Jumat, 02 September 2022

Tingkahku Pembunuhku

 

Rabu, 22 September 2019. Tepatnya pada pukul 24:00 Kevin dan Reno masih terjaga di kamarnya. Kevin untuk  menunggu pengumuman Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional yang diadakan oleh Universitas Lampung. Waktu pun telah memasuki hari kamis Kevin dengan segera Kevin membuka laman web universitas tersebut dan muncullah pengumuman daftar finalis LKTI yang akan menuju ke babak final. Dengan hati yang berdebar-debar bercampur keringat dingin yang terus bercucuran Kevin dengan pelan-pelan mescrol mouse laptopnya sambil melihat satu persatu nama finalis yang lolos. Ketika tatapannya telah sampai membaca pada kolom yang ketujuh, disana tertulis nama Kevin Sanjaya, Reno Barak dan SMA Harapan Bunda yang sontak membuat paru-paru mereka terhenti bernapas sejenak. Setelah itu, mereka pun langsung berteriak kegirangan.

“Alhamdulillah..... Tim Kita lolos ke final Broooo”

Gilaaaa nggak nyangka Gua Vin.” Kevin dan Reno pun langsung sujud syukur dan saling berpelukan sebagai bentuk kebahagiaan dan rasa syukur yang mereka dapatkan.

“Nggk sia-sia ya Vin perjuangan kita selama ini, akhirnya tembus juga kita ke nasional,” kata Reno.

“Iya, memang Allah itu akan memberikan hambanya sesuai dengan apa yang dia usahakan dan seberapa besar pengorban yang kita lakukan,” sambut Kevin sambil mengelus-elus pundak Reno.

“Benar Kevin, emang Allah itu Maha Adil sama hamba-hambanya.”

            Setelah beberapa menit berlalu, jarum pendek telah menunjuk ke angka satu. Rasa kantuk pun mulai menyerang mereka setelah mencari informasi tentang mekanisme peserta lomba untuk tingkat nasional.

“Huaaa...(sambil menutup mulutnya dengan tangannya) udah capek gue ni Vin”

“Iya gue juga sama ni,” jawab Kevin dengan nada yang agak kecil.

“Iya dah kalo gitu Bro, gue balik pulang dulu ya. Udah larut malam ni juga”

Ketika Reno hendak membuka pintu kamarnya Kevin. Tiba-tiba Kevin memanggil Reno dari belakang.

“O iya, ada gue pesan sesuatu ni ke elo”, dengan wajah agak serius sambil menatap ke Reno

” Iya ada apa lagi?”

“Gue minta tolong ni. Kita ini baru lolos ke babak final, berarti masih ada tahapan satu lagi untuk meraih peredikat juara. Jadi, jangan sampai dengan kita baru lolos ke babak final ini kita bisa lupa daratan. Artinya dengan apa yang kira raih saat ini jangan kita berubah menjadi sombong dan ria. Soalnya hal itu yang bisa menghancurkan kita dalam waktu sekejap. Oke” dengan bahasa yang lembut ke Reno.

“iya, pasti kok Vin” dengan santai Reno menjawab ujaran dari Kevin.

“Oke dah, sampai ketemu besok di sekolah,” sambil membuka pintu kamarnya Kevin.

Reno pun berjalan menuju rumahnya yang hanya berjarak 2 rumah dari rumahnya Kevin. Saat di perjalanan, terbesit di dalam hati Reno,

“Ini kalo di post di sosial media, pasti banyak yang akan komen.”

Sesampai di rumahnya, Reno langsung mengambil smartphonenya kemudian ia membuat instastory di sosmednya. Setelah itu dia pun tidur.

Keesokan harinya, sesampai Kevin di sekolah banyak sekali temannya yang mengucapkan selamat kepadanya.

“Selamat ya Vin, emang hebat Lo”, sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

“Loh, siapa ya yang sudah membeberkan info kalo aku lolos ke babak final lomba KTI di Lampung ini?” pertanyaan tersebut terbesit di pikirannya.

Tanpa berpikir panjang Kevin langsung saja masuk ke kelasnya untuk bertemu dengan Reno. Di dalam kelas, sudah banyak temannya yang mengerumuni Reno untuk menanyakan dan memberikan selamat kepada Reno. Dari depan kelas, Kevin langsung memanggil Reno dengan raut wajah yang kurang enak. “Reno!” Dengan santai Reno menjawab panggilan dari Kevin.

“Eh Kevin. Selamat pagi bro. Ayo sini duduk dulu” Dengan raut wajah yang sudah memerah Kevin menarik Reno dari kerumunan teman-temannya itu kemudian membawanya menuju ke luar kelas.

“Eh, Ren. Baru tadi malam gue kasih tau Lo, buat jangan ngepost info ini” dengan suara agak tinggi Kevin berkata seperti itu ke Reno.

“Sudah lah Vin, jangan terlalu di bawa serius. Wajarlah kalo kita sampein info gembira ini ke temen-temen,” dengan gaya yang santai Reno ke Kevin.

“Wajar gimana? Liat aja tadi, gimana senengnya Lo menerima pujian dari temen-temen ni.” Sambil mendorong Reno.

”Santuy dong” Reno membalas dengan nada tinggi pula. Kemudian Reno sambil menarik nafas dalam-dalam. Ia pun meminta maaf ke Kevin atas perbuatan yang telah ia lakukan.

“Udah gue dah yang salah, gue minta maaf kalo dah lakuin kayak gini. Gue nggk mau gara-gara ini kita bakalan gagal pergi ke Lampung buat lomba.”

Dengan sabar pula, Kevin mengingatkan kepada Reno unuk tidak terlena lagi atas prestasi yang didapatkan ini. Akhirnya mereka berdua masuk ke kelas bersamaan.

“Kringgg...kringggg” beker pertanda istirahat, berbunyi.

“Reno, ayo kita pergi ke ruangannya Pak Budi. Buat ngasi tau lomba kita ini sama minta arahan juga dari beliau”, ujar Kevin sambil memegang pundak Reno.

”Oh iya. Ayo dah”, dengan nada agak terkejut.

Mereka berdua pun pergi menuju ke ruang guru untuk bertemu dengan pembimbing KTI mereka Pak Budi. Sesampai di ruang guru, terlihat di kursi tamu sedang duduk Pak Budi sambil membaca koran harian yang di temani dengan secangkir kopi hangat di mejanya.

“Permisi pak” (sambil mengetuk pintuk ruang guru)

“Oh Kevin, Reno. Ayo sini duduk dulu!” Sambil tersenyum pak budi menyuruh mereka berdua untuk masuk dan duduk di dekatnya.

“Maaf sebelumnya Pak. Hmm...jadi gini Pak. Alhamdulillah KTI kami lolos ke babak final”. Kata Kevin ke Pak Reno sambil menundukkan kepalanya.

“Alhamdulillah, syukur dah kalo gitu. Ternyata kalian lolos ke babak final. Ini merupakan buah dari ikhtiar kalian selama beberapa bulan ini yang patut bagi kalian untuk mensyukurinya”. Dengan bahagia dan senyum yang lebar Pak Budi menyampaikan itu kepada Kevin dan Reno.

“Iya, Pak. Insyaallah sekitar 1 pekan lagi waktu yang diberikan oleh panitia untuk persiapan persentasi karya tulis kita di sana Pak”

“Oh gitu ya. Kalo gitu mulai sekarang kalian fokusin dah untuk persiapan presentasi kalian sama semua kebutuhan kalian pas lomba disana. Untuk transportasi dan yang berkaitan dengan logistik nanti pak guru yang akan urusin. Sekarang kalian tinggal berusaha semaksimal mungkin untuk disananya, iya”

“Siap pak” dengan tegas mereka menjawab bersamaan wejangan dari pembimbing KTI mereka itu.

“Kami akan berusaha semaksimal mungkin, demi membawa nama baik sekolah kita ini,” dengan semangat Reno berkata seperti itu ke Pak Budi.

Mereka berdua pun pergi meninggalkan ruang guru dengan raut wajah yang bahagia. Saat perjalanan menuju kelas sambil mereka berbincang-bincang.

“Ren, nanti sore kita kumpul ya buat kerjain KTI ni”

“Iya, pasti Bro”

Waktu sore pun telah tiba. Mereka pun bertemu di Rumahnya Kevin untuk mengerjakan proyek KTI mereka. Namun, disaat Kevin sedang sibuk mengerjakan proyek KTInya. Reno, sambil tiduran dia sedang asik membalas chat dari teman perempuannya tanpa menghiraukan Kevin yang sedang bekerja disampingnya. Akan tetapi, Kevin hanya diam melihat tingkah laku temannya itu dia hanya menunggu kepekaan dari Reno untuk mau membantunya mengerjakan KTI itu. Enam hari telah berlalu, kelakuan Reno tidak pun kunjung berubah dia tetap sibuk dengan gawainya itu sambil senyum sendirian melihat gawainya.

Saking geramnya melihat Reno yang asik bermain gawai, Kevin pun dengan cepat mengambil gawai yang ada di tangan Reno kemudian ia membaca chatan di gamainya Reno itu. Ternyata, Reno sedang chatan dengan teman perempuannya yang sedang mengucapkan selamat dan menyanjung Reno atas prestasinya itu.

“Reno, udah berapa kali saya bilang ke kamu. Kita itu tidak boleh terlalu berbangga dengan apa yang kita dapatkan saat ini. ini itu masih belum apa-apa. Masih ada tahapan selanjutnya. Jangan sampai gara-gara kebanggaan mu ini membuat mu lupa akan tujuan utama kita” sambil melempar gawai tersebut ke kasurnya.

“Eh, biasa aja elo. Gue kan Cuma balas chat dari teman gua. Ndk papa juga kan mereka ucapin selamat ke Gua. Ini kan sebagai bentuk penyemangat buat gua.”

“Penyemangat, ini yang kamu bilang penyemangat. Lihat sekarang, kamu itu nggk pernah ikut kerja bantuin gua, kamu itu cuma fokus sama gawai mu ajak selama ini. Seolah-olah kamu itu seperti orang yang lagi haus sama sanjungan. Sadar nggak?”

Dengan merasa bersalah, Reno pun pergi dari rumahnya Kevin. Sesampai di rumah, rasa bersalah Reno terus menghantuinya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengechat Kevin untuk meminta maaf atas perilakunya tadi.

Keesokan harinya, hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba. Mereka pun telah mendarat di Bandara Internasional Lampung.

“Vin, Lampung ni Bro. Tumben gue kesini ni. Gila bagusnyaaa” sambil membuat video di akun Instagramnya.

“iya, gue juga tumben kesini” dengan senyum tipis Kevin meyahut.

Saat di dalam bis perjalanan menuju penginapan “Reno, kata panitia ini. mulai besok kita akan presentasiin KTI kita” sambil membaca chat dari grup WA finalis yang ia miliki. Reno hanya menganggukkan kepalanya. Sambil fokus ngevlog di dalam bis yang mereka tumpangi itu.

Sesampai di tempat penginapan, Kevin pun langsung beristirahat karena lelah dari perjalan jauh yang mereka tempuh sekitar 5 jam di perjalan udara. Namun, keadaan Reno sebaliknya. Dengan semangat ia sangat ingin sekali pergi jalan-jalan untuk mengeksplor keindahan dari Kota Lampung.

“Vin, gue keluar bentar ya. Mau liat-liat daerah Lampung bentar”

“Iya dah, tapi jangan sampai terlalu malam. Ingat besok kita mau presentasi. Jadi kita harus fit besoknya ni. Ya”

“Siap pak ketua”

Akhirnya Reno pun pergi keluar dari penginapan. Dia pergi mengelilingi daerah Lampung menggunakan ojek online yang telah ia pesan sebelumnya. Saat di kendaraan, niat buruknya pun datang untuk ke sekian kalinya ,” Ini kalo gue post ke instastory gua, pasti bakalan banyak yang bakalan iri ke gua ni”

Tanpa menghiraukan nasehat dari Kevin, Reno pun mengunggah video vlog yang telah ia buat di selama di Lampung itu. Dan hasilnya banyak temannya yang iri kepadanya. Kemudian perasaan Reno pun semakin berbangga atas prestasi yang ia dapatkan. Malam pun tiba, Reno kemudian kembali ke tempat penginapannya untuk beristirahat.

Waktu yang meneganggkan pun telah tiba, satu persatu para finalis mempresentasikan KTI mereka dengan baik dan memukau para juri. Rasa deg-degan pun menghampiri Kevin ketika melihat penampilan dari para finalis lain saat itu. Ketika nama mereka disebut untuk diminta memperestasikan KTI mereka. Dengan percaya diri mereka berdua pun maju ke depan sambil membawa prototype yang mereka bawa.

Mereka pun mulai mempresentasikannya. Kevin dengan lancar menjelaskan produk yang mereka miliki. Namun, saat bagian Reno yang mempresentasikannya. Reno merasa gugup dan keringat dingin bercucuran dibadannya, akibat kurangnya penguasaan materi dan kurangnya latihan yang ia lakukan selama ini.

Untung saja Kevin bisa mengambil alih dari tugas Reno tersebut. Sayangnya, ketika mereka selesai mempresentasikan KTI nya, raut wajah dari para dewan juri agak kecewa atas penampilan mereka yang terkesan kurangnya kerja tim diantara mereka.

Setelah beberapa jam mereka menunggu di aula kampus. Saat yang ditunggu akhirnya tiba, pada sore itu pula pemenang dari Lomba KTI nasional yang diadakan oleh Universitas Lampung itu diumumkan. Semua jantung para finalis disana berdebar dengan sangat keras karena mereka sangat optimis akan pulang membawa tropi yang telah terpampang di  atas meja panggung. Perasaan itu juga sedang dialami oleh Kevin dan Reno. Setelah acara pembukaan dan sambutan berlalu, tibalah waktu pengumuman dimulai. Penyebutan dimulai dari juara 3 sampai ke atas. Rasa deg-degan pun semakin keras terasa, saat juara 3 disebutkan ternyata bukan nama mereka yang disebut melainkan nama orang lain. Hal itu ter terjadi sampai juara ke 2.

“Reno, masak kita nggk dapet ni?” dengan suara kecil ia menanyakan hal itu ke Reno.

“Ndk kok, pasti sekarang nama kita yang akan disebut. Yakin dah”

Di saat pembawa acara menyebutkan nama yang mendapat juara 1. Ternyata bukan nama mereka yang terdengar, melainkan nama orang dari sekolah lain yang disebut. Rasa kecewa dan sedih yang sedang mereka rasakan saat itu. Malu dan menyesal itulah yang hanya ada dalam benak pikiran mereka. Terlebih lagi Reno, ia merasa sangat bersalah ke Kevin atas perilakunya selama ini yang telah menghiraukan nasehat dari Kevin. Dalam hatinya ia berpikir, “coba aja gua dengerin kata Kevin, pasti tim gua nggak bakalan kalah. Ini semua salah gua”

Disampingnya Kevin menagis akibat kekalahannya itu karena merasa bersalah tidak memberikan yang diharapkan sekolah kepadanya. Reno pun mengelus pundak Kevin sambil berkata,” Kevin, gua nyeselll banget udah ndak dengerin nasehat lu, sudah terlalu menyombongkan diri atas apa yang kita miliki. Ternyata bener kata lu, kesombongan kita sendiri yang akan membinasakan kita.”

Mereka pun pulang tanpa membawa sebongkah piala apapun. Cita-cita untuk membawa nama baik sekolah hanyalah sebagai mimpi semata. Rasa malu dan bersalah terus-menerus melanda mereka akibat dari kesombongan Reno selama ini.

 

Kamis, 01 September 2022

Saudari Yang Terlupakan


            Di pagi yang cerah, disebuah kerajaan lahirlah sepasang putri kembar yang bernama Sophie dan Sophia. Sophie terlahir normal sedangkan Sophia, ya Sophia terlahir memiliki kekuatan. Raja dan ratu takut akan hal itu. Takut kekuatan Sophia menjadi sebuah kutukan, ancaman bagi kerajaan. Karena itu, Sophia diasingkan di sebuah kastil tua, ia ditinggalkan bersama seorang penyihir bernama Syletrha. Semua menghilangkan informasi tentangnya. Tanpa ada yang mengetahui kerajaan mereka memiliki putri kembar. Benar-benar hilang.

Sudah 8 tahun sejak kelahiran itu. Sophie tumbuh menjadi putri kecil yang luar biasa. Walau ia adalah seorang putri tunggal kerajaan, sifat dan sikapnya tidak menunjukkan bahwa ia adalah seorang putri tunggal. Ia tidak manja, ia tidak sombong, ia seorang putri yang mandiri. Delapan tahun berlalu, keberadaan Sophia memang benar-benar telah terahasiakan. Belum ada yang mengetahuinya.

Tepat hari itu, di saat umur Sophie menginjak angka enam belas tahun. Di saat ia seharusnya berbahagia, selruh kerajaan berduka. Raja dan ratu mereka telah meninggal saat badai menenggelamkan kapal mereka.

Usai pemakaman, Sophie dipanggil penasihat kerajaan di ruang tahta. Dan disinilah ia sekarang, dengan gaun yang kusut dan wajah yang dipenuhi bekas air mata, ia terduduk dilantai marmer yang dingin ruang tahta seorang diri, sambil memegangi sebuah surat wasiat dari orangtuanya.

 “Maafkan kami yang menyembunyikan ini darim. Kau memiliki kembaran. Seorang putri yang sama cantiknya denganmu. Carilah ia, ......”

Begitulah akhir dari surat itu. Beberapa kapa kata yang dapat membuat Sophie menjaadi rapuh.

 “Semua pertimbangan ada di tanganmu. Disaat umurmu menginjak 17 tahun, kau harus mengisi jabatanmu.”

Kata-kata penasihat kerajaan masih terngiang ditelinganya. Biarkanlah ia sendiri dulu, biarkanlah ia beradaptasi dengan semua fakta in, biarkanlah ia merenungi takdir yang membawanya.

Bagaimana perasaanmu disaat dimana seharusnya kau mengisi masa mdamu dengan hal-hal yang berbahagia, kau dikejutkan oleh fakta dimana kau ssebenarnya memiliki kembaran dan fakta dimana tidak lama lagi kau harus menjadi ratu dan kehilangan masa mudamu untuk bersenang-senang? Tentu saja berat. Tetapi tidak dengn Sophie. Ia memang seorang putri yang luar biasa. Ia berhasil tegar. Sehari setelah peritiwa itu, ia telah kembali menjadi putri Sohie yang ceria dan bersemangat.

 “Tunggulah aku Sophia.” Ucapnya sebelum pergi dari kerajaan. Ia akan mulai mencari saudarinya. Ia sungguh putri yang luar biasa. Ia bisa bangkit dan bangun hannya semalam. Kini ia sudah siap kemana takdir akan membawanya.

***

Sudah setengah tahun semenjak ia pergi dari kerajaan. Ia masih ingat hari dimana ia pergi. Lama tidak keluar keajaan membuatnya merasa canggung dengan dunia luar. Namun sekarang ia sudah menyatu dengan dunia luar. Ia dapat merasakan sejenak bagaimana hidup seperti rakyat biasa disini. Ada kerinduan dengan kerajaannya. Tapi ia sudah membulatkan tekad tidak akan kembali sebelum membawa pulang saudarinya apapun yang terjadi. Lagipula ia sudah sangat jauh dari kerajaan. Disini ia juga masih bisa bersenang-senang sembari mencari informasi tentang keberadaan Sophia.

Klining .............                                                                                                 

Pintu kedai tempat Sophie berada terbuka, masuklah seorang wanita tua berpakaian serba hitamdengan jubah hitam. Ia membeli beberapa kue sebelum balik pergi.

“Maaf bi, siapa wanita itu? Apakah ia warga sini?” Sophie bertanya pada bibi penjaga kedai.

 “Dia seorang penyihir, tinggal di kastil tua tidak jauh dari sini.” Jawab bibi itu.

 “Penyihir?” tanya Sophie lagi.

 “Ya, kau tahu, dia memiliki putri yang cantik. Mirip sekali denganmu”

“Mirip sepertiku?”

 “ Ya putri, sebaiknya aku kembali bekerja, nikmati makananmu.” Kata bibi itu sebelum berlalu.

           ‘Mungkinkah?‘ bisa ditebak apa yang ada di pikiran Sophie.

           Sophie berencana mengikuti wanita penyihir itu, ia tinggalkan makanannya dan segera menyusul wanita penyhir itu sebelum tertinggal.

           Ia mengendap-endap di belakang wanita itu. Ia terus mengikuti wanita itu masuk ke dalam hutan lebat dengan masih mengendap-endap. Hingga ia tiba disebuah lembah yang sangat indah. Terhampar bunga dan sungai yang berliku-liku. Di atas bukit itu berdirilah kastil tua yang cukup mengerikan.‘ jika ini tempat tinggal Sophia selama ini, ia pasti berbahagia ‘ batin Sophie. Ia hendak tetap mengikti wanita penyihir sebelum dia sadar, bahwa ia masih menjadi penguntit.

          Tidak lama kemudian, keluarlah dari dalam kastil itu seorang gadis yang sebaya dengan Sophie. Dan yang membuat Sophie terkejut, ia sangat mirip dengan dirinya. Ia sangat yakin, gadis itu adalah kembarannya, Sophia.

           Ia tidak dapat mengontrol dirinya, ia sangat merindukan saudarinya, saudari yang baru pertama kali dilihatnya. Ia berlari menuju gadis itu. Dan tiba-tiba dengan satu kedipan mata, semua berhenti, bak vidio film yang di-pause.

           ‘Apa ini? Apa yang terjadi? Sophia tolong aku, apa yang terjadi?‘ teriak Sophie walau hanya terdengar suara gagak. Sophia masih terlalu shok., ia hannya menatap gadis bak cerminannya ini dalam diam sambil berbisik ‘siapa  dirimu‘ Sophie mengetahui sekarang, kekuatan apa yang dimiliki kembarannya ini, merubah sesuatu menjadi batu. Hannya air mata yang mampu diperlihatkan Sophie. Sophia menghentikan kekuatannya. Dan saat itu juga, Sophie memeluknya.

     “Siapa dirimu?” bisiknya.

     “Ini aku Sophie.”

     “Sophie”

     “Ya, pulanglah bersamaku Sophia”

     “Maaf, aku tidak mengerti”.

Sophie langsung menceritakan semuanya.

     “Apa aku bisa mempercayaimu?” tanya Sophia

     “Aku mohon percayalah”

     “Lalu mengapa aku dibuang”

     “Karena kekuatanmu tadi Sophia”

     “Tapi kekuatanku...”

     “Kendalikan dirimu, aku percaya padamu”

     “Aku mempercayaimu”

     “Terimakasih saudariku”

     “Sophia dimana dirimu?!” teriak suara dari dalam

     “Sophie itu ibu!” ujar Sophia panik

     “Apa kau mencoba lari dariku?!” ucap seseorang yang dipanggil ibu oleh Sophia

     “Siapa itu, astaga aku tahu, kau Sophie?!” ujar wanita itu lagi

     “Iya, aku Sophie, aku akan membawa pukang Sophia” ucap sophie tegas

     “Tidak semudah itu! Keluargamu memberikannya untukku, dan sekarang kau ingin mengambilnya dariku? Tidak bisa, enyahlah kau!!!”

           Dengan satu kedipan mata, wanita penyihir itu berubah menjadi batu saat ia akan menerkam Sophie. Sophia langsung memeluk batu itu dan berkata...

“Terimakasih banyak untuk semuanya ibu. Aku telah menemukan keluargaku.   Aku akan terbebas dari ikatam jahatmu. Dan tidak akan kubiarkan siapapun melukai saudariku. Maaf ibu, terimakasih.”

Ternyata selama ini penyihir itu tidak memperlakukan Shopia dengan baik. Setiap pekerjaan rumah dikerjakan oleh Shopia, tak jarang Shopia dipukuli oleh penyihir yang dipanggilnya ‘ibu’ itu.

Dengan begitu, sepasang saudari kembar itu kembali ke kerajaan. Mereka benar-benar disambur meriah. Terutama Sophia, ia benar-benar diterima dengan suka hati. Jauh di dalam hutan, penyihir wanita masih membatu.

Inilah akhir yang bahagia, di mana putri kerajaan yang tersingkirkan telah kembali. Biarkanlah masa lalu yang kelam tenggelam oleh waktu. Biarkanlah mentari itu bersinar.

“Aku menyayangimu Sophia”

Rabu, 31 Agustus 2022

Hasa


Pada saat jam pelajaran ketujuh setelah isoma akan segera dimulai, tepatnya pukul 12.45 aku segera bergegas ke sekolah. Terlihat pemandangan yang berbeda di jalanan menuju sekolah. Banyak pak tukang yang sedang bekerja tanpa kenal lelah dibawah teriknya mentari “Assalamualaikum Pak, permisi,” ucapku ketika melewati salah satu pak tukang yang terlihat sudah cukup berumur dan beliau menjawab salamku dan tersenyum, aku pun tersenyum dan berkata “Semangat, pak !” Aku sangat bahagia ketika melihat orang tersenyum. Setelah itu aku melanjutkan perjalananku menuju sekolah. Aku mulai menaiki anak tangga satu demi satu untuk menuju kelasku XI MIA 2.

Terlihat sepasang sepatu berwarna hitam di rak sepatu di depan kelas dan seperti yang kuduga pasti Haidar, dia adalah sahabatku, aku menganggapnya seperti abangku sendiri. Saat aku memasuki kelas lantunan ayat-ayat al qur’an yang dia baca langsung bergema indah ditelingaku. Dia tidak menyadari kedatanganku. Mataku tertuju pada Haidar yang sedang duduk di kursinya. Di tangannya terdapat al qur’an kecil berwarna hitam. Ia kini sedang membaca surat al isro’, aku memperhatikannya dalam diam, tidak ingin mengganggunya.

Tubuhku seketika membeku, hatiku berdesir sakit saat tiba-tiba bacaan al qur’an Haidar terdengar gamang. Suara yang sebelumnya terdengar tegas berubah menjadi lirih. Haidar menangis, dia menutup wajahnya dengan al qur’an. Bacaannya belum selesai. Haidar berusaha menghentikan tangisnya. Dia kembali berusaha menyelesaikan bacaan surah al isro’nya, namun gagal. Dia semakin menangis (dia masih belum sadar kalau aku berada tepat di bangku kedua di belakangnya). Tidak sanggup melihat Haidar yang terus menangis, aku pergi keluar dengan perlahan. Untuk pertama kalinya aku melihat Haidar seperti itu, biasanya dia selalu tersenyum, dan pandai menyembunyikan perasaan sedihnya. Apa yang membuat Haidar menangis ? sebenarnya apa yang terjadi ?

Saat bel pulang telah berbunyi. Afzam (sahabat Haidar) memanggilku “Syaikhah, tunggu !” “Kenapa Zam ?” jawabku, dan setelah itu Afzam menceritakanku tentang masalah yang sedang dialami Haidar dan dia memintaku untuk membantunya mengembalikan semangat Haidar lagi. Malam harinya aku menulis sebuah surat diatas kasur lembut kesayanganku.

Assalamualaikum Akhi !

Jangan nangis lagi kayak kemaren. Akhi kenapa ? ada masalah ? cerita akhi ! ana sama Afzam sedih ngeliat akhi kayak gini, bingung mau ngelakuin apa, karena nggak semua rasa dan ekspresi harus selalu di sembunyikan akhi. Nggak bisa jadi orang munafik terus-menerus, nggak mesti selalu jadi orang yang bermuka dua terus-menerus. Akhi disini nggak sendiri , akhi punya Afzam, Nafisa, ana, dan yang lain. Jangan nyakitin diri dengan diem dan mendem. Karena sama aja itu nyakitin orang yang peduli sama akhi.

 

Pagi ini aku berangkat lebih pagi dari biasanya, dan saat aku sampai di kelas tas Haidar sudah ada di tempat duduknya, aku memasukkan surat yang telah aku tulis semalam ke dalam tasnya. Setelah beberapa hari Haidar membalas suratku.

Assalamualaikum Adek !

Makasih suratnya, makasih banyak udah peduliin ana. Tapi emang ana kepengennya kayak gini, nggak cerita ke siapa-siapa. Ana nggakpapa kok Dek, anti sama Afzam nggak perlu khawatirin ana. Ana nggak mau nanti kalo ana cerita, malah jadi beban buat anti dan Afzam, ana nggak mau anti dan Afzam sedih dan sakit gara-gara ana. Sekali lagi makasih banyak. Selow ana nggakpapa kok Dek. Ana kuat karena anti dan Afzam. Tetep jadi adek ana ya Kah!  

 

Saat aku menerima balasan surat ini dari Haidar, jantungku terasa seperti dihujani oleh milyaran kupu-kupu. Aku terkejut karena sedetik pun aku tidak pernah berharap dia membalasnya. Aku sangat bahagia dan membacanya berulang kali, aku pun selalu membawanya kamana pun aku pergi dan masih menyimpannya sampai detik ini.

***

Udara pagi ini terasa lebih dingin dari biasanya karena semalam rintik hujan baru saja mengunjungi bumi. Aku melangkahkan kakiku menuju sekolah dengan iringan senyuman mentari dan nyanyian burung-burung kecil yang merdu. Tepat pada pukul 07.00 bel sekolah pun berbunyi dan itu berarti jam pertama untuk hari ini akan segera dimulai, aku segera bergegas munuju kelas. Detik demi detik telah ku hitung dan akhirnya saat yang dinanti oleh para siswa telah tiba, bel istirahat berbunyi. Aku langsung menarik tangan  Aisyah dan pergi menuju kantin.

Ketika kami hampir tiba di depan pintu kantin aku secara tiba-tiba melepaskan genggamanku dari Aisyah. Aisyah menatapku heran, dan dia mengikuti arah pandanganku. Pandanganku terpaku pada dua orang yang sedang berdiri di dekat meja kantin. Disana ada sepasang remaja sedang bercanda dan tertawa bersama. Remaja laki-laki itu memberikan sari roti dorayaki coklat kepada remaja perempuan yang bersamanya, aku menggigit bibir bawahku dan sejak saat itu aku tidak suka sari roti dorayaki. Aisyah dapat melihat raut sedih di wajahku. Namun dalam sesaat, raut sedih itu cepat-cepat ku ganti dengan raut gembira. Aku menarik tangan Aisyah untuk segera masuk ke kantin, Aisyah tersenyum miris menatapku, saat aku tersenyum kepada dua orang remaja itu Haidar dan Nafisa. “Kenapa sih berlagak sok kuat gitu Ikah ?” tanya Aisyah lirih. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.

Siang ini Haidar datang ke mejaku dan bertanya “Ikah, Nafisa baik ya ? ” rasa sakit kembali muncul setiap kali mendengar nama itu keluar dari mulut Haidar. Namun aku justru memaksakan seulas senyum riang demi menutupi kenyataan bahwa hatiku baru saja kembali terluka. “Iya, akhi” jawabku, “Ana suka Nafisa, gimana ?” masih dengan senyum “Kok nanya ana ?” “Ya, ana cuma pengen tau pendapat anti aja, kan anti deket sama Nafisa terus kita kan juga sahabat, Ikah udah ana anggap kayak adek ana sendiri.” Jujur hati ana sakit Dar. Aku mengangguk dengan senyum semakin lebar. “Nafisa itu orangnya baik, sabar, udah gitu insyaallah salehah, jadi nggak papa kalo akhi suka sama dia, itu wajar.” “Tapi ana takut ini dosa.” “Akhi perasaan itu datangnya dari Allah, itu rahmat, sekarang tinggal akhi nya gimana menyikapinya.” “Oke, kalo itu pendapat Ikah, makasi banyak.” “Iya, ana balik duluan ya akhi, Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam Kah, sekali lagi makasih.”

Aku langsung pergi dan mempercepat langkahku menuju asrama, Jantungku berdesir begitu kuat, rasa sakit yang menghantamku membuat dadaku sesak, aku langsung pergi ke kamar Aisyah dan memeluknya dengan erat, Butiran-butiran air mataku tidak bisa kutahan lagi. “Ikah ? kenapa ?” tanya Aisyah, namun bibirku tidak sanggup lagi untuk mengucapkan sepatah kata pun. Aku mempererat pelukanku kepada Aisyah. “Udah jangan nangis lagi, Kah. Berhenti menggali luka sendiri. Sekarang kita fokus sama tujuan awal kita disini, inget orang tua kita. Jangan sampai kita ngebiarin diri kita diatur sama hati kita, tapi kita yang harusnya ngendaliin hati kita. Kan anti pernah bilang Muslimah tangguh nggak boleh baper!” Aisyah adalah sahabat terbaikku, tolong jaga persahabatan kami agar terus bertahan sampai jannahMu Ya Allah.

***

Tepat pukul 02.00 alarm ku berbunyi dan aku langsung pergi ke kamar mandi untuk berwudhu’ dan melaksakan sholat tahajjud, aku bercerita kepada Allah. Ya Allah, ana pengen cinta ana seindah kisah Fatimah. Yang tidak mengumbar cintanya. Fatimah menyimpan cinta itu dalam diam. Hanya Engkau yang Fatimah jadikan tempat untuk berkeluh kesah tentang cintanya. Hingga akhirnya Engkau mempersatukannya dengan Ali. Ana pengen mendapatkan cinta suci seperti itu. Ana memang tidak sesalehah Fatimah yang dengan beraninya membela sang ayahanda dalam menyebarkan agamaMu. Namun, ana berharap Engkau mengirimkan ana, seseorang yang memiliki sifat seperti Sayyidina Ali, pada waktunya nanti.

Hari ini adalah langkah awal untuk ku memulai kembali semuanya, meluruskan niat, dan menata serta menjaga hatiku. “Syaikhah ! tunggu ana.” Aisyah berlari mengejarku “Kenapa sih Ai?” “Kebiasaannya ninggalin ana mulu,” ucapnya dengan nafas yang terengah-engah “Ya maaf Ai, anti sih lama banget.” “Kan..” “Udah-udah berhenti masih pagi ana males debat. Iya ana yang salah.” “Nah, itu bener. O ya kuat kan Kah entar di kelas ketemu Haidar sama Nafisa ?” “Selow Ai, ana kan strong!” sebenarnya ana ragu Ai tapi insyaallah ana kuat, tenang ada Allah.

“Ikah, ana pergi dulu ya, ana lupa kalo hari ini giliran ana piket ! semangat !” ucap Aisyah sambil berlari menuju kelas. Aku pun segera menuju kelas menyusul Aisyah yang sudah lari duluan, namun langkah ku terhenti saat suara Haidar memanggil namaku. “Syaikhah !” “Iya, kenapa akhi ?” “Jadi gini Kah kata Afzam, Nafisa nggak masuk sekolah, katanya dia sakit, anti tau nggak dia sakit apa ? ” Lagi-lagi jantungku terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Luka yang sudah berusaha keras ku jahit dirobek dengan mudahnya oleh perkataan Haidar. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi namun harus ku paksakan untuk tetap tegar. “Maaf akhi ana kurang tau.” Dar ana udah nggak kuat lagi nahan rasa sakit yang berkali-kali dihujankan ke ana. Setelah itu aku langsung berlari sambil menangis meninggalkan Haidar dan dia pun kebingungan melihatku.

Saat jam istirahat Haidar datang ke bangku ku, “Ikah, maafin ana, kenapa anti tadi ninggalin ana sambil nangis ?” Ucap Haidar. Namun, aku hanya diam, dan tidak memperdulikannya. “Ikah kenapa nggak ngasi tau ana, kalo anti kayak gini, gimana ana bisa ngerti.” “Akhi, hati perempuan itu kayak air. Terlalu sulit buat digenggam. Untuk tau akhi harus berani menyelam, cari apa yang paling dia inginkan dan apa yang nggak dia sukai. Disana semua disimpan. Karena nggak semua perempuan mau numpahkan masalah mereka, sesekali mereka bakalan simpan sendiri di dasar terdalam. Dan saat itu terjadi, akhi harus menyelam kedalamnya buat nyari dan ngebuang beban itu. Assalamualaikum.” Ucapku dengan nada tegas, lalu langsung pergi dari kelas. Sejak kejadian itu aku jarang berinteraksi lagi dengan Haidar. Kami hanya berbicara jika ada hal-hal penting saja, tentang tugas sekolah, kelas, organisasi, dan hal lainnya yang memang penting dan mengharuskan kami untuk berbicara. Hal ini memang susah, tapi ini harus aku lakukan agar aku bisa cepat melupakannya.

***

Malam ini aku dan Aisyah duduk di depan asrama, aku melihat Haidar yang tengah dijenguk orang tuanya, dan aku merasa sedih karna itu membuatku semakin rindu dengan kedua orang tuaku. Aisyah disampingku, sedang sibuk dengan buku diary silver kesayangannya.   Aku pun mengalihkan pandanganku pada langit,  menatap langit malam dengan taburan bintang-bintang.  “Waktu itu cepet banget ya Ai. 10 tahun lalu ana kayak gini dengan umi dan abi, natap langit dengan taburan bintang. Kemarin juga kita disini berempat. Kalau aja dulu ana itu lebih kuat pasti ana bisa nyelamatin umi sama abi. Kalau aja kemaren ana bisa nahan rasa sakit karena Haidar, mungkin sampai sekarang ana masih bisa ngehitung bintang dengan umi, abi, dia, anti, afzam, berenam.” Aku tidak melanjutkan kalimatku, tenggorokanku tersekat. Sekuat mungkin ku tahan air mata yang akan turun. Di luar dugaan, Aisyah bangkit dari posisinya, lalu telapak tangannya menutupi mataku. Lembut, suara Aisyah terdengar diantara hening malam. “Kalau ngeliat langit malam buat Ikah ngerasa sakit, jangan diliat.” Aisyah menghela nafas sejenak, sebelum kembali berujar. “Ana tau Ikah suka liat langit malam. Tapi, kadang apa yang paling kita cintailah yang melukai paling dalam. Ikah udah cukup kesakitan selama ini, Ikah butuh istirahat.” Kalimat Aisyah membuat tenggorokanku tersekat. Ada gumpalan yang terjebak di kerongkonganku. Aku benci mengakuinya, tetapi Aisyah benar. Sakit selalu menghantam tiap kali mataku jatuh pada langit malam. “Menyimpan rasa sakit sendirian itu bikin capek, tapi lebih capek lagi kalau pura-pura baik-baik saja.” Tepat setelah Aisyah mengucapkan kalimat yang terakhir, setetes air mata luruh dari sudut mataku. Air mata keduaku yang disaksikan orang lain, setelah lebih dari 10 tahun aku menangis sendirian, sejak kepergian ayah dan ibuku ke syurga. Ya Aisyah adalah satu-satu orang yang mengetahui bahwa orang tuaku telah pergi, sejak kepergian mereka bibi dan paman lah yang menemaniku. Malam ini, untuk kali pertama, ada orang yang  mendengarkan kisahku. Mengerti kelelahanku, tetapi tidak lantas memintaku menjadi pribadi yang kokoh. Malam ini, untuk kali pertama, aku membagi lukaku secara utuh. Aku membiarkan seseorang melihat kekalahanku atas masa lalu. Merekam segala bentuk kerapuhanku. Aisyah melakukannya, tanpa kata-kata, hanya diwakilkan oleh air mata.

***

Sore ini aku sudah berjanji dengan Afzam, Haidar, dan Nafisa untuk mengerjakan laporan biologi di sekolah. Saat tiba di sekolah hanya ada Afzam yang tengah duduk di bangku taman. “ Assalamualaikum, Zam Nafisa sama Haidar mana ?” Tanyaku pada Afzam. “Waalaikumsalam, mereka lagi belanja buat keperluan acara OSIS minggu depan, mungkin baliknya masih lama.” “Oh ya udah kalo gitu, kita kerjain aja dulu berdua.” Jawabku “Afwan ya Kah, mungkin kalo ponsel ana nggak lowbatt mungkin anti nggak perlu denger ini.” Mendengar kalimat Afzam aku bingung “Maksudnya ?” Afzam tertawa renyah. “Ikah, ana bisa ngeliat, cara anti natap Haidar itu bukan sebagai sahabat.” Aku tersenyum miris, “Tapi Haidar nggak liat.” “Karena memang kadang semenyedihkan itu saat kita jatuh cinta sama seseorang. Semua orang mungkin bisa sadar, kecuali orang yang kita jatuhi cinta.” “Kadang antum puitis juga ya Zam ?” gumamanku dibalas Afzam dengan senyum manis.

Saat kami mengerjakan laporan, Afzam sempat ragu, tetapi akhirnya memberanikan diri bertanya. “Ikah, anti nggak mau coba nyatain perasaan anti ke Haidar ?” mendengar itu aku terdiam sesaat, menghela napas lelah. “Nggak Zam, ana kan perempuan.” “Kenapa ? Sayyidatina Khodijah perempuan tapi beliau yang lebih dulu menyatakan cintanya kepada Rasululloh.” “Ana nggak bisa seperti Sayyidatina Khodijah yang dengan berani menyatakan cintanya kepada Rasulullah.” “Kenapa ? anti kan perempuan yang tangguh, menurut ana.” tanya Afzam lagi. Aku menoleh, mengembangkan sedikit senyumnya, lantas berujar dengan gamang. “Ana nggak setangguh Sayyidatina Khodijah Zam, kalau ana nyatain perasaan ana, keadaan diantara kami mungkin berubah. Haidar mungkin bakalan jaga jarak, dan ana belum siap untuk kehilangan.” Aku berhenti berujar sebentar, menggantungkan kalimat demi menemukan oksigen bersih untuk melepas sesak. “Saat ini, dia sedang jatuh cinta. Walaupun ana nggak berharap dia bakal ngerasain sakit, tapi sejauh yang ana tau, jatuh cinta selalu berpasangan dengan patah hati. ana nggak mau ketika dia patah hati nanti dia nggak punya siapa pun untuk lari. Ana nggak mau dia sedih sendirian. Maka dari itu, ana ada. Kalaupun ana nggak bisa ngebahagiain dia, ana berharap ana bisa jadi tempat dia lari setiap kali dia jatuh.” Afzam menggigit bibir bawahnya, sedikit perih tiba-tiba menyebar di dadanya. Dia pikir, perasaan sukanya hanya sebatas kagum. Namun, ketika mata cokelat ku meredup, ada gumpalan yang terjebak dalam kerongkongannya. Afzam menyadari kekalahannya atas sebuah bayangan, dan aku bisa melihatnya, tapi aku berpura-pusa biasa saja. “Sekalipun anti cuma jadi sahabat Haidar selamanya ?” ujarnya lagi. Aku terdiam sebelum mengangguk yakin. “Meskipun ana hanya sebatas sahabat buat Haidar, selamanya. Karena cinta itu bukan gini (aku menggenggam tanganku) tapi gini (membuka genggamanku), kalo terlalu kita genggam itu bukan cinta tapi nafsu, cinta itu ikhlas, biarin dia bebas untuk bahagia walaupun bukan kita yang jadi alasan buat dia bahagia. Ikhlasin aja. ” ucapku diiringi senyum. Maafin ana Zam, ana tau perasaan antum ke ana.

***

Tak terasa akhirnya 356 hari telah berlalu, dan tibalah hari dimana kami semua harus berpisah dan pergi untuk mengejar mimpi masing-masing. Aku terdiam di sudut panggung depan pintu kelas menatap teman-temanku, aku bertanya-tanya di dalam hatiku, bisakah kita bertemu lagi ? bagaimana wajah kita nanti ? dan banyak lagi pertanyaan yang berputar di hatiku, sampai tiba-tiba suara seseorang mengejutkanku. “Adek !” Aku selalu menjadi orang pertama yang Haidar cari, kala dia senang ataupun sedih. Matanya berkilat-kilat, ada kebahagiaan yang terpancar jelas di sana.

“Ikah ana udah ngungkapin perasaan ana ke Nafisa !”

Deg

Dalam sedetik aku merasa jantungku berhenti berdetak. Langit seolah runtuh diatas kepalaku. Hancur. Haidar tidak menyadari sepucat apa wajahku, aku berpegangan pada bingkai pintu, berusaha menopang tubuhku sendiri. Ada sesuatu yang diambil paksa dari diriku. Menghantam-hantam dadaku. Merampas seluruh oksigenku. Dan, “sesuatu” tersebut, orang panggil sebagai harapan.   

“Terus..terus kata Nafisa apa bang ?” tanyaku antusias dengan senyuman yang kuukir sebahagia mungkin. “Ternyata perasaan dia ke ana juga sama seperti ana ke dia Kah.” Jawab Haidar dengan wajah yang berseri. “Selamat ya Abang ! semoga bisa sampai Jannah.” “Iya dek, amiin.”

Setelah acara perpisahan selesai, ada suara memanggilku, “Syaikhah, adek.” Ucap orang itu, “Iya Abang.” Jawabku “Ana mau ngomong sesuatu sama Ikah.” “Ya, ngomong aja.” “Ana minta maaf  Dek, kalau ana selama ini ana belum bisa jadi abang ya baik.” “Iya abang, ana juga minta maaf ya !” “Semoga semua mimpi Ikah tercapai ya! pokoknya besok kalo kita ketemu lagi di depan nama anti harus udah ada huruf ‘d’ sama ‘r’ ya Kah. Jaga hafalan anti baik-baik dan jangan pernah berhenti ngafal sampek anti selesain tiga puluh juz.Tetep jaga hati. Kalo ada apa-apa jangan sungkan, Ana uhibbuki fillah. Anti bakanal selamanya jadi adek ana, kita sodara. Dan Ikah selalu ada dalam hati dan doa ana.” Tubuhku membeku, jantungku berdesir kencang, waktu ini terasa terhenti seketika. Butiran-butiran hujan turun membasahi pipiku, aku tidak tau mau berkata apa lagi. “Syaikhah ? kenapa nangis ?” aku hanya menggelengkan kepalaku sambil tersenyum, “Ana nggakpapa akhi, ana bersyukur banget sama Allah karena mengirimkan abang kayak akhi.” Jawabku, butiran-butiran hujan kembali membasahi pipiku dengan deras.

Dalam perjalanan ke kampung halamanku di pulau dewata aku ditemani oleh rasa rindu dan sakit atas apa yang telah terjadi beberapa ribu detik yang lalu. Aku mengambil buku coklat yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi dan mulai menggoresnya dengan tinta warna-warni untuk mewakilkan perasaanku saat ini.

Satu hari di 2021 (perpisahan)

Bolehkah ana bertanya pada waktu, kapan akhi akan menyadari perasaan ana?Bolehkah ana bertanya pada rindu, apa akhi juga merasakannya? ana berjuang sendiri di tengah sepi. Tanpa ada seorang pun yang menyadari, mungkin hanya denyut nadi dan degupan jantung yang mengerti. Ditambah keheningan malam yang selalu menemani. Menunggu di tengah sunyi. Sulit ana mengerti. Kenapa perasaan semacam ini datang menghampiri? Ana cari alasan, tapi tak kunjung mendapatkan jawaban. Ana terus menunggu tanpa kepastian. Menunggu dengan beralaskan luka, bermandikan air mata. Pertanyaan ana hanya satu, kapan akhi peka ?

Alam menjadikan kita sebagai abang dan adek, sebagai sodara, sebagai sahabat. Mungkin menurut akhi ini biasa, tapi menurut ana ini adalah sebuah anugrah yang luar biasa. Akhi tau, nggak ada persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Hanya kata-kata  saja ‘bersahabat’ tapi perasaan nggak. Ana, akhi, Azfam realitanya sebagai bukti dari itu semua. Ana tau tentang akhi dan perasaan akhi. Ana benar-benar sayang akhi. Tapi semakin ana sayang ana semakin sakit dan bimbang dengan perasaan ana, dan benar Allah nggak nempatin ana buat akhi sebagai yang lain, kecuali adik bagi akhi. Karna Allah udah ngirim Nafisa buat akhi. Ana minta maaf karna udah berharap lebih atas perhatian yang akhi kasi. Hati ana udah dibolak-balik dan ana nggak punya kuasa buat ngubah itu dengan sesuka ana, karna ana bukanlah pemilik sebenarnya.

***

             Di sebuah taman di pulau dewata, aku duduk disalah satu kursi taman dengan sebuah buku coklat di tanganku, dan segerombolan pulpen warna-warni, seperti yang selalu dibawa Haidar dulu. Jari jemariku mulai mengukir huruf demi huruf yang ada di hatiku sore ini.

            12 februari 2023 (kedua puluh kalinya tanggal ini terulang)

Setiap tanggal ini muncul ana semakin sakit karena ana semakin mengingat dan merindukan antum Dar. Ana ngebiarin sesuatu yang seharusnya nggak usah ada. Ana ngebiarin itu semua tumbuh. Ana ngebiarin itu semua ngalir. Dan ana selalu berusaha mempertahanin itu semua, tapi waktu yang ana punya menghartarkan ana kepada sesuatu yang berbeda. Ana milih buat mempertahanin sesuatu yang lain, walaupun ana sendiri yang kesakitan. Ana seperti ombak yang terlihat kuat, namun rapuh saat bertemu tepian. Ana jaga perasaan orang lain sampai ana lupa perasaan ana sendiri. Tapi ana tau dibalik semua itu ada sesuatu istimewa yang nggak pernah kita bayangkan sedang menunggu.

Ana nggak bisa nyalahin apapun. Karena hidup adalah perjalanan, dan dalam perjalanan kita pasti akan sering meninggalkan atau ditinggal dan ana nggak mau keduanya, tapi ia hanya bisa terus berputar, perjalan, mempertemukan, dan memisahkan. Dan ana hanya bisa berharap untuk dipertemukan kembali, walau persentasenya hanya sedikit. Menunggu tapi tak ditunggu. Bertahan tapi tak ditahan, itulah yang ana rasakan sampai detik ini.

 

 

 

 

Kamis, 11 Agustus 2022

Andai


Hari ini Wisnu pulang. Ia kembali ke desanya. Ia sudah tak tahu lagi kemana Ia akan pergi. Ia hanya mengikuti kata hatinya untuk belajar agama kepada Om Amin di desa. Wisnu duduk di mobil dengan pikiran yang kabur, Ia teringat bahwa dulu Ia pernah bersikap tak baik pada Mama. Otaknya mengulang kembali momen itu, saat usianya baru genap 16 tahun. Tangannya yang keras menghantam meja.

Pakk..

“Ma, aku pengen beli IPhone terbaru!” bentak Wisnu

“Harganya mahal Wisnu. Mama lagi gak punya uang! Nanti aja ya, kalau hasil jualan Mama banyak untungnya. Wisnu banyakin doa. Mama ke pasar dulu” kata Mama lembut.

Wisnu sebenarnya sadar, Ia sudah terlalu banyak meminta dan Mama selalu memenuhinya. Tapi rasa keinginannya begitu besar dan kokoh. Tak ada satupun anggota keluarga yang berani menentangnya.

Sepulang dari pasar, Mama langsung menemui Wisnu di kamar.

“Wisnu!” panggil Mama sembari mengetuk pintu

“Apa Ma?” suara Wisnu menggelegar. Ia berjalan dengan malas kearah pintu. Setelah pintu terbuka, betapa terkejutnya Wisnu melihat kotak berisi IPhone yang ia inginkan.

“Alhamdulillah tadi ada rezeki lebih!” kata Mama menyodorkan kotak itu. Wisnu mengambilnya dengan antusias.

“Yeeaaayy!IPhone baruuuu. Hahahayy!” ungkapnya sambil menutup pintu. Mama mematung. Tak ada rasa terima kasih yang keluar dari bibir Wisnu. Padahal hari ini Mama tak begitu beruntung. Ia terpaksa menjual kalung emas pemberian Papa untuk membeli IPhone.

Entahlah apa yang membuat  Mama selalu sabar menghadapi anaknya yang satu itu. Segala keinginan Wisnu ia sanggupi, kecuali saat itu.

“Ma, aku capek tiap hari jalan kaki mulu! Aku pengen motor!”kata Wisnu

“Iya Wisnu, tapi nanti kalau uangnya sudah cukup ya! Kamu tahu sendiri kita bukan orang kaya. Buat makan sehari-hari aja setengah mati. Mama harap kamu sabar. Untuk sementara ini kamu naik ojek aja kalau capek.” Ucap Mama.

“Aku gak mau Ma! Aku maunya sekarang! Temen-temen aku udah punya motor semua. Masa aku enggak sih?” suara Wisnu mulai meninggi.

“Iya kalau kalau kamu capek kan kamu bisa nebeng sama temen kamu! Ya?” kata Mama

“Gak! Pokoknya aku mau motor! Kalau gak, aku pergi dari rumah ini!” Wisnu bersikeras kemudian pergi.

Mama selalu berharap Wisnu sadar suatu saat. Ia ingin Wisnu menjadi anak yang sholeh. Ia ingin Wisnu menjadi seorang hafidz Qur’an. Mama tak ingin terburu-buru mengambil keputusan untuk menuruti keinginan Wisnu kali ini.

 

Siang itu Wisnu kembali dengan pipi lebam dan wajah yang masam. Ia langsung menemui Mama.

“Mana motorku ma?”tanyanya

“Kamu baru pulang setelah hilang dua hari dan sekarang masih mikirin motor? Lihat mukamu nak! Apa yang udah kamu lakuin?”tanya Mama

“Itu gak penting, Ma! Mana motorku?” tanyanya lagi

“Sana! Cuci muka dan Wudu! Habis itu buka Al-Quran!” kata Mama. Suara terdengar tegas

“Ogah lah! Ngapain aku baca yang begituan? Emang isinnya apa sih! Males banget!” kata Wisnu

“Yaudah sih buka aja!” Mama setengah memaksa

“Males! Udahlah ngapain aku di rumah. Mendingan seneng-seneng bareng temen!”kata Wisnu kemudian pergi.

Mama tak menyusulnya. Wisnu kembali menghilang bersama Rizal, adiknya. Tapi kali ini tak hanya sehari dua hari. Teman Wisnu yang bernama Kaka mengabari Mama bahwa Wisnu pergi ke kota. Ia bilang Wisnu baik-baik saja. Wisnu juga sering mengirimkan uang dengan jumlah cukup besar. Mama menggunakan uang itu untuk membangun rumah.

Sementara itu keadaan sebenarnya.

“Ayo, Kak. Kita pergi dari sini! Aku pengen berhenti!” Rizal memohon

 “Loe gimana sih? Mama aja gak pernah komplen. Justru Mama seneng setiap bulan kita kirimin uang yang banyak.”

“Tapi kan Mama gak tau kalau itu uang hasil jual beli narkoba!”

“Ya gue mah bodo amat ya. Tapi gue sering kok ngirim kabar ke Mama. Gue udah berubah. Gue nyaman disini!”

“Tapi kakak bohong ke Mama. Kakak gak berubah!” bentak Rizal

“Udah deh, loe kalau mau pergi ya pergi aja sana! Hus! Sana!” usir Wisnu. Ia mengeluarkan botol kecil berisi cairan dari saku dan meminumnya.

Perdebatan mereka membuat Wisnu terpisah cukup jauh dari adiknya. Tapi ia tahu dimana Rizal berada. Kabar burung mengatakan kalau sekarang adiknya telah hijrah. Rizal tak sama seperti yang dulu dan karena itulah ia enggan menemui adiknya.

Sebulan berlalu. Wisnu kembali ke rumahnya di desa. Tapi, yang ia temui kemudian hanyalah kepulan debu dan bongkahan kayu hangus.

“Wisnu!” panggil seseorang. Wisnu menoleh. “Akhirnya kamu pulang juga, Nak!”

“Ini beneran rumah gue kan? Nyokap gue mana?”tanya Wisnu panik

“Aku harap kamu tabah, Wisnu. Tepat sepekan yang lalu rumah ini terbakar. Itu terjadi di malam hari. Kami tak dapat berbuat apapun. Ibu dan kedua saudaramu tidak dapat diselamatkan!”

Bak belati menghujam, tubuh Wisnu seketika melemas. Ia menangis. Ini pasti karena segala barang haram itu. Pikirnya. Andai ia mengikuti perkataan adiknya. Andai ia pulang lebih cepat. Andai.. .Ia hanya bisa mengandai. Yang dikatakan adiknya itu benar. Sekarang ia harus kembali ke kota ia harus menemui Rizal. Hanya dia keluarganya yang tersisa.

Wisnu tiba menjelang malam, ia langsung pergi ke tempat dimana adiknya berada. Sekujur tubuh Wisnu dipenuhi keringat dingin begitu melihat bendera kuning tertancap.

“Tadi siang, beberapa orang berbadan kekar datang kemari. Hanya sebentar. Aku tak dapat menanyakan apapun karena yang kudapati berikutnya Rizal sudah tak bernyawa!” pemilik kos tempat Rizal tinggal berbaik hati menjelaskan.

“Aaaaaaaggghhh! Kenapa semua jadi gini!? Sekarang gue udah gak punya siapa-siapa lagi! Maafin gue, Zal! Maafin aku Ma, Pa!” tangis Wisnu menyesakkan dada semua orang disekelilingnya.

“Sabar nak Wisnu. Ini ujian. Inget Allah, nak!” pemilik kos menasehati. Jantung Wisnu berdetak lebih kencang. Ia ingat kata itu. Allah. Wisnu mengejanya dalam hati. Ya, dulu Papa pernah mengajarkan Wisnu tentang-Nya sebelum Papa benar-benar pergi.

Tiiiitt… tiiiit…

Suara klakson membuyarkan lamunan Wisnu. Ia melihat sekeliling. Tujuannya sudah tampak dekat.

Wisnu tiba di rumah Om Amin pukul 6 tepat. Paman langsung mengajaknya bicara empat mata.

“Ini Al-Qur’an peninggalan Mamamu. Dia pengen banget kamu jadi penghafal Al-Qur’an. Dulu dia cerita kalau kamu sama sekali gak pernah mau disuruh buka Al-Qur’an! Bener?” tanya Om Amin

“I..iya Om! Tapi aku janji gak bakal gitu lagi, Om! Aku pengen berubah Om! Aku sadar aku salah! Aku pengen jadi hafidz Qur’an, Om!” Wisnu memelas

“Yaudah kalau gitu sana wudhu! Habis itu baru kamu boleh pegang AlQur’an ini!” perintah Om Amin.

Wisnu menuruti perkataan Om Amin. Ia kembali beberapa menit kemudian. Ia duduk kemudian mulai membuka Al-Quran itu. Wisnu sangat terkejut ketika menemukan sebuah kunci motor terselip didalam Al-Qur’an itu. Inikah alasan Mama menyuruhnya membuka Al-Qur’an. Ia termenung. Setetes air jatuh di pipinya. Ia menyesal.

“Maafkan aku, Ma!” bisiknya dalam hati

Andai ia dulu mau sebentar saja membuka Al-Qur’an itu., keinginannya pasti terpenuhi. Andai ia dulu mau sebentar saja membuka Al-Qur’an, tak mungkin ia terjerumus dalam pergaulan yang salah. Andai ia dulu mau sebentar saja membuka Al-Qur’an, mungkin keluarganya masih hidup saat ini. Andai ia dulu mau sebentar saja membuka Al-Qur’an, mungkin semua akan lebih indah.

 

 

 

 

Penelitian Kualitatif

1. Pengertian Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah pendekatan ilmiah yang digunakan untuk memahami makna, realitas sosial, a...