Jumat, 02 September 2022

Di balik Cahaya yang Tak Pernah Terang


Tok tok tok Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Tok tok tok Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh … Ton

Tok tok tok Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh …. Anton

Suara berisik dari luar itu seakan membuat kupingku bengkak. Kemarin adalah hari yang melelahkan. Aku sudah memutuskan untuk beristirahat pagi ini tetapi terpaksa terbangun oleh suara nyaring layak kedelai yang memekik.

“Ahhh.. Iya iya gua keluar niii” sambal menghela nafas panjang aku pun keluar rumah. “Ada apa mal pagi buta juga” kataku pada Akmal yang terlihat tak sabaran itu. “kamu lupa ya pagi ini ada expo bro expo”

“Astaghfirullah aladzhim khilaf ana “.

“Kok aku bisa lupa yaa “ sambil menggaruk-garuk kepala.

Aku tak habis pikir bisa melupakan hal yang paling penting minggu ini.

“Kamu sih ton sering pakai earphone suka lupa hal disekeliling lama lama hidup lo mungking bakal lupa kali ya”

“ Alah lu paling sama juga”

Aku memang orang yang pelupa sejagat. Baru taruh pulpen langsung lupa.

Aku menatap Akmal yang sudah terlihat capek menunggu

“Mal mana si Oke belum datang?” kataku keheranan

Oke adalah sapaan untuk Eko, orangpaling disiplin sejagat. Pernah Eko memarahiku habis habisan karena telat hanya 1 menit.

“Noh disono gak liat udah merah mukanya tuh” kata Akmal sambil memasang tampang paling ngeselin

“Woi!! Lama!” Terlihat jelas muka merah Eko “Mirip Tomat”.

“Kita duluan yaa yang telat bayar tiket” kata Akmal dengan muka super ngeselin

“Hah, Ayo pergi” Aku menghembus nafas dan tanpa pikir panjang aku bergegas mengambil sepeda dan mengejar mereka.

Kalau soal sepeda memang belum ada orang yang bisa menandingi diriku. Aku pernah menang lomba sepeda tingkat kota pada tahun 2017. Tak lama kemudian aku dapat mengejar mereka.

“Mal, Ko, masih jauh gak?”

“Kagak tinggal dikit” kata Akmal

“Alah masa juara sepeda cepet capek” kata Eko sambil senyum *ngolok* khasnya.

Tak lama kemudian kami akhirnya sampai ketempat pameran sains. Ballroom tempat pameran itu terlihat sangat luas dan mewah. Kami kaget hanya melihat depan ballroom itu. Kami kaget bukan karena bentuk ballroom itu tapi ramainya yang seperti sudah tidak tebendung. Ballroom itu seperti sudah menjelma layak kantor pos yang sedang ramai-ramainya pengunjung. Aku dan Akmal sudah kehabisan pikiran agar bisa masuk ke dalam ballroom. Tapi Eko malah nyengir gak jelas.

“Ko, gimana nii” Kata Akmal dengan nada putus asa

“Hah, udah capek capek bangun pas ahad tau tau gini” kataku

“Nyoh” Eko tiba tiba menyodorkan kami 4 lembar tiket yang aku sendiri tak pernah membayangkan dia akan memilikinya. Eko yang kutahu orang yang paling pelit sejagat. Bagaimana bisa diam mau memberikan tiket yang kelihatan mahal itu. Tapi, aku mencoba berpikir positif karena Eko tidak mungkin mencuri. Eko benar-benar jujur.

“Yoh, tumben ko gimana ceritanya?” kata Akmal

“RAHASIA” dia cuman jawab begitu dan selesai.

“udah dah daripada basa basi langsung ae” kataku

Ketika kami menginjakkan kaki pertama kali di ballroom itu hawa sejuk Pendingin alias AC itu seakan menyapu bersih panas dan keringat. Aku memperhatikan dengan baik ballroom itu. Disisi setiap pojok ballroom ada food corner disisi kanan dan kiri dikelilingin stan-stan yang menyediakan suguhan informasi untuk menyegarkan tenggorokan yang haus akan ilmu. Bentuk jajaran stan itu seperti ular dan sepanjang jalan terhampar karpet merah. Ketika ku melihat keatas terlihat chandelier yang mewah dan super mahal. Ketika siapapun masuk seluruh hidupnya seperti diisolasi di ruangan serba emas dan disedot melalui dimensi waktu yang mengubah alur kehidupan.

Disaat aku sedang mengagumi keindahan dan kemewahan dunia terdengar seseorang menyebut namaku. Ketikaku menoleh kebelakang aku kaget bukan main.

“Andre sedang apa lu disini.” Kataku dengan ekspresi yang masih tak percaya

Andre adalah temanku saat masih di pesantren. Dia pendiam dan tak pernah tertarik dengan segala sesuatu yang berbau sains dia cuman berorientasi pada masalah sosial saja.

“Iya gua dapat tiket dari kotak pos” katanya menyodorkan tiketnya

“Yohh kok beda warna tiketnya” Aku menyodorkan tiketku padanya juga

“Loh kok bisa kamu dapat tiket VVIP!” kata Andre terheran heran

“Kok bisa?!” Aku semakin merasa curiga ada yang salah.

“Ya udah Dre gua jalan ya”

“Wokeh”

Aku tidak sadar kalau Akmal dan Eko sudah hilang. Aku semakin bingung karena harus mencari dua zebra diantara kerumunan zebra yang ada di savanna. Aku memperhatikan tiket ku lebih detail lagi. Ada tulisan “gather at alpha room” artinya berkumpul dirungan alpha. Aku semakin tidak mengerti. Aku memutuskan untuk mencari ruangan alpha ini. Akhirnya aku menemukan ruangan alpha di sudut ruangan utama dengan dijaga orang menggunakan jas hitam. Dia menoleh kearahku dengan muka datar dan melihat kearah tiketku.

“This way sir” katanya sambil membukakan pintu

“Ooo this way thank you” Sambil terbata-bata *gugup*.

Aku memang orang yang sangat penasaran. Saking penasarannya rasanya ada angin yang tertiup sangat kencang dari belakang yang mendorongku untuk masuk keruangan itu. Ketika aku masuk ternyata aku tidak langsung masuk kedalam ruangan alpha tetapi masuk ke sebuah lorong dengan tinggi 3 meter dan lebar sekitar 10 meter. Ketika diujung lorong ada pintu yang tertempel label “Alpha Room” Aku masuk kedalamnya. Baru aku masuk aku sangat terkejut karena didalamnya sempit. Ada tiga pintu di ruangan itu laboratorium, ruang rapat, dan ada satu pintu dengan bahasa yang sangat aneh aku tidak mengerti. Ditengah keanehan itu aku mendengar tawa yang tak asing, tawa Akmal. Suara tawa itu berasal dari ruang rapat. Aku memberanikan diri untuk masuk ke ruang rapat. Ketika aku membuka ruang rapat aku benar benar terkejut. Bukan main ini merupakan hal yang paling mengagetkan dalam hidupku. Aku melihat Akmal, Eko, dan 9 orang dewasa yang menggunakan kostum yang sangat aneh. Ketika aku dating Eko langsung menyuruhku untuk ikut bersama mereka.

“Kamu pasti bingung kan? Udah gua bakal jelasin tapi lu musti ikut pelatihan”

“Hah Pelatihan apa?”

“Pelatihan untuk mengetahui realitas hidup”

“HAH” Aku benar benar tercengang kupikir ini cuman sekadar candaan

“Udah ikut aja”

Aku pun menurut aku mengikuti Eko yang mengarahkanku kearah pintu yang sangat aneh. Arsitekturnya juaga sangat kuno dan memiliki symbol symbol yang benar-benar asing.

“Udah nyampe lu masuk aja gua mau lanjut dulu”

“Lanjut apa”

“Udah masuk aja nanti lo bakal tau”

Ketika aku masuk aku semakin kebingungan karena yang kujumpai bukan arsitektur kuno melainkan ruangan seperti kelas yang sangat modern. Disana sudah ada 15 orang anak yang duduk dan ada 1 kursi kosong. Aku berpikir mungkin kursi ini memang sudah dipersiapkan untukku. Aku mengikuti pelatihan itu selama 3 jam. Dan aku benar benar bingung dengan materi yang disampaikan. 15 orang yang lain justru sangat berkebalikan denganku mereka justru sangat terobsesi dengan materi itu. Pada akhir penyampaian materi kami diberikan suatu modul. Modul tersebut isinya mengenai agama. Kemudian kami disuruh untuk pulang. Dirumah aku masih tidak percaya dengan kejadian yang kualami. Aku mencoba untuk membaca modul yang diberikan judulnya Reality of Islam. Aku membacanya dengan seksama. Halaman demi halaman. Aku menyadari bahwa buku ini sangat aneh ada salah satu halaman di buku itu yang mengatakan

Semua agama itu sama. Yang membedakannya hanyalah bagaimana kita memandang suatu agama itu. Agama itu semuanya benar taka da yang salah dengan itu. Karena pemikiran manusia itu diciptakan oleh Tuhan sama sehingga Analisa kita pada awalnya sama yang membuatnya berbeda adalah lingkungan yang membesarkan kita. Seseorang yang terlalu fanatik dengan agamanya adalah suatu kebodohan. Dia tidak memperhatikan bahwa Tuhan memberikan kebebasan berpikir. Freemasonry menyatukan segalanya. Semua menjadi satu. Taka da yang rasis satu sama lain. Kita memperjuangkan tujuan suci yaitu perdamaian dimuka bumi. Dunia akan menjadi satu berkat perjuangan kita. Kita adalah perdamaian.

Aku benar benar tak percaya dengan isi modul itu. Aku memutuskan untuk bertanya pada ustadz Rozaq besok. Ustadz Rozaq merupakan ustadz yang sangat pintar dan merupakan teladanku. Ustadz Rozaq adalah guru ngaji terbaik sejagat. Dia memang bukan ustadz yang terkenal. Tetapi, aku selalu mempercayainya karena dia dapat menerangkan seesuatu yang rumit dengan bahasa yang sederhana.

Malam tiba tetapi aku benar benar tidak bisa tidur. Hatiku gundah. Kurasa aku terkena insomnia akibat depresi dan frustasi yang masih menghantam layak godam yang terayun mengenai kepalaku.  Aku masih membayang-bayangkan mengenai perkumpulan aneh, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang masih belum bisa kupecahkan. Perlahan kucoba untuk tidur dengan mendengarkan murottal Al-Qur’an yang dibacakan oleh Mishary Rasyid. Benar saja tidak sampai 10 menit aku langsung tidur dengan pulas.

Keesokan harinya aku benar-benar tidak ingin berangkat sekolah. Kakiku layak besi yang terhisap oleh batu magnet yang sangat kuat dan tersedot dalam medan gravitasi yang muncul dari kasurku. Aku benar-benar tidak ingin bertemu dengan dua temanku itu. Tetapi, orangtuaku memaksaku untuk pergi kesekolah. Akupun tidak dapat berbuat banyak. Aku pergi ke sekolah dengan berat hati. Di sekolah aku merasa risih karena kedua temanku terus membombardirku dengan doktrin doktrin aneh.

“Ya Allah, Hamba mohon waktu ini dipercepat” Kataku dalam hati sambil mendengar ocehan kedua kawanku itu.

“Gue pengen ketempat itu secepatnya, pengen naik tingkat” Kata Edo penuh semangat

“Hush, nanti ada yang dengar, kecilan ngomong!” Kata Akmal mengingatkan

“Ton kok loe diam aja” Kata Edo sambil menyenggolku

“Gk gue cuman kurang tidur masih terlalu semangat” kataku

“Baguslah gimana kalo kita pergi sore ini?” Kata Edo

“Sori kalau sore ini gue gak bisa ada agenda” Kataku

“Ahh, Sok penting lu” Kata Akmal

“Yowes kalu gk mau ikut ya sudah” kata Edo

Bell pulangpun berbunyi. Aku merasa seperti orang yang dibebaskan dari sidang pengadilan tinggi. Aku segera bergegas pergi ke rumah ustadz Rozaq. Aku mengayuh sepedaku seperti rossi pembalap yang menjadi calon legenda dunia balapan motor.

Diperjalanan aku merasa diikuti oleh seseorang. Aku terus merasa tidak nyaman dan gundah. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa tidak mungkin singa mau membuntuti semut. Lagipula rumah ustadz Rozaq tidak terlalu jauh dari rumahku hanya sekitar 1 km saja. Dan aku memakai sepeda.

“Huh, tinggal sebentar sampai, sudahlah jangan dipikirin” Kataku sambil menghela nafas panjang

Ketika sampai diirumah ustadz Rozaq aku langsung disambut oleh ustadz Rozaq. Ustadz Rozaq adalah ustadz yang sangat ramah terhadap semua orang yang ditemuinya. Dia akan menyapa seluruh orang yang ditemuinya dijalan. Ustadz Rozaq juga terbuka dan gaul. Karena itu, setiap ngaji dirumah ustadz Rozaq aku selalu pulang telat untuk minum teh dan mengobrol dengan ustadz Rozaq.

Begitu bertemu dengan ustadz Rozaq aku langsung bersalaman dan menyapanya.

“Assalamualaikum ustadz, Kayfa Hal?”

“Alhamdulillah, Antum Ton, Kayfa Haluk?”

“Alhamdulillah, Ana Sehat wal ‘Afiyat Ustadz”

“Tumben Ton mampir hari ahad, biasanya antum main sama teman-teman antum tu, si Akmal, Banu, Eko, sama si Bintang”

“Jadi begini ustadz ana mau curhat dan diskusi, masalah ini benar benar serius Ustadz”

Kemudian aku menceritakan seluruh kejadian yang kualami kepada ustadz Rozaq dari awal sampai kenapa aku memutuskan untuk bertanya pada ustadz Rozaq. Ustadz Rozaq menyimakku dengan seksama sampai akhir ceritaku. Kemudian beliau memberitahuku mengenai organisasi bernama freemason. Kata beliau organisasi itu adalah organisasi yang berbahaya mereka dipenuhi oleh kaum ateis dan yahudi yang berkedok sebagai organisasi kedamaian. Mereka memiliki tujuan untuk mengubah tatanan dunia. Mereka mengkampanyekan tatanan dunia baru yang damai dan indah tetapi sebenarnya mereka hanya ingin membangkitkan Dajjal.

Ketika mendengar kata Dajjal aku terkejut bukan main. Aku membayang kan bagaimana untuk mengubah pemikiran teman-temanku yang sudah termakan oleh hasutan para pengikut Dajjal.

Melihat wajahku yang terkejut Ustadz Rozaq memberikanku saran untuk membaca buku How to Beat Them karya Muhammad Hasan Green.

“Mungkin buku M. Hasan bisa bantu antum untuk menyadarkan teman temanmu”

“Tapi ustadz dimana saya bisa dapat buku itu ustadz”

“Tunggu sebentar ustadz ambilkan dulu”

Ustadz rozaq mengambil buku tersebut dan langsung menyodorkannya padauk. Di buku itu ada logo freemasonry yang sama persis dengan yang pernah kulihat di ruangan kelas itu. Melihat covernya saja sudah membuatku menyadari bahwa ini bukan sembarang organisasi. Ini pasti organisasi besar yang sangat berbahaya. Ustadz kemudian menyuruhku segera pulang karena azan maghrib hendak berkumandang.

“Ton, Antum pulang dulu dah nanti Orang tua antum khawatir lagian sudah masuk maghrib ni”

“Ooo iya ustadz, Terima kasih banyak atas bantuannya, ana pulang dulu ya ustadz”

“Iya hati hati dijalan”

“Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh”

“Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh”

Sesampainya dirumah aku langsung membaca buku yang dberikan oleh ustadz Rozaq. Buku itu berisi mengenai apa itu freemasonry, sejarah orgaisasi mereka, dan tujuan serta doktrin mereka. Tetapi bagian yang membuatku tertarik dan fokus adalah mengenai bantahan-bantahan mengenai doktrin doktrin mereka. Aku memutuskan untuk membuat rencana terlebih dahulu sebelum aku meyakinkan teman temanku. Tetapi, malam sudah mulai menrik bulu mataku. Jadi, aku memutuskan untuk mengorek informasi lebih dalam kepada Akmal dan Eko, dan menanyakan alas an mereka bergabung besok.

Rasanya baru saja malam menyapa matahari sudah menggeser bulan dengan cahayanya yang membuat bulan pergi seakan takut dengan cahayanya. Mengetahui hal itu, aku langsung bergegas pergi ke sekolah.

Di kelas aku langsung mendatangi kedua temanku itu.

“Ton kemana aje lu kemarin, kita pada diskusi penting kemarin” Kata Akmal memakai muka seriusnya

“Ahh, ada urusan mendesak privasi-privasi” kataku

“Ahh sok privasi lu” kata Akmal

“Udah cobak liat berita ini dulu, ada yang meninggal di lingkungan kite” Kata Eko mengalihkan pembicaraan sambil menyodorkan koran

“Ditemukan mayat di dalam suatu rumah dengan keadaan dimutilasi” Kata Akmal membaca berita di koran itu

“Korbannya penyebar hoak yang sering disebut waktu diskusi itu” Kata Eko

“Rasain tuh, Siapa suruh nyebar hoak tau sendiri akibatnya”

Kedua temanku menertawainya. Disisi lain aku terkejut dan tak percaya. Aku tak bisa berkata apapun. Dalam kepalaku hanya berisi aku ingin pulang. Aku tak bisa konsentrasi pada hari itu. Aku merasa bahwa seluruh pelajaran pada hari itu hanyaah sebuah kekosongan belaka.

Suara gaduh yang dapat menyadarkanku dari kekosongan hanyalah suara bell pulang yang memekik telinga. Begitu bell berbunyi aku langsung mengambil sepeda dan menggoesnya dengan cepat. Tubuhku sampai basah karena dipenuhi air yang terus mengucur dari pori pori kulitku. Pikiranku kacau, aku tidak dapat berpikir dengan jernih.

“Ini mustahil, ini mustahil, ini cuman prasangka, HAH!!” Teriakku dengan semakin mengayuh dengan lebih cepat.

Aku sampai di sebuah gang sempit yang terasa tak berujung. Ketika ku belok keluar dari gang itu aku melihat rumah yang penuh dengan kebisingan. Suara-suara bercampur menjadi satu membuat kegaduhan. Tanpa sadar mataku menjadi lembab dan air mulai keluar dari rongga-rongga di mataku. Air itu membasahi pipiku hingga terasa seperti hujan yang tak dapat berhenti.

“ARRRGGGGGGHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!, Mustahil”

Aku menerjang masuk menerobos keramaian. Aku pergi kearah suara sirine yang sudah tak asing lagi. Aku langsung bertanya pada petugas berpakaian rapi berseragam dengan kumis tebal dan wajah seram.

“Pak apa petunjuk terakhir”

“Nak siapa kamu kamu keluarganya atau siapa disini berbahaya nak”

“Saya mau tahu apa kata terakhirnya pak, biarkan saya bertemu dengannya”

“Nak tolong menjauh dari sini atau saya usir!”

“Tolong pak Tolong”

“Tidak!!, ini berbahaya, Edo antar anak ini pulang”

“Siap Pak, Nak disini berbahaya ayo kita ke tempat yang lebih aman”

Akupun menurut tetapi aku mencoba mencari celah untuk mengetahui kejadian didalam. Aku mencoba menenangkan diriku. Sambil berjalan akupun bertanya pada Pak Edo mengenai kejadian di dalam rumah itu. Melihat wajahku yang masih terlihat pucat pasi pak Edopun memberitahuku kejadian di dalam.

“Ada, pria umur 30 tahun meninggal, Dia di mutilasi”

Kata kata itu menekan kepalaku. Aku tak kuasa menahan kata kata itu. Serasa ada tombak yang menusuk tepat di jantungku yang terbuat dari satu kalimat yang terlontar. Dan membuat bendungan air di mataku tumpah ruah. Aku benar-benar tak tahu lagi harus bagaimana. Aku benar-benar merasa kehilangan. Kehilangan orang, panutan, dan guru sekaligus temanku. Orang yang paling kuhormati setelah orang tuaku. Ustadz Rozaq.

“Nak kalau boleh tau dia siapa”

“Dia adalah salah satu orang yang paling berjasa dalam hidup saya pak, dia salah satu orang yang sangat kupercayai, saya ingin segera tahu pak, siapa yang membunuhnya!” Kataku tak kuasa menahan amarah yang membakar sekujur tubuhku.

“Hal itu masih dalam tahap penyelidikan nak, kalau ada perkembangan nanti saya kabari ini nomor saya, sejauh ini juga kami hanya menemukan angka yang ditulis almarhum sebelum dia meninggal” kata pak Edo menyodorkan kartu namanya

“Apa itu pak, tolong beritahu saya”

“215”

Mendengar kata-kata ini aku bingung apa maksud dari kata-kata ini. Ini aneh untuk apa ustadz meninggalkan petunjuk mengenai ini. Tiba-tiba aku teringat sesuatu aku langsung bergegas pergi dan berpamitan dengan polisi tadi. Aku langsung mengayuh sepedaku dengan kecepatan maksimum ke rumahku. Aku mempunyai dugaan mengenai kata kata terakhir ustadz Rozaq.

Ketika sampai dirumah aku langsung berlari kekamarku dan meraih pemberian terakhir Ustadz Rozaq. Aku membuka halaman 215. Dugaanku benar ada kertas yang terselip dihalaman itu. Aku mencoba membaca kertas itu.

The Truth

Kepada siapapun yang membaca surat ini. Namaku Patrick von Astrea alias Rozaq. Aku adalah salah satu dari elit freemasonry. Aku keluar dari organisasi itu sejak umurku 27 tahun atau mungkin lebih tepatnya aku kabur dari organisasi itu. Aku berubah dan sadar sejak bertemu dengan M. Hasan dia memberitahuku semuanya. Dia menyadarkanku. Aku sembunyi selama 1 bulan dirumahnya. Dialah yang membuatku kabur dari organisasi itu. Dia yang memalsukan seluruh identitasku. Ketika aku merasa aman akupun tinggal disebuah rumah yang sederhana dan menjadi seorang guru ngaji disana. Aku bisa ngaji juga berkat M. Hasan. Akhir-akhir ini aku merasa dibuntuti. Sepertinya mereka tahu. Aku merasa umurku tak lama lagi jadi kuwariskan buku ini kepada siapapun yang kupercayai. Aku yakin orang yang memegang buku ini adalah orang yang dapat dipercaya. Jika aku nantinya meninggal bersembunyilah karena aku merasa kau juga akan dibuntuti. Kau harus menemui M. Hasan, kawan lamaku. Aku yakin dia bisa membantumu menyelesaikan masalahmu. Jika kau bertemu dengannya katakan “Aku adalah teman Rozaq PUTKL” Bersama surat ini saya lampirkan rumah M. Hasan.

Aku sadar selama ini aku juga dibuntuti. Aku harus menyelamatkan diriku dan teman-temanku serta keluargaku. Mereka tidak boleh dibunuh aku harus menyelamatkan mereka. Aku langsung menuju kedua orang tuaku Aku memberitahu mereka semuanya. Mereka tidak percaya dan menggaap omongan ku hanya buyalan.AKu terus meyakinkannya dengan memberinya surat ustadz Rozaq. Akhirnya merekapun kaget bukan main. Mereka langsung mengjakku pergi kerumah M. Hasan. Akupun heran tetapi aku menahan keherananku dan bertanya apakah temanku boleh ikut.

“Abi, Umi, Eko sama Akmla boleh ikut”

“iyadah cepetan kita jemput mereka sekarang”

Kami pun bergegas menuju rumah Akmal dan Eko yang memang berdampingan. Ketika kami sampai mereka hanya berdua di rumah. Kamipun meyakinkan mereka. Wajah mereka pucat pasi mendengar kami. Merekapun mengiyakan.

“Oke kalau begitu Eko Akmal, orangtuamu gak sekalian”

“Jangan ajak orang tua kami tolong mereka elit. Mereka elit”

“Mereka bahkan tidak menganggap anaknya sendiri, aku takut kita akan langsung dibunuh”

Kamipun langsung bergegas ke rumah M. Hasan.

“Anton dimana rumah M. Hasan” kata ibuku

“di Turki Bu.”

“Hah, Turki berarti kita harus pakai pesawat”

“ Ndak papa, Ayah udah siapkan uang kita langsung berangkat hari ini”

Kami pun langsung bergegas ke bandara. Di bandara kami langsung terbang ku Turki. Singkat cerita kamipun sampai di Turki. Kami bertemu dengan seseorang yang menggunakan tuxedo. Dia mendekat kepada kami dan bertanya.

“Where are you com from?”

“Indonesia”

“What are you doing here our candidates?”

“Hmm, we are doing some research here”

“What kind of research?”

“Secret Research”

Dia kemudian menelpon seseorang. Ketika dia menelpon seseorang ayah membisiki kami untuk segera berlari. Kamipun langsung berlari menuju suatu taksi. Kami langsung dikejar oleh pria itu ketika lari. DUaaarr!!!. Suara timah panas yang keluar dari pistol orang tadi. Timah itu menancap di kaki ayahku. Tetapi ahamdulillah kami semua dapat sampai ditaksi.

Supir taksi tersebut seperti sudah menunggu kami. Akupun merasa mengenal orang ini. Aku pun menyocokkan foto yang ada di halaman terakhir buku M. Hasan dengan supir taksi ini. Aku kaget foto tersebut sama persis dengan wajah supir itu. Aku langsung bertanya

“you are M. Hasan?”

“Bukan, saya tak kenal orang itu”

“Ooo, bisa bahasa Indonesia, Aku adalah temah Rozaq PUTKL”

“Ada apa kalian mencariku?”

“Kami membutuhkan bantuanmu”

“Saya akan membantu semua teman rozaq”

Sontak semua isi mobil kaget dengan pembicaraanku dengan supir itu. Tetapi mereka juga merasa lega karena langsung bertemu dengan orang yang mau menolong. Di perjalanan menuju rumah M. Hasan kami berbincang bincang dengan dia.  Ternyata dia adalah orang yang ramah. Dia juga menyebutkan bahwa dia adalah campuran Indonesia dan Turki. Dia pernah tinggal cukup lama di Indonesia disitulah dia bertemu dengan Ustadz Rozaq. Saat berbincang-bincang aku sebisa mungkin mengalihkan pembicaraan agar dia tidak bertanya lebih lanjut tentang ustadz Rozaq. Aku kira dia akan sangat sedih jika mendengar berita tentang ini. Walaupun aku mengalihkan pembicaraan akhirnya sampai juga di titik dimana aku sudah tidak bisa menyembunyikannya.

“Anton, kamu kesini tidak bersama Rozaq, dia pasti ingn menemuiku”

“Dia tidak bisa menemui anda. Kami hanya disuruh kesini saja”

“Aku rasa kamu menyembunyikan sesuatu. Katakan apa yang terjadi pada Rozaq. Kenapa dia tidak pernah mengirim surat lagi”

Aku tidak bisa menyembunyikannya. Aku menceritakan seluruh kejaian yang kualami. Aku tidak dapat menahan air mataku saat menceritakan kembali. Aku sebenarnya tidak ingin menceritakan kembali karena aku tidak ingin teringat kembali dengan tragedi itu. Ketika aku selesai bercerita, dia tidak menangis. Dia hanya terdiam dan termenung. Entah apa yang dipikirkan pria umur 45 tahun itu. Kami pergi ke sebuah rumah sakit disana untuk mengobati kaki ayahku. Keesokan hari kami melanjutkan perjalanan. Kamipun sampai ke sebuah stasiun kereta. Kamipun diminta untuk naik kereta sampai ke Ankara.

“Kenapa kita berhenti disini Pak Hasan?”

“Kita harus naik kereta untuk sampai tujuan”

“Dimana?”

“Di provinsi Ankara, dari sana nanti kita pergi terbang sampai Rize”

“Apakah tidak apa-apa, kita tidak di diikuti oleh siapapun?”

“Tenang saja aku punya teman disana”

Kamipun berangkat dari Istanbul menuju Ankara. Ketika kami sampai disana sudah ada mobil yang menunggu kami. Kamipun langsung pergi menuju bandara disana. Kamipun langsung menuju loket tiket dan embeli tiket menuju Rize. Semua biaya perjalanan itu ditanggung langsung oleh M. Hasan. Aku rasa dia memang kaya. Tetapi gaya berpakaiannnya terlihat sederhana. Akupun kagum dengan pribadinya. Ketika kami masuk ke pesawat kami aku kaget karena aku mengira kami akan diberikan kursi kelas ekonomi. Tetapi, yang kulihat ternyata M. Hasan memberikan kami kursi kelas bisnis. Di pesawat kami ditemani oleh salah satu teman M. Hasan. Ketika sampai di Rize, terdapat mobil juga yang menunggu kami disana.  Kami langsung masuk mobil.

“Pak Hasan, kita akan kemana?”

“Kita akan ke distrik hemsin. Disana aman karena merupakan distrik kecil, sekitar 30 menit dari bandara”

Ketika kami sampai ke distrik hemsin, kami terpesona dengan pemandangan disana. Benar-benar distrik yang sangat bagus. Terdapat bukit-bukit dan perkebunan teh disana. Kamipun tiba disebuah perkebunan teh disana. Tempatnya agak sepi dan jalannya juga agak sempit dan tidak beraspal. Kami masuk kesebuah rumah yang cukup besar dan tradisional ala turki disana. Kami diturunkan disana dan M. Hasan langsung meminta kami masuk dengan sopan.

“Ayo masuk”

Kamipun masuk disana sudah ada 5 orang berpakaian rapi berjas dan terlihat menunggu kami.

“Aku akan memberitahu kalian siapa aku. Aku adalah pemimpin organisasi PTKLV”

“Organisasi apa itu?” kataku penasaran

“Organisasi ini didirikan oleh kelompok orang yang tidak menyukai freemasonry dan berdiri atas kesadaran dan anggotanya kebanyakan merupakan korban dari kekejaman organisasi itu”

“Kami tersebar di seluruh turki. Tapi kami belum bisa mendirikan cabang di Indonesia. Kami mengharapkan saudara kami Rozaq yang akan mendirikannya. Tetapi dia sudah diendus duluan oleh hidung anjing-anjing mason itu. Jadi, apakah kalian akan bergabung?”

Kami menjawab pertanyaan itu dengan serentak dan mantap “IYA”

“Sebelum itu aku akan memberitahu kalian mengenai kesalahan kalian”

Kami sontak kaget

“Ada apa M. Hasan?” kata ayahku

“Kalian tidak boleh dengan cerobohnya langsung pergi ke turki. Seharusnya kalian menghubungiku terlebih dahulu. Kedua, kalian harus hati hati dengan filsafat, tak semua filsafat itu baik. Apalagi bersumber dari sumber tak jelas.”

“Kami minta maaf untuk itu Hasan”

“Tidak apa-apa. Sekarang tenangkan diri kalian. Kalian pasti lelah. Disini kalian akan aman. Tidak ada yang akan menggangu kalian disini”

Ternyata dirumah itu sangat luas dan terlihat seperti penginapan. Kami diperbolehkan menginap selama yang kami mau. Rumah itu seperti markas utama organisasi ini.

Akhirnya Akmal dan Eko sadar mereka sudah menjual agamanya, agama yang penuh kebenaran ini yaitu Islam dengan pemikiran-pemikiran barat yang merusak. Kamipun termenung dan menyesali seluruh peruatan kami. Semua benar-benar ada hikmahnya. Kalau tidak karena meninggalnya ustadz Rozaq mungkin kami tak bisa menemukan tempat ini. Kami bersyukur karena dapat melalui kejadian itu. Kami sepakat untuk memperdalam ilmu agama kami. Kami memutuskan takkan menjual agama kami hanya untuk filsafat barat. Kami sudah sadar betapa pentingnya penanaman akidah yang kuat sejak dini agar kejadian seperti ini tidak terulang. Kami harus mendidik penerus kami agar tidak menjadi seperti kami. Kami berkomitmen untuk belajar dan terus belajar mengenai akidah yang benar dan tak langsung percaya dengan pemahaman yang menyesatkan.

Filsafat barat itu benar-benar menakutkan kebanyakan mengajak untuk menjadi ateis alias tak beragama itulah fungsinya. Kalau ingin membacanya diperlukan ilmu yang cukup dan pemahaman agama yang kuat dalam mengkajinya. Jangan langsung percaya dengan kuatnya argumen. Masih diperlukan analisa mendalam mengenai kebenaran dari filsafat itu. Kami sudah merasakan hantaman yang kuat karena menerima dengan mentah materi-materi aneh itu. Tetapi, kini kami sudah merasa aman. Memulai kehidupan baru dan menjadi lebih baik

Fin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

 

 

 

Tingkahku Pembunuhku

 

Rabu, 22 September 2019. Tepatnya pada pukul 24:00 Kevin dan Reno masih terjaga di kamarnya. Kevin untuk  menunggu pengumuman Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional yang diadakan oleh Universitas Lampung. Waktu pun telah memasuki hari kamis Kevin dengan segera Kevin membuka laman web universitas tersebut dan muncullah pengumuman daftar finalis LKTI yang akan menuju ke babak final. Dengan hati yang berdebar-debar bercampur keringat dingin yang terus bercucuran Kevin dengan pelan-pelan mescrol mouse laptopnya sambil melihat satu persatu nama finalis yang lolos. Ketika tatapannya telah sampai membaca pada kolom yang ketujuh, disana tertulis nama Kevin Sanjaya, Reno Barak dan SMA Harapan Bunda yang sontak membuat paru-paru mereka terhenti bernapas sejenak. Setelah itu, mereka pun langsung berteriak kegirangan.

“Alhamdulillah..... Tim Kita lolos ke final Broooo”

Gilaaaa nggak nyangka Gua Vin.” Kevin dan Reno pun langsung sujud syukur dan saling berpelukan sebagai bentuk kebahagiaan dan rasa syukur yang mereka dapatkan.

“Nggk sia-sia ya Vin perjuangan kita selama ini, akhirnya tembus juga kita ke nasional,” kata Reno.

“Iya, memang Allah itu akan memberikan hambanya sesuai dengan apa yang dia usahakan dan seberapa besar pengorban yang kita lakukan,” sambut Kevin sambil mengelus-elus pundak Reno.

“Benar Kevin, emang Allah itu Maha Adil sama hamba-hambanya.”

            Setelah beberapa menit berlalu, jarum pendek telah menunjuk ke angka satu. Rasa kantuk pun mulai menyerang mereka setelah mencari informasi tentang mekanisme peserta lomba untuk tingkat nasional.

“Huaaa...(sambil menutup mulutnya dengan tangannya) udah capek gue ni Vin”

“Iya gue juga sama ni,” jawab Kevin dengan nada yang agak kecil.

“Iya dah kalo gitu Bro, gue balik pulang dulu ya. Udah larut malam ni juga”

Ketika Reno hendak membuka pintu kamarnya Kevin. Tiba-tiba Kevin memanggil Reno dari belakang.

“O iya, ada gue pesan sesuatu ni ke elo”, dengan wajah agak serius sambil menatap ke Reno

” Iya ada apa lagi?”

“Gue minta tolong ni. Kita ini baru lolos ke babak final, berarti masih ada tahapan satu lagi untuk meraih peredikat juara. Jadi, jangan sampai dengan kita baru lolos ke babak final ini kita bisa lupa daratan. Artinya dengan apa yang kira raih saat ini jangan kita berubah menjadi sombong dan ria. Soalnya hal itu yang bisa menghancurkan kita dalam waktu sekejap. Oke” dengan bahasa yang lembut ke Reno.

“iya, pasti kok Vin” dengan santai Reno menjawab ujaran dari Kevin.

“Oke dah, sampai ketemu besok di sekolah,” sambil membuka pintu kamarnya Kevin.

Reno pun berjalan menuju rumahnya yang hanya berjarak 2 rumah dari rumahnya Kevin. Saat di perjalanan, terbesit di dalam hati Reno,

“Ini kalo di post di sosial media, pasti banyak yang akan komen.”

Sesampai di rumahnya, Reno langsung mengambil smartphonenya kemudian ia membuat instastory di sosmednya. Setelah itu dia pun tidur.

Keesokan harinya, sesampai Kevin di sekolah banyak sekali temannya yang mengucapkan selamat kepadanya.

“Selamat ya Vin, emang hebat Lo”, sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

“Loh, siapa ya yang sudah membeberkan info kalo aku lolos ke babak final lomba KTI di Lampung ini?” pertanyaan tersebut terbesit di pikirannya.

Tanpa berpikir panjang Kevin langsung saja masuk ke kelasnya untuk bertemu dengan Reno. Di dalam kelas, sudah banyak temannya yang mengerumuni Reno untuk menanyakan dan memberikan selamat kepada Reno. Dari depan kelas, Kevin langsung memanggil Reno dengan raut wajah yang kurang enak. “Reno!” Dengan santai Reno menjawab panggilan dari Kevin.

“Eh Kevin. Selamat pagi bro. Ayo sini duduk dulu” Dengan raut wajah yang sudah memerah Kevin menarik Reno dari kerumunan teman-temannya itu kemudian membawanya menuju ke luar kelas.

“Eh, Ren. Baru tadi malam gue kasih tau Lo, buat jangan ngepost info ini” dengan suara agak tinggi Kevin berkata seperti itu ke Reno.

“Sudah lah Vin, jangan terlalu di bawa serius. Wajarlah kalo kita sampein info gembira ini ke temen-temen,” dengan gaya yang santai Reno ke Kevin.

“Wajar gimana? Liat aja tadi, gimana senengnya Lo menerima pujian dari temen-temen ni.” Sambil mendorong Reno.

”Santuy dong” Reno membalas dengan nada tinggi pula. Kemudian Reno sambil menarik nafas dalam-dalam. Ia pun meminta maaf ke Kevin atas perbuatan yang telah ia lakukan.

“Udah gue dah yang salah, gue minta maaf kalo dah lakuin kayak gini. Gue nggk mau gara-gara ini kita bakalan gagal pergi ke Lampung buat lomba.”

Dengan sabar pula, Kevin mengingatkan kepada Reno unuk tidak terlena lagi atas prestasi yang didapatkan ini. Akhirnya mereka berdua masuk ke kelas bersamaan.

“Kringgg...kringggg” beker pertanda istirahat, berbunyi.

“Reno, ayo kita pergi ke ruangannya Pak Budi. Buat ngasi tau lomba kita ini sama minta arahan juga dari beliau”, ujar Kevin sambil memegang pundak Reno.

”Oh iya. Ayo dah”, dengan nada agak terkejut.

Mereka berdua pun pergi menuju ke ruang guru untuk bertemu dengan pembimbing KTI mereka Pak Budi. Sesampai di ruang guru, terlihat di kursi tamu sedang duduk Pak Budi sambil membaca koran harian yang di temani dengan secangkir kopi hangat di mejanya.

“Permisi pak” (sambil mengetuk pintuk ruang guru)

“Oh Kevin, Reno. Ayo sini duduk dulu!” Sambil tersenyum pak budi menyuruh mereka berdua untuk masuk dan duduk di dekatnya.

“Maaf sebelumnya Pak. Hmm...jadi gini Pak. Alhamdulillah KTI kami lolos ke babak final”. Kata Kevin ke Pak Reno sambil menundukkan kepalanya.

“Alhamdulillah, syukur dah kalo gitu. Ternyata kalian lolos ke babak final. Ini merupakan buah dari ikhtiar kalian selama beberapa bulan ini yang patut bagi kalian untuk mensyukurinya”. Dengan bahagia dan senyum yang lebar Pak Budi menyampaikan itu kepada Kevin dan Reno.

“Iya, Pak. Insyaallah sekitar 1 pekan lagi waktu yang diberikan oleh panitia untuk persiapan persentasi karya tulis kita di sana Pak”

“Oh gitu ya. Kalo gitu mulai sekarang kalian fokusin dah untuk persiapan presentasi kalian sama semua kebutuhan kalian pas lomba disana. Untuk transportasi dan yang berkaitan dengan logistik nanti pak guru yang akan urusin. Sekarang kalian tinggal berusaha semaksimal mungkin untuk disananya, iya”

“Siap pak” dengan tegas mereka menjawab bersamaan wejangan dari pembimbing KTI mereka itu.

“Kami akan berusaha semaksimal mungkin, demi membawa nama baik sekolah kita ini,” dengan semangat Reno berkata seperti itu ke Pak Budi.

Mereka berdua pun pergi meninggalkan ruang guru dengan raut wajah yang bahagia. Saat perjalanan menuju kelas sambil mereka berbincang-bincang.

“Ren, nanti sore kita kumpul ya buat kerjain KTI ni”

“Iya, pasti Bro”

Waktu sore pun telah tiba. Mereka pun bertemu di Rumahnya Kevin untuk mengerjakan proyek KTI mereka. Namun, disaat Kevin sedang sibuk mengerjakan proyek KTInya. Reno, sambil tiduran dia sedang asik membalas chat dari teman perempuannya tanpa menghiraukan Kevin yang sedang bekerja disampingnya. Akan tetapi, Kevin hanya diam melihat tingkah laku temannya itu dia hanya menunggu kepekaan dari Reno untuk mau membantunya mengerjakan KTI itu. Enam hari telah berlalu, kelakuan Reno tidak pun kunjung berubah dia tetap sibuk dengan gawainya itu sambil senyum sendirian melihat gawainya.

Saking geramnya melihat Reno yang asik bermain gawai, Kevin pun dengan cepat mengambil gawai yang ada di tangan Reno kemudian ia membaca chatan di gamainya Reno itu. Ternyata, Reno sedang chatan dengan teman perempuannya yang sedang mengucapkan selamat dan menyanjung Reno atas prestasinya itu.

“Reno, udah berapa kali saya bilang ke kamu. Kita itu tidak boleh terlalu berbangga dengan apa yang kita dapatkan saat ini. ini itu masih belum apa-apa. Masih ada tahapan selanjutnya. Jangan sampai gara-gara kebanggaan mu ini membuat mu lupa akan tujuan utama kita” sambil melempar gawai tersebut ke kasurnya.

“Eh, biasa aja elo. Gue kan Cuma balas chat dari teman gua. Ndk papa juga kan mereka ucapin selamat ke Gua. Ini kan sebagai bentuk penyemangat buat gua.”

“Penyemangat, ini yang kamu bilang penyemangat. Lihat sekarang, kamu itu nggk pernah ikut kerja bantuin gua, kamu itu cuma fokus sama gawai mu ajak selama ini. Seolah-olah kamu itu seperti orang yang lagi haus sama sanjungan. Sadar nggak?”

Dengan merasa bersalah, Reno pun pergi dari rumahnya Kevin. Sesampai di rumah, rasa bersalah Reno terus menghantuinya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengechat Kevin untuk meminta maaf atas perilakunya tadi.

Keesokan harinya, hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba. Mereka pun telah mendarat di Bandara Internasional Lampung.

“Vin, Lampung ni Bro. Tumben gue kesini ni. Gila bagusnyaaa” sambil membuat video di akun Instagramnya.

“iya, gue juga tumben kesini” dengan senyum tipis Kevin meyahut.

Saat di dalam bis perjalanan menuju penginapan “Reno, kata panitia ini. mulai besok kita akan presentasiin KTI kita” sambil membaca chat dari grup WA finalis yang ia miliki. Reno hanya menganggukkan kepalanya. Sambil fokus ngevlog di dalam bis yang mereka tumpangi itu.

Sesampai di tempat penginapan, Kevin pun langsung beristirahat karena lelah dari perjalan jauh yang mereka tempuh sekitar 5 jam di perjalan udara. Namun, keadaan Reno sebaliknya. Dengan semangat ia sangat ingin sekali pergi jalan-jalan untuk mengeksplor keindahan dari Kota Lampung.

“Vin, gue keluar bentar ya. Mau liat-liat daerah Lampung bentar”

“Iya dah, tapi jangan sampai terlalu malam. Ingat besok kita mau presentasi. Jadi kita harus fit besoknya ni. Ya”

“Siap pak ketua”

Akhirnya Reno pun pergi keluar dari penginapan. Dia pergi mengelilingi daerah Lampung menggunakan ojek online yang telah ia pesan sebelumnya. Saat di kendaraan, niat buruknya pun datang untuk ke sekian kalinya ,” Ini kalo gue post ke instastory gua, pasti bakalan banyak yang bakalan iri ke gua ni”

Tanpa menghiraukan nasehat dari Kevin, Reno pun mengunggah video vlog yang telah ia buat di selama di Lampung itu. Dan hasilnya banyak temannya yang iri kepadanya. Kemudian perasaan Reno pun semakin berbangga atas prestasi yang ia dapatkan. Malam pun tiba, Reno kemudian kembali ke tempat penginapannya untuk beristirahat.

Waktu yang meneganggkan pun telah tiba, satu persatu para finalis mempresentasikan KTI mereka dengan baik dan memukau para juri. Rasa deg-degan pun menghampiri Kevin ketika melihat penampilan dari para finalis lain saat itu. Ketika nama mereka disebut untuk diminta memperestasikan KTI mereka. Dengan percaya diri mereka berdua pun maju ke depan sambil membawa prototype yang mereka bawa.

Mereka pun mulai mempresentasikannya. Kevin dengan lancar menjelaskan produk yang mereka miliki. Namun, saat bagian Reno yang mempresentasikannya. Reno merasa gugup dan keringat dingin bercucuran dibadannya, akibat kurangnya penguasaan materi dan kurangnya latihan yang ia lakukan selama ini.

Untung saja Kevin bisa mengambil alih dari tugas Reno tersebut. Sayangnya, ketika mereka selesai mempresentasikan KTI nya, raut wajah dari para dewan juri agak kecewa atas penampilan mereka yang terkesan kurangnya kerja tim diantara mereka.

Setelah beberapa jam mereka menunggu di aula kampus. Saat yang ditunggu akhirnya tiba, pada sore itu pula pemenang dari Lomba KTI nasional yang diadakan oleh Universitas Lampung itu diumumkan. Semua jantung para finalis disana berdebar dengan sangat keras karena mereka sangat optimis akan pulang membawa tropi yang telah terpampang di  atas meja panggung. Perasaan itu juga sedang dialami oleh Kevin dan Reno. Setelah acara pembukaan dan sambutan berlalu, tibalah waktu pengumuman dimulai. Penyebutan dimulai dari juara 3 sampai ke atas. Rasa deg-degan pun semakin keras terasa, saat juara 3 disebutkan ternyata bukan nama mereka yang disebut melainkan nama orang lain. Hal itu ter terjadi sampai juara ke 2.

“Reno, masak kita nggk dapet ni?” dengan suara kecil ia menanyakan hal itu ke Reno.

“Ndk kok, pasti sekarang nama kita yang akan disebut. Yakin dah”

Di saat pembawa acara menyebutkan nama yang mendapat juara 1. Ternyata bukan nama mereka yang terdengar, melainkan nama orang dari sekolah lain yang disebut. Rasa kecewa dan sedih yang sedang mereka rasakan saat itu. Malu dan menyesal itulah yang hanya ada dalam benak pikiran mereka. Terlebih lagi Reno, ia merasa sangat bersalah ke Kevin atas perilakunya selama ini yang telah menghiraukan nasehat dari Kevin. Dalam hatinya ia berpikir, “coba aja gua dengerin kata Kevin, pasti tim gua nggak bakalan kalah. Ini semua salah gua”

Disampingnya Kevin menagis akibat kekalahannya itu karena merasa bersalah tidak memberikan yang diharapkan sekolah kepadanya. Reno pun mengelus pundak Kevin sambil berkata,” Kevin, gua nyeselll banget udah ndak dengerin nasehat lu, sudah terlalu menyombongkan diri atas apa yang kita miliki. Ternyata bener kata lu, kesombongan kita sendiri yang akan membinasakan kita.”

Mereka pun pulang tanpa membawa sebongkah piala apapun. Cita-cita untuk membawa nama baik sekolah hanyalah sebagai mimpi semata. Rasa malu dan bersalah terus-menerus melanda mereka akibat dari kesombongan Reno selama ini.

 

Kamis, 01 September 2022

Saudari Yang Terlupakan


            Di pagi yang cerah, disebuah kerajaan lahirlah sepasang putri kembar yang bernama Sophie dan Sophia. Sophie terlahir normal sedangkan Sophia, ya Sophia terlahir memiliki kekuatan. Raja dan ratu takut akan hal itu. Takut kekuatan Sophia menjadi sebuah kutukan, ancaman bagi kerajaan. Karena itu, Sophia diasingkan di sebuah kastil tua, ia ditinggalkan bersama seorang penyihir bernama Syletrha. Semua menghilangkan informasi tentangnya. Tanpa ada yang mengetahui kerajaan mereka memiliki putri kembar. Benar-benar hilang.

Sudah 8 tahun sejak kelahiran itu. Sophie tumbuh menjadi putri kecil yang luar biasa. Walau ia adalah seorang putri tunggal kerajaan, sifat dan sikapnya tidak menunjukkan bahwa ia adalah seorang putri tunggal. Ia tidak manja, ia tidak sombong, ia seorang putri yang mandiri. Delapan tahun berlalu, keberadaan Sophia memang benar-benar telah terahasiakan. Belum ada yang mengetahuinya.

Tepat hari itu, di saat umur Sophie menginjak angka enam belas tahun. Di saat ia seharusnya berbahagia, selruh kerajaan berduka. Raja dan ratu mereka telah meninggal saat badai menenggelamkan kapal mereka.

Usai pemakaman, Sophie dipanggil penasihat kerajaan di ruang tahta. Dan disinilah ia sekarang, dengan gaun yang kusut dan wajah yang dipenuhi bekas air mata, ia terduduk dilantai marmer yang dingin ruang tahta seorang diri, sambil memegangi sebuah surat wasiat dari orangtuanya.

 “Maafkan kami yang menyembunyikan ini darim. Kau memiliki kembaran. Seorang putri yang sama cantiknya denganmu. Carilah ia, ......”

Begitulah akhir dari surat itu. Beberapa kapa kata yang dapat membuat Sophie menjaadi rapuh.

 “Semua pertimbangan ada di tanganmu. Disaat umurmu menginjak 17 tahun, kau harus mengisi jabatanmu.”

Kata-kata penasihat kerajaan masih terngiang ditelinganya. Biarkanlah ia sendiri dulu, biarkanlah ia beradaptasi dengan semua fakta in, biarkanlah ia merenungi takdir yang membawanya.

Bagaimana perasaanmu disaat dimana seharusnya kau mengisi masa mdamu dengan hal-hal yang berbahagia, kau dikejutkan oleh fakta dimana kau ssebenarnya memiliki kembaran dan fakta dimana tidak lama lagi kau harus menjadi ratu dan kehilangan masa mudamu untuk bersenang-senang? Tentu saja berat. Tetapi tidak dengn Sophie. Ia memang seorang putri yang luar biasa. Ia berhasil tegar. Sehari setelah peritiwa itu, ia telah kembali menjadi putri Sohie yang ceria dan bersemangat.

 “Tunggulah aku Sophia.” Ucapnya sebelum pergi dari kerajaan. Ia akan mulai mencari saudarinya. Ia sungguh putri yang luar biasa. Ia bisa bangkit dan bangun hannya semalam. Kini ia sudah siap kemana takdir akan membawanya.

***

Sudah setengah tahun semenjak ia pergi dari kerajaan. Ia masih ingat hari dimana ia pergi. Lama tidak keluar keajaan membuatnya merasa canggung dengan dunia luar. Namun sekarang ia sudah menyatu dengan dunia luar. Ia dapat merasakan sejenak bagaimana hidup seperti rakyat biasa disini. Ada kerinduan dengan kerajaannya. Tapi ia sudah membulatkan tekad tidak akan kembali sebelum membawa pulang saudarinya apapun yang terjadi. Lagipula ia sudah sangat jauh dari kerajaan. Disini ia juga masih bisa bersenang-senang sembari mencari informasi tentang keberadaan Sophia.

Klining .............                                                                                                 

Pintu kedai tempat Sophie berada terbuka, masuklah seorang wanita tua berpakaian serba hitamdengan jubah hitam. Ia membeli beberapa kue sebelum balik pergi.

“Maaf bi, siapa wanita itu? Apakah ia warga sini?” Sophie bertanya pada bibi penjaga kedai.

 “Dia seorang penyihir, tinggal di kastil tua tidak jauh dari sini.” Jawab bibi itu.

 “Penyihir?” tanya Sophie lagi.

 “Ya, kau tahu, dia memiliki putri yang cantik. Mirip sekali denganmu”

“Mirip sepertiku?”

 “ Ya putri, sebaiknya aku kembali bekerja, nikmati makananmu.” Kata bibi itu sebelum berlalu.

           ‘Mungkinkah?‘ bisa ditebak apa yang ada di pikiran Sophie.

           Sophie berencana mengikuti wanita penyihir itu, ia tinggalkan makanannya dan segera menyusul wanita penyhir itu sebelum tertinggal.

           Ia mengendap-endap di belakang wanita itu. Ia terus mengikuti wanita itu masuk ke dalam hutan lebat dengan masih mengendap-endap. Hingga ia tiba disebuah lembah yang sangat indah. Terhampar bunga dan sungai yang berliku-liku. Di atas bukit itu berdirilah kastil tua yang cukup mengerikan.‘ jika ini tempat tinggal Sophia selama ini, ia pasti berbahagia ‘ batin Sophie. Ia hendak tetap mengikti wanita penyihir sebelum dia sadar, bahwa ia masih menjadi penguntit.

          Tidak lama kemudian, keluarlah dari dalam kastil itu seorang gadis yang sebaya dengan Sophie. Dan yang membuat Sophie terkejut, ia sangat mirip dengan dirinya. Ia sangat yakin, gadis itu adalah kembarannya, Sophia.

           Ia tidak dapat mengontrol dirinya, ia sangat merindukan saudarinya, saudari yang baru pertama kali dilihatnya. Ia berlari menuju gadis itu. Dan tiba-tiba dengan satu kedipan mata, semua berhenti, bak vidio film yang di-pause.

           ‘Apa ini? Apa yang terjadi? Sophia tolong aku, apa yang terjadi?‘ teriak Sophie walau hanya terdengar suara gagak. Sophia masih terlalu shok., ia hannya menatap gadis bak cerminannya ini dalam diam sambil berbisik ‘siapa  dirimu‘ Sophie mengetahui sekarang, kekuatan apa yang dimiliki kembarannya ini, merubah sesuatu menjadi batu. Hannya air mata yang mampu diperlihatkan Sophie. Sophia menghentikan kekuatannya. Dan saat itu juga, Sophie memeluknya.

     “Siapa dirimu?” bisiknya.

     “Ini aku Sophie.”

     “Sophie”

     “Ya, pulanglah bersamaku Sophia”

     “Maaf, aku tidak mengerti”.

Sophie langsung menceritakan semuanya.

     “Apa aku bisa mempercayaimu?” tanya Sophia

     “Aku mohon percayalah”

     “Lalu mengapa aku dibuang”

     “Karena kekuatanmu tadi Sophia”

     “Tapi kekuatanku...”

     “Kendalikan dirimu, aku percaya padamu”

     “Aku mempercayaimu”

     “Terimakasih saudariku”

     “Sophia dimana dirimu?!” teriak suara dari dalam

     “Sophie itu ibu!” ujar Sophia panik

     “Apa kau mencoba lari dariku?!” ucap seseorang yang dipanggil ibu oleh Sophia

     “Siapa itu, astaga aku tahu, kau Sophie?!” ujar wanita itu lagi

     “Iya, aku Sophie, aku akan membawa pukang Sophia” ucap sophie tegas

     “Tidak semudah itu! Keluargamu memberikannya untukku, dan sekarang kau ingin mengambilnya dariku? Tidak bisa, enyahlah kau!!!”

           Dengan satu kedipan mata, wanita penyihir itu berubah menjadi batu saat ia akan menerkam Sophie. Sophia langsung memeluk batu itu dan berkata...

“Terimakasih banyak untuk semuanya ibu. Aku telah menemukan keluargaku.   Aku akan terbebas dari ikatam jahatmu. Dan tidak akan kubiarkan siapapun melukai saudariku. Maaf ibu, terimakasih.”

Ternyata selama ini penyihir itu tidak memperlakukan Shopia dengan baik. Setiap pekerjaan rumah dikerjakan oleh Shopia, tak jarang Shopia dipukuli oleh penyihir yang dipanggilnya ‘ibu’ itu.

Dengan begitu, sepasang saudari kembar itu kembali ke kerajaan. Mereka benar-benar disambur meriah. Terutama Sophia, ia benar-benar diterima dengan suka hati. Jauh di dalam hutan, penyihir wanita masih membatu.

Inilah akhir yang bahagia, di mana putri kerajaan yang tersingkirkan telah kembali. Biarkanlah masa lalu yang kelam tenggelam oleh waktu. Biarkanlah mentari itu bersinar.

“Aku menyayangimu Sophia”

Penelitian Kualitatif

1. Pengertian Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah pendekatan ilmiah yang digunakan untuk memahami makna, realitas sosial, a...