anu… Aku tuh anu” kataku dengan suara bergetar

                “Kenapa mas?” Tanya Gina penasaran

                “Ngga tau kenapa, Aku suka sama kamu” kataku kepada Gina. Aku terdiam tak bisa bernafas ingin mati rasanya. Aku berpikir kenapa aku seberani itu mengungkapkan perasaanku padahal aku baru saja bertemu dengan Gina siang ini

                “Aku juga mas” Jawab Gina. Aku kaget terdiam membisu. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Semua sendi dan otot di tubuhku tiba-tiba mati rasa saat mendengar jawaban Gina itu.

                “Mas Arya. Kenapa mas?” sambil menggerakkan tangannya di depan mataku

                “Ah tidak, aku cuma kaget. Jadi? Kamu mau sama aku juga?” Tanyaku tak percaya. Gina hanya menganggukkan kepalanya dengan pipi yang merah merona.

                Setelah makan malam aku pulang ke rumah. Di tengah jalan menuju rumah aku teringat sesuatu. Seperti ada yang kurang malam ini. Aku baru teringat bahwa Aku lupa menjemput Alessa. Dengan kecepatan tinggi aku kembali ke kantor Alessa. Namun sesampainya Aku di kantor Alessa tidak ada seorang pun disana. Kantornya sudah sepi seperti tidak berpenghuni. Namun, disana masih ada seorang satpam yang menjaga.

                “Permisi pak. Mbak Alessanya sudah pulang ya?” tanyaku tergupuh-gupuh kepada pak satpam.

                “Eh mas Arya ya? tadi Mbak Alessa nungguin lama banget sampe ngantuk. Terus pulang deh pake ojek online” jelas pak satpam

                “Oh begitu ya pak. Makasih pak ya” jawabku kepada pak satpam

                Aku pun bergegas pulang ke rumah. Sesampainya Aku di rumah, langsung ku rebahkan tubuhku ke kasur. Aku sangat senang sekali. Hari ini perasaanku diterima oleh seorang gadis yang sangat cantik. Namun, aku juga merasa bersalah karena aku lupa menjemput Alessa.

                Keesokan harinya, seperti biasa ku jemput Alessa untuk berangkat bekerja. Aku sangat ingin sekali menceritakan tentang Gina. Namun, tidak seperti biasanya Alessa cemberut menungguku di depan gerbang rumahnya.

                “Hai, maaf ya kemarin aku lupa jemput kamu” Aku meminta maaf kepada Alessa

                “Biar aku tebak, pasti kamu lupa gara-gara ngedate sama si klien mu itu kan?” Kata Alessa dengan jutek

                “Iyaya, maaf aku beneran lupa deh. Udah ayo naik, keburu telat masuk kerja” Jelasku kepada Alessa. Kami pun berangkat kerja seperti biasa. Sejak aku mempunyai hubungan dengan Gina aku selalu menceritakannya kepada Alessa. Yah.. lagipula Alessa kan sahabatku sejak lama. Jadi, aku cerita ke Alessa tentang hidupku. Namun, sejak itu pula Aku tidak pernah mengajak makan siang Alessa bahkan Aku tidak pernah mengantar pulang Alessa lagi. Karena Aku terlalu sibuk dengan Gina.

                Suatu hari, saat kami berangkat kerja seperti biasa. Alessa bercerita bahwa dia mendapat promosi pekerjaan menjadi desainer di Jepang.

                “Arya, Aku dapet promosi loh. Jadi desainer di Jepang. Besok ini aku berangkat” Kata Alessa kepadaku. Aku sontak kaget mendengar cerita Alessa. Biasanya untuk menentukan sesuatu Alessa selalu menanyakan pertimbangan dariku terlebih dahulu.

                “Hah! Kok kamu baru cerita sekarang sih” Tanyaku kepada Alessa dengan nada yang cukup tinggi.

                “Yah.. Kamu kan juga lagi sibuk sama kerjaanmu. Lagipula kamu juga lupa kan sama sahabatmu sendiri gara-gara terlalu sibuk sama cewemu itu” Jelas Alessa kepadaku.

                Saat di kantor tiba-tiba teleponku berbunyi. Alessa mengirim sebuah pesan dan gambar seorang perempuan menggandeng erat tangan seorang laki-laki yang terlihat cukup tampan

                Bukannya ini ya si Gina itu? Dia kesini katanya mau beli setelan pernikahan

                Aku kaget setengah mati melihat gambar yang dikirim oleh Alessa. Ternyata memang benar itu adalah Gina dan ternyata selama ini aku hanya dibohongi oleh Gina. Aku terdiam membisu, mulutku tak dapat berkata-kata lagi, detak jantungku tak terasa lagi, rasanya aku ingin mati saja. Aku ditipu oleh kekasihku, sahabatku pun akan meninggalkanku besok. Aku pun menlanjutkan pekerjaanku, walaupun pikiranku sedang kacau. Sepulangku dari kantor aku hanya bisa terdiam menghadapi semua kenyataan ini. Aku telah membuat kesalahan sejak awal. Aku terbang terlalu tinggi dan lupa mendarat lagi. Sehingga yang kini kubisa lakukan hanyalah menyesali semua kesalahanku.

                “Tok..Tok..Tok” bunyi ketukan pintu rumahku. Aku turun untuk melihat siapakah yang datang larut malam begini ke rumahku. Saat kubuka pintu rumahku tak kutemukan siapapun, hanya sebuah kotak berisi kemeja dengan warna hitam dan sebuah surat

                Untuk Arya Sahabatku

                Aku minta maaf kalo selama ini aku selalu merepotkanmu mengantar jemputku dan menemaniku kemanapun aku pergi. Yah.. kali ini kamu ngga perlu khawatir, aku akan pergi ke Jepang untuk bekerja disana. Jadi kamu ngga perlu capek-capek nemenin aku lagi.

                Aku minta maaf juga kalo aku buat kamu sedih karena foto yang aku kirim tadi siang. Aku cuma mau ngasi tau kalo sebenernya perempuan yang kamu suka itu hanyalah seorang penipu yang memanfaatkan mu.

                Dan terakhir aku mau jujur sama kamu. Sebenernya aku suka sama kamu. Udah lama banget aku nyembunyiin ini dari kamu. Aku takut kalo ini ngerusak pertemanan kita. Tapi sekarang aku lega bisa ngasi tau kamu walaupun cuma lewat surat.

                Tetap semangat ya kerjanya! Sampai jumpa di lain waktu :)

                                               

Alessa

                Seperti rintikan hujan air mataku mengalir dengan sendirinya. Berharap aku bisa tahu bahwa Alessa juga memiliki perasaan yang sama sejak dulu. Namun kini sudah telat, Alessa akan berangkat ke Jepang esok hari. Aku hanya berharap bisa melihat wajahnya sekali lagi.

                “Tit…Tit…Tit…” alarm ku membangunkanku dari tidurku.

                “Penerbangannya hari ini. Aku harus bisa bertemu sekali lagi setidaknya untuk mengucapkan selamat tinggal” batinku tergupuh-gupuh. Kukenakan kemeja pemberian Alessa dan bergegas berangkat ke bandara.

                Sesampainya aku di bandara, aku bingung harus mencari Alessa kemana. Ku lihat jadwal keberangkatan, Penerbangan menuju Jepang tertulis pukul 09.25. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 09.00. Aku tergesa-gesa mencari Alessa kesana kemari. Kucari di seluruh penjuru terminal bandara namun aku tak menemukannya. Tanpa sengaja kulihat seorang gadis mengenakan baju berwarna hitam yang terlihat elegan namun juga terlihat manis dengan roknya yang berwarna cream. Ia membawa tas yang tidak asing bagiku.

                Suara informan yang memberikan pengumuman bahwa penerbangan menuju Jepang segera berangkat, ditemani oleh derasnya hujan dan gemuruh Guntur pada siang hari itu. Aku melihatnya dari lobby terminal bandara. Seorang gadis cantik yang kukenal itu tersenyum kepadaku dari dalam ruangan security check, senyum manis yang terlihat samar terhalang oleh kaca ruangan itu mewakili ucapan selamat tinggalnya. Tanpa kusadari, air mataku mengalir membasahi pipiku. Hingga gadis cantik itu sudah tidak terlihat lagi.

                Setelah hari itu, Aku bermimpi untuk dapat pergi ke Jepang untuk menemui pujaanku yang selama ini sebenarnya adalah orang yang berada di dekatku.

                1 Tahun berlalu

                Hingga hari ini Alessa tidak pernah menjawab pesan singkatku di ponsel. Aku bahkan tidak dapat menghubunginya sama sekali. Namun, aku sudah mengumpulkan uang yang cukup untuk membawaku terbang ke Jepang.

                Ku beli tiket pesawat, dan kusiapkan semua keperluanku selama aku di Jepang nanti. Aku hanya akan tinggal selama 1 bulan. Besok aku berangkat. Aku hanya ingin bertemu dengan Alessa, seseorang yang menjadi pujaanku, namun karena ketakutanku untuk mengungkapkan perasaan sejak dulu, ia pergi jauh dariku. Aku hanya ingat, ia dulu pernah bercerita bahwa ia sangat ingin sekali bekerja di Tokyo, Jepang. Maka, hanya dengan modal ingatan itulah aku akan mencari Alessa di Jepang nanti. Keesokan harinya, aku berangkat tetap dengan semangat yang sama. 5 jam penerbangan ku lalui. Sesampainya aku di Tokyo aku langsung mulai mencari Alessa di seluruh penjuru Tokyo.

                Aku tak menemukannya, sudah kucari di seluruh tempat yang ada di Tokyo. Ku coba bertanya pada orang sekitar dengan bahasa Jepangku yang masih belum fasih. Namun, aku tetap tidak menemukannya. Hari ini adalah hari terakhirku di Jepang. Semangatku mulai padam, aku tetap tidak dapat menemukannya dimanapun. Aku meminum coca cola sembari duduk termenung di taman yang terletak di depan Tokyo Tower. Sesekali aku melihat ke atas, melihat indahnya puncak Tokyo Tower yang menjadi Ikon Ibukota Jepang tersebut. Aku tak tahu sudah menghabiskan berapa banyak kaleng coca cola selama sebulan di Jepang.

                “Ah satu lagi, sebagai ucapan selamat tinggalku kepada tanah ini” batinku.

                Aku memasukkan 5 yen uangku yang telah kutukarkan di money changer sejak hari pertama aku di Jepang.

                “Klak” Suara kaleng yang terjatuh di dalam vending machine itu.

                “Bruk” Tanpa sengaja aku menabrak seorang gadis saat aku berbalik untuk duduk ke tempat duduk tadi.

                Sumimasen” Kataku spontan sembari membungkukkan badanku. Artinya Aku minta maaf. Lalu saat ku tegakkan lagi badanku kulihat wajah cantik gadis tersebut.

                “Kamu…”

Tamat.

 

               

Penelitian Kualitatif

1. Pengertian Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah pendekatan ilmiah yang digunakan untuk memahami makna, realitas sosial, a...