Minggu, 26 November 2023

Sahabat


Sebelum berangkat, saya mulai mengemas semua jenis barang-barang pribadi yang dibutuhkan seperti peralatan shalat, peralatan makan dan minum, obat-obatan, senter, batrai cadangan, sepatu gunung, tas carrier, dan lainnya.Kami mulai mendaki dari pos registrasi pada pukul 09.00. Ketika itu cuaca cukup bersahabat pada kami. Sebelum memulai pendakian kami berdoa terlebih dahulu. Temen saya yang pemula pun bertanya “bang,jarak dari pos registrasi sampai pos 1 brpa kilo???” kurang lebih 2 km”ujar temen saya yang lain.”waahhh jauh juga yaa ternyata,auto pingsan kita nih” “elehhh itu belum seberapa,perjalanan dari sini sampai puncak bagaikan perjalanan satu hari satu malem,tapi saya udah terbiasa” ujar yang paling berpengalaman

“dahlaahh jangan nyerah sebelum mulai,tetap semangat sampai titik semangat penghabisan”ujar si paling bijak. Saat sampai di pos 1, kami istirahat sembari mencari sumber mata air sekaligus sarapan. Temen saya yang pemula ngeluarin beberapa nasi bungkusnya sambil mengatakan “bang ini dari ibu saya,kita makan bareng yokk itung-itung ngisi tenaga” kami pun serempak mengatakan “ayokkk”

Saat itu jam masih menunjukkan pukul 11.00.Setelah selesai sarapan kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2 yang jauhnya sekitar 1,5 km. Kami tiba di pos 2 sekitar pukul satu siang dan langsung melaksanakan shalat zuhur. Setiba di pos 2,sipaling alim bilang” kita shalat zuhur disini,dibawah sana ada telaga tempat ngambil air wudhu”sambil nunjuk ke arah tengah hutan.

Setelah shalat kami melanjutkan pendakian hingga tiba di pos 3, disana kami beristirahat sembari makan siang dan ngopi. Sipaling berpengalaman nyeletuk”ini pos 3,pos terakhir sebelum nyampe di area camping ground” si pemula nanya “camping groundnya mana?” “ituu yang di bukit paling atas” sambil nunjuk kearah depan. Pos 3 merupakan pos terakhir sebelum sampai di area camp. Saat semuanya telah selesai kami pun melanjutkan perjalanan. Dan pada akhirnya kami sampai di area camp pada pukul lima sore. Disana kami berdebat mau ngecamp disini atau di cemara baris. “disini aja,tempat campnya lebih luas sama ada sumber air jugak dibawah” kata saya. Temen yang lain membalas “di cemere baris aja,dekat sama puncaknya biar ndk capek kesana ndk kejauhan jugak”katanya bersikeras. Lalu kami melakukan voting,dan yang terpilih sebagai area camp adalah cemere baris.

Setelah sampai di cemere baris kami pun langsung mendirikan tenda dan membuat api unggun,tapi beberapa teman kami masih jauh dibelakang sana. Saya dan satu teman saya rela kembali mencari mereka. Akhirnya kami menemukan mereka dibawah bukit. “Ada apa ini ?” celetukku “itu kakinya kram” sahut seorang teman yang menopang tubuhnya. Terlihat kaki salah satu dari mereka tengah dipijat menggunakan balsam. “laahhh kok dipijat siih?”gumamku. sebab setauku bukan gitu caranya kalo kakinya kram. Tanpa basa-basi saya langsung mengambil alih dan langsung menekan kakinya ke atas. Guna melancarkan kembali peredaran darahnya.“Ayoo berangkat ,semangat tinggal dikit lagi bakalan sampe di tenda biar saya aja yang bawa carriernya” dengan nada nyemangatin

“ makasi yaa maaf ngrepotin” balasnyaa.

 

kami tidak hanya ingin berdiam diri di area camp, kami juga ingin summit sampai ke puncak tertinggi, yang tingginya nyaris sama seperti gunung rinjani (3.726 mdpl). Kami memulai summit pada pukul 03.30 pagi. Ketika itu hari masih gelap dan jarak pandang kian sempit. Kami menggunakan senter untuk menerangi dan menemukan jalur pendakian. Untuk sampai ke puncak kami menghabiskan waktu sekitar 1 sampai 2 jam.

Ditengah perjalanan salah satu teman kami sakit perut. “wee sakit perut saya nih tungguin bentar saya mau bab”

“iyaudah sana jauh-jauh jangan sampe baunya kecium sampe sini,wkwkwk”dengan serempak  kami pun tertawa. “jangan lupa dicuci sampe bersih,dikubur aja kalo bisa” tambah salah satu dari kami lagi. Lelucon inilah yang membuat suasana yang tadi sangat sepi menjadi ramai kembali.

Akhirnya, kami sampai di puncak gunung pada pukul 04.30. kami perlu menunggu beberapa waktu untuk menunggu datangnya waktu subuh. Matahari pun mulai terbit. Saya sangat takjub melihat panorama alam yang sangat indah, lebih indah dari melihat senyumnya dia. Setelah puas menikmati dan foto-fotoan kami pun kembali ke area camp untuk sarapan pagi dan bersiap pulang. Turun gunung tidak secapek saat mendaki,kami hanya menghabiskan sedikit energy.

Bagi kami ini adalah pengalaman paling mengesankan. Rasa capek, lelah, bahkan putus asa seketika lenyap karena keindahan alam. Sipaling bijak berucap “Mendaki gunung itu sebuah tujuan, tujuan kita untuk sampai ke puncak tertinggi seperti halnya kita menentukan tujuan hidup. Ya,perjalanan ke gunung memang memberikan pengalaman berharga tersendiri, dimana kita bisa bersahabat dengan alam, bahkan menemukan seseorang yang benar-benar menjadikanmu sahabat. Semakin sering kau mendaki semakin bijak perkataanmu.”itulah secuil kisah kami dan amanat bagi kita semua.

RAINAIRA


“RAINA AYOK TURUN SARAPAN”

“IYAA TUNGGU BENTAR MA”

Dengan cepat aku mengenakan seragam dan merapikan buku. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah liburan. Seperti biasa aku bersiap siap dan beginilah keadaannya, mama yang sudah dari tadi menunggu di meja makan untuk sarapan bersama. Dengan segera aku turun menuju ruang makan.

“Beresin buku itu harusnya dari tadi malem Ra. Jangan dibiasaan nyiapin buku pas pagi, gini kan jadinya” kata mama sambil menyiapkan beberapa slice roti dan susu untuk sarapan

“Iya maaf ma, tadi malem Raina ketiduran” jawabku

“Ketidurannya tiap malem ya? Selalu ada aja alasan kamu, mama selalu liat kamu peluk novel ya pas tidur. Jangan terlalu sering begadang apalagi cuma untuk baca novel.”

“Baca novel juga menambah literasi lo ma” kataku sambil menghabiskan sarapan

“Nggak Papanya nggak anaknya sama aja, keras kepala.” kata mama dengan ekspresi kesal

“Iyaaa mamaa, janji deh terakhir” kataku sambil menghabiskan sarapan.

Seperti biasanya, pagi ini aku hanya sarapan bersama mama. Papa yang sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali dan Ragas, saudara laki-lakiku yang entahlah mungkin masih berpelukan dengan bantal kesayangannya.

“Tumben cantik banget Ra, mau ketemu siapa sih?” Kak Ragas yang baru saja turun, terlihat mukanya seperti orang bangun tidur.

“Apasih kak, orang biasanya juga begini” jawabku dengan nada kesal

“Ini wangi banget Ra, biasanya lo nggak mandi juga jadi.”

“Itumah lo ya kak, dasar jorok”

“Udah-udah nanti lagi berantemnya, Ra ayok cepetan itu udh ditunggu sama pak Den” kata mama

“Yaudh Raina berangkat dulu ya ma”

“Hati hati, nanti mama jemput pas pulang jadi jangan kemana mana”

Aku langsung mengacungkan jempol dan berpamitan dengan mama, dan kak Ragas? Mungkin dia sudah kembali lagi ke kamar untuk melanjutkan tidurnya. Di sepanjang perjalanan, aku hanya diam menikmati alunan lagu yang berasal dari handphone ku. Membayangkan apa saja yang akan ku lakukan hari ini di sekolah, apakah ada novel pengeluaran terbaru di perpustakaan hari ini, apakah ada menu baru di kantin hari ini atau mungkin saja ada murid pindahan. Aku tersadar saat pak Den menghentikan mobil tepat di depan gerbang sekolah. Aku keluar dari mobil dan memasuki wilayah sekolah, dengan wajah tersenyum berharap bahwa hari ini akan ada sesuatu yang membuat suasana hatiku lebih baik.

 

Jam sudah menunjukkan pukul 15.00, aku menunggu mama yang tadi pagi sudah berjanji akan menjemputku. Hari ini berjalan seperti biasanya, tidak ada yang special. TIN..TIN.. aku seperti mengenal suara itu. Benar saja, saat aku menengok keluar gerbang, sudah ada papa yang menunggu.

“Mama nggak bisa jemput, masih ada urusan sama klient”

Aku hanya ber-oh saja. Aku sudah memperkirakan hal ini akan terjadi, mama yang akhir-akhir ini memiliki banyak pertemuan dengan klient dan mengurus butiknya yang sedang padat dipenuhi pesanan. Hening. Tidak percakapan antara aku dan papa selama perjalanan pulang. Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamar untuk mengganti baju dan istirahat. Baru saja ingin melangkahkan kaki ke tangga, papa memanggilku.

“Kamu kuliah disini. Papa nggak izinin kamu buat kuliah di luar negeri”

Seketika aku langsung menghentikan langkah kakiku.

“Raina tetap mau kuliah di luar, biarin aku nentuin kemauan aku sendiri”

“Papa akan daftarkan kamu di kampus Ragas. Jangan membantah”

“Nggak mau pa, aku tetap mau kuliadh di luar”

“Mau jadi apa kamu? Setiap hari bisanya cuma ngebantah perkataan orang tua” kata papa

“Ngebantah papa bilang? Aku nggak bakal kayak gini kalau papa mau dengerin aku, kalau papa mau ngertiin aku. Aku dari dulu nggak pernah minta yang aneh aneh kok sama papa. Papa mau dengerin aku aja udah cukup buat aku pa. Udah deh pa aku capek” Kataku.

Aku langsung meninggalkan papa yang masih berdiri di depan tangga. Aku berjalan menuju kamar dan menguncinya. Mataku mulai berkaca-kaca. Selalu saja seperti ini, papa dengan sifat egois dan keras kepalanya.

“Kak Naira kenapa ninggalin Raina secepet ini. Kakak udh janji sama Raina untuk selalu ada sama Raina. Cuma kak Naira yang selalu pengertian sama Raina. Raina sendirian kak” kataku sambil mengangis. Sejak 6 tahun yang lalu, setelah kematian kak Naira kehidupanku berubah 180 derajat. Terutama papa yang sampai sekarang masih saja menyalahkanku atas kematian kak Naira. Dimana papa yang dulu? Dimana papa yang selalu dengar cerita-ceritaku?. Hari pertama sekolah, yang kuharapkan ada kabar gembira yang bisa mengisi diary kebahagiaanku. Bahkan hari ini aku sama sekali tidak mendapatkannya.

 

 

Seharian ini aku hanya berdiam diri di kamar, keluar hanya untuk makan. Untung saja mama mengerti dan memintaku untuk istirahat. Setelah pertengkaran kecil tadi, aku belum melihat papa lagi. Aku mengambil hp di meja dan langsung membuka whatsapp. Ku lihat sebuah notifikasi sebuah grup yang pesannya sudah mencapai dua ribu. Entah apa yang sedang dibicarakan teman kelasku sampai hp ku sedari tadi tidak berhenti berbunyi karena banyaknya notofikasi yang masuk. Lalu aku tertarik dengan satu notifikasi yang masuk. Jefan, sahabat sekaligus teman ceritaku. Sejak sd kami sudah saling mengenal dan mulai dekat saat SMP sampai sekarang. Aku membuka notifikasi itu dan membacanya. “Ra, kerjain tugas Bahasa Indonesia yuk. Gue langsung tunggu di tempat biasa ya. Jangan lama-lama”. Aku langsung turun dari Kasur dan bersiap-siap.

“Ma Raina pergi dulu ya, sama Jefan kok”. Tidak ada jawaban.

 “Mau kemana kamu?”. Itu bukan mama. Aku menoleh ke sumber suara dan mendapati papa yang berjalan dari arah dapur masih dengan pakaian kantornya, sepertinya baru pulang.

“Aku mau kerjain tugas sama Jefan” kataku

“Nggak bisa kamu kerjakan sendiri? Balik ke kamar. Jangan pernah berani keluar lagi apapun alasannya. Belajar sekarang, persiapkan untuk ujian akhir” Kata papa sedikit emosi

“Papa kenapa sih? aku keluar juga buat belajar pa. Papa nggak bisa terus-terusan kekang Raina” kataku

“Kenapa kamu tidak bisa seperti Naira? Keras kepala, egois. Coba kamu seperti Naira yang selalu dengar perkataan papa”. Aku tidak suka jika papa sudah seperti ini, menganggap bahwa aku bisa seperti kak Naira. Mengharuskan aku untuk bisa seperti kak Naira.

“Papa nggak bisa terus terusan samain aku sama kak Naira. Kita beda pa. Aku juga bukan kak Naira yang selalu nurutin kemauan papa. Aku juga nggak mau jadi orang yang keras kepala, orang yang egois. Tapi kenyataannya papa juga sama kan, egois. Semua kemauan papa harus dituruti. 6 tahun pa. Apa papa nggak capek kayak gini terus? Aku capek. Kapan papa bisa maafin aku atas kematian kak Naira?”

“Terus sekarang mau kamu apa? Seharusnya kamu sadar sama kesalahan kamu.”

Papa pergi begitu saja meninggalkanku di teras. Ku kira hari ini semuanya akan selesai, aku kira hari ini aku bisa memeluk papa lagi. Hari ini lagi dan lagi ekspetasiku dipatahkan oleh kenyataan.

 

 

 

Keesokannya, aku tidak masuk sekolah karena kepalaku yang pusing dan demam. Mama yang seharusnya mendatangi pertemuan bersama klient hari ini dibatalkan,ingin menemaniku katanya.

“Gimana Ra? Demamnya udh turun ni” tanya mama

“Lumayan ma, tapi masih pusing aja” jawabku

“Raina, apa nggak capek kayak gini terus sama papa? Mau sampai kapan nak?”

“Aku harus jelasin gimana lagi ke papa ma? Mama tau sendiri papa itu keras kepala. Kenapa papa selalu ingin aku seperti kak Naira? Aku pengen jadi diriku sendiri ma. Aku nggak bisa sehebat kak Naira, aku nggak bisa sepintar kak Naira. Yang aku butuhin Sekarang cuma papa yang dulu. Bukan papa yang sekarang, selalu nyalahin aku selalu banding-bandingin aku. Aku nggak sekuat itu, aku juga capek ma. Tapi papa nggak pernah ngerti.” Aku meluapkan semua beban dan kesedihanku pada mama. Aku selalu menyembunyikan semua kesedihanku selama ini, berharap bahwa aku bisa menyelesaikannya sendiri. Tapi kenyataannya? Aku kewalahan. Aku kehabisan cara bagaimana agar papa mau memaafkanku. Mama dan kak Ragas juga sering membicarakan hal ini pada papa bahwa semua ini hanya kesalah fahaman dan tidak mungkin aku sengaja melakukan itu pada kak Naira. Tetapi omongan mama dan kak Ragas tidak dihiraukan oleh papa. Kak Naira adalah anak kesayangan papa, dari kecil kak Naira sudah banyak meraih prestasi. Aku dan kak Ragas tidak seperti kak Naira, kami berbeda dengan karakternya masing masing. Sebelum kak Naira meninggal, papa tidak seperti ini. Aku juga selalu disayang oleh papa, tidak ada perbedaan antara aku, kak Naira dan kak Ragas. Papa juga tidak pernah memaksaku untuk melakukan ini dan itu. Tapi setelah kak Naira pergi, aku selalu dituntut oleh papa untuk bisa seperti kak Naira. Aku mencoba untuk tidak menangis saat bercerita dengan mama, tapi tidak bisa. Bahkan sekarang terlihat mama yang sedang mengusap pipinya, mama juga menangis.

“Mama nggak tau kalau kamu sampai kayak gini. Kamu kenapa nggak pernah cerita, Ra?” tanya mama dengan muka sembab karena menangis

“Aku nggak mau pikiran mama terganggu. Aku bersyukur hari ini mama bisa dengar cerita aku”.

Aku berharap, semua masalahku dengan papa cepat selesai. Aku cuma butuh papa.

“Kak  Naira bantuin Raina dari sana ya” gumamku dalam hati.

 

 

 

Seminggu telah berlalu. Sepertinya hari ini akan melelahkan, semua pelajaranku sangat tidak bersahabat. Aku segera turun kebawah untuk sarapan.

“Kak Ragas, tumbenan udah bangun? Ada apanii” kataku setelah melihat kak Ragas yang sudah menyantap sarapannya. Tumben sekali dia bangun cepat.

“Tebak sendiri” kata kak Ragas sambil memakan roti slai coklat

“Lo mau ngapelin orang ya? Hati-hati kak kalau masih pagi biasanya nggak direstuin” Melihat penampilan kak Ragas yang serapi ini, bisa saja hal itu terjadi.

“Sembarangan kalau ngomong. Ini itu lebih penting dari sekedar ngapelin orang. Menyangkut masa depan.”

“Lho mama kira Raina udh tau, kak Ragas mau ujian skripsi” kata mama yang tiba-tiba saja datang dari arah dapur.

“Serius mau ujian skripsi lo? HAHA akhirnya kelar juga. Semoga nggak lulus ya kak” kataku dengan nada ejekan

“Punya adek gini amat, doa itu yang baik biar besok nular juga” Kata kak Ragas sambil merapikan kemejanya.

“Iya iyaa semoga lancar terus nanti kalau lulus jangan lupa traktir Raina, minimal 2 novel lah ya”

“Kebiasaan banyak maunya. Yaudah ayok cepetan ntar telat” kata kak Ragas

“Lho Raina berangkat sama kak Ragas? Nggak salah denger ni. Tumben banget, kesambet apaan lo kak?” kataku dengan semangat. Bagaimana tidak, terakhir kali kak Ragas mengantarku ke sekolah saat aku kelas 10, itupun hanya satu kali. Kak Ragas selalu beralasan ke mama agar tidak mengantarku, sampai sekarang aku juga tidak tau alasannya kenapa. 3 tahun ini aku selalu ke sekolah bersama pak Den.

“Udah ah nggak usah banyak tanya, ayok cepet”

“Sabar dikit bisa kan kak. Ma, Raina sama kak Ragas berangkat dulu” kataku samil mencium tangan mama

“Iyaa belajar yang rajin Ra. Kak jangan lupa jagain adeknya, jangan ngebut-ngebut” kata mama

“Iyaa maa. Yok Ra”.

Selama di perjalanan, aku menceritakan banyak hal dengan kak Ragas. Mulai dari kak Ragas yang menceritakan lika liku pengerjaan skripsinya, aku yang juga menceritakan tentang keseharianku dan juga masalahku dengan papa yang masih belum selesai. Tidak terasa, mobil kak Ragas sudh berhenti di wilayah sekolah.

“Belajar yang rajin, nanti kalau pulang jangan kemana-mana, tunggu disini aja. Masalah papa nggak usah dipikirin dulu” kata kak Ragas

“Iya kak tauu, Raina masuk dulu. Jangan lupa novelnya kak”

Kak Ragas langsung melajukan mobilnya menjauhi area sekolah.

 

 

 

“Raina, aku duluan ya”

“Iyaaa, hati-hati”

Hari ini aku telat keluar kelas, karena ada beberapa tugas yang harus ku selesaikan. Sekolah sudah sepi, hanya menyisakan beberapa siswa yang sedang menunggu jemputan dan beberapa pedagang jajanan yang bersiap-siap untuk pulang. Kak Ragas baru saja menelpon dan akan menjemputku. Aku menunggu kak Ragas di halte sekolah sambil melihat kendaraan yang berlalu Lalang. Tetapi ada yang menarik perhatianku. Dari kejauhan aku melihat sesuatu tepat berada di tengah jalan, seekor anak kucing. Sepertinya dia tidak bisa berjalan. Aku melihat keadaan jalan yang cukup sepi, sepertinya aman untuk aku berjalan menuju tengah dan mengambil kucing itu. Saat hendak melangkah, tiba-tiba saja mobil dengan kecepatan tinggi datang ke arahku. Badanku tiba-tiba terasa kaku, ingin berbalik arah namun kakiku seperti mati rasa. Aku mencoba untuk menghindar tetapi seperti ada sesuatu yang menahanku. BUUGGHH!! Pada saat yang bersamaan aku merasakan tubuhku yang melayang. Apa-apaan ini, mengapa aku tidak bisa merasakan berat tubuhku. Dan aku baru tersadar setelah tubuhku jatuh ke aspal. Area sekolah yang tadinya sepi, kini sudah kulihat orang ramai datang ke arahku. Apa yang terjadi padaku beberapa detik yang lalu?? Mengapa ada banyak orang yang datang kearah ku?. Saat itu pulaAku merasa seperti dejavu.

 

 

 

6 tahun yang lalu

Sudah hampir 2 jam aku menunggu disini, sendirian. Sedari tadi anak-anak lain sudah dijemput dan sekarang hanya menyisakan aku dan dua anak lainnya yang aku sendiri juga tidak kenal, mungkin saja mereka anak kelas 4. Hari ini adalah hari pertama sekolah dimana aku sudah naik kelas 6 sd. Tadi pagi papa sudah berjanji akan menjeputku, tapi sampai sekarang juga tidak ada tanda-tanda mobil papa akan datang.  

“RAINAA”

Dengan cepat aku menoleh ke sumber suara. Kak Naira yang sekarang sudah berada di seberang jalan. Sejenak aku berpikir,  untuk apa kak Naira kesini? Apa mau menjemputku? Tidak seperti biasanya. Bisa dibilang sekolahku dengan kak Naira lumayan jauh jika ditempuh dengan jalan kaki. Ah iya aku lupa, kemarin aku sudah berjanji dengan kak Naira untuk pergi ke toko buku yang letaknya berada di sebelah sekolahku. Kak Naira ingin membeli beberapa buku pelajaran SMP, aku juga membutuhkan beberapa alat tulis. Dari seberang ku lihat kak Naira memberi isyarat “kamu tunggu disitu aja, biar kakak yang nyebrang”. Aku meng-iya kannya dengan anggukan kepala. Kak Naira melihat kekiri dan kanan, aman. Kak Naira datang ke arahku dengan sedikit berlari, saat itu juga aku melihat dari kejauhan sebuah mobil putih yang datang kearah kak Naira dengan kecepatan tinggi.

“KAK NAIRA AWASS!!”

Aku berteriak dan dengan segera aku pun ikut berlari kearah kak Naira. BUUGGHH!! Langkahku terhenti, aku terlambat. Apa yang baru saja terjadi dengan kak Naira? Aku masih belum bisa berpikir jernih. Aku melihat darah yang mengalir dari kepala kak Naira. Mobil putih tadi langsung pergi setelah mendapati kak Naira yang tergeletak di aspal. Aku bingung harus melakukan apa pada saat seperti ini. Aku hanya berdiri melihat kak Naira yang masih setengah sadar, lalu melihatku sekilas seperti orang yang meminta pertolongan. Dengan langkah cepat aku berbalik memasuki sekolah, berharap ada orang yang bisa membantu. Tanpa kusadari, aku menangis. Ku lihat seluruh area sekolah, kosong. Kemana semua orang? Seakan memang inilah yang ditakdirkan tuhan, aku tidak tau harus meminta pertolongan kepada siapa. Aku berlari lagi menjauhi area sekolah. Saat keluar, aku sudah tidak melihat kak Naira lagi. Kak Naira dimana? ak Naira sudah tidak ada dan hanya menyisakan darah di jalanan. Aku melihat mobil hitam milik papa dengan papa yang sudah berada di kursi kemudi. Sudah dipastikan bahwa kak Naira ada disana. Baru saja aku ingin berlari menghampiri papa, mobil papa sudah berjalan menjauhi sekolah.

 

 

“Kamu sudah puas setelah buat Naira meninggal? Kemana saja kamu saat Naira minta pertolongan?”

Aku hanya diam sambil menangis. Hari itu juga aku ditinggal oleh orang yang paling aku cintai. Kak Naira tidak bisa diselamatkan setelah dokter menjelaskan bahwa ada pendarahan yang parah di otaknya.

“JAWAB PAPA RAINA”

“Udah pa udah, nggak mungkin Raina ngelakuin ini”. Kata mama membelaku

“Urus anak mu itu. Raina, jangan harap papa bisa memaafkan kamu”

Papa  pergi begitu saja. Aku berlari menuju kamar untuk menenangkan diri. Aku mendapati kak Ragas yang sedang duduk di kamar kak Naira dengan kepala tertunduk. Tanpa bertanya pun aku sudah tau, kak Ragas menangis. Aku masuk kamar dan mengunci pintu, menangis dan menyesali apa yang sudah kuperbuat pada kak Naira. “Kak, maafin Raina”.

 

 

 

Tut…..Tut….. Tut….. dengan samar-samar ku dengar suara itu diiringi dengan suara tangisan. Muncul banyak pertanyaan di dalam pikiranku. Siapa yang sakit? Siapa yang meninggal? Siapa juga yang sedang menangis dan mengapa? Perlahan aku mencoba untuk membuka mata. Putih, seperti bukan di kamarku, lalu aku dimana?. Suara tangisan itu semakin keras saat aku sudah membuka mata sepenuhnya. Mama? Mengapa mama menangis? Aku juga melihat ada kak Ragas dan papa yang berjalan kearah ku. Pikiranku semakin dipenuhin pertanyaan setelah melihat kak Ragas bahkan papa juga ikut menangis. Tolong jelaskan sekarang, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Mama langsung memegang tanganku dan mengelus kepalaku.

“Rainaa, mama tau kamu kuat sayang. Maafin mama sayang, mama belum bisa jaga kamux denxgan baik” tangisan mama semakin deras. Aku mulai sadar, ini memang bukan di rumah ataupun dikamar tapi tempat dimana pada saat itu kak Naira dinyatakan sudah tidak ada oleh dokter. Kak Ragas menghampiriku dengan membawa sebuah totebagdi tangannya.  

“Dek, kakak lulus skripsi. Lihat, ini novel yang Raina mau kan. Kakak tau Raina bakal sembuh, nanti kita baca bukunya bareng-bareng yaa. Maafin kakak” Kak Ragas yang juga sudah memegang tanganku. Setelah aku hidup selama 18 tahun, baru kali ini aku mendengar sebutan ‘dek’ dari kak Ragas. Aku ingin membalas semua ucapan mama dan kak Ragas, tapi tidak bisa. Seperti ada sesuatu yang menahanku, rasanya sangat tidak enak. Aku hanya tersenyum tipis, tipis sekali bahkan mungkin semua orang tidak akan tersadar bahwa aku sedang tersenyum. Aku melihat papa yang berjalan mendekati ranjang ku, matanya sudah sembab. Tiba-tiba papa memelukku dengan keadaan ku yang masih berbaring. Papa juga sempat mencium keningku. Sudah lama, lama sekali aku menunggu hari ini terjadi. Meskipun aku tidak bisa membalas pelukan papa, tetap saja aku bahagia.

“Maafin papa, jangan tinggalin papa lagi kayak Naira. Papa janji bakal jagain Raina. Maafin papa.” Aku merasa lega, aku merasa beban yang selama ini memenuhi hari-hariku sudah hilang. Papa yang dulu sudah kembali.

“Pa, apa Raina harus gini dulu baru papa mau maafin Raina? Apa Raina harus masuk rumah saki dulu baru papa mau maafin Raina? Kalau memang iya, Raina tetep senang pa. Raina nggak pernah sama sekali membenci papa, Raina selalu sayang sama papa. Raina harap papa bisa tepatin janji papa ke Raina entah kapanpun itu. Papa jangan pernah menyesal punya anak seperti Raina ya. Semoga papa selalu bahagia dalamkeadaan apapun. Makasih papa yang udh mau maafin Raina. Raina sayang papa.” Kataku dalam hati sebelum aku kembali menutup mata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Double R


“ROSI ROSI CEPET BUKA GAK!!!” teriak seorang gadis yang sudah emosi sejak tadi sambil mengetuk pintu kamar dengan tidak sabaran

“ROSI CEPET BUKA ATAU GUE DOBRAK PINTU KAMAR LO”

“Berisik tau gak sih” balas Rosi, pemuda yang sudah daritadi ditunggu untuk membuka pintu menampakkan diri dengan wajah tidak berdosanya dihadapan gadis yang sedang berkacak pinggang dengan wajah penuh emosi

“Birisik tii gisih, bisa bisanya lu bilang gitu??!!”

“Apaansih dari tadi bunda denger ribut banget kalian berdua” tiba tiba Bunda datang sambil membawa spatula yang sepertinya sedang digunakan untuk memasak

“Ini nih Bunda, kemarin tuh earphone ku masih baik baik aja, liat habis dipinjem sama Rosi malah jadi bentukan rambut kusut mana tuli sebelah lagi” adu Rose pada bunda sambil merengek

“Rosi…jangan gitu dong nak, kamu tau kan itu barang pertama yang adikmu beli dengan uangnya sendiri..” nasihat Bunda dengan lembut

“Iya Bunda, Oci minta maaf” tunduk Rosi dihadapan Bunda

“Kamu jangan minta maaf ke Bunda, minta maaf sama adikmu tuh” sambil mengusap kepala anak sulungnya itu. “Bunda tinggal dulu, kalian jangan berantem terus, kasian Ayah gabisa fokus baca korannya tuh” tunjuk bunda ke lantai bawah dimana terlihat Ayah dengan kacamata, kopi, dan koran kesayangannya.

Setelah 1 menit Bunda meninggalkan dua insan yang masih enggan untuk mengeluarkan suara, Rosi masuk ke dalam kamarnya lalu menguncinya, meninggalkan Rose yang masih berdiam diri menunggu permintaan maaf Rosi.

“Ih siapa sih punya kembaran, gitu amat. Udah ngerusakin ga tanggung jawab, minimal minta maaf kek!” sambat Rose yang sudah amat kesal dengan kelakuan kembarannya itu.

Malamnya, Rosi dan Rose tampak bermain play station di ruang tengah. Ya, tadi pagi seperti angin lalu saja bagi mereka, sudah kegiatan rutin bagi mereka untuk bertengkar. Jika tidak ribut, seperti ada yang kurang saja dalam hidup mereka.

“Ci, ci, awas tuh di kiri lo ada musuh, gitu aja kagak liat, pantes kalah *wlee*” ejek Rose melihat sejak tadi Rosi tidak bisa memenangkan game yang telah mereka mainkan selama 2 jam

“Iya bawel banget dah lo, gue juga punya mata kali bisa liat!” kesal Rosi yang sudah diejek terus oleh Rose

Benar saja, akibat musuh yang diberitahu oleh Rose, tidak lama kemudian Rosi game over. Terdengar tawa puas dan mengejek dari Rose yang membuat Rosi semakin menekuk wajahnya. Tiba-tiba Bunda datang dengan cookies di tangannya
“Udah udah, jangan ejek kakakmu terus dek” ucap Bunda karena ia tahu tidak lama lagi, dua insan tersebut akan memulai keributan di dalam rumah.

“Tuh dengerin Bunda! Ngeselin banget, pantesan kagak ada yang mau sama lo, malem minggu kok dirumah, gada cowo ya lu” kata Rosi sambil mengambil cookies yang dibawa Bunda, dan mencelupkannya kedalam susu milik Rose.

“Apaansih, kok jadi bahas cowo, dikata lu juga punya?? ngaca!! Lu juga malmingan dirumah kaliii” sanggah Rose tidak mau kalah.

“Udah udah…kalian ini daritadi ribut terus, Ayah capek dengernya…” ucap ayah yang tiba tiba saja sudah berdiri di belakang mereka

“Maaf yah” ucap kembar tersebut bersamaan. Jika sudah dihadapan sang Ayah, mereka langsung terlihat seperti harimau yang telah dijinakkan.

Ting! Bunyi notifikasi ponsel Rosi, bergegas Rosi segera mengecek ponselnya tersebut, seakan akan ia sudah menunggunya dari tadi. Tidak lama kemudian ia berpamitan dengan Ayah dan Bunda “Oci pergi dulu ya bun, yah, sebentar aja kok, sebelum jam 11 Oci balik” Bunda dan Ayah hanya tersenyum melihat punggung putranya yang sudah hilang dibalik pintu utama rumah mereka tersebut.

“Siapadeh, habis liat notif terus senyum senyum, habis itu langsung pergi” Rose tampak curiga dengan kelakuan kembarannya tersebut.

Tidak hanya malam ini Rosi bertingkah mencurigakan seperti ini, Rose sudah menyadarinya kurang lebih 2 minggu. Selalu mengecek ponselnya setiap detik menit, jika ada notif ia langsung menuju kamar atau tersenyum melihat ponselnya tersebut.

“LAH, MASA DIA UDAH ADA CEWE????!!!!” teriak Rose sadar setelah menganalisa tingkah aneh kembarannya tersebut. “Bun, Yah masa sih Oci ada cewe, ga mau ya akuuuuuu. Kalau dia ada cewe, Oce juga harus ada cowo” rengek Rose seperti anak kecil yang tidak ingin kalah dengan tetangganya jika memiliki mainan edisi terbatas.

“Gaboleh gitu dong sayang…ya masa kalian mau harus samaan terus..” ucap Bunda berusaha menenangkan putri kesayangannya.

“Iya dong Bun!” seru Rose, tetap kekeh.

Sementara itu Ayah yang tidak tahu lagi harus menenangkan putrinya dengan cara apa, malah memainkan play station. Karena ia tahu, jika penyakit keras kepala Rose kambuh, sangat sulit untuk menasihatinya.

Sudah pukul 22.30 belum ada tanda tanda kepulangan Rosi, sementara itu Rose masih setia menunggu kembarannya itu di ruang tengah.

Suara gerbang dibuka dan ‘stater’ motor masuk ke telinga Rose dan betul saja, orang yang sudah ditunggu-tunggu oleh Rose membuka pintu sambil mengucapkan “Assalammualaikum” dan tidak lupa ditangannya ada kresek yang dari luar saja sudah tertebak isinya, yup martabak manis, makanan kesukaan Rose.

“Kemana aja lu, habis nongki sama tongrongan lu, apa jalan sama cewe” sewot Rose

“Baru pulang dimarahin! Nih makan martabak manis” kata Rosi mengikuti nada iklan permen yang setara dengan 1 gelas susu. Sekaan akan Rosi sudah menebak kembarannya tersebut akan mengomel, jadi ia sudah menyiapkan sogokan yang paling ampuh.

Tapi, sayangnya sogokan Rosi kali ini tidak berhasil, karena Rose sudah benar-benar dipuncak rasa ingin tahunya.

“Jawab pertanyaan gue!!! Gausa lagak bawain gue martabak manis” kekeh Rose memaksa Rosi untuk memberitahunya

“Emang kenapasi, kepo amat” Rosi pun tetap tidak ingin memberitahu kembarannya tersebut

“Ya emang kepo!” ucap Rose sambil menghentakkan kaki “Lu kalau punya cewe bilang, masa lu udah ada cewe gue masi jomblo disini, gak adil tau gak!” sambung Rose yang masih saja menghentakkan kakinya ke lantai ruang tengah dan menekuk wajahnya

“Dih ngapain bilang bilang lu, ga ada hubungannya kali. Gue mau punya cewe apa gak, mau jalan sama cewe apa gak, juga ga ada hubungannya sama lu. Gausa kepo deh lu jadi orang, berisik” balas Rosi

Rose langsung saja meninggalkan Rosi yang masih ada di ruang tengah ke dalam kamarnya, dan menutup pintu kamarnya dengan kencang. Rosi memang merasa kata-katanya sedikit keterlaluan, tetapi ia tidak terlalu memusingkan hal itu, karena ia yakin esok paginya pasti mereka akan bertingkah seperti biasa.

Keesokan paginya, Rose langsung berpamitan kepada Bunda dan Ayah yang sedang berada di ruang makan, tentu saja disana ada Rosi yang sedang menyantap sarapannya.

“Loh, Oce gak sarapan dulu??” Bunda merasa heran, karena ia tau Oce sangat tidak bisa melewatkan sarapannya, terlebih lagi sarapan pagi itu adalah nasi goreng buatan bunda, makanan favoritnya nomor 1 di dunia ini.

“Gak Bunda, tadi Oce udah makan roti di kamar kok, Oce duluan ya” Rose langsung meninggalkan ruang makan tersebut

“OCE BERANGKAT SAMA SIAPA? INI OCI MASIH SARAPAN, NAK” teriak sang Ayah

“SAMA TEMEN, YAH” balas Rose yang sudah berada di depan pintu

“Adikmu kenapa?? Tumben gamau berangkat sama kamu, gak sapa kamu juga pagi ini” tanya Bunda terheran-heran

Rosi mengangkat bahunya “Gatau juga Bun, emang lagi badmood mungkin, paling nanti juga kaya biasa”

Jujur Rosi merasakan bahwa Rose menghindarinya pagi ini. Sejak turun tangga Rose berusaha untuk tidak menatap wajahnya, ia merasakan semua itu.

Saat di sekolah pun, Rose tidak menyapanya, tidak pergi ke kelasnya untuk meminta uang jajan, tidak merusuhinya. Rosi berfikir apakah ini karena perkataanya semalam tadi atau hal lain.  

Sudah 5 hari berlalu, perang dingin yang dibuat oleh Rose terus berlanjut, sang Bunda dan Ayah pun merasa bingung ada apa dengan anak kembar mereka yang biasanya selalu ribut, tetapi sekarang mereka tidak saling menyapa, untuk saling bertatap mukapun enggan. Begitupun dengan Rosi, ia berusaha untuk menanyakan ada apa dengan kembarannya tersebut, tetapi Rose punya 1001 cara untuk menghindarinya.

“Rose, ayolah jangan begini, buka pintunya gue mau bicara” Rosi sudah jengah dengan tingkah laku Rose yang mendiamkannya tanpa ia tau apa sebabnya

Tidak terdengar adanya jawaban dari kamar Rose

“C’mon Ce, gue gamau kita terus gini, at least I know why you act like this” Rosi masih terus berusaha

Rose yang ada di dalam kamar mendengar semuanya, ia tahu jika Rosi sudah menggunakan Bahasa Inggris maka artinya ia sudah sangat serius. Rose berjalan untuk membuka pintu yang terkunci.

“Oh my god! Finally” terlihat ekspresi bahagia di raut wajah Rosi

“Apa? Cepet, gue mau lanjut nugas” ucap Rose di depan pintu kamarnya, ia enggan untuk mempersilahkan kembarannya masuk ke dalam kamarnya

“Apa salah gue? Tell me. Jangan diemin gue terus kaya gini” Rosi sudah sangat frustasi untuk mencari tahu mengapa kembarannya yang satu ini mendiamkannya

“Lah, lo peduli?? Kan gue gada hubungannya di hidup lo” jawab sarkas Rose

“Jangan bilang begitu Ce, you’re my twins, ya lo pasti selalu ada hubungannya sama gue” ucap Rosi dengan lembut namun terdengar ke frustasian dalam kalimatnya tersebut

“Lawak, lu yang bilang gitu di ruang tengah, sekarang lo bilang gue selalu ada hubungannya sama lo??” terdengar tawa sinis dari mulut Rose

“Cuma gara-gara perkataan malem itu lu kaya gini, Ce? Really?” tanya Rosi dengan wajah yang tidak percaya

“CUMA??!! Cuma lo bilang??? gue tungguin lo pulang malem itu yang biasanya gue udah di kamar asik nonton Netflix kesayangan gue. Gue bukan gamau lu punya pacar, tapi gue cuma takut lu bakal lebih asik sama pacar lu, bakal lebih sayang sama pacar lu, lupain gue, gamau anter jemput gue lagi, gak mau dengerin cerita random lagi, dengan ekspresi dan tingkah laku lu yang selalu nunggu notif dari hp l uterus senyum senyum sendiri, gue Cuma takut lu pergi dan gak sayang sama gue lagi CUMA itu” dalam sekali tarikan nafas, semua kata-kata yang berusaha Rose tahan selama 5 hari lolos keluar dari mulutnya itu, matanya sudah terlihat berkaca-kaca

Rosi terlihat terkejut setelah mendengarkan apa yang Rose katakan, ia langsung membawa kembarannya itu ke dalam pelukannya, dan mengusap punggung Rose dengan halus.

“Astaga, ternyata bisa mikir gitu juga kembaran gue yang satu ini. Cup, cup, cup, masa gue bisa tinggalin bocil kaya lu, bisa-bisa dipukul gue sama Ayah. Gue kemarin lagi nunggu paket action figure limited edition gue, makanya cek notif terus. Gada yang cewe-cewean, kan Ayah juga suruh fokus sekolah dulu sama jagain lu, mana bisa gue cari pacar udah dikasi tanggung jawab gitu, ya walaupun gue tau gue ganteng banyak yang mau. Udah gausa nangis” terdengar nada sangat percaya diri dalam kata-kata Rosi

Rose yang semulanya ingin menangis, malah tidak jadi dikarenakan kata-kata Rosi yang terakhir, ia melepaskan diri dari pelukan Rosi dan membuat wajah seakan-akan ia mendengarkan kata paling menjijikkan di dunia

“Idih, malah jadi over pd lu! Gada yang nangisin lu juga *wlee*” balas Rose dengan wajah tengilnya

“giidi ying ningisin katanya, liat tuh ingus lu hampir keluar” tunjuk Rosi ke wajah Rose

“MANA ADA!!” teriak Rose tidak terima dikatakan ingusnya hampir keluar

Tawa mereka pecah seketika, menertawakan hal yang sudah terjadi 5 hari belakangan ini. Tiba-tiba Bunda dan Ayah datang

“Nah gini kan enak, adem diliatnya. Bunda lebih suka liat kalian ribut daripada diem-dieman kaya kemarin, Ayah kalian sampe cari di google cara memperbaiki hubungan anak yang rusak” ejek Bunda sambil melihat Ayah

“Bunda, jangan dibocorin dong!” seru Ayah tidak terima

Bunda, Rosi, dan Rose tertawa mengejek Ayah, dan suasana rumah kembali seperti semula.

 

 

 

 

BUNDAHARAKU

 Sunyi sekali ruangan dengan cat putih dengan dinginnya AC bersuhu 26 derajat celcius, 1 bulan di sini membuat si bungsu rindu kehangatan di rumah kuning miliknya. Ia amati dengan seksama wajah lembut milik wanita dewasa yang ada di depannya, menyadarkan si bungsu bahwa sang bunda sudah tak sejaya dulu lagi.

Bunda yang ia sayangi kini sudah tua, tangan besar nan halus yang digenggamnya kini layu terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang VIP kamboja. 1 minggu berlalu, namun ia masih saja setia menemani dan menanti kapan sang bunda sembuh dari penyakitnya.  

“hmm…” geram sang bunda memperbaiki posisi tidurnya.

Si bungsu tersadar dari lamunan kecilnya, kemudian ia palingkan wajahnya untuk menatap jam dinding, ternyata sudah menunjukkan pukul 4, sudah waktunya solat. Di lepaskan tangan yang tadinya ia genggam untuk mengambil air wudhu lantas segera melaksanakan solat. Setelah wudhu dan memakai mukena kuning kesukaannya, ia kemudian berdiri dan memusatkan pandangan pada sejadah lalu mulai menunaikan solat asar. Diakhir doa solatnya, dengan posisi terduduk di tempat, ia panjatkan doa untuk sang bunda,,

“Ya Allah, sembuhkanlah bundaku, aku masih belum bisa membahagiakannya di dunia ini..”

Lirih doa yang terpanjat, berharap bisa dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa

****

Perkenalkan, namaku Lailani, si Bungsu. Umurku 13 tahun. Aku anak ke-3 dari 3 bersaudara. Kakak pertamaku perempuan, namanya Ulfi, perawat biasa di rumah sakit dan yang kedua namanya Haqi, seorang bussines man. Aku tidak pernah akrab dengan mereka karena usia yang terpaut cukup jauh, jadi aku lebih senang bermain ke rumah teman-teman di sekitaran rumah, yang usianya sebaya denganku. Kedua kakakku sering memanggilku ‘penyu’, singkatan dari ‘PENYUSAH’ karena katanya aku anak yang manja dan selalu menyusahkan orang tua dengan segala kebutuhan yang ada.

“Bun, beliin jaket dong!!! Jaketku warnanya jelek, aku maunya jaket warna kuning!!” ucapku sambil berdecak pinggang, menginginkan jaket baru seperti milik kak Ulfi.

“Iya sayang, nanti ya kita ke toko mira” jawab Bunda

“Kok Toko Mira?!?!?, aku maunya di Uniqlo yang di Mall itu”

“Besok ya pas libur, biar sekalian jalan-jalan” kata bunda mencoba menghiburku yang menunjukkan wajah kecut karena kesal dengan jawaban bunda yang sebelumnya.

“Asikkk!!, dibeliin jaket sama bunda. Yeyeyeeeeeee”

“Sebagai gantinya,, Lail harus belajar yang rajin, biar bisa beli jaket sendiri nanti di masa depan, Oke?”

“Siap Bundahara” Jawabku sambil cengengesan saking senangnya.

Itulah aku, mungkin saja kakak kakakku iri dengan apa yang ku punya, makanya aku disebut ‘penyu’. Tapi, mereka sepertinya lupa siapa aku, si anak bungsu yang selalu menjadi harapan terakhir keluarga. Apa yang aku mau harus selalu dibayar, yaaa dengan kata lain selalu dituntut untuk bisa lebih sukses dari kakakku. Awalnya aku siap siap saja dengan hal itu dengan pikiran kekanak kanakanku, namun seiring berjalannya waktu menginjak masa remaja, aku tumbuh menjadi anak yang pemalas, kata orang sih masa kenakalan. Lambat laun, aku juga mulai bosan mendengar tuntutan yang selalu menekanku. 

“Lail, udah belajar?”

“Lail tinggalin dulu TV-nya, ayo makan!”

“Lail jangan lupa solat!”

Kalimat singkat namun terdengar bagai ceramah panjang yang selalu terdengar setiap hari. Sesosok wanita dewasa yang kusebut bunda, cerewet luar biasa demi mengingatkan anak anak nya untuk selalu disiplin memanfaatkan waktu dengan sebaik baiknya.

 “Iya, ntar ya bundaaa…”

Begitulah jawabku mendengar semua kalimat yang terlontar dari mulutnya. Kadang memang langsung ku laksanakan perintah itu, namun tak jarang malah ku abaikan, bahkan tak ku laksanakan sama sekali. Namun bunda tanpa henti dan tanpa rasa bosan terus mengingatkanku untuk kebaikan di masa depan.

****

Hari itu, terdiam kaku tubuhku di depan pintu ruang tamu, melihat kepergian mobil silver yang berjalan meninggalkan pekarangan rumah dengan lajunya. Ku harap, yang ada di dalamnya baik-baik saja. Masih dengan mata bengkak karena tidur terlalu lama, aku bertemu bi Dila di ruang tengah,

“Bik, itu papi bawa mobilnya kenapa ngebut banget?”

“Mau ke rumah sakit, nganterin bunda”

“Emang bundaharaku kenapa?” tanyaku bingung dengan kesadaran di kepala yang mulai kembali.

“Tadi sebelum kamu bangun, kita lagi becanda bareng di depan, tapi bunda tiba-tiba hilang sadar, tatapannya kosong, refleks ka Ulfi panik sendiri terus bilang bunda harus ke rumah sakit sekarang” jawab bibi Dila, adik ipar bunda.

Seketika perasaanku tidak nyaman, aku menyesal kenapa pagi itu aku malah tidur dan tak tahu kondisi rumah ku sendiri. Beberapa jam kemudian, terdengar suara mobil datang, segera ku berlari menghampiri

“Papi, bunda gimana?”

”Bunda langsung dirujuk ke RSUD, bunda masih lemah” jawab papi dengan wajah yang bisa dibilang sok tenang.

“Terus ini papi balik ngapain? Kenapa ga nemenin bunda?” tanyaku penasaran karena hari ini kakak-kakakku bekerja

“Di sana ada kak Ulfi sama kak Haqi kok, kamu kalo mau ikut, bantu papi siap siap. Sekarang, papi minta kamu siapin tas yang isinya pakaian bunda, bajunya cari yang longgaran terus ada kancing, biar infus bunda bisa masuk. Papi mau siapin dokumen yang dibutuhin buat di rumah sakit” ucap papi tanpa memandangku sama sekali.

”Iya pi” jawabku dengan penuh patuh.

****

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, aku gundah gelisah. Hatiku berdegup tak karuan. Aku hanya bisa berdoa mengharap bunda baik baik saja.

“Assalamualaikum” ucapku memasuki ruangan putih tempat bunda dirawat

“Waalaikumusalam” sambut kak Ulfi dan kak Haqi

“Bunda gimana kak Ulfi?” tanyaku

“Tadi pas di cek di UGD, Hb nya bunda 6, makanya bunda ga sadarkan diri. Sekarang kita lagi nunggu hasil labnya keluar” jawabnya singkat karena tidak mood, terlihat dari wajahnya yang kelelahan karena piket dari pukul 2 dini hari.

“Eh, kok bisa gitu? Emang bunda udah ngapain sampe Hb-nya 6?”

“Beberapa hari lalu paman ngadu ke bunda kalo tanah nenek yang di deket bendungan dijual ke orang lain tanpa sepengetahuan nenek sebagai pemilik tanah peninggalan kakekmu, tanahnya mau di wakafkan ke desa sebelah untuk pembangunan masjid. Kabarnya nenek sedih sampe jatuh sakit dan merasa bersalah, itu ngebuat bunda ikutan sedih ngerasa ga bisa jaga wasiat kakekmu. Bunda jadi ga bisa tidur hampir 3 hari karena hal itu” sambung papi menjelaskan

“Ya Allah, bunda segitu kepikirannya”

“Begitulah bunda nak, bunda selalu memprioritaskan orang lain dulu baru dirinya sendiri, makanya kalo dinasehatin bunda ikuti saja dengan hati yang ikhlas, insyaallah itu demi kebaikan kamu juga” nasehat papi yang jelas sekali tertuju hanya kepadaku..

“…”

“Yasudah ya, nanti hasil labnya papi yang ambil, kalian disini jagain bunda, barang barangnya dirapiin ya. Papi mau nunggu di luar”

“Iya pi,” jawabku dan kak haqi kompak berusaha semangat.

Setelah selesai beres beres, ku langkahkan kakiku keluar kamar rawat. Saat melewati ruang lab yang tak jauh jaraknya dari kamar rawat bunda, sayup-sayup ku dengar seorang dengan jas putih mengatakan,

“Istri bapak terkena stroke ringan, setelah cek lab tadi ternyata beliau juga mengidap anemia dan ada kista di sekitar ginjalnya” meski tak jelas terdengar dari luar lab, namun pernyataan itu berhasil mengejutkanku.

Niat nya keluar untuk mencari udara segar menenangkan pikiran, tapi yang ku dapatkan ternyata kabar tidak baik. Seketika oksigen di sekitarku terasa menguap begitu saja, betapa sesak rasa di dada yang membuatku sedih namun tak bisa menangis mengeluarkan suara. Selama ini, bundaku yang cerewet luar biasa, selalu sibuk mengingatkan anaknya tentang hal-hal biasa, nyatanya ia lupa mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia juga perlu memerhatikan diri sebagai insan biasa.

****

“Lail….” Sapa bunda dengan suara lemah saat kumasuki ruang kamboja itu

“eh bunda udah bangun”

Bunda menepuk nepuk sedikit bagian Kasur, memintaku duduk di sampingnya,,

“Maafin bunda ya” ucap bunda mengelus tanganku yang kini digenggamnya.

Ya Allah Ya Rabbi. Hatiku bergetar, air mata menggenang. Bisa-bisanya ia yang minta maaf padahal akulah yang selama ini merepotkannya. Bisa-bisanya bunda berpikir ini salahnya karena nanti tak bisa merawat suami dan anak-anaknya.

“Bunda, harusnya Lail yang minta maaf. Lail gak pernah nurut sama perintah bunda. Bunda kecapean kerja sendiri, harusnya Lail peka dan bantuin bunda. Harusnya Lail gak buat bunda kesel karena gak nurutin kata bunda” ucapku berusaha meyakinkan bunda bahwa ini bukan salahnya.

“Ini bukan salah Lail, ini salah bunda karena tidak memerhatikan diri sendiri. Mungkin ini memang sudah menjadi takdir Allah SWT serta teguran untuk bunda bisa menjadi lebih baik lagi. Kita sama-sama ambil hikmahnya saja ya” jawab bunda pelan terbata-bata padaku yang ada di depannya.

“Ga ada yang tahu kapan bunda sembuh. Jadi, bunda mau Lail belajar yang rajin, makan yang teratur, fokus sama sekolahnya. Kalian bertiga akur-akur di rumah, jangan lupa solatnya tepat waktu dan doakan bunda segera sembuh. Kalian jangan terlalu cemasin bunda ya, bunda di sini baik-baik aja kok.” Tutur bunda berpesan pada kami anak-anaknya.

Aku tertegun dengan kata kata bunda, ia seperti punya pengalaman lebih tentang waktu dan pandai menyembunyikan perasaan di depan anak-anaknya sehingga tidak perlu khawatir akan dirinya, selalu terlihat kuat nyatanya tidak. Di sisi lain aku merasa sedikit kesal karena bunda berbicara seolah olah beliau akan meninggal dunia dan tentu aku tak mau hal itu terjadi. Teguran bunda membuatku sadar, selama ini aku memang bermalas malasan dan selalu merepotkan. Hari itu aku merasa mendapat secuil cahaya dari Yang Maha Kuasa. Janji ku tanamkan pada diriku sendiri, aku harus bisa menggapai cita-cita dan membahagiakan bunda.

****

Sunyi sekali ruangan dengan cat putih ini. Ku tatapi wajah wanita tua renta yang lemah terbaring di depanku. Tangan keriputnya dibalut perban dengan jarum kecil diantaranya, mengalirkan cairan yang mengembalikan kekuatan di usia tua. Bundahara, wanita cantik dermawan yang selalu berusaha menyokong kebutuhan, dari kecil bahkan hingga tercapai cita cita.

“Lail, udah makan siang?”

“Belum bunda, Tadi pasiennya banyak banget, ga enak aku tinggalin.”

“Makan dulu, nanti kamu malah sakit kalo ga makan. Masa orang sakit dirawat sama orang sakit juga”

“Iya deh, ntar aku beli roti di kantin”

“Jangan lupa ya, bunda ga mau dokter pribadi bunda ikutan lemah terkulai” kekeh bunda menggodaku yang terlihat lelah.

Perbincangan biasa antara aku dan bunda yang berhasil membuat semangat kerja ku kembali membara.

“Jas nya cocok banget di badan Lail, cantik kaya yang pake. Bunda suka”

“Hehe, iyadong, Lail kan anaknya bunda. Alhamdulillah, berkat doa bunda juga aku bisa pake jas ini nih”

“Syukur Alhamdulillah, Lail sudah banyak berubah, takdir Allah memang tak pernah mengecewakan”

Yap, genap 13 tahun lalu, bunda masuk rumah sakit untuk mengobati penyakit parah yang menimpanya dan aku hanya bisa menyesal meratapi nasib tak bisa memberi bantuan selain berdoa. Sekarang, bunda memang kembali menjalani perawatan di rumah sakit yang sama namun dengan keluhan penyakit yang berbeda, seperti penyakit orang tua pada umumnya. Aku bahagia kini bisa merawatnya dengan jiwa dan ragaku sepenuhnya, pasien pribadi yang aku sayangi sangat keberadaannya di sisiku. Aku dulu anak pemalas yang tak pernah mematuhi nasehat bunda. Namun kini terasa sudah perjuangan ku tak sia sia untuk berusaha berbeda. Berubah demi membahagian bunda, berbakti mengarap ridho Yang Kuasa, terlimpah kepada para hambanya yang berusaha.  

 

 

 

 

Penelitian Kualitatif

1. Pengertian Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah pendekatan ilmiah yang digunakan untuk memahami makna, realitas sosial, a...