Suara
informan yang memberikan pengumuman bahwa penerbangan menuju Jepang segera
berangkat, ditemani oleh derasnya hujan dan gemuruh Guntur pada siang hari itu.
Aku melihatnya dari lobby terminal bandara. Seorang gadis cantik yang kukenal
itu tersenyum kepadaku dari dalam ruangan security check, senyum manis yang
terlihat samar terhalang oleh kaca ruangan itu mewakili ucapan selamat
tinggalnya. Tanpa kusadari, air mataku mengalir membasahi pipiku. Hingga gadis
cantik itu sudah tidak terlihat lagi.
1
Bulan yang lalu
“Tit…Tit…Tit”
Aku
terbangun oleh suara alarmku yang berbunyi, jarumnya menunjuk pukul 06.00 pagi
hari. Aku beranjak dari ranjangku dan bergegas ke kamar mandi untuk
bersiap-siap menjalani hariku. Aku keluar dari kamar mandi, terdengar suara
ceret yang berbunyi menghembuskan udara hangat tanda air sudah mendidih. Ku
ambil 2 belah roti panggang dari microwave dan menaruhnya di atas piring
kesukaanku. Ku seduh segelas susu dan seperti biasa, Aku sarapan dengan
ditemani oleh Piko seekor burung hantu peliharaanku di atas balkon rumahku yang
minimalis.
“Selamat
Pagi Piko… Udara pagi hari memang sangat segar ya” ucapku mengajak Piko
berbicara.
Walaupun
ku tahu bahwa Piko tidak dapat menjawab perkataanku, namun ku yakin Piko
memahami semua perkataanku. Setelah ku habiskan sarapan ku, seperti biasa aku
pamit ke Piko untuk pergi bekerja.
“Dah..
Piko, Aku berangkat kerja dulu. Nih, daging ayam kesukaanmu… Aku akan pulang
nanti malam seperti biasa. Kau bertugas jaga rumah ini. Oke…”
Piko
mengangguk seperti ia mengerti perintahku. Kunyalakan motor kecilku, kendaraan
yang selalu menemani ku sejak aku masih SMA. Dengan santai, aku mengendarai
motorku ke rumah sahabatku. Namanya Alessa, ia adalah sahabatku sejak SMP.
Seorang gadis cantik yang berpenampilan sederhana, senyumnya yang manis seperti
madu sudah menungguku didepan gerbang rumahnya yang terletak beberapa kilometer
dari rumahku.
“Kamu
sudah nungguin lama banget ya?”
“Ah,
engga kok. Baru juga keluar.”
“Okedeh
kalo gitu kita langsung berangkat aja. Keburu telat nih”
Alessa
adalah seorang desainer baju yang bekerja di kantor yang cukup ternama. Gerakan
tangannya sangat halus dan lembut saat menggambar desain baju. Ia cukup
berprestasi dalam karirnya, desain bajunya sudah meluas hingga mancanegara.
Tidak heran, managernya selalu membanggakannya. Aku adalah seorang arsitek yang
bekerja tidak jauh dari kantor Alessa. Kami selalu bersama kemanapun kami
pergi. Yah.. walaupun hanya sahabat namun tidak ada salahnya bukan?
Suatu
hari, seorang gadis yang sangat cantik datang menemuiku untuk menjadi klienku.
Ia adalah seorang sekretaris dari suatu perusahaan yang memintaku untuk
mendesain arsitektur kantornya yang baru di pusat kota.
“Selamat
Pagi, dengan pak Arya ya?” Sapa gadis itu.
“Selamat
Pagi. Iya saya Arya. Tidak usah manggil pak. Tua banget deh jadinya. Panggil
mas aja” jawabku kepadanya.
“eh
iya deh mas Arya. Namaku Gina. Pak Joko minta desain kantor pusat mas. Udah
siap kan?”
“Ini
desain kantornya. Sesuai dengan
permintaan Pak Joko minggu lalu. Saya rancang dengan sepenuh hati” sembari
menyodorkan kertas rancangan arsitektur kantor kepada Gina, aku tersenyum dan
entah mengapa jantungku berdebar seperti drum yang ditabuh kencang.
“Wah
bagus ya. Okedeh makasih ya mas Arya. Ini uangnya dari Pak Joko, katanya ambil
aja kembaliannya hitung-hitung jadi tip buat mas Arya” Gina memberikan uang
sebesar 5 juta rupiah kepadaku sebagai bayaranku. Senyumnya meluluhkan hatiku,
hingga tak sengaja aku menjatuhkan kotak pensilku yang berada di atas meja saat
aku menerima uang itu.
Prak!
“Eh
maaf kayaknya aku ngantuk deh” jelasku ke Gina. Ia membantuku membereskan
peralatan tulisku yang berserakan di bawah meja. Setelah kurapikan peralatan
tulisku Gina bergegas pulang.
“Mas
Arya makasih ya, lainkali kalau ada proyek kerjanya jangan sampai malem. Nanti
ngantuk mulu deh” candanya. Tawa
ringannya mencopot jantungku hingga aku tak tahu mau berkata apa lagi.
“Mbak
Gina!” Teriakku memanggil.
“Ada
apa mas?” Jawab Gina menoleh ke belakang.
“Anu,
boleh minta nomer telepon ga?” Dengan suara bergetar ku bertanya.
“Ah.
Aku kira apa, Nih nomerku teleponku” Jawab Gina tetap dengan senyum manisnya
itu.
“Makasih
ya Gina…”
Ku
jemput Alessa untuk makan siang seperti biasa. Kami selalu makan di café
kesukaan kami. Tidak jauh dari kantor, Harga makanannya pun bersahabat dengan
dompet kami. Selama pertemanan kami, Aku sudah berkali-kali jatuh cinta kepada
Alessa, namun Aku tidak berani untuk mengungkapkannya karena Aku takut hubungan
pertemanan kami rusak hanya karena masalah hati. Namun, hari ini Aku terpesona
dengan Gina. Seorang sekretaris utusan Pak Joko untuk mengambil rancangan
arsitektur kantornya. Sembari memakan semangkuk bakso dengan Alessa, Aku
menceritakannya kepada Alessa.
“Tau
ga? Tadi aku dapet klien cantik banget” kataku kepada Alessa.
“Oh
ya? Emang secantik apaan?” Jawab Alessa dengan tawa ringan.
“Kayak
Bidadari dari surga yang tiba-tiba dateng yang bikin Aku terbang gitu” jelasku
kepada Alessa
“Kamu
berlebihan ih, terus kamu mau apa?” Tanya Alessa dengan satu alis matanya yang
terangkat penasaran.
“Kalo
aku ajakin ngedate gimana? Siapa tahu
jodohkan” Candaku kepada Alessa
“Dasar,
emang deh yang namanya laki-laki. Hmm… Moga aja orang baik” Kata Alessa.
Setelah
menghabiskan bakso yang kami pesan. Aku pun pergi ke kasir untuk membayar
makanan kami.
“Kali
ini aku traktir, hitung-hitung berbagi kebahagiaan” candaku ke Alessa
“Dih,
kalo kayak gini baru mau traktiran. Makasih deh” Jawab jutek Alessa kepadaku.
Kami pun kembali ke kantor kami masing-masing untuk menlanjutkan pekerjaan.
Saat Aku hendak pulang ke rumah, kucoba untuk mengirim SMS ke Gina
Hai
Gina, Selamat Malam. Lagi sibuk ga? Kalo aku ajakin makan malem di café pelangi
yang ada di deket kantorku kamu mau ga?
Yah hitung-hitung traktiran lah, kan tadi aku dapet tip dari Pak Joko.
Hehe…
Tanpa
menunggu lama ponselku berbunyi tanda pesan masuk
Hai
mas Arya. Hmm, kayaknya aku lagi free deh. Oke tungguin aku di café pelangi
yaa. 5 menit lagi nyampe
Aku senang sekali. Rasanya ingin terbang diatas
bintang-bintang karena Gina meng-iyakan ajakan makan malamku. Aku memesan 2
piring nasi goring dan 2 jus melon untukku dan Gina. Tak lama setelah pesananku
dating ke meja Gina pun dating
“Hai
mas Arya” Sapa Gina
“Eh
udah dateng ya, sini” Jawabku sambil mempersilahkan Gina duduk
Sembari
menyantap nasi goreng dan jus melon yang telah ku pesan. Aku dan Gina mengobrol
lama, saling berbagi cerita, bercanda dan sebagainya. Lalu entah mengapa degup
jantungku semakin kencang, aku keringat dingin, urat nadiku tak terasa. Aku
sangat ingin menyatakan perasaanku.
“Hmm
Gina, anu… Aku tuh anu” kataku dengan suara bergetar
“Kenapa
mas?” Tanya Gina penasaran
“Ngga
tau kenapa, Aku suka sama kamu” kataku kepada Gina. Aku terdiam tak bisa
bernafas ingin mati rasanya. Aku berpikir kenapa aku seberani itu mengungkapkan
perasaanku padahal aku baru saja bertemu dengan Gina siang ini
“Aku
juga mas” Jawab Gina. Aku kaget terdiam membisu. Aku tidak tahu harus berkata
apa lagi. Semua sendi dan otot di tubuhku tiba-tiba mati rasa saat mendengar
jawaban Gina itu.
“Mas
Arya. Kenapa mas?” sambil menggerakkan tangannya di depan mataku
“Ah
tidak, aku cuma kaget. Jadi? Kamu mau sama aku juga?” Tanyaku tak percaya. Gina
hanya menganggukkan kepalanya dengan pipi yang merah merona.
Setelah
makan malam aku pulang ke rumah. Di tengah jalan menuju rumah aku teringat
sesuatu. Seperti ada yang kurang malam ini. Aku baru teringat bahwa Aku lupa
menjemput Alessa. Dengan kecepatan tinggi aku kembali ke kantor Alessa. Namun
sesampainya Aku di kantor Alessa tidak ada seorang pun disana. Kantornya sudah
sepi seperti tidak berpenghuni. Namun, disana masih ada seorang satpam yang
menjaga.
“Permisi
pak. Mbak Alessanya sudah pulang ya?” tanyaku tergupuh-gupuh kepada pak satpam.
“Eh
mas Arya ya? tadi Mbak Alessa nungguin lama banget sampe ngantuk. Terus pulang
deh pake ojek online” jelas pak satpam
“Oh
begitu ya pak. Makasih pak ya” jawabku kepada pak satpam
Aku
pun bergegas pulang ke rumah. Sesampainya Aku di rumah, langsung ku rebahkan
tubuhku ke kasur. Aku sangat senang sekali. Hari ini perasaanku diterima oleh
seorang gadis yang sangat cantik. Namun, aku juga merasa bersalah karena aku
lupa menjemput Alessa.
Keesokan
harinya, seperti biasa ku jemput Alessa untuk berangkat bekerja. Aku sangat
ingin sekali menceritakan tentang Gina. Namun, tidak seperti biasanya Alessa
cemberut menungguku di depan gerbang rumahnya.
“Hai,
maaf ya kemarin aku lupa jemput kamu” Aku meminta maaf kepada Alessa
“Biar
aku tebak, pasti kamu lupa gara-gara ngedate sama si klien mu itu kan?” Kata
Alessa dengan jutek
“Iyaya,
maaf aku beneran lupa deh. Udah ayo naik, keburu telat masuk kerja” Jelasku
kepada Alessa. Kami pun berangkat kerja seperti biasa. Sejak aku mempunyai
hubungan dengan Gina aku selalu menceritakannya kepada Alessa. Yah.. lagipula
Alessa kan sahabatku sejak lama. Jadi, aku cerita ke Alessa tentang hidupku.
Namun, sejak itu pula Aku tidak pernah mengajak makan siang Alessa bahkan Aku
tidak pernah mengantar pulang Alessa lagi. Karena Aku terlalu sibuk dengan
Gina.
Suatu
hari, saat kami berangkat kerja seperti biasa. Alessa bercerita bahwa dia
mendapat promosi pekerjaan menjadi desainer di Jepang.
“Arya,
Aku dapet promosi loh. Jadi desainer di Jepang. Besok ini aku berangkat” Kata
Alessa kepadaku. Aku sontak kaget mendengar cerita Alessa. Biasanya untuk
menentukan sesuatu Alessa selalu menanyakan pertimbangan dariku terlebih
dahulu.
“Hah!
Kok kamu baru cerita sekarang sih” Tanyaku kepada Alessa dengan nada yang cukup
tinggi.
“Yah..
Kamu kan juga lagi sibuk sama kerjaanmu. Lagipula kamu juga lupa kan sama
sahabatmu sendiri gara-gara terlalu sibuk sama cewemu itu” Jelas Alessa
kepadaku.
Saat
di kantor tiba-tiba teleponku berbunyi. Alessa mengirim sebuah pesan dan gambar
seorang perempuan menggandeng erat tangan seorang laki-laki yang terlihat cukup
tampan
Bukannya
ini ya si Gina itu? Dia kesini katanya mau beli setelan pernikahan
Aku
kaget setengah mati melihat gambar yang dikirim oleh Alessa. Ternyata memang
benar itu adalah Gina dan ternyata selama ini aku hanya dibohongi oleh Gina.
Aku terdiam membisu, mulutku tak dapat berkata-kata lagi, detak jantungku tak
terasa lagi, rasanya aku ingin mati saja. Aku ditipu oleh kekasihku, sahabatku
pun akan meninggalkanku besok. Aku pun menlanjutkan pekerjaanku, walaupun
pikiranku sedang kacau. Sepulangku dari kantor aku hanya bisa terdiam
menghadapi semua kenyataan ini. Aku telah membuat kesalahan sejak awal. Aku
terbang terlalu tinggi dan lupa mendarat lagi. Sehingga yang kini kubisa
lakukan hanyalah menyesali semua kesalahanku.
“Tok..Tok..Tok”
bunyi ketukan pintu rumahku. Aku turun untuk melihat siapakah yang datang larut
malam begini ke rumahku. Saat kubuka pintu rumahku tak kutemukan siapapun,
hanya sebuah kotak berisi kemeja dengan warna hitam dan sebuah surat
Untuk
Arya Sahabatku
Aku minta maaf kalo selama ini aku selalu
merepotkanmu mengantar jemputku dan menemaniku kemanapun aku pergi. Yah.. kali
ini kamu ngga perlu khawatir, aku akan pergi ke Jepang untuk bekerja disana.
Jadi kamu ngga perlu capek-capek nemenin aku lagi.
Aku minta maaf juga kalo aku buat kamu sedih karena
foto yang aku kirim tadi siang. Aku cuma mau ngasi tau kalo sebenernya
perempuan yang kamu suka itu hanyalah seorang penipu yang memanfaatkan mu.
Dan terakhir aku mau jujur sama kamu. Sebenernya aku
suka sama kamu. Udah lama banget aku nyembunyiin ini dari kamu. Aku takut kalo
ini ngerusak pertemanan kita. Tapi sekarang aku lega bisa ngasi tau kamu
walaupun cuma lewat surat.
Tetap semangat ya kerjanya! Sampai jumpa di lain
waktu :)
Alessa
Seperti
rintikan hujan air mataku mengalir dengan sendirinya. Berharap aku bisa tahu
bahwa Alessa juga memiliki perasaan yang sama sejak dulu. Namun kini sudah
telat, Alessa akan berangkat ke Jepang esok hari. Aku hanya berharap bisa
melihat wajahnya sekali lagi.
“Tit…Tit…Tit…”
alarm ku membangunkanku dari tidurku.
“Penerbangannya
hari ini. Aku harus bisa bertemu sekali lagi setidaknya untuk mengucapkan
selamat tinggal” batinku tergupuh-gupuh. Kukenakan kemeja pemberian Alessa dan
bergegas berangkat ke bandara.
Sesampainya
aku di bandara, aku bingung harus mencari Alessa kemana. Ku lihat jadwal
keberangkatan, Penerbangan menuju Jepang tertulis pukul 09.25. Kulihat jam tanganku
menunjukkan pukul 09.00. Aku tergesa-gesa mencari Alessa kesana kemari. Kucari
di seluruh penjuru terminal bandara namun aku tak menemukannya. Tanpa sengaja
kulihat seorang gadis mengenakan baju berwarna hitam yang terlihat elegan namun
juga terlihat manis dengan roknya yang berwarna cream. Ia membawa tas yang
tidak asing bagiku.
Suara
informan yang memberikan pengumuman bahwa penerbangan menuju Jepang segera
berangkat, ditemani oleh derasnya hujan dan gemuruh Guntur pada siang hari itu.
Aku melihatnya dari lobby terminal bandara. Seorang gadis cantik yang kukenal
itu tersenyum kepadaku dari dalam ruangan security check, senyum manis yang
terlihat samar terhalang oleh kaca ruangan itu mewakili ucapan selamat
tinggalnya. Tanpa kusadari, air mataku mengalir membasahi pipiku. Hingga gadis
cantik itu sudah tidak terlihat lagi.
Setelah
hari itu, Aku bermimpi untuk dapat pergi ke Jepang untuk menemui pujaanku yang
selama ini sebenarnya adalah orang yang berada di dekatku.
1
Tahun berlalu
Hingga
hari ini Alessa tidak pernah menjawab pesan singkatku di ponsel. Aku bahkan
tidak dapat menghubunginya sama sekali. Namun, aku sudah mengumpulkan uang yang
cukup untuk membawaku terbang ke Jepang.
Ku
beli tiket pesawat, dan kusiapkan semua keperluanku selama aku di Jepang nanti.
Aku hanya akan tinggal selama 1 bulan. Besok aku berangkat. Aku hanya ingin
bertemu dengan Alessa, seseorang yang menjadi pujaanku, namun karena
ketakutanku untuk mengungkapkan perasaan sejak dulu, ia pergi jauh dariku. Aku
hanya ingat, ia dulu pernah bercerita bahwa ia sangat ingin sekali bekerja di
Tokyo, Jepang. Maka, hanya dengan modal ingatan itulah aku akan mencari Alessa
di Jepang nanti. Keesokan harinya, aku berangkat tetap dengan semangat yang
sama. 5 jam penerbangan ku lalui. Sesampainya aku di Tokyo aku langsung mulai
mencari Alessa di seluruh penjuru Tokyo.
Aku
tak menemukannya, sudah kucari di seluruh tempat yang ada di Tokyo. Ku coba
bertanya pada orang sekitar dengan bahasa Jepangku yang masih belum fasih.
Namun, aku tetap tidak menemukannya. Hari ini adalah hari terakhirku di Jepang.
Semangatku mulai padam, aku tetap tidak dapat menemukannya dimanapun. Aku
meminum coca cola sembari duduk termenung di taman yang terletak di depan Tokyo
Tower. Sesekali aku melihat ke atas, melihat indahnya puncak Tokyo Tower yang
menjadi Ikon Ibukota Jepang tersebut. Aku tak tahu sudah menghabiskan berapa
banyak kaleng coca cola selama sebulan di Jepang.
“Ah
satu lagi, sebagai ucapan selamat tinggalku kepada tanah ini” batinku.
Aku
memasukkan 5 yen uangku yang telah kutukarkan di money changer sejak hari
pertama aku di Jepang.
“Klak”
Suara kaleng yang terjatuh di dalam vending machine itu.
“Bruk”
Tanpa sengaja aku menabrak seorang gadis saat aku berbalik untuk duduk ke
tempat duduk tadi.
“Sumimasen”
Kataku spontan sembari membungkukkan badanku. Artinya Aku minta maaf. Lalu
saat ku tegakkan lagi badanku kulihat wajah cantik gadis tersebut.
“Kamu…”
Tamat.