Kamis, 02 November 2023

ANILA

 

      Seorang gadis sedang duduk termengu menunggu kepulangan ayahnya, ia adalah Zahra seorang gadis berumur 14 Tahun yang kini sedang mengemban pendidikannya di sebuah SMP swasta di Jakarta. Setelah satu jam menunggu akhirnya ia melihat siluet ayahnya yang berada di kejauhan, ia kemudian berlari dan memeluk ayahnya dengan sebuah pelukan hangat kerinduan.

     Di perjalanan menuju ke rumah mereka saling berbagi cerita dan keluh kesah. Terlalu banyak kisah hingga ia tak sadar mobilnya sudah memasuki gang anggrek, gang tempat rumahnya berada. Di Rumah sudah tersedia banyak sekali jenis masakan khas indonesia yang dibikin oleh mamanya, mereka makan dengan lahap kemudian pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat.

*******

     Zahra yang masih tertidur terlihat terusik oleh alarm yang telah ia setting semalam, jam 4 pagi suara alarmnya berbunyi terus-menerus, jangan pikir dia akan langsung bangun, oh tentu tidak, zahra juga masih sama seperti kebanyakan manusia, ya ia mematikan alarmnya dan tidur lagi hingga pukul lima pagi. Ia kemudian beranjak dari kasur kesayangannya itu dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.

     Hari ini ia akan pergi sekolah diantar oleh Ayahnya. Ayahnya banyak memberikannya motivasi sehingga hari ini Zahra sangat bersemangat di sekolah. Zahra merupakan seorang murid yang pintar dan bisa dibilang ia adalah salah satu aset sekolahnya.

     Kini di kelas, Zahra sedang disibukkan oleh tugas praktikum untuk menunjang nilai akhirnya, ia sedang mengerjakan sebuah Herbarium bersama ketiga temannya, Andin, Syifa, dan Kina. *drrrt…drrrttt* ponsel Zahra berulang kali berbunyi, ternyata sepupunya mengabarinya kalau dia baru saja libur dari sekolah, sedang asiknya membalas pesan yang dikirim sepupunya suara interupsi datang dari Bu wina, Guru mata pelajaran IPA dikelas zahra, yang memperingatkan zahra utuk tak bermain ponsel. Kemudian zahra mengurungkan niatnya untuk membalas pesan dari sepupunya itu.

*******

     Teriakkan dari dalam Rumah oleh seorang gadis berumur 16 Tahun, ia adalah Cika sepupu Zahra yang kini bersekolah di Boarding School. Cika sangat bersemangat menyambut kepulangan Zahra dari sekolah dan Cika langsung menceritakan banyak kisah serunya di Boarding School begitu pula dengan Zahra yang asik menceritakan tentang SMP nya, mereka sama-sama murid yang pintar dan membanggakan di sekolah masing-masing.

     Kini mereka berempat sedang berkumpul di ruang keluarga. Ayahnya menyeruput kopi, ibu sedang menyulam, serta Zahra dan Cika yang masih asik bercerita banyak hal.

     Cerita Cika membuat Ayahnya Zahra jadi berniat untuk memasukkan zahra di SMA yang menggunakan sistem Boarding School. Tapi bagaimanapun serunya, Zahra sangat tak ingin sekolah asrama dengan banyak aturan, ia tak terlalu suka dengan aturan yang mengekang dalam hidupnya.

     Ayahnya berulang kali membujuk Zahra untuk daftar di Sekolah Boarding School, namun tekad zahra masih memilih untuk tetap di jakarta dan sekolah reguler. Ayahnya yang selalu meminta pendapat Zahra terlebih dahulu sekarang menjadi berubah, Ayahnya menjadi seorang yang pemaksa.

     “Kalo kamu gamau di sekolah yang berasrama, mending kamu gausa sekolah aja sekalian!” Ucap Ayahnya dengan nada tinggi.

     “Pokoknya Zahra gamau di sekolah Asrama!” Zahra membantah Ayahnya dengan berlinang air mata kemudian ia berlari memasuki kamarnya.

     Semalaman ia menangis dan mengurung di kamar yang berujung dengan ketiduran. Esoknya Mamanya berada di depan pintu kamar Zahra menimbang apakah ia harus mengetok pintu anaknya, namun ia mengurungkan niatnya, mamanya membiarkan zahra untuk tidak bersekolah.        

*******

     Andin, Syifa dan Kina kebingungan, tak seperti biasanya hari ini Zahra tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Kebetulan hari ini sedang berlangsung pelajaran IPS, Guru IPS memang yang paling killer dan tidak ada toleransi untuk anak yang tidak masuk kelas tanpa keterangan akan langsung dikasi alfa.

     Seusai kelas mereka pergi ke rumah zahra dan menemukan zahra dengan mata sembab dan rambut yang berantakan.

     “Raa, sebenernya kamu kenapa?” ucap Andin memulai percakapan sambil mengelus punggung  zahra.

    “Raa kita ini sahabat, kalau ada apa-apa cerita aja jangan dipendem sendiri terus, kita ada disini ya untuk kamu, untuk saling merangkul satu sama lain.” Timbal Syifa.

     Kina memilih untuk diam saja, karena keadaan sedang rumit sehingga ia tak tau harus apa. Zahra kemudian menceritakan tentang Ayahnya yang memaksanya untuk sekolah di Boarding School dan menyuruhnya untuk merelakan SMAN 8 Jakarta. Kina, syifa, dan Andin refleks mengangguk dan mencoba untuk menenangkan Zahra. Kina kemudian menyarankan zahra untuk sholat istikharah.

*******

     Sehabis sholah dhuha bersama di lapangan sekolah, beberapa SMA datang ke SMP nya Zahra untuk mensosialisasikan tentang SMA nya masing-masing, zahra tak terlalu tertarik karena tak ada sosialisasi dari SMA yang dia inginkan, hingga pada sekolah yang terakhir, sekolah ini merupakan SMA dengan sistem berasrama yang memiliki banyak fasilitas bagus dan merupakan salah satu sekolah terbaik di Indonesia.

     Hati Zahra perlahan terketuk untuk mencari tau lebih dalam tentang sekolah itu. Ia kemudian mengambil ponselnya di saku baju seragamnya kemudian menekan icon google dan mengetik di bar pencarian tentang SMA Nusantara Cendekia, banyak sekali artikel tentang prestasi yang telah diraih oleh sekolah ini, ia melihat bangunan nya juga lumayan keren, Melihat itu membuat Zahra sedikit tertarik dengan sekolah ini namun ia menyayangkannya karna sekolah ini berasrama. Ia malas berada jauh dengan orang tuanya ya walaupun mereka semua sibuk.

*******

     Zahra dan Ayahnya masih perang dingin dan mereka memiliki sifat yang sama yaitu tidak mau meminta maaf duluan. Zahra menuruni tangga dan mencari Mamanya, dan meminta saran dengan mamanya.

     “kamu ngga harus turutin kata Ayah, Karna emang kamu yang jalanin hidup ini, tapi Ayah juga pasti punya rencana yang terbaik untukmu, lagipula sekolah asrama juga bukan pilihan yang buruk, Mama akan terus selalu ada untukmu Raa.” Kata Mama berusaha menyemangati.

    “tapi maa, ini sekolah berasrama dan bukan di pulau jawa, Zara takut ngga bisa survive”

   “yasudah kalau begitu, Zara pikirin semuanya dengan baik dulu, nanti apapun keputusanmu mama pasti akan dukung.” Zahra mengangguk kemudian kembali ke kamarnya. Zahra melamun dan mulai menulis di diary kesayangannya.

                       

                       

                      

                                                                                                                        

 

*******

// 2 Tahun kemudian //

Disinilah Zahra berada di sebuah bilik kamar ruangan asrama SMA Nusantara Cendekia dengan ukuran 6x4m yang berisi oleh 6 orang. Teman kamarnya berasal dari berbagai daerah, dan zahra satu kamar dengan kina, teman semasa SMP nya dulu.

Dari Arah luar kamar terdengar suara orang memanggil “astagfirullah, kenapa kalian masih di kamar dan belum berwudhu, daritadi adzan yang berkumandang udah selesai.” Ucap seorang wanita dewasa yang menggunakan gamis biru dengan jilbab senada, wanita itu menyuruh kami untuk bergegas ke aula untuk sholat ashar berjamaah.

“aduh zahra telat lagi, poin nambah terus ya tiap hari.” ucap salah seorang pengurus keagaamaan.

Walaupun sudah berada 2 tahun di asrama, zahra masih belum bisa survive dengan semua ini, aturannya terlalu mengekang dan zahra belum terbiasa dengan itu. Dari jam 4 pagi hingga jam 12 malam kegiatan zahra selalu penuh, entah itu kegiatan sekolah atau asrama. Ia mencoba untuk menguatkan dirinya disini karena ia sudah memikirkan banyak konsekuensi jika ia memilih pindah.

Zahra termasuk anak yang mendapat banyak prestasi di sekolah namun membuat banyak poin pelanggaran di asrama. Setiap malam minggu hasil rekapan poin asrama dibacakan disaat selesai sholat magrib dan nama zahra selalu ada, ia tak pernah absen untuk berdiri setiap minggu untuk menjalankan hukuman.

*******

Zahra disibukkan oleh tugas organisasinya hingga ia tak mengikuti jam pelajaran dari awal sampai akhir, ia bahkan tak mengikuti kegiatan keagamaan di asrama. Hal itu berlangsung selama satu minggu dikarenakan ada kegiatan jurrasicc, jurrasic adalah kegiatan lomba yang diadakan oleh SMA Nusantara Cendekia. Kegiatan tersebut mendapatkan izin dari pihak sekolah dan asrama, sehingga selama satu minggu ia tak perlu datang ke sekolah untuk belajar dan tak mengikuti kegiatan keagamaan di asrama.

Kegiatan tersebut berjalan dengan lancar karena kerjasama tim yang bagus. Setelah satu minggu waktu dispen zahra telah selesai, namun hal tersebut membuat zahra lalai dan tetap tidak mengikuti kegiatan keagamaan.

Zahra lebih memilih untuk mengerjakan tugas sekolahnya, ia sering membolos sholat berjamaah bahkan kajian. Sudah banyak alasan yang ia berikan sampai ustadzah sudah tak percaya lagi dengan mulut manis zahra.

“zahraaa…. Bangunn woii adzan subuh udah selesai, ayo cepet biar ga dapat poin.”

“sumpah, zahra lama banget dibangunin.”  Ucap Kina dengan terus mengguncang tubuh zahra sambil melangkah keluar kamar untuk menuju aula tempat sholat.

*******

Tugas sekolah, hafalan alquran, hafalan hadis, dan cucian baju, semuanya menumpuk apalagi poin asrama yang ia dapatkan sehingga banyak yang membicarakan tentang kejelekan zahra dengan terang-terangan. Zahra bahkan bingung harus mulai menyelesaikannya darimana. Zahra memilih menangis dipojokan kasurnya, ia teringat kalau saja ia berada di rumah pasti bebannya tak akan seberat ini karena ada mamanya yang selalu siap membantu.

Zahra mencari sesuatu di saku celananya dan mulai mengiris pergelangan tangannya. Darah segar langsung bercucuran keluar. Semenjak beberapa hari lalu ia selalu melakukan self harm ketika ia capek dengan semuanya.

Menurut zahra, self harm bisa meredakan semua rasa sakitnya, rasa sakit di hatinya bisa berpindah ke tangannya, itulah yang disukai oleh zahra. Zahra juga tak bisa banyak bercerita dengan temannya. Ia selalu merasa berbeda dengan teman-temannya.

“zahra udah gakuat bun disini..” sambil terisak zahra terus mengucapkan ini..

pukul delapan malam zani mengaabarkan bahwa zahra dipanggil untuk menghadap ke ustadzah

“Zahra, ntar abis isya kamu ditunggu di ruangan Ustadzah ya.”

“aduh, kira-kira ada apa ya ustadzah manggil saya zan?”

“denger-denger si bakalan ada sidang buat anak yang poinnya banyak.”

“okee zanii, makasi banyak ya.”

Zahra semakin takut disini, apalagi sekarang ia akan disidang oleh ustadzah, tapi ini memang salahnya karena minggu ini ia mendapatkan 63 poin pelanggaran. Zahra malu, ini pertama kalinya ia dicap jelek oleh banyak orang. Dulu di SMP namanya selalu bersinar karena rentetan prestasi, namun sekarang gara-gara poin asrama semuanya menjadi berubah, beberapa temannya juga turut menjauhinya.

Ruangan ini terasa mencekam, ustadzah membacakan semua pelanggaran yang pernah ia lakukan. Ustadzah juga memberinya beberapa peraturan tambahan, jika ia melanggarnya lagi akan berdampak buruk pada raport asramanya.

Zahra tak terlalu peduli dengan nilai asrama, yang terpenting nilai sekolahnya bagus, toh nanti pada saat perkuliahan nilai raport asrama sama sekali tak dibutuhkan. Satu jam ia berada diruangan ini sembari mendengarkan nasihat ustadzah yang membuat zahra semakin ingin pindah.

*******

Tujuan zahra kali ini adalah berugak belakang sekolah, ia menikmati semilir angin dan mengingatkannya kepada ayah dan mamanya. Ayah nya meninggal pada saat pengumuman penerimaan siswa baru SMA Nusantara Cendekia dan kini Mamanya lah yang menjadi tulang punggung dan membiayai semua kebutuhan Zahra di asrama.

Belakangan ini, mamanya belum pernah mengabarinya sama sekali. Biasanya ia dan mamanya selalu bertukar cerita melalui aplikasi whatsapp. Zahra merasa khawatir apakah mamanya baik baik saja dirumah? Apakah mamanya sehat disana? Bagaimana keadaan mamanya sekarang? Semua itu memenuhi pikiran zahra sekarang.

Lamunannya terbuyar ketika zidan memanggilnya untuk mengerjakan tugas Sejarah Indonesia. “zahraa ternyata kamu disini, daritadi aku cari sampai mengelilingi sekolah ini.”

“haha iyanih zidan, daritadi aku selalu disini, emangnya ada apa?”

“itu pak guru nagih tugas minggu lalu dan cuman kamu yang belum mengumpulkan.”

“astagaa..aku bahkan lupa hari ini ada tugas sejarah.”

“yaudah, ntar kamu kumpulin sendiri aja ya ke pak guru.” Ucap zidan sambil berlari meninggalkan zahra.

Semua tugasnya semakin menumpuk dan kali ini ia benar benar butuh pulang untuk menenangkan diri dan mengetahui keadaan mamanya.

*******

Zahra berhasil kabur dengan memanjat pagar setinggi 1,5 meter. Ia memilih manjat karena tak mungkin ustadzah dan guru BK akan memberinya surat izin pulang disaat menjelang ujian. Ia menghabiskan seluruh uangnya untuk membeli tiket pesawat dan Zahra membawa semua barangnya dan berniat akan memberitahu mamanya agar ia segera pindah.

Zahra menghembuskan nafasnya setelah 2 tahun tak pulang ke rumah. Zahra sangat kangen dengan jakarta, tempat ia dilahirkan dan semua kenangan indah tercipta disini. Ia langsung bergegas pulang menuju rumahnya dengan memesan Grab Car

Ternyata mamanya tak pernah mengabarinya karena mengalami penyakit yang lumayan serius, mamanya bahkan lupa cara untuk mengaplikasikan ponsel. Zahra merasa mempunyai alasan untuk pindah dan ia mulai mengurus surat pindahnya. Ia tak mungkin meninggalkan mamanya dalam keadaan sakit seorang diri.

Proses mengurus surat pindah tak semudah yang ia bayangkan. Banyak tawaran dari para guru dan ustadzah agar ia tetap bersekolah disana. Namun tekad zahra juga sudah kuat ia tak goyah dengan semua iming-iming yang mereka janjikan kepada zahra. Mereka mengatakan bahwa semuanya masih bisa diperbaiki, namun zahra sudah merasa malas dan putus asa untuk berada di asrama lagi.

DONGENG TIDUR


            Pulau Okinawa yang jauh dari peradaban maju pada abad ke-17, menjadi saksi indahnya keajaiban yang memberi kehangatan. Seorang gadis berusia 12 tahun yang imut bernama Reiko keluar dari pintu rumah ie-nya yang sederhana, dengan menggunakan geta kayu kesukaannya, sedang memandangi langit siang yang mendung kala itu. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya datang menghampiri Reiko. Wanita itu adalah Ayami-san, ibu kandung Reiko yang sudah kehilangan penglihatannya sejak suami tercintanya meninggal dunia ketika Ia masih mengandung anak semata wayangnya itu.

            “Reiko, apakah ini engkau? Ayo, masuk. Anginnya sangat kencang, Ibu merasa sebentar lagi akan turun hujan”, ucap Ayami-san.

            “Ibu, bukankah ini saat terbaik untuk bertemu denga ame no hime? Aku sangat ingin bertemu dengannya. Boleh jadi Ia dapat mempertemukanku dengan Ayah. Benar ‘kan, Ibu?” pinta Reiko.

            “Benar, Reiko. Ame no hime akan datang saat hujan, tetapi ame no hime tak akan datang jika Reiko sakit karena terkena hujan. Ayo masuk, biar Ibu saja yang menunggu ame no hime” kata Ayami-san sambil menyuruh anaknya untuk masuk rumah.

            “Baik, Bu.” lanjut Reiko.

Ame no Hime adalah salah satu sosok misterius yang banyak diceritakan di desa Reiko tinggal oleh para orang tua kepada anak-anak mereka. Dikatakan bahwa ame no hime mendengarkan setiap keinginan anak-anak kecil yang selalu menanti hujan. Selain itu, setiap kali air hujan mengenai tubuh mereka, itu artinya pada malam harinya mereka akan didatangi oleh ame no hime untuk menyatakan keinginan mereka. Selama masa kecilnya, Reiko selalu diceritakan oleh ibunya tentang ame no hime dengan harapan, Ia akan dipertemukan dengannya agar bisa kembali bertemu dengan ayah Reiko.

***

Waktu berlalu begitu cepat, Reiko yang kini mulai beranjak dewasa kini telah memiliki penghidupan yang cukup untuk dirinya dan ibunya. Ia kini mulai bekerja sebagai penjaga salah satu kuil Shinto di Okinawa. Di Jepang, penjaga kuil merupakan salah satu pekerjaan terhormat yang bisa digaji tinggi oleh rakyat setempat. Bayaran yang didapat oleh Reiko sebagai penjaga kuil sangat lebih dari cukup untuk memperbaiki rumahnya yang telah lama dimakan usia. Tetapi, pekerjaan yang ia geluti itu membuatnya berjarak begitu jauh dari ibunya. Sebagai penjaga kuil ia hanya diizinkan pulang selama setahun sekali, yaitu ketika pertengahan musim dingin.

Ibunya yang senantiasa merindukan Reiko di rumah pun mulai berusia seperti bilangan prima terbesar yang kurang dari seratus. Dulu, ia hanya kehilangan penglihatannya, sekarang pendengarannya pun mulai menurun seperti fungsi aljabar. Dulu, ia hanya kehilangan pasangan hidupnya, namun sekarang rasanya ia hampir kehilangan darah dagingnya sendiri. Ia hanya hidup dari bantuan para tetangganya yang sangat menghormatinya. Meski demikian, mulutnya masih terus menceritakan tentang ame no hime yang dulu selalu ia ceritakan kepada buah hatinya. Entah siapa yang mendengarkannya, namun hal itu membuatnya merasa selalu lebih dekat dengan Reiko. Sebelum berangkat bekerja pertama kali, Reiko mengucap salam perpisahan kepada ibunya,

“Ibu suatu saat ruang dan waktu akan mempertemukanku dengan ame no hime. Kini hujan tak akan memisahkan kami, karena aku yakin, suatu saat aku akan bersahabat dengannya. Esok aku akan membawanya ke sini dan makan okonomiyaki bersama.”

 

Rupanya, Reiko tidak bekerja sendiri di sana. Salah satu penjaga kuil yang turut bersamanya bernama Himiko. Himiko merupakan sosok yang sangat pekerja keras. Dikatakan, ia mulai mengabdi pada kuil ini sejak kuil ini dibangun. Entah kapan kuil ini ada, Reiko tidak peduli. Baru pertama kalinya, ia menjumpai wanita seperti ini. Tak lama setelah ia mulai bekerja di sana, Reiko mulai bersahabat dengan Himiko.

 

Suatu hari, ketika sedang menjaga kuil, Reiko dihampiri oleh temannya Himiko.

            “Reiko-chan, apakah kau pernah berjalan di atas awan?” ucap Himiko.

Reiko yang terkejut dengan perkataan temannya itu pun menatap Himiko sambil berkata dengan tenang,

“Aku belum pernah. Memangnya apakah kita bisa berjalan di atas awan?” balas Reiko.

Himiko tertawa kecil mendengar balasan temannya itu, kemudian berkata,

“Yang benar saja, aku pernah berjalan diatas sana berkali-kali. Kau tahu? Berdiri di atas sana terasa sangat dingin, tetapi tubuhku masih tetap merasakan hangat dibawah sinar matahari. Kau tahu? Berbaring diatas sana terasa sangat nyaman tetapi setiap kali datang hujan aku merasa terganggu oleh kerasnya suara petir sehinnga aku tidak bisa tertidur lelap. Kau tahu? Rasanya sangat basah berjalan diatas sana, tetapi aku tidak pernah sesekali meminum air di sana karena air hujan turun ke bumi bukan ke atasnya. Bagiku berada di sana seperti hidup di dalam dongeng, tapi rasanya aku ingin segera terbangun dari dongeng itu.”

Mendengar penjelasan temannya itu, lantas Reiko langsung menanyakan kepada Himiko...

“Apakah engkau tahu tentang ame no hime? Bukankah ia juga tinggal diatas awan?”

Himiko yang mendengar hal itu kemudian menjawab sambil tersenyum kecil,

“Reiko-chan, tidak ada yang namanya ame no hime. Bukankah itu hanya dongeng yang biasa diceritakan kepada anak kecil?”

“Tapi, bukankah ame no hime selalu menanti permohonan dari manusia di kala hujan turun?. Bukankah ia yang selalu mimpi semua anak-anak di saat mereka ingin merasa bahagia?. Bukankah ia yang akan mempertemukanku dengan ayahku meski hanya beberapa saat saja? Harusnya engkau menjumpainya saat berlarian di atas awan dan berjalan di bawah langit pagi” jawab Reiko yang hampir tidak percaya. Mendengar hal itu dari kawannya, Himiko hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan pergi karena hari mulai gelap.

Reiko tidak percaya dengan perkataan temannya itu. Selama ini harapannya bertemu dengan putri hujan itu pupus seketika. Hatinya serasa dipotong-potong membentuk barisan geometri dengan rasio satu per dua. Dengan perasaan hancur, ia segera tertidur di dalam heya di kuil tersebut.

Setelah merasa tertidur begitu lama, Reiko pun terbangun dan menjadi saksi angin malam yang sunyi telah berganti menjadi langit pagi yang sejuk. Seketika Reiko pun menghirup udara pagi yang segar. Namun, hirupan nafas yang tadi masuk, seketika ia embuskan kembali ketika matanya terbelalak melihat rumahnya berada di hadapannya. Iya benar, rumah masa kecil Reiko yang dulu ia tempati dengan penuh kegembiraan bersama ibunya. Ia tidak pernah menyangka akan bisa kembali lagi kesini. Terbangun, Reiko pun mulai berjalan perlahan menuju pintu rumahnya. Tuk... Tuk... Tuk... suara langkah kaki Reiko terdengar. Ia yang selama ini merasa bermimpi mulai keheranan, bagaimana bisa ia mendengar suara langkah kaki dalam mimpi ini. Sampailah ia ke depan pintu rumahnya, ia masih bisa merasakan rapuhnya rumah yang begitu lama tidak ia tinggali itu. Tak lama kemudian, ia merasakan bahwa seseorang berjalan dari arah belakang punggungnya. Reiko merasa tak kuasa berbalik badan dan melihat sosok itu, meskipun ia sangat penasaran. Kemudian, sepasang tangan yang mulai keriput tiba-tiba menggenggam tubuhnya, lebih tepatnya memeluknya, yang membuat Reiko semakin terkejut olehnya. Ia bisa merasakan bahwa sosok tadi adalah seorang wanita. Kemudian, wanita itu berkata dengan lirih kepada Reiko.

“Aku masih bisa merasakan kehadiranmu, meskipun mataku tak bisa melihat apapun. Aku masih bisa mengikuti arahmu berjalan, meskipun pendengaranku tak bisa membantuku sepenuhnya. Aku masih tetap mencintai dan merindukanmu, meskipun telah lama dongeng tidur tak pernah ku sampaikan kepada buah hatiku satu-satunya. Reiko-chan, anakku, aku yakin ame no hime telah membawamu kesini, untuk mempertemukanku denganmu. Bukankah sudah lama engkau tidak mendengarkan ibu bercerita ‘kan, Nak. Ayo engkau pasti lelah, biar ibu...”

Belum selesai wanita itu menyampaikan kata-katanya, Reiko mendorong wanita itu ke belakang dan berkata,

“Cukup, ibu!. Tidak lagi aku bisa mempercayai semua dongengmu. Ame no hime? Bukankah itu hanya dongeng anak kecil. Sudah bertahun-tahun aku berharap padanya karenamu dan kini karenamu juga harapan itu hancur seketika. Tidak mungkin lagi aku bisa bertemu dengan ayahku. Tinggalkan aku sendiri!”.

Ibunya menjawab, “Reiko-chan, ame no hime itu sungguhan. Bukankah itu sebabnya kita dipertemukan. Engkau tidak tahu bagaimana aku begitu merindukanmu. Apakah engkau marah hanya karena putri hujan itu? ”

Reiko berlari keluar dari rumah itu, dikejar oleh ibunya di belakang. Ternyata, seketika cuaca diluar telah berubah menjadi hujan. Reiko yang kini kehilangan arah berlari entah ke arah mana. Bukankah tadi ia sedange bermimpi? Sepertinya tidak. Bagaimana mungkin ia bisa merasakan rintisan air hujan yang ingin ia rasakan dulu sewaktu kecil. Dalam waktu sekejap, Reiko kemudian tersadar bahwa selama ini ia tidak sedang bermimpi, Ia benar-benar berada di desa tempatnya tinggal dulu. Tak hanya itu, ia juga menoleh ke arah belakang. Ternyata sosok ibu yang selalu mendongengkannya dulu kini telah hilang ditelan kabut. Ia kemudian berbalik arah dan berlari kebelakang, kini dia berada di tengah antah berantah, menyesali apa yang telah ia lakukan sebelumnya. Di bawah derasnya hujan, ia duduk bersimpuh sambil memandang langit meratapi nasibnya kemudian berteriak,

“WAHAI SANG PUTRI HUJAN, APAKAH ENGKAU BENAR-BENAR ADA? BELASAN TAHUN AKU MENGHARAPKAN KEHADIRANMU, JIKA MEMANG AKU TIDAK BISA BERTEMU DENGAN DI KALA HUJAN DI BAWAH LANGIT INI, BIARLAH AKU MELIHATMU DARI ALAM DI ATAS AWAN”.

Di tengah kuatnya tumpahan air hujan, sesosok gadis jelita bergaun putih datang menghampiri Reiko di hadapannya. Tanpa ragu-ragu, Reiko langsung menegadahkan kepalanya ke arah perempuan itu. Sekilas ia mengenali tampang dari wanita itu. Ya, dia adalah Himiko, seseorang teman yang membersamainya saat menjaga kuil Shinto. Ia pula yang telah mengungkap kebenaran dari keberadaan ame no hime yang malah membuatnya menolak ibunya menyatakan kebenaran. Tak perlu basa-basi ia langsung menanyakan wanita itu,

“Himiko, bagaimana bisa engkau berdiri di depanku saat ini? Bukankah aku telah memanggil ame no hime?”.

Sejenak mereka terdiam, kemudian Himiko menjawab sahabatnya itu,

            “Reiko-chan, apa kau masih ingat dengan berjalan di atas awan? Aku yang selalu berjalan, berbaring, dan berlarian di sana. Karena selama ini, akulah ame no hime yang selalu kau dengar ceritanya. Aku sengaja tidak mengungkapkannya, agar engkau terus menjadi temanku sebagai manusia. Aku sangat ingin mendengar segala permintaanmu sebagai seorang teman. Oleh karena itu, sebagai permintaan maafku karena telah meninggalkanmu, aku akan memenuhi permintaanmu”.

“Aku ingin segera kembali, ke rumahku, ke tempat dimana aku bisa menghilangkan kesedihan dengan dongeng sebelum tidur,” ujar Reiko.

“Aku ragu bahwa itu bukanlah permintaanmu yang sesungguhnya. Mengapa engkau tidak mengikuti kata hatimu, Reiko-chan?”, tanya Himiko.

Seketika Reiko mengingat, ternyata bukan rumah atau kampung halamannya lah yang ia rindukan. Namun, ia menemukan kebahagiaan karena seseorang disana. Orang itu adalah ibunya. Karena itu, ia meminta Himiko untuk mempertemukannya dengan ibunya, sosok yang selalu menemaninya, dalam segala bentuk kekurangan, meski dalam suasana kesedihan, ia selalu membahagiakan putri kesayangannya satu-satunya walau diterpa derasnya air hujan. Mendengar permintaan dari Reiko, seketika Himiko menghadirkan ibu Reiko ke hadapannya. Ibunya yang tiba-tiba muncul pun keheranan bagaimana ia bisa berada di tempat itu, yang penting ia masih bisa merasakan hangatnya pertemuannya dengan anaknya sekali lagi. Ia kemudian duduk di dekat anaknya itu dan berkata,

“Reiko, apakah itu kau?”

Reiko kemudian menyandarkan kepalanya ke

AKSA

 

Malam itu jam tanganku menunjukkan pukul 20.45. Aku yang merasa sedikit lapar pun kemudian segera bersiap-siap untuk keluar membeli beberapa jajan sebagai pengganjal laparku. Aku kemudian berjalan sendirian menuju koperasi sekolah, tanpa ada teman yang menemani. Dingin malam yang begitu menusuk tidak aku hiraukan. Cukup hoodie tebal milikku menjadi penghalang antara diriku dengan udara malam yang menusuk. Ketika aku tengah menikmati jalan-jalan malamku, tiba-tiba seseorang dari belakang memanggil namaku. Dari suaranya, aku tau pasti bahwa yang memanggilku adalah seorang gadis, suaranya yang kecil dan bernada, persis seperti suara seorang gadis pada umumnya.

“Eh adeknya Azzam ya? Mau kemana?” Ujar gadis itu. Dengan cepat aku pun menengok ke belakang. Saat kulihat, pada awalnya aku tak mengenalinya, karena gelapnya malam dan aku sedang tidak menggunakan kacamataku. Namun setelah kutelisik, dia adalah kak Yulia, si kakak kelas yang terkenal karena cantik, menyapaku dengan santai. Aku pun hanya tersenyum sembari menjawab sapaannya,

“Oh, kak Yulia. Saya mau pergi koperasi kak, kakak mau kemana?” Jawabku berusaha sopan.

“Sama nih, bareng yuk!” Ujar kak Yulia ceria.

“Iya kak.” Jawabku sopan sambil tersenyum.

Aku dan kak Yulia kemudian berjalan bersama menuju koperasi sekolah. Dengan kikuk aku sedikit melambatkan langkahku agar kak Yulia dapat berjalan tepat di depanku, aku hanya takut dianggap tidak sopan karena berjalan seiringan dengan kakak kelas.

Sedikit tentangku, aku bukanlah gadis yang cakap dalam bidang sosial. Aku hanyalah gadis penyendiri yang menyukai kartun. Saat pertama kali datang ke sekolah ini, aku begitu kaget dengan banyaknya kakak kelas yang mengenaliku. Aku bukan tipikal gadis yang senang menjadi pusat perhatian, oleh karena itu aku terkejur. Aku merupakan gadis dengan sikap tenang namun gerakanku sangat gesit begitu kata mama. Hidupku yang terbiasa dari kecil selalu sendiri, dan juga kedua orang tuaku yang sering mengajarkan untuk menjadi mandiri membuat aku tumbuh menjadi gadis yang senang menyendiri sembari memikirkan masa depanku kelak. Namun kini aku dihadapkan dengan kehidupan sekolah dimana aku akan sering bertemu dan berbicara dengan banyak orang. Aku merasa resah dan gelisah, takut aku akan dicibir jika aku tidak bisa bersosialisasi. Berkat ketakutan itu, aku memberanikan diri menyapa, membalas sapaan dan menawarkan bantuan kepada orang yang dikenal olehku. Itu adalah sekilas tentang aku.

Setelah sampai di koperasi, aku mempersilahkan kak Yulia masuk terlebih dahulu, lalu aku pun masuk setelah kak Yulia terlihat tengah memilih jajan yang akan dibelinya. Aku pun mengikuti langkahnya dengan segera menuju rak penuh jajan lalu memilih jajan yang akan kubeli.

“Azzam gimana sama kamu? Baik-baik aja ‘kan?” Tanya kak Yulia. Saat tengah memilih jajan. Aku bingung, sangat bingung.

Kenapa tiba-tiba kak Yulia tanya tentang itu? batinku penuh tanya. Sedikit informasi tentang kak Yulia, kak Yulia adalah pacar dari kak Azzam, anak dari Om yang notabenenya adalah waliku, itu berarti kak Azzam mempunyai hubungan denganku karena kak Azzam merupakan anak dari Om. Kak Yulia juga sangat cantik dan pintar oleh karena itu kak Yulia cukup terkenal dikalangan siswa ataupun siswi.

“Kak Azzam, kak?” ujarku memastikan. Takut salah dengar, aku pun mengulang pertanyaan.

“Iya, Azzam. Dia sering cerita tentang kamu ke aku. Setiap kali ngechat atau ketemu pasti dia tanyain kamu.” Ujar kak Yulia. Duh, jadi nggak enak ujarku dalam hati. Dengan hati-hati aku menjawab.

“Oh, kak Azzam baik kok, hehe,” ujarku takut-malu. Kak Yulia hanya tersenyum simpul dan itu yang membuatku semakin merinding, karena menurut rumornya kak Yulia adalah tipikal gadis yang cukup posesif terhadap pacarnya. Dengan langkah ragu aku menuju kasir untuk membayar jajan yang sudah kupilih. Dengan buru-buru dan sedikit ragu aku meminta ijin pada kak Yulia untuk pergi lebih dahulu.

“Kak, maaf saya duluan ya,” ujarku sopan. Kulihat kak Yulia hanya mengangguk sembari tersenyum tipis penuh makna. Entah itu baik atau buruk, aku hanya merasa merinding setelah melihat kak Yulia tersenyum. Aku pun segera keluar dari koperasi dengan kikuk. Aku hanya menundukkan pandanganku hingga sebuah suara menyebut namaku.

“Lea!”

Aku sedikit tersentak karena aku tahu pasti kalau itu adalah suara lelaki. Aku pun terdiam sejenak sebelum membalikkan badan menghadap ke arah suara yang memanggilku. Aku sedikit terkejut karena itu adalah kak Azzam, orang yang sejak tadi menjadi topik pembicaraanku dengan kak Yulia. Sangat tidak tepat waktu kedatangannya batinku dalam hati.

“Oh, nggih kak. Ada apa ya, kak?” Tanyaku to the point, tak ingin berlama-lama berurusan dengan kak Azzam, takut diterkam oleh si pawang.

“Oh, nggak. Kakak cuma mau nanya kabar aja, soalnya dari kemaren papa tanyain kabarmu,” ujar kak Azzam kikuk sembari melihatku dari atas sampai bawah dengan intens beberapa kali. Aku pun menhembuskan nafas lega, dengan cepat aku tersenyum dan membalasnya,

“Ah, Lea baik kok, kak. Tolong sampaikan salam Lea ke Om ya kak, maaf belum sempat hubungi Om.” Kataku dengan senyum kikuk.

“Zam,” suara itu, suara dingin seorang gadis, itu suara kak Yulia. Dengan wajah takut aku pun segera memutuskan percakapan secara sepihak dan pergi meninggalkan kak Azzam.

“Oh, ya sudah kalau begitu kak, Lea pergi dulu ya,” setelahnya aku pun langsung berlari pergi, tak ingin cari masalah dengan singa betina, batinku meringis.

Malam itu berlalu begitu saja tanpa ada hal istimewa yang terjadi. Dalam hati aku menegaskan diriku untuk tidak mencari masalah apapun dengan kak Yulia. Aku juga akan menghindari kak Azzam sampai situasi menjadi tenang. Malam itu aku tidur cukup malam karena gelisah akan akibat dari kejadian ini.

***

Hari berganti menjadi bulan, kini sudah genap 6 bulan sejak kejadian itu, dan hari ini adalah saatnya liburan semester. Kata bapak, aku akan pulang ke rumah Om dan kemarin setelah selesai packing aku langsung menghubungi Om untuk konfirmasi kepulanganku. Dan hari ini, aku pun tengah bersiap karena 2 jam lagi aku akan dijemput oleh Om.

Waktu berlalu begitu cepat, tiba-tiba saja Mita, anak kamar sebelah, mengabari kalau Om sudah ada didepan asrama menunggu aku turun. Dengan cepat aku pun segera membawa barang-barangku dan berjalan cepat menuju depan asrama. Dengan tergopoh-gopoh, aku menyapa Om dan kak Azzam sembari tersenyum lebar. Kak Azzam dengan baik hatinya kemudian mengambil tasku dan membawanya menuju bagasi mobil.

“Makasih kak Azzam,” ucapku sopan sembari menunduk tak berani menatapnya. Kak Azzam pun hanya mengangguk tipis membalas ucapanku.

Dengan cepat aku lalu masuk ke mobil menyusul Om yang sudah lebih dulu masuk mobil. Kak Azzam kemudian menyusul, dia tidak duduk di sampingku, dia duduk di kursi depan dekat kursi pengemudi. Alhamdulillah, batinku. Kadang aku merasa kak Azzam sangatlah peka. Dia menyadari bahwa aku sedikit kurang nyaman berdekatan dengannya, oleh karena itu kak Azzam sengaja duduk di kursi depan untuk menjaga jarak denganku.

Perjalanan pun dimulai, tanpa ada suara sedikitpun diawalnya lalu kemudian Om pun mulai membuka percakapan dengan menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan asrama kepadaku dan tentang perkuliahan kepada Kak Azzam.

“Gimana asramanya Lea? Nyaman?” Tanya Om padaku. Aku lalu mengangguk semangat,

“Iya Om! Lea alhamdulillah sudah nyaman dengan asrama. Teman-teman dan kakak-kakak juga baik sama Lea.” Ujarku dengan semangat. Om dan kak Azzam hanya tersenyum melihat aku yang begitu bersemangat menceritakan tentang asrama. Om kemudian beralih pada kak Azzam,

“Kalau Azzam gimana? Universitasnya udah ada yang dipilih? Persiapannya udah sampai mana?” Tanya Om. Kak Azzam kemudian mengangguk dan tersenyum tipis lalu menjawab,

“Azzam udah 50% persiapannya papa, untuk beasiswa udah Azzam apply juga. Untuk universitas Azzam milih UGM sama Unair, menurut papa gimana?” tanya kak Azzam. Om hanya mengangguk dan berkata,

“Papa sih terserah kamu, kamu udah gede, jadi kamu tau mana yang baik dan mana yang buruk buat masa depan kamu.” Ujar Om sembari menepuk pelan baru kanan kak Azzam. Aku pun hanya menyimak disaat kedua lelaki itu tengah berbicara serius, kak Azzam sangat merencanakan ya batinku. Aku pun memutuskan untuk tidur karena topik ini terdengar sangat membosankan, apalagi guncangan pelan yang disebabkan oleh mobil membuatku semakin merasa mengantuk. Aku pun semakin terlelap, percakapan antara Om dan kak Azzam bagaikan dongeng tidur siang yang sangat indah, aku pun terlelap sepenuhnya saat tak terdengar lagi suara Om ataupun kak Azzam. Tak terasa, tiba-tiba aku mendengar sayup-sayup suara kak Azzam,

“Lea, bangun. Udah sampe ini,” ujarnya. Aku pun segera bangun lalu segera turun dari mobil dan menurunkan barang-barangku dari dalam bagasi. Sampai dirumah aku mendapat sambutan hangat dari Ibu dan bibi. Dengan senyum malu-malu aku pun segera menuju kamar yang telah disiapkan untukku. Dengan gerakan cepat aku membereskan seluruh barang-barangku. Setelah selesai membereskan barang-barangku, aku pun segera keluar kamar untuk sekedar basa-basi demi dapat mendekatkan diri kepada anggota keluarga dirumah ini.

Hari-hari dirumah berlalu begitu saja tanpa ada hal istimewa yang terjadi. Rutinitas rutin yang itu-itu saja selalu lalu aku lakukan selama dirumah. Dalam seminggu aku mengikuti bimbingan belajar selama enam kali, tiga kali fisika dan tiga kali matematika. Selama liburan aku hanya berada di rumah, selain karena adanya bimbingan belajar hal ini juga terjadi karena aku tidak punya teman untuk diajak keliling kota untuk sekedar healing. Terkadang saat aku merasa bosan, sesekali aku akan mengambil jalan-jalan pagi atau sore hanya untuk sekedar pergi ke Alfamart membeli jajan sembari menikmati udara di sekitar rumah lalu kembali dan menonton TV bersama Rizki dan Jilan.  

Hingga tiba hari mama memintaku untuk mengambil sepatu dan seragam yang kutinggalkan begitu saja diasrama. Saat itu mama tiba-tiba meneleponku selepas isya dan memintaku untuk mengambil seragam dan sepatu yang kutinggalkan diasrama. Dengan berat hati aku pun mengiyakan permintaan mama, dan di malam itu juga aku untuk pertama kalinya berinsiatif untuk menemui kak Azzam untuk meminta pertolongannya. Walaupun kami tinggal dalam satu atap, kami jarang bertemu, kak Azzam yang punya banyak teman selalu pergi jalan-jalan dengan temannya setiap sore dan akan kembali saat tengah malam, itulah alasan mengapa kami jarang bertemu. Aku pun merasa sedikit malu mendatanginya seperti saat ini, mungkin saat ini kak Azzam sedang beristirahat karena semalam kak Azzam pulang pukul 02.00 pagi. Namun dengan langkah pasti aku pun memutuskan pergi ke kamar kak Azzam. Aku sempat berhenti di depan pintunya karena takut, namun kemudian aku pun memberanikan diri mengetuk pintu kamarnya.

Tok tok tok…

“Kak Azzam?” ujarku memastikan dia berada dikamarnya atau tidak. Suaraku sedikit tenggelam karena gugup. Namun tak lama kemudian terdengar suara yang menyahuti panggilanku dari dalam kamar.

“Ya, sebentar.” Bersamaan dengan sahutan itu, pintu kamar terbuka, menampilkan kak Azzam yang tengah memakai kaos abu dan celana pendek, wajahnya terlihat baru bangun dan kelelahan. Aku pun merasa tak enak,

“Maaf kak, Lea ganggu ya?” Tanyaku, khawatir. Kak Azzam pun menggeleng,

“Nggak, Lea kenapa dateng?” Tanya kak Azzam. Aku pun dengan segera menyatakan hal yang ingin aku katakan.

“Anu kak, ini, besok apa kakak ada waktu? Mungkin.. sekitar jam 9 pagi?” Tanyaku memastikan. Terlihat kak Azzam berpikir sejenak kemudian tersenyum hangat padaku,

“Nggak, kenapa?” ujarnya sembari tersenyum. Sedikit takut, tapi aku pun mengatakan dengan yakin,

“Lea besok mau minta tolong kakak anterin Lea ke sekolah, buat ambil beberapa barang yang ketinggalan. Apa kakak bisa?” tanyaku takut.

“Oh, bisa kok. Jam 9?” Tanyanya memastikan. Dengan gembira aku pun mengangguk sembari tersenyum cerah kepadanya. Setelah itu aku memutuskan untuk kembali ke kamar.

“Oke deh kalau gitu kak, Lea balik ke kamar dulu, makasih sebelumnya ya kak.” Ucapku kemudian berlalu pergi.

Hari esok telah datang. Aku melihat jam tanganku, udah jam 8 batinku. Dengan bergegas akupun segera mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Setelah mandi dan bersiap selama beberapa menit, aku pun kembali melihat jam tanganku. Jarum panjang sudah menunjukkan pukul 9, aku pun segera bergegas keluar dan menunggu kak Azzam bersiap.

Sekitar 10 menit kemudian, kak Azzam keluar, bersiap dengan jaket kulit warna jingga tua, dan celana kulit berwarna coklat muda.

“Ayo?” ajaknya, memastikan kesiapanku. Aku pun segera berdiri dan mengangguk senang.

“Iya kak,” ucapku membalas ajakannya.

Setelahnya aku dan kak Azzam kemudian pergi dengan mengendarai motor, aku duduk di belakang kak Azzam sembari memegang erat jaket yang ia kenakan. Angin pada hari itu bertiup sangat kencang ditambah lagi kak Azzam yang mengendarai motor dengan kecepatan tinggi membuatku semakin mengeratkan genggamanku pada jaketnya. Berkat kak Azzam ngebut aku pun dapat dengan cepat sampai ke sekolah. Dengan segera aku kemudian pergi ke kamarku lalu mengambil barang-barang yang aku perlukan. Kami pun pulang setelah aku selesai dengan membawa barang-barangku. Selama perjalanan aku merasa sangat canggung, aku hanya beberapa kali berusaha mencairkan kecanggungan itu dengan menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan sekolah kepada kak Azzam. Hingga kami pun sampai dirumah. Setelah mengatakan terima kasih aku pun pergi masuk ke dalam rumah meninggalkan kak Azzam yang tengah memasukkan motor ke dalam garasi.

***

2 minggu telah berlalu terhitung sudah 8 hari semenjak hari dimana aku meminta kak Azzam mengantarkanku ke asrama. Kini saatnya aku pulang kembali ke asrama. Tentu, kak Azzam juga ikut. Setelah aku sampai di asrama, aku menghabiskan 4 jam pertama setelah kepulanganku ke asrama dengan membereskan semua barang-barangku lalu memutuskan untuk beristirahat akibat kelelahan.

Semenjak kepulangan aku merasa semakin nyaman dan terbiasa dengan kehidupanku diasrama. Damai, dan tenang. Hingga tiba saat dimana masalah besar datang kepadaku. Tiba-tiba saja Mita, anak kamar sebelah, yang kini telah jadi teman kamarku membawakan sebuah berita dengan tergopoh-gopoh,

“Lea! Lea!” Teriaknya. Aku pun segera menengok melihat ke arahnya kemudian dengan bingung aku pun bertanya,

“Kenapa Mit?” Tanyaku bingung. Mita kemudian duduk kemudian menepuk bahuku sembari bernafas kasar sebelum mengatakan hal yang ingin ia katakan,

“Huh, Lea, kamu tau nggak? Tadi aku denger kamu diomongin sama kakak-kakak kelas 12!” ujarnya heboh. Aku yang saat itu tengah membereskan lemariku, sedikit kaget. Aku pun segera menghentikan kegiatanku sebentar karena merasa tertarik dengan berita yang dibawa oleh Mita.

“Hah? Aku diomongin apa? Sama siapa?” Tanyaku penasaran. Aku bukanlah tipikal anak yang suka mendengar atau membicarakan rumor yang sedang panas diantara para siswi. Aku hanya tertarik berbicara sesuatu yang dapat berguna bagiku kedepannya, namun kali ini aku tak bisa menahan diri untuk tidak mengetahui tentang berita ini karena berita ini kedengaran sangat menarik dan tentu saja karena ada ‘aku’ di dalamnya.

“Sama gengnya kak Yulia, katanya kamu jadi pelakor gegara deketin kak Azzam!” Ujarnya panik. Aku kaget. Sangat kaget. Kapan aku deketin kak Azzam sampai disebut pelakor? Batinku bertanya. Sekeras mungkin aku berusaha memikirkan peristiwa yang dapat membuatku disebut sebagai pelakor. Karena tak mendapat petunjuk apapun aku lalu bertanya pada Mita,

“Emang kata kakak-kakak itu aku ngapain sama kak Azzam?” Tanyaku sedikit marah karena aku merasa tak pernah melakukan hal aneh seperti itu.

“Katanya kamu boncengan sama kak Azzam, kamu peluk kak Azzam, yang aku denger sih gitu,” bisik Mita. Tiba-tiba peristiwa dimana aku dan kak Azzam naik motor bersama melintas di otakku. Ah, itu rupanya batinku sembari menghembuskan nafas berat. Aku pun tersenyum tipis lalu menepuk pelan bahu Mita,

“Udah, aku tau kenapa aku diomongin. Besok aku ketemu sama kak Yulia deh kalau gitu, sepertinya kak Yulia butuh klarifikasi.” Ujarku masih mempertahankan senyuman tipis sembari berusaha menenangkan Mita yang nampak kelelahan dan panik. Mita kemudian mengangguk kemudian menatapku cemas dan berkata,

Good luck ya” ujarnya dengan nada cemas sekaligus menyemangati. Aku hanya tersenyum lalu mengangguk berusaha meyakinkan Mita bahwa aku bisa mengatasi masalah ini.

Keesokan harinya aku pun berniat bertemu dengan kak Yulia, namun belum saja sempat bertemu  hal tak terduga terjadi padaku. Selama seharian itu orang-orang terus mengabaikan aku. Apalagi disaat aku bertanya tentang keberadaan kak Yulia, semua orang tiba-tiba saja menganggap bahwa mereka tidak mengenaliku. Aku merasa bingung karena perubahan itu. Kejadian itu terus terjadi selama lebih dari seminggu. Dari yang awalnya aku hanya dijauhi kemudian bertambah hingga aku dicibir dan dipersulit oleh geng kak Yulia. Aku pun bertanya-tanya, hingga aku mendengar rumor tentang aku. Ternyata geng kak Yulia menyebarkan rumor aneh diantara teman-teman angkatanku bahkan kakak kelas, hingga banyak kakak kelas dan teman-teman angkatanku yang tidak menyukaiku. Alhasil mereka dengan terang-terangan menjauhi dan menatapku dengan sinis. Aku pun hanya menghembuskan nafas kasar dan dengan lesu aku kembali menuju kamarku.

 

***

Sebulan sudah rumor itu menyebar dikalangan penghuni asrama putri. Aku pun selama sebulan itu hanya menyendiri, terkadang Mita mengajakku pergi jalan-jalan bersama namun aku menolak, aku takut Mita akan dikucilkan karena dekat denganku. Tak lama setelah itu, kak Yulia datang menemuiku. Pertemuan yang sangat heboh, menurutku. Pertemuan dengan kak Yulia hari itu sedikit membuatku ngeri. Hari itu kak Yulia membawa gengnya dan memojokkan aku disaat kamarku sedang kosong dan hanya ada aku di kamar. Dengan kasar kak Yulia mendobrak pintu kamarku dan meneriaki namaku.

DUBRAK

Aku sangat terkejut akan hal itu, dan lebih terkejut lagi karena aku tiba-tiba didorong cukup kuat oleh kak Yulia, lalu kak Yulia pun menatap sinis dan marah padaku. Ketakutan seketika menjalar kesekujur tubuhku, tanganku bergetar hebat dan air mukaku berubah pucat. Dengan terbata-bata aku bertanya,

“K-kak, k-k-kenapa ya?” cicitku.

“LO! Gatel banget sih jadi cewek, heran gue!” keningku mengkerut. Apa aku baru saja dikatain? Batinku kaget. Dengan ragu aku berdiri. Aku meringis disaat aku merasa kakiku terkilir. Sepertinya kak Yulia mendorongku saat aku masih belum siap. Tentu saja aku belum siap. Manusia mana yang sudah siap saat dirinya akan dilabrak?

Tanganku masih tetap bergetar hebat, jantungku berdegup kencang, namun dengan lantang aku bertanya letak kesalahanku,

“Maaf kak, salah saya apa ya kak?” Tanyaku bingung.

“Sialan lo! Lo ngapain deket-deket sama Azzam hah?! Lo tau kan gue pacarnya Azzam, masih lo mau deketin dia?! Sadar! Lo jelek, Azzam nggak bakal mau sama lo!” Apa ini? aku bingung. Pikiranku bertanya-tanya, berusaha berpikir keras kenapa kak Yulia yang notabenenya kalem, cantik dan idaman lelaki tiba-tiba berubah menjadi brutal seperti ini. Sekilas ingatan melalui otakku. Ah masalah itu kayaknya batinku. Sembari menghembuskan nafas berat aku pun menyatakan klarifikasi atas masalah ini,

“Kak, saya sama kak Azzam nggak pelukan, dan saya juga tidak ada hubungan apapun dengan kak Azzam.” Ujarku menegaskan. Kak Yulia tersenyum sinis setelah mendengar pengakuanku.

“Lo nggak usah bohong. Gue lihat lo peluk Azzam diatas motor. Azzam bukan tipe cowok yang mau dideketin sama cewek gatel jadi mending lo jauh-jauh aja deh dari Azzam.” Ujar kak Yulia sinis. Aku lelah berurusan dengan manusia tak tau malu seperti ini. Dengan santai aku membalas perkataanya,

“Kalau gitu mari kak, kita ketemu kak Azzam sekarang. Biar kakak bisa minta keterangan dari kak Azzam yang waktu itu berada diatas motor sama saya.” Ujarku memutuskan. Dengan senyum sinisnya, kak Yulia menyetujui pendapatku.

“Ayo!” ujarnya tak santai. Aku pun hanya mengangguk pasrah sembari mengekori kak Yulia dan gengnya.

Kami pun segera menuju luar asrama untuk bertemu dengan kak Azzam, alhamdulillah kala itu kak Azzam kebetulan sedang lewat. Dengan cepat kak Yulia menghentikan langkah kak Azzam dan langsung bermanja pada kak Azzam, di hadapanku. Aku hanya menunjukkan wajar datar tak peduli. Mau dia salto, guling depan atau kayang sekalipun, aku tetap tidak peduli. Aku pun segera mengambil langkah dan memanggil kak Azzam,

“Kak, maaf. Boleh Lea minta waktunya sebentar? Ada yang harus Lea, kakak dan kak Yulia bicarakan.” Ujarku dengan nada serius. Terlihat kak Azzam sedikit kaget dengan perubahan sikapku, dari aku yang biasanya hanya menunduk tak berani menatap, kini aku menatap tajam dan serius ke arah kak Azzam.

“Iya? Kenapa?” tanyanya terlihat sedikit khawatir. Saat aku ingin membuka mulut mengeluarkan kalimat yang sudah aku susun diotakku, tiba-tiba kak Yulia langsung dengan cepat memotong perkataanku.

“Zam, dia gatel ke kamu kan? Aku lihat dia peluk kamu waktu kamu boncengan sama dia kemaren,” ujar kak Yulia dengan wajah memelas. Kak Azzam terlihat kaget dan marah. Sudah kuduga kak Azzam tidak akan berpihak pada kak Yulia. Dengan wajah yang terlihat marah kak Azzam pun angkat suara.

“Lea peluk saya karena saya yang suruh. Dan jangan pernah sekalipun kamu mengatai Lea seperti itu. Bukannya kamu yang harus malu? Jelas-jelas yang sedang gatel  ke saya itu kamu, bukan Lea.” Ujar kak Azzam tegas. Itu membuat aku tiba-tiba merasa sangat terharu, aku tak menduga kak Azzam akan berkata seperti itu pada pacarnya sendiri. Dan kala itu depan asrama tiba-tiba saja menjadi agak ramai. Semua orang yang menyaksikan dan mendengar apa yang kak Azzam katakan tentu memperlihatkan raut wajah kaget.

Kak Yulia pun juga terlihat kaget sampai-sampai kak Yulia melangkah mundur pelan dan lemas kemudian menatap kak Azzam dengan wajah tak percaya. Teman-teman kak Yulia pun akhirnya menuntun tubuh kak Yulia yang terlihat lemas untuk segera pergi dari sana. Takut kak Yulia semakin tak terkendali.

“Gitu kamu Zam sama pacarmu.” Bisik teman-teman kak Yulia menusuk sebelum membawa kak Yulia pergi dari sana.

Kak Azzam nampak tak peduli dan malah langsung berbalik menghadapku dengan wajah khawatir.

“Kamu nggak kenapa-napa kan? Dia nggak pukul atau apain kamu kan?” tanya kak Azzam khawatir. Aku tersenyum hangat, dan menjawab,

“Nggak apa apa kak, cuma didorong dikit. Makasih atas bantuannya kak.” Ucapku. Dengan senyum manis kak Azzam pun berkata,

“Itu salah aku, aku seharusnya putus sama dia sejak kejadian kayak gini terjadi setahun yang lalu. Dia emang posesif yang berlebihan, seharusnya aku nggak bawa-bawa kamu ke dalam masalah ini, maaf Lea.” Ujar kak Azzam menyesal.

“Nggak apa apa kak, dijadiin pembelajaran aja.” Ujarku tersenyum.

Hari itu masalah langsung terselesaikan. Aku pun memikirkan awal mula masalah ini. Semua ini hanyalah berawal dari mata yang melihat suatu kejadian kemudian pikiran yang memikirkan kemungkinan-kemungkinan mengapa hal itu terjadi, dan yang terakhir adalah hati, yang merasa iri dan cemburu karena dikuasai oleh kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat menjadi alasan kejadian itu terjadi. Aku pun hanya menggeleng merasa kasihan pada kak Yulia yang dikuasai oleh rasa cemburu begitu mudahnya. Aku pun berlalu pergi meninggalkan kak Azzam setelah berterima kasih padanya. Hari-hariku pun kembali damai. Teman-teman serta kakak-kakak yang dulunya tidak menyukaiku kini satu persatu menyukaiku serta menolongku disaat aku memerlukan pertolongan. Kak Yulia? Dia sudah putus dengan kak Azzam, lagian kak Azzam juga tidak mau berpacaran karena itu zina, namun karena kebrutalan kak Yulia akhirnya kak Azzam menyetujui keputusan berpacaran dengan kak Yulia. Aku dan kak Azzam juga semakin dekat. Kami sudah tidak secanggung dulu lagi. Kami bahkan sudah saling terbuka akan masalah-masalah yang menimpa kami, dan berdiskusi cara menyelesaikannya. Masing-masing dari kami melanjutkan kisah kami sendiri, ada yang memiliki sad ending dan ada juga yang memiliki happy ending. Semua itu tergantung dari cara masing-masing kami dalam menentukan jalan kisah kami. Jalan kisahku? Tentu akan aku usahakan happy ending.

 

Penelitian Kualitatif

1. Pengertian Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah pendekatan ilmiah yang digunakan untuk memahami makna, realitas sosial, a...