Sabtu, 29 Maret 2025

Teks Negosiasi

Pengertian Teks Negosiasi

Teks negosiasi adalah teks yang berisi proses tawar-menawar antara dua pihak atau lebih untuk mencapai kesepakatan bersama yang saling menguntungkan. Negosiasi bertujuan untuk menyelesaikan perbedaan kepentingan dengan cara musyawarah.

Ciri-Ciri Teks Negosiasi

  1. Melibatkan dua pihak atau lebih yang memiliki kepentingan berbeda.

  2. Mengandung proses tawar-menawar untuk mencapai kesepakatan.

  3. Bersifat persuasif, artinya salah satu pihak meyakinkan pihak lain agar menerima usulannya.

  4. Menyertakan argumen logis untuk memperkuat posisi tawar masing-masing pihak.

  5. Menghasilkan keputusan yang menguntungkan semua pihak (win-win solution).

Jenis-Jenis Teks Negosiasi

  1. Negosiasi Formal → dilakukan dalam situasi resmi, seperti perundingan bisnis atau diplomasi.

  2. Negosiasi Informal → terjadi dalam kehidupan sehari-hari, seperti tawar-menawar di pasar.

  3. Negosiasi Internal → terjadi dalam organisasi atau perusahaan, misalnya antara karyawan dan manajer.

  4. Negosiasi Eksternal → dilakukan antara dua organisasi atau individu yang berbeda kepentingan, seperti negosiasi dagang antara penjual dan pembeli.

Struktur Teks Negosiasi

  1. Pembukaan → salam dan perkenalan antara pihak-pihak yang bernegosiasi.

  2. Penyampaian Permintaan → salah satu pihak menyampaikan keinginan atau kebutuhannya.

  3. Penawaran → terjadi tawar-menawar antara kedua pihak.

  4. Kesepakatan → kedua belah pihak mencapai kesepakatan bersama.

  5. Penutup → mengakhiri negosiasi dengan kesimpulan dan salam penutup.

Ciri Kebahasaan Teks Negosiasi

  • Menggunakan bahasa persuasif untuk meyakinkan pihak lain.

  • Bersifat interaktif dengan adanya dialog atau percakapan.

  • Menggunakan kalimat efektif dan logis untuk menyampaikan maksud dengan jelas.

  • Mengandung kata-kata negosiasi, seperti "bagaimana jika", "saya setuju tetapi", "bolehkah kita mempertimbangkan", dll.

Contoh Teks Negosiasi dan Pembahasannya

Situasi: Seorang pembeli menawar harga baju di pasar.

Pembeli: "Bu, berapa harga baju ini?"
Penjual: "Ini harganya Rp150.000, Mbak."
Pembeli: "Wah, kalau Rp150.000 terlalu mahal. Bisa kurang, Bu?"
Penjual: "Ini bahan bagus, Mbak. Saya kasih Rp130.000, deh."
Pembeli: "Kalau Rp100.000 bagaimana, Bu?"
Penjual: "Wah, kalau segitu saya rugi. Rp120.000, deh, final."
Pembeli: "Baiklah, saya ambil satu."
Penjual: "Terima kasih, Mbak!"

Pembahasan:

  • Pembeli menyampaikan permintaan (ingin membeli baju).

  • Proses tawar-menawar terjadi (pembeli menawar harga, penjual menawarkan harga terbaik).

  • Kesepakatan tercapai (harga disepakati di Rp120.000).

  • Diakhiri dengan salam dan transaksi selesai.

Contoh analisis struktur teks negosiasi di atas:

Analisis Struktur Teks Negosiasi

  1. Pembukaan

    • Pembeli: "Bu, berapa harga baju ini?"

    • Bagian ini berfungsi sebagai pembuka percakapan. Pembeli memulai interaksi dengan menanyakan harga barang.

  2. Penyampaian Permintaan

    • Penjual: "Ini harganya Rp150.000, Mbak."

    • Pembeli: "Wah, kalau Rp150.000 terlalu mahal. Bisa kurang, Bu?"

    • Pada tahap ini, penjual menyampaikan harga awal, dan pembeli mengajukan permintaan agar harga diturunkan.

  3. Penawaran

    • Penjual: "Ini bahan bagus, Mbak. Saya kasih Rp130.000, deh."

    • Pembeli: "Kalau Rp100.000 bagaimana, Bu?"

    • Penjual: "Wah, kalau segitu saya rugi. Rp120.000, deh, final."

    • Terjadi proses tawar-menawar. Penjual menawarkan harga lebih rendah, pembeli kembali menawar dengan harga lebih murah, hingga akhirnya penjual memberikan harga final.

  4. Kesepakatan

    • Pembeli: "Baiklah, saya ambil satu."

    • Pada bagian ini, pembeli menerima harga yang ditawarkan oleh penjual. Kesepakatan pun tercapai.

  5. Penutup

    • Penjual: "Terima kasih, Mbak!"

    • Bagian ini menutup proses negosiasi dengan ucapan terima kasih.

Contoh analisis ciri kebahasaan teks negosiasi di atas:

Analisis Ciri Kebahasaan Teks Negosiasi

  1. Menggunakan Kalimat Persuasif

    • Contoh: "Ini bahan bagus, Mbak. Saya kasih Rp130.000, deh."

    • Kalimat ini digunakan oleh penjual untuk meyakinkan pembeli bahwa harga yang ditawarkan sudah sesuai dengan kualitas barang.

  2. Menggunakan Kalimat Interaktif (Dialog Dua Arah)

    • Contoh:

      • Pembeli: "Bu, berapa harga baju ini?"

      • Penjual: "Ini harganya Rp150.000, Mbak."

    • Dialog ini menunjukkan adanya komunikasi langsung antara dua pihak yang bernegosiasi.

  3. Menggunakan Kalimat Efektif dan Logis

    • Contoh: "Kalau Rp100.000 bagaimana, Bu?"

    • Kalimat ini langsung pada inti negosiasi, yaitu penawaran harga, tanpa tambahan informasi yang tidak perlu.

  4. Menggunakan Kata-Kata Negosiasi

    • Contoh:

      • "Bisa kurang, Bu?" → menunjukkan permintaan diskon.

      • "Kalau Rp100.000 bagaimana, Bu?" → memberikan tawaran harga yang lebih rendah.

      • "Rp120.000, deh, final." → menyatakan harga akhir yang tidak bisa ditawar lagi.

  5. Menggunakan Kalimat Kesepakatan

    • Contoh: "Baiklah, saya ambil satu."

    • Kalimat ini menandakan bahwa pembeli menerima tawaran terakhir dari penjual, yang berarti negosiasi telah mencapai kesepakatan.

  6. Menggunakan Kalimat Penutup

    • Contoh: "Terima kasih, Mbak!"

    • Ucapan terima kasih menandai akhir dari negosiasi dengan suasana yang tetap baik antara kedua pihak.

Kamis, 25 Juli 2024

Belalang Anggrek

 

Teman-teman, kali ini saya akan menyampaikan laporan hasil observasi yang telah dilakukan beberapa waktu lalu. Objek yang diobservasi adalah belalang anggrek. Pertama-tama, saya akan menyampaikan informasi umum terkait dengan belalang anggrek. Belalang anggrek atau Hymenopus Coronatus adalah salah satu jenis belalang sentadu atau belalang sembah yang hidup di Indonesiadan kawasan Asia Tenggara lainnya. Seperti namanya, belalang ini memiliki bentuk dan warna yang menyerupai bunga anggrek.

Pada bagian berikutnya, saya akan menjelaskan ciri khas belalang anggrek yang terdiri atas bagian tubuh, bentuk tubuh, makanan, dan daur hidupnya. Bagian tubuh belalang anggrek terdiri atas kepala, toraks, dan abdomen. Di bagian kepala terdapat mata majemuk, mulut, dan dua buah antena seperti benang. Seperti jenis belalang sentadu lainnya, kepala belalang anggrek dapat berputar 3600. Di bagian toraks terdapat tiga pasang kaki. Kaki depan belalang anggrek yang panjang dan kuat dilengkapi dengan duri dan capit. Belalang anggrek memiliki dua pasang sayap yang menutupi bagian abdomennya. Sayap depan berfungsi melindungi sayap belakang sehingga teksturnya lebih keras.

Ukuran tubuh belalang anggrek berbeda antara jantan dan betina. Panjang tubuh belalang anggrek jantan sekitar 2,5—3 cm, sedangkan betina 6—7 cm. Tubuh mereka berwarna putih dengan aksen merah muda lembut atau cerah. Beberapa belalang, bahkan berwarna benar-benar putih atau merah jambu. Namun, belalang anggrek dapat mengubah warna tubuhnya dalam hitungan sehari, bergantung pada kondisi lingkungan, seperti kelembapan dan kondisi cahaya.

Belalang anggrek merupakan predator polifagus atau pemak an beberapa jenis mangsa. Mereka memangsa serangga lain yang bertubuh lebih kecil, seperti jangkrik, capung, lebah, dan lalat. Belalang anggrek menggunakan bentuk dan warna tubuhnya untuk menarik perhatian mangsa. Saat mangsa mendekat, mereka akan menggunakan kaki depannya untuk menangkapnya. Belalang sembah hanya memangsa hewan yang masih hidup.

Belalang anggrek merupakan hewan yang mengalami metamorfosis tidak sempurna. Fase hidupnya terdiri dari telur, nimfa, dan dewasa. Belalang betina dapat bertelur sampai 300 butir. Telur tersebut diletakkan dalam sarang berbentuk buih putih yang disebut ooteka. Ooteka lama-lama akan mengeras dan melindungi telur-telur dari panas dan hujan. Telur-telur tersebut membutuhkan waktu sekitar enam minggu untuk menetas. Saat menetas, nimfa belalang sembah sudah menyerupai belalang anggrek dewasa. Itulah mengapa belalang anggrek disebut mengalami metamorfosis tidak sempurna.

Sebagai penutup, saya akan menyampaikan manfaat belalang anggrek. Belalang anggrek berguna bagi manusia untuk membasmi hama berupa serangga. Karena keindahannya, belalang anggrek juga dijadikan peliharaan.

Demikian laporan hasil observasi saya. Terima kasih atas perhatian teman-teman semua.

Minggu, 02 Juni 2024

TERAPI SUNYI

 Suara tak bernada membisik

Dalam sunyi tanpa ada mengusik

Qolbu melirik nafsu nan picik

Bak bunga malam tak berputik


Suara tak bernada menyapa

Dengan untaian kata duka nestapa

Menerawang ruang dosa

Warna warni kehidupan dunia


Malam... 

Aku bermalam

Aku tenggelam dalam kelam malam

Diiringi suara jangkrik malam

Minggu, 19 Mei 2024

HAMPIR SEMPURNA


            Di sebuah pedesaan yang berada di daerah yang subur, terdapat sebuah keluarga yang kaya raya. Didalam keluarga tersebut terdapat sepasang suami istri yang bernama Pak Danan dan Ibu Fitri. Pak Danan berprofesi sebagai juragan pertanian dan perkebunan, mereka dikaruniai dua orang anak yang bernama Andre dan Citra.

            Pak Danan dan Ibu Fitri dikenal sebagai orang yang baik dan dermawan, contohnya seperti memiliki tradisi yaitu setiap selesai panen, Pak Danan selalu membagikan sebagian dari hasil panennya kepada masyarakat, dan ketika tetangganya mengalami kesusahan, ia selalu membantu. Bahkan setiap ada kegiatan amal Pak Danan selalu ikut menyalurkan dana. Tidak hanya Pak Danan tetapi istrinya Buk Fitri juga dikenal sebagai orang yang baik hati dan suka menolong orang lain seperti, membangun sekolah yang bernama SMP 7 Bhakti didaerah tempat tinggalnya, memberikan banyak sekali sumbangan bagi anak-anak yang kurang mampu dan memberikan anak-anak tersebut bersekolah disana dengan gratis. Karena kebaikan hati orang tuanya, Andre dan Citra pun merasa sangat bahagia dan bangga hidup dalam keluarga itu. Karena semua hal yang diperlukan oleh keduanya selalu terpenuhi tanpa ada kebimbangan yang muncul. Andre dan Susi pun merasakan kesempurnaan dalam hidup mereka.

            Dilain sisi, karena Buk Fitri yang setiap hari selalu sibuk dengan pekerjaannya yaitu sebagai kepala sekolah sekaligus guru bagi anak-anak SMP 7 Bhakti yang dibantu oleh guru-guru lain yang digaji oleh Buk fitri. Selain itu Pak Danan sibuk memantau jalannya pertanian dan perkebunannya, dan Andre yang sudah menginjak kelas 1 SMP, kebetulan ia disekolahkan di tempat ibunya mengajar. Karena semua kesibukan yang melanda, Buk Fitri akhirnya mencari seorang pembantu untuk mengurus rumah sekaligus menjaga Citra. Dan akhirnya dapat, pembantu tersebut bernama Bik Lica, karena Si Citra masih berusia 2 tahun, jadi Citra memanggil pembantu tersebut dengan nama Bikcak. Berawal dari sanalah nama Bikcak terlahir dalam rumah tangga tersebut.

            Suatu hari dipagi yang cerah, disaat semua orang didalam rumah sibuk dengan kesibukan tersendiri. Dan ketika semuanya berkumpul di meja makan untuk menyantap sarapan yang disajikan Bikcak. Saat Bikcak ingin kembali ke dapur, Buk Fitri memanggil Bikcak.

“ Bikcak mau kemana??” Kata Buk Fitri

“ Mau kedapur buk” Sahut Bikcak

Buk fitri pun menjawab “ Mau ngapain?”

“ Mau membersihkan dapur” Sahut Bikcak

Buk Fitri langsung menyuruh bikcak untuk duduk bersama.

“ Ehh nanti bersih-bersihnya, sekarang ayok duduk dan makan bersama kami sekeluarga”.

Bikcak pun menjawab,

“ Ehh jangan buk saya malu, saya cuman pembantu disini”

Buk Fitri langsung menghampiri bikcak dan mengajaknya untuk duduk dan makan bersama dan berkata,

“ Bik, bikcak udah kita anggep keluarga, jadi ndak perlu malu, bener kan yah?”

Pak Danan pun menjawab,

“ Bener bik, bikcak sudah kami anggap keluarga, sini makan masakannya sendiri, enak loh masakannya bik, kami jadi ketagihan, bener kan anak-anak?”

            Anak-anak pun mengangguk tanda setuju dengan lontaran kalimat ayahnya. Bikcak pun merasa sangat senang bisa mengenal dan menjadi bagian dari keluarga Pak Danan dan Buk Fitri, sambil memancarkan senyuman manis, mereka semua pun makan bersama layaknya keluarga paling bahagia didunia. Setelah semua selesai sarapan, Pak Danan pun langsung berangkat terlebih dahulu karena ia tidak ingin telat dalam melaksanakan kewajibannya sebagai ayah pemimpin keluarganya, setelah suaminya berangkat, Buk Fitri pun menyusul sambil menggandeng Andre untuk berangkat ke sekolah. Sebelum itu Sang Ibu mengatakan beberapa kalimat kepada Citra.

“ Nak, kamu jangan nakal ya, nurut sama apa yang dikatakan bikcak ya”.

            Walaupun ia mengetahui bahwa anaknya masih kecil dan belum mengerti apa yang dikatakan padanya, tetapi Buk Fitri selalu memberikan nasehat kepada anaknya. Melihat majikannya melakukan hal itu, bikcak pun bertanya,

“ Buk? Mengapa ibu tetap saja menasehati citra, kan anak ibu belum bisa memahami apa yang ibu katakan?”

Buk Fitri pun menjawab pertanyan tersebut seperti orang yang berwibawa tinggi,

“ Sebagai seorang ibu, wajar kalo saya perhatian dengan anak saya, saya sangat menyayangi anak-anak saya, saya rela mati demi anak-anak saya, asalkan mereka bisa hidup dengan bahagia, walaupun banyak orang yang mengira saya gila karena hal-hal yang saya lakukan kepada anak saya, saya tidak peduli, mereka yang menghina belum tau apa arti kasih sayang kepada anak, saya berani mengorbankan diri demi anak-anak saya, apalagi hanya mengorbankan waktu untuk menasehati anak kecil yang belum mengerti apa-apa, tapi saya yakin walaupun sekarang anak saya tidak mengerti tetapi nanti saat dia beranjak dewasa, anak saya akan terbiasa mengikuti nasehat-nasehat saya sebagai seorang ibu”.

            Bikcak pun kaget mendengar jawaban panjang lebar dan mampu menyentuh ujung hati dari seorang ibu luar biasa itu, ia terharu dengan kasih sayang yang dimiliki oleh majikannya. Sambil merasa malu karena belum bisa menjadi ibu seperti majikannya, bikcak pun mencoba mengalihkan pembicaraan,

“ Ehh buk, kalo terus-terusan ngobrolnya kapan ibuk sama nak Andre berangkat sekolah?”

Buk Fitri pun menjawab,

“ Ohh ya jadi kebawa suasana ngobrolnya”. Disambung dengan senyuman manis dari seorang ibu luar biasa. Setelah itu Citra pun langsung memeluk ibunya, bikcak merasa terkejut seakan-akan ada keajaiban yang turun dari langit yang menimpa Citra sehingga seperti mengerti apa yang disampaikan kepadanya. Sungguh kuasa Allah yang maha besar.

            Tidak berfikir panjang setelah Buk Fitri dan Andre berangkat, bikcak langsung mengajak citra untuk mandi, tanpa menunggu Citra langsung berjalan menuju kamar mandi, sambil terpuka dan bercampur dengan kebingungan, bikcak pun berkata,

“ Apakah kasih sayang bisa menghasilkan kekuatan seperti itu?”.

Dengan perasaan campur aduk, bikcak semakin termotivasi untuk bekerja keras sebagai seorang pembantu di kediaman keluarga luar biasa tersebut.

            Setelah semua pekerjaan selesai, bikcak hanya tinggal menemani dan menjaga sambil bermain bersama Citra. Ketika hari sudah menunjukkan pukul dua siang, muncul dua sosok yang menampakkan raut muka sangat kelelahan yaitu Buk Fitri dan Andre. Bikcak dengan kepahaman hati yang ia miliki, dia pun langsung menuju dapur dan membuatkan es sirup. Bikcak pun menyajikan es sirup itu dan Andre berkomentar,

“ Bikcak kayak superhero hahaha, tanpa diminta pun datang menolong seperti es sirup yang bikcak bikin, semua gelombang panas dan kelelahan ini pun sirna hahahaha”.

            Sambil semua orang tertawa kecuali Citra yang sedang asyik menyoret buku gambar kakaknya, bikcak pun menjawab,

“ Alaa nak Andre bisa ajak, tapi bener sih bibik emang peka sama kayak masa muda dulu pas bareng sama pasangan bibik hahaha”. Begitulah jawab bikcak dan makin membuat semua orang hanyut dalam aliran tawa.

Andre pun menjawab lagi,

“ Alaa bikcak baper-baperan hahhaha”.

“ Emang kenyataannya kayak gtu, trus nak Andre emang paham maksudnya perasaan kek gtu?” Sahut bikcak bertanya.

Andre pun menjawab, “Emmm ngertii kok tapii dikit hehehh” sambil tersenyum malu. Buk Fitri yang mendengar percakapan itu menyadari bahwa anaknya sudah terjangkit tanda-tanda kedewasaan seperti rasa daya tarik dengan lawan jenisnya.

“ Nak, Apakah ada temenmu yang kamu suka? Kalo ada kenapa kamu gak bilang-bilang sama ibuk?”,

            Sebelum menjawab pertanyaan yang mempunyai tingkat kesulitan tinggi itu, datanglah Pak Danan yang baru pulang dan itu membuat Andre semakin kesusahan dalam menjawab pertanyaan ibunya itu, namun Andre memberanikan diri untuk mengeluarkan sikap percaya diri dalam diri kepada keluarganya, ia pun melatih mentalnya dengan menjawab,

“ See..See...Sebenarnya ada sih yang andre suka di kelas, namanya susi. Dia anak yang pintar bu”.

Ayahnya pun memotong percakapan itu,

“ Alaa anak ayah udah besar yaa”.

Bikcak ikut melontarkan komentar, “ Ciee nak Andre udah gede hehehe”.

“ Eee apa jak ayah sama bibik ni” jawab Andre dengan raut muka tersambar rasa malu.

            Buk Fitri pun berpikir tentang anaknya yang sudah menginjak kedewasaan , ia kurang setuju tetapi ia pun berpikir apapun itu asalkan anaknya merasa tenang namu akan tetap ia kontrol dan memberika berbagai macam nasehat agar anaknya tidak masuk dalam jurang kesalahan. Buk Fitri pun menanyakan beberapa hal kepada Andre,

“ Ohh Susi, anak yang duduk disampingmu itu? Awal kamu suka sma dia gmna sih? Ibu jadi penasaran”.

Dengan kaget level tinggi, Andre mengira ibunya akan marah kepadanya, namun pertanyaan yang dilontarkan ibunya itu membuat dia semakin percaya diri dan menjawab pertanyaan itu dengan lancar tanpa kegugupan sedikitpun.

“ Bener dah bu, dia duduk disampingku, awalnya itu kan saat jam pelajaran matematika, kami diberikan beberapa contoh soal yang harus dijawab dan dikumpulkan hari itu langsung, saat ingin mengumpulkan tugas itu, tanpa sengaja Andre dan Susi tabrakan dan buku kami jatuh bersamaan, lalu dengan kompak kami mengucapkan maaf dan mengambil  buku itu dan entah perasaan apa yang datang, dan anehnya sampe-sampe Andre dan Susi ndak peduli sma temen-temen yang bersorak ciee-ciee”.

            Setelah itu, Andre pun menanyakan apa hal yang harus dia lakukan untuk menghadapi situasi itu kepada orang tuanya dan bikcak. Melihat anak mereka yang sudah menginjak kedewasaan, mereka pun memberikan sedikit kebebasan kepada anaknya namun tetap dalam kontrol dan pengawasan mereka. Namun Sang Ayah yaitu Pak Danan masih ragu akan hal itu, karena ia takut anaknya akan menyalah gunakan sedikit kebebasan itu, namun Sang Istri berhasil membujuknya dengan kalimat,

“ Kita harus percaya sma anak kita, kita akan trus mengawasinya dengan panduan agama, jadi ayah jangan khawatir, kita jaga anak-anak kita bersama-sama”. Sang ayah pun langsung tersenyum manis.

Mendengar semua penjelasan orang tuanya, Andre pun memutuskan untuk tidak berpacaran namun tetap mempertahankan perasaan sayangnya kepada susi. Mereka pun seperti orang pacaran akan tetapi mereka hanya bertemu saat orang banyak maupun ditemani orang tuanya, semua itu mereka lakukan karena walaupun mereka diberikan kebebasan namun tetap dalam pengawasan.

Menjalani hubungan seperti, tanpa terasa Andre dan Susi sudah menginjak kelas 3, mendapatkan banyak sekali teman dan sahabat dan menjalankan hubungan dengan baik walaupun dihiasi dengan rintangan-rintangan namun mereka dapat mengatasinya. Walaupun begitu, Andre dalam perjalanan waktu itu ia mendapatkan banyak sekali cobaan lain yang berkaitan dengan haknya sebagai anak yang harus membanggakan keluarganya dan menjadi contoh bagi adiknya yaitu Citra, tidak hanya itu ia juga  hampir menyerah karena ia sudah kelas 3 dan fokus terhadap kelulusannya dan berjalan berdampingan dengan rasa sakit yang ia alami yaitu penyakit maag. Itu semua membuatnya merasa tertekan dan dia harus memberikan sedikit perhatiannya kepada Susi karena ia merupakan manusia bersejarah dihati anak sulung Pak Danan dan Buk Fitri.

 Tetapi dengan motivasi dari orang tuanya, sahabatnya dan juga Susi, ia pun bangkit dari tekanan itu. Setelah melewati betapa sulitnya perjuangan kelas 3, akhirnya Andre dan Susi mendapatkan kelulusan dan meraih peringkat siswa dengan nilai UN tinggi. Mendapatkan kebahagian itu, datanglah rintangan baru yang menyapa mereka berdua yaitu perpisahan karena akan melanjutkan pendidikan di wilayah yang berbeda.

Andre yang sudah bersama Susi selama 3 tahun tidak setuju akan perpisahan itu, namun ssat berada dirumah, bikcak pun mengetahui akan hal perpisahan itu dan langsung mengahampiri Andre dengan membawa es sirup dan berkata,

“ Ini nak Andre, diminum”.

“ Ehh makasih bikcak” jawab Andre.

Bikcak pun melanjutkan perkataannya,

“ Nak Andre jangan takut kehilangan , karena jika kalian emang jodoh pasti nantinya akan dipertemukan kembali , jadi tanamkan rasa kepercayaan masing-masing, lagian nak Andre jga harus membanggakan keluarganya kan, lihat Ibuk dan Bapak percaya sma nak Andre. Susi jga pasti merasa seperti itu, jadi jangan menyerah hehehe”.

            Karena motivasi itu dan tambahan dari kedua orang tuanya, Andre pun bangkit lagi dan lagi. Andre dan Susi pun memutuskan untuk berpisah namun tetap membawa perasan yang sama. Andre berkata kepada susi,

 

“ Besok setelah bertemu kembali akan kulamar kamu, jadi jaga dirimu dan hatimu baik-baik”

“ Iya akan kutunggu, kamu jga Ndre, jaga diri dan hatimu, I Love You”.

            Dengan berakhirnya percakapan itu, maka dimulailah masa perpisahan diantara mereka.

Setelah waktu berjalan begitu lama dan rindu diantara mereka sudah ditabung hingga menyeruapi gunung tertinggi didunia. Mereka pun berhasil membanggakan keluarganya masing-masing. Dengan takdir Tuhan Yang Maha Kuasa, keduanya pun dapat bertemu dan memecahkan celengan rindu yang menyerupai gunung itu, tak hanya itu mereka pun bertemu dengan membawa perasaan yang sama seperti dulu.

Sesuai dengan perjanjian mereka, akhirnya mereka pun menjadi pasangan dengan restu dari orang tua masing-masing. Andre dan Susi menjadi pasangan yang kedua kalinya sejak perpisahan itu. Mereka pun hidup dengan bahagia dan akhirnya mendapatkan buah hati yang mereka namakan dengan Bhakti sesuai nama tempat bersejarah mereka. Mereka pun menjalankan keluarganya dengan mengikuti cara orang tua mereka untuk menjadi keluarga yang memiliki kebahagian yang hampir sempurna seperti halnya keluarga mereka dulu.

ARKHANZA


            Khanza Humaira Az Zahra, namanya cantik seperti orangnya. Ia gadis yang banyak menarik perhatian lawan jenisnya dengan paras dan akhlak yang dimilikinya. Ia juga menjadi kesayangan para guru karena kepintaran dan sifatnya yang sangat menghormati guru. Khanza, gadis berusia 17 tahun, berkulit putih dengan khimar menutup kepalanya sudah berdiri didepan sekolahnya. Jam ditangannya menunjukkan pukul enam lebih dua puluh menit. Dia menggendong  tas berwarna abu kesukaannya, tersenyum lebar menatap pintu masuk dengan hati berdebar.

             Hari ini, hari pertama masuk sekolah setelah libur selama beberapa minggu. Dengan bersemangat Khanza memasuki halaman SMA Cendekia. Sekolah dengan gedung dua lantai dan lapangan yang sangat luas itu sudah ramai didatangi oleh para siswa. Sesekali Khanza memberikan senyumannya kepada siswa yang ia kenal selama perjalanan kekelasnya yang ada dilantai dua. Melewati taman sekolah, Khanza berhenti. Matanya mengarah ke taman, tempat yang biasa digunakan para siswa untuk bersantai. Melihat taman itu mengingatkan Khanza dengan kenangan indah masa kecilnya, saat ia masih memiliki sahabat sekaligus pelindungnya. Arkan Al Ghifari. Laki laki yang lebih tua setahun darinya itu sudah sejak kecil menjadi sahabatnya. Mengingat masa kecilnya dengan Arkan terkadang membuat Khanza tersenyum sendiri.

“ Kak Arkan kalo udah besar mau jadi apa? tanya Khanza kecil dengan mata bulatnya yang lucu

“ Kakak mau jadi orang kaya aja biar bisa beliin apa yang Humaira mau” balas Arkan dengan senyum jahilnya karena ia tahu Khanza tidak suka dipanggil Humaira

“ Kak Arkan kenapa selalu panggil Khanza Humaira sih?” ucap Khanza dengan nada kesalnya

“ Kakak suka kalo panggil Khanza dengan Humaira dan juga itu panggilan kesayangan kakak buat kamu, jadi nggak masalah kan kalo kakak panggil kamu Humaira biar kakak panggilnya beda dengan orang lain”

“ Iya boleh deh, kan Kakak kesayangannya Khanza juga” ucap Khanza disertai dengan senyum lebarnya

            Sejak peristiwa itu Arkan selalu memanggil Khanza dengan Humaira dan hanya Arkan yang akan memanggil Khanza dengan Humaira. Bertahun-tahun sudah mereka lewati dengan selalu bersama. Namun saat memasuki SMA Arkan mulai berubah, ia sudah tidak mau lagi berbicara dengan Khanza. Arkan selalu mengindar untuk berbicara dengan Khanza.   Hal itu semakin Khanza rasakan saat ia  juga mulai memasuki SMA yang sama dengan Arkan.

 

“ Za! Pagi pagi udah ngelamun aja, mikirin apa sih?” seru Alisha Salsabila  teman Khanza sejak masuk SMA

“ Eh ada Shasa, aku nggak lagi mikirin apa apa kok”

“ Aku tau kamu lagi mikirin kakak itu kan? Udah lupain aja sih Za bikin kamu sakit aja”

‘ Kamu tau kan Sha aku nggak mungkin bisa lupain kak Arkan, dia itu sahabat aku”

“ Aku tau kok Za kalau kamu itu suka kan sama Kak Arkan? Kalau kamu nggak suka nggak mungkin kamu sampai sesakit ini kalau lagi mikirin dia” ucap Alisha dengan sedikit kesal. Alisha berkata seperti itu karena ia sudah kesal setiap ia melihat mata sahabatnya yang menggambarkan kesedihan saat ia mengingat Arkan.

            Khanza terdiam mencerna apa yang dikatakan sahabatnya itu. Apa mungkin dia menyukai Arkan sahabatnya sejak kecil. Khanza tidak tahu apa bisa rasa kecewa yang ia rasakan saat melihat Arkan berbicara dengan teman perempuannya itu dikatakan rasa suka atau rasa bahagia yang ia rasakan saat Arkan tiba tiba berbicara dengannya meski yang dibicarakan itu hanya hal yang sepele. Khanza tidak tahu apakah semua rasa yang ia rasakan itu bisa dianggap sebagai rasa suka. Terkadang Khanza merasa ingin kembali lagi disaat ia dan Arkan masih menjadi sahabat, saat Arkan masih mau bebicara dan perhatian dengannya. Tapi itu semua hanya harapan semata, Arkan yang sekarang berbeda dengan Arkan yang dulu.

***

            Beberapa bulan setelah peristiwa itu Khanza selalu memikirkan apa yang dikatakan oleh Alisha. Hingga ia menyadari bahwa ternyata perasaannya kepada Arkan sudah berubah. Ia tidak lagi menganggap Arkan hanya sebagai sahabatnya, ia menyadari bahwa rasa suka itu sudah lama muncul, namun ia telat menyadarinya. Khanza bertekad untuk menjaga rasa sukanya kepada Arkan agar tidak melewati batas, karena Khanza tahu mencintai seseorang yang belum halal baginya itu tidak pantas.  

            Saat berada dikelas tiba tiba Alisha datang menghampiri Khanza dengan langkah tergesa.

“ Za, kamu tahu nggak kalau Kak Arkan itu dapat beasiswa ke luar negeri. ” Ucap Alisha dengan nada yang bersemangat

“ Kamu tahu darimana Sha?  “ Tanya Khanza penasaran, karena ia juga tidak tahu kalau Arkan akan melanjutkan pendidikannya ke luar negeri.

“ Aku tadi habis  dari ruang guru dan nggak sengaja denger kalau Arkan itu dapat beasiswa

“ Kok aku nggak tahu apa apa ya?” lirih Khanza dalam hati

“ Kamu tau nggak kapan dia berangkat?”

“ Yang aku denger kayaknya kak Arkan itu berangkatnya lusa deh, coba kamu tanya aja sendiri “

            Mendengar hal itu Khanza langsung berlari keluar untuk menemui Arkan. Khanza berlari menuju kelas Arkan namun saat melewati taman Khanza melihat Arkan sedang berbicara dengan teman perempuannya, Kak Lia. Satu sekolah tahu bahwa Arkan dan Lia memang sering bersama dan terlihat dekat, karena kedekatan mereka itulah banyak yang mengira kalau mereka itu berpacaran. Mereka pasangan yang serasi yang satunya tampan dan yang satunya lagi cantik. Itulah yang dipikirkan oleh Khanza saat melihat kedekatan Arkan dan Lia, mereka sangat cocok.

            Tapi tanpa sepengetahuan Khanza, Lia menyadari keberadaannya.

“ Khanza! “ Teriak Lia

“ Eh…” Khanza gelagapan “ Kok kak Lia panggil aku ya? “ ucap Khanza dalam hati

“ Khanza sini, daritadi Arkan nungguin kamu loh “ teriak Lia lagi disertai senyum jahilnya kepada Arkan

Dari tempat nya berdiri Khanza dapat melihat Arkan sepertinya marah kepada Lia karena Lia memanggilnya

“ Segitu bencikah kak Arkan kepadaku “ pikir Khanza

            Saat tengah melamun tiba tiba seseorang menarik tangan Khanza, ternyata orang itu adalah Lia. Lia menarik Khanza hingga tiba di depan Arkan. Khanza melihat Arkan mengalihkan pandangannya. Terlihat sekali bahwa Arkan sangat menghindarinya.

 “ Arkan nih gue udah bawain bidadari lo “ ucap Lia sambil tersenyum jahil

“ Kak Lia apaan sih “ ucap Khanza sambil menunduk karena malu

“ Eh kok Khanza mukanya merah sih. Wah parah sih ini Kan, cewek lo cepet banget blushing nya jadi pengen godain lagi deh “ ucap Lia sembari menggoda Khanza

“ Lia mending lo pergi deh, sana godain orang lain aja!” ucap Arkan jengah karena Lia terus saja mengganggu Khanza hingga pipi Khanza memerah. Arkan tidak suka melihat pipi Khanza memerah ditempat umum karena pasti banyak orang yang melihatnya dan Arkan tidak mau itu terjadi. Karena Khanza dengan pipinya yang memerah membuatnya  nampak semakin cantik.

“ Astagfirullah “ ucap Arkan yang hanya dapat didengar dirinya sendiri. Ia malu sendiri dengan apa yang dipikirkannya itu

“ Ya udah deh gue pergi, nih bidadari lo semoga jadi ya” ucap Lia sambil berlalu dengan tawa lebarnya

            Kini tinggal Khanza dan Arkan saja yang ada di taman. Suasana menjadi canggung karena mereka sudah lama tidak berbicara. Arkan ingin memulai pembicaraan namun ia juga canggung begitu juga dengan Khanza.

“Humaira” “ Kak Arkan” sontak mereka terkejut karena saling memanggil secara bersamaan. Setelah kejadian itu, hening lagi-lagi menghampiri mereka.

Jengah dengan keheningan diantara mereka Khanza memberanikan diri untuk berbicara terlebih dahulu.

“ Kak Arkan bener nungguin aku ? “ kata Khanza dengan kepala yang terus menunduk

“ Siapa yang bilang kakak nungguin kamu? “ balas Arkan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal

“ Tadi kak Lia bilang gitu “ balas Khanza dengan suara kecil karena takut kalau tadi ia salah dengar

“ Oh Lia bilang gitu ya tadi, kok kakak nggak denger sih “ balas Arkan sambil tersenyum jahil melihat Khanza yang semakin menunduk

“ Jadi kakak beneran nungguin aku atau nggak sih, kalau nggak ya udah aku pergi aja deh! “ balas Khanza yang sudah mulai kesal karena malu

“ Eh jangan pergi dong, kamu nggak takut nyesel nanti? Bentar lagi kakak mau pergi loh “

            Mendengar hal itu Khanza menjadi ingat apa tujuan utamanya mencari Arkan.

“ Kok kakak nggak pernah bilang aku sih kalau kakak ikut beasiswa “ tanya Khanza masih sambil menunduk  “ Oh ya aku lupa kakak kan benci sama aku, jadi mana mungkin kakak mau cerita tentang hal ini ke aku “ ucap Khanza dengan perasaan kecewa.

“ Siapa yang bilang kakak benci sama kamu?” balas Arkan dengan nada heran

“ Kalau nggak benci terus apa, sejak masuk SMA kakak udah nggak mau lagi ngomong sama aku, kakak selalu menghindar kalau kita ketemu ”

            Setelah mengucapkan hal itu Khanza hendak berbalik pergi meninggalkan Arkan.

“ Humaira, jangan pergi dulu “ cegah Arkan

“ Kamu nggak mau denger penjelasan kakak? “

“ Apa lagi yang mau kakak jelasin, semuanya kan udah jelas. Kakak nggak pernah tau perasaan aku saat liat kakak lebih milih berteman dengan kak Lia “ dalas Khanza dengan nada sedihnya

“ Kamu cemburu kakak sama Lia? “  tanya Arkan

“ Iya”

“ Kamu suka sama kakak? “ tanya Arkan lagi

“ Iya “ ucap Khanza tanpa sadar karena ia sudah dikuasai oleh kemarahan dan kekecewaan.

“ Kamu beneran suka sama kakak?” tanya Arkan memastikan kembali

“ Iy.. Eh ” Khanza menunduk malu merutuki kebodohannya. “ Enggak kok, aku nggak suka sama kakak ” ucap Khanza semakin menunduk untuk menutupi rasa malunya.

“ Kalau kamu suka beneran juga nggak masalah kok “ ucap Arkan sambil menatap Khanza yang semakin menunduk

“ Eh… kok gitu “ balas Khanza heran

“ Iya nggak papa, karena kakak juga suka sama kamu “ ucap Arkan disertai senyum manisnya

Khanza yang mendengar hal itu semakin malu dibuatnya. Ia tidak menyangka kalu Arkan juga suka kepadanya.

“ Kalau kak Arkan suka terus kenapa kak Arkan ngejauhin aku? “ tanya Khanza penasaran

“ Kakak nggak ngejauhin kamu kok, kakak selalu ngejagain kamu dari jauh. Mungkin kakak nggak pernah ngomong sama kamu lagi karena kakak pengen ngejaga kamu. Nanti kalau kita tetap ketemu dan ngobrol seperti biasa kakak takut nggak bisa ngejaga perasaan kakak yang semakin tumbuh buat kamu, karena kamu tahu kan hukumnya mencintai orang yang belum halal untuk kita. Karena itu kakak berusaha ngejaga jarak dari kamu biar kita berdua terhindar dari hal itu. Tapi kakak sadar semakin kakak ngehindar dari kamu, semakin besar juga perasaan kakak tumbuh buat kamu. “ jelas Arkan dengan senyum yang terus menghiasi bibirnya.

“ Terus sekarang gimana? “ balas Khanza dengan malu

“ Gimana apanya? “ tanya Arkan dengan nada jahilnya yang sangat jelas

“ Ih itu maksudnya sekarang kita gimana? “ tanya Khanza lagi sambil menahan malu

“ Kamu tahu kakak sengaja nyuruh Alisha bilang ke kamu kalau kakak dapet beasiswa biar kamu nyari kakak dan kakak bisa bilang hal ini ke kamu….” Setelah mengatakan hal itu Arkan terdiam cukup lama. Khanza yang jengah dengan hening yang kembali melanda mulai tidak sabar dengan apa yang akan dikatakan oleh Arkan.

“ Kakak mau bilang apa sih, lama banget mikirnya “ ucap Khanza dengan sedikit kesal karena Arkan yang terus menggantung ucapannya.

“ Humaira kamu tungu dulu ya, kamu nggak tahu kalau kakak lagi mempersiapkan diri karena apa yang kakak ucapkan nanti itu akan merubah hidup kita “ balas Arkan gemas karena Khanza yang semakin membuatnya gugup

“ Ya udah aku tunggu “ ucap Khanza pasrah

Setelah sekian lama terdiam Arkan mulai berbicara.

“ Humaira, kamu tahu kan kakak suka sama kamu? “ ucap Arkan yang mulai serius

“ Iya aku baru tahu tadi kok “ balas Khanza sambil tersenyum malu

“ Kamu tahu kan kalau mencintai seseorang yang belum halal itu dosa, apalagi sampai menjalin hubungan? ” tanya Arkan melanjutkan perkataan yang belum selesai

Khanza hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Arkan

“ Jadi karena hal itu kakak pengin kamu tungguin kakak. Tunggu kakak selesain sekolah kakak dan dapat perkerjaan yang layak dan jadi orang kaya seperti kata kakak dulu ke kamu. Kakak janji setelah itu kakak akan datang ke Ayah untuk minta izinnya biar bisa jagain kamu selamanya. Kamu mau kan? “

Tanya Arkan dengan hati berdebar menunggu jawaban dari Khanza.

            Mendengar hal itu air mata Khanza jatuh.Khanza hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Arkan.  Ia terharu mendengar apa yang dikatakan oleh Arkan. Ia tidak percaya bahwa tenyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ternyata Arkannya juga memilki rasa yang sama seperti dirinya. Dan selama ini ia sudah salah sangka terhadap sikap Arkan yang selalu menjauhinya dan tidak pernah mau lagi berbicara dengannya ternyata Arkan melakukan itu demi menjaga dirinya agar tidak terjerumus ke dalam lubang dosa.

 

 

 

 

 

 

 

 

Minggu, 26 November 2023

Sahabat


Sebelum berangkat, saya mulai mengemas semua jenis barang-barang pribadi yang dibutuhkan seperti peralatan shalat, peralatan makan dan minum, obat-obatan, senter, batrai cadangan, sepatu gunung, tas carrier, dan lainnya.Kami mulai mendaki dari pos registrasi pada pukul 09.00. Ketika itu cuaca cukup bersahabat pada kami. Sebelum memulai pendakian kami berdoa terlebih dahulu. Temen saya yang pemula pun bertanya “bang,jarak dari pos registrasi sampai pos 1 brpa kilo???” kurang lebih 2 km”ujar temen saya yang lain.”waahhh jauh juga yaa ternyata,auto pingsan kita nih” “elehhh itu belum seberapa,perjalanan dari sini sampai puncak bagaikan perjalanan satu hari satu malem,tapi saya udah terbiasa” ujar yang paling berpengalaman

“dahlaahh jangan nyerah sebelum mulai,tetap semangat sampai titik semangat penghabisan”ujar si paling bijak. Saat sampai di pos 1, kami istirahat sembari mencari sumber mata air sekaligus sarapan. Temen saya yang pemula ngeluarin beberapa nasi bungkusnya sambil mengatakan “bang ini dari ibu saya,kita makan bareng yokk itung-itung ngisi tenaga” kami pun serempak mengatakan “ayokkk”

Saat itu jam masih menunjukkan pukul 11.00.Setelah selesai sarapan kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2 yang jauhnya sekitar 1,5 km. Kami tiba di pos 2 sekitar pukul satu siang dan langsung melaksanakan shalat zuhur. Setiba di pos 2,sipaling alim bilang” kita shalat zuhur disini,dibawah sana ada telaga tempat ngambil air wudhu”sambil nunjuk ke arah tengah hutan.

Setelah shalat kami melanjutkan pendakian hingga tiba di pos 3, disana kami beristirahat sembari makan siang dan ngopi. Sipaling berpengalaman nyeletuk”ini pos 3,pos terakhir sebelum nyampe di area camping ground” si pemula nanya “camping groundnya mana?” “ituu yang di bukit paling atas” sambil nunjuk kearah depan. Pos 3 merupakan pos terakhir sebelum sampai di area camp. Saat semuanya telah selesai kami pun melanjutkan perjalanan. Dan pada akhirnya kami sampai di area camp pada pukul lima sore. Disana kami berdebat mau ngecamp disini atau di cemara baris. “disini aja,tempat campnya lebih luas sama ada sumber air jugak dibawah” kata saya. Temen yang lain membalas “di cemere baris aja,dekat sama puncaknya biar ndk capek kesana ndk kejauhan jugak”katanya bersikeras. Lalu kami melakukan voting,dan yang terpilih sebagai area camp adalah cemere baris.

Setelah sampai di cemere baris kami pun langsung mendirikan tenda dan membuat api unggun,tapi beberapa teman kami masih jauh dibelakang sana. Saya dan satu teman saya rela kembali mencari mereka. Akhirnya kami menemukan mereka dibawah bukit. “Ada apa ini ?” celetukku “itu kakinya kram” sahut seorang teman yang menopang tubuhnya. Terlihat kaki salah satu dari mereka tengah dipijat menggunakan balsam. “laahhh kok dipijat siih?”gumamku. sebab setauku bukan gitu caranya kalo kakinya kram. Tanpa basa-basi saya langsung mengambil alih dan langsung menekan kakinya ke atas. Guna melancarkan kembali peredaran darahnya.“Ayoo berangkat ,semangat tinggal dikit lagi bakalan sampe di tenda biar saya aja yang bawa carriernya” dengan nada nyemangatin

“ makasi yaa maaf ngrepotin” balasnyaa.

 

kami tidak hanya ingin berdiam diri di area camp, kami juga ingin summit sampai ke puncak tertinggi, yang tingginya nyaris sama seperti gunung rinjani (3.726 mdpl). Kami memulai summit pada pukul 03.30 pagi. Ketika itu hari masih gelap dan jarak pandang kian sempit. Kami menggunakan senter untuk menerangi dan menemukan jalur pendakian. Untuk sampai ke puncak kami menghabiskan waktu sekitar 1 sampai 2 jam.

Ditengah perjalanan salah satu teman kami sakit perut. “wee sakit perut saya nih tungguin bentar saya mau bab”

“iyaudah sana jauh-jauh jangan sampe baunya kecium sampe sini,wkwkwk”dengan serempak  kami pun tertawa. “jangan lupa dicuci sampe bersih,dikubur aja kalo bisa” tambah salah satu dari kami lagi. Lelucon inilah yang membuat suasana yang tadi sangat sepi menjadi ramai kembali.

Akhirnya, kami sampai di puncak gunung pada pukul 04.30. kami perlu menunggu beberapa waktu untuk menunggu datangnya waktu subuh. Matahari pun mulai terbit. Saya sangat takjub melihat panorama alam yang sangat indah, lebih indah dari melihat senyumnya dia. Setelah puas menikmati dan foto-fotoan kami pun kembali ke area camp untuk sarapan pagi dan bersiap pulang. Turun gunung tidak secapek saat mendaki,kami hanya menghabiskan sedikit energy.

Bagi kami ini adalah pengalaman paling mengesankan. Rasa capek, lelah, bahkan putus asa seketika lenyap karena keindahan alam. Sipaling bijak berucap “Mendaki gunung itu sebuah tujuan, tujuan kita untuk sampai ke puncak tertinggi seperti halnya kita menentukan tujuan hidup. Ya,perjalanan ke gunung memang memberikan pengalaman berharga tersendiri, dimana kita bisa bersahabat dengan alam, bahkan menemukan seseorang yang benar-benar menjadikanmu sahabat. Semakin sering kau mendaki semakin bijak perkataanmu.”itulah secuil kisah kami dan amanat bagi kita semua.

RAINAIRA


“RAINA AYOK TURUN SARAPAN”

“IYAA TUNGGU BENTAR MA”

Dengan cepat aku mengenakan seragam dan merapikan buku. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah liburan. Seperti biasa aku bersiap siap dan beginilah keadaannya, mama yang sudah dari tadi menunggu di meja makan untuk sarapan bersama. Dengan segera aku turun menuju ruang makan.

“Beresin buku itu harusnya dari tadi malem Ra. Jangan dibiasaan nyiapin buku pas pagi, gini kan jadinya” kata mama sambil menyiapkan beberapa slice roti dan susu untuk sarapan

“Iya maaf ma, tadi malem Raina ketiduran” jawabku

“Ketidurannya tiap malem ya? Selalu ada aja alasan kamu, mama selalu liat kamu peluk novel ya pas tidur. Jangan terlalu sering begadang apalagi cuma untuk baca novel.”

“Baca novel juga menambah literasi lo ma” kataku sambil menghabiskan sarapan

“Nggak Papanya nggak anaknya sama aja, keras kepala.” kata mama dengan ekspresi kesal

“Iyaaa mamaa, janji deh terakhir” kataku sambil menghabiskan sarapan.

Seperti biasanya, pagi ini aku hanya sarapan bersama mama. Papa yang sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali dan Ragas, saudara laki-lakiku yang entahlah mungkin masih berpelukan dengan bantal kesayangannya.

“Tumben cantik banget Ra, mau ketemu siapa sih?” Kak Ragas yang baru saja turun, terlihat mukanya seperti orang bangun tidur.

“Apasih kak, orang biasanya juga begini” jawabku dengan nada kesal

“Ini wangi banget Ra, biasanya lo nggak mandi juga jadi.”

“Itumah lo ya kak, dasar jorok”

“Udah-udah nanti lagi berantemnya, Ra ayok cepetan itu udh ditunggu sama pak Den” kata mama

“Yaudh Raina berangkat dulu ya ma”

“Hati hati, nanti mama jemput pas pulang jadi jangan kemana mana”

Aku langsung mengacungkan jempol dan berpamitan dengan mama, dan kak Ragas? Mungkin dia sudah kembali lagi ke kamar untuk melanjutkan tidurnya. Di sepanjang perjalanan, aku hanya diam menikmati alunan lagu yang berasal dari handphone ku. Membayangkan apa saja yang akan ku lakukan hari ini di sekolah, apakah ada novel pengeluaran terbaru di perpustakaan hari ini, apakah ada menu baru di kantin hari ini atau mungkin saja ada murid pindahan. Aku tersadar saat pak Den menghentikan mobil tepat di depan gerbang sekolah. Aku keluar dari mobil dan memasuki wilayah sekolah, dengan wajah tersenyum berharap bahwa hari ini akan ada sesuatu yang membuat suasana hatiku lebih baik.

 

Jam sudah menunjukkan pukul 15.00, aku menunggu mama yang tadi pagi sudah berjanji akan menjemputku. Hari ini berjalan seperti biasanya, tidak ada yang special. TIN..TIN.. aku seperti mengenal suara itu. Benar saja, saat aku menengok keluar gerbang, sudah ada papa yang menunggu.

“Mama nggak bisa jemput, masih ada urusan sama klient”

Aku hanya ber-oh saja. Aku sudah memperkirakan hal ini akan terjadi, mama yang akhir-akhir ini memiliki banyak pertemuan dengan klient dan mengurus butiknya yang sedang padat dipenuhi pesanan. Hening. Tidak percakapan antara aku dan papa selama perjalanan pulang. Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamar untuk mengganti baju dan istirahat. Baru saja ingin melangkahkan kaki ke tangga, papa memanggilku.

“Kamu kuliah disini. Papa nggak izinin kamu buat kuliah di luar negeri”

Seketika aku langsung menghentikan langkah kakiku.

“Raina tetap mau kuliah di luar, biarin aku nentuin kemauan aku sendiri”

“Papa akan daftarkan kamu di kampus Ragas. Jangan membantah”

“Nggak mau pa, aku tetap mau kuliadh di luar”

“Mau jadi apa kamu? Setiap hari bisanya cuma ngebantah perkataan orang tua” kata papa

“Ngebantah papa bilang? Aku nggak bakal kayak gini kalau papa mau dengerin aku, kalau papa mau ngertiin aku. Aku dari dulu nggak pernah minta yang aneh aneh kok sama papa. Papa mau dengerin aku aja udah cukup buat aku pa. Udah deh pa aku capek” Kataku.

Aku langsung meninggalkan papa yang masih berdiri di depan tangga. Aku berjalan menuju kamar dan menguncinya. Mataku mulai berkaca-kaca. Selalu saja seperti ini, papa dengan sifat egois dan keras kepalanya.

“Kak Naira kenapa ninggalin Raina secepet ini. Kakak udh janji sama Raina untuk selalu ada sama Raina. Cuma kak Naira yang selalu pengertian sama Raina. Raina sendirian kak” kataku sambil mengangis. Sejak 6 tahun yang lalu, setelah kematian kak Naira kehidupanku berubah 180 derajat. Terutama papa yang sampai sekarang masih saja menyalahkanku atas kematian kak Naira. Dimana papa yang dulu? Dimana papa yang selalu dengar cerita-ceritaku?. Hari pertama sekolah, yang kuharapkan ada kabar gembira yang bisa mengisi diary kebahagiaanku. Bahkan hari ini aku sama sekali tidak mendapatkannya.

 

 

Seharian ini aku hanya berdiam diri di kamar, keluar hanya untuk makan. Untung saja mama mengerti dan memintaku untuk istirahat. Setelah pertengkaran kecil tadi, aku belum melihat papa lagi. Aku mengambil hp di meja dan langsung membuka whatsapp. Ku lihat sebuah notifikasi sebuah grup yang pesannya sudah mencapai dua ribu. Entah apa yang sedang dibicarakan teman kelasku sampai hp ku sedari tadi tidak berhenti berbunyi karena banyaknya notofikasi yang masuk. Lalu aku tertarik dengan satu notifikasi yang masuk. Jefan, sahabat sekaligus teman ceritaku. Sejak sd kami sudah saling mengenal dan mulai dekat saat SMP sampai sekarang. Aku membuka notifikasi itu dan membacanya. “Ra, kerjain tugas Bahasa Indonesia yuk. Gue langsung tunggu di tempat biasa ya. Jangan lama-lama”. Aku langsung turun dari Kasur dan bersiap-siap.

“Ma Raina pergi dulu ya, sama Jefan kok”. Tidak ada jawaban.

 “Mau kemana kamu?”. Itu bukan mama. Aku menoleh ke sumber suara dan mendapati papa yang berjalan dari arah dapur masih dengan pakaian kantornya, sepertinya baru pulang.

“Aku mau kerjain tugas sama Jefan” kataku

“Nggak bisa kamu kerjakan sendiri? Balik ke kamar. Jangan pernah berani keluar lagi apapun alasannya. Belajar sekarang, persiapkan untuk ujian akhir” Kata papa sedikit emosi

“Papa kenapa sih? aku keluar juga buat belajar pa. Papa nggak bisa terus-terusan kekang Raina” kataku

“Kenapa kamu tidak bisa seperti Naira? Keras kepala, egois. Coba kamu seperti Naira yang selalu dengar perkataan papa”. Aku tidak suka jika papa sudah seperti ini, menganggap bahwa aku bisa seperti kak Naira. Mengharuskan aku untuk bisa seperti kak Naira.

“Papa nggak bisa terus terusan samain aku sama kak Naira. Kita beda pa. Aku juga bukan kak Naira yang selalu nurutin kemauan papa. Aku juga nggak mau jadi orang yang keras kepala, orang yang egois. Tapi kenyataannya papa juga sama kan, egois. Semua kemauan papa harus dituruti. 6 tahun pa. Apa papa nggak capek kayak gini terus? Aku capek. Kapan papa bisa maafin aku atas kematian kak Naira?”

“Terus sekarang mau kamu apa? Seharusnya kamu sadar sama kesalahan kamu.”

Papa pergi begitu saja meninggalkanku di teras. Ku kira hari ini semuanya akan selesai, aku kira hari ini aku bisa memeluk papa lagi. Hari ini lagi dan lagi ekspetasiku dipatahkan oleh kenyataan.

 

 

 

Keesokannya, aku tidak masuk sekolah karena kepalaku yang pusing dan demam. Mama yang seharusnya mendatangi pertemuan bersama klient hari ini dibatalkan,ingin menemaniku katanya.

“Gimana Ra? Demamnya udh turun ni” tanya mama

“Lumayan ma, tapi masih pusing aja” jawabku

“Raina, apa nggak capek kayak gini terus sama papa? Mau sampai kapan nak?”

“Aku harus jelasin gimana lagi ke papa ma? Mama tau sendiri papa itu keras kepala. Kenapa papa selalu ingin aku seperti kak Naira? Aku pengen jadi diriku sendiri ma. Aku nggak bisa sehebat kak Naira, aku nggak bisa sepintar kak Naira. Yang aku butuhin Sekarang cuma papa yang dulu. Bukan papa yang sekarang, selalu nyalahin aku selalu banding-bandingin aku. Aku nggak sekuat itu, aku juga capek ma. Tapi papa nggak pernah ngerti.” Aku meluapkan semua beban dan kesedihanku pada mama. Aku selalu menyembunyikan semua kesedihanku selama ini, berharap bahwa aku bisa menyelesaikannya sendiri. Tapi kenyataannya? Aku kewalahan. Aku kehabisan cara bagaimana agar papa mau memaafkanku. Mama dan kak Ragas juga sering membicarakan hal ini pada papa bahwa semua ini hanya kesalah fahaman dan tidak mungkin aku sengaja melakukan itu pada kak Naira. Tetapi omongan mama dan kak Ragas tidak dihiraukan oleh papa. Kak Naira adalah anak kesayangan papa, dari kecil kak Naira sudah banyak meraih prestasi. Aku dan kak Ragas tidak seperti kak Naira, kami berbeda dengan karakternya masing masing. Sebelum kak Naira meninggal, papa tidak seperti ini. Aku juga selalu disayang oleh papa, tidak ada perbedaan antara aku, kak Naira dan kak Ragas. Papa juga tidak pernah memaksaku untuk melakukan ini dan itu. Tapi setelah kak Naira pergi, aku selalu dituntut oleh papa untuk bisa seperti kak Naira. Aku mencoba untuk tidak menangis saat bercerita dengan mama, tapi tidak bisa. Bahkan sekarang terlihat mama yang sedang mengusap pipinya, mama juga menangis.

“Mama nggak tau kalau kamu sampai kayak gini. Kamu kenapa nggak pernah cerita, Ra?” tanya mama dengan muka sembab karena menangis

“Aku nggak mau pikiran mama terganggu. Aku bersyukur hari ini mama bisa dengar cerita aku”.

Aku berharap, semua masalahku dengan papa cepat selesai. Aku cuma butuh papa.

“Kak  Naira bantuin Raina dari sana ya” gumamku dalam hati.

 

 

 

Seminggu telah berlalu. Sepertinya hari ini akan melelahkan, semua pelajaranku sangat tidak bersahabat. Aku segera turun kebawah untuk sarapan.

“Kak Ragas, tumbenan udah bangun? Ada apanii” kataku setelah melihat kak Ragas yang sudah menyantap sarapannya. Tumben sekali dia bangun cepat.

“Tebak sendiri” kata kak Ragas sambil memakan roti slai coklat

“Lo mau ngapelin orang ya? Hati-hati kak kalau masih pagi biasanya nggak direstuin” Melihat penampilan kak Ragas yang serapi ini, bisa saja hal itu terjadi.

“Sembarangan kalau ngomong. Ini itu lebih penting dari sekedar ngapelin orang. Menyangkut masa depan.”

“Lho mama kira Raina udh tau, kak Ragas mau ujian skripsi” kata mama yang tiba-tiba saja datang dari arah dapur.

“Serius mau ujian skripsi lo? HAHA akhirnya kelar juga. Semoga nggak lulus ya kak” kataku dengan nada ejekan

“Punya adek gini amat, doa itu yang baik biar besok nular juga” Kata kak Ragas sambil merapikan kemejanya.

“Iya iyaa semoga lancar terus nanti kalau lulus jangan lupa traktir Raina, minimal 2 novel lah ya”

“Kebiasaan banyak maunya. Yaudah ayok cepetan ntar telat” kata kak Ragas

“Lho Raina berangkat sama kak Ragas? Nggak salah denger ni. Tumben banget, kesambet apaan lo kak?” kataku dengan semangat. Bagaimana tidak, terakhir kali kak Ragas mengantarku ke sekolah saat aku kelas 10, itupun hanya satu kali. Kak Ragas selalu beralasan ke mama agar tidak mengantarku, sampai sekarang aku juga tidak tau alasannya kenapa. 3 tahun ini aku selalu ke sekolah bersama pak Den.

“Udah ah nggak usah banyak tanya, ayok cepet”

“Sabar dikit bisa kan kak. Ma, Raina sama kak Ragas berangkat dulu” kataku samil mencium tangan mama

“Iyaa belajar yang rajin Ra. Kak jangan lupa jagain adeknya, jangan ngebut-ngebut” kata mama

“Iyaa maa. Yok Ra”.

Selama di perjalanan, aku menceritakan banyak hal dengan kak Ragas. Mulai dari kak Ragas yang menceritakan lika liku pengerjaan skripsinya, aku yang juga menceritakan tentang keseharianku dan juga masalahku dengan papa yang masih belum selesai. Tidak terasa, mobil kak Ragas sudh berhenti di wilayah sekolah.

“Belajar yang rajin, nanti kalau pulang jangan kemana-mana, tunggu disini aja. Masalah papa nggak usah dipikirin dulu” kata kak Ragas

“Iya kak tauu, Raina masuk dulu. Jangan lupa novelnya kak”

Kak Ragas langsung melajukan mobilnya menjauhi area sekolah.

 

 

 

“Raina, aku duluan ya”

“Iyaaa, hati-hati”

Hari ini aku telat keluar kelas, karena ada beberapa tugas yang harus ku selesaikan. Sekolah sudah sepi, hanya menyisakan beberapa siswa yang sedang menunggu jemputan dan beberapa pedagang jajanan yang bersiap-siap untuk pulang. Kak Ragas baru saja menelpon dan akan menjemputku. Aku menunggu kak Ragas di halte sekolah sambil melihat kendaraan yang berlalu Lalang. Tetapi ada yang menarik perhatianku. Dari kejauhan aku melihat sesuatu tepat berada di tengah jalan, seekor anak kucing. Sepertinya dia tidak bisa berjalan. Aku melihat keadaan jalan yang cukup sepi, sepertinya aman untuk aku berjalan menuju tengah dan mengambil kucing itu. Saat hendak melangkah, tiba-tiba saja mobil dengan kecepatan tinggi datang ke arahku. Badanku tiba-tiba terasa kaku, ingin berbalik arah namun kakiku seperti mati rasa. Aku mencoba untuk menghindar tetapi seperti ada sesuatu yang menahanku. BUUGGHH!! Pada saat yang bersamaan aku merasakan tubuhku yang melayang. Apa-apaan ini, mengapa aku tidak bisa merasakan berat tubuhku. Dan aku baru tersadar setelah tubuhku jatuh ke aspal. Area sekolah yang tadinya sepi, kini sudah kulihat orang ramai datang ke arahku. Apa yang terjadi padaku beberapa detik yang lalu?? Mengapa ada banyak orang yang datang kearah ku?. Saat itu pulaAku merasa seperti dejavu.

 

 

 

6 tahun yang lalu

Sudah hampir 2 jam aku menunggu disini, sendirian. Sedari tadi anak-anak lain sudah dijemput dan sekarang hanya menyisakan aku dan dua anak lainnya yang aku sendiri juga tidak kenal, mungkin saja mereka anak kelas 4. Hari ini adalah hari pertama sekolah dimana aku sudah naik kelas 6 sd. Tadi pagi papa sudah berjanji akan menjeputku, tapi sampai sekarang juga tidak ada tanda-tanda mobil papa akan datang.  

“RAINAA”

Dengan cepat aku menoleh ke sumber suara. Kak Naira yang sekarang sudah berada di seberang jalan. Sejenak aku berpikir,  untuk apa kak Naira kesini? Apa mau menjemputku? Tidak seperti biasanya. Bisa dibilang sekolahku dengan kak Naira lumayan jauh jika ditempuh dengan jalan kaki. Ah iya aku lupa, kemarin aku sudah berjanji dengan kak Naira untuk pergi ke toko buku yang letaknya berada di sebelah sekolahku. Kak Naira ingin membeli beberapa buku pelajaran SMP, aku juga membutuhkan beberapa alat tulis. Dari seberang ku lihat kak Naira memberi isyarat “kamu tunggu disitu aja, biar kakak yang nyebrang”. Aku meng-iya kannya dengan anggukan kepala. Kak Naira melihat kekiri dan kanan, aman. Kak Naira datang ke arahku dengan sedikit berlari, saat itu juga aku melihat dari kejauhan sebuah mobil putih yang datang kearah kak Naira dengan kecepatan tinggi.

“KAK NAIRA AWASS!!”

Aku berteriak dan dengan segera aku pun ikut berlari kearah kak Naira. BUUGGHH!! Langkahku terhenti, aku terlambat. Apa yang baru saja terjadi dengan kak Naira? Aku masih belum bisa berpikir jernih. Aku melihat darah yang mengalir dari kepala kak Naira. Mobil putih tadi langsung pergi setelah mendapati kak Naira yang tergeletak di aspal. Aku bingung harus melakukan apa pada saat seperti ini. Aku hanya berdiri melihat kak Naira yang masih setengah sadar, lalu melihatku sekilas seperti orang yang meminta pertolongan. Dengan langkah cepat aku berbalik memasuki sekolah, berharap ada orang yang bisa membantu. Tanpa kusadari, aku menangis. Ku lihat seluruh area sekolah, kosong. Kemana semua orang? Seakan memang inilah yang ditakdirkan tuhan, aku tidak tau harus meminta pertolongan kepada siapa. Aku berlari lagi menjauhi area sekolah. Saat keluar, aku sudah tidak melihat kak Naira lagi. Kak Naira dimana? ak Naira sudah tidak ada dan hanya menyisakan darah di jalanan. Aku melihat mobil hitam milik papa dengan papa yang sudah berada di kursi kemudi. Sudah dipastikan bahwa kak Naira ada disana. Baru saja aku ingin berlari menghampiri papa, mobil papa sudah berjalan menjauhi sekolah.

 

 

“Kamu sudah puas setelah buat Naira meninggal? Kemana saja kamu saat Naira minta pertolongan?”

Aku hanya diam sambil menangis. Hari itu juga aku ditinggal oleh orang yang paling aku cintai. Kak Naira tidak bisa diselamatkan setelah dokter menjelaskan bahwa ada pendarahan yang parah di otaknya.

“JAWAB PAPA RAINA”

“Udah pa udah, nggak mungkin Raina ngelakuin ini”. Kata mama membelaku

“Urus anak mu itu. Raina, jangan harap papa bisa memaafkan kamu”

Papa  pergi begitu saja. Aku berlari menuju kamar untuk menenangkan diri. Aku mendapati kak Ragas yang sedang duduk di kamar kak Naira dengan kepala tertunduk. Tanpa bertanya pun aku sudah tau, kak Ragas menangis. Aku masuk kamar dan mengunci pintu, menangis dan menyesali apa yang sudah kuperbuat pada kak Naira. “Kak, maafin Raina”.

 

 

 

Tut…..Tut….. Tut….. dengan samar-samar ku dengar suara itu diiringi dengan suara tangisan. Muncul banyak pertanyaan di dalam pikiranku. Siapa yang sakit? Siapa yang meninggal? Siapa juga yang sedang menangis dan mengapa? Perlahan aku mencoba untuk membuka mata. Putih, seperti bukan di kamarku, lalu aku dimana?. Suara tangisan itu semakin keras saat aku sudah membuka mata sepenuhnya. Mama? Mengapa mama menangis? Aku juga melihat ada kak Ragas dan papa yang berjalan kearah ku. Pikiranku semakin dipenuhin pertanyaan setelah melihat kak Ragas bahkan papa juga ikut menangis. Tolong jelaskan sekarang, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Mama langsung memegang tanganku dan mengelus kepalaku.

“Rainaa, mama tau kamu kuat sayang. Maafin mama sayang, mama belum bisa jaga kamux denxgan baik” tangisan mama semakin deras. Aku mulai sadar, ini memang bukan di rumah ataupun dikamar tapi tempat dimana pada saat itu kak Naira dinyatakan sudah tidak ada oleh dokter. Kak Ragas menghampiriku dengan membawa sebuah totebagdi tangannya.  

“Dek, kakak lulus skripsi. Lihat, ini novel yang Raina mau kan. Kakak tau Raina bakal sembuh, nanti kita baca bukunya bareng-bareng yaa. Maafin kakak” Kak Ragas yang juga sudah memegang tanganku. Setelah aku hidup selama 18 tahun, baru kali ini aku mendengar sebutan ‘dek’ dari kak Ragas. Aku ingin membalas semua ucapan mama dan kak Ragas, tapi tidak bisa. Seperti ada sesuatu yang menahanku, rasanya sangat tidak enak. Aku hanya tersenyum tipis, tipis sekali bahkan mungkin semua orang tidak akan tersadar bahwa aku sedang tersenyum. Aku melihat papa yang berjalan mendekati ranjang ku, matanya sudah sembab. Tiba-tiba papa memelukku dengan keadaan ku yang masih berbaring. Papa juga sempat mencium keningku. Sudah lama, lama sekali aku menunggu hari ini terjadi. Meskipun aku tidak bisa membalas pelukan papa, tetap saja aku bahagia.

“Maafin papa, jangan tinggalin papa lagi kayak Naira. Papa janji bakal jagain Raina. Maafin papa.” Aku merasa lega, aku merasa beban yang selama ini memenuhi hari-hariku sudah hilang. Papa yang dulu sudah kembali.

“Pa, apa Raina harus gini dulu baru papa mau maafin Raina? Apa Raina harus masuk rumah saki dulu baru papa mau maafin Raina? Kalau memang iya, Raina tetep senang pa. Raina nggak pernah sama sekali membenci papa, Raina selalu sayang sama papa. Raina harap papa bisa tepatin janji papa ke Raina entah kapanpun itu. Papa jangan pernah menyesal punya anak seperti Raina ya. Semoga papa selalu bahagia dalamkeadaan apapun. Makasih papa yang udh mau maafin Raina. Raina sayang papa.” Kataku dalam hati sebelum aku kembali menutup mata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penelitian Kualitatif

1. Pengertian Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah pendekatan ilmiah yang digunakan untuk memahami makna, realitas sosial, a...