Kamis, 02 November 2023

Materi Teks Ceramah

 

A.    Pengertian

Menurut Dimyati Dkk, ceramah merupakan sebuah bentuk interaksi belajar mengajar yang dilakukan melalui penuturan dan penjelasan secara lisan oleh seorang guru terhadap sekelompok anak didiknya.

 

B.     Ciri-ciri teks ceramah

 

1.      Disampaikan oleh seseorang yang mempunyai sebuah keahlian dalam bidang atau disiplin ilmu tertentu.

2.      Ceramah juga memiliki struktur yang lengkap, terdisiri ats pendahuluan, isi, dan juga penutup.

3.      Dalam pemilihan tema atau inti dari penyampaian sebuah ceramah akan digunakan tema yang sesuai dengan keadaan yang sedang terjadi di masyarakat atau kegiatan yang sedang diselenggarakan.

4.      Isis ceramah harus bersifat objektif, jelas, dam juga terbukti kebenarannya, selalu hindari hoaks atau kebohongan.

5.      Guakan Bahasa yang sopan dan mudah dipahami oleh pendengar.

 

C.    Jenis-jenis ceramah

 

1.      Ceramah Khusus

Ceramah Khusus memiliki sebuah tujuan untuk memberikan sebuah nasihat atau petunjuk-petunjuk kepada khalayak atau pendengar tertentu dan bersifat khusus, baik itu dari segi materi ataupun faktor lainnya.

 

2.      Ceramah Umum

Cermah umum adalah sebuah ceramah yang berisi pesan yang bertujuan untuk memberikan informasi yang ditujukan kepada para pendengar yang umum atau masyarakat luas.

 

D.    Unsur-unsur teks ceramah

 

1.      Penceramah

Unsur pertama dari teks ceramah adalah penceramah. Penceramah dapat dikatakan sebagai seseorang yang melakukan kegiatan ceramah. Salah cara untuk menjadi penceramah, seseorang tersebut harus memiliki ilmu yang mumpuni dan pengetahuan yang luas tentang materi yang disampaikan kepada para pendengar.

2.      Pendengar

Unsur yang kedua dari teks ceramah yaitu pendengar. Pendengar sendiri merupakan penerima nasihat-nasihat dari penceramah. Untuk mendengarkan ceramah, siapa saja bisa menjadi pendengar dari suatu ceramah, tanpa batas status sosial, umur, jenis kelamin, latar belakang, dan lain sebagainya.

3.      Materi

Unsur yang ketiga dari teks ceramah adalah materi. Materi yang akan disampaikan pada saat ceramah biasanya berangkat dari ajaran dalam suatu agama. Kriteria untuk ceramah yang bagus salah satunya adalah ceramah yang mampu membuat pendengar tersadarkan dan terdorong untuk melakukan nasihat atau petuah yang disampaikan oleh penceramah. Oleh karena itu, penceramah perlu menyiapkan dan menyusun secara sistematis sebuah materi yang ingin akan disampaikan kepada pendengar, sehingga pendengar dapat menerima dan memahami dengan baik

4.      Metode Ceramah

Unsur yang keempat dari teks ceramah adalah metode ceramah. Metode ceramah sendiri dapat diartikan sebagai cara yang digunakan seorang penceramah untuk
menyampaikan materi. Metode ceramah ini memiliki 4 jenis, diantaranya yaitu:

a.       Impromptu, yakni metode ceramah tanpa persiapan. Penceramah yang menggunakan metode impromptu biasanya sudah memiliki jam terbang atau pengalaman yang cukup tinggi, sehingga sangat menguasai materi dan mampu membuat suasana menjadi lebih hangat.

b.      Menghafal, yakni metode ceramah tanpa persiapan. Metode ini sering juga disebut metode penyampaian dengan cara menghafal.

c.       Membaca naskah, yakni metode ceramah yang dilakukan dengan menyampaikan apa yang tertulis dalam naskah secara lengkap.

d.       Ekstemporan, yakni metode ceramah yang hanya menuliskan pokok-pokok pikiran atau materi inti saja, hal ini digunakan sebagai pengingat urutan materi dalam ceramah.

5.      Media ceramah

Unsur yang kelima dari teks ceramah adalah media ceramah. Media ceramah sendiri dapat dipahami sebagai seperangkat alat yang dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan materi kepada pendengar. Di zaman sekarang, cermaha tidak hanya terbatas pada ruang rumah ibadah, tetapi juga dapat dilaksanakan di berbagai tempat. Kegiatan ceramah sekarang ini juga bisa disampaikan secara langsung (tatap muka) atau direkam (dalam jaringan) sehingga pendengar bisa melihat dari internet atau televisi.

E.     Struktur Teks Ceramah

1.      Pendahuluan

a.       Pembuka, yaitu bagian yang terdiri dari salam pembuka, ucapan penghormatan, dan ucapan syukur.

b.      Pengantar, yaitu bagian yang mengandung paragraf pengantar. Pada bagian ini, penceramah akan mulai mengenalkan pendengar dengan topik yang dibahas. Untuk menjangkau banyak pendengar, pengantar biasanya memanfaatkan informasi atau berita yang faktual dan memiliki hubungan dengan topik dari teks ceramah.

2.      Isi Ceramah

a.       Inti, yaitu bagian isi ceramah yang terdiri atas pemaparan dari penceramah, pandangan umum, hingga cara pengilustrasian materi yang disampaikan.

b.      Gagasan, yaitu bagian yang terdiri dari ide besar penceramah yang akan disampaikan kepada pendengar. Ceramah yang baik adalah ceramah yang membahas satu gagasan besar dan kemudian dilakukan pengembangan menjadi beberapa sub topik tertentu

3.      Penutup

Teridiri dari simpulan, ucapan perminta maaf, dan salam penutup.

F.     Kaidah kebahasaan teks ceramah

No.

Kaidah Kebahasaan

Keterangan

1.

Menggunakan kata sapaan

misalnya "Selamat pagi, siang, sore", dan sebagainya.

2.

Memakai kata ganti orang pertama tunggal dan kata ganti orang kedua jamak sebagai sapaan.

Contoh kata ganti pertama: saya, aku, kami. Contoh kata ganti orang kedua jamak: anak-anak, hadirin, bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara, dan lainnya.

3.

Menggunakan kata yang menunjukkan sebab-akibat atau argumentasi.

Contohnya "dengan demikian, akibatnya, oleh karena itu, maka" dan lain sebagainya.

4.

Sering memakai kata kerja mental.

seperti: memprihatinkan, memperkirakan, berpendapat, diharapkan, dan lain-lain.

5.

Memakai kata persuasif, untuk mengajak seseorang.

Seperti: sebaiknya, hendaklah, seharusnya.

6.

Memakai kalimat imperatif, untuk melarang atau meminta seseorang melakukan sesuatu.

Seperti: jangan, coba pahami, dan lain-lain.

 

G.    Perbedaan ceramah, pidato, dan Khotbah

No                                                                                                                                                                          

Perbedaan

Ceramah

Pidato

Khotbah

1.

Topik

Topik pembicaraannya bersifat keagamaan namun tidak dikhususkan untuk agama tertentu.

Topik pembicaraan bersifat umum .

Topik pembicaraannya tentang keagamaan tertentu.

2.

Interaksi

Terdapat interaksi berupa tanya jawab antara sang pembicara dengan sang pendengar.

Tidak terdapat interaksi antara sng pembicara dengan sang pendengar.

Tidak terdapat interaksiantara sang pembicara dengan sang pendengar.

3.

Tujuan

Bisa ditujukan untuk kalangan umum jika ceramah umum dan umat agama jika ceramah keagamaan.

Ditunjukan untuk semua kalangan (kalangan umum).

Ditujukan hanya untuk kalangan penganut agama tertentu.

4.

Tempat

Biasanya dilakukan tempat ibadah, di kampus, di

sekolah, di tempat khusus (aula) saat seminar/ ceramah umum.

 

Dilakukan pada acara dan tempat tertentu.

Biasanya dilakukan di dalam tempat ibadah tertentu.

 

H.    TUJUAN CERAMAH

Penyampaian ceramah tentu ada tujuan yang harus dipenuhi. Beberapa bentuk tujuan dari ceramah adalah:

 

1.      Informatif

Tujuan dari ceramah ini adalah untuk memberikan informasi kepada para pendengar agar mengenal suatu hal dan mampu memahami pesan yang disampaikan.

2.      Persuasif

Ceramah yang bertujuan untuk mengajak para pendengar untuk mengikuti apa yang telah disampaikan atau dianjurkan dalam ceramah.

3.      Argumentatif

Bertujuan untuk menyamoaikan sebuah topik yang bisa dipahami para pendengar mengenal suatu hal dengan cara menyampaikan argument dan contoh yang bisa dipahami.

4.      Rekreatif

Ceramah yang punya tujuan untuk menghibur atau membuat gembira para pendengar agar merasa puas dan Bahagia.

5.      Naratif

Sebuah ceramah yang punya tujuan untuk menceritakan suatu hal kepada pendengar.

 

I.       TELAAH STRUKTUR DAN ISI

Pentingnya Memperkaya Literasi

Pembuka (Tesis)

       Literasi merupakan satu di antara modal utama yang harus terus ditingkatkan dalam menghadapi era revolusi 4.0 ini. Apalagi Indonesia sedang dalam keadaan darurat literasi. Hal tersebut dibuktikan melalui penelitian PISA yang menempatkan Indonesia di urutan ke-62 dalam minat membaca.

Isi Rangkaian argumen)

 

      Di zaman yang serbacepat dan instan ini, kebutuhan akan pengetahuan yang kaya menjadi sangat penting. Literasi adalah kunci utama untuk mendapatkannya. Jika tidak, saya pikir kita akan dengan mudah tertinggal oleh zaman yang sedang terus berlari kencang melalui teknologi informasi dan komunikasi.

    Kecepatan media teknologi informasi dan komunikasi juga membuat informasi mampu menyebar dengan cepat pada semua lapisan masyarakat. Tanpa literasi yang kaya, sesesorang akan mudah terhasut oleh berita bohong yang dapat menyebar jauh lebih cepat dari pesan kebaikan.

    Literasi juga menjadi gerbang utama dalam menggapai masa depan abad ini. Bagaimana tidak, percepatan industri yang tak terkendali ini mungkin akan menumbuhkan ekonomi dengan cepat, tapi juga akan banyak memberikan permasalahan.

     Mengapa demikian? karena sesuatu yang dikerjakan secepat mungkin akan jauh lebih rawan untuk mendapatkan masalah purna produksi. Maka dari itu, problem solving atau pemecahan masalah adalah salah satu kemampuan yang wajib dimiliki untuk menghadapinya. Dari mana kita mendapatkannya? lagi-lagi, literasi.

Penutup (Penegasan ulang)

    Oleh karena itu, pemahaman akan suatu wawasan dalam teks pengetahuan atau literasi harus terus ditingkatkan. Kita tidak hanya bisa mengandalkan internet untuk mengetahui sesuatu. Wawasan itu untuk dikuasai, bukan untuk diingat apalagi diketahui melalui satu klik saja. Wawasan semacam itu justru hanya menyesatkan dan tidak dapat memberikan dampak baik bagi perkembangan diri.

 

No.

Telaah isi

Keterangan

1.

Judul

Pentingnya Memperkaya Literasi

2.

Tema

Literasi

3.

Jenis

Ceramah umum

4.

Kebahasaan

·         Menggunakan kata yang menunjukkan sebab-akibat

·         Memakai kata ganti orang pertama tunggal dan kata ganti orang kedua jamak

·         Sering memakai kata kerja mental.

·         Memakai kata persuasif, untuk mengajak seseorang.

·         Memakai kalimat imperatif

5.

Kesesuaian tema dengan isi

Sesuai

 

Jumat, 03 Februari 2023

Relasi Dunia

 “Aku… berada dimana ?” Ucapku.

“Benda apa ini? Cahayanya begitu terang.” Ucapku.

Setelah itu, akupun berdiri, aku mencoba untuk berjalan. Dalam perjalanan, aku melihat benda hijau. Tapi, benda hijau itu, menghalangi cahaya terang dari benda yang di atas itu.

“Bagaimana bisa cahaya yang seterang itu tidak dapat menembus benda hijau yang diatas itu, padahal cahayanya begitu terang menyilaukan mataku.” begitu pikirku.

Aku pun beristirahat di bawah benda itu. Entah mengapa, ketika aku berada di bawah benda itu, aku merasa sangat nyaman, aku pun tertidur.

“Halo manusia, hari yang cerah untuk beristirahat bukan ?”

Aku kebingungan dengan apa yang dia katakan. Manusia ? Pohon ? apa itu ? aku pun menanyainya tentang perkataannya.

“Apa itu manusia ?” Tanyaku

“Manusia itu, adalah dirimu ini, makhluk yang berakal, berperasaan, dan berkeinginan tinggi namun hanya mengikuti naluri dan nafsu mereka.”

“Lalu, binatang itu apa ? Oh ya tadi kamu mengatakan pohon, pohon itu apa ?”Tanyaku kembali.

“Binatang itu, adalah makhluk juga sepertimu tapi mereka tidak berakal, mereka hanya melakukan apa yang mereka ingin lakukan, ketika mereka ingin makan, ketika mereka memertahankan wilayah mereka, ketika mereka ingin mencari pasangan, mereka belomba-lomba untuk membunuh sesama mereka.” Jawab benda itu.

“Pohon itu, makhluk hidup, tapi mereka sama sekali tidak memiliki akal dan nafsu, mereka tidak bisa bergerak bebas seperti makhluk yang lainnya, mereka membuat makanan mereka sendiri dari lingkungannya dan akhirnya makhluk lain mengambilnya begitu saja.” Jawabnya.

“Hmm… menurutmu kita berada di mana sekarang ?” tanyaku.

“Kita saat ini berada di dunia ‘irasional’, dunia hampa, tak terbatas luasnya, dan tidak dapat dicapai oleh akal manusia.” Jawab benda itu semakin membuatku tidak mengerti. Benda itu menjulurkan tangannya ke hadapanku. Kuraih tangannya dan berdiri, kami pun berjalan menelusuri dunia ini.

“Itu laut, tempat yang indah bukan ?

Kami melanjutkan perjalanan, aku berjalan sambil melihat sekitar. Walau yang terlihat hanya benda benda hijau kecil yang terhampar luas. Setelah lama berjalan, aku melihat benda hijau yang sangat besar. Awalnya aku mengira benda besar itu adalah benda hijau kecil yang kuinjak ini, tapi setelah kutanya ke benda itu adalah tempat yang disebut pegunungan.

Kami terus berjalan sampai benda yang bersinar di atas itu hampir jatuh. Aku bertanya-tanya, apa yang terjadi kalau benda bersinar itu jatuh ke tempat ini. Benda itu lalu menjawabku, bahwa benda bersinar itu tidak jatuh, tetapi pergi menjauhi kami.

Tak lama kemudian, benda bersinar itu menghilang, tempatku menjadi gelap karena tidak ada cahayanya. Kamipun diam dan beristirahat. Kulihat atasku begitu banyak benda kecil yang bersinar, cahayanya tidak begitu terang dan tidak panas sama sekali.

“Itu adalah bintang, mirip seperti benda yang bersinar tadi, namun tempatnya jauh lebih tinggi dari benda itu.” Jawab benda disampingku.

Aku berdiri dan berkeliling di sekitar tempatku berada.

“Heee, apakah itu matahari ? berarti adakalanya dia akan menjauhi tempat ini.”

Aku sangat senang berada di tempat itu, penduduknya memiliki kepercayaan yang berasal dari langit, Tuhan yang mereka imani berbeda-beda, namun mereka saling menghormati satu sama lain. 

Rabu, 11 Januari 2023

TEKS EKSPLANASI

  

A. Pengertian Teks Eksplanasi:

Pengertian Teks Eksplanasi adalah teks yang berisi tentang penjelasan terhadap suatu suatu hal yang dapat disaksikan dengan dengan pancaindra dan diterangkan dengan ilmiah atau masuk akal. Misalnya, berkaitan dengan fenomena alam yaitu bagaimana terjadi hujan? Berdasarkan fenomena sosial, kenapa harga masker mahal di era pandemi? Untuk mengetahui informasi tentang fenomena tersebut maka perlu membaca teks eksplanasi.

B. Struktur Teks Eksplanasi:

  • Pernyataan umum/identifikasi fenomena, berisi pernyataan umum tentang topik yang akan dijelaskan pada proses terjadinya atau proses keberadaannya.
  • Deretan penjelasan berisi proses terjadinya atau sebab akibat atas suatu fenomena yang disajikan secara urut atau bertahap dari yang awal hingga akhir.
  • Interpretasi atau ulasan berisi simpulan dari topik yang telah dijelaskan

C. Ciri-ciri Teks Eksplanasi:

  1. Strukturnya terdiri dari pernyataan umum, urutan sebab akibat, serta interpretasi.
  2. Informasi yang dimuat berdasarkan fakta (faktual).
  3. Faktual tersebut memuat informasi yang bersifat ilmiah/keilmuan, contohnya seperti sains.
  4. Bersifat informatif serta tidak berusaha untuk mempengaruhi pembaca untuk bisa percaya terhadap hal yang dibahas.
  5. Memiliki/menggunakan sequence markers. contohnya pertama, kedua, ketiga, dan sebagainya. Bisa juga dengan menggunakan: pertama, berikutnya, terakhir.
  6. Fokus pada hal umum (generik), bukan partisipan manusia. Contoh: tsunami, banjir, gempa bumi, hujan, dan lainnya.

D. Tujuan dari Teks Eksplanasi 

  • Menjelaskan fenomena yang terjadi
  • Menjelaskan sebab-akibat satu peristiwa

Dengan membaca teks eksplanasi, pembaca diharapkan mendapatkan informasi sesuai dengan fakta dengan sejelas-jelasnya. Bahkan, teks eksplanasi dapat dikatakan berupa kumpulan informasi fakta.

 

TEKS EKSPLANASI MENURUT PARA AHLI

Anderson & Anderson (2000, hlm.80)

Teks eksplanasi adalah teks yang berujuan untuk menjelaskan fenomena yang terjadi di dunia kita. Dari pengertian teks eksplanasi di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa teks ini adalah jenis teks yang menjelaskan proses atau alasan sesuatu dapat terjadi, bisa berupa peristiwa alam, sosial, ataupun budaya.

CONTOH TEKS EKSPLANASI BESERTA STRUKTURNYA

                                                     Tsunami Selat Sunda


Pernyataan umum  (Pembuka)

        Tsunami selat sunda merupakan salah satu peristiwa dahsyat yang terjadi beberapa bulan lalu. Tsunami ini menerjang dua wilayah di Indonesia dalam waktu yang bersamaan, yakni wilayah Banten dan Lampung.  Peristiwa ini terjadi pada tanggal 22 Desember 2018, bertepatan dengan peringatan hari ibu.

Deretan Penjelas (Isi)

     Sebelum tsunami benar-benar terjadi, telah ada peringatan dini dari BMKG kepada masyarakat sekitar bahwasanya perairan di kawasan selat sunda  telah mencapai tinggi 1,5-2,5 meter. Pada saat itu gunung Anak Krakatau sedang dalam keaadan erupsi dengan tinggi kolom abu sekitar 400 meter di atas puncak dan 738 meter di atas  permukaan laut. Hal ini menyebabkan gunung Anak Krakatau berada pada status waspada.

         Erupsi gunung Anak Krakatau memicu terjadinya longsor di lereng gunung Krakatau seluas 64 Hektare pada Sabtu (22/12) pukul 20.56 WIB. Selanjutnya,  pukul 21.03 WIB tercatat di sensor seismograph BMKG di Cigeulis Pandeglang (CGJ) dan beberapa sensor di wilayah Banten serta Lampung. Namun,  sistem proses otomatis gempa BMKG tidak memproses secara otomatis, karena sinyal getaran yang tercatat bukan merupakan sinyal gempa bumi tektonik .

           Tepat pukul 21.30 WIB, petugas Pusat Gempa bumi dan Tsunami BMKG mendapat laporan kepanikan masyarakat di wilayah Banten dan Lampung, karena air laut pasang yang tidak normal. BMKG langsung melakukan pemeriksaan marigram Tide Gauge Badan Informasi Geospasial (BIG).  Hasilnya, terindikasi perubahan permukaan air laut di beberapa wilayah seperti di Pantai Jambu, Kabupaten Serang, dengan ketinggian air mencapai 0,9 meter, di Pelabuhan Ciwandan, Banten ketinggian airnya 0,35 meter, di Kota Agung, Lampung ketinggian air tercatat 0,36 meter, dan di Pelabuhan Panjang, Kota Bandar Lampung tercatat ketinggian air 0,28 meter. 

           Melihat dari hasil catatan marigran tide gauge BIG, BMKG meyakini bahwa ini merupakan gelombang tsunami. Pukul 22.30 WIB, BMKG segera mengeluarkan keterangan pers terkait tsunami yang melanda Banten dan Lampung ini tidak dipicu oleh gempa bumi tektonik.

       Berdasarkan fakta yang ada, terdapat sekitar 430 jiwa yang menjadi korban tsunami . Korban-korban ini tersebar di 5 kabupaten yang berbeda dari dua wilayah, di antaranya Serang, Pandeglang, Lampung Selatan, Pesawaran, dan Tanggamus. Menurut BNPB, kabupaten Pandeglang mengalami kerusakan yang paling parah, dengan 290 orang meninggal dunia. Lampung selatan 108 orang, Kabupaten Serang 29 orang, Pesawaran dan Tanggamus masing-masing 1 orang. BNPB juga mencatatat bahwa terdapat 1.485 orang luka-luka, 154 orang hilang, dan 16.802 orang yang mengungsi di berbagai daerah.



Penutup (Interpretasi)


       Dilihat dari akibatnya, Tsunami selat sunda menjadi salah satu penyebab meningkatnya angka kematian di Indonesia. Walaupun angka kematian yang diakibatkan oleh peristiwa ini tidak mencapai ribuan jiwa layaknya tsunami di Kota Palu setahun yang lalu, peristiwa ini tetap saja membangkitkan kenangan kelam beberapa tahun silam, yakni pasca meletusnya gunung Krakatau.

Ciri Kebahasaan Teks Eksplanasi

a. Penggunaan Istilah

   Istilah adalah kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan suatu makna, konsep proses, keadaan, atau sifat khas dalam bidang tertentu. Contoh kata istilah dalam teks Tsunami Selat Sunda adalah kata Tsunami.

b. Penggunaan Kata Keterangan Waktu

    Keterangan adalah fungsi kalimat yang mudah berpindah posisi. Keternagan dapat berada di awal, di akhir, bahkan di tengah kalimat. Keterangan berfungsi memberikan informasi tambahan dalam suatu kalimat. 

     Contohnya:

1. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 22 Desember 2018, bertepatan dengan peringatan hari ibu.

2. Erupsi gunung Anak Krakatau memicu terjadinya longsor di lereng gunung Krakatau seluas 64 Hektare pada Sabtu (22/12) pukul 20.56 WIB.

3.  Tepat pukul 21.30 WIB, petugas Pusat Gempa bumi dan Tsunami BMKG mendapat laporan kepanikan masyarakat di wilayah Banten dan Lampung, karena air laut pasang yang tidak normal.

c. Penggunaan Konjungsi dalam Kalimat dan Antar Kalimat

1. Konjungsi Pertentangan (sedangkan)

2. Konjungsi Antar Kalimat Pertentangan ( akan tetapi, namun, biarpun demikian, sekalipun demikian, walaupun demikian, meskipun demikian, dan sungguhpun demikian).

Contohnya:

Namun,  sistem proses otomatis gempa BMKG tidak memproses secara otomatis, karena sinyal getaran yang tercatat bukan merupakan sinyal gempa bumi tektonik .

3. Konjungsi Penambahan ( tambahan pula, dan, selain itu).

4. Konjungsi penguatan (malahan, bahkan).

5. Konjungsi antar kalimat temporal atau waktu (sebelumnya, setelah itu, selanjutnya, kemudian, akhirnya).

Contohnya:

Selanjutnya,  pukul 21.03 WIB tercatat di sensor seismograph BMKG di Cigeulis Pandeglang (CGJ) dan beberapa sensor di wilayah Banten serta Lampung. 

6. Konjungsi antar kalimat konsekuensi ( dengan demikian, dengan ... itu)


Sabtu, 05 November 2022

Dari Siksa Jadi Bisa


Nekat, adalah kata yang selalu aku genggam erat dengan tanganku yang selalu ku bawa setiap saat. Anggap saja, saat ini aku telah nekat memilih jurusan IPA dengan modal IQ 85. Namun, hatiku selalu berkata bahwa usahalah yang dapat membawaku ke titik bahagia. Hari ini adalah jadwal bagi SMA Garuda kelas XI IPA 2 dibagikan hasil ulangan Fisika yang sudah kami jalani kemarin. Di saat pak Samsul memanggil nama Keisa Aqila, kakiku gemetar seakan vektor yang menjadi materi ulangan kemarin membius tubuhku.Terlihat sebuah kursi kuning yang diatasnya duduk seseorang yang sedang tersenyum kepadaku. Kulihat dengan pelan selembar kertas putih yang terdapat lingkaran merah yang tengahnya terisi angka.

“Tidak apa-apa, semoga ulangan selanjutnya lebih baik” kata pak Samsul.

“Iya pak maafkan aku” kataku sambil menundukkan kepala.

Sinar terang yang masuk melewati retina mataku membuatku terbangun, pagi ini. Reaksi biasa saja timbul, padahal jam dinding kamarku menunjukkan pukul 07.00. Sebuah kata malas terbayang dipikiranku ketika mengingat resiko yang terjadi apabila hari ini aku pergi sekolah. Namun, dari balik pintu terdengar suara ibu yang memanggil dan menyuruhku untuk siap-siap ke sekolah. Kemudian pikiranku yang labil menunjukkanku pada sebuah motivasi yang terang. Teringat sebuah deret geometri yang mampu melompat jauh dengan rasionya. Apabila deret geometri itu makin panjang, maka lompatannya pun akan semakin jauh, apalagi didukung oleh rasio yang makin tinggi. Rasio itulah sebuah usaha, mimpi yang tinggi akan tercapai dengan usaha yang keras. 

Seragam pramuka yang menempel di badanku menandakan bahwa aku telah siap berangkat ke sekolah. Hanya dengan balutan selembar roti yang diisi sayur mayur, mengawali sarapanku pagi ini. 

“Semangat” kata ibuku sambil memajukkan  genggaman tangannya. 

“Iya bu” jawabku.

Jam pertama dan kedua telah aku lewati bersama sejumlah orang di kelasku.

“Kei, apakah kamu sudah belajar?” Tanya seorang temanku.

“Belajar apa?” Sahutku.

“Hari ini kita ulangan kimia” Sambutnya lagi.

“Ah, masa sih? Jangan bercandalah” Jawabku dengan nada tidak percaya.

“Aku tidak bercanda, minggu kemarin bu Yuli beritahu bahwa kita ulangan”

Tubuhku lemas ketika informasi ulangan itu masuk melewati gendang telingaku. Termokimia yang menempel pada lembaran kertas telah datang kepadaku dengan membawa perubahan enthalpi suhu tubuhku. Entah tawakkal seperti apa yang harus ku lakukan hari ini. Apakah aku harus pura-pura sakit untuk menunda ulangan agar lebih siap lagi? “Percuma” Kataku. Hentakan kaki yang seolah olah seperti terompet sangkakala pun terdengar. 

“Baik anak-anak, sesuai kesepakatan kita kemarin hari ini kita ulangan” Kata bu Yuli ketika sampai di dalam kelas.

“Iya bu” Serentak siswa menjawab.

Kini selembar kertas yang tidak diharapkan kehadirannya berada tepat didepanku. Satu persatu kubaca soal yang tertera pada kertas tersebut. Kutulis apa yang masih tersisa di ingatanku meski aku tak yakin akan hal itu. Semua siswa bergantian ke depan meja guru membawa secarik kertas yang menandakan mereka sudah selesai. Bel sekolah berbunyi seolah-olah memaksa jemariku untuk berhenti menulis lagi. Ku coba untuk berdiri, ditemani kertas yang masih aku tatap dengan wajah cemas. Namun, aku yakin bahwa selalu ada benang fibrin yang akan menjahit luka dihatiku suatu saat nanti.  

“Kantin yuk!” Ajak seseorang, sebut saja namanya Caca.

“Ayok, aku juga berniat ke sana” Jawabku pelan.

Aku berjalan di belakang Caca melewati koridor sekolah menuju kantin.

“Kak” Tiba-tiba terdengar suara di belakangku. 

“Iya” Jawabku sambil memalingkan wajah.

Terlihat gadis menuju ke arahku dengan membawa buku.

“Maaf kak ganggu, bisakah kakak menjelaskan rumus ini?” tanya gadis tersebut.

Aku kaget mendengar pertanyaan itu, apalagi sampul buku tersebut terbaca Matematika. Remedi yang menghantuiku selama ini menjadi alasan pertamaku tidak yakin untuk bisa menjelaskan rumus tersebut. Aku bingung, alasan apa yang akan kulontarkan pada gadis tersebut untuk menolak permintaannya.

“Aku lupa, dek” kataku sambil tersenyum.

“Tidak apa-apa, kak” Jawab gadis tersebut dengan wajah agak kecewa.

Saat pulang sekolah, aku mampir di ruang BK karena salah seorang teman memberitahuku bahwa aku di panggil oleh pak Mahli.

“Nak, bapak harap ini adalah ujian terakhir kamu mendapatkan nilai merah” Kata pak Mahli sambil menunjukkan hasil ulangan kimia tadi pagi.

“Iya pak” Jawabku.

“Bapak akan maafkan, tapi dengan satu syarat kamu harus ujian ulang minggu depan, mata pelajarannya adalah matematika, fisika, dan kimia”

“Tapi pak...!” Jawabku kaget.

“Tidak ada tapi-tapi. Sesuai peraturan, bapak harus mengeluarkan kamu apabila nilaimu tetap seperti ini.” Lanjut pak Mahli dengan nada yang lebih tinggi.

“Baik pak” Jawabku lesu.

Ketika hening malam menemani kebingunganku, teringat tadi pagi yaitu rasa malu dan takut bersatu mengisi sudut-sudut volume otakku. Tiba-tiba, teringat pesan guru ngajiku bahwa air wudhu dapat menenangkan hati. Ku coba melemparkan butiran bening ke arah mukaku, lalu kubasuh tangan, rambut hingga kaki dengan bersih. Ku gelar sajadahku, kemudian ku kepal tanganku. Sungguh khsuknya aku malam ini.

Ku buat daftar kegiatan yang hampir 80% adalah waktu belajar dirumah. Di sekolah, setiap jam istirahat kuhabiskan ke perpustakaan untuk membaca buku. Hingga dua hari menjelang ujian, aku sakit. Hanya muka pucat dan tubuh lemas yang tersisa. Terlihat jarum jam itu seolah olah semakin cepat menyusul hari ujianku. “Apa yang harus aku lakukan?” Pertanyaan itu muncul berapa kali. 

Akhirnya, hari antara hidup dan mati datang menghampiri. Aku terbangun dari tidurku dalam keaadaan tubuh masih lemas. Aku paksakan pergi sekolah meski ibu tidak mengizinkan. Ibuku tidak tahu bahwa hari ini aku ada ujian penting, kerena aku takut jika dia tahu maka akan menjadi kekhawatiran yang lebih dengan keadaanku. Usaha dan doa yang maksimal kurasa cukup untuk modal ujianku kali ini. Meski, jantungku berdetak tak karuan diguncang oleh rasa takut dan penasaran. Kini, awal dan akhir dari sebuah perjuangan akan terelaksasikan lewat tulisan. Ujian pun sudah tiba, ku coba goyangkan jariku dengan indah supaya terjawab soal-soal didepan mata. 

Hari pengunguman hasil ujianku telah tiba, dengan rasa penasaran ku langkahkan kakiku menuju ruang BK. Ternyata hasilnya memuaskan, waktu dan tenaga yang ku korbankan  menjadi pahlawan. Aku belajar keluar dari dekapan dengan sifat logaritma, aku juga belajar dari gravitasi tentang kesederhanaan, serta aku selalu mencoba berusaha memberikan suatu yang kecil namun manfaatnya besar melalui gaya hidrolik. Kini hari-hariku berjalan dengan rasa optimis. Bisa disimpulkan, IQ tidak menjamin semuanya. Usaha dan keinginanlah yang paling penting. Aku selalu yakin akan mimpi-mimpiku, lewat  SMA Garuda menuju luar angkasa.



Jumat, 21 Oktober 2022

Contoh Anekdot

 Seperti Wasit Saja

Suatu siang, Hana dan Hani sedang berbincang di teras kelas, mereka sedang membicarakan gosip tentang teman mereka, Ratu.

Hana : “Han, dengar nih, katanya, Ratu baru dilabrak kakak kelas,lho.”

Hani yang mendengar hal itu, menjadi tertarik.

Hani : “Oh ya? Sungguh?

Hana : “Iya, sungguh.”

Hani : “Memangnya Ratu kenapa? Dia kan berteman dengan semua orang, kok bisa?”

Hana : “Huh!memang sih, tapi sadar tidak? Dia berteman dengan semua orang untuk mencari dan membicarakan kesalahan orang lain.”

Hani : “Oooh, iya ya. Kalau begitu, dia kerja di lapangan saja.”

Hana :”Di lapangan?”

Hana mengerutkan keningnya, tidak paham dengan maksud Hani.

Hani : “Iya, kan, jadinya, dia seperti wasit”

Hana : “Seperti wasit? Kenapa?”

Hani : “Iya, kesana kemari untuk mencari dan membicarakan kesalahan orang”

Hana tertawa mendengarnya. Namun, ternyata Ratu yang berada di dalam kelas mendengar percakapan mereka. Dia akhirnya keluar dan berkata,

Ratu : “Kalau begitu, kita jadi wasit sama sama ya..”

Penelitian Kualitatif

1. Pengertian Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah pendekatan ilmiah yang digunakan untuk memahami makna, realitas sosial, a...