Kamis, 11 Agustus 2022

SURAT UNTUK EMI


Sina Asalica atau yang biasa dipanggil Aca adalah remaja 17 tahun yang lahir di lingkungan keluarga yang berkecukupan. Ia merupakan anak sulung dan perempuan satu-satunya dari 3 bersaudara. Meskipun lahir dari keluarga berkecukupan, orang tuanya tidak selalu mengikuti apa yang ia inginkan. Orang tua Aca juga tidak terlalu membebaskan dia untuk keluar rumah, kecuali untuk hal-hal yang sangat penting. Aca bersekolah di Cendana Islamic Boarding School (CIBS), yang mengharuskan siswanya untuk tinggal di asrama. Salah satu alasan Aca bersekolah di CIBS karena ia ingin merasakan kebebasan tanpa kekangan dari orang tuanya.

Di CIBS Aca memiliki sahabat yang bernama Emi Salsa Annisa. Emi merupakan anak pengusaha rumput laut yang terkenal di Lombok. Ayah Emi memiliki toko yang menjual dodol rumput laut. Tokonya berpusat di Lombok Tengah. Emi adalah sahabat Aca sejak awal Matsama. Emi berada di kelas IPS 1, sedangkan aca berada  di kelas IPA 2. Suatu hari di kelas IPA ketika pelajaran matematika perminatan sedang berlangsung.

“Eh Ca, udah jadi nomor 7 ga?” Tanya Yana

“Udah nih, baru aja selesai.” Jawab Aca

 “Ajarin dong.”

“Kuy lah, tinggal nomor 7 doang kan?”

“Iya. Susah ih nomor 7 soalnya panjang banget”

“Itu mah soalya doang yang panjang, caranya mah gampang.”

  Tak lama setelah Aca selesai mengajarkan Yana nomor 7, bel tanda istrahat pun berbunyi. Emi datang ke IPA 1 untuk mengajak Aca ke kantin barsama. Setelah mengambil makanan yang diinginkan Aca dan Emi duduk di kursi yang ada di dekat kantin sambil berbincang-bincang.

“Tau ga sih tadi di kelas, Pak Dewa tiba-tiba bilang, nak, hari ini kita ulangan ya” ujar Emi mengikuti gaya bicara Pak Dewa.

“Terus gimana, bisa dijawab ga soalnya? Tanya Aca.

“Ya ga gimana-gimana lah dari lima soal aku cuma bisa jawab dua, mana ga tau lagi itu jawabannya bener apa enggak. Ya coba deh kamu bayangin ulangan sejarah cuy, tau kan kalau aku itu lemah banget kalau masalah menghafal. Jadinya ya udah deh.” Ucap Emi lemah sambaring mengedikkan bahu.

“Yaudah sih yang penting ada yang bisa dijawab kan, daripada kertasnya kosong semua.” Ucap Aca menenangkan.

“Alfi keren banget tau tadi, dia bisa jawab semua soal yang dikasi Pak Dewa, udah gitu jawabannya bener semua lagi” ujar Ema berbisik-bisik dengan pipi merah.

“Ih kok pipinya merah sih. Nah loh ada apa nih sama Alfi, ciee..” ucap Aca dengan nada menggoda.

“Ih apaan sih, ga ada apa-apa”

“Kalau ga ada apa-apa ko malu-malu sih, kamu suka sama Alfi ya..” ucap Aca dengan nada jahil.

“Hust.. jangan kenceng-kenceng ih ngomongnya, nanti didenger orang” ucap Emi dengan wajah waspada dan pipi semerah tomat.

Selama jam istirahat Aca terus saja menggodai Emi. Saat bel tanda pelajaran dimulai berbunyi mereka kembali ke kelas masing-masing. Pelajaran Aca setelah jam istirahat hingga jam pulang sekolah adalah Bahasa Indonesia. Sampai di asrama, Aca langsung menuju kamarnya untuk ganti baju, kemudian pergi sholat dan makan siang.

 Setiap malam Aca selalu belajar walaupun besok tidak ada ulangan atau pun PR. Aca sudah terbiasa untuk belajar setiap hari. Sejak Sekolah Dasar orang tua Aca membiasakan Aca untuk belajar meskipun esok harinya tidak ada PR ataupun ulangan. Tak salah bila di sekolah Aca dikenal sebagai anak yang cukup cerdas. Sebab, meskipun terkadang ada ulangan mendadak, Aca selau bisa menjawab soalnya dengan yakin, meskipun tidak mendapat nilai yang sempurna.

Suatu malam, ketika sedang belajar, Yanti, teman kamar Aca sekaligus teman kelas Emi  bercerita.

“Kamu ada hubungan apa sama Alfi Ca?”

”Hah, hubungan apaan. Ga ada apa-apa kok” kata Aca dengan terheran heran sekaligus kaget.

“Emang kenapa?” Tanya Aca lagi

“Tadi pas pelajaran prakarya, Pak Dani kan sebut-sebut nama kamu, terus gatau tau deh tiba-tiba anak-anak cowo pada cie-ciein Alfi sama kamu.”

“Ih kok gitu sih, aku ga ada hubungan apa-apa loh sama Alfi” jawab Aca dengan nada heran.

“Terus kan ya, pas jam istirahat Aku nanya ke Bima, kenapa sih tadi Alfi pada dicie-cien sama kamu. Terus Bima bilang, ternyata Alfi itu naksir kamu dari semester satu. Ciee..” tambah Yanti.

Aca tidak dapat berkata apa-apa, Aca hanya mampu membalas dengan senyum yang dipaksakan sekaligus perasaan khawatir. Aca baru tersadar, apakah karena itu beberapa hari ini Emi tidak mencari Aca dan mengajaknya ke kantin bersama. Aca berpikir mungkin beberapa hari belakangan ini Emi sedang banyak tugas. Tanpa pikir panjang Aca kemudian pergi menuju kamar Emi. Saat itu Emi sedang belajar di atas kasurnya

“Em bisa bicara sebentar ga?” Tanya Aca dengan takut takut.

“Ga bisa” jawab Emi tanpa menoleh ke pada Aca.

“Bentar aja Em” sambung Aca.

“Dibilangin ga bisa juga. Ga liat apa orang lagi belajar.” Ucap Emi dengan nada sarat akan kekesalan.

“Ya udah besok bisa ga di sekolah?” Tanya Aca dengan sabar.

“Hmm” jawab Emi tak acuh.

Aca kemudian kembali ke kamarnya dan memutuskan untuk tidur karena ia sudah pasti tidak bisa berkonsentrasi saat belajar karena masalahnya dengan Emi belum bisa dibicarakan. Namun hingga jam setengah dua belas malam Aca tak kunjung terlelap. Ia masih memikirkan bagaimana cara menjelaskan hal tersebut kepada Emi. Sebab Aca tahu bahwa Emi adalah anak yang keras kepala dan masih bersifat kekanak-kanakan.

Keesokan harinya, setelah bel istirahat berbunyi Aca langsung menuju IPS 1 untuk mencari Emi. Ternyata Emi sudah turun duluan menuju kamar mandi. Aca lalu menuju kamar mandi untuk mencari Emi.

“Em” panggil aca dari koridor sebelah utara saat melihat Emi baru saja keluar dari kamar mandi.

Namun Emi hanya  melihat sekilas lalu membuang muka, kemudian melanjutkan langkahnya ke koridor selatan untuk menuju kantin. Melihat hal itu Aca pun mempercepat langkahnya untuk mengikuti Emi ke kantin.

“Em tunggu dulu,” ucap Aca sambil mencekal tangan Emi.

“Apaan sih” ucap Emi sambil melepaskan cekalan tangannya dari Aca.

“Aku mau bicara sama kamu” ucap Aca.

“Yaudah sih nanti aja, laper tau, capek di kelas dengerin orang dicie-cien mulu tiap hari.” Kata emi dengan nada kesal.

“Yaudah selesai belanja aku tunggu di bangku bawah pohon ya” Ucap Aca.

Setelah belanja, Emi menuju ke bangku bawah pohon tempat Aca menunggu dan duduk di hadapan aca.

“Mau ngomong apa? Buruan!. Laper nih.” Ucap emi dengan wajah malas-malasan.

“Kamu marah sama aku? Tanya Aca.

“Pikir aja sendiri”

“Marah gara-gara yang sama Alfi itu?” Tanya Aca memastikan.

“Oooh udah tau ternyata. Seneng kan pasti” dengan nada sindiran

“Em”

“Ini yang disebut sahabat? Mana ada yang nusuk dari belakang” Sela Emi

“Em sahabat aku cuma kamu, kamu yang tau aku itu kayak gimana. Emang kamu pernah liat aku ngomong sama Alfi?”

“Siapa tau kan ngomongnya di belakang, nusuknya aja dari belakang.” Lanjut Emi.

“Em kamu yang tau aku kayak gimana. Sekarang terserah kamu mau percaya sama aku atau engga, tapi aku udah jelasin ke kamu dengan jujur. Aku kangen kita yang dulu, yang ketawa bareng dan kemana-mana selalu bareng. Bukan kayak sekarang yang kayak orang saling ga kenal satu sama lain.” Terang Aca dengan nada putus asa

Emi hanya mengedikkan bahu kemudian pergi meninggalkan Aca. Aca hanya mampu tertunduk dan menghela napas dengan dalam.

Beberapa hari berikutnya dilalu dua orang sahabat yang sedang berseteru itu dengan perasaan sama-sama rindu. Aca rindu dengan Emi yang selalu curhat kepadana tentang apapun, rindu Emi yang cerewet, rindu dengan Emi yang selalu menceritakannya hal-hal lucu, rindu jalan berdua, rindu bercanda bersama Emi, rindu curhat dengan Emi.

Emi pun rindu dengan Aca. Ketika melihat Aca jalan sendiri ke kantin, ingin rasanya Emi memanggil Aca dan mengajaknya jalan berdua. Emi tau bahwa Aca adalah anak introvert yang susah untuk terbuka dan dekat dengan orang lain. Emi rindu Aca sebagai teman curhatnya, Emi rindu Aca yang selalu mengajaknya belajar bersama dan mengajarnya saat kesulitan. Saat mengetahui Alfi suka dengan Aca jelas emi merasa kesal, namun juga ia sebenarnya tidak tahu kesal kepada siapa. Ia tahu bahwa Aca tidak mungkin menusuknya dari belakang, Aca adalah sahabat yang baik. Hanya Aca sahabat emi satu-satunya. Hanya Aca yang sabar menghadapi sifat kekanak-kanakan Emi. Emi pun ingin seperti dulu lagi dengan Aca. Namun Emi terlalu gengsi untuk minta maaf dan menyapa Aca terlebih dahulu.

Suatu sore ingin rasana Emi menyumpal mulut teman-teman Aca yang membicarakan Aca di belakang saat Aca lah yang dipilih untuk memimpin tarian yang ditampilkan kelas IPA 2 saat acara ulang tahun CIBS ke-13 tahun. Saat itu Emi sedang lewat di koridor asrama dan mendengar teman-teman kelas Aca yakni Dina and The Gang sedang membicarakan Aca.

“Kenapa sih yang memimpin apa-apa itu selalu Aca” Ucap Dina dengan nada kesal

“Iya. Setiap ada tugas kelompok selalu aca yang menjadi ketuanya” lanjut Yana.

“Besok untuk ketiga kalinya kelas kita ditunjuk sebagai opening acara dengan tarian, dan dari acara yang pertama sampai yang besok selalu Aca yang dijadikan center.” Tambah Yana

“Memang hanya Aca yang bisa, kan kita semua juga latihan sama-sma, pastilah kita semua bisa bukan cuma aca.” Ucap dina sambil manyun.

“Mungkin kan karena Aca koreografernya makanya Aca yang ditunjuk oleh pak Dani” ucap Ica.

“Tapi di gerakan yang terakhir gerakan Aca kaku dan ga terlalu lancar karena Ica yang menjadi koreografernya, ya kan Ca?” ucap Reva

“Iya”

“Dan Pak Dani tetap menunjuk Aca sebagai centernya” lanjut Reva

“Mungkin Aca tidak enak untuk menolak permintaan Pak Dani” ungkap Ica

“Apasih susahnya tinggal bilang” tambah dina dengan wajah cemberut dan kesal.

Saat itu ingin rasanya emi meneriaki mereka semua dan berkata bahwa memang Aca yang cocok menjadi centernya karena gerakan badan Aca yang lentur. Mereka hanya bisa bicara di belakang. Mereka tidak tahu bahwa Aca menghafal gerakan tarian yang akan ditampilkan hingga tengah malam di kamar kosong yang ada di asrama. Semua itu Aca lakukan karena ia merasa itu memang tanggung jawabnya. Pak Dani meminta Aca untuk menjadi koreografernya karena Pak Dani tidak bisa mengajari mereka semua. Pak Dani harus pergi ke luar kota. Emi tahu itu karena sudah tiga malam Emi memergoki Aca latihan sendiri di kamar kosong hingga jam setengah satu malam. Namun Emi tidak bicara apa-apa saat mendengar mereka bicara seperti itu. Emi tetap melanjutkan langkahnya. Emi tertalu malas mengurus orang-orang yang hanya berani bicara di belakang.

 

Pada hari penjengukan, Aca dijenguk oleh kedua orang tuanya. Aca dan kedua orang tuanya duduk di berugak sebelah asrama yang disediakan untuk para orang tua ketika menjenguk anaknya.

“Mah besok tanggal 23-26 Maret ada program study kolaboratif dari sekolah

 untuk semua kelas 11” ujar Aca menginformasikan kepada mamanya.

“Perginya kemana aja?” Tanya mama Aca

“Kemarin Aca denger-denger sih kita mau pergi ke Malang, Jogja, dan Surabaya”

“Emang kegiatannya apa aja?”

“Banyak sih. Jadi kita kan nanti pergi kunjungi sekolah-sekolah yang maju gitu kan. Terus kita itu kayak wawancara gitu lah ke pihak sekolahnya. Kayak gimana sih metode belajarnya di sekolah itu makanya sekolahnya maju. Ya kayak gitu lah” jelas aca.

“Emang semuanya harus ikut kegiatan itu?

“Ga tau sih, tapi tahun lalu senior Aca banyak sih yang ga ikut.”

“Yaudah sih kalau memang boleh ga ikut mending Aca ga usah ikut aja.”

“Kok gitu?” Tanya Aca.

“Ya dari pada nanti Aca kecapean terus penyakitnya kambuh, kegiatannya pasti padat banget kan?” jelas mama Aca.

“Tapi Aca pengen ke Jogja, kita  kan belum pernah ke Jogja”

“Yaudah sih besok pas liburan kita ke Jogja sama-sama” lanjut mama Aca.

“Tapi kan Aca pengen gitu sekali-sekali pergi sama teman-teman Aca, pengen gitu jalan-jalan bareng. Dari dulu mamah ga pernah kasi izin Aca pergi bareng temen-temen Aca” ungkap Aca.

“Ya kan ketemu temen-temennya udah setiap hari di sini. Di sekolah ke temu, di asrama ketemu. Masa masih kurang?” Tanya mama Aca sambil bercanda.

“Ya kan beda mamah”

“Kalau memang boleh ga ikut, mending jangan ikut dek, nanti kecapekan. Kalau memang pengen pergi ke Jogja, yaudah besok pas liburan kita pergi bareng” terang ayah Aca yang sejak tadi hanya menyimak.

“hmm..” jawab Aca dengan lesu.

Aca sebenarnya tahu bahwa orang tuanya pasti tidak akan mengizinkannya. Namun Aca hanya ingin mencoba siapa tahu orang tuanya akan mengizinkan. Sejak dulu memang orang tua Aca jarang mengizinkan Aca untuk keluar-keluar tanpa pengawasan dari mereka. Saat Aca meminta izin untuk melanjutkan sekolah di CIBS pun orang tua Aca sangat berat untuk mengizinkan Aca. Berkali-kali orang tua Aca memastikan kepada Aca apakah Aca yakin kalau ia ingin bersekolah di CIBS. Berkali-kali pula Aca menyakinkan orang tuanya dan dibantu oleh kedua kakaknya bahwa Aca benar-benar ingin bersekolah di CIBS. Aca menjelaskan kepada orang tuanynya bahwa Aca ingin bersekolah CIBS agar ia bisa menjadi anak yang lebih mandiri dan lebih dewasa. Dibalik itu, salah satu alasan Aca ingin bersekolah di CIBS yakni ia ingin merasakan kebebasan, bebas pergi kemana-mana tanpa kekangan orang tuanya. Aca merasa bahwa dirinya sudah dewasa. Ia tidak ingin dikekang-kekang lagi.

Karena hanya aca yang tidak mengikuti kegiatan study kolaboratif, Aca diizinkan pulang oleh pihak sekolah. Sebab jika ingin belajar, banyak juga guru yang mengajar di kelas sebelas mengikuti kegiatan study kolaboratif.

Ketika semua siswa kelas 11 sudah kembali, banyak siswa kelas 11 yang membicarakan Aca. Sebab mereka tahu bahwa sekolah membolehkan Aca pulang disaat mereka sedang study tour. Padahal perjanjian awalnya adalah bagi siswa yang tidak mengituti study kolaboratif diharuskan tetap tinggal di asrama dan mengikuti kegiatan belajar-mengajar seperti biasanya. 

Hampir semua anak kelas 11 membicarakan Aca, termasuk teman kelasnya. Tak jarang juga mereka sengaja menyindir Aca disaat Aca ada di sekitar mereka. Saat Aca sedang mengerajakan tugas di bangkunya, tak sengaja Aca mendengar teman-temanya sedang membicarakan dirinya. Teman-temanya memang tidak menyebut nama Aca secara langsung, namun Aca tahu orang dimaksud teman-temannya adalah dirinya.

“Enak ya bisa pulang disaat yang lain lagi sibuk dengan kegiatan study kolaboratif” ucap Dina sarat akan nada sindiran.

“Enak ya bisa leha-leha di rumah disaat yang lain pada capek” tambah Reva

“Enakya jadi murid kesayangan guru, mau ngapa-ngapain aja  mah gampang” lanjut Dina

“Kalau mau pulang tinggal minta, langsung diizinin” tambahnya.

“Biasalah anak kesayangan mami, ga pernah diizinin kemana-mana”

“Eh giliran izin pulang, langsung diizinin”

“Lucu deh sekolahmu Din” ucap Reva.

“Kok lucu?” Tanya Dina sambil tersenyum meremehkan.

“Iya lucu. Kemarin bilangnya A, eh tiba-tiba bisa jadi B cuma gara-gara yang minta ANAK KESAYANGAN GURU” jawab Reva dengan kalimat penekanan.

“Iya ih lucu, kok baru sadar ya ha ha ha” tambah Dina dengan tawa yang sangat dipaksakan.

Mendengar hal itu Aca merasa sedih. Padahal Aca pulang bukan untuk bersenag-senang. Aca pulang untuk menjalani pengobatan yang rutin dilakukan. Teman-teman Aca hanya bisa berkomentar tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada orang lain yang mengetahui perihal penyakit Aca  kecuali dia sendiri dan keluarga besarnya.

  Aca sebenarnya ingin menjelaskan kepada teman-temannya alasan mengapa Aca pulang. Namun ia tidak ingin orang lain tau masalah penyakitnya, cukup ia dan keluarganya saja yang mengetahui. Aca tidak ingin dikasihani oleh orang lain karena penyakitnya.

Aca sebenarnya sudah tidak tahan dengan semua sindiran yang dilakukan teman-temannyanya. Ingin rasanya berbagai mengenai masalahnya ke pada orang lain, tapi Aca sudah tidak punya seseorang untuk dijadikan teman curhat. Sebenarnya Aca ingin bercerita kepada orang tuanya, namun Aca takut nanti masalah ini akan membenani orang tua Aca juga. Rasanya sudah cukup orang tua Aca merasa khawatir terhadap Aca. Aca tidak ingin lagi menambah beban orang tuanya.

Semenjak kejadian tersebut Aca bertekat jika ada kegiatan lagi dari sekolah Aca akan berusaha mengikutinya. Kebetulan satu minggu setelah kegiatan study kolaboratif ke luar Lombok, CIBS akan mengadakan kegiatan study social dan sains ke Bank Indonesia, Museum Daerah Nusa Tenggara Barat, PLTU Jeranjang, dan Pantai Kuta.

Mengenai study social dan sains, Aca tidak memberi tahu orang tuanya. Aca tidak izin kepada ayah dan mamanya, karena jika izin maka ayah dan mamanya sudah pasti tidak akan mengizinkan Aca dengan alasan nanti Aca akan kelelahan. Padahal Aca yakin dirinya pasti tidak akan kelelahan, dia pasti akan baik-baik saja. Namun apa daya, semua tidak sesuai harapan. Esok hari setelah study social dan sains Aca mengalamai demam tinggi, semua tubuhnya terasa sakit dan pegal seakan-akan ditimpa dengan sesuatu yang berat. Hingga sore hari demam Aca tak kunjung turun. Bahkan, ketika azan magrib Aca tak sadarkan diri sehingga pihak sekolah menghubungi orang tua Aca perihal keadaan Aca.

Betapa kagetnya orang tua Aca ketika mendapat kabar dari sekolah mengenai kondisi Aca. Setelah sholat magrib orang tua beserta kedua kakak Aca langsung bergegas menuju sekolah. Selama di perjalanan mama Aca terus saja menangis sambil menyebut-nyebut nama Aca.

Orang tua Aca tiba di CIBS bertepan dengan mobil ambulan yang sudah dihubungi oleh pihak sekolah. Melihat Aca yang dibawa ke dalam mobil ambulan, orang tua Aca langsung pindah menuju mobil ambulan untuk menemani Aca, sedangkan kedua kakak Aca mengikuti dari belakang dengan mobil keluarga mereka.

Setibanya di rumah sakit, Aca langsung dibawa menuju ruang Unit Gawat Darurat (UGD). Selama menungu proses pemeriksaan, pihak sekolah menjelaskan kronologis Aca jatuh sakit. Setelah mendengar kronologis tersebut, mama Aca langsung berteriak histeris hingga pingsan. Ayah Aca langsung menjelaskan kepada pihak sekolah bahwa Aca mengidap kanker yang mengharuskan Aca tidak boleh kelelahan. Sontak pihak sekolah pun terkejut dengan fakta tersebut. Pasalnya selama ini Aca terlihat baik-baik saja. Aca tidak tampak lemas ataupun sakit.

Setelah tiga hari tak sadarkan diri, dokter yang menangani Aca menginformasikan kepada keluarga Aca bahwa kanker yang ada pada tubuh Aca sudah menyebar ke seluruh tubuh Aca dan sudah mencapai stadium akhir. Sudah tidak ada lagi harapan. Keluarga hanya tinggal berdoa dan menunggu sampai kapan waktu yang diberikan Allah. Setelah mendengar kabar tersebut tubuh mama Aca terasa lemas seperti tak bertulang. Mama Aca merasa seluruh dunianya seakan-akan hancur. Ia sudah tak sanggup lagi.

Tanggal 07 April 2019 pukul 07:08 dokter memanggil seluruh keluarga Aca dan dan menginformasikan bahwa kondisi Aca semakin kritis. Langsung saja ayah Aca menghubungi semua keluarganya mengenai berita tersebut. Setelah semua keluarga Aca berkumpul, mereka langsung menuju ruang rawat Aca. Selama dokter menangani Aca, tak henti-hentinya keluarga Aca melantunkan surat Ya-Siin. Setelah satu jam berusaha, dokter menginformasikan bahwa nyawa Aca sudah tidak dapat ditolong. Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin namun Allah berkehendak lain. Pukul 09:10 Aca dinyatakan tutup usia pada  umur 17 tahun. Orang tua Aca merasa sangat terpukul, bahkan mama Aca sempat beberapa kali pingsan. Seluruh keluarga Aca merasa kehilangan.

Dua hari setelah pemakaman Aca, mama Aca pergi ke asrama untuk membereskan sema barang-barang Aca untuk dibawa pulang. Saat tiba di asrama, banyak guru-guru yang menyampaikan bela sungkawa dan permintaan maaf karena tidak bisa menghadiri pemakaman Aca.

Saat membereskan semua barang-barang Aca, mama Aca dibantu oleh Emi. Emi salah satu orang yang paling merasa kehilangan setelah mengetahui kabar meninggalnya Aca. Saat sedang membereskan buku-buku Aca, Emi menemukan lembaran yang bagian depannya bertuliskan “Untuk Emi, sahabatku”. Emi langsung membaca lembaran tersebut bersama mama Aca.

Dear Emi, sahabatku

Terimakasih karena sudah mau menjadi sahabatku. Terima kasih karena sudah mau menjadi teman curhatku. Terimakasih untuk semua lawakan-lawakan yang kamu berikan untukku, untuk menghiburku, untuk menghilangkan rasa stresku. Terimakasih karena telah mewarnai duniaku yang suram. Terimakasih karena pernah menghadirkan pelangi di hidupku yang selalu mendung. Terimakasih karena telah membawa warna baru di hidupku. Maaf karena selama ini aku belum bisa menjadi sahabat yang baik untukmu. Maaf karena pernah membuatmu sedih. Maaf, mungkin aku sering menyusahkanmu. Aku minta maaf untuk semua kesalahan yang pernah aku lakukan, yang membuatmu kecewa atau marah. Maaf jika aku membuatmu salah faham. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Alfi, dan tak ada sedikitpun keinginanku untuk menghalangi hubunganmu dengannya. Aku cuma mau bilang kalau aku rindu dengan kamu. Aku rindu dengan semua cerita lucu-lucumu. Aku rindu jalan berdua denganmu. Aku rindu saat kita bercanda dan tertawa bersama. Aku rindu semua tentang kita. Aku ingin kita bisa kembali lagi seperti dulu, tidak seperti sekarang, seperti orang yang tak saling kenal. Maaf karena tidak bisa mempertahankan persahabatn kita. Maaf karena aku belum bisa menjadi sahabat yang baik untukmu. Maaf.

 

 

Rabu, 13 Februari 2019

Tertanda,

 

Aca,

 sahabat yang mengecewakanmu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rintih Hujan Menuju Jepang


                Suara informan yang memberikan pengumuman bahwa penerbangan menuju Jepang segera berangkat, ditemani oleh derasnya hujan dan gemuruh Guntur pada siang hari itu. Aku melihatnya dari lobby terminal bandara. Seorang gadis cantik yang kukenal itu tersenyum kepadaku dari dalam ruangan security check, senyum manis yang terlihat samar terhalang oleh kaca ruangan itu mewakili ucapan selamat tinggalnya. Tanpa kusadari, air mataku mengalir membasahi pipiku. Hingga gadis cantik itu sudah tidak terlihat lagi.

                1 Bulan yang lalu

                “Tit…Tit…Tit”

                Aku terbangun oleh suara alarmku yang berbunyi, jarumnya menunjuk pukul 06.00 pagi hari. Aku beranjak dari ranjangku dan bergegas ke kamar mandi untuk bersiap-siap menjalani hariku. Aku keluar dari kamar mandi, terdengar suara ceret yang berbunyi menghembuskan udara hangat tanda air sudah mendidih. Ku ambil 2 belah roti panggang dari microwave dan menaruhnya di atas piring kesukaanku. Ku seduh segelas susu dan seperti biasa, Aku sarapan dengan ditemani oleh Piko seekor burung hantu peliharaanku di atas balkon rumahku yang minimalis.

                “Selamat Pagi Piko… Udara pagi hari memang sangat segar ya” ucapku mengajak Piko berbicara.

                Walaupun ku tahu bahwa Piko tidak dapat menjawab perkataanku, namun ku yakin Piko memahami semua perkataanku. Setelah ku habiskan sarapan ku, seperti biasa aku pamit ke Piko untuk pergi bekerja.

                “Dah.. Piko, Aku berangkat kerja dulu. Nih, daging ayam kesukaanmu… Aku akan pulang nanti malam seperti biasa. Kau bertugas jaga rumah ini. Oke…”

                Piko mengangguk seperti ia mengerti perintahku. Kunyalakan motor kecilku, kendaraan yang selalu menemani ku sejak aku masih SMA. Dengan santai, aku mengendarai motorku ke rumah sahabatku. Namanya Alessa, ia adalah sahabatku sejak SMP. Seorang gadis cantik yang berpenampilan sederhana, senyumnya yang manis seperti madu sudah menungguku didepan gerbang rumahnya yang terletak beberapa kilometer dari rumahku.

                “Kamu sudah nungguin lama banget ya?”

                “Ah, engga kok. Baru juga keluar.”

                “Okedeh kalo gitu kita langsung berangkat aja. Keburu telat nih”

                Alessa adalah seorang desainer baju yang bekerja di kantor yang cukup ternama. Gerakan tangannya sangat halus dan lembut saat menggambar desain baju. Ia cukup berprestasi dalam karirnya, desain bajunya sudah meluas hingga mancanegara. Tidak heran, managernya selalu membanggakannya. Aku adalah seorang arsitek yang bekerja tidak jauh dari kantor Alessa. Kami selalu bersama kemanapun kami pergi. Yah.. walaupun hanya sahabat namun tidak ada salahnya bukan?

                Suatu hari, seorang gadis yang sangat cantik datang menemuiku untuk menjadi klienku. Ia adalah seorang sekretaris dari suatu perusahaan yang memintaku untuk mendesain arsitektur kantornya yang baru di pusat kota.

                “Selamat Pagi, dengan pak Arya ya?” Sapa gadis itu.

                “Selamat Pagi. Iya saya Arya. Tidak usah manggil pak. Tua banget deh jadinya. Panggil mas aja” jawabku kepadanya.

                “eh iya deh mas Arya. Namaku Gina. Pak Joko minta desain kantor pusat mas. Udah siap kan?”

                “Ini desain kantornya.  Sesuai dengan permintaan Pak Joko minggu lalu. Saya rancang dengan sepenuh hati” sembari menyodorkan kertas rancangan arsitektur kantor kepada Gina, aku tersenyum dan entah mengapa jantungku berdebar seperti drum yang ditabuh kencang.

                “Wah bagus ya. Okedeh makasih ya mas Arya. Ini uangnya dari Pak Joko, katanya ambil aja kembaliannya hitung-hitung jadi tip buat mas Arya” Gina memberikan uang sebesar 5 juta rupiah kepadaku sebagai bayaranku. Senyumnya meluluhkan hatiku, hingga tak sengaja aku menjatuhkan kotak pensilku yang berada di atas meja saat aku menerima uang itu.

                Prak!

                “Eh maaf kayaknya aku ngantuk deh” jelasku ke Gina. Ia membantuku membereskan peralatan tulisku yang berserakan di bawah meja. Setelah kurapikan peralatan tulisku Gina bergegas pulang.

                “Mas Arya makasih ya, lainkali kalau ada proyek kerjanya jangan sampai malem. Nanti ngantuk mulu deh”  candanya. Tawa ringannya mencopot jantungku hingga aku tak tahu mau berkata apa lagi.

                “Mbak Gina!” Teriakku memanggil.

                “Ada apa mas?” Jawab Gina menoleh ke belakang.

                “Anu, boleh minta nomer telepon ga?” Dengan suara bergetar ku bertanya.

                “Ah. Aku kira apa, Nih nomerku teleponku” Jawab Gina tetap dengan senyum manisnya itu.

                “Makasih ya Gina…”

                Ku jemput Alessa untuk makan siang seperti biasa. Kami selalu makan di café kesukaan kami. Tidak jauh dari kantor, Harga makanannya pun bersahabat dengan dompet kami. Selama pertemanan kami, Aku sudah berkali-kali jatuh cinta kepada Alessa, namun Aku tidak berani untuk mengungkapkannya karena Aku takut hubungan pertemanan kami rusak hanya karena masalah hati. Namun, hari ini Aku terpesona dengan Gina. Seorang sekretaris utusan Pak Joko untuk mengambil rancangan arsitektur kantornya. Sembari memakan semangkuk bakso dengan Alessa, Aku menceritakannya kepada Alessa.

                “Tau ga? Tadi aku dapet klien cantik banget” kataku kepada Alessa.

                “Oh ya? Emang secantik apaan?” Jawab Alessa dengan tawa ringan.

                “Kayak Bidadari dari surga yang tiba-tiba dateng yang bikin Aku terbang gitu” jelasku kepada Alessa

                “Kamu berlebihan ih, terus kamu mau apa?” Tanya Alessa dengan satu alis matanya yang terangkat penasaran.

                “Kalo aku ajakin ngedate gimana?  Siapa tahu jodohkan” Candaku kepada Alessa

                “Dasar, emang deh yang namanya laki-laki. Hmm… Moga aja orang baik” Kata Alessa.

                Setelah menghabiskan bakso yang kami pesan. Aku pun pergi ke kasir untuk membayar makanan kami.

                “Kali ini aku traktir, hitung-hitung berbagi kebahagiaan” candaku ke Alessa

                “Dih, kalo kayak gini baru mau traktiran. Makasih deh” Jawab jutek Alessa kepadaku. Kami pun kembali ke kantor kami masing-masing untuk menlanjutkan pekerjaan. Saat Aku hendak pulang ke rumah, kucoba untuk mengirim SMS ke Gina

                Hai Gina, Selamat Malam. Lagi sibuk ga? Kalo aku ajakin makan malem di café pelangi yang ada di deket kantorku kamu mau ga?  Yah hitung-hitung traktiran lah, kan tadi aku dapet tip dari Pak Joko. Hehe…

                Tanpa menunggu lama ponselku berbunyi tanda pesan masuk

                Hai mas Arya. Hmm, kayaknya aku lagi free deh. Oke tungguin aku di café pelangi yaa. 5 menit lagi nyampe

                Aku senang sekali. Rasanya ingin terbang diatas bintang-bintang karena Gina meng-iyakan ajakan makan malamku. Aku memesan 2 piring nasi goring dan 2 jus melon untukku dan Gina. Tak lama setelah pesananku dating ke meja Gina pun dating

                “Hai mas Arya” Sapa Gina

                “Eh udah dateng ya, sini” Jawabku sambil mempersilahkan Gina duduk

                Sembari menyantap nasi goreng dan jus melon yang telah ku pesan. Aku dan Gina mengobrol lama, saling berbagi cerita, bercanda dan sebagainya. Lalu entah mengapa degup jantungku semakin kencang, aku keringat dingin, urat nadiku tak terasa. Aku sangat ingin menyatakan perasaanku.

                “Hmm Gina, anu… Aku tuh anu” kataku dengan suara bergetar

                “Kenapa mas?” Tanya Gina penasaran

                “Ngga tau kenapa, Aku suka sama kamu” kataku kepada Gina. Aku terdiam tak bisa bernafas ingin mati rasanya. Aku berpikir kenapa aku seberani itu mengungkapkan perasaanku padahal aku baru saja bertemu dengan Gina siang ini

                “Aku juga mas” Jawab Gina. Aku kaget terdiam membisu. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Semua sendi dan otot di tubuhku tiba-tiba mati rasa saat mendengar jawaban Gina itu.

                “Mas Arya. Kenapa mas?” sambil menggerakkan tangannya di depan mataku

                “Ah tidak, aku cuma kaget. Jadi? Kamu mau sama aku juga?” Tanyaku tak percaya. Gina hanya menganggukkan kepalanya dengan pipi yang merah merona.

                Setelah makan malam aku pulang ke rumah. Di tengah jalan menuju rumah aku teringat sesuatu. Seperti ada yang kurang malam ini. Aku baru teringat bahwa Aku lupa menjemput Alessa. Dengan kecepatan tinggi aku kembali ke kantor Alessa. Namun sesampainya Aku di kantor Alessa tidak ada seorang pun disana. Kantornya sudah sepi seperti tidak berpenghuni. Namun, disana masih ada seorang satpam yang menjaga.

                “Permisi pak. Mbak Alessanya sudah pulang ya?” tanyaku tergupuh-gupuh kepada pak satpam.

                “Eh mas Arya ya? tadi Mbak Alessa nungguin lama banget sampe ngantuk. Terus pulang deh pake ojek online” jelas pak satpam

                “Oh begitu ya pak. Makasih pak ya” jawabku kepada pak satpam

                Aku pun bergegas pulang ke rumah. Sesampainya Aku di rumah, langsung ku rebahkan tubuhku ke kasur. Aku sangat senang sekali. Hari ini perasaanku diterima oleh seorang gadis yang sangat cantik. Namun, aku juga merasa bersalah karena aku lupa menjemput Alessa.

                Keesokan harinya, seperti biasa ku jemput Alessa untuk berangkat bekerja. Aku sangat ingin sekali menceritakan tentang Gina. Namun, tidak seperti biasanya Alessa cemberut menungguku di depan gerbang rumahnya.

                “Hai, maaf ya kemarin aku lupa jemput kamu” Aku meminta maaf kepada Alessa

                “Biar aku tebak, pasti kamu lupa gara-gara ngedate sama si klien mu itu kan?” Kata Alessa dengan jutek

                “Iyaya, maaf aku beneran lupa deh. Udah ayo naik, keburu telat masuk kerja” Jelasku kepada Alessa. Kami pun berangkat kerja seperti biasa. Sejak aku mempunyai hubungan dengan Gina aku selalu menceritakannya kepada Alessa. Yah.. lagipula Alessa kan sahabatku sejak lama. Jadi, aku cerita ke Alessa tentang hidupku. Namun, sejak itu pula Aku tidak pernah mengajak makan siang Alessa bahkan Aku tidak pernah mengantar pulang Alessa lagi. Karena Aku terlalu sibuk dengan Gina.

                Suatu hari, saat kami berangkat kerja seperti biasa. Alessa bercerita bahwa dia mendapat promosi pekerjaan menjadi desainer di Jepang.

                “Arya, Aku dapet promosi loh. Jadi desainer di Jepang. Besok ini aku berangkat” Kata Alessa kepadaku. Aku sontak kaget mendengar cerita Alessa. Biasanya untuk menentukan sesuatu Alessa selalu menanyakan pertimbangan dariku terlebih dahulu.

                “Hah! Kok kamu baru cerita sekarang sih” Tanyaku kepada Alessa dengan nada yang cukup tinggi.

                “Yah.. Kamu kan juga lagi sibuk sama kerjaanmu. Lagipula kamu juga lupa kan sama sahabatmu sendiri gara-gara terlalu sibuk sama cewemu itu” Jelas Alessa kepadaku.

                Saat di kantor tiba-tiba teleponku berbunyi. Alessa mengirim sebuah pesan dan gambar seorang perempuan menggandeng erat tangan seorang laki-laki yang terlihat cukup tampan

                Bukannya ini ya si Gina itu? Dia kesini katanya mau beli setelan pernikahan

                Aku kaget setengah mati melihat gambar yang dikirim oleh Alessa. Ternyata memang benar itu adalah Gina dan ternyata selama ini aku hanya dibohongi oleh Gina. Aku terdiam membisu, mulutku tak dapat berkata-kata lagi, detak jantungku tak terasa lagi, rasanya aku ingin mati saja. Aku ditipu oleh kekasihku, sahabatku pun akan meninggalkanku besok. Aku pun menlanjutkan pekerjaanku, walaupun pikiranku sedang kacau. Sepulangku dari kantor aku hanya bisa terdiam menghadapi semua kenyataan ini. Aku telah membuat kesalahan sejak awal. Aku terbang terlalu tinggi dan lupa mendarat lagi. Sehingga yang kini kubisa lakukan hanyalah menyesali semua kesalahanku.

                “Tok..Tok..Tok” bunyi ketukan pintu rumahku. Aku turun untuk melihat siapakah yang datang larut malam begini ke rumahku. Saat kubuka pintu rumahku tak kutemukan siapapun, hanya sebuah kotak berisi kemeja dengan warna hitam dan sebuah surat

                Untuk Arya Sahabatku

                Aku minta maaf kalo selama ini aku selalu merepotkanmu mengantar jemputku dan menemaniku kemanapun aku pergi. Yah.. kali ini kamu ngga perlu khawatir, aku akan pergi ke Jepang untuk bekerja disana. Jadi kamu ngga perlu capek-capek nemenin aku lagi.

                Aku minta maaf juga kalo aku buat kamu sedih karena foto yang aku kirim tadi siang. Aku cuma mau ngasi tau kalo sebenernya perempuan yang kamu suka itu hanyalah seorang penipu yang memanfaatkan mu.

                Dan terakhir aku mau jujur sama kamu. Sebenernya aku suka sama kamu. Udah lama banget aku nyembunyiin ini dari kamu. Aku takut kalo ini ngerusak pertemanan kita. Tapi sekarang aku lega bisa ngasi tau kamu walaupun cuma lewat surat.

                Tetap semangat ya kerjanya! Sampai jumpa di lain waktu :)

                                               

Alessa

                Seperti rintikan hujan air mataku mengalir dengan sendirinya. Berharap aku bisa tahu bahwa Alessa juga memiliki perasaan yang sama sejak dulu. Namun kini sudah telat, Alessa akan berangkat ke Jepang esok hari. Aku hanya berharap bisa melihat wajahnya sekali lagi.

                “Tit…Tit…Tit…” alarm ku membangunkanku dari tidurku.

                “Penerbangannya hari ini. Aku harus bisa bertemu sekali lagi setidaknya untuk mengucapkan selamat tinggal” batinku tergupuh-gupuh. Kukenakan kemeja pemberian Alessa dan bergegas berangkat ke bandara.

                Sesampainya aku di bandara, aku bingung harus mencari Alessa kemana. Ku lihat jadwal keberangkatan, Penerbangan menuju Jepang tertulis pukul 09.25. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 09.00. Aku tergesa-gesa mencari Alessa kesana kemari. Kucari di seluruh penjuru terminal bandara namun aku tak menemukannya. Tanpa sengaja kulihat seorang gadis mengenakan baju berwarna hitam yang terlihat elegan namun juga terlihat manis dengan roknya yang berwarna cream. Ia membawa tas yang tidak asing bagiku.

                Suara informan yang memberikan pengumuman bahwa penerbangan menuju Jepang segera berangkat, ditemani oleh derasnya hujan dan gemuruh Guntur pada siang hari itu. Aku melihatnya dari lobby terminal bandara. Seorang gadis cantik yang kukenal itu tersenyum kepadaku dari dalam ruangan security check, senyum manis yang terlihat samar terhalang oleh kaca ruangan itu mewakili ucapan selamat tinggalnya. Tanpa kusadari, air mataku mengalir membasahi pipiku. Hingga gadis cantik itu sudah tidak terlihat lagi.

                Setelah hari itu, Aku bermimpi untuk dapat pergi ke Jepang untuk menemui pujaanku yang selama ini sebenarnya adalah orang yang berada di dekatku.

                1 Tahun berlalu

                Hingga hari ini Alessa tidak pernah menjawab pesan singkatku di ponsel. Aku bahkan tidak dapat menghubunginya sama sekali. Namun, aku sudah mengumpulkan uang yang cukup untuk membawaku terbang ke Jepang.

                Ku beli tiket pesawat, dan kusiapkan semua keperluanku selama aku di Jepang nanti. Aku hanya akan tinggal selama 1 bulan. Besok aku berangkat. Aku hanya ingin bertemu dengan Alessa, seseorang yang menjadi pujaanku, namun karena ketakutanku untuk mengungkapkan perasaan sejak dulu, ia pergi jauh dariku. Aku hanya ingat, ia dulu pernah bercerita bahwa ia sangat ingin sekali bekerja di Tokyo, Jepang. Maka, hanya dengan modal ingatan itulah aku akan mencari Alessa di Jepang nanti. Keesokan harinya, aku berangkat tetap dengan semangat yang sama. 5 jam penerbangan ku lalui. Sesampainya aku di Tokyo aku langsung mulai mencari Alessa di seluruh penjuru Tokyo.

                Aku tak menemukannya, sudah kucari di seluruh tempat yang ada di Tokyo. Ku coba bertanya pada orang sekitar dengan bahasa Jepangku yang masih belum fasih. Namun, aku tetap tidak menemukannya. Hari ini adalah hari terakhirku di Jepang. Semangatku mulai padam, aku tetap tidak dapat menemukannya dimanapun. Aku meminum coca cola sembari duduk termenung di taman yang terletak di depan Tokyo Tower. Sesekali aku melihat ke atas, melihat indahnya puncak Tokyo Tower yang menjadi Ikon Ibukota Jepang tersebut. Aku tak tahu sudah menghabiskan berapa banyak kaleng coca cola selama sebulan di Jepang.

                “Ah satu lagi, sebagai ucapan selamat tinggalku kepada tanah ini” batinku.

                Aku memasukkan 5 yen uangku yang telah kutukarkan di money changer sejak hari pertama aku di Jepang.

                “Klak” Suara kaleng yang terjatuh di dalam vending machine itu.

                “Bruk” Tanpa sengaja aku menabrak seorang gadis saat aku berbalik untuk duduk ke tempat duduk tadi.

                Sumimasen” Kataku spontan sembari membungkukkan badanku. Artinya Aku minta maaf. Lalu saat ku tegakkan lagi badanku kulihat wajah cantik gadis tersebut.

                “Kamu…”

Tamat.

 

               

Pejuang Lomba Terakhir


Mentari bersinar terang di angkasa. Seorang gadis setinggi kira-kira satu setengah meter terlihat gembira berjalan ke sekolah menyambut hari barunya. Di jilbabnya tertambat sebuah name tag bertuliskan Zinnia Patma yang berkilau tertimpa cahaya matahari. Gadis kelas 12 itu menggandeng sebuah tote bag yang terisi penuh oleh buku-buku di tangan kanannya, dengan punggung yang sudah membawa tas ransel sebelumnya. Seseorang tiba-tiba menghampirinya dari sebelah kanan dan menawarkan diri untuk membantu membawa tote bag itu.

“Zin, sinikan tote bag-mu, biar aku bawakan. Kamu sudah seperti unta saja membawa bawaan yang berat sekali.”

“Tidak perlu, Vi. Aku sudah biasa membawa ransel seberat ini. Kamu tahu, kan? Lagipula, kamu juga membawa ransel.”

“Hei, kamu tak lihat seberapa ringan ransel ini? Kelihatannya akan sama dengan kenyataannya. Percayalah padaku,” ungkap gadis itu sambil menyambar tas selempang dari tangan kanan Zin.

"Di mana kamu taruh buku-bukumu?"

"Aku sudah membawanya ke sekolah saat pelajaran terakhir." Ia menyengir.

“Baiklah. Terima kasih, Viola.” Ucap Zin sambil tersenyum dan sedikit menghela napas melihat kelakuan temannya.

Zinnia dan Viola adalah dua sahabat baik. Mereka saling mengenal sejak duduk di bangku kelas 7 sekolah menengah. Mungkin dulu tak ada yang menyangka mereka akan bersahabat sedekat sekarang. Dulu, mereka adalah rival dalam meraih juara umum di sekolahnya. Sekarang pun masih sama. Namun, sampai sekarang di sekolah menengah atas yang sama, Viola belum bisa menyalip posisi Zinnia sebagai peraih juara umum satu di sekolahnya. Hal ini tak membuat Viola membenci Zinnia. Malah, mereka yang duduk di ruang kelas yang berbeda menjadi semakin dekat setelah saling mengenal rival mereka.

Di sekolah mereka yang sekarang--sebuah sekolah bertaraf nasional yang menyeimbangkan ilmu agama dan dunia—MAN Insan Kamil, mereka berjuang sungguh-sungguh untuk merealisasikan cita-cita mereka. Salah satu caranya adalah dengan mengikuti lomba di bidang akademis sesuai bidang mereka masing-masing. Viola tergabung dalam kelas tambahan Fisika, sedangkan Zinnia mengikuti kelas tambahan Biologi. Mereka adalah siswi berprestasi di sekolahnya. Namun, tanpa informasi tentang suatu lomba, mereka tak akan mampu mengikuti lomba tersebut. Sebab itulah, mereka rajin melihat mading (majalah dinding) utama di sekolah mereka setiap pagi. Kali ini pun mereka melakukannya. Setiba mereka di bangunan sekolah, mereka bergegas menuju mading utama untuk memeriksa informasi lomba yang dapat mereka ikuti. Mading utama sekolah cukup besar dan panjang. Mungkin membutuhkan beberapa menit untuk mencerna informasi yang tercantum di sana. Setelah beberapa lama menelusuri mading utama itu, tiba-tiba Zinnia berteriak pada Viola.

“Vio! Ada lomba baru!” teriak Zinnia yang kegirangan sambil mengerjapkan bola matanya yang berbinar pada Viola.

“Wah, wah! Lomba apa? Pasti bidangmu, ya?” Viola heran melihat temannya yang pertama kalinya terlihat sangat bersemangat saat melihat informasi di mading. Namun, dia masih berkutat dengan informasi pada mading di depannya.

“Bukan. Lihatlah! Aku jamin reaksimu akan sama sepertiku saat melihatnya.”

Viola yang penasaran bergegas menghampiri Zinnia. Setelah membaca judul sebuah informasi bertuliskan MEDSPIN, International Medical Science and Application Competition for High School Students, ia langsung berteriak,

“Ayo kita ikuti lomba itu, Zin!” Matanya tak kalah berbinarnya daripada mata Zinnia tadi. Di sisi lain, mata Zinnia menelusuri guideline lomba tersebut. Lomba itu adalah seleksi yang diadakan oleh Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya untuk memilih tim siswa SMA sederajat sebagai perwakilan Indonesia di tingkat internasional—se-Asia Tenggara. Satu tim terdiri dari tiga orang, masing-masing di bidang Biologi, Fisika, dan Kimia.

“Tunggu,” sanggah Zinnia. Viola yang kebingungan menaikkan alis kanannya. “Lomba ini membutuhkan tiga orang dalam satu tim. Kita butuh satu orang lagi.”

“Itu hal yang kecil. Serahkan padaku. Kamu kira aku hanya diam di kelas sepertimu saat jam istirahat? Mungkin hanya butuh sedikit bujukan untuk mengajaknya.” Viola mulai berlagak.

“Siapa? Dia “orang” Kimia?” Zinnia yang penasaran mencoba menerka.

“Ya. Nanti kamu akan tahu siapa dia.”

“Siapa, Vi?” Zinnia tak bisa membendung rasa penasarannya.

Teet teet...

Tiba-tiba bel berbunyi. Mereka harus ke lapangan untuk mengikuti doa pagi sesuai kelas mereka. Terpaksa mereka harus berpisah.

“Zin, nanti saja, ya.” Viola yang tadinya ingin menjelaskan kepada Zinnia terpaksa menunda penjelasannya. Mereka bergegas ke barisan kelas mereka masing-masing.

Setelah doa pagi, Viola tidak sempat berbicara lagi dengan Zinnia. Mereka memasuki kelas dan mengikuti pelajaran sampai waktu istirahat. Mereka baru bisa bertemu di kantin. Viola bersama seorang gadis yang tak asing di mata Zinnia, tetapi dia tak tahu namanya. Sepertinya dia adalah “orang” yang dimaksud oleh Viola tadi.

“Sst... Vi, dia siapa?” Zinnia yang penasaran bertanya kepada Viola dengan berbisik. Ia bukan penasaran namanya. Namanya sudah tertera di papan nama di jilbabnya, Felis Aulina Bestari. Ia penasaran dengan kelas yang ditempati gadis itu.

“Tak perlu berbisik begitu. Lagipula, bisikanmu bisa didengar olehnya, tahu.” Viola memutar bola mata melihat tingkah temannya yang bisa dibilang agak sok pemalu itu.

Zinnia menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil berkata, “Hehe, maaf. Jadi, bisakah kamu memperkenalkanku padanya?”

“Dengan senang hati,” ucap Viola dengan senyum merekah di wajahnya. “Zin, perkenalkan, orang yang di sebelahku bernama Felis. Dia kelas XII MIA 3. Dia adalah orang yang aku maksud tadi pagi,” Viola mengambil sedikit jeda sebelum memperkenalkan Zinnia kepada Felis. “Felis, perkenalkan, ini Zinnia, teman baikku dari kelas XII MIA 1. Jadi kita lengkap kan, XII MIA 1, XII MIA 2, dan XII MIA 3?” ujar Viola dengan senyum yang semakin mengembang.

“Assalamu’alaikum. Salam kenal, Felis. Senang berkenalan denganmu.” Ucap Zinnia sambil tersenyum dan mengulurkan tangan kanannya.

Felis menerima uluran tangan Zinnia lalu membalas, “Wa’alaikumussalam, Zinnia. Aku juga senang berkenalan denganmu.” Ia memberikan senyum yang tak kalah manis daripada senyum Zinnia.

Sebuah perkenalan yang hambar baru saja terjadi dalam kelompok tiga orang tersebut. Entah Zinnia lupa akan tujuan awalnya, namun setelah perkenalan itu, mereka terdiam selama beberapa puluh detik hingga akhirnya Viola memecah kesunyian dalam keramaian di kantin itu.

“Jadi, Felis mengatakan padaku bahwa dia setuju tentang rencana kita.” Viola memulai diikuti anggukan Felis.

Zinnia yang tadinya setengah melamun mulai mengembalikan kesadarannya. “Ah! Ya, aku sampai lupa hal itu. Viola sudah menjelaskan padamu? Ini keinginanmu sendiri, kan? Jika kamu terpaksa, aku tak akan segan memaksamu keluar dari tim ini.” Zinnia tak main-main merekrut seseorang menjadi timnya. Ia tak ingin anggota timnya bekerjasama dengannya tanpa keikhlasan.

Setengah takut dan kaget, Felis menjawab, “Benar, ini kemauanku sendiri, kok. Aku juga sudah lama memantau lomba ini, ‘tapi aku belum memiliki tim.” Zinnia dan Viola mengangguk mendengar jawaban Felis.

“Sekarang kita tinggal menyusun strategi, baik itu saat belajar atau menjawab soal. Kita tahu sendiri kalau sekolah kita jadwal terbangnya sangat padat. Aku tahu saat mendekati hari H babak penyisihan pun, akan ada evaluasi harian yang kita hadapi,” kata Viola.

“Aku rasa kamu melupakan guru pendamping dan izin sekolah,” Felis menimpali.

“Oh iya, ya. Aku lupa. Hehehe...” Viola memiringkan kepala sambil tertawa ringan.

“Bagaimana kalau Bu Kartini yang menjadi pendamping kita? Beliau sudah berpengalaman menjadi pendamping siswa yang ikut lomba. Ya, alasan utamanya tentu karena kemampuan di bidangnya,” usul Zinnia.

Bu Kartini adalah seorang guru Biologi di sekolahnya. Namun, ia juga bisa mengajar pelajaran lain yang terkait, seperti Kimia dan Prakarya. Tak butuh waktu lama bagi Viola dan Felis untuk memutuskan.

“Setuju!” Viola dan Felis berteriak serempak.

Teeet teeet….

Teriakan mereka disambut oleh bel masuk.

“Kita lanjut besok, ya!” seru Zinnia sebelum beranjak dari kursi kantin. Anak yang lain pun beranjak ke kelas mereka. Kantin itu sudah sepi oleh para siswa beberapa menit kemudian.

Di kelas, Zinnia belajar dengan semangat hingga bel kedua berbunyi. Ia melaksanakan sholat Zuhur lalu kembali ke kelas. Ia mengikuti pelajaran hingga akhirnya bel pulang berbunyi.

Esok hari, sesuai yang telah mereka rencanakan, mereka membahas lomba  itu lagi di kantin. Kali ini mereka membawa print out yang berisi informasi tentang lomba tersebut untuk diperlihatkan kepada Bu Kartini. Setelah merencanakan strategi awal, mereka memberanikan diri untuk meminta Bu Kartini menjadi pendamping mereka. Dengan harap-harap cemas, mereka memasuki ruang guru. Di sudut ruangan, mereka melihat seorang wanita paruh baya mengenakan kacamata dengan laptop yang menyala di depannya. Ia terlihat sibuk. Mereka sedikit enggan untuk mengganggu guru mereka itu. Zinnia yang melangkah paling depan sempat ragu melangkahkan kakinya, tetapi Viola yang di belakangnya menahan punggungnya untuk terus melangkah. Viola dan Felis mengangguk memberi semangat kepada Zinnia. Zinnia balas mengangguk seolah-olah mengatakan “Baiklah.” Sesampai mereka di depan meja Bu Kartini, mereka mulai mendiskusikan hal ihwal mereka.

“Assalamu’alaikum, Bu Guru.” Ucap mereka serempak.

“Wa’alaikumussalam, Nak. Ada apa, ya?” tanya Bu Kartini dengan mimik ramah di wajahnya.

Zinnia mulai berbicara. “Begini, Bu. Kami bertiga; saya, Viola, dan Felis berniat mengikuti sebuah lomba yang diinformasikan di mading sekolah. Lomba ini bernama MEDSPIN yang diselenggarakan oleh UNAIR Surabaya.” Zinnia menjeda penjelasannya untuk memperlihatkan print out yang sudah mereka siapkan. “Lomba ini diikuti oleh tim yang berisi tiga orang dengan seorang pendamping. Tujuan kami ke sini adalah untuk meminta Ibu menjadi pendamping tim kami.” Zinnia melanjutkan.

Bu Kartini membaca print out tersebut sekilas lalu menjawab, “Kalian bertiga berarti memegang tiga bidang yang berbeda, ya? Zinnia; Biologi, Viola; Fisika, dan Kimia; murid pindahan, Felis, ya? Begitu pembagiannya?” Zinnia terlihat sedikit kaget mendengar penggalan kalimat kedua terakhir Bu Kartini. Ia baru tahu bahwa Felis adalah murid pindahan.

“Benar, Bu.” Mereka menjawab serentak.

“Insya Allah, Ibu akan mengusahakan yang terbaik sebagai pendamping kalian. Masalah biaya jangan dipikirkan. Ibu akan mengajukan kepada sekolah agar biaya lomba ditanggung sekolah. Kalian berusahalah yang terbaik juga.” Bu Kartini menuturkan kemudian tersenyum.

“Terima kasih, Bu Guru. Insya Allah, kami juga akan mengusahakan yang terbaik,” ucap Felis. Mereka bertiga membalas senyum Bu Kartini.

“Sama-sama, Nak,” balas Bu Kartini.

“Kalau begitu, kami pamit kembali ke kelas, Bu Guru. Jam pelajaran selanjutnya akan segera dimulai.” Kali ini Viola yang berbicara.

“Iya, Nak. Belajar yang rajin,” tutur Bu Kartini.

“Iya, Bu. Assalamu’alaikum...” Mereka mengucapkannnya serentak lalu mencium tangan Bu Kartini bergiliran.

“Wa’alaikumussalam...” Jawab Bu Kartini.

Mereka keluar dari ruang guru dengan perasaan lega. Fakta bahwa Felis adalah murid pindahan hampir tersingkir dari otak Zinnia.  Mereka berjalan bersama ke kelas mereka masing-masing-masing. Kebetulan jalan kelas mereka searah. Saat berjalan melewati lorong, ia sempat menanyakan masalah kepindahan Felis, namun Felis tidak merespon. Mungkin tak harusnya ia menanyakan hal itu sekarang. Lagipula, mereka harus belajar dengan giat dan mengabaikan hal yang tak penting.

Hari selanjutnya, mereka berkumpul lagi di gazebo sekolah untuk belajar bersama. Bu Kartini datang sesekali untuk mengontrol dan menjawab pertanyaan mereka. Gazebo itu memang setiap hari ramai oleh para siswa. Kecil kemungkinan bagi mereka untuk bisa mendapat tempat di sana. Namun, salah satu dari mereka yang paling cepat keluar dari kelas akan bergegas ke sana setiap harinya. Alhasil, mereka berhasil mendapat tempat di sana.

Gazebo itu terletak di samping kantin sekolah mereka. Mereka bisa memilih tempat antara di kantin atau di gazebo untuk menghabiskan makanan ringan yang mereka beli di kantin. Hawa sejuk di gazebo itu pun mendukung proses belajar mereka.

Mereka mendalami bidang mereka masing-masing. Artinya, ada kemungkinan untuk mereka belajar mandiri di tempat yang mereka inginkan. Namun, mereka bertiga sepakat untuk belajar bersama di gazebo agar dapat membahas soal medis bersama. Selain itu, tak ada salahnya bagi mereka untuk mengenal lebih dekat satu sama lain.

Hari demi hari berlalu, tak terasa waktu penyisihan lomba semakin dekat. Semua persyaratan telah mereka penuhi. Mereka semakin sering belajar bersama di gazebo sekolah saat jam istirahat. Bu Kartini datang menyambang di awal waktu istirahat. Mereka hanya absen beberapa kali, kadang saat mereka ada ulangan yang agak susah ditoleransi. Atau beberapa kali Felis mendapat telepon melalui ponsel guru yang mengharuskannya undur diri lebih dulu.

Di gazebo, mereka kadang bercanda sebagai selingan. Mereka juga saling bercerita tentag kehidupan masing-masing. Mereka bertiga semakin dekat. Namun, Zinnia dan Viola merasa Felis agak menutup diri dari mereka. Sebenarnya, pikiran Zinnia masih terganggu oleh beberapa hal tentang Felis yang misterius. Misalnya masalah kepindahannya, telepon masuk ke ponsel guru yang ditujukan untuknya, dan Felis yang jarang terlihat bersama anak lain selain Zinnia dan Viola.

Beberapa hari sebelum seleksi dilaksanakan, ketika Bu Kartini tidak sempat mendatangi mereka karena suatu urusan, Viola mencoba memberanikan diri membahas kehidupan Felis. Saat itu, Zinnia sedang izin ke kamar kecil. Viola memulai dengan menceritakan sepenggal kisahnya. Tentu saja dengan diselingi candaan. Ia juga mulai bertanya tentang kehidupan Felis mulai dari hal-hal umum, tentang kehidupan sekolahnya di MAN Insan Kamil, pendapatnya tentang sekolah itu, dan lain-lain yang tidak sampai ke masalah pribadinya.

“Omong-omong, apa alasan kamu pindah ke sini, Fel? Kamu terlihat misterius sekali. Seharusnya kamu lebih banyak bergaul dengan siswi di sini. Ups!” Ia segera menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia keceplosan melontarkan pertanyaan yang harusnya ia hindari. Atmosfer yang tadinya ringan menjadi lebih berat. Ia pernah mendengar Zinnia menanyakan hal yang sama kepada Felis, namun ia tak dijawab sama sekali.

Jeda yang panjang terbentang antara pertanyaan Viola dan jawaban yang akan dikatakan Felis. Akhirnya Felis membuka mulut, “Ada beberapa hal yang tak bisa dikatakan orang kepada orang lain. Dan itu adalah hal yang tak bisa aku ungkapkan pada kalian. Maaf, aku harus pergi.”

Setelah menyelesaikan penuh kalimat itu, Felis mengambil tasnya lalu pergi ke arah toilet. Di sana, ia berpapasan dengan Zinnia yang baru saja kembali dari toilet. Viola tak mengejar, justru ia hanya berteriak, “Felis, kamu mau ke mana?! Jangan keluyuran lagi kamu!” Viola yang geram membuat asumsi yang tak enak didengar.

“Ada apa, Fel? Kamu mau ke mana?” tanya Zinnia pada Felis. Namun Felis tak melihatnya sama sekali, apalagi merespon. Ia hanya berjalan terus melewati toilet, sepertinya menuju gerbang depan sekolah. Entah ia akan pergi ke mana.

Zinnia berbalik kepada Viola. “Apa yang terjadi saat aku tak ada, Vi?”

“Yah, kami membicarakan beberapa hal, lalu ia jadi seperti itu.” Ia mengatakannya dengan gugup, keringat mulai bercucuran melewati keningnya.

“Kamu tak seharusnya membuat masalah saat mendekati lomba seperti sekarang ini.” Ujar Zinnia.

“Apa katamu? Aku tak pernah membuat masalah. Dia yang terlalu sensitif. Aku tak suka orang yang sensitif.” Viola membalas.

“Seseorang akan menjadi sensitif jika masalah sensitifnya diungkit,” Zinnia menghela napas. “Sudahlah, sekarang kita biarkan dulu dia menenangkan diri. Besok kita harus minta maaf padanya,” pinta Zinnia.

Viola hanya mendengus mendengar perkataan sahabatnya. Ia memang harus melakukan apa yang dipinta Zinnia. Ia tahu bahwa sahabatnya itu tak ingin mengacaukan lomba yang akan mereka ikuti. Mereka berdua kembali ke kelas masing-masing meninggalkan gazebo teduh yang sekarang sama sekali tak menunjukkan adanya bekas pertengkaran beberapa saat lalu di sana.

Keesokan harinya, mereka pergi mencari Felis di kelasnya, XII MIA 3. Kelas itu sangat berisik dan ramai pada jam istirahat. Tak terbayangkan bagaimana Felis yang pendiam beradaptasi dengan keadaan kelas itu. Mereka mencari Felis untuk minta maaf, namun mereka tak menemukan Felis. Teman kelasnya berkata bahwa ia tidak masuk sejak jam pelajaran ke lima kemarin. Itu berarti setelah insiden di gazebo.

Mereka berdua akhirnya belajar di gazebo tanpa Felis. Ketika Bu Kartini datang mengontrol mereka, mereka menceritakan masalah yang kemarin kepada Bu Kartini. Bu Kartini pun tidak tahu di mana Felis sekarang. Felis tidak masuk tanpa keterangan. Bu Kartini menyarankan mereka untuk mencari Felis ke rumahnya. Mereka memang berencana mencari Felis ke rumahnya sepulang sekolah. Mereka meminta alamat Felis kepada Bu Kartini. Bu Kartini memberikan mereka alamat Felis yang tertera di biodata Felis.

Sepulang sekolah, mereka mencari alamat Felis. Alamatnya cukup susah ditemukan, namun mereka berhasil menemukannya. Rumahnya cukup besar. Mungkin paling besar di lingkungannya. Rumah itu jauh dari keramaian. Namun sayang sekali, mereka tak menemukan siapapun di rumah itu. Mereka berencana mencari Felis esok hari lagi.

Sepulang sekolah keesokan harinya, mereka kembali ke rumah Felis, tetapi tetap tak ada siapapun di sana. Tetangganya mengatakan bahwa ia tidak pernah melihat Felis selama beberapa hari. Tetangga yang lain mengatakan bahwa ia melihat Felis kembali hanya saat pagi hari. Setelah itu ia segera pergi lagi entah ke mana.

Besok adalah pelaksanaan lomba dan mereka belum menemukan Felis. Mereka memberitahu Bu Kartini apa yang mereka dapatkan dari tetangga Felis. Sekarang, mereka hanya dapat melaksanakan rencana terakhir mereka. Mereka berencana menjemput Felis pada pagi hari sebelum ia pergi lagi dan membawanya ke tempat lomba. Mereka bisa saja mengganti posisi Felis, namun mereka telah berjuang bersama. Mereka pun harus bertanding bersama.

Benar saja, esok harinya, menggunakan mobil sekolah dan ditemani Bu Kartini, mereka ke rumah Felis pagi-pagi sekali. Mereka menunggu di dalam mobil yang terparkir di tempat yang agak jauh dari rumah Felis. Setelah menunggu sekitar lima belas menit, mereka hampir tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Itu memang Felis! Zinnia langsung turun menghampiri Felis, disusul Viola dan Bu Kartini. Felis yang menyadari kehadiran mereka langsung berlari ke arah rumahnya. Untunglah Zinnia berhasil meraih tangan Felis.

“Felis! Ke mana saja kamu selama ini? Kami mencarimu,” ungkap Zinnia.

 Zinnia hanya mendengar isak tangis dari Felis. Felis berusaha melepas genggaman Zinnia, namun sia-sia. Zinnia telah bertekad membawa Felis mengikuti seleksi hari ini. Viola dan Bu Kartini akhirnya sampai di depan rumah Felis, tempat Zinnia dan Felis berada.

“Nak, apa yang terjadi padamu?” Bu Kartini membuka mulut. Felis hanya terdiam mendengar pertanyaan itu.

“Felis, maafkan aku. Aku tak sengaja mengatakan hal seperti itu waktu itu. Aku benar-benar menyesal, Felis.” Viola terlihat penuh penyesalan.

“Felis, maafkan kami. Jika kamu punya masalah, ceritakanlah kepada kami. Kami bersedia mendengarnya.”

“Mengapa kalian tak pergi saja? Sekarang hari seleksinya, kan?” Akhirnya Felis membuka suara dengan sedikit getaran pada suaranya.

“Kami tak akan pergi tanpamu,” ucap Viola.

“Mengapa kalian tak mencari penggantiku? Bukankah kalian sangat ingin mengikuti lomba itu?”

“Kami memang ingin mengikutinya. Mungkin sekarang adalah kesempatan terakhir kami mengikuti lomba di jenjang ini, mungkin kamu juga. ‘Tapi, kami sudah bersamamu dari awal. Kami pun harus bersamamu sampai akhir. Maka dari itu, ikutlah bersama kami.”

“Maaf. Aku tak bisa. Nyawa seseorang yang berharga bagiku akan dipertaruhkan hari ini. Aku harus berada di sampingnya,” ungkap Felis.

“Bisakah kamu menceritakannya pada kami, Fel? Kami tak akan mengerti jika kamu tak menceritakannya.” Viola memohon.

“Ibuku akan dioperasi hari ini. Beliau terkena kanker hati. Tak ada yang menemaninya di rumah sakit.”

“Begini saja. Kalian bertiga pergi lomba, biar Bu Guru yang menjaga ibumu.” Bu Kartini menawarkan.

“Tapi, apa tidak merepotkan Bu Guru?”

“Tentu tidak. Ibu melakukannya dengan senang hati.”

“Fel, terimalah tawaran Bu Guru. Setelah pengumuman hasil penyisihan, kita pasti akan mengunjungi ibumu,” bujuk Zinnia.

Felis diam beberapa saat sambil mempertimbangkan. Setelah kurang lebih 10 menit, ia akhirnya membuka suara, “Baiklah, aku akan melakukannya. Tapi aku tidak yakin aku mampu, sudah berapa hari aku tidak belajar bersama kalian.”

“Tidak apa, percaya pada kemampuanmu, Fel. Kita sudah mempersiapkannya dari jauh hari, kan? Yakinlah kita bisa.” Viola memberi semangat.

“Bailklah. Berikan Bu Guru alamat rumah sakit tempat ibumu dirawat. Ibu akan ke sana sendiri. Kalian berangkatlah ke tempat penyisihan,” pinta Bu Guru.

Mereka berpamitan dan meminta doa kepada Bu Kartini setelah Felis memberikan alamat rumah sakit tempat ibunya dirawat ke Bu Kartini. “Assalamu’alaikum, Bu Guru,” ucap mereka serentak.

“Wa’alaikumussalam. Jangan lupa berdoa, Nak.”

“Iya, Bu.” Setelah mengucapkan kalimat itu, mereka segera masuk ke mobil sekolah. Sopir sekolah membawa mereka ke tempat seleksi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Felis.

Setelah sampai di lokasi tes, tes akan segera dimulai. Mereka segera memasuki ruang tes. Mereka mengerjakan tes dengan lancar. Sebelumnya, ketika masih di perjalanan, mereka sudah menyusun strategi menjawab soal. Ada empat tipe soal yang mereka kerjakan, soal Biologi, Fisika, Kimia, dan medis. Waktu mereka mengerjakan tes adalah 120 menit. Mereka berencana mengerjakan soal Biologi, Fisika, dan Kimia sesuai bidang masing-masing selama 70 menit pertama, soal medis secara bersama-sama selama 30 menit setelahnya, dan waktu yang tersisa akan mereka gunakan untuk mengisi jawaban di lembar jawaban.

Sesudah keluar dari ruang tes, mereka menunggu kurang lebih 3 jam hingga hasil tes diumumkan. Hasilnya, mereka berhak maju ke babak selanjutnya. Mereka sangat bahagia sampai menangis terharu akan kebahagiaan mereka.

Mereka segera beranjak ke rumah sakit tempat ibu Felis dirawat setelah hasil diumumkan. Setiba di kamar tempat ibu Felis dirawat, mereka melihat ibu Felis yang masih terbaring di ranjang rumah sakit setelah operasi dilaksanakan. Bu Kartini berkata bahwa operasi berhasil dilaksanakan. Ibu Felis tidak sadarkan karena efek obat bius. Mereka akan menunggu di sana sampai ibu Felis sadar. Sekitar setengah jam menunggu, akhirnya ibu Felis siuman. Felis menangis bahagia menceritakan keberhasilan mereka ke babak selanjutnya.

Felis menceritakan semua kejadian yang menimpanya. Saat ayahnya selingkuh, saat ibunya dirawat di rumah sakit. Saat ayahnya akhirnya menceraikan ibunya. Semua itu mengalihkan pikirannya dari tanggung jawab di sekolah. Itulah yang membuat ia menutup diri terhadap orang lain. Ia pun pindah ke MAN Insan Kamil yang sedaerah dengan rumah ibu Felis. Pertemuan Felis dengan Zinnia dan Viola memberikan sedikit harapan dalam hidupnya. Namun, ia masih belum dapat terbuka kepada sekitarnya. Kejadian hari inilah yang mengubah sebagian besar hidupnya.

Sekarang, Zinnia, Viola, dan Felis harus berjuang menghadapi kelanjutan lomba yang mungkin akan menjadi lomba terakhir mereka di jenjang sekolah menengah atas sederajat ini. Mereka bertekad memenangkan lomba terakhir ini. Mereka akan berjuang dengan sungguh-sungguh demi merealisasikannya.

 

 

 

 

 

 

Penelitian Kualitatif

1. Pengertian Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah pendekatan ilmiah yang digunakan untuk memahami makna, realitas sosial, a...