Rabu, 10 Agustus 2022

Akhir dari Sebuah Harapan

 

Hati terasa remuk

Langit seakan runtuh

Kapal berlabuh terkoyak badai kehidupan

Angin hempaskan segala harapan

Tinggalkan angan-angan kehampaan

 

Tidak mungkin ini terjadi

Semua sudah diperhitungkan

Usaha sudah dikerahkan

Sekuat tenaga melangkah menuju harapan

Namun kenyatan hempaskan mimpi di tengah jalan

 

Apa daya hanyalah manusia biasa

Tak memiliki kuasa dalam menetukan

Ingin rasanya semua berjalan normal

Sesuai harapan menggapai tujuan

 

Namun ternyata tidak

Kenyataan tak sejalan dengan pemikiran

Takdir tak sejalan dengan kemauan

Apa daya hanya bisa pasrah dalam doa

 

Mungkin ini cara tuhan untuk memberi pesan

Agar merubah haluan dalam mencapai tujuan

Atau hanya sekedar ujian

Bagi ketegaran hati dalam mencari sang ilahi.

 

“Siapa sih yang bikin puisi kayak gitu?.” Ucap siswi SMA bertubuh ideal dengan rambut lurus sebahu yang diombre warna merah muda dan dibiarkan terurai, ketika membaca sebuah puisi entah karya seorang siswa ataupun siswi yang ditempelkan di mading sekolah hari itu. Siswi itu adalah Agnetta Laurinda Salvia, biasa dipanggil Netta. Dia adalah anak angkat dari pasangan Alif dan Azura.

 

“Kurang kerjaan amat taruh puisi kayak gitu di mading sekolah!.” Lanjutnya seraya pergi meninggalkan mading sekolah yang baru saja ia baca.

 

“Nettaa, dari mana aja sih daritadi? Lama banget!.” Tanya seorang siswi berambut hitam panjang yang terlihat sudah tidak sabar menunggu Netta di depan kelasnya. Siswi itu adalah sahabat Netta, Alena.

“Dari kamar mandi. Ngapain lo nunggu gue disini?.” Jawab Netta.

“Nih.  Gue baru aja dapet alamat emailnya Gavin. Anak baru yang cool itu loh.” Lena memberikan sebuah potongan kertas kecil berisi alamat email tersebut.

“Gue gak butuh ini. Lagian gue gak tertarik sama cowok itu.” Ucap Anetta dengan malas.

“Jangan gitu dong Nett. Kamu belum bisa move on ya dari Alvaro?.”

“Jangan ungkit masa lalu deh. Masa lalu biarlah berlalu.” Ucap Netta kesal. Lena menatap Netta tajam dan seolah-olah mengatakan bahwa dia tidak percaya dengan apa yang Anetta katakan barusan.

Empat tahun yang lalu...

Ketika itu Anetta yang berumur 13 tahun dan baru saja masuk ke sebuah SMP terfavorit di Bandung bersama adik angkatnya yang hanya berbeda beberapa bulan darinya. Orang tua angkat yang mengadopsi Anetta termasuk orang kaya yang setiap harinya sibuk bekerja. Pada saat itu sedang diadakan MOS, kegiatan rutin yang dilakukan setiap kali penerimaan murid baru. Seorang senior laki-laki datang ke kelas Netta untuk memberikan arahan kepada junior-juniornya. Orang itu adalah Alvaro, ketua MPS di SMP tersebut. Sejak pertama kali melihatnya, Netta sudah sangat terpesona dengan wajahnya yang tidak terlalu putih, hidung mancungnya, mata hitamnya, dan badannya yang tinggi tegap serta kharisma kepemimpinannya.

Jika orang lain beranggapan bahwa itu hanya perasaan kagum saja. Yaa awalnya, Netta berpikir seperti itu juga. Namun, lama kelamaan Netta semakin tertarik kepadanya, Netta semakin penasaran untuk mengetahui segala sesuatu tentangnya. Setiap hari Netta memperhatikan Alvaro diam-diam dan memikirkannya setiap saat. Netta tidak berani mengungkapkan perasaaannya. Karena Alvaro terlalu sempurna, begitu populer, dan banyak yang mengaguminya, bahkan mencintainya.

Sudah hampir dua tahun, Netta memendam perasaannya kepada Alvaro. Dari banyaknya cara seseorang mencintai orang lain, mencintai diam-diam adalah yang paling menyakitkan. Akhirnya keesokan harinya, Netta memutukan untuk pergi menemui Alvaro dan mengungkapkan persaannya selama ini. Setelah sampai di depan kelasnya, hati Netta berdegup sangat cepat, wajahnya begitu panas, dia gugup sekali.

Beberapa menit kemudian, tiba-tiba seseorang teman kelas Alvaro menghampiri Netta. “Mau ketemu siapa dek?.” Ucapnya.

“A.. Aku ingin bertemu.. Kak Alvaro.” Ucap Netta dengan gugup.

“Dia tidak masuk hari ini. Ada acara keluarga katanya.”

“Oo ya sudah kak. Kalau begitu aku pamit dulu kak. Makasih ya kak.”

Saat itu Netta merasa sangat kecewa karena tidak bisa bertemu Alvaro. Setalah kejadian tersebut, Netta memutuskan untuk langsung pulang kerumah. Saat dirumah, Netta dikejutkan oleh sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan ataupun bayangkan selama ini. Alvaro, orang yang selama ini yang Netta cintai ada dirumahnya. Alvaro duduk di sofa ruang tamu bersama kedua orang tuanya. Dan disitu juga terdapat orang tua dan adik angkat Netta. Mereka seperti sedang mendiskusikan sesuatu yang sangat penting.

“Netta, kenalkan mereka adalah calon keluarga baru kita.” Kata ibu. Netta semakin penasaran dengan apa yang ibunya ucapkan.

“Iya betul kak. Dia adalah calon tunanganku. Namanya Alvaro.” Kata adik angkat Netta.

Mendengar hal tersebut perasaanku sangat kacau. Tanpa berkata apapun Netta langsung berlari ke kamarnya dengan menahan tangisnya. Mereka heran dengan kepergian Netta yang tiba-tiba. Di kamar, Netta sangat ingin menangis tapi ia tak bisa. Hatinya sangat sesak. Bahkan bernafas pun sangat sulit. Menahan sakit yang sangat dalam yang tak bisa ia keluarkan membuatnya lelah dan tertidup lelap.

Saat Netta bangun, ia merasa bangun dari tidur yang sangat panjang. Netta tidak mengingat apapun. Beberapa menit kemudian, ibu masuk ke dalam kamarku.

“Netta, kamu udah sadar?.” Tanyanya.

“Emangnya aku kenapa?”

“Kamu tidur sudah 2 hari dan baru bangun sekarang. Kamu bahkan melewatkan acara tunangan adikmu tadi malam.” Ucap ibu.

Netta seperti mendapat guncangan yang dahsyat dengan mendengar ucapan ibunya tadi. Semenjak kejadian tersebut, Netta mengurung dirinya di kamar selama seminggu. Netta merasa hidup tapi tidak, mati tapi tidak juga. Setelah merenung selama seminggu, akhirnya Netta tersadar. Hidupnya masi panjang. Netta harus bisa melupakannya bagaimanapun caranya.

“Netta! Kenapa ngelamun sih?.” Ucap Alena membuyarkan lamunan Netta.

“Gak apa apa. Udah mau bel nih. Masuk kelas yuk!.” Ajak Anetta mengalihkan pembicaraan. Sejak saat itu, Netta berpikir untuk fokus terhadap pendidikan dan masa depannya saja.

Satu hal yang harus diketahui. Semakin besar kau berharap maka semakin besar luka yang akan kau dapat. Kita hanya boleh berharap kepada Allah SWT. Karena Allah tidak akan pernah mengecewakan kita.

 

Senin, 23 November 2020

HIKAYAT

 

                                            Hikayat Indera Bangsawan

    Tersebutlah perkataan seorang raja yang bernama Indera Bungsu dari Negeri Kobat Syahrial. Setelah berapa lama di atas kerajaan, tiada juga beroleh putra. Maka pada suatu hari, ia pun menyuruh orang membaca doa qunut dan sedekah kepada fakir dan miskin. Hatta beberapa lamanya, Tuan Puteri Siti Kendi pun hamillah dan bersalin dua orang putra laki-laki. Adapun yang tua  keluarnya dengan panah dan yang muda dengan pedang. Maka baginda pun terlalu amat sukacita dan menamai anaknya yang tua Syah Peri dan anaknya yang muda Indera Bangsawan.
    Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji, mereka dititah pula mengaji kitab usul, fikih, hingga saraf, tafsir sekaliannya diketahuinya. Setelah beberapa lamanya, mereka belajar pula ilmu senjata, ilmu hikmat, dan isyarat tipu peperangan. Maka baginda pun bimbanglah, tidak tahu siapa yang patut dirayakan dalam negeri karena anaknya kedua orang itu sama-sama gagah. Jikalau baginda pun mencari muslihat; ia menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia bermimpi bertemu dengan seorang pemuda yang berkata kepadanya: barang siapa yang dapat mencari buluh perindu yang dipegangnya, ialah yang patut  menjadi raja di dalam negeri.
    Setelah mendengar kata-kata baginda, Syah Peri dan Indera Bangsawan pun bermohon pergi mencari buluh perindu itu. Mereka masuk hutan keluar hutan, naik gunung turun gunung, masuk rimba keluar rimba, menuju ke arah matahari hidup.  
    Maka datang pada suatu hari, hujan pun turunlah dengan angin ribut, taufan, kelam kabut, gelap gulita dan tiada kelihatan barang suatu pun. Maka Syah Peri dan Indera Bangsawan pun bercerailah. Setelah teduh hujan ribut, mereka pun pergi saling cari mencari.
    Tersebut pula perkataan Syah Peri yang sudah bercerai dengan saudaranya Indera Bangsawan. Maka ia pun menyerahkan dirinya kepada Allah Subhanahuwata’ala dan berjalan dengan sekuat-kuatnya. 
    Beberapa lama di jalan, sampailah ia kepada suatu taman, dan bertemu sebuah mahligai. Ia naik ke atas mahligai itu dan melihat sebuah gendang tergantung. Gendang itu dibukanya dan dipukulnya. Tiba-tiba ia terdengar orang yang melarangnya memukul gendang itu. Lalu diambilnya pisau dan ditorehnya gendang itu, maka Puteri Ratna Sari pun keluarlah dari gendang itu. Puteri Ratna Sari menerangkan bahwa negerinya telah dikalahkan oleh Garuda. Itulah sebabnya ia ditaruh orangtuanya dalam gendang itu dengan suatu cembul. Di dalam cembul yang lain ialah perkakas dan dayang dayangnya. Dengan segera Syah Peri mengeluarkan dayang-dayang itu. Tatkala Garuda itu datang, Garuda itu dibunuhnya. Maka Syah Peri pun duduklah berkasih-kasihan dengan Puteri Ratna Sari sebagai suami istri dihadap oleh segala dayang-dayang dan inang pengasuhnya. 
    Tersebut pula perkataan Indera Bangsawan pergi mencari saudaranya. Ia sampai di suatu padang yang terlalu luas. Ia masuk di sebuah gua yang ada di padang itu dan bertemu dengan seorang raksasa. Raksasa itu menjadi neneknya dan menceritakan bahwa Indera Bangsawan sedang berada di negeri Antah Berantah yang diperintah oleh Raja Kabir. 
    Adapun Raja Kabir itu takluk kepada Buraksa dan akan menyerahkan putrinya, Puteri Kemala Sari sebagai upeti. Kalau tiada demikian, negeri itu akan dibinasakan oleh Buraksa. Ditambahkannya bahwa Raja Kabir sudah mencanangkan bahwa barang siapa yang dapat membunuh Buraksa itu akan dinikahkan dengan anak perempuannya yang terlalu elok parasnya itu. Hatta berapa lamanya Puteri Kemala Sari pun sakit mata, terlalu sangat. Para ahli nujum mengatakan hanya air susu harimau yang beranak mudalah yang dapat menyembuhkan penyakit itu. Baginda bertitah lagi. “Barang siapa yang dapat susu harimau beranak muda, ialah yang akan menjadi suami tuan puteri.” 
    Setelah mendengar kata-kata baginda, si Hutan pun pergi mengambil seruas buluh yang berisi susu kambing serta menyangkutkannya pada pohon kayu. Maka ia pun duduk menunggui pohon itu. Sarung kesaktiannya dikeluarkannya, dan rupanya pun kembali seperti dahulu kala. 
    Hatta datanglah kesembilan orang anak raja meminta susu kambing yang disangkanya susu harimau beranak muda itu. Indera Bangsawan berkata susu itu tidak akan dijual dan hanya akan diberikan kepada orang yang menyediakan pahanya diselit besi hangat. Maka anak raja yang sembilan orang itu pun menyingsingkan kainnya untuk diselit Indera Bangsawan dengan besi panas. Dengan hati yang gembira, mereka mempersembahkan susu kepada raja, tetapi tabib berkata bahwa susu itu bukan susu harimau melainkan susu kambing. Sementara itu, Indera Bangsawan sudah mendapat susu harimau dari raksasa (neneknya) dan menunjukkannya kepada raja.
    Tabib berkata itulah susu harimau yang sebenarnya. Diperaskannya susu harimau ke mata Tuan Puteri. Setelah genap tiga kali diperaskan oleh tabib, maka Tuan Puteripun sembuhlah. Adapun setelah Tuan Puteri sembuh, baginda tetap bersedih. Baginda harus menyerahkan tuan puteri kepada Buraksa, raksasa laki-laki apabila ingin seluruh rakyat selamat dari amarahnya. Baginda sudah kehilangan daya upaya.
    Hatta sampailah masa menyerahkan Tuan Puteri kepada Buraksa. Baginda berkata kepada sembilan anak raja bahwa yang mendapat jubah Buraksa akan menjadi suami Puteri. Untuk itu, nenek Raksasa mengajari Indera Bangsawan. Indera Bangsawan diberi kuda hijau dan diajari cara mengambil jubah Buraksa yaitu dengan memasukkan ramuan daun-daunan ke dalam gentong minum Buraksa. Saat Buraksa datang hendak mengambil Puteri, Puteri menyuguhkan makanan, buah-buahan, dan minuman
pada Buraksa. Tergoda sajian yang lezat itu tanpa pikir panjang Buraksa menghabiskan semuanya lalu meneguk habis air minum dalam gentong.
    Tak lama kemudian Buraksa tertidur. Indera Bangsawan segera membawa lari Puteri dan mengambil jubah Buraksa. Hatta Buraksa terbangun, Buraksa menjadi lumpuh akibat ramuan daun-daunan dalam
air minumnya.
    Kemudian sembilan anak raja datang. Melihat Buraksa tak berdaya, mereka mengambil selimut Buraksa dan segera menghadap Raja. Mereka hendak mengatakan kepada Raja bahwa selimut Buraksa sebagai jubah Buraksa.
    Sesampainya di istana, Indera Bangsawan segera menyerahkan Puteri dan jubah Buraksa. Hata Raja mengumumkan hari pernikahan Indera Bangsawan dan Puteri. Saat itu sembilan anak raja datang. Mendengar pengumuman itu akhirnya mereka memilih untuk pergi. Mereka malu kalau sampai niat buruknya berbohong diketahui raja dan rakyatnya.
                                                                                                                                        Sumber: Buku Kesusastraan Melayu Klasik
  
  
  
  
 

Sabtu, 14 November 2020

CERPEN

 A. Definisi Cerpen dan Antologi Cerpen

1. Definisi Cerpen dan Antologi Cerpen

    Cerpen meupakan akronim dari cerita pendek. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, cerpen berarti kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal kata dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi (pada suatu ketika). Sementara itu, menurut Edgar Allan Poe, cerpenis dari amerika dan perintis fiksi detektif dan kriminal, cerpen adalah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam. Dari kedua pengertian itu dapat disimpulkan bahwa cerpen adalah cerita pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal pada satu tokoh dan satu situasi yang habis dibaca dalam sekali duduk.

2. Ciri-Ciri Cerpen

    Berikut ini ciri-ciri cerpen.

a. Jalan ceritanya pendek.

b. Jumlah kata tidak lebih dari 10.000 kata.

c. Tidak menggambarkan semua kisah tokoh.

d. Tokoh dalam cerpen mengalami masalah atau konflik hingga pada tahap penyelesaian.

e. Kesan cerpen sangat mendalam sehingga pembaca ikut merasakan kisah tersebut.

f. Biasanya hanya menceritakan satu kejadian.

g. Latar yang dilukiskan hanya sesaat dan dalam lingkungan yang relatif terbatas.

3. Jenis Cerpen

    Berdasarkan jumlah kata yang digunakan, cerpen dibagi menjadi tiga, yaitu:

a. Cerpen Mini

b. Cerpen Ideal

c.Cerpen Panjang

B. Nilai-Nilai dalam Cerpen

    Dalam cerpen terdapat beberapa nilai yang terkandung di dalamnya.

a. Nilai Moral

b. Nilai Religius

c. Nilai Budaya

d. Nilai Kepahlawanan

e. Nilai Sosial

f. Nlai Politik


SENJA NAN KELABU

Adinda Cantika Paliwa atau yang akrab disapa Wawa adalah anak semata wayang dari kedua orang tuanya, Pak Palta dan Bu Kirawa. Wawa adalah seorang murid kelas 9 di salah satu SMP terkenal di Jakarta. Setiap hari, pekerjaannya hanyalah mengeluh karena banyaknya tugas yang diberikan oleh gurunya. Maklum saja, hal ini karena 1 bulan lagi ia akan menghadapi ujian nasional. Meski ujiannya sudah dekat, Wawa tetap saja berpacaran. Pacarnya adalah teman seangkatannya yang bernama Toni.  

 Setiap sore, Wawa selalu datang ke sekolah untuk mengikuti les mata pelajaran. Sepulang les, ia biasanya jalan-jalan sebentar bersama Toni, entah ke tempat perbelanjaan ataupun ke taman. Meski Toni adalah seorang badboy di sekolahnya, ia sangatlah romantis. Oleh karena itulah Wawa sangat nyaman bersamanya.

Suatu hari, ketika mereka sedang duduk berdua di taman, Wawa menceritakan masalahnya kepada Toni.

“Ton, aku capek. Kenapa coba kita harus belajar? Aku pengen nikmatin hidup aku tanpa harus belajar. Aku pengen seneng-seneng terus. Kamu punya solusinya gak?” keluh Wawa

Awalnya Toni terdiam, namun setelah beberapa saat, ia tahu solusinya.

“Wa, gimana kalo kita nikah aja?” ajak Toni

“Hah?!” Wawa terkejut mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut Toni

“Wa, Kamu udah bosen belajar kan? Kamu pengen kita seneng seneng kan? Ayo kita nikah! Kalo kita udah nikah nanti, kamu gak bakal pusing kayak gini lagi. Kamu gak harus belajar pelajaran sekolah lagi. Aku janji bakal bikin kamu seneng terus. Aku janji aku bakal bahagiain kamu. Aku janji aku bakal jagain kamu seumur hidup. Aku janji bakal terus ada buat kamu. Aku cinta kamu sepenuhnya. Kamu mau nikah sama aku kan, Wa?” bujuk Toni

“Aku juga cinta sama kamu Ton, tapi aku belum siap buat nikah. Kita masih kecil, masih kelas 9, belum pantes buat nikah.” bantah Wawa

“Ini demi kebaikan kita Wa, kita bakal hidup bahagia berdua. Kita gak perlu pusing pusing mikirin tugas sekolah lagi.” kata Toni

“Kasih aku waktu buat mikir Ton” pinta Wawa

Setelah berpikir keras selama satu minggu, Wawa akhirnya menemukan jawabannya. Ia mau menikah dengan Toni. Ia ingin hidup bersama dengan cintanya, karena segalanya mungkin akan menjadi lebih mudah. Ia memutuskan untuk berbicara dengan kedua orang tuanya terlebih dahulu.

“Ma, Pa, Wawa mau ngomong sesuatu yang penting. Wawa mau nikah sama Toni.” Ucap Wawa

“Apa?!” Pak Palta dan Bu Kirawa sangat terkejut mendengar pernyataan anak semata wayangnya itu.

“Kamu gak boleh nikah kalo belum tamat kuliah!” suara Pak Palta terdengar emosi.

“Aku udah bosen sekolah Pa, aku bosen ngerjain tugas yang gak ada habisnya. Aku sama Toni juga udah saling cinta. Meskipun kami baru pacaran selama 2 bulan, aku udah kenal banget sama Toni. Dia itu merjuangin aku banget, buktinya sebelum kami pacaran Toni rela ninggalin cewek lain demi aku.” ucap Wawa.

“Itu bukan cinta Wa, itu cuma hawa nafsu kalian. Kalian masih kecil, masih terlalu labil buat nikah. Jangan sampe kamu nikah di umur segini. Membangun rumah tangga itu nggak sesederhana yang kamu kira. Dan, kalo sekarang dia ninggalin orang lain demi kamu, maka suatu saat nanti kamu juga bakal ditinggalin sama dia.” Ucap Bu Kirawa.

“Pokoknya papa gak setuju!” ucap Pak Palta.

“Mama juga gak setuju.” sahut Bu Kirawa.

“Pokoknya Wawa bakal tetep nikah sama Toni!” bantah Wawa.

            Wawa langsung berlari ke kamarnya dan menangis sendiri disana. Ia menangis karena orang tuanya tak mau memberinya izin untuk menikah. Ia pun langsung menghubungi Toni untuk memberitahukan hal tersebut. Tak disangka, Toni malah mengajaknya untuk melakukan kawin lari. Kali ini, tanpa pikir panjang Wawa langsung menerima ajakan Toni tersebut.

1 jam kemudian, Todi sudah ada di depan rumah Wawa. Wawa langsung keluar tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada orang tuanya, ia keluar melalui jendela. Sebelum pergi, ia sempat menuliskan surat untuk orang tuanya. Isi suratnya yaitu “PA, MA, MAAF AKU PERGI TANPA IZIN. AKU MAU NIKAH SAMA TONI. PAPA SAMA MAMA GAK USAH KHAWATIRIN AKU. AKU PAMIT.”

            Mendengar suara motor dari luar, Pak Palta seketika bangun dari tidurnya. Ia kemudian mengecek kamar Wawa untuk memastikan apakah anaknya sudah tidur atau belum. Setibanya di kamar Wawa, ia menemukan sebuah surat di atas meja belajar anaknya itu. Ia langsung mengalami serangan  jantung setelah membaca surat pamit dari Wawa. Anaknya itu pergi meninggalkan orang tuanya sendiri hanya demi bersama dengan kekasihnya. Keesokan harinya, Pak Palta dilarikan ke rumah sakit. Namun sayang, ajal sudah menjemputnya. Bu Kirawa pun stress dengan kejadian ini. Anak semata wayang dan suaminya telah pergi meninggalkannya sendiri. Ia kemudian memutuskan untuk bunuh diri dengan meloncat dari lantai 2 rumah sakit.

            Tiga bulan berlalu, kini Wawa berstatus sebagai seorang ibu hamil. Kandungannya baru berusia 1 bulan. Pada suatu hari, tiba-tiba Toni membawa pulang seorang gadis cantik, ia berkata bahwa gadis itu adalah pacar barunya.

“Berani beraninya kamu ngelakuin ini ke aku. Aku rela ninggalin orang tua aku demi kamu. Dan sekarang, kamu tega ninggalin aku demi cewek lain! Apa ini balesan kamu?” protes Wawa kepada suaminya.

“Kamu udah gak penting lagi buat aku. Aku udah gak butuh kamu lagi. Mulai sekarang, kita udah gak ada hubungan apa apa lagi. Aku gak peduli sama kandungan kamu. Cepet kamu pergi dari sini!” jawab Toni dengan nada tinggi.

Perasaan Wawa kini jadi tak karuan, hubungan yang diharapkannya harmonis, kini kandas di tengah jalan. Ia kemudian pulang ke rumah orang tuanya. Di perjalanan, ia hanya menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya. Sesampainya di rumah orang tuanya, ia tak melihat seorangpun disana. Kemudian ada seorang tetangganya yang lewat dan memberitahu bahwa kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Akibatya, tangisan Wawa semakin menjadi-jadi. Ia menyesal telah meninggalakan orang tuanya hanya demi seorang Toni. Tak sampai disitu, ia juga melihat mantan teman sekelasnya yang sedang belajar bersama teman barunya. Ia menyesal telah menikah di bawah umur. Pada akhirnya ia sadar bahwa pendidikan dan orang tua, jauh lebih penting dari cinta.


D. Unsur Pembangun Cerpen

1. Unsur Intrinsik

    a. Tema

    b. Alur

        1. Struktur Alur

            a. Pengenalan Situasi (Exposition)

            b. Pengungkapan Peristiwa (complication)

            c. Menuju Adanya Konflik (rising action)

            d. Puncak Konflik (turning point)

            e. Penyelesaian (ending atau coda)

    c. Latar

        1. Latar Tempat

        2. Latar Waktu

        3. Latar Suasana

    d. Penokohan

        Teknik penggambaran tokoh

        1. Teknik Analitik

        2. Teknik Dramatik

    e. Sudut Pandang

    f. Amanat

2. Unsur Ekstrinsik

    a. Bahasa

    b. Latar Belakang Pengarang

    c. Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Karya Sastra

Senin, 09 November 2020

ANEKDOT

A. Definisi. Ciri, dan Jenis Anekdot 

1. Definisi Teks Anekdot

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, anekdot adalah cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan, biasanya mengenai orang penting atau orang terkenal dan berdasarkan kejadian yang sebenarnya. Orang-orang penting yang diceritakan dalam anekdot bermacam-macam, seperti tokoh politik, sosial, dan agama. Sementara itu, peristiwa yang diceritakan dalam anekdot merupakan peristiwa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Namun seiring perkembangan zaman anekdot juga digunakan untuk menceritakan tokoh dan peristiwa fiktif.

    Anekdot mengandung humor. Humor dalam anekdot dibentuk dengan kelucuan atau kekonyolan tokoh. Tindakan ataupun ucapan tokoh menimbulkan humor karena adanya peristiwa ganjil yang mendasarinya. Humor juga dapat diciptakan melalui permainan kata, makna, ataupun pelesetan terhadap suatu kata ataupun frasa.

    Humor dalam anekdot bukan hanya bersifat menghibur. Biasanya, dalam humor suatu anekdot terdapat kritik dan sindiran yang disampaikan secara halus dalam cerita. Bagian penyampaian kritik  ataupun humor dalam anekdot dapat ditemukan dalam bagian krisis dan reaksi. Pada kedua bagian itulah biasanya amanat juga disampaikan oleh penulis anekdot.

2. Ciri Teks Anekdot

    Anekdot merupakan jenis teks narasi. Namun, ada beberapa aspek yang membedakan anekdot dengan teks cerita lainnya. Berikut beberapa ciri teks anekdot yang membedakannya dengan teks lainnya.

a. Teks anekdot bersifat humor atau lelucon, artinya teks anekdot berisikan kisah-kisah lucu atau bualan.

b. Bersifat menggelitik, artinya teks anekdot akan membuat pembacanya merasa terhibur dengan kelucuan yang ada dalam teks.

c. Bersifat menyindir, artinya isi dalam teks anekdot terkadang menyindir sebagian kelompok tertentu.

d. Menceritakan orang penting, seperti pejabat ataupun tokoh terkenal, tetapi bisa juga orang biasa.

e. Memiliki tujuan tertentu.

f. Kisah cerita yang disajikan hampir menyerupai dongeng.

g. Menceritakan karakter hewan dan manusia sering terhubung secara umum dan realistis.

3. Jenis Anekdot

a. Berdasarkan sifat peristiwanya

1. Anekdot Nonfiksi        

    Anekdot nonfiksi adalah anekdot yang menceritakan peristiwa nyata dengan tokoh dan latar sebenarnya. Faktanya, sulit membuktikan bahwa sebuah anekdot berasal dari kisah nyata atau bukan. Namun, kesulitan tersebut tidak berarti anekdot nonfiksi tidak ada. Pengalaman lucu dalam kehidupan sehari-hari dapat diceritakan kembali sesuai kenyataan sebenarnya. 

2.  Anekdot Fiksi

    Anekdot fiksi adalah anekdot yang menceritakan kisah fiksi atau khayal. anekdot fiksi menggunakan tokoh rekaan atau latar rekaan. Akan tetapi, kadang-kadang terdapat  anekdot dengan bukan rekaan. Namun, latar yang digunakan anekdot tersebut bersifat fiktif. Sebaliknya, kadang-kadang digunakan latar bukan rekaan atau benar-benar ada. Namun, pada anekdot tersebut tokoh yang digunakan bersifat fiktif.

b. Berdasarkan Tokoh

1. Anekdot Tokoh Terkenal

a. Anekdot Tokoh Terkenal Nonfiksi

     Anekdot tokoh terkenal nonfiksi bersumber dari kisah-kisah nyata yang dilakoni oleh tokoh-tokoh terkenal. Anekdot ini sering diceritakan sendiri oleh tokoh bersangkutan atau oleh orang lain yang mengetahui kejadian sebenarnya.

b. Anekdot Tokoh Terkenal Fiksi

   Anekdot tokoh terkenal fiksi menceritakan kisah tokoh terkenal yang merupakan hasil rekaan pengarangnya. Tokoh tersebut dapat diambil dari tokoh film, tokoh novel, atau tokoh dongeng. Contoh anekdot tokoh terkenal berupa fiksi adalah anekdot Abu Nawas.

2. Anekdot Sufi

     Anekdot sufi adalah anekdot yang menceritakan kisah-kisah sufi atau pemuka agama. Anekdot sufi menceritakan pengalaman sehari-hari seorang sufi. Sufi yang menjadi tokoh dalam anekdot ini bersifat nonfiksi ataupun fiksi.

3. Anekdot Binatang

        Anekdot binatang adalah anekdot yang menggunakan tokoh seekor binatang. Anekdot ini mengumpamakan binatang seperti manusia. Dalam anekdot ini, binatang dapat berbicara dan berpikir seperti manusia. Anekdot ini seering digunakan untuk menentukan nilai-nilai kehidupan. Namun, anekdot ini juga dapat digunakan untuk mengkritik. 

c. Berdasarkan Tujuan

1. Anekdot Kritik

2. Anekdot Nasihat

3. Anekdot Hiburan

                                                      

                                                  Antrean Raskin

    Alkisah suatu hari ada pembagian beras untuk keluarga miskin alias raskin di balai desa. Karena antrean terlalu panjang, salah satu warga yang ikut mengantre pun marah-marah

    "Ini pasti gara-gara kepala desa yang korupsi, kita jadi susah begini." kata warga tersebut.

    Karena jengkel, dia lantas mendatangi rumah kepala desa sembari berkata, "Kalau begini caranya, saya akan melengserkan kepala desa sekarang juga."

    Sesampainya di rumah kepala desa, ternyata sudah banyak orang mengantre untuk menghakimi kepala desa. Bahkan, antrean di rumah kepala desa lebih panjang dari pada antrean di tempat pembagian raskin.

    Warga yang tadi meninggalkan antrean pembagian raskin dengan kesal ngomel sendiri, "Kalau harus ngatre juga, mendingan ngantre raskin.

B. Mengevaluasi Makna Tersirat dalam Teks Anekdot 

    1. Mendata Pokok-Pokok Isi dalam Teks Anekdot 

    Anekdot termasuk teks narasi. Sebuah teks narasi mempunyai pokok-pokok isi yang menyusun cerita. Pokok-pokok isi tersebut dapat ditemukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan isi cerita. Kita dapat menggunakan kata tanya apa, siapa, kapan, di mana, dan mengapa.

    2. Mengidentifikasi Makna Tersirat dalam Teks Anekdot

    Anekdot adalah sebuah cerita yang mengandung makna tersirat. Makna tersirat dalam anekdot dapat diketahui setelah Anda membaca keseluruhan cerita. Makna tersurat dalam suatu anekdot dapat berupa pesan, kritik, ataupun nasihat. 

C. Struktur dan Kebahasaan Teks Anekdot

    1. Struktur Teks Anekdot

        Struktur teks anekdot yaitu abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan koda

    2. Kebahasaan Teks Anekdot

        a. Menggunakan kalimat retoris

        b. Menggunakan konjungsi waktu

        c. Menggunakan kalimat tanya

        d. Menggunakan kalimat imperatif

        e. Menggunakan kalimat seru

Senin, 21 September 2020

TEKS EKSPOSISI

 A. Definisi, Ciri, dan Jenis Teks Eksposisi

1. Definisi Teks Eksposisi

    Kata eksposisi memiliki beberapa pengertian. Kata eksposisi berasal dari bahasa Latin ekspotition yang berarti memberitahukan, memaparkan, menjelaskan, atau menguraikan. Eksposisi merupakan paparan yang bertujuan memberi tahu atau menerangkan sesuatu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, eksposisi berarti uraian atau paparan yang bertujuan menjelaskan maksud dan tujuan dalam karangan.

2. Ciri Teks Eksposisi

    Teks eksposisi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

    a. Berisi informasi dan pengetahuan

Teks eksposisi berisi informasi yang mengandung pengetahuan. Pengetahuan yang disampaikan tentu sesuai dengan topik yang dibicarakan. Pengetahuan tersebut memiliki manfaat dalam kehidupan sehingga didukung oleh data, fakta, dan argumen yang baik. 

    b. Objektif dan tidak memihak. 

Teks eksposisi berisi pengetahuan sehingga apa yang disampaikan bersifat objektif, tidak memihak kepada salah satu golongan atau kelompok. Oleh karena itu, pendapat pribadi tidak boleh dimasukkan ke teks eksposisi. Jadi, teks eksposisi hanya memuat informasi tanpa opini atau pendapat pribadi. 

3. Jenis Teks Eksposisi

    Jenis teks eksposisi menurut Gorys Keraf, antara lain eksposisi definisi, identifikasi, perbandingan atau pertentangan, ilustrasi, klasifikasi, dan analisis.

a. Eksposisi Definisi

    Definisi dapat ditinjau dari berbagai macam sudut. Definisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kata, frasa, atau kalimat yang mengungkapkan makna, keterangan, atau ciri Utama dari orang, benda, proses, atau aktivitas. Definisi juga dapat diartikan rumusan tentang ruang lingkup dan ciri-ciri suatu konsep yang menjadi pokok pembicaraan atau studi. Definisi berisi penjelasan tentang makna suatu kata atau frasa. Definisi memeberikan Batasan makna dan penggunaan sebuah kata atau prasa.

    Definisi dibagi menjadi dua. Definisi pertama disebut definisi secara sempit. Definisi sempit bukan definisi mengenai suatu hal atau benda, melainkan mengenai suatu kata. Definisi sempit mencakup definisi sinonim kata dan definisi dari kamus. Definisi kedua adalah definisi secara luas. Definisi luas mencakup pembatasan pengertian suatu barang atau hal yang didefinisiskan. Definisi luas merupakan pengembangan dari definisi sempit. Agar lebih jelas perhatikan contoh berikut.

    Global warming adalah peningkatan suhu rata-rata di atmosfer dan permukaan bumi dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Artinya, bumi mengalami perubahan drastis yang belum pernah terjadi pada zaman dahulu.

    Contoh tersebut merupakan teks eksposisi yang didefinisikan secara sempit. Teks tersebut membahas definisi global warming atau pemanasan global. Bandingkan dengan contoh berikut.

    Global warming adalah suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain, seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrem. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan. Penyebab global warming pemanasan global yang pertama adalah polusi karbon dioksida. Karbon dioksida dihasilkan oleh berbagai macam mesin dan industri di dunia, di anataranya mesin mobil dan mesin pembangkit listrik.

    Contoh paragraf tersebut menjelaskan global warming lebih luas. Paragraf tersebut memaparkan dampak yang ditimbulkan global warming. Selain itu, paragraf tersebut memaparkan penyebab global warming.

b. Eksposisi Identifikasi

    Eksposisi identifikasi adalah sebuah metode yang berusaha menyebutkan ciri-ciri atau unsur-unsur pengenal suatu objek. Dengan menyebutkan ciri suatu objek diharapkan pembaca atau pendengar lebih mengenal objek tersebut. Metode identifikasi digunakan dalam teks eksposisi mampu menjawab pertanyaan "Apa itu?" dan "Siapa itu?" Metode identifikasi dalam teks eksposisi akan memperkenalkan barang atau objek dengan memerinci ciri dan tanda pengenal dari objek tersebut.

    Perhatikan contoh berikut ini!

    Mungkin istilah teknologi tepat guna masih asing bagi sebagian masyarakat. Umumnya teknologi tepat guna merupakan pilihan teknologi dan aplikasinya yang memiliki karakteristik terdesentralisasi, berskala kecil, hemat energi, padat karya, dan berkaitan erat dengan kondisi lokal. Teknologi ini dirancang untuk masyarakat tertentu sesuai dengan aspek lingkungan, keetnisan, budaya, sosial, politik, dan ekonomi masyarakat yang bersangkutan.

c. Eksposisi Perbandingan atau Pertentangan. 

Metode perbandingan adalah suatu cara untuk menunjukkan kesamaan dan perbedaan antara dua objek atau lebih mempergunakan dasar-dasar tertentu. Dasar-dasar perbandingan adalah menempatkan sesuatu yang belum diketahui dalam kerangka suatu hal yang sudah dikenal pembaca. Jadi, pembaca lebih mudah memahami isi teks eksposisi yang ditulis. 

Contoh:

                                           Pembangunan dan Bencana Lingkungan

    Bumi saat ini sedang menghadapi berbagai masalah lingkungan yang serius. Enam masalah lingkungan yang Utama tersebut adalah ledakan jumlah penduduk, penipisan sumber daya alam, perubahan iklim global, kepunahan tumbuhan dan hewan, kerusakan habitat alam, serta peningkatan polusi dan kemiskinan. Dari hal itu dapat dibayangkan betapa besar kerusakan alam yang terjadi karena jumlah populasi yang besar, konsumsi sumber daya alam dan polusi yang meningkat, sedangkan teknologi saat ini belum dapat menyelesaikan permasalahan tersebut.

    Para ahli menyimpulkan bahwa masalah tersebut disebabkan oleh praktik pembangunan yang tidak memerhatikan kelestarian alam, atau disebut pembangunan yang tidak berkelanjutan. Seharusnya, konsep pembangunan adalah memenuhi kebutuhan manusia saat ini dengan mempertimbangkan kebutuhan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya.

    Penerapan konsep pembangunan berkelanjutan pada saat ini ternyata jauh dari harapan. Kesulitan penerapannya terutama terjadi di negara berkembang, salah satunya Indonesia. Sebagai contoh, setiap tahun di negara kita diperkirakan terjadi penebangan hutan seluas 3.180.243 ha (atau seluas 50 kali luas kota Jakarta). Hal ini juga diikuti oleh punahnya flora dan fauna langka. Kenyataan ini sangat jelas menggambarkan kehancuran alam yang terjadi saat ini yang diikuti bencana bagi manusia.

    Pada tahun 2005 - 2006 tercatat, telah terjadi 330 bencana banjir, 69 bencana tanah longsor, 7 bencana letusan gunung berapi, 241 gempa bumi, dan 13 bencana tsunami. Bencana longsor dan banjir itu disebabkan oleh perusakan hutan dan pembangunan yang mengabaikan kondisi alam.

    Bencana alam lain yang menimbulkan jumlah korban banyak terjadi karena praktik pembangunan yang dilakukan tanpa memerhatikan potensi bencana. Misalnya, banjir yang terjadi di Jakarta pada Februari 2007, dapat dipahami sebagai dampak pembangunan kota yang mengabaikan pelestarian lingkungan.

    Menurut tim ahli Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air, penyebab utama banjir di Jakarta ialah pembangunan kota yang mengabaikan fungsi daerah resapan air dan tampungan air. Hal ini diperparah dengan saluran drainase kota yang tidak terencana dan tidak terawat serta tumpukan sampah dan limbah di sungai. Akhirnya, debit air hujan yang tinggi menyebabkan bencana banjir yang tidak terelakkan.
    Masalah lingkungan di atas merupakan masalah serius yang harus segera diatasi. Meskipun tidak mungkin mengatasi keenam masalah Utama lingkungan tersebut, setidaknya harus dicari solusi untuk mencegah bertambah buruknya kondisi bumi.
                                                    Diambil dari : Buku Bahasa Indonesia SMA/MA Kelas X Revisi 2017 
 

 

d. Eksposisi Ilustrasi

Eksposisi ilustrasi adalah suatu metode untuk mengadakan gambaran atau penjelasan yang khusus dan konkret terhadap suatu prinsip yang bersifat umum. Penulis akan menjelaskan suatu objek secara luas. Dengan demikian, pembaca tidak kebingungan dalam memahami objek yang disampaikan penulis.

Gagasan umum memerlukan ilustrasi atau contoh konkret. Dalam eksposisi, contoh-contoh tersebut tidak berfungsi untuk membuktikan suatu pendapat , tetapi dipakai untuk menjelaskan dan menegaskan ide, gagasan, dan maksud penulis. Pengalaman pribadi merupakan bahan ilustrasi atau contoh yang paling efektif dalam menjelaskan gagasan umum tersebut.

Eksposisi ilustrasi merupakan metode yang sering digunakan karena tidak menampilkan hal-hal umum secara abstrak atau kabur. Akan tetapi, eksposisi ilustrasi menunjukkan contoh-contoh yang nyata dan konkret. Menurut Gorys Keraf, jenis eksposisi ilustrasi dapat disajikan secara deskripsi dan narasi.

 Contoh:

E. Eksposisi Klasifikasi
     Metode klasifikasi merupakan sebuah metode yang bersifat alamiah untuk menampilkan pengelompokan-pengelompokan sesuai dengan pengalaman manusia. Barang, hal, atau gagasan yang dikenal melalui pengalaman dapat tersusun secara sistematis. Klasifikasi merupakan suatu metode untuk menempatkan hal atau benda dalam satu kelompok sehingga dapat diketahui hubungan antarhal atau antarbenda dalam kelompok tersebut. 

Contoh:

F. Eksposisi analisis
 

Sabtu, 19 September 2020

Teks Ceramah

 A. Definisi dan Ciri-Ciri Ceramah

    1. Definisi Ceramah

        Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ceramah adalah pidato oleh seseorang di hadapan banyak pendengar mengenai suatu hal atau pengetahuan. Ceramah juga berarti penuturan bahan pembelajaran secara lisan. Ceramah merupakan pidato yang bertujuan untuk memberikan nasihat dan petunjuk mengenai suatu permasalahan kepada audiensi yang bertindak sebagai pendengar. Secara umum, ceramah mempunyai pengertian tentang suatu kegiatan berbicara di depan umum dalam situasi tertentu untuk tujuan tertentu dan kepada pendengar tertentu.

       Pada dasarnya, pidato, ceramah, dan khotbah memiliki persamaan, yakni pengungkapan pikiran di hadapan banyak orang. Namun, dalam pelaksanaannya, antara pidato, ceramah, dan khotbah memiliki perbedaan. Pidato sering kita ikuti dalam acara-acara resmi, misalnya seminar, rafat pleno,. Ceramah diadakan untuk acara-acara tertentu, misalnya ceramah tentang kedisiplinan berlalu lintas, ceramah tentang maulid Nabi SAW. Khotbah penyampaian pada waktu dan tempat tertentu, seperti khotbah Jum'at.

    2. Ciri-Ciri Ceramah

          Ceramah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a. Disampaikan oleh seseorang yang memiliki keahlian dalam bidang ilmu tertentu.

b. Menginformasikan topik yang dapat memperluas pengetahuan.

c. Ada komunikasi dua arah antara pembicara dan pendengar, berupa dialog, tanya jawab, dan diskusi.

d. Dapat disajikan menggunakan alat bantu.

e. Memiliki objektivitas dan unsur-unsur yang mengandung kebenaran.

f. Ceramah dapat menghidupkan suasana dengan menggunakan gambar, cerita pendek, atau kejadian-kejadian yang relevan agar dapat memancing perhatian pendengar.

g. harus memiliki tujuan yang jelas.

h. Apa yang disampaikan harus dapat mencapai klimaks.

i. Berisi sesuatu yang mengejutkan atau belum pernah disampaikan sebelumnya.

j. Dibatasi pada satu atau dua persoalan.

k. Mengandung humor agar dapat menghidupkan suasana dan memberi kesan yang tidak dapat terlupakan bagi pendengar.

3. Identifikasi informasi dalam ceramah

Bacalah contoh ceramah berikut ini!

Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang berbahagia,
    Pemilihan kata-kata oleh masyarakat akhir-akhir ini cenderung semakin menurun kesantunannya dibandingkan dengan zaman saya dahulu ketika kanak-kanak. Hal tersebut tampak pada ungkapan-ungkapan pada banyak kalangan dalam menyatakan pendapat dan perasaannya, seperti ketika berdemonstrasi ataupun rapat-rapat umum. Kata-kata mereka kasar atau bertendensi menyerang. Tentu saja, hal itu sangat menggores hati yang menerimanya.

    Gejala yang sama terlihat pula pada penggunaan bahasa oleh para politisi kita, misalnya ketika melontarkan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Tanggapan-tanggapan mereka terdengar pedas, vulgar, dan beberapa di antaranya cenderung provokatif. Padahal sebelumnya, pada zaman pemerintahan Orde Baru, pemakaian bahasa dibingkai secara santun lewat pemilihan kata yang dihaluskan maknanya (epimistis).

    Kita pun tentu gelisah sebagai orang tua. Kita sering menyaksikan kebiasaan berbahasa anak-anak dan para remaja yang kasar dengan dibumbui sebutan-sebutan antarsesama yang sangat miris untuk didengar.

    Fenomena tersebut menunjukkan adanya penurunan standar moral, agama, dan tata nilai yang berlaku dalam masyarakat itu. Ketidaksantunan berkaitan pula dengan rendahnya penghayatan masyarakat terhadap budayanya sebab kesantunan berbahasa itu tidak hanya berkaitan dengan ketepatan dalam pemilikan kata ataupun kalimat. Kesantunan itu berkaitan
pula dengan adat pergaulan yang berlaku dalam masyarakat itu.

    Penyebab utamanya adalah perkembangan masyarakat yang sudah tidak menghiraukan perubahan nilai-nilai kesantunan dan tata krama dalam suatu masyarakat. Misalnya, kesantunan (tata krama) yang berlaku pada zaman kerajaan yang berbeda dengan yang berlangsung pada masa kemerdekaan dan pada masa kini. Kesantunan juga berkaitan dengan tempat: nilai-nilai kesantunan di kantor berbeda dengan di pasar, di terminal, dan di rumah.

     Pergaulan global dan pertukaran informasi juga membawa pengaruh pada pergeseran budaya, khususnya berkaitan dengan nilai-nila kesantunan itu. Fenomena demikian menyebabkan para remaja dan anggota masyarakat lainnya gamang dalam berbahasa. Pada akhirnya mereka memiliki kaidah berbahasa yang mereka anggap bergengsi, tanpa mengindahkan kaidah bahasa yang sesungguhnya.

    Sejalan dengan perubahan waktu dan tantangan global, banyak hambatan dalam upaya pembelajaran tata krama berbahasa. Misalnya, tayangan televisi yang bertolak belakang dengan prinsip tata kehidupan dan tata krama orang Timur. Sementara itu, sekolah juga kurang memperhatikan kesantunan berbahasa dan lebih mengutamakan kualitas otak siswa dalam penguasaan iptek.

    Selain itu, kesantunan berbahasa sering pula diabaikan dalam lingkungan keluarga. Padahal, belajar bahasa sebaiknya dilaksanakan setiap hari agar anak dapat menghayati betul bahasa yang digunakannya. Anak belajar tata santun berbahasa mulai di lingkungan keluarga.

    Nilai-nilai kesantunan berbahasa dalam beragama juga merupakan salah satu kewajiban manusia yang bentuknya berupa perkataan yang lembut dan tidak menyakiti orang lain. Kesantunan dipadankan dengan konsep qaulan karima yang berarti ucapan yang lemah lembut, penuh dengan pemuliaan, penghargaan, pengagungan, dan penghormatan kepada orang lain. Berbahasa santun juga sama maknanya dengan qaulan ma’rufa yang berarti berkata-kata yang sesuai dengan nilai-nilai yang diterima dalam masyarakat penutur.

    Oleh karena itu, pendidikan etika berbahasa memiliki peranan yang sangat penting. Pemerolehan pendidikan kesantunan berbahasa sangat diperlukan sebagai salah satu syariat dalam beragama. Dengan kesantunan, dapat tercipta harmonisasi pergaulan dengan lingkungan sekitar. Penanaman kesantunan berbahasa juga sangat berpengaruh positif terhadap kematangan emosi seseorang. Semakin intens kesantunan berbahasa itu dapat ditanamkan, kematangan emosi itu akan semakin baik. Aktivitas berbahasa dengan emosi berkaitan erat. Kemarahan, kesenangan, kesedihan, dan sebagainya tercermin dalam kesantunan dan ketidaksantunan itu.

    Berbahasa santun seharusnya sudah menjadi suatu tradisi yang dimiliki oleh setiap orang sejak kecil. Anak perlu dibina dan dididik berbahasa santun. Apabila dibiarkan, tidak mustahil rasa kesantunan itu akan hilang sehingga anak itu kemudian menjadi orang yang arogan, kasar, dan kering dari nilai-nilai etika dan agama. Tentu saja, kondisi itu tidak diharapkan oleh orangtua dan masyarakat manapun.

 

 B. Unsur, Struktur dan Kebahasaan Teks Ceramah
  1. Unsur-Unsur Ceramah
        Unsur-unsur ceramah disebut juga komponen ceramah. Komponen ceramah dapat dipaparkan sebagai berikut.
a. Penceramah
b. Pendengar atau audiensi
c. Materi
d. Metode ceramah
e. Media ceramah

2. Struktur Teks Ceramah
        Struktur teks ceramah tidak jauh berbeda dengan pidato. Paparan mengenai struktur ceramah sebagai berikut.
a. Pembukaan
b. Isi (pengantar dan inti)
c. Penutup
 
3. Kebahasaan Teks Ceramah
    a. Kalimat imperatif
     Uraian isi ceramah biasanya mengandung kalimat-kalimat yang berisi perintah, larangan, permintaan, ajakan, dan harapan. Kalimat-kalimat tersebut dapat digolongkan dalam kalimat imperatif. Kalimat imperatif adalah kalimat yang bertujuan memberikan perintah kepada seseorang atau sekelompok orang untuk melakukan sesuatu. Kalimat imperatif disebut juga kalimat perintah. Kalimat imperatif diakhiri dengan tanda seru. Kalimat imperatif biasanya diucapkan dengan nada tinggi.
    Jenis-jenis kalimat imperatif dapat diuraikan sebagai berikut.
1. Perintah biasa
    Kalimat imperatif biasa adalah kalimat perintah yang menggunakan intonasi yang bervariasi, mulai dari perintah yang lunak sampai dengan yang sangat keras.
Contoh: Kerjakanlah pekerjaan yang mudah terlebih dahulu!
2. Permintaan
    Kalimat imperatif permintaan merupakan kalimat perintah halus karena orang yang menyuruh bersikap merendah. Kalimat permintaan biasanya menggunakan kata tolong.
Contoh: Tolong sampaikan keluhan kami kepada pimpinan Anda!
3. Mengizinkan
    Kalimat imperatif mengizinkan adalah kalimat perintah biasa yang ditambahkan dengan pernyataan yang mengungkapkan pemberian izin.
Contoh: Silakan mengambil  barang-barang yang Anda butuhkan!
4. Ajakan
    Kalimat imperatif ajakan merupakan kalimat perintah yang didahului oleh kata-kata ajakan, seperti marilah, baiklah, dan ayo.
Contoh: Ayo, kita tanamkan sikap disiplin dalam kehidupan!
5. Bersyarat
    Kalimat imperatif bersyarat adalah kalimat perintah yang mengandung syarat untuk terpenuhinya sesuatu.
Contoh: Bantulah mereka, pasti beban Anda akan berkurang!
6. Sindiran
    Kalimat imperatif sindiran adalah kalimat perintah yang mengandung ejekan karena yakin bahwa yang diperintah tidak akan mampu melaksanakan yang diperintahkan.
Contoh: Masukkan tangan Anda ke dalam tumpukan es itu jika ingin merasakan beku!
7. Larangan
    Kalimat imperatif larangan merupakan kalimat perintah yang melarang seseorang melakukan sesuatu. Pada umumnya kalimat ini menggunakan kata dilarang atau jangan.
Contoh: Jangan membuat keributan di tempat ibadah!
8. Saran
    Kalimat perintah yang bermakna menyuruh atau meminta seseorang melakukan sesuatu dengan cara memberikan saran. Kalimat ini ditandai dengan kata seharusnya dan sebaiknya.
Contoh: Sebaiknya Anda belajar menghormati orang yang lebih tua!
    b. Kata ganti
    c. Kata teknis/ istilah
    d. Kata kerja mental
    e. Kalimat majemuk bertingkat
    
 
 

 
 

 
 
 
 

 

Penelitian Kualitatif

1. Pengertian Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah pendekatan ilmiah yang digunakan untuk memahami makna, realitas sosial, a...