Minggu, 26 November 2023

Sahabat


Sebelum berangkat, saya mulai mengemas semua jenis barang-barang pribadi yang dibutuhkan seperti peralatan shalat, peralatan makan dan minum, obat-obatan, senter, batrai cadangan, sepatu gunung, tas carrier, dan lainnya.Kami mulai mendaki dari pos registrasi pada pukul 09.00. Ketika itu cuaca cukup bersahabat pada kami. Sebelum memulai pendakian kami berdoa terlebih dahulu. Temen saya yang pemula pun bertanya “bang,jarak dari pos registrasi sampai pos 1 brpa kilo???” kurang lebih 2 km”ujar temen saya yang lain.”waahhh jauh juga yaa ternyata,auto pingsan kita nih” “elehhh itu belum seberapa,perjalanan dari sini sampai puncak bagaikan perjalanan satu hari satu malem,tapi saya udah terbiasa” ujar yang paling berpengalaman

“dahlaahh jangan nyerah sebelum mulai,tetap semangat sampai titik semangat penghabisan”ujar si paling bijak. Saat sampai di pos 1, kami istirahat sembari mencari sumber mata air sekaligus sarapan. Temen saya yang pemula ngeluarin beberapa nasi bungkusnya sambil mengatakan “bang ini dari ibu saya,kita makan bareng yokk itung-itung ngisi tenaga” kami pun serempak mengatakan “ayokkk”

Saat itu jam masih menunjukkan pukul 11.00.Setelah selesai sarapan kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2 yang jauhnya sekitar 1,5 km. Kami tiba di pos 2 sekitar pukul satu siang dan langsung melaksanakan shalat zuhur. Setiba di pos 2,sipaling alim bilang” kita shalat zuhur disini,dibawah sana ada telaga tempat ngambil air wudhu”sambil nunjuk ke arah tengah hutan.

Setelah shalat kami melanjutkan pendakian hingga tiba di pos 3, disana kami beristirahat sembari makan siang dan ngopi. Sipaling berpengalaman nyeletuk”ini pos 3,pos terakhir sebelum nyampe di area camping ground” si pemula nanya “camping groundnya mana?” “ituu yang di bukit paling atas” sambil nunjuk kearah depan. Pos 3 merupakan pos terakhir sebelum sampai di area camp. Saat semuanya telah selesai kami pun melanjutkan perjalanan. Dan pada akhirnya kami sampai di area camp pada pukul lima sore. Disana kami berdebat mau ngecamp disini atau di cemara baris. “disini aja,tempat campnya lebih luas sama ada sumber air jugak dibawah” kata saya. Temen yang lain membalas “di cemere baris aja,dekat sama puncaknya biar ndk capek kesana ndk kejauhan jugak”katanya bersikeras. Lalu kami melakukan voting,dan yang terpilih sebagai area camp adalah cemere baris.

Setelah sampai di cemere baris kami pun langsung mendirikan tenda dan membuat api unggun,tapi beberapa teman kami masih jauh dibelakang sana. Saya dan satu teman saya rela kembali mencari mereka. Akhirnya kami menemukan mereka dibawah bukit. “Ada apa ini ?” celetukku “itu kakinya kram” sahut seorang teman yang menopang tubuhnya. Terlihat kaki salah satu dari mereka tengah dipijat menggunakan balsam. “laahhh kok dipijat siih?”gumamku. sebab setauku bukan gitu caranya kalo kakinya kram. Tanpa basa-basi saya langsung mengambil alih dan langsung menekan kakinya ke atas. Guna melancarkan kembali peredaran darahnya.“Ayoo berangkat ,semangat tinggal dikit lagi bakalan sampe di tenda biar saya aja yang bawa carriernya” dengan nada nyemangatin

“ makasi yaa maaf ngrepotin” balasnyaa.

 

kami tidak hanya ingin berdiam diri di area camp, kami juga ingin summit sampai ke puncak tertinggi, yang tingginya nyaris sama seperti gunung rinjani (3.726 mdpl). Kami memulai summit pada pukul 03.30 pagi. Ketika itu hari masih gelap dan jarak pandang kian sempit. Kami menggunakan senter untuk menerangi dan menemukan jalur pendakian. Untuk sampai ke puncak kami menghabiskan waktu sekitar 1 sampai 2 jam.

Ditengah perjalanan salah satu teman kami sakit perut. “wee sakit perut saya nih tungguin bentar saya mau bab”

“iyaudah sana jauh-jauh jangan sampe baunya kecium sampe sini,wkwkwk”dengan serempak  kami pun tertawa. “jangan lupa dicuci sampe bersih,dikubur aja kalo bisa” tambah salah satu dari kami lagi. Lelucon inilah yang membuat suasana yang tadi sangat sepi menjadi ramai kembali.

Akhirnya, kami sampai di puncak gunung pada pukul 04.30. kami perlu menunggu beberapa waktu untuk menunggu datangnya waktu subuh. Matahari pun mulai terbit. Saya sangat takjub melihat panorama alam yang sangat indah, lebih indah dari melihat senyumnya dia. Setelah puas menikmati dan foto-fotoan kami pun kembali ke area camp untuk sarapan pagi dan bersiap pulang. Turun gunung tidak secapek saat mendaki,kami hanya menghabiskan sedikit energy.

Bagi kami ini adalah pengalaman paling mengesankan. Rasa capek, lelah, bahkan putus asa seketika lenyap karena keindahan alam. Sipaling bijak berucap “Mendaki gunung itu sebuah tujuan, tujuan kita untuk sampai ke puncak tertinggi seperti halnya kita menentukan tujuan hidup. Ya,perjalanan ke gunung memang memberikan pengalaman berharga tersendiri, dimana kita bisa bersahabat dengan alam, bahkan menemukan seseorang yang benar-benar menjadikanmu sahabat. Semakin sering kau mendaki semakin bijak perkataanmu.”itulah secuil kisah kami dan amanat bagi kita semua.

Penelitian Kualitatif

1. Pengertian Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah pendekatan ilmiah yang digunakan untuk memahami makna, realitas sosial, a...